📝 Talbis Iblis #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Talbis Iblis #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
D
Dewi Murthy Sari

📍 Kota Samarinda

Talbis Iblis #3 Talbis Iblis terhadap Filsuf Yunani dan penyembah berhala

(Ustadz Firanda Andirja – Kitab Talbis Iblis karya Ibn al-Jawzi)Materi ini membahas bagaimana iblis menyesatkan manusia melalui pemikiran filsafat dan kesyirikan, dengan membuat kebatilan tampak seperti kebenaran.Falasifah: seperti Socrates, Aristoteles, plato, dll adalah orang2 yang sangat cerdas. Pemikirannya banyak membuat orang2 kagum. Yang jadi masalah adalah ketika mereka berbicara tentang ketuhanan. Mereka menolak seruan para Nabi. Menolak dalil yang datang tentang penciptaan dan ketuhanan.Akidah falasifah Yunani ada 3 mahzab1.Dahriyah : pencipta itu tidak adaAlam tercipta dari seban pertama (kausa pertama). Munculnya alam adalah konsekuensi dari sebab bukan dari kehendak. Konsekuensi dari pemikiran mereka adalah alam itu Azali, alam itu abadi.Pencipta itu ada, dalihnya, mereka melihat dari tidak ada menjadi ada, khilafnya Peratama: Alam sudah sempurna, Allah sudah bunuh diri, krna tidak tampak ketika dipanggil. Kedua: Makhluk terlalu hebat, allah hanya penonton. Ketiga: Tuhan menyebar dirinya keseluruh alam.1. Tipuan Iblis kepada Filsuf YunaniSebagian filsuf lebih mengutamakan akal daripada wahyu.Mereka berusaha memahami segala sesuatu hanya dengan logika manusia yang terbatas.Akibatnya, banyak yang menyimpang dalam pembahasan tentang Tuhan, alam semesta, dan kehidupan setelah mati.Iblis menghiasi pemikiran mereka sehingga merasa cukup dengan akal dan tidak membutuhkan petunjuk para nabi.Falasifah Yunani mengatakan bahwasanya pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya. Syubhatnya: Tuhan maha sempurna dan tidak boleh mikir, kecuali yg sempurna pula, yaitu dirinya semata.Logika ini mempengaruhi Ibnu Sina: Allah mengetahui makhluk2nya secara Kulliy (global) tidak terperinci.Syubhatnya: Makhluk itu berubah ubah dan ada yg buruk, tidak pantas Allah memikirkan ini semua.Atas pemikiran inilah Ibnu Sina dikafirkan oleh Al Ghazali.Muktazillah, Ilmu Allah dan Qudrah Allah adalah DzatNya sendiri.Akidah Falasifah tentang hari kebangkitan1.Mereka mengingkari kebangkitan jasad, dan mengingkari dikembalikannya ruh ke jasad. Mereka mengingkari surga dan neraka.Ibnu Sina terpengaruh: tidak ada kebangkitan jasad, yang ada hanya ruh.2. Talbis iblis terhadap orang2 yang menyembah haikal-haikal. Maksudnya: sekelompok manusua yang meyakini bahwa benda2 langit ada ruhnya yang mempengaruhi keadaan bumi, sehingga akhirnya mereka mengagungkan benda2 langit tersebut.Bahaya Mendahulukan Akal di atas Wahyu: Akal adalah nikmat dari Allah, tetapi memiliki keterbatasan.Jika akal dijadikan hakim atas wahyu, seseorang bisa menolak kebenaran yang tidak sesuai dengan logikanya.Kebenaran sejati adalah ketika akal yang sehat tunduk kepada wahyu yang benar3. Talbis Iblis kepada Penyembah BerhalaAwalnya manusia tidak langsung menyembah patung.Iblis mengajak mereka untuk mengagungkan orang-orang saleh dengan membuat gambar atau patung sebagai pengingat.Generasi berikutnya kemudian berlebihan dalam pengagungan hingga akhirnya menyembah patung tersebut.Kesyirikan besar sering berawal dari ghuluw (berlebihan dalam memuliakan seseorang).

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
E
Ellisa Septiana

📍 Kota Depok

Talbis iblis #3 : Tablis Iblis terhadap Filsuf Yunani & Penyembah Berhala

Talbis iblis #3 : Tablis Iblis terhadap Filsuf Yunani & Penyembah Berhala -Ustadz dr.Firanda-Konteks Kajian dan Bab 5 Talbis Iblis• Kajian ini melanjutkan topik tentang penyimpangan aqidah oleh kelompok-kelompok tertentu.• Bab kelima membahas tipuan iblis terhadap kaum falasifah (ahli filsafat), khususnya yang berasal dari pengaruh Yunani dan Tabi’in.• Ibnul Jauzi mengurai bagaimana iblis masuk ke pemikiran mereka hingga menyebabkan kesesatan dalam memahami Tuhan dan realitas ghaib.Profil Umum Kaum Falasifah• Tokoh utama: Socrates, Plato, Aristoteles, dan lainnya, adalah orang sangat pintar, menulis tentang biologi, kimia, dan fisika dengan pemikiran tinggi.• Karya-karya mereka diterjemahkan ke bahasa Arab pada masa Khalifah al-Ma’mun, sehingga kaum muslimin terpesona akan capaian ilmiah mereka.• Namun, permasalahan muncul saat mereka membicarakan teologi dan Ketuhanan, mengandalkan akal dan logika saja tanpa memperhatikan wahyu dan nabi.Keterbatasan Akal dalam Teologi• Falasifah cenderung berpikir secara independen tentang Tuhan, tanpa petunjuk kenabian.• Akibatnya, mereka ngawur saat berbicara tentang sifat-sifat Tuhan dan proses penciptaan karena akal manusia hanya mampu memahami hal-hal yang bersifat hina (hissiyah) yang nampak, bukan hal ghaib.• Mereka hanya menggunakan dugaan (dzunnun) tanpa dasar yang kuat.Persangkaan Tanpa Landasan yang Jelas• Ibnul Jauzi menyebut kaum falasifah berbicara tentang teologi semata-mata dari persangkaan dan tanpa landasan yang valid.• Mereka tidak merujuk kepada wahyu, hanya berdialog dan berdebat berdasarkan akal saja.• Ketidaktahuan ini menyebabkan mereka bertentangan dan menghasilkan berbagai pendapat yang saling berselisih.Pendapat Falasifah dalam Ilmu Hissiyah dan Ketuhanan• Dalam ilmu-ilmu dunia (biologi, kimia, fisika) mereka relatif sepakat dan cerdas.• Namun saat masuk ke pembahasan tentang Ketuhanan, mereka kehilangan pijakan ilmiah dan logika yang benar.• Contohnya dalam pembahasan "ruh" yang tidak dapat dijelaskan berdasarkan unsur materi yang dikenal, sehingga pendapat mereka beragam dan tidak pasti.Keterbatasan Ilmu Manusia dan Keghaiban Jin• Falasifah tidak bisa menjelaskan fenomena gaib seperti jin, roh, dan sebagainya secara ilmiah.• Fenomena jin yang dapat menjelma, berbicara, atau masuk ke tubuh manusia tidak dapat dijelaskan oleh logika dan ilmu mereka.• Ini adalah contoh batas kemampuan akal dan ilmu manusia yang menyebabkan kekeliruan mereka dalam memahami realitas gaib dan Tuhan.Tiga Pendapat Besar dalam Filsafat Yunani tentang Tuhan dan Alam Semesta1. Tidak Ada Tuhan :  Alam ini ada tanpa pencipta,  Menolak keberadaan Tuhan2. Causa Prima (Sebap Utama) : Ada sebab utama yang disebut causa prima yang menyebabkan alam ada, tapi bukan Tuhan sejati. Causa prima dianggap eksis sejak azali bersamaan dengan alam semesta, bukan pencipta mutlak3. Tuhan Ada Tapi Tak Aktif : Tuhan ada sebagai pencipta, tapi tidak berkehendak dan tidak mengatur alam. Tuhan pasif, tunduk pada logika sebab akibat• Mereka menolak konsep penciptaan dunia dari ketiadaan (creatio ex nihilo).• Causa prima dianggap sebagai sebab pertama yang ada secara azali bersamaan dengan alam.Konsep Causa Prima dan Kekeliruan Logika Sebab-Akibat• Falasifah mengatakan sebab dan akibat bersamaan karena sebab sempurna (causa prima) tidak mungkin terlambat menyebabkan akibat.• Ibnul Jauzi menolak ini dengan membandingkan dengan ajaran Islam:Artinya, Tuhan menciptakan dengan kehendak langsung, bukan konsekuensi logis semata.Alam Semesta sebagai Konsekuensi, Bukan Kehendak• Falasifah menganggap alam muncul sebagai efek logis dari kesempurnaan causa prima bukan kehendak.• Mereka menegaskan bahwa Tuhan (atau causa prima) tidak punya kehendak aktif dalam menciptakan.• Ibnul Jauzi menyatakan ini bertentangan dengan aqidah Islam yang percaya bahwa pencipta adalah Maha Berkehendak dan Maha Kuasa.Dampak Filsafat Yunani pada Pemikiran Islam dan Kelompak Firqoh• Pemikiran falasifah memengaruhi berbagai kelompok seperti Jahmiyah, Mu'tazilah, dan lain-lain dalam mengembangkan spekulasi tentang Tuhan, ilmu, dan sifat-sifat ketuhanan.• Ini mengakibatkan adanya perdebatan dan kesesatan aqidah terkait ilmu dan sifat Tuhan.Tiga Pendapat Falasifah tentang Tuhan Menurut Ibnul Jauzi1. Tuhan bunuh diri : Tuhan menciptakan alam lalu menghilang karena takut kepada perubahan2 Tuhan lemah : Tuhan mencipta tapi tidak mampu mengatur karena kesempurnaan ciptaan muncul masalah3 Tuhan menyebar ke seluruh alam (pantheisme) : Tuhan menyatu dengan ciptaan, tidak terpisah• Semua pendapat adalah kesesatan dan tipuan iblis dalam logika falasifah.Falasifah dan Ketidaktahuan Tuhan terhadap Ciptaannya• Aristoteles dan sejumlah falasifah berpendapat Tuhan tidak berilmu tentang ciptaan, hanya berilmu akan dirinya sendiri.• Ibnul Jauzi mengkritik ini sebagai logika yang ngawur karena bertentangan dengan keyakinan Islam:Allah mengetahui segala makhluk-Nya bahkan rincian terkecil.• Keyakinan mereka menyiratkan Tuhan sempurna tapi tidak tahu urusan ciptaan—ini sesat.Pengaruh Filosofi Yunani terhadap Ibnu Sina dan Mu'tazilah• Ibnu Sina menerima sebagian logic Yunani, seperti Tuhan hanya mengetahui makhluk secara global, bukan rinci.• Ini bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan Allah Maha Mengetahui segala hal secara rinci.• Mu'tazilah juga terpengaruh ide filsafat, seperti ilmu dan zat Allah dianggap satu hakikat yang membingungkan.Penolakan Kebangkitan Jasmani oleh Falasifah dan Ibnu Sina• Falasifah menolak kebangkitan jasad dan mengenalkan doktrin ruh saja yang hidup setelah mati.• Mereka beralasan secara logika sulit menerima kebangkitan jasad setelah anggota tubuh terurai disalurkan ke makhluk lain.• Ibnu Sina juga mengadopsi pandangan ini, yang bertentangan dengan Islam yang meyakini kebangkitan jasmani pada Hari Kiamat.Pembahasan Talbis Iblis terhadap Penyembah Haikal (Benda Langit)• Ibnul Jauzi menyebut kelompok yang meyakini bahwa planet-planet dan benda langit memiliki ruh dan hidup.• Mereka percaya benda langit mempengaruhi kejadian di bumi dan mempersembahkan penghormatan dalam bentuk patung atau bangunan sebagai 'perwakilan'.• Praktik ini disertai upacara kurban untuk menghilangkan malapetaka yang mereka yakini berasal dari planet-planet tertentu.Tipuan Iblis terhadap Penyembah Berhala• Iblis memanfaatkan kecintaan manusia terhadap bentuk dan rupa untuk memalingkan akal mereka.• Orang-orang dibujuk untuk menyembah patung dengan dalih agar lebih dekat kepada Allah, padahal itu bentuk syirik.• Sejarah penyembahan berhala bermula dari penghormatan kepada orang shaleh dengan membuat patung sebagai peringatan.• Lama-kelamaan, muncul penyembahan terhadap berhala itu sendiri disebabkan lupa tauhid dan bisikan setan.Penyebaran Penyembahan Berhala di Jazirah Arab• Penyembahan berhala menyebar hingga ke Mekah, diperkenalkan oleh tokoh seperti Amr bin Nufail al-Khuza’i dari bani Khuza’ah.• Setiap kabilah punya berhala mereka sendiri yang disembah.• Contoh berhala terkenal adalah Hubal di Ka'bah, dan berhala lainnya seperti Isaf dan Naila dari Yaman yang memiliki kisah mitos.• Berhala-berhala ini digunakan untuk ritual pengundian nasib dan berbagai praktik syirik.Kritik terhadap Penyembahan Berhala• Ibnul Jauzi menegaskan betapa tidak masuk akalnya menyembah berhala yang tidak punya kemampuan apapun seperti berjalan, melihat, atau mendengar, sementara manusia sendiri yang membuatnya.• Ia menyamakan orang yang menyembah berhala seperti orang yang menyembah ciptaan, bukan pencipta.• Teguran ini merujuk pada firman Allah dalam Surat Ar-Rum yang mengingatkan tentang kealpaan orang kafir dalam soal keyakinan akhirat dan taubat.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
F
fitria bunga yunita

📍 Kota Bogor

Talbis Iblis 3: Talbis Iblis Terhadap Filsif Yunani & Penyembah Berhala

Talbis Iblis 3: Talbis Iblis Terhadap Filsuf Yunani & Penyembah BerhalaKajian Ustaz Dr. Firanda Andirja yang membahas kitab Talbis Iblis karya Imam Ibnul Jauzi pada episode 3 ini secara umum menguraikan bagaimana iblis memperdaya manusia melalui tipu daya pemikiran, khususnya terhadap kaum filsuf Yunani dan para penyembah berhala. Ustaz Firanda menjelaskan bahwa para filsuf besar seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles terjebak dalam perangkap iblis karena terlalu mendewakan kecerdasan otak mereka sendiri. Ketika membahas ilmu ketuhanan (teologi) tanpa bimbingan wahyu nabi, pemikiran mereka menjadi liar dan melantur. Muncul berbagai mazhab keliru di kalangan mereka, mulai dari paham Dahriyah yang ateis, konsep Causa Prima yang menganggap alam semesta ini kekal (azali) bersama penciptanya, hingga anggapan konyol bahwa Tuhan telah "bunuh diri" atau sekadar menonton makhluk-Nya. Pemikiran filsafat Yunani ini terbukti turut memengaruhi tokoh-tokoh Muslim di kemudian hari seperti Ibnu Sina, yang akhirnya terjerumus dalam keyakinan keliru bahwa Allah tidak mengetahui makhluk-Nya secara terperinci serta mengingkari adanya kebangkitan jasad di akhirat.Selain menyasar para filsuf, iblis juga melancarkan tipu dayanya kepada Ashabul Haikal atau para penyembah benda-benda langit. Mereka diyakinkan oleh iblis bahwa planet dan bintang memiliki ruh yang mengendalikan peristiwa di bumi, sehingga mereka terdorong membuat replika patung di bumi (haikal) untuk disembah, bahkan sampai tega menumbalkan anak-anak kecil yang suci demi ritual tersebut.. Ustaz Firanda memaparkan bahwa penyembahan patung pertama kali terjadi pada zaman kaum Nabi Nuh, di mana iblis memanipulasi niat generasi penerus yang awalnya hanya ingin mengenang orang-orang saleh menjadi perilaku syirik. Praktik ini terus berkembang hingga menyebar ke Jazirah Arab melalui tokoh bernama Amr bin Luhay al-Khuza'i. Fenomena penyembahan ini melahirkan berhala-berhala terkenal seperti Hubal, Latta, Uzza, serta Isaf dan Naila—sepasang kekasih yang dikutuk menjadi batu akibat berzina di dalam Ka'bah namun akhirnya malah disembah oleh masyarakat yang akalnya telah dibutakan oleh iblis. Alasan para penyembah berhala (yang diabadikan dalam Al-Qur'an) adalah mereka tidak menyembah patung tersebut secara zatnya, melainkan hanya menjadikannya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
I
Intan Kartika

📍 Kota Cilegon

Ustadz Dr. Firanda andirja M. A -- Filsuf yunani dan Penyembah berhala-- Talbis Iblis #3

Filsuf yunani memiliki kecerdasan yang luar biasa, mereka orang2 yang sangat cerdas dan mereka menulis tentang hal2 yang nampak, seperti biologi, kimia dan fisika yang bahkan kaum muslimin blm pernah membicarakan tentang dunia. tetapi menjadi masalah ketika mereka membicarakan tentang teologi, yaitu tentang ketuhanan. sedangkan mereka berpangku kepada kecerdasan otak mereka. dan mereka tidak menyambut sinar keNabian serta mereka tidak memiliki landasan tentang teologi. aqidah filsafah trntang oencipta. ada bbrp madzhab, 1. dahriah (pencipta itu tdk ada)2. alam ini tercipta dari sebab pertama (klausa prima), seakan2 berfungsi sebagai sebab penciptaan. Kausa prima tersebut azali bersama alam, karena sebab tersebut semourna sehingga akibatnya tidak boleh terlambat, harus bersamaan dengan sebab. dan munculnya akibat (alam) dr sebab adalah konsekuensi . 3. pencipta itu ada. dalil nya karena kami melihat alam ini muhdats (dari tidak ada, menjdi ada) khilaf tentang hakikat pencipta1. alam sudah sempurna lalu tuhan bunuh diri2. mahkluk terlalu hebat dan tuhan terlalu lemah3. tuhan menyebarkan dirinya keseluruh dunia. falasiyah yunani pencipta tidak berilmu, hanya diri nya. aqidah falasiyahtentang hati kebangkitan, mereka mengingkari jasad dan mengingkari di kembalikan ruh ke jsad. dan percaya bahwa surga dan neraka tidak ada. lalu berkembang nya oenyembah berhala. iblis msuk dalam pemikiran filsafat karena memikirkan tuhan tanpa ada nya petunjuk dr keNabian.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
S
Sylvia Eka Putri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Tablis iblis terhadap filsuf yunani penyembah berhala

Talbis iblis#3Talbis iblis terhadap filsuf Yunani dan penyembah berhalaFalasifah yunani terkenal pintar di bidang biologi,kimia,dan fisika seperti socrates,plato,aristoteles.mereka berbicara ttg ketuhanan berpangku pada kecerdasan dan tidak menerima penjelasan kenabian yang memikirkan tuhan secara merdeka dan prasangkaan tanpa ada landasan sehingga banyak perbedaan pendapat diantara mereka.Aqidah falasifah tentang TuhanAda beberapa mahzab diantara mereka1.Ad Dahriyah yaitu alam terjadi begitu saja tanpa ada pencipta2.Alam tercipta dari “al ilah” yaitu @ kausa prima seakan akan berfungsi sebagai sebab penciptaan.kausa prima tersebut datang bersamaan dgn alam karena sebab tsb sempurna sehingga akibatnya harusnya bersamaