📝 Talbis Iblis #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Talbis Iblis #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
N
Nailah Nurul Hanifah

📍 Jakarta Selatan

Talbis Iblis #2 - Penganut Aqidah & Agama yang Menyimpang

Talbis Iblis #2 (Penganut Aqidah & Agama yang Menyimpang)Pembahasan ini merujuk pada Bab Kelima dari kitab Talbis Iblis karya Ibnu al-Jauzi rahimahullah. Dijelaskan bagaimana iblis melancarkan syubhat dan kerancuan berpikir kepada penganut pemikiran dan agama yang keliru. Bab ini dimulai dengan membahas pengaruh filsafat Yunani, yang secara historis muncul sebelum Yahudi dan Nasrani, namun pemikirannya merasuk ke dalam agama-agama Samawi, termasuk memicu munculnya kelompok-kelompok bid'ah dalam Islam.1. Talbis Iblis terhadap Kaum Sofisme (Sufastha'iyyah / Sutho'iyyah)Kelompok pertama yang dibahas adalah Sutho'iyyah, sebuah aliran yang berasal dari sofisme Yunani kuno. Ciri utama mereka adalah mengingkari hakikat segala sesuatu dan terjebak dalam keraguan ekstrem. Aliran ini terbagi menjadi 3 mazhab utama:Al-Inadiyyah: Kelompok yang benar-benar menentang dan menolak adanya hakikat apa pun.Al-Indiyyah: Kelompok yang berpandangan bahwa tidak ada kebenaran objektif/absolut, melainkan semuanya bersifat relatif-subjektif tergantung siapa yang memandangnya (mirip dengan paham liberalisme/relativisme modern).Al-La Adriyyah (Agnostisisme): Kelompok "tidak tahu". Mereka ragu terhadap segala hal dan selalu menjawab "Saya tidak tahu apakah hakikat itu ada atau tidak”.Firqoh Al-Inadiyyah. Bantahan Ibnu al-Jauzi terhadap Sofisme:Ibnu al-Jauzi memfokuskan bantahan pada mazhab Al-Inadiyyah karena saking sesatnya aliran ini, banyak ulama yang sempat putus asa berdiskusi dengan mereka disebabkan tidak adanya patokan dasar yang disepakati. Bantahannya yaitu melalui diskusi dan metode cerita.Penerapan Logika Internal: Tanyakan kepada mereka, "Apakah keyakinan kalian yang mengingkari hakikat itu sendiri memiliki hakikat (benar-benar ada)?"Jika mereka menjawab ada, berarti mereka mengakui adanya suatu hakikat, maka batallah mazhab mereka.Jika mereka menjawab tidak ada, maka ucapan dan mazhab mereka juga batil serta tidak perlu dianggap karena tidak memiliki hakikat kebenaran.Hilangnya Pijakan Diskusi: Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa banyak ulama yang akhirnya "putus asa" atau enggan meladeni diskusi dengan kaum Sofisme. Alasan: Sebuah diskusi atau debat ilmiah hanya bisa berjalan jika kedua belah pihak memiliki satu patokan dasar yang sama-sama disepakati (pijakan awal). Karena kaum Sofisme menolak segala bentuk hakikat dan kebenaran objektif, maka tidak ada dasar yang bisa dijadikan pijakan untuk berdialog. Betapa repotnya berbicara dengan mereka, "Bagaimana engkau bisa berdiskusi dengan seseorang yang bahkan ragu apakah dia sedang berbicara denganmu atau tidak? Seseorang yang menganggap berbicara itu sama saja dengan diam, dan menganggap hal yang benar itu sama saja dengan hal yang salah."Analogi Orang Sakit: Meskipun banyak ulama yang enggan, seorang ulama bernama Abul Wafa Ibnu Aqil berpendapat bahwa kita tidak boleh membiarkan atau menyerah begitu saja pada mereka. Beliau memandang orang-orang Sofisme ini sebagai orang yang sedang sakit (terganggu logikanya), sehingga metode penyembuhannya adalah dengan dipaksa melihat realitas. Beliau memberikan sebuah perumpamaan (analogi) yang sangat masyhur: Kisah Anak Bermata Juling: Ada seorang ayah yang memiliki anak dengan kondisi mata juling. Ketika malam bulan purnama, si anak melihat ke langit dan berkata, "Ayah, lihat, rembulannya ada dua!"Bantahan Pertama: Sang ayah menjawab, "Anakku, rembulan itu cuma satu." Namun si anak tetap bersikeras bahwa rembulan itu ada dua berdasarkan apa yang dia lihat.Tindakan Sang Ayah: Sang ayah kemudian berkata, "Kalau begitu, coba tutup sebelah matamu." Ketika si anak menutup sebelah matanya, dia akhirnya melihat rembulan itu hanya ada satu.Argumen keras kepala si anak: Alih-alih sadar, si anak yang keras kepala (seperti kaum Sofis) malah membantah, "Rembulan jadi satu itu bukan karena aslinya satu, tapi karena mata saya yang satunya lagi sedang ditutup!"Bantahan Telak: Sang ayah membalas, "Kalau begitu, sekarang buka mata yang tadi ditutup, dan gantian tutup matamu yang sehat (biarkan mata julingmu yang melihat)." Ketika dilakukan, si anak tetap melihat rembulan itu ada dua. Sang ayah berkata, "Nah, itu membuktikan bahwa yang rusak dan salah itu bukan jumlah rembulannya, melainkan matamu yang sedang sakit!"Pendekatan Realitas (Kisah Onta yang Dicuri): Diriwayatkan dari Abul Qasim al-Balkhi, seorang sofis berdebat dengan ahli kalam lalu onta tunggangannya dicuri orang. Saat menyadari ontanya hilang, ia panik. Sang ulama membantahnya, "Mungkin kamu hanya menghayal naik onta?" Orang sofis itu menjawab, "Tidak, saya yakin dan tidak ragu tadi saya datang naik onta!" Di sini ia terpaksa mengakui adanya suatu hakikat yang absolut saat tertimpa realitas kehilangan.Terjebak dalam Khayalan/Horfat: Ustaz Firanda menjelaskan bahwa orang-orang yang mengklaim tidak ada hakikat absolut sebenarnya terjebak dalam delusi mereka sendiri. Mereka sering berkhayal dengan pertanyaan-pertanyaan di luar nalar, seperti: "Jangan-jangan kita sekarang ini sebenarnya sedang tidur dan bermimpi, lalu nanti suatu hari kita baru terbangun di alam nyata?"Realitas yang Mengalahkan Teori: Melalui kisah onta yang dicuri sebelumnya, terbukti bahwa ketika kaum Sofis dihadapkan pada realitas kehidupan sehari-hari (seperti kehilangan harta), teori mereka runtuh seketika karena mereka terpaksa mengakui sebuah hakikat objektif.Firqoh Al-Indiyyah / Mazhab Relativisme ModernKebenaran Subjektif (Al-Indiyyah): Mazhab kedua dari Sofisme, yaitu Al-Indiyyah (berasal dari kata "’Indi" yang berarti "menurut saya"). Mereka berpendapat bahwa kebenaran itu tidak ada yang objektif, semuanya tergantung dari sudut pandang individu.Contoh Madu: Kaum ini memberi contoh madu itu terasa manis bagi orang sehat, tetapi terasa pahit bagi orang yang sedang sakit/demam. Menurut mereka, kedua penilaian itu sama-sama benar secara subjektif.Kaitannya dengan Pemikiran Modern (Liberalisme): Akar pemikiran Al-Indiyyah inilah yang menjadi cikal bakal paham liberalisme/relativisme modern zaman sekarang, yang mengklaim bahwa semua agama atau semua pendapat itu sama-sama benar dan tidak ada kebenaran mutlak.Bantahan Telak: Jika mereka konsisten dengan ucapan "Semua pendapat itu benar secara subjektif", maka ketika pihak lain (umat Islam) mengatakan "Pendapat kalian itu salah secara mutlak", mereka harus menerima pernyataan itu sebagai sebuah kebenaran juga. Jika mereka menolaknya, maka runtuhlah teori relativisme mereka.Kaum Ateis / Penolak TuhanMazhab Segala Sesuatu Berubah: Mazhab yang menolak hakikat dengan dalih "alam ini selalu berubah tiap detiknya", seperti air sungai yang mengalir deras (air yang kita sentuh sedetik lalu sudah berbeda dengan air di detik ini). Namun, argumen ini tetap tidak bisa menafikan adanya hakikat objek tersebut.Pembagian Kaum Ateis: Dijelaskan bahwa iblis menipu kelompok ini dengan dua cara/pemikiran utama:Dahriyyah: Meyakini bahwa alam semesta ini terjadi dan ada dengan sendirinya tanpa ada permulaan maupun pencipta,.Thabi'iyyun: Meyakini alam diatur oleh hukum alam/tabiat, bukan oleh entitas Tuhan.2. Talbis Iblis terhadap Kaum Ateis (Penolak Adanya Tuhan)A. Kelompok DahriyyahMeyakini bahwa alam semesta ini ada begitu saja secara alami sejak sedia kala tanpa ada pencipta (Tuhan) yang menjadikannya.Bantahan dengan Hukum Dasar Sebab-Akibat: Secara ilmu dasar, sebuah akibat tidak mungkin muncul tanpa adanya sebab. Jika kita melihat sebuah bangunan yang kokoh, akal sehat pasti menyimpulkan ada yang membangunnya. Begitu pula langit yang kokoh, bumi, matahari, dan keteraturan jagat raya, mutahil ada dengan sendirinya.Logika Orang Arab Badui: "Kotoran onta menunjukkan adanya onta yang lewat, dan bekas telapak kaki menunjukkan ada orang yang berjalan. Maka langit yang memiliki rasi bintang dan bumi yang memiliki jalan-jalan, bukankah menunjukkan adanya Pencipta yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui?".Perenungan terhadap Diri Sendiri: Struktur tubuh manusia (seperti susunan gigi geraham untuk menggerus, gigi depan untuk memotong, fungsi lidah, saraf, lambung, hingga anatomi jari tangan yang jika ditekuk menjadi rata) dirancang secara presisi dan profesional (sun'allah), mustahil terjadi karena kebetulan.B. Kelompok Thabi'iyyun (Naturalis)Mereka menolak peran Tuhan secara langsung dan mengklaim bahwa alam semesta diatur sepenuhnya oleh aturan alam atau reaksi materi (tabiat/natural).Bantahan terhadap Teori Tabiat/Hukum Alam: Sifat dasar materi (seperti air, api, udara, tanah) tidak bisa bereaksi dan mengatur dirinya sendiri kecuali jika dikumpulkan atau digabungkan oleh pihak eksternal. Ketika unsur-unsur tersebut bereaksi dan menghasilkan materi baru yang sifatnya bertolak belakang dengan sifat aslinya, itu membuktikan materi tersebut diatur (objek), bukan mengatur (subjek).Kritik terhadap Fisikawan Modern (seperti Stephen Hawking): Justru adanya hukum fisika yang sangat rapi, baku, dan konstan (seperti gaya gravitasi) merupakan bukti mutlak adanya Pencipta yang membuat aturan (sunnatullah) tersebut. Aturan yang rapi tidak mungkin lahir dari sebuah kebetulan yang amburadul.3. Bantahan terhadap Argumen "Tuhan Tidak Terlihat"Kaum ateis sering meragukan keberadaan Tuhan karena Dia tidak kasat mata. Jika diberikan analogi logika yang gamblang:Dalam tubuh setiap manusia, kita semua sepakat dan yakin bahwa kita memiliki jiwa (ruh) dan akal.Meskipun jiwa dan akal tersebut tidak pernah terlihat secara fisik, bentuk, maupun warnanya, dampaknya nyata (manusia bisa berpikir dan bergerak).Jika keberadaan akal dan jiwa yang makhluk saja bisa diyakini secara global tanpa harus melihat fisiknya, maka keberadaan Allah sebagai Pencipta jauh lebih nyata melalui tanda-tanda keteraturan alam semesta ini. (Dicontohkan pula dengan keberadaan arus listrik tegangan tinggi yang tidak terlihat namun dampaknya nyata dan mematikan).4. Talbis Iblis terhadap Kaum Tsanawiyyah (Dualisme / Majusi)Kelompok ini meyakini bahwa Tuhan itu ada dua: Tuhan pencipta kebaikan dan Tuhan pencipta keburukan. Di antaranya adalah agama Majusi (Zoroaster) yang menyembah tuhan cahaya/api (sebagai pencipta kebaikan) dan tuhan kegelapan (sebagai pencipta keburukan). Iblis menipu mereka karena menganggap api memberikan manfaat yang luar biasa, sehingga mereka terjerumus menyembahnya.Bantahan Logika terhadap Dualisme Tuhan:Analogi Kontradiksi Kehendak (Tamanu'): Andaikan ada 2 Tuhan yang setara, lalu Tuhan (1)  ingin si A bergerak, sedangkan Tuhan (2)  ingin si A diam pada waktu yang bersamaan. Maka muncul beberapa kemungkinan:Kemungkinan 1: Kehendak kedua Tuhan terkabul. Hasilnya si A bergerak sekaligus diam. Ini mustahil karena menggabungkan dua hal yang kontradiktif.Kemungkinan 2: Kehendak kedua Tuhan sama-sama gagal (si A tidak jadi bergerak dan tidak jadi diam). Ini juga mustahil dan membuktikan keduanya lemah, sehingga tidak pantas menjadi Tuhan.Kemungkinan 3: Hanya salah satu kehendak Tuhan yang terlaksana (misal si A akhirnya diam). Maka, Tuhan yang kehendaknya terlaksana itulah Tuhan yang asli dan perkasa, sedangkan yang gagal bukanlah Tuhan. Maka logika mengembalikan bahwa Tuhan tetaplah Esa (Satu).Kerancuan Definisi Cahaya dan Gelap: Doktrin mereka menyatakan kegelapan selalu menciptakan keburukan dan cahaya/api selalu menciptakan kebaikan. Kenyataannya, kegelapan sering kali bermanfaat (misal untuk beristirahat, atau tempat bersembunyi dari musuh). Sebaliknya, api sering kali membawa kehancuran dan musibah (seperti kebakaran besar). Maka, logika pembagian dua tuhan berdasarkan sifat materi ini patah secara realitas.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
D
Dinda Anisya Rahma

📍 Kota Tegal

Ringkasan Kajian Materi ke 2

Selasa, 02 Juni 2026 / 17 Dzulhijjah 1447HBab 5 - Penganut Aqidah & Agama Yang MenyimpangKitab Talbis Iblis, karya Imam Ibnu JauziUstadz Dr. Firanda Andirja, Lc., M.A.Dalam materi ini akan membahas talbis iblis atau syubhat iblis (terhadap penganut) aqidah/agama-agama yang menyimpang.Imam Ibnu Jauzi rahimahullahuta’ala membuka dengan pembahasan tentang syubhat/kerancuan pemikiran yang dilancarkan oleh iblis kepada penganut pemikiran shufsuthoiyyah.1) ShufsuthoiyyahShofsuthoiyyah adalah berasal dari filsafat yunani, yaitu shofisme yang meragukan segala sesuatu. Mereka ada beberapa madzhab. Ibn Al Jauzi memulai dengan ahli filsafat, ditinjau dengan bahwasanya jayanya orang-orang yunani (filsafat yunani) muncul sebelum zaman yahudi dan nashoro secara zaman, dan pengaruh yunani melebar sampai masuk kedalam agama samawiyyah (yahudi, nashoro, dan firqoh-firqah yang ada di dalam agama islam).Ahli filsataf yunan adalah shofisme atau shufsuthoiyyah, mereka adalah yang mengingkari hakikat. Mereka terdiri dari 3 madzhab, yaitu:Al ‘Inadiyah : mereka yang menentang adanya hakikat.Al ‘Indiyah : mereka yang mengatakan kebenaran/hakikat itu relatif subjektif. Tidak ada kebenaran yang objektifAl Adriyah : mereka yang mengatakan “Tidak Tahu” atau abstain. Apakah hakikat ada atau tidak saya Tidak Tahu.Ini adalah madzhab yang dibahas oleh Ibn Al Jauzi dalam kitab talbis iblis.Ibnu Jauzi membahas 2 madzhab, yaitu:1. Ibnu Jauzi membahas yang pertama adalah Al ‘Inadiyah. Orang-orang mengatakan bahwasanya apa yang kita lihat sekarang bisa jadi sesuai dengan apa yang kita lihat bisa jadi berbeda dengan apa yang kita lihat (tidak ada hakikat/tidak jelas. Mereka ini adalah syukka, yaitu kaum yang terjebak dalam keraguan dalam segala hal. Ini adalah ulah iblis yang sudah masuk kedalam pemikiran mereka, sehingga mereka menolak adanya hakikat. Hal ini kenapa? Seperti yang sudah dijelaskan oleh ustadz,  sejarah munculnya madzhab shofisme ini, karena munculnya thobai’iyyin yaitu ulama falasifah yang berusaha mengembalikan asal muasal alam terhadap natural/tabiat.Bantahan Ibnu Jauzi terhadap Al ‘Inadiyah- Metode diskusi, kalian (mengingkari hakikat) apakah ada hakikatnya?Ada Keyakinan 2 kemungkinan :Jika mereka berkata ada hakikatnya, maka bathil keyakinan mereka.Jika mereka berkata tidak ada hakikatnya, maka bathil juga madzhab mereka.Para ulama banyak yang menyerah untuk berdiskusi dengan mereka, karena mereka tidak memiliki pijakan atau tidak punya keyakinan.- Metode cerita2. Al IndiyahBantahan Ibnu Jauzi terhadap Al IndiyahKeyakinan ini apakah pasti benar? Mereka akan menjawab menurut kami benar, tapi bisa jadi menurut selain kami tidak benar. Ibnu Jauzi mengatakan bahwa pendapat mereka tertolak, karena masih ada sisi salah dari pandangan orang lain.2) Kaum Ateis (yang menolak adanya tuhan)Ibnu Jauzi mengatakan terdapat 2 kelompok, yaitu :1. Dahriyah, kelompok yang mengatakan alam itu ada, tanpa ada yang menjadikan.Bantahan Ibnu Jauzi :Ilmu dasar (namanya akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab). Kata Ibnu Jauzi, logikanya jika kita melihat suatu bangunan pasti ada yang membangunnya. Makanya sebagian orang arab badui berkata “sesungguhkan kalau ada kotoran unta, menunjukkan kalau tadi ada unta disini. Kalau ada bekas tapak kaki, berarti tadi ada yang berjalan walaupu kita tidak melihatnya”. Kalau kita tadi melihat akibat pasti ada sebabnya, walaupun kita tidak melihat sebabnya. Lalu Ibnu Jauzi mengakatakan “bahka kalau seseorang merenungkan tentang dirinya, maka cukup dirinya memjadi dalil bahwa Tuhan itu ada”.Ibnu Jauzi membantah syubhat Tuhan tidak terlihat jadi tidak ada. Dengan logika adanya jiwa dan akal yang tidak terlihat.2. Thobi’iyyun, kelompok yang mengatakan alam semesta diatur bukan oleh Tuhan tapi tabi’i (batural). Mereka berusaha dengan mengatakan ada tabi’at yang mengatur.Bantahan Ibnu Jauzi :Tabi’at tsb tercipta oleh Allah subhanahu wata’ala karena mereka ikut aturan. Ibnu Jauzi mengatakan bahwasanya namanya tabi’at-tabi’at ini tidak bisa berekasi kecuali kalau dikumpulkan kemudian timbul reaksi, muncul suatu yang lain. Reaksi yang muncul tadi menyelisihi sifat awal tabi’at tersebut, ketika menyelisihi tabi’at awal tersebut menunjukkan bahwasanya dia diatur, bukan dia mengatur.3) Atsnawiyah (Tuhan itu ada dua)Diantara tsanawiyah adalah majusiyah. Yaitu mereka (tsanawiyah) bilang tuhan itu ada 2, diantaranya mengatakan:1. Tuhan 2 : Tuhan pencipta kebaikan & Tuhan pencipta keburukan.2. Majusi mengatakan Tuhan ada 2, yaitu : Tuhan api/cahaya : Pencipta kebaikan & Tuhan kegelapan : Pencipta keburukan.Bantahan Ibnu Jauz :- Logika 2 tuhan : Jika 2 tuhan tsb ingin melakukan sesuatu :Tuhan (1) ingin si A bergerak sedangkan Tuhan (2) ingin si A diam, maka ada 3 kemungkinan, yaitu :a. Keduanya terpenuhi keinginannya.b. Keduanya tidak terpenuhi keinginannya.c. Salah satunya terpenuhi keinginannya, dan yang lainnya tidak. Maka yang terpenuhi keinginannya yang berhak jadi Tuhan.- Taruhlah tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan, bukankan gelap sering bermanfaat. Karena tidak setiap kegelapan itu keburukan namun bisa jadi bermanfaat.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
P
Puji

📍 Kota Bekasi

Penganut Aqidah dan Agama Yang Menyimpang

talbis iblis #2bab5ustadz Dr Firanda Adirja M Apenulis imam Ibnu Jauzi.subhat iblis dalam aqiqah dan agama. subhat kerancuan pemikiran kepada penganutsuthaiyah /shofisme filsafat Yunani.shofisme adalah orang yang mengingkari hakikat. 1. Al innadiyah>> menentang adanya hakitat.kaun yg terjebak dalam keraguan. bantahan Ibnu Jauzi:-keyakinan kalian ini yaitu mengingkari hakikat, apakah ada hakikatnya ? apakah ada tau tidak? jika mereka bilang ada hakikatnya berarti batil Mazhab mereka , jika mereka bilang TDK ada hakikatnya maka batil juga mazhab mereka. banyak ulama yang putus asa untuk berdiskusi dengan mereka ini.2. Al indiyah >> kebenaran/ hakikat itu tidak ada yg absolut , tetapi relatif subjektif ,tidak kebenaran yg objektif.bantahan Ibnu Jauzi : - keyakinan mu ini apakah pasti benar . Meraka menjawab subjektif (menurut kamu benar tp bisa JD menurut mereka TDK benar). maka imam Ibnu Jauzi berkata ya sudah berati tidak benar Krn pendapat kalian tolak. 3. Ad Dahriyah >>penolak adanya tuhan pencipta. a. Dahriyah berkeyakinan bahwa alam itu terjadi begitu saja tanpa ada yang menjadikan.penolak ibnu Jauzi :- ilmu dasar bahwa akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab. cnth jika kita keluhan suatu bangunan pasti ada yg membangun nya. -lihat gigi dan jari dgn segala fungsinya dan bentuk2nya sedemikian detainya Krn Allah yg menciptakan.- logika adanya jiwa dan akal yg tidak terlihat , maka demikian pula Allah ada walaupun tidak terlihat. b. Tobaiyun berkeyakinan bahwa alam semesta bukan oleh tuhan tetapi tobi'i( natural/ hukum alam). >> berusaha ilmiah bahwa ada tabi'at yg mengatur.bantahan imam Jauzi: -tabi'at itu d atur olah Allah , tercipta oleh Allah.As Sanawiyah meyakini tuhan ada 2 1. - tuhan pencipta kebaikan -tuhan pencipta keburukan2. - tuhan api/cahaya pencipta kebaikan - tuhan kegelapan pencipta keburukan bantahan dari Ibnu Jauzi 1.logika 2tuhan jika 2 tuhan tersebut ingin melakukan sesuatu, misalnya tuhan no1 ingin si A bergerak, sementara tuhan no2 ingin si A diam, maka ada bbrp kemungkinan, yg pertama keduanya terpenuhi keinginan nya yaitu si A bergerak sekaligus dia (maka mustahil)ke 2 dua2nya TDK terpenuhi mustahil ke 3 salah satu terpenuhi maka TDK berhak menjd tuhan 2. bukankah gelap itu bermanfaat ketika seseorang ingin d bunuh maka bersembunyi dalam kegelapan. maka kegelapan bukan k burukan @pujia_ummumuhammad#jejakcahaya#talbis.iblis2@komunitas.beekind

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
L
Lathifah Aulia Dewi

📍 Kabupaten Boyolali

Talbis Iblis 002 Penganut Aqidah dan Agama yang Menyimpang

A. Sufsuthaiyyah السفسطائيةSufsuthaiyyah berasal dari filsafat Yunani sofisme yang meragukan segala sesuatu. Ada beberapa madzhab sofisme. Pengaruh Yunani melebar sampai masuk ke agama samawiyah (Yahudi, Nasrani, termasuk firqoh-firqoh di agama Islam). Mereka mengingkari hakikat.Viral banyak penganutnya. Muncullah Socrates, Plato, Aristoteles yang membantah madzhab ini. Diawali kaum Yunani dari madzhab Toba’iyyin, yang mereka berusaha menjelaskan bahwa alam semesta muncul karena tabiat. Mereka banyak berselisih apa sih asal muasal alam ini. Ada yang mengatakan udara, api, air, atom. Tidak ada dalil karena masing-masing hanya kembali pada akal mereka. Muncul masa transisi, madzhab Sofisme. Mereka mengingkari hakikat. Ada 3 madzhab:Al-’Inadiyah (menentang adanya hakikat)Al-’Indiyyah (kebenaran/hakikat itu tidak ada yang absolut, tetapi relatif subjektif, tidak ada kebenaran yang objektif)Al-Laa Adriyah (”tidak tahu” apakah hakikat ada atau tidak) (ABSTAIN)1. Al-’InadiyahApa yang kita lihat sekarang ini bisa jadi sesuai dengan apa yang kita lihat dan bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang kita lihat. Mereka meragukan segala hal.Bantahan Ibnul Jauzi: perkataan kalian ini apakah ada hakikatnya atau tidak?Jawaban mereka akan ada 2 kemungkinan:Jika mereka berkata ada hakikatnya, berarti madzhab mereka bathil.Jika mereka berkata tidak ada hakikatnya, maka bathil juga madzhab mereka. (Kalau tidak ada hakikatnya, kenapa diyakini?)Banyak ulama yang putus asa berdiskusi dengan mereka karena mereka menolak hakikat. Kalau kita berdiskusi, harus ada suatu patokan yang sama-sama kita sepakati, sehingga menjadi pijakan kita untuk berdiskusi. Tapi kalau semua perkara tidak ada yang kita yakini, bagaimana kita mau berdialog? Orang mereka saja tidak meyakini apa yang mereka lihat.2. Al-’Indiyyah (Relativisme)Hakikat itu tidak ada yang absolut, semuanya relatif/subjektif tergantung siapa yang memandangnya, tidak ada keyakinan yang objektif. Tidak ada yang salah. Semua benar.Contoh: Madu bagimu manis, bagi orang yang sakit itu pahit.Bantahan Ibnul Jauzi:“Keyakinanmu ini apakah pasti benar?” Mereka akan menjawab, “Subjektif, menurut kami benar, tapi bisa jadi menurut selain kami tidak benar.” Bantahan: “Kalau kalian menjawab demikian, masih ada kemungkinan salah dari sisi lain, maka jangan diyakini kebenarannya. Selesai. Berarti pendapat kalian ini tertolak.”B. Kaum Ateis: Menolak Adanya Tuhan (Pencipta)Ada dua kelompokAd-Dahriyyah: Alam terjadi sendiri tanpa ada yang menjadikan. (Aneh.)Thoba’iyyun: Alam semesta bukan oleh Tuhan, tapi thobi’i (natural).Bantahan untuk Ad-Dahriyyah:Bantahan dengan ilmu dasar, namanya akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab. Ada ilmu sebab-akibat. Kalau pena jatuh, pasti ada yang menjatuhkan. Ada bangunan tinggi, pasti ada orang yang membangun bangunan tersebut. Bagaimana alam semesta sebesar ini tidak ada yang menciptakan?Ibnul Jauzi membantah Tuhan tidak terlihat, jadi tidak ada.“Kita sepakat dalam tubuh kita ada jiwa dan akal yang tidak terlihat. Tapi kita yakin ada jiwa yang mengatur dan akal yang bertindak. Demikian pula meskipun kita tidak melihatnya, banyak bukti-bukti bahwa Allah itu ada. Listrik kalau kita pegang kita kesetrum meskipun tidak kelihatan, berarti listrik itu ada.”Bantahan untuk Thoba’iyyun:Thoba’iyyun berusaha ilmiah dengan mengatakan ada tabi’at yang mengatur. Bantahannya mudah: Tabi’at tersebut tercipta oleh Allah karena dia ikut aturan. Di antara yang menunjukkan bahwa tabi’at tidak bisa mengatur/bereaksi kecuali dengan berkumpul. Berarti dia ter-atur. Dia harus berkumpul dulu, tidak bisa menentukan. Kalo penentu kan harusnya merdeka, independen.Teori Stephen Hawkings: semua terjadi tanpa Tuhan, semua natural.JUSTRU aturan yang rapi ini tidak mungkin terjadi kecuali ada yang mengatur. Gaya gravitasi, gaya gesek, dll. rahasia alam yang tidak diketahui justru menunjukkan ada Dzat yang menciptakan!C. Ats-Tsanawiyyah: Tuhan itu ada duaAda dua golongan:Tuhan ada dua, yaitu Tuhan Pencipta Kebaikan dan Tuhan Pencipta Keburukan.Majusiyyah: Tuhan ada dua: Tuhan Api/Cahaya (Pencipta Kebaikan) dan Tuhan Kegelapan (Pencipta Keburukan).Manusia tertipu dengan iblis. Mereka melihat ada kebaikan dan keburukan, berarti ada dua Tuhan.Dua Metode Bantahan:Logika Dua Tuhan: Jika dua Tuhan tersebut ingin melakukan sesuatu, misalnya, Tuhan 1 ingin si A bergerak, Tuhan 2 ingin si A diam. Apa yang terjadi? Ada 3 kemungkinan. KEMUNGKINAN (1) Keduanya terpenuhi keinginannya (karena sama-sama Tuhan) → SI A BERGERAK SEKALIGUS DIAM. LAH HASILNYA GIMANA? MUSTAHIL. GABUNGAN DUA HAL YANG SALING BERTENTANGAN. KEMUNGKINAN (2) Keduanya tidak terpenuhi keinginannya. Tuhan 1 ingin si A bergerak, ternyata si A tidak bergerak. Tuhan 2 ingin si A tidak bergerak, ternyata si A bergerak. Ini juga mustahil, karena menggabungkan dua hal kontradiktif. Keduanya tidak pantas menjadi Tuhan, karena keduanya gagal. KEMUNGKINAN (3) Salah satunya terpenuhi keinginannya, dan yang lainnya tidak. Maka yang terpenuhi keinginannya itulah yang berhak menjadi Tuhan.Taruhlah Tuhan Kegelapan selalu menciptakan keburukan (menurut keyakinan Majusi). Tapi bukankah gelap itu sering bermanfaat? Ketika orang ingin dibunuh, lalu dia bersembunyi di kegelapan, sehingga tidak ketahuan. Di sini kegelapan bermanfaat. Berarti kegelapan itu kebaikan. LOGIKA MEREKA TUHAN KEGELAPAN SELALU MENCIPTAKAN KEBURUKAN TIDAK BENAR. Bukankah banyak api yang membakar, menghancurkan, merusak? LOGIKA MEREKA CAHAYA/API SELALU BERMANFAAT JUGA TIDAK BENAR. Menyelisihi kenyataan yang ada.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Talbis Iblis terhadap Penganut  Aqidah & Agama yang menyimpang

Al imam ibnul jauzi membuka dengan pembahasan tentang : syubhat kerancuan pemikiran yang dilancarkan oleh iblis terhadap pemikiran subsuthoiyyah🍒Syubuthiyyah  (shofisme) berasal dari filsafat yunani/sofisme yang meragukan segala sesuatu, dan mereka ada beberapa mazhab. (Yang mengingkari hakikat)Jadi ibnul jauzi mulai dari para ahli filsafat, ditinjau dari jayanya orang-orang yunani (filsafat yunani) secara zaman muncul sebelum yahudi dan nasharah. Dan pengaruh mereka (yunani) melebar sampai masuk ke dalam agama-agama samawiyah (agama yahudi, nasharah, termasuk masuk ke dalam firqoh-firqoh agama islam)🍒di antara ahli filsafat yunani adalah subuthiyyah (shofisme) =>mengingkari hakikat.Ini adalah yang mengingkari hakekat, ini sempat viral di yunani dan banyak penganutnya. Kemudian muncullah socrates, platos, aristotoles yang membantah mazhab ini.Tapi shofisme ini diawali dari kaum yunani dari mazhab thobaiiyyin yang mereka berusaha menjelaskan bahwasannya alam semesta muncul karena thobi'at, namun mereka banyak berselisih diantara mereka."Apa sih asal muasal alam ini ? Ada yang mengatakan udara, air, api, ada yang mengatakan atom terkecil. Mereka khilaf yang sangat kuat dan tidak ada dalil masing-masing karena masing-masing hanya kembali pada akal saja"🍒sehingga setelah itu, muncullah masa transisi...muncullah mahzab ini namanya shofisme yaitu yang mengingkari hakekat (subsuthoiyyah),👉mereka terdiri dari 3 mahzab :1.العنادية (al 'nadiyyah)➡️menentang adanya hakekat2.العنضية(al 'indiyyah)➡️kebenaran/ hakekat itu relatif (tidak ada yg absolut), tidak ada kebenaran/hakekat yang objektif.3.اللاأدرية (Al- la Adriyyah)➡️abstain, "tidak tahu". Mazhab tidak tahu, hakekat ada atau tidak, saya tidak tahu.👆🏻 ini yang kelompok yang dibahas oleh ibnul jauzi, kelompok al-'inadiyyah dan al'indiyyah, yang ketiga tidak dibahas oleh beliau.🍋1.العنادية (al 'nadiyyah)❎orang-orang mengatakan bahwasannya apa yang kita lihat sekarang ini, bisa jadi sesuai dengan apa yang kita lihat, atau bisa jadi berbeda dengan apa yang kita lihat. (Tidak ada hakekat, ini semua bisa jadi begini bisa jadi begini. tidak jelas, tidak ada hakekat, mereka terjebak di dalam keraguan. Mereka keraguan di dalam segala hal).Iblis telah masuk dalam pikiran mereka, sehingga mereka menolak adanya hakekat.✅ibnul jauzi mengatakan: para ulama membantah mereka dengan berkata:Perkataan kalian ini (tidak ada hakekat, bisa jadi apa yang kalian lihat benar itu bisa jadi tidak benar) apakah perkataan kalian ini ada hakekatnya atau tidak?➡️Jika mereka bilang ada hakekatnya berarti mazhab mereka batil➡️jika mereka bilang tidak ada hakekatnya maka bathil jg mazhab mereka🍋2. العنضية(al 'indiyyah)Keyakinanmu ini apakah pasti benar? Mereka akan menjawab, menurut kami benar tapi bisa menurut selain kami tidak benar. Ibnul Jauzi mengatakan, berarti pendapat kalian tertolak karena masih ada sisi kesalahan menurut orang lain.(2) Kaum Atheis : Yang Menolak Adanya TuhanAda 2 kelompok:Ad-dahriyah : "alam itu ada tanpa ada yang menjadikan" (alam kebetulan)Bantahan Ibnul Jauzi: Ilmu dasar (namanya akibat tidak muncul tanpa sebab). Bahkan seseorang kalau menerungkan tentang dirinya, maka cukup dirinya menjadi dalil bahwasanya Tuhan itu ada, bukan makhluk yg terjadi dengan dirinya sendiri. Badan kita saja kalau mau dijelaskan secara detail maka tidak cukup dalam buku ini. Lihatlah jari-jari, ukurannya ada yg panjang ada yg pendek tapi ketika dilipat jadi ratasecara logika: jika kita melihat suatu bagunan pasti ada yang membangunnya. apalagi alam semestaThobai'iyyun: "alam semesta diatur bukan oleh Tuhan tapi tabi'i (natural). Berusaha ilmiyah dengan mengatakan ada tabi'at yang mengatur.Bantahan Ibnul Jauzi: Tabi'at tersebut tercipta oleh Allah. Diantara yang menunjukkan bahwasanya tabi'at tidak bisa mengatur adalah dia tidak bereaksi kalau tidak berkumpul, berarti dia memang diatur bukan secara independen mengatur. Karena dia ikut aturan(3) Ats-Tsanawiyah (Tuhan itu ada 2)Tuhan ada 2 :Tuhan pencipta kebaikanTuhan pencipta keburukanMajusi. Tuhan ada 2:Tuhan api/cahaya: pencipta kebaikanTuhan kegelapan: pencipta keburukanBantahan Ibnul Jauzi :Logika pertama yaitu logika 2 Tuhan : Jika 2 Tuhan tsb ingin melakukan sesuatu: Tuhan 1 ingin si A bergerak, Tuhan 2 ingin si A diam. Maka ada beberapa kemungkinan:(1) Keduanya terpenuhi keinginannya yaitu si A bergerak sekaligus diam = mustahil(2) Keduanya tidak terpenuhi keinginannya yaitu tuhan pertama ingin si A bergerak ternyata si A tidak bergerak dan tuhan kedua ingin si A tidak bergerak tapi si A bergerak = mustahil dan keduanya tidak pantas jadi Tuhan.(3) Salah satunya terpenuhi keinginannya dan yang lainnya tidak, maka yang terpenuhi keinginannya itulah yang berhak jadi tuhan.Logika ke-2 : Taruhlah tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan (menurut keyakinan majusi). Kata Ibnul Jauzi "Bukankah gelap sering bermanfaat, ketika ada seorang yg ingin dibunuh dia bisa bersembunyi dalam kegelapan"Kata mereka juga api itu selalu bermanfaat juga tidak benar, bukankah api banyak yang tidak bermanfaat (membakar, menghancurkan) = menyelisihi kenyataan yg ada.Mereka mengatakan api adalah tuhan karena iblis masuk dalam benak mereka memperlihatkan bahwa api memberi banyak manfaat luar biasa akhirnya mereka beribadah kepada api tsb.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
A
Aniza

📍 Kota Depok

Talbis iblis - 2

KAJIAN KITABTALBIS IBLIS # 2PADA PENGANUT AKIDAH DAN AGAMA YANG MENYIMPANGOleh : Ust. Dr. Firanda Andirja, MASelasa, 2 Juni 2026=============1. Mazhab Sofisme (kelompok yg meragukan kebenaran)Karakteristik : menolak adanya kebenaran dan meragukan segala sesuatu2. Kelompok Dahriyah & Thabi'iyyah (Atheis / menolak pencipta)Karakteristik : menolak keberadaan Allaah sebagai pencipta3. Kelompok Tsanawiyah ( penganut keyakinan ada 2 Tuhan)Karakteristik : meyakini alam semesta diatur oleh 2 kekuatan atau tuhan seperti kaum Majusi.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
N
Nurmaida

📍 Kota Palu

Ringkasan Materi 2 - Talbis Iblis "Penganut akidah dan agama yang menyimpang

‎Materi 2# Talbis Iblis‎"Penganut Akidah dan Agama yang Menyimpang."‎‎Talbis Iblis karya Ibnu al-Jauzi, yang menjelaskan mengenai kerancuan pemikiran atau syubhat yang disebarkan Iblis kepada penganut akidah dan agama yang menyimpang.‎‎Beberapa kelompok yang tersesat tersebut:‎• Kaum Sofisme (Suthaiya)‎Kelompok yang mengingkari adanya hakikat atau kebenaran objektif. Mereka terbagi menjadi tiga aliran:‎Al-Inadiyah (mengingkari realitas sepenuhnya),‎Al-Indiyah (meyakini kebenaran itu subjektif/relatif),‎Al-Adriyah (ragu akan segala sesuatu/agnostik).‎‎Cara membantah mereka dengan logika bahwa keraguan mereka sendiri terhadap hakikat adalah bentuk penetapan hakikat tersebut.‎Kiasan Mata Juling Ibnu Aqil‎Ibnu Aqil mengibaratkan orang yang menolak hakikat seperti seseorang yang memiliki satu mata normal dan satu mata juling sehingga melihat bulan menjadi dua. Ketika mata yang juling ditutup, ia melihat bulan hanya satu. Ini menunjukkan bahwa kesalahan tersebut berasal dari alat penglihatannya, bukan dari realitas bulan itu sendiri.‎Demikian pula, orang yang mengingkari hakikat bukan karena hakikat itu tidak ada, tetapi karena adanya kekeliruan dalam cara berpikir dan memahami realitas.‎‎‎• Kaum Ateis (Ad-Dahriyah)‎Kelompok yang menolak adanya Tuhan.‎Mereka terbagi menjadi:‎Ad-Dahriyah (menganggap alam ada dengan sendirinya).‎Thabi’iyah (menganggap alam diatur oleh hukum alam/tabiat).‎‎Bagaimana bantahan terhadap aliran ateis dahriyah?‎‎Bantahannya menggunakan logika sebab-akibat sederhana, yaitu setiap akibat pasti memiliki sebab. Jika manusia melihat bangunan atau benda rumit, pasti ada penciptanya. Maka, alam semesta yang sangat teratur dan kokoh mustahil terjadi dengan sendirinya tanpa ada Pencipta yang Maha Mengatur.‎‎• Kaum Tsanawiyah (Majusi)‎Kelompok yang meyakini adanya dua Tuhan (Tuhan kebaikan dan Tuhan keburukan).‎‎Dua metode bantahan utama terhadap keyakinan kaum Tsanawiyah (Majusi) yang menganggap ada dua tuhan (tuhan kebaikan dan tuhan keburukan):‎‎1. Logika ketidakmungkinan dua tuhan dengan kehendak yang berbeda‎Jika terdapat dua tuhan yang memiliki kehendak bertentangan (misalnya, tuhan pertama ingin sesuatu bergerak, sementara tuhan kedua ingin hal tersebut diam), maka ada tiga kemungkinan yang semuanya menunjukkan kemustahilan:‎Keduanya terpenuhi: Maka sesuatu itu akan bergerak dan diam secara bersamaan, yang merupakan hal mustahil karena kontradiktif.‎Keduanya gagal: Maka sesuatu itu tidak bergerak dan tidak diam, yang juga mustahil dan menunjukkan keduanya tidak layak menjadi tuhan.‎Salah satu terpenuhi: Maka yang kehendaknya terjadi itulah yang berhak disebut tuhan, sehingga logika tetap kembali kepada kesimpulan bahwa tuhan hanya satu.‎‎2. Bantahan terhadap logika tuhan cahaya dan tuhan kegelapan.‎‎Anggapan tuhan kegelapan menciptakan keburukan dan tuhan cahaya (api) menciptakan kebaikan adalah keliru. Kenyataannya, kegelapan sering kali memberikan manfaat (seperti tempat bersembunyi dari bahaya), dan api tidak selalu bermanfaat karena sering kali bersifat merusak atau membakar. Hal ini menunjukkan bahwa logika mereka tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
S
Safira luvy

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Rangkuman kajian Talbis Iblis Ustadz Firanda Hari ke 2

Talbis Iblis : Penganut Aqidah & Agama Yang Menyimpang - Ust. Dr. Firanda Andirja M.AKajian ini mengajak kita untuk selalu waspada terhadap pemikiran yang berusaha merelatifkan kebenaran atau menolak keberadaan Pencipta, karena hal tersebut merupakan bagian dari tipu daya iblis untuk menyesatkan pemikiran manusia.1. Mengenal Kelompok ShofismeYaitu kaum yang meragukan hakikat.Kelompok ini dibagi menjadi 3 madzhab utama:1. Al-Inadiyah: Kelompok yang menentang adanya hakikatBantahan : keyakinan memgingkari hakikat apakah ada hakikatnya? Jika ada maka batal keyakinan mereka. Jika tidak ada maka batal juga2. Al-Indiyah: Kelompok yang meyakini bahwa tidak ada kebenaran yang objektif 3. Al-Adriyah: Kelompok yang menyatakan mereka ragu apakah hakikat itu ada atau tidak.Cara Membantah Kaum Sofis:Ulama membantah mereka dengan logika sederhana:Jika mereka mengakui ada hakikat dalam pernyataan mereka, maka argumen mereka untuk menolak hakikat menjadi gugur.2. Kelompok DahriyahKelompok ini menolak adanya Tuhan.Ada 2 metode utama yang mereka gunakan untuk berargumen:1. Dahriyah Murni: Percaya Bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.Bantahan : - ilmu Dasar : Segala sesuatu yang ada pasti memiliki sebab. Contoh : Jika melihat bangunan, kita tahu ada pembangunnya. Begitu pula dengan alam semesta yang teratur, mustahil terjadi dengan sendirinya tanpa Pencipta.- Bantahan terhadap Tuhann Tidak terlihat jadi tidak ada : Meskipun jiwa dan akal tidak terlihat secara kasat mata, kita yakin keberadaannya karena kita merasakan dampaknya. Begitu pula Allah SWT, keberadaan-Nya nyata melalui keteraturan alam semesta2. Thobi'iyun : percaya bahwa alam semesta diatur natural, ada tabiat yang mengatur.Bantahan Terhadap "Tabiat": Hukum alam itu sendiri adalah bukti adanya Pencipta karena bersifat teratur, baku, dan sistematis. Sesuatu yang teratur tidak mungkin muncul dari ketidakteraturan atau kebetulan.3. Kelompok Tsanawiyah / Majusi : Tuhan itu ada 2Kelompok ini meyakini adanya dua tuhan:1. Tuhan kebaikan / Cahaya2. Tuhan keburukan / kegelapanBantahan Terhadap Logika Dua Tuhan:Jika kedua tuhan memiliki keinginan yang bertentangan (misalnya satu ingin A, satu ingin B), maka akan terjadi hal yang mustahil (menggabungkan dua hal kontradiktif secara bersamaan).Jika kedua tuhan gagal menjalankan keinginannya, maka keduanya tidak pantas disebut tuhan. Jika hanya satu yang menang, maka tuhan yang menang itulah yang sebenarnya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Logika alam menunjukkan bahwa tuhan itu harus satu (Esa). Argumen bahwa tuhan api hanya menciptakan kebaikan juga salah, karena dalam praktiknya, api bisa merusak dan kegelapan terkadang memberikan manfaat.KesimpulanInti dari kajian ini adalah menjelaskan bagaimana iblis memasukkan keraguan (syubhat) ke dalam akal manusia melalui filsafat yang menjauhkan manusia dari kebenaran tauhid. Ibnul Jauzi menekankan bahwa segala kesesatan ini dapat dibantah dengan menggunakan logika sehat yang berpijak pada hukum sebab-akibat dan pengamatan terhadap keteraturan alam semesta yang nyata.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

Talbis Iblis #2

Kitab Talbis Iblis #2Penganut Aqidah dan Agama Yang MenyimpangBab 5 Talbis Iblis Dalam Aqidah-Aqidah dan Agama-Agama1. Sufsuthaiyyah (Shofisme) Berasal dari filsafat Yunani yang meragukan segala sesuatu. Shofisme adalah orang-orang yang mengingkari hakikat, mazhab ini terbagi 3 :1). Al 'Inadiyah : menentang adanya hakikat2). Al 'Indiyah : hakikat/kebenaran tidak ada yang absolut tetapi relatif/subjektif tidak ada kebenaran objektif3). Al La Adriyyah : tidak tahuAl-Inadiyyah : yaitu orang-orang mengatakan bahwa apa yang kita lihat sekarang ini bisa jadi sesuai dengan apa yang kita lihat bisa jadi berbeda dengan apa yang kita lihat, tidak ada hakikat. Mereka terjebak dalam keraguan. Meragukan segala hal. Iblis telah masuk dalam pikiran mereka, sehingga mereka menolak adanya hakikat. Kenapa bisa terjadi? Sejarah munculnya mazhab shofisme ini karena munculnya ulama falasifa yang berusaha mengembalikan asal muasal alam kepada natural/thabiat apakah asal alam adalah api apakah udara apakah atom mereka khilaf tidak ada yang bisa menguatkan pendapat salah satu diantara mereka. Karena keraguan ini munculah mazhab Shofisme ini.Bantahan Ibnu Jauzi :Keyakinan kalian ini (mengingkari hakikat) apakah ada hakikatnya atau tidak? Jika mereka mengatakan tidak ada hakikatnya berarti selesai, berarti pendapat kalian bathil. Jika mereka bilang perkataan kita ada hakikatnya berarti mereka mengakui ada hakikat.Al IndiyyahRelativisme, yang mengatakan hakikat tidak ada yang absolut tetapi semua relatif/subjektif tergantung siapa yang memandangnya, tidak ada keyakinan yang objektif, masing-masing memandang berbeda. Tidak ada kebenaran absolut, semua relatif.Bantahan Ibnu Jauzi1. Keyakinanmu ini apakah pasti benar? mereka akan menjawab : subjektif, menurut kami benar tapi bisa jadi menurut selain kami tidak benar. Ibnu Jauzi mengatakan :Jika kalian mengatakan demikian masih ada kemungkinan salah dari sisi lain maka jangan diyakini kebenarannya. Berarti pendapat kalian tertolak. Dan siapa yang menyaksikan pendapatnya bisa saja salah menurut pihak lain maka percuma dipertahankan.2. Kaum Atheis (Kaum yang menolak adanya Tuhan) terbagi 2 :a. Ad-Dahriyyah (penolak adanya Tuhan/pencipta) Alam itu ada tanpa ada yang menjadikanBantahan Ibnu Jauzi :Ilmu dasar (namanya akibat tidak mungkin muncul tanpa adanya sebab) Beliau membantah syubhat Tuhan tidak terlihat jadi tidak ada :Dengan logika adanya jiwa dan akal yang tidak terlihat. Kita yakin dalam tubuh kita ada jiwa yang mengaturnya dan ada akal kita yang berpikir untuk bertindak. Maka demikian pula Allah subhanahu wata'ala pencipta alam semesta meskipun kita tidak melihatnya maka bukti-bukti menunjukkan Dia ada. Sesuatu diketahui adanya tidak mesti dilihat tapi bisa dilihat dari dampak keberadaannya.b. Thabi'iyyunYang mengatakan alam diatur oleh thabi'at (aturan alam) bukan oleh Tuhan.Bantahan Ibnu JauziThabi'at tersebut tercipta oleh Allah karena dia ikut aturan. Thabi'at tidak bisa bereaksi kecuali jika dikumpulkan bercampur kemudian timbulah reaksi menjadi suatu yang lain, reaksi yang muncul tadi menyelisihi sifat awal thabi'at tersebut, ketika menyelisihi sifat awal thabi'at tersebut menunjukkan bahwa dia diatur bukan dia yang mengatur.3. Ats Tsanawiyyaha. Tuhan 2 : - Tuhan pencipta kebaikan- Tuhan pencipta keburukanb. Majusiyah - Tuhan api/cahayaPencipta kebaikan- Tuhan kegelapanPencipta keburukanBantahan Ibnu Jauzi:1. Logika 2 TuhanJika 2 Tuhan ingin melakukan sesuatu :Tuhan 1 ingin si A bergerakTuhan 2 ingin si A diam(Bersambung)

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
M
Mahargyani Yogyantari

📍 Kota Depok

Tablis Iblis #2

Tablis Iblis #2 Penganut Aqidah & Agama Yang Menyimpanghttps://youtu.be/QO-5aAvHCIM?si=z09Hp1wV56ufCU-1Penyebutan tentang syubhat iblis dalam Aqidah dan agama1. Al Imam Ibnu Jauzi membuka dengan syubhat kepada penganut Shofisme dari yaitu filsafat dari Yunani. Pengaruh mereka masuk ke dalam berbagai agama Samawi ‌Mereka adalah orang-orang yang mengingkari hakekat. ‌Mereka terdiri dari 3 madzab a. Al Inadiyah -- benar-benar menentang hakikatb. Al Inadiyah -- hakekat itu relatif subyektif/tidak ada yang absolutc. Ala Adriyah -- tidak tahu sama sekali/abstainAl Inadiyah, apa yang kita lihat,bisa jadi berbeda dengan apa yang kita lihat. Mereka meragukan segala hal. Iblis telah masuk ke dalam pikiran mereka sehingga selalu ada keraguan. Bantahan Ibnu Jauzi: Para ulama membantah mereka dengan mengatakan "Apakah perkataan kalian ada hakekatnya atau tidak?" Keyakinan kalian ini yaitu mengingkari hakikat,apakah ada hakikatnya perkataan kalian? Banyak ulama yang menyerah berdiskusi dengan mereka karena tidak ada pijakan diantara mereka yang disepakati, namun tidak dengan Ibnu Jauzi2. Ad Dahriyah & AtheisMereka menolak adanya Tuhan sebagai pencipta. ‌Dahriyah : Alam terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menjadikan. ‌Thobaiyun : Alam semesta diatur oleh Thobia'at (aturan alam) Bantahan Ibnu Jauzi menggunakan ilmu sebab akibat. 3. Tsanawiyah (Majusiyah) Mereka meyakini ada 2 tuhan, 1 untuk kebaikan, 1 untuk keburukan. Bantahan Ibnu Jauzi, jika demikian akan adanya kontradiksi, misalnya ada benda yang bergerak namun diam pada saat bersamaan. Dan itu adalah hal yang mustahil.Disini, Iblis menggunakan tipu daya menggunakan kerancuan pemikiran untuk menyesatkan manusia

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
S
SULUNG SURYO DARMAWATI

📍 Kota Bekasi

Talbis Iblis -2

Talbis Iblis -2Penganut Aqidah dan Agama yang MenyimpangUstadz Firanda Andirja Hafizhahullahu Ta'-alaIbnul Jauzi dalam kitab Talbis Iblis menjelaskan berbagai syubhat dan kerancuan pemikiran yang dilancarkan iblis kepada manusia hingga mereka menyimpang dari kebenaran. Pada pembahasan ini beliau membahas talbis iblis yang menimpa para penganut pemikiran filsafat, ateisme, dan keyakinan yang menyimpang tentang Tuhan.1. Talbis Iblis kepada Kaum Sofisme (Sutha’iyyah)Kaum sofisme berasal dari filsafat Yunani. Mereka muncul setelah para filsuf berbeda pendapat tentang asal-usul alam semesta. Karena tidak mampu mencapai kesimpulan yang pasti, sebagian mereka akhirnya terjerumus dalam keraguan dan mengingkari adanya hakikat yang pasti.Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok:Pertama, Al-’Inadiyyah, yaitu kelompok yang mengingkari hakikat secara mutlak. Mereka mengatakan bahwa apa yang dilihat manusia belum tentu sesuai dengan kenyataan, sehingga tidak ada hakikat yang pasti.Bantahan terhadap mereka sangat sederhana. Jika mereka mengatakan tidak ada hakikat, maka ditanyakan: Apakah pernyataan kalian bahwa “tidak ada hakikat” itu sendiri merupakan hakikat atau bukan? Jika mereka menjawab bahwa itu adalah hakikat, berarti mereka mengakui adanya hakikat. Jika mereka menjawab bukan hakikat, maka perkataan mereka sendiri menjadi batal.Karena menolak seluruh hakikat, para ulama sangat kesulitan berdialog dengan kelompok ini. Sebab diskusi membutuhkan titik pijak yang disepakati bersama, sedangkan mereka meragukan segala sesuatu.Ibnul Jauzi juga menyebutkan kisah seorang pengikut sofisme yang kehilangan untanya. Ketika ia mengadu bahwa untanya dicuri, lawan bicaranya mengingatkan bahwa selama ini ia selalu meragukan segala sesuatu. Namun saat kehilangan untanya, ia yakin bahwa dirinya datang dengan menaiki unta. Dari sini tampak bahwa pada kenyataannya ia tetap mengakui adanya hakikat.Kedua, Al-’Indiyyah (Relativisme), yaitu kelompok yang mengatakan bahwa kebenaran bersifat relatif dan subjektif. Tidak ada kebenaran objektif yang berlaku untuk semua orang. Setiap orang memiliki kebenarannya masing-masing.Contohnya, madu terasa manis bagi orang sehat namun terasa pahit bagi orang sakit. Menurut mereka, keduanya sama-sama benar.Bantahannya adalah: jika mereka mengakui bahwa pendapat mereka sendiri mungkin salah menurut orang lain, maka tidak ada alasan untuk meyakini pendapat tersebut sebagai kebenaran. Dengan demikian prinsip relativisme mereka runtuh dengan sendirinya.Selain itu ada kelompok yang mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang tetap karena segala sesuatu selalu berubah. Mereka menjadikan perubahan sebagai alasan untuk menolak adanya hakikat yang pasti.2. Talbis Iblis kepada Kaum Ateis (Ad-Dahriyyah dan Ath-Thaba’iyyah)Kelompok berikutnya adalah orang-orang yang menolak keberadaan Tuhan.Ad-Dahriyyah berkeyakinan bahwa alam semesta ada dengan sendirinya tanpa pencipta.Bantahan Ibnul Jauzi dibangun di atas kaidah sebab-akibat. Setiap akibat pasti memiliki sebab. Jika seseorang melihat sebuah bangunan, ia pasti memahami bahwa ada yang membangunnya. Maka bagaimana mungkin langit, bumi, matahari, bulan, bintang, dan seluruh alam semesta yang jauh lebih agung dianggap ada tanpa pencipta?Sebagian orang Arab Badui berkata:“Kotoran unta menunjukkan adanya unta, jejak kaki menunjukkan adanya orang yang berjalan. Maka langit yang memiliki gugusan bintang, bumi yang memiliki jalan-jalan, serta lautan yang memiliki ombak, bukankah semuanya menunjukkan adanya Dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui?”Bahkan seseorang cukup memperhatikan dirinya sendiri untuk mengetahui adanya Sang Pencipta. Susunan tubuh manusia yang sangat sempurna, gigi dengan fungsi yang berbeda-beda, lidah, lambung, aliran darah, tangan, dan jari-jari yang tersusun rapi menunjukkan adanya pencipta yang mengatur semuanya dengan sempurna.Sebagian mereka berkata bahwa Tuhan tidak ada karena tidak terlihat.Ibnul Jauzi membantahnya dengan menjelaskan bahwa manusia meyakini adanya akal dan jiwa meskipun keduanya tidak terlihat. Keberadaan sesuatu tidak harus diketahui dengan melihatnya secara langsung. Listrik pun tidak terlihat, tetapi dampaknya menunjukkan keberadaannya. Demikian pula Allah, keberadaan-Nya diketahui melalui tanda-tanda dan ciptaan-Nya.Ath-Thaba’iyyah berpendapat bahwa alam semesta berjalan karena tabiat atau hukum alam, bukan karena Tuhan. Mereka menganggap aturan alam yang bekerja secara otomatis sudah cukup menjelaskan segala sesuatu.Bantahannya adalah bahwa aturan alam itu sendiri menunjukkan adanya pihak yang menetapkan aturan tersebut. Justru keteraturan yang sangat presisi dalam alam semesta menjadi bukti adanya Sang Pengatur. Sesuatu yang berjalan dengan hukum yang rapi dan konsisten tidak mungkin muncul tanpa pembuat aturan.3. Talbis Iblis kepada Penganut Tsanawiyah (Dua Tuhan)Kelompok berikutnya adalah orang-orang yang meyakini adanya dua tuhan.Di antaranya adalah kaum Majusi, yang meyakini Tuhan cahaya atau api sebagai pencipta kebaikan dan Tuhan kegelapan sebagai pencipta keburukan.Mereka beranggapan bahwa karena di dunia terdapat kebaikan dan keburukan, maka harus ada dua pencipta yang berbeda.Ibnul Jauzi membantah keyakinan ini dengan logika yang sederhana. Jika ada dua tuhan, lalu keduanya menghendaki hal yang bertentangan, misalnya satu menghendaki sesuatu bergerak dan yang lain menghendaki diam, maka hanya ada tiga kemungkinan:1. Keinginan keduanya sama-sama terwujud, sehingga sesuatu itu bergerak sekaligus diam. Ini mustahil.2. Keinginan keduanya sama-sama gagal. Ini menunjukkan keduanya tidak layak disebut tuhan.3. Salah satu keinginan terwujud dan yang lain gagal. Ini menunjukkan hanya satu yang benar-benar berkuasa.Dengan demikian, logika menunjukkan bahwa Tuhan hanya satu.Beliau juga membantah keyakinan bahwa cahaya selalu baik dan kegelapan selalu buruk. Kegelapan terkadang membawa manfaat, misalnya menjadi tempat berlindung seseorang dari bahaya. Sebaliknya, api tidak selalu membawa kebaikan karena dapat membakar dan menghancurkan. Maka pembagian mutlak antara pencipta kebaikan dan pencipta keburukan tidak sesuai dengan kenyataan.KesimpulanDalam pembahasan ini Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa iblis menyesatkan manusia melalui berbagai kerancuan berpikir, di antaranya:* Mengingkari adanya hakikat (sofisme).* Menganggap kebenaran bersifat relatif.* Menolak keberadaan Tuhan (ateisme).* Menganggap alam berjalan sendiri tanpa pencipta.* Meyakini adanya dua tuhan yang mengatur alam semesta.Seluruh syubhat tersebut dapat dibantah dengan akal yang sehat, fitrah yang lurus, dan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa alam semesta memiliki hakikat, memiliki aturan yang sempurna, dan memiliki satu Pencipta yang Mahakuasa, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
E
Ellisa Septiana

📍 Kota Depok

Talbis iblis #2 : Penganut Akidah dan Agama yang Menyimpang -Ustadz dr.Firanda-

Talbis Iblis dan Kerancuan Pemikiran Sofisme (Sufsutho'iyah)Sofisme berasal dari filsafat Yunani, dikenal sebagai aliran yang meragukan segala sesuatu dan menolak adanya hakikat pasti. Aliran ini muncul sebelum agama Yahudi dan Nasrani, pengaruhnya menyebar hingga ke dalam agama-agama Samawi, termasuk Islam.Sofisme memiliki tiga madzhab utama:Madzhab Sofisme 1. Al-Aliyaniyyah : Menolak adanya hakikat/mengingkari hakikat secara total2. Al-Hindiyyah : Kebenaran bersifat relatif dan subjektif, tidak ada kebenaran absolut3. Al-Adriyah : Bersikap ragu-ragu, tidak tahu apakah hakikat itu ada atau tidakSofisme mencoba membuktikan bahwa segala sesuatu bisa jadi tidak seperti yang tampak, menghilangkan kepastian akan kebenaran atau realitas hakikat.Sejarah dan Pemikiran Filsafat Yunani Terkait Sofisme• Dari para filsuf seperti Socrates dan Plato, hingga mazhab sofisme, telah terjadi perdebatan tentang asal-usul alam.• Pendapat berbeda yang muncul misalnya bahwa alam berasal dari udara, api, air, atau atom, tapi semua ini dinilai tidak berdasar dalil melainkan hanya akal semata.• Sofisme mengembangkan dan menguatkan keraguan tersebut menjadi dasar pemikiran bahwa “hakikat tidak ada” atau tidak bisa dipastikan.Metode Diskusi dan Bantahan terhadap SofismeIbnu Jawzi menggunakan metode bertanya ke penganut sofisme: Apakah hakikat itu ada atau tidak?Jika mereka jawab ada, maka sofisme mereka batal karena mengakui hakikat. Jika jawab tidak ada, maka pemikiran mereka sendiri tidak punya pijakan dan batal. Ulama mengakui sulit berdiskusi dengan mereka karena mereka menolak dasar pijakan apa pun. Contoh dialog untuk menunjukkan kontradiksi serta kebingungan dalam sofisme diberikan, misalnya cerita tentang pengikut sofisme yang menyangkal hakikat ontanya yang “hilang" tapi yakin dia naik onta.Madzhab Relativisme (Al-Hindiyyah) dalam SofismeMengakui bahwa kebenaran bersifat subjektif dan relatif, tergantung pada pengalaman atau persepsi orang masing-masing. Contoh: Madu bisa terasa manis bagi yang sehat tapi pahit bagi yang sakit. Keduanya benar menurut persepsi masing-masing.Pendekatan ini menjadikan tidak ada satu kebenaran objektif atau mutlak. Bantahan: Jika klaim kebenaran bersifat relatif, maka mustahil untuk meyakini suatu pendapat secara absolut. Maka klaim tersebut melemahkan dirinya sendiri.Sofisme Variasi Lain yang Menyatakan Perubahan dan Tidak Tetapnya HakikatAda juga yang berpendapat “tidak ada yang tetap, semua mengalami perubahan”, sehingga hakikat itu tidak pernah menetap. Contoh: Air di sungai berubah setiap detik, sehingga tidak ada hakikat yang statis.Pemikiran ini merupakan cabang lain dari penolakan hakikat.Kelompok Kedua: Ateisme dan Penolakan TuhanPenolakan terhadap adanya Tuhan terbagi menjadi dua aliran utama:• Dahriyyah : Alam ada secara kekal dan terjadi sendiri tanpa pencipta/penyebab• Tawbi’iyyah : Alam terjadi karena aturan alamiah (tobi’i), tanpa perlu Tuhan sebagai pengatur langsungDalil bantahan menggunakan ilmu sebab-akibat:• Segala akibat pasti disebabkan oleh sebab.• Alam dan segala isinya menunjukkan adanya penyebab atau pencipta.• Contoh: Bangunan tidak mungkin muncul tanpa pembuat. Alam semesta dan keteraturannya dan juga demikian.Konsep Tuhan dalam Tubuh Manusia Sebagai Contoh Bukti Tuhan Ada• Tubuh manusia dipastikan memiliki jiwa dan akal yang tidak terlihat tapi diketahui keberadaannya lewat pengamatan dan penalaran.• Dengan analogi ini: Jika jiwa dan akal yang tidak tampak dapat diyakini, maka Tuhan yang mengatur semesta sekalipun tak kasat mata harus diyakini keberadaannya.• Penjelasan ini juga menggunakan analogi listrik yang tidak terlihat namun nyata melalui dampaknya.Bantahan Terhadap Tawbi’iyyah (Pengaturan Alam oleh Aturan Alamiah Bukan Tuhan)• Alam diatur oleh aturan (sunatullah), tetapi aturan ini harus diciptakan oleh Tuhan, karena aturan tidak bisa mengatur dirinya sendiri.• Aturan alam adalah hasil ciptaan Tuhan, bukan entitas independen yang mengatur semuanya sendiri.• Contoh fenomena reaksi kimiawi yang terjadi setelah penggabungan unsur-unsur alamiah, menunjukkan aturan tertentu yang mengatur, bukan kebetulan.• Penemuan aturan fisika menurut pandangan al-Ulama justru menjadi bukti ada pencipta yang menetapkan aturan tersebut.Kelompok Ketiga: Dualitas Tuhan (Tuhan Baik dan Tuhan Jahat)Beberapa pemikiran, seperti mazhab Majusi, mempercayai adanya dua Tuhan:1. Tuhan kebaikan (cahaya/api)2. Tuhan keburukan (kegelapan)Bantahan logis terhadap pemikiran ini:• Jika keduanya ada dan saling bertentangan keinginannya, maka tidak mungkin keduanya bisa berfungsi sebagai Tuhan karena bertentangan (misal, bergerak dan tidak bergerak sekaligus).• Jika salah satu menang, ini berarti yang lain tidak layak disebut Tuhan.• Ini menunjukkan bahwa Tuhan hanya satu, bukan dua.Bantahan Terhadap Pandangan Dualitas Tuhan Berdasarkan Fungsi Kebaikan dan Keburukan• Majusi memisahkan Tuhan kebaikan dan Tuhan keburukan, tapi kenyataannya cahaya/kebaikan dan kegelapan/keburukan tidak bisa diidentikkan secara mutlak karena:• Kegelapan (misalnya, gelap) juga memiliki manfaat, seperti menyembunyikan dari bahaya.• Api yang dianggap hanya memberi kebaikan pun bisa merusak dan membakar.• Dengan demikian, pemisahan Tuhan dalam dua entitas menurut majoritas kebaikan dan keburukan tidak logis.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026

Penganut akidah dan agama yang menyimpang.

Shofisme : yang mengingkari hakikat. Terdiri dari 3 mahzab :- Al Inadiyah : Menentang adanya hakikat.- Al Indiyah : Kebenaran/hakikat itu tidak ada yang absolut tetapi relatif subjektif, tidak ada kebenaran yang objektif.- La Adriya : Tidak tahu, apakah hakikat ada atau tidak, saya tidak tahu. Sang Syaikh berkata: "Mereka adalah kaum yang dinisbatkan kepada seorang lelaki yang disebut Sofista. Mereka mengklaim bahwa segala sesuatu tidak memiliki hakikat, dan bahwa apa yang kita anggap mustahil bisa jadi sesuai dengan yang kita saksikan, dan bisa jadi berbeda dengan yang kita saksikan." Para ulama telah menyampaikan sanggahan kepada mereka dengan berkata: "Apakah perkataan kalian ini memiliki hakikat atau tidak? Jika kalian berkata tidak memiliki hakikat dan kalian membolehkan kebatilannya, maka bagaimana kalian bisa mengajak kepada sesuatu yang tidak memiliki hakikat? Seolah-olah kalian mengakui dengan perkataan ini bahwa tidak halal menerima perkataan kalian. Dan jika kalian berkata bahwa perkataan kalian memiliki hakikat, maka kalian telah meninggalkan mazhab kalian." Abu Muhammad al-Hasan bin Musa an-Naubakhti telah menyebutkan mazhab mereka dalam kitab "al-Ara' wa ad-Diyanat". Dia berkata: "Aku melihat banyak ahli kalam telah keliru dalam perkara mereka dengan kekeliruan yang jelas, karena mereka berdebat dan berargumen dengan mereka serta berusaha membantah mereka dengan hujah dan perdebatan. Padahal mereka tidak menetapkan hakikat apa pun dan tidak mengakui penyaksian apa pun. Bagaimana bisa berbicara dengan orang yang berkata 'aku tidak tahu apakah ia berbicara kepadaku atau tidak'? Bagaimana bisa berdebat dengan orang yang mengklaim bahwa ia tidak tahu apakah ia ada atau tidak ada? Bagaimana bisa berbicara dengan orang yang mengklaim bahwa berbicara sama seperti diam dalam hal penjelasan, dan yang benar sama seperti yang salah?" Sang Syaikh berkata: "Abu al-Wafa' Ibnu Aqil telah membantah perkataan ini dengan berkata: 'Sesungguhnya ada kaum yang berkata: Bagaimana kita berbicara dengan mereka? Puncak kemungkinan perdebatan adalah mendekatkan yang masuk akal kepada yang dapat dirasakan dan bersaksi dengan yang dapat disaksikan untuk mendalilkan yang gaib. Sedangkan mereka tidak berkata dengan hal-hal yang dapat dirasakan, maka dengan apa mereka diajak bicara?'"Dia berkata: "Ini adalah perkataan yang sempit pandangannya. Tidak sepantasnya berputus asa dari mengobati mereka, karena apa yang menimpa mereka tidak lebih dari waswas. Tidak sepantasnya kita menyempitkan pandangan kita dari mengobati mereka, karena mereka adalah kaum yang dikeluarkan oleh gejala penyimpangan temperamen. Perumpamaan kita dan mereka adalah seperti seorang lelaki yang dikaruniai anak yang juling, yang selalu melihat bulan dalam bentuk dua bulan, sehingga dia tidak ragu bahwa di langit ada dua bulan. Ayahnya berkata kepadanya: 'Bulan itu satu, dan keburukannya ada di matamu. Pejamkan mata julingmu dan lihatlah!' Ketika dia melakukannya, dia berkata: 'Aku melihat satu bulan karena aku menutup salah satu mataku sehingga yang satu hilang.' Dari perkataan ini muncul keraguan kedua. Ayahnya berkata kepadanya: 'Jika demikian seperti yang kamu sebutkan, maka pejamkan yang sehat!' Dia melakukannya dan melihat dua bulan, maka dia tahu kebenaran perkataan ayahnya." Abu al-Qasim al-Balkhi menceritakan bahwa seorang lelaki dari kaum Sofistik biasa datang kepada salah seorang ahli kalam. Suatu kali dia datang kepadanya lalu berdebat dengannya. Ahli kalam itu menyuruh mengambil kendaraannya. Ketika dia keluar, dia tidak melihatnya, maka dia kembali dan berkata: "Kendaraanku dicuri." Dia (si Sofistik) berkata: "Celaka kamu! Mungkin kamu tidak datang dengan berkendaraan." Dia berkata: "Tidak, aku datang berkendaraan." Dia berkata: "Pikirkanlah!" Dia berkata: "Ini adalah perkara yang aku yakini." Dia terus berkata kepadanya: "Ingatlah!" Dia berkata: "Celaka kamu! Celaka kamu! Ini bukan tempat untuk mengingat. Aku tidak ragu bahwa aku datang dengan berkendaraan." Dia berkata: "Bagaimanakamu mengklaim bahwa tidak ada hakikat bagi sesuatu apa pun dan bahwa keadaan orang yang terjaga seperti keadaan orang yang tidur?" Maka si Sofistik itu terdiam dan kembali dari mazhabnya. An-Naubakhti berkata: "Satu golongan dari orang-orang yang pura-pura bodoh telah mengklaim bahwa segala sesuatu tidak memiliki satu hakikat pada dirinya sendiri, tetapi hakikatnya menurut setiap kaum sesuai dengan apa yang mereka yakini tentangnya. Madu dirasakan pahit oleh penderita penyakit kuning dan dirasakan manis oleh yang lain. Mereka berkata: 'Demikian juga alam ini, ia qadim menurut orang yang meyakini keqadimannya, dan baru menurut orang yang meyakini kebaruannya. Warna adalah jisim menurut orang yang meyakininya sebagai jisim, dan aradh (sifat) menurut orang yang meyakininya sebagai aradh.' Mereka berkata: 'Seandainya kita bayangkan tidak adanya orang-orang yang meyakini, maka perkara itu bergantung pada adanya orang yang meyakini." Mereka ini termasuk jenis Sofistik. Maka dikatakan kepada mereka: "Apakah perkataan kalian benar?" Mereka akan berkata: "Ia benar menurut kami, batil menurut lawan kami." Kami berkata: "Klaim kalian bahwa perkataan kalian benar itu ditolak, dan pengakuan kalian bahwa mazhab kalian menurut lawan kalian adalah batil menjadi saksi atas kalian. Barang siapa yang bersaksi atas perkataannya dengan kebatilan dari satu segi, maka dia telah mencukupi lawannya dengan menjelaskan kerusakan mazhabnya." An-Naubakhti berkata: "Di antara mereka ada yang berkata bahwa alam ini dalam keadaan mencair dan mengalir. Mereka berkata: 'Manusia tidak dapat memikirkan satu hal dua kali karena segala sesuatu selalu berubah.' Maka dikatakan kepada mereka: 'Bagaimana ini diketahui padahal kalian telah mengingkari ketetapan apa yang mewajibkan ilmu? Barangkali orang yang menjawab sekarang berbeda dengan orang yang diajak bicara tadi."Penyesatan Iblis terhadap Kaum Dahriyah.Sang Penyusun berkata: "Iblis telah menipu banyak makhluk bahwa tidak ada Tuhan dan tidak ada Pencipta, dan bahwa segala sesuatu ini ada tanpa yang mewujudkannya. Mereka ini, karena tidak dapat merasakan Sang Pencipta dengan indra dan tidak menggunakan akal untuk mengenal-Nya, maka mereka mengingkari-Nya." Apakah ada orang berakal yang meragukan adanya Pencipta? Sesungguhnya jika manusia melewati suatu tempat yang tidak ada bangunan di dalamnya, kemudian dia kembali dan melihat dinding yang telah dibangun, dia tahu bahwa pasti ada yang membangunnya. Hamparan yang terbentang ini, langit yang terangkat ini, bangunan-bangunan menakjubkan ini, dan hukum-hukum yang berjalan dengan penuh hikmah, bukankah itu semua menunjukkan adanya Pencipta? Betapa bagusnya perkataan sebagian orang Arab: "Sesungguhnya kotoran unta menunjukkan adanya unta." Maka bangunan langit yang tinggi dengan kelembutan ini dan pusat bumi yang rendah dengan kekentalan ini, bukankah keduanya menunjukkan adanya Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui? Kemudian, seandainya manusia merenungkan dirinya sendiri, itu sudah cukup sebagai dalil dan menyembuhkan dahaga. Karena dalam jasad ini terdapat hikmah-hikmah yang tidak dapat disebutkan seluruhnya dalam sebuah kitab. Barang siapa merenungkan pembentukan gigi untuk memotong, pembentukan geraham untuk menggiling, lidah yang membolak-balik makanan yang dikunyah, penguasaan hati atas makanan untuk memasaknya, kemudian mengalirkannya ke setiap anggota tubuh sesuai dengan kadar yang dibutuhkannya dari makanan. Jari-jari ini yang dibentuk dengan sendi-sendi agar dapat dilipat dan dibuka sehingga memungkinkan untuk bekerja dengannya, dan tidak dibuat berongga karena banyaknya pekerjaan, sebab jika dibuat berongga, benda keras akan menabraknya dan mematahkannya. Sebagian jari dibuat lebih panjang dari yang lain agar seimbang ketika digenggam. Dan disembunyikan dalam badanapa yang menjadi kekuatannya, yaitu jiwa yang jika hilang akan rusaklah akal yang membimbing kepada kemaslahatan. Setiap hal dari semua ini berseru: "Apakah masih ada keraguan tentang Allah?" Hanya saja orang yang mengingkari tersesat karena dia mencari-Nya dari segi indra. Di antara manusia ada yang mengingkari-Nya karena ketika dia menetapkan wujud-Nya secara global, dia tidak dapat memahami-Nya secara rinci, maka dia mengingkari asal wujud. Seandainya orang ini menggunakan pikirannya, dia akan tahu bahwa kita memiliki hal-hal yang hanya dapat dipahami secara global seperti jiwa dan akal, dan tidak ada seorang pun yang enggan menetapkan keberadaan keduanya. Bukankah tujuannya hanya menetapkan penciptaan secara global?Penyesatan Iblis terhadap Kaum Thabi'iyyin (Naturalis)Sang Penyusun berkata: "Ketika Iblis melihat sedikitnya dukungan terhadap pengingkaran Pencipta karena akal-akal bersaksi bahwa pasti ada pembuat untuk setiap yang dibuat, dia memperindah bagi sebagian kaum bahwa makhluk-makhluk ini adalah perbuatan alam. Dia berkata: 'Tidak ada sesuatu yang tercipta kecuali dari berkumpulnya empat tabi'at (unsur) di dalamnya, maka itu menunjukkan bahwa tabi'at-tabi'at itulah yang melakukan." Jawaban untuk ini: Kami katakan berkumpulnya tabi'at-tabi'at itu berdasarkan wujudnya, bukan berdasarkan perbuatannya. Kemudian telah terbukti bahwa tabi'at-tabi'at tidak berbuat kecuali dengan berkumpul dan bercampur, dan itu menyelisihi tabi'atnya, maka itu menunjukkan bahwa mereka dipaksa.Penyesatan Iblis terhadap Kaum Tsanawiyah (Dualisme).Mereka adalah kaum yang berkata bahwa pencipta alam ada dua: pelaku kebaikan adalah cahaya dan pelaku keburukan adalah kegelapan. Keduanya qadim, tidak pernah tidak ada dan tidak akan pernah tidak ada, kuat, peka, mendengar, melihat. Keduanya berbeda dalam jiwa dan bentuk, berlawanan dalam perbuatan dan pengaturan. Hakikat cahaya adalah utama, baik, terang, jernih, bersih, harum, indah dipandang. Jiwanya adalah jiwa yang baik, mulia, bijaksana, bermanfaat. Darinya kebaikan, kenikmatan, kegembiraan, dan kebaikan. Tidak ada padanya sedikitpun kerusakan atau keburukan. Hakikat kegelapan adalah kebalikan dari itu: keruh, kurang, berbau busuk, jelek dipandang. Jiwanya adalah jiwa yang jahat, pelit, bodoh, busuk, merusak. Darinya keburukan dan kerusakan. Demikian yang diceritakan an-Naubakhti dari mereka.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
B
Baby Nabilah Ulzanah

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis Iblis #2 : Penganut Aqidah & Agama Yang Menyimpang - Ust. Dr. Firanda Andirja M.A

Talbis Iblis #2 : Penganut Aqidah & Agama Yang Menyimpang - Ust. Dr. Firanda Andirja M.A1. Golongan Sufastaiyyah (Sofisme)Mereka adalah kelompok yang mengingkari adanya hakikat kebenaran. Kelompok ini terbagi menjadi tiga:Al-'Inadiyyah: Kelompok yang menentang atau menolak keras adanya hakikat kebenaran sesuatu.Al-'Indiyyah: Kelompok yang meyakini bahwa hakikat kebenaran itu tidak absolut (relatif), melainkan tergantung pada pendapat atau persepsi masing-masing individu ("indi" = menurutku).Al-La'adriyyah: Kelompok yang selalu skeptis atau mempertanyakan apakah hakikat kebenaran itu ada atau tidak ("la adri" = saya tidak tahu).2. Golongan Dahriyyah (Atheist)Mereka adalah kelompok yang menolak keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta.Ad-Dahriyyah: Mereka meyakini bahwa alam semesta ini qadim (telah ada dengan sendirinya tanpa permulaan) dan tidak ada Dzat yang menciptakannya. Segala sesuatu mati hanya karena waktu.Bantahan Ibnu Jauzi:Segala sesuatu yang ada tidak mungkin muncul tanpa adanya sebab atau pencipta.Beliau membantah syubhat (kerancuan berpikir) yang menyatakan bahwa "Tuhan tidak ada karena tidak terlihat." Ketiadaan wujud fisik yang terlihat bukan berarti eksistensinya tidak ada.Ath-Thaba'iyyun: Mereka meyakini bahwa alam semesta berjalan dan berproses dengan sendirinya sesuai dengan hukum alam (tabiatnya).Bantahan Ibnu Jauzi: Keteraturan hukum alam semesta yang begitu sistematis justru membuktikan bahwa ada Dzat yang menetapkan aturan tersebut dan mengaturnya. Alam tidak mungkin bisa mengatur dirinya sendiri sedetail itu.3. Golongan Tsanawiyyah (Dualisme)Mereka adalah kelompok yang meyakini adanya dua Tuhan.Mereka meyakini ada Tuhan pencipta kebaikan dan Tuhan pencipta keburukan.Contoh (Majusi/Zoroaster): Mereka meyakini adanya Tuhan Cahaya/Api (Ahura Mazda) sebagai pencipta kebaikan, dan Tuhan Kegelapan (Ahriman) sebagai pencipta keburukan.Bantahan Ibnu Jauzi:Bantahan Logika Dua Tuhan (Dalil at-Tamanu'): Bayangkan jika ada dua Tuhan. Tuhan 1 ingin seseorang bergerak, sedangkan Tuhan 2 ingin orang tersebut diam. Mustahil kedua kehendak ini terjadi bersamaan. Jika salah satu kehendak kalah, maka ia lemah dan tidak pantas disebut Tuhan. Oleh karena itu, konsep dua Tuhan itu mustahil dan tidak logis.Bantahan terhadap Konsep Majusi (Api & Kegelapan):Kegelapan tidak identik dengan keburukan: Kegelapan juga membawa banyak manfaat (misalnya untuk makhluk hidup beristirahat dan tidur di malam hari).Api/cahaya tidak identik dengan kebaikan: Api tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga bisa membawa keburukan (seperti membakar atau menghancurkan rumah dan makhluk hidup). Keduanya hanyalah makhluk ciptaan yang tunduk pada aturan Tuhan yang Maha Esa.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
U
Ulfa Puspitasari

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Ringkasan bab 2 - Pembahasan Talbis Iblis dalam Perspektif dan Aqidah

Pembahasan Talbis Iblis dalam Perspektif Filsafat dan Aqidah Membahas secara mendalam fenomena talbis iblis atau syubhat iblis yang menyerang pemikiran para penganut aqidah dan agama yang menyimpang, terutama yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani, sofisme (shufsuthaiyyah), dan berbagai mazhab yang menolak adanya hakekat atau kebenaran absolut. Materi utama berasal dari kitab Talbis Iblis, yang menguraikan bagaimana iblis menyebarkan kerancuan pemikiran. Garis Waktu Pemikiran dan Perkembangan Sofisme Rentang Waktu Peristiwa / Konsep Masa Yunani Kuno Munculnya filsafat Yunani termasuk sofisme yang meragukan segala sesuatu. Pengaruh meresap ke agama Yahudi, Nasrani, dan Islam awal. Masa Transisi Muncul tiga mazhab sofisme: al-Aliyaniyah (menolak adanya hakekat), al-Hindyah (kebenaran relatif dan subjektif), al-Adrianiyah (skeptisisme penuh). Masa Klasik Islam Pembahasan talbis iblis oleh ulama seperti Ibnul Jauzi; bantahan terhadap sofisme dan ateisme. Masa Modern Fenomena liberalisme dan relativisme masih mengandung unsur sofisme. Akan dibahas lebih lanjut pada sesi berikutnya. Sofisme dan Mazhabnya Mazhab Sofisme Pandangan Utama Penjelasan Singkat Al-Aliyaniyah Menolak keberadaan hakekat (realitas tidak ada). Menganggap tidak ada kebenaran yang objektif. Al-Hindyah Kebenaran itu relatif dan subjektif. Setiap orang punya versi kebenaran sendiri. Al-Adrianiyah Skeptisisme ekstrem, tidak tahu ada atau tidak ada hakekat. Tidak bisa dipastikan ada hakekat atau tidak. Akibat dari mazhab ini, diskusi ilmiah atau aqidah menjadi mustahil karena tidak ada pijakan kebenaran yang disepakati. Ibnul Jauzi dan lainnya berpendapat bahwa penyangkalan hakekat justru menetapkan hakekat baru, yaitu ketiadaan hakekat, yang bertentangan secara logika. Bantahan Terhadap Sofisme dan Kerancuan Pemikiran Cerita analogi bulan dan mata juling dipakai untuk menunjukkan bahwa ketidakpahaman akibat cacat persepsi bukanlah alasan untuk menolak realitas. Sikap skeptik ini merupakan jebakan iblis yang membuat pikiran manusia terjebak dalam keragu-raguan tiada akhir. Relativisme kebenaran (misal, "madu itu manis tetapi bagi orang sakit terasa pahit") digunakan untuk mempertahankan posisi subjektif tanpa pijakan objektif. Bantahannya adalah: jika setiap pendapat bisa salah, maka klaim apapun tidak layak dipertahankan secara mutlak. Kelompok Ateis dan Ateisme dalam Kitab Talbis Iblis Ada dua kelompok besar ateis (penganut penolakan Tuhan): Azariyah: Menyatakan alam ada dan terjadi dengan sendirinya tanpa pencipta. Dahriyyah: Menganggap alam diatur oleh sifat-sifat alami (Tobi'i) tanpa campur tangan Tuhan. Bantahan logis diberikan dengan prinsip sebab-akibat: segala sesuatu yang terjadi harus punya sebab, sehingga alam tidak mungkin terjadi sendiri tanpa Pencipta. Argumen Keberadaan Tuhan dan Penolakan Dualisme Ketuhanan Alam dan ciptaannya sangat teratur dan kompleks, seperti fungsi gigi dan jari manusia, yang menuntut adanya pencipta dan pengatur yang mahakuasa. Jiwa dan akal manusia yang tak kasat mata menjadi analogi keberadaan Tuhan yang juga tidak terlihat tetapi diyakini dengan bukti nyata dan dampak keberadaannya. Penolakan paham Tuhan ganda (dualisme ketuhanan), khususnya ajaran Majusi: Diajukan argumen logis bahwa dua Tuhan dengan keinginan bertentangan (misal satu ingin bergerak, satu ingin diam) adalah mustahil. Ketika dihadapkan pada skenario tersebut, tiga kemungkinan (kedua Tuhan berhasil, keduanya gagal, salah satu berhasil) semuanya mengandung kontradiksi. Kesimpulannya, hanya satu Tuhan yang mahakuasa. Pemikiran dan Bantahan Terhadap Paham Majusi (Tuhan Ganda) Argumen Logika Penjelasan Dua Tuhan ingin bertentangan Tidak mungkin terjadi realitas yang bertentangan secara simultan (misal bergerak dan diam secara bersamaan). Kedua Tuhan gagal Menyebabkan ketidakmampuan, sehingga keduanya bukan Tuhan sejati. Salah satu Tuhan berhasil Satu Tuhan yang valid, satunya tidak. Selain itu, paham ini dianggap keliru karena mencampuradukkan baik dan buruk sebagai ciptaan Tuhan yang berbeda. Kesimpulan dan Insight Penting Talbis Iblis merupakan jalan pikir yang menyesatkan, membawa manusia kepada keraguan, relativisme, dan penolakan keyakinan mutlak. Sofisme menimbulkan kebingungan yang membuat diskusi tentang kebenaran menjadi mustahil. Logika sebab-akibat dan kompleksitas ciptaan alam menegaskan keberadaan Tuhan Yang Maha Pencipta dan Pengatur. Penolakan terhadap Tuhan tunggal dan absolut ditolak dengan argumen logika dan analogi keseharian. Meskipun ilmu pengetahuan mengungkapkan aturan alam, hal itu tidak meniadakan keberadaan pencipta aturan, malah semakin memperkuat keyakinan tersebut. Dialog dengan penganut relativisme dan ateisme sulit, tapi cerita dan logika sederhana dapat menjadi alat untuk membuka kesadaran dan menghindarkan dari kerancuan. Poin-Poin Penting Talbis iblis = kerancuan dan syubhat yang dibuat iblis untuk menyesatkan manusia. Sofisme terdiri dari tiga mazhab: menolak hakekat, relativisme, dan skeptisisme ekstrem. Ateis dan kelompok penolak Tuhan dibagi menjadi Azariyah dan Dahriyyah. Argumen sebab-akibat merupakan fondasi utama dalam bantahan terhadap atheisme dan naturalisme. Logika dan contoh konkret dipakai untuk menolak konsep Tuhan dua dan relativisme absolut. Keberadaan jiwa dan akal sebagai bukti tidak langsung keberadaan sesuatu yang gaib, juga menunjukkan keberadaan Tuhan. Ilmu dan fisika yang menemukan sunatullah (aturan alam) bukan alasan untuk menolak Tuhan, melainkan justru membuktikan adanya pengatur. Ringkasan ini merefleksikan isi video secara akurat tanpa tambahan spekulasi, menyusun inti pembahasan logis dan terstruktur sesuai sumber

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Materi 2

MATERI 2TALBIS IBLIS Dr. Firanda Andirja, Lc, MASyubhat adalah kerancuan pemikiran yang dilancarkan oleh iblis kepada penganut pemikiran shofisme (filsafat Yunani).-Ibnu Jauzi memulai dari membahas jayanya para filsuf Yunani secara zaman sudah mendahului Yahudi dan Nasarah. Pemikiran para filsuf memasuki agama-agama samawiyah termasuk firqoh-firqoh Islam. Terdapat 3 kelompok:I. SHOFISME-Shofisme adalah orang-orang yang mengingkari hakekat. Shofisme terbagi menjadi 3 mazhab:1. AL 'INADIYAHYaitu orang-orang yang mengatakan bahwa apa yang kita lihat sekarang ini, bisa jadi berbeda dari apa yang kita lihat. Mereka adalah kaum yang terjebak dalam keraguan karena iblis telah memasuki pemikiran mereka. Bantahan Ibnu Jauzi:-Metode diskusi. Berdiskusi dengan mereka dan bertanya, "Keyakinan kalian ini, yaitu mengingkari hakekat, apakah ada hakekatnya?" - menerapkan kaidah mereka kepada mereka. -Jika mereka mengatakan "tidak ada hakekatnya" berarti pendapat mereka juga bathil. -Jika mereka mengatakan "ada hakekatnya", berarti sesungguhnya mereka mempercayai adanya hakekat. -Metode menyampaikan cerita. 2. AL INDIYAHYang mengatakan hakekat itu tidak ada yang absolut, tetapi relatif subjektif. Menurut mereka tidak ada kebenaran/hakekat yang objektif.Bantahan Ibnu Jauzi:Beliau bertanya kepada mereka "keyakinanmu ini apakah pasti benar?", mereka akan menjawab secara subjektif "menurut kami benar, tapi bisa jadi menurut mereka tidak benar". Jika menurut kalian pendapat kalian salah menurut orang lain maka pendapat kalian tidak boleh diyakini. Mereka mengatakan alam selalu mengalami perubahan, sehingga tidak ada sesuatu yang menetap (objeknya selalu berubah). 3. LAA ADRIYATidak mengetahui apakah ada hakekat atau tidakII. ATHEISME Yaitu kelompok yang menolak adanya tuhan. Terdiri dari 2 kelompok:1. Ad DahriyahMengatakan alam terjadi sendiri tanpa ada yang menjadikan.Bantahan Ibnu Jauzi kepada mereka:Namanya akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab karena dalam ilmu dasar, setiap akibat pasti ada sebabnya. Contohnya: jika kita melihat suatu bangunan pasti kita bilang ada yang membangunnya, tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Adanya jiwa akal yang tidak terlihat, tapi kita yakin dalam tubuh ini ada jiwa yang mengaturnya, dan ada akal yang berfikir untuk bertindak. Maka demikian pula, Allah meskipun kita tidak melihatNya, kita meyakini kalau Dia ada, karena sesuatu itu pasti ada yang mengaturnya. 2. At Thoba'iyyunMereka mengatakan alam semesta diatur bukan oleh Tuhan tapi tabi'i (natural). Mereka berusaha berfikir ilmiyah dengan menyatakan ada tabi'at yang mengatur.Bantahan Ibnu Jauzi kepada mereka:Tabi'at tersebut diciptakan oleh Allah. Karena tabi'at tersebut tidak bisa menyatu jika tidak ada yang menentukan. Jika tabi'at itu penentu berarti dia bisa bergerak secara independen, tapi ini tidak. Aturan-aturan fisika yang baku, bisa diteliti dan ditemukan rumusnya menunjukkan bahwa semua ini ada yang mengatur secara luar biasa. Tabi'at tersebut diciptakan oleh Allah.III. AS-SANAWIAH Yaitu kelompok yang mengatakan tuhan itu ada 21. Tuhan ada 2- Tuhan pencipta kebaikan-Tuhan pencipta keburukan2. Majusi-Tuhan api/cahaya pencipta kebaikan-Tuhan kegelapan pencipta keburukanBantahan Ibnu Jauzi kepada mereka:-Logika 2 TuhanJika 2 tuhan tersebut ingin melakukan sesuatu: Tuhan (1) ingin si A bergerakTuhan (2) ingin si A diamMaka ada beberapa kemungkinan:-Keduanya terpenuhi keinginnya: si A bergerak sekaligus diam. Ini adalah kemustahilan karena merupakan 2 hal yang saling bertentangan-Keduanya tidak terpenuhi keinginannya. Karena mustahil melaukan hal yang kontradiktif bersamaan. Ini juga menunjukkan bahwa keduanya tidak pantas menjadi tuhan- Satu terpenuhi keinginannya dan yang lainnya tidak. Maka yang terpenuhi keinginannya yang berhak menjadi TuhanLogika api selalu bermanfaat tidak benar. Karena ada api yang membuat keburukan (kebakaran).

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
M
Meysha Khalisa Humaira

📍 Kota Padang

Talbis Iblis-2

1. Kaum Sufsafah (Sofisme/Suthaiyah)Kaum ini berasal dari filsafat Yunani kuno yang meragukan segala sesuatu dan mengingkari hakikat kebenaran objektif. Pemikiran ini muncul akibat pertikaian para filsuf alam sebelumnya yang saling berdebat tentang asal-usul alam tanpa dalil yang pasti. Suthaiyah terbagi menjadi 3 mazhab, namun yang difokuskan oleh Ibnu Jauzi adalah Al-Inadiyah:Al-Inadiyah: Kelompok yang menentang dan menolak adanya hakikat segala sesuatu. Mereka menganggap apa yang manusia lihat bersifat tidak jelas dan penuh keraguan.Cara Membantah Al-Inadiyah: Para ulama membalikkan argumen mereka dengan bertanya: "Apakah pernyataan kalian yang mengingkari hakikat itu sendiri memiliki hakikat (kebenaran)?" Jika mereka menjawab ada, maka mazhab mereka batal karena mereka mengakui adanya hakikat. Jika menjawab tidak ada, maka ucapan mereka tidak perlu dipercaya.Ibnu Jauzi juga membantahnya melalui kisah seorang sofisme yang kehilangan untanya. Ketika untanya dicuri, orang tersebut sangat yakin dan tidak ragu bahwa ia datang menunggangi unta, yang berarti ia secara tidak sadar telah menetapkan sebuah hakikat.2. Kaum Ateis (Penolak Keberadaan Tuhan)Tipu daya iblis selanjutnya menyasar orang-orang yang mengingkari pencipta, yang dalam bab ini dikelompokkan menjadi dua:Dahriyah: Kelompok yang percaya bahwa alam semesta ini ada begitu saja secara alami tanpa ada Tuhan yang menciptakan.Thaba'iyun: Kelompok yang percaya bahwa alam semesta diatur secara alami oleh hukum tabiat/aturan alam (sunnatullah), bukan oleh Tuhan langsung.Cara Membantah Ateisme:Hukum Sebab-Akibat: Secara logika dasar, akibat tidak mungkin ada tanpa sebab. Jika manusia melihat bangunan yang kokoh, pasti ada pembangunnya. Maka, jagat raya yang luar biasa ini mustahil ada dengan sendirinya tanpa pencipta.Membantah Argumen "Tuhan Tidak Terlihat": Manusia meyakini adanya jiwa dan akal di dalam tubuh mereka karena fungsi dan dampaknya, meskipun bentuk fisiknya tidak terlihat. Begitu pula dengan keberadaan Tuhan; kita bisa meyakini-Nya secara global melalui bukti-bukti keteraturan alam semesta.Membantah Thaba'iyun: Aturan alam yang sangat rapi, baku, dan bisa dirumuskan secara fisika justru menjadi bukti kuat adanya zat cerdas yang merancang aturan tersebut, bukan alasan untuk menolak keberadaan Tuhan.3. Kaum Tsanawiyah (Penganut Dua Tuhan)Kelompok yang tertipu oleh iblis karena menganggap kebaikan dan keburukan di dunia tidak mungkin berasal dari satu pencipta yang sama. Salah satu contohnya adalah kaum Majusi (Zoroaster) yang memercayai adanya Tuhan Cahaya/Api (pencipta kebaikan) dan Tuhan Kegelapan (pencipta keburukan).Cara Membantah Logika Dua Tuhan:Benturan Keinginan: Jika ada dua Tuhan dan masing-masing memiliki keinginan yang bertolak belakang (misal: Tuhan A ingin objek bergerak, Tuhan B ingin objek diam):Jika kedua keinginan terpenuhi, objek akan bergerak sekaligus diam (mustahil/kontradiktif).Jika keduanya gagal, berarti keduanya lemah dan tidak pantas menjadi Tuhan.Jika hanya satu keinginan yang terpenuhi, maka zat yang menang itulah Tuhan yang sebenarnya. Hal ini membuktikan pencipta itu Esa.Kenyataan Alam: Logika Majusi yang menyebut kegelapan mutlak buruk dan cahaya mutlak baik dipatahkan oleh realitas. Kegelapan sering kali bermanfaat (misal: untuk bersembunyi atau beristirahat), sedangkan api/cahaya juga bisa mendatangkan keburukan (misal: kebakaran yang menghancurkan).

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
A
Alfiah fajri

📍 Kota Bogor

Talbis iblis #2 penyesatan dalam aqidah dan agama

Tentang Penyesatan Iblis Dalam Aqidah dan Agama​1) KAUM SUFSUTHAIYYAH​Filsafat Yunani sudah ada sebelum Yahudi dan Nasrani, pengaruhnya melebar hingga masuk ke agama-agama samawiyah.​Diantara ahli filsafat Yunani:Sofisme (Sufsuthaiyyah) = yang mengingkari hakikat.​Awalnya, ulama falasifah mengatakan alam semesta muncul karena tabiat, namun banyak khilaf yang kuat diantara mereka, tidak ada dalil masing-masing karena mereka hanya mengikuti akal saja. Lalu muncullah Sufsuthaiyyah yang mengingkari hakikat.​Ada 3 madzhab Sufsuthaiyyah:​Al-'Inadiyah: Menentang adanya hakikat (penuh dengan keraguan).​Al-'Indiyyah: Kebenaran/hakikat itu tidak ada yang absolut, tetapi relatif subjektif. Tidak ada hakikat yang objektif. Contoh: Madu bagi kamu manis, bagi orang sakit pahit. Apakah keduanya salah? Tidak. Ini madzhab relativism.​Al-La Adriyyah: "Tidak tahu". Apakah hakikat ada atau tidak, saya tidak tahu.​BANTAHAN IBNUL JAUZI TERHADAP SUFSUTHAIYYAH​1. Al-'Inadiyah:​Keyakinan kalian (mengingkari hakikat) apakah ada hakikatnya? Ada 2 kemungkinan:​Jika mereka bilang ada hakikatnya, berarti bathil lah madzhab mereka.​Jika mereka berkata "tidak ada hakikatnya", maka bathil juga madzhab mereka.​Banyak para ulama yang menyerah berdiskusi dengan mereka, karena mereka tidak memiliki pijakan, tidak punya keyakinan. Mereka perlu diperbaiki, karena mereka berada pada khayalan.​Metode cerita:Abu al-Qasim al-Balkhi menceritakan bahwa seorang lelaki dari kaum Sofistik biasa datang kepada salah seorang ahli kalam. Dia berdebat. Ahli kalam menyuruh mengambil kendaraannya. Ketika dia keluar, dia tidak melihatnya, lalu kembali dan berkata: "Kendaraanku dicuri." Si Sofistik berkata: "Celaka kamu! Mungkin kamu tidak datang dengan berkendaraan." Dia berkata: "Tidak, aku datang berkendaraan." Dia berkata: "Pikirkanlah!" Dia berkata: "Ini perkara yang aku yakini." Dia terus berkata: "Ingatlah!" Dia berkata: "Celaka kamu! Ini bukan tempat untuk mengingat. Aku tidak ragu bahwa aku datang dengan berkendaraan." Dia berkata: "Bagaimana kamu mengklaim bahwa tidak ada hakikat bagi sesuatu apa pun dan bahwa keadaan orang yang terjaga seperti keadaan orang tidur?" Maka si Sofistik itu terdiam dan kembali dari madzhabnya.​2. Al-'Indiyyah:​Keyakinanmu ini apakah pasti benar? Mereka akan menjawab, menurut kami benar tapi menurut selain kami tidak benar. Ibnul Jauzi mengatakan, berarti pendapat kalian tertolak karena masih ada sisi kesalahan menurut orang lain.​2) KAUM ATHEIS : YANG MENOLAK ADANYA TUHAN​Ada 2 kelompok:​1. Ad-dahriyah:​"Alam itu ada tanpa ada yang menjadikan" (alam kebetulan)​Bantahan Ibnul Jauzi:​Ilmu dasar: Akibat tidak muncul tanpa sebab. Bahkan seseorang kalau merenungkan tentang dirinya, maka cukup dirinya menjadi dalil bahwasanya Tuhan itu ada, bukan makhluk yang terjadi dengan dirinya sendiri.​Badan kita saja kalau dijelaskan detail tidak cukup dalam buku ini. Lihatlah jari-jari: ukurannya ada yang panjang ada yang pendek tapi ketika dilipat jadi rata.​Secara logika: Jika kita melihat suatu bangunan pasti ada yang membangunnya. Apalagi alam semesta!​2. Thobai'iyyun:​"Alam semesta diatur bukan oleh Tuhan tapi tabi'i (natural). Berusaha ilmiah! Dengan mengatakan ada tabi'at yang mengatur."​Bantahan Ibnul Jauzi:​Tabi'at tersebut tercipta oleh Allah.​Diantara yang menunjukkan bahwasanya tabi'at tidak bisa mengatur adalah dia tidak bereaksi kalau tidak berkumpul, berarti dia memang diatur, bukan secara independen mengatur. Karena dia ikut aturan.​3) ATS-TSANAWIYAH (TUHAN ITU ADA 2)​Tuhan ada 2:​Tuhan pencipta kebaikan​Tuhan pencipta keburukan​Majusi: Tuhan ada 2:​Tuhan api/cahaya: pencipta kebaikan​Tuhan kegelapan: pencipta keburukan​Mereka mengatakan api adalah tuhan karena iblis masuk dalam benak mereka memperlihatkan bahwa api memberi banyak manfaat luar biasa, akhirnya mereka beribadah kepada api tersebut.​BANTAHAN IBNUL JAUZI:​Logika pertama yaitu logika 2 Tuhan:Jika 2 Tuhan tersebut ingin melakukan sesuatu: Tuhan 1 ingin si A bergerak, Tuhan 2 ingin si A diam. Maka ada beberapa kemungkinan:​Keduanya terpenuhi keinginannya yaitu si A bergerak sekaligus diam = mustahil.​Keduanya tidak terpenuhi keinginannya yaitu tuhan pertama ingin si A bergerak ternyata si A tidak bergerak dan tuhan kedua ingin si A tidak bergerak tapi si A bergerak = mustahil dan keduanya tidak pantas jadi Tuhan.​Salah satunya terpenuhi keinginannya dan yang lainnya tidak, maka yang terpenuhi keinginannya itulah yang berhak jadi tuhan.​Logika ke-2:Taruhlah tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan (menurut keyakinan majusi). Kata Ibnul Jauzi: "Bukankah gelap sering bermanfaat, ketika ada seorang yg ingin dibunuh dia bisa bersembunyi dalam kegelapan?"Kata mereka juga api itu selalu bermanfaat juga tidak benar, bukankah api banyak yang tidak bermanfaat (membakar, menghancurkan) = menyelisihi kenyataan yang ada.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
A
Anna setyaningsih

📍 Kota Bekasi

Ringkasan Talbis Ilblis Bab 2

TALBIS IBLIS PADA PENGANUT AKIDAH DAN AGAMA YANG MENYIMPANGImam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan berbagai bentuk talbis (tipu daya) dan syubhat (kerancuan pemikiran) yang disebarkan iblis kepada manusia dalam masalah akidah dan agama. Di antara kelompok yang terkena tipu daya iblis adalah para pengikut pemikiran filsafat dan keyakinan yang menyimpang dari kebenaran.A. Madzhab Sofisme (Sufasthaiyyah)Sufasthaiyyah berasal dari istilah Yunani "Sofisme", yaitu pemikiran yang meragukan segala sesuatu. Mereka mengingkari atau meragukan adanya hakikat dan kebenaran.Kelompok ini terbagi menjadi tiga golongan:1. Al-'InadiyyahMereka mengingkari adanya hakikat secara mutlak. Menurut mereka, tidak ada sesuatu yang dapat dipastikan kebenarannya.2. Al-'IndiyyahMereka berpendapat bahwa semua kebenaran bersifat relatif dan subjektif. Tidak ada kebenaran yang mutlak. Apa yang benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain.3. Al-AdriyyahMereka tidak dapat memastikan apakah hakikat itu ada atau tidak ada. Mereka hidup dalam kebingungan dan keraguan.Talbis Iblis terhadap Al-'InadiyyahIblis telah menanamkan keraguan dalam hati mereka sehingga mereka menolak adanya hakikat. Mereka tenggelam dalam kebimbangan hingga mengingkari sesuatu yang sebenarnya nyata.Cara Membantah MerekaPertama, tanyakan kepada mereka:"Apakah pernyataan bahwa tidak ada hakikat itu merupakan hakikat?"Jika mereka menjawab:"Ya, itu adalah hakikat." Maka mereka telah mengakui adanya hakikat sehingga pendapat mereka batal."Tidak." Maka ucapan mereka sendiri tidak memiliki nilai kebenaran sehingga pendapat mereka juga batal.Kedua, bantahan melalui realita kehidupan.Pada kenyataannya mereka tetap mengakui adanya hakikat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka makan ketika lapar, minum ketika haus, dan menghindari bahaya. Ini menunjukkan bahwa mereka tetap mengakui kenyataan meskipun secara teori mengingkarinya.Sebagian dari mereka bahkan terjebak dalam khayalan dan keraguan yang berlebihan. Mereka mempertanyakan apakah apa yang dilihat benar-benar nyata atau hanya ilusi semata.Talbis Iblis terhadap Al-'IndiyyahKelompok ini meyakini bahwa seluruh kebenaran bersifat subjektif dan relatif.Mereka mengatakan bahwa dua pendapat yang berbeda dapat sama-sama benar.Contohnya mereka berkata:"Madu terasa manis bagi orang sehat, tetapi terasa pahit bagi orang yang sakit. Maka keduanya benar."Dari sini mereka menyimpulkan bahwa kebenaran tidak bersifat mutlak.Bantahan Ibnu JauziIbnu Jauzi bertanya:"Apakah keyakinanmu ini pasti benar?"Mereka menjawab:"Menurut kami benar, tetapi mungkin menurut orang lain salah."Maka Ibnu Jauzi menyatakan bahwa pendapat mereka tertolak. Sebab jika mereka mengakui kemungkinan pendapat mereka salah, berarti mereka tidak memiliki dasar yang kuat untuk menetapkan bahwa semua kebenaran adalah relatif.B. Kelompok AteismeKelompok ini menolak adanya Tuhan dan menganggap alam semesta tidak memiliki pencipta.1. Ad-DahriyyahMereka berpendapat bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.2. Ath-Thaba'iyyunMereka meyakini bahwa alam semesta terbentuk karena tabiat atau hukum alam, bukan karena Allah sebagai pencipta.Bantahan Ibnu Jauzi1. Setiap Akibat Memiliki SebabTidak mungkin ada akibat tanpa sebab.Sebagaimana bangunan menunjukkan adanya pembangun, maka alam semesta yang sangat besar dan teratur menunjukkan adanya Pencipta yang menciptakannya.2. Keteraturan Alam Menunjukkan Adanya PenciptaHukum alam dan tabiat bukanlah pencipta. Tabiat hanyalah aturan yang Allah ciptakan.Justru keteraturan alam menjadi bukti adanya Allah sebagai Pencipta, bukan bukti bahwa alam terjadi dengan sendirinya.C. Kelompok Tsanawiyyah (Majusi)Kelompok ini meyakini adanya dua tuhan:Tuhan kebaikan atau cahaya.Tuhan keburukan atau kegelapan.Menurut mereka, kedua tuhan tersebut bersama-sama mengatur alam semesta.Bantahan Ibnu JauziApabila terdapat dua tuhan yang memiliki kehendak berbeda, maka akan terjadi pertentangan dan kekacauan dalam pengaturan alam semesta.Selain itu, anggapan bahwa cahaya selalu baik dan kegelapan selalu buruk juga tidak benar secara mutlak.Cahaya maupun kegelapan memiliki manfaat dan mudarat sesuai dengan keadaan dan penggunaannya masing-masing.KesimpulanImam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa berbagai penyimpangan pemikiran seperti pengingkaran terhadap hakikat, relativisme kebenaran, penolakan terhadap keberadaan Allah, dan keyakinan adanya lebih dari satu tuhan merupakan bentuk talbis iblis terhadap manusia.Iblis berusaha menanamkan keraguan dan syubhat agar manusia jauh dari kebenaran. Oleh karena itu, seorang muslim harus berpegang teguh kepada Al-Qur'an, As-Sunnah, dan pemahaman para ulama yang lurus agar tidak terjerumus ke dalam tipu daya iblis dan penyimpangan akidah.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
S
Sortha Nauli

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Catatan Kajian TAlBIS IBLIS # 2

TALBIS IBLIS bag.2TALBIS IBLIS kpd Penganut penganut aqidah aqidah dan agama agama yang menyimpang.Al Imam Jauzi Rahimullahuta'ala, membuka dg pembahasan tentang syubhat kerancuan pemikiran yg dilancarkan oleh iblis kpd penganut pemikiran shofisme.Diantara ahli filsafat yunani yaitu aliran shofisme,mereka adl org2 yg mencari hakekat. Sebenarnya mereka adl pengingkar hakekat. Mereka ini ada 3 mahzab :Al inadiyah, benar2 mengingkari, menentang adanya hakekat. Apa yg dilihat org2 skrg ini bs jadi berbeda dg apa yg kita lihat. Tidak jelas tidak ada hakekat,mereka suka terjebak dlm keraguan, suka meragukan semua hal. Iblis telah masuk dlm pikiran mereka sehingga mereka menolak adanya hakikat. Bantahan Ibnu Jauzi thd mahzab ini diantara nya, keyakinan kalian ini yaitu mengingkari hakekat,apakah ada hakekatnya, ada atau tdk. Ada 2 kemungkinan jawabannya, jika ada hakekatnya, berarti bathil lah mahzab mereka. Dan apabila mereka berkata, tdk ada hakekatnya, maka bathil pula pemahaman mereka. Al indiyah, perkataan mereka bahwa kebenaran itu relatif subjectives/hakekat itu tdk ada yg absolut, tdk ada kebenaran hakekat yg objectif. Bantahan Ibnu Jauzi : 1.keyakinan mu ini apakah pasti benar?mereka menjawab dg subyektif menurut mereka benar,tp bs jadi menurut selain kami tidak benar. Jika seperti itu brarti apabila di luar kalian menganggap satu hal tdk benar, maka kemungkinan besar psti tidak benar,maka jgn diyakini. Kel.a Dahriyah, kelompok yg menolak ada nya Tuhan spt kaum atheis. mereka mengatakan alam terjadi sendiri tanpa ada yg menjadikan. Kel at thoba iyun,yaitu kelompok yg mengatakan alam semesta diatur bukan oleh tuhan tetapi secara natural. Adapun bantahan dari Ibnu Jauzi, akibat tdk mungkin muncul tanpa sebab. Ada hukum sebab akibat. Logika sederhana,jika kita melihat suatu bangunan pasti kita bilang ada yg membangun,tdk mngkin dg sendiri nya. Bagaimana dg langit، bumi dan seisinya jagat raya dg bintang2,rembulan dan matahari dg aturan nya,tdk mngkin terjadi dg sendiri nya. Kemudian beliau membantah A Dahriyah, tentang bahwasanya Allah tidak kelihatan/tidak ada. Beliau sebutkan dg contoh dg logika di manusia ada jiwa dan akal yg tdk terlihat.tp kita yakin ada yg mengaturnya meski tidak melihatnya, ini menunjukan adanya Allah walo tidak terlihat. Sdgkan at thobiyun mereka sangat ilmiah,bahwa alam semesta kembali kdp unsur2 natural spt air api tanah. Bantahan terhadp at thobiun, bahwa aturan tsb tercipta oleh Allah, bahwa sesuatu tdk akan terjadi bila tdk terkumpul. Nama nya tabiat2 ini tdk akan bereaksi bila tdk dikumpulkan,maka akan muncul reaksi, reaksi yg muncul menyelisihi sifat awal tsb dn hal ini menunjukan bahwasa ny dia diatur bukan mengatur.A la adria, abstain/tidak tahu.apakah ada atau tdk ada hakekat, saya tdk tau.Ibnu Jauzi hanya membahas mahzab 1 dan 2. Sedangkan mahzab yang 3 tdk dibahas.Kemudian kelompok yg di bantah, ada namanya Tsanawiyah, yaitu mengatakan Tuhan ada 2 dan Tuhan Majusi 2.Tuhan ada 2 mengatakan kalau ada tuhan yg menciptakan kebaikan dan tuhan pencipta keburukan. Dan Tuhan Majusi 2 mengatakan Tuhan api/cahaya pencipta dan Tuhan kegelapan pencipta keburukanDiantara bantahan thd mereka, Ibnu Jauzi membantah : Logika 2 Tuhan, jika 2 Tuhan tsb ingin melakukan sesuatu, misalnya Tuhan no 1 ingin A bergerak, sementara Tuha 2 ingin A diam,apa yg terjadi,maka ada beberapa kemungkinan, yaitu kedua nya terpenuhi keinginan nya. Yaitu si A bergerak sekaligus diam,tp ini hal yg mustahil karena saling bertentangan. Kemudian yg ke 2, keduanya tdk terpenuhi keinginannya, keinginan Tuhan 1, tp si A tdk bergerak, kemudian keinginan tuhan 2, tp si A malah bergerak,hal ini juga mustahil karena kontradiktif. Kemungkinan yg ke 3, salah satunya terpenuhi keinginan nya dan yg lainnya tidak,maka tuhan yg terpenuhi keinginan nya itulah yg berhak menjadi tuhan. Kembali logika menunjukan kl Tuhan cm satu.Kemudian, logika ke 2,Ibnu Jauzi mengatakan,taruhlah tuhan gelap selalu menciptakan keburukan menurut keyakinan majusi. Kata Ibnu Jauzi, bukankah gelap itu sering bermanfaat. Dsn logika mereka itu tdk benar karena banyak juga kegelapan yg bermanfaat. Dan logika mereka yg mengatakan bahwa cahaya api itu sll bermanfaat, itu jg tdk benar,bukankah banyk api yg mempunyai keburukan pula.Dan iblis masuk pada hal ini,maka nya majusi menyebah api.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →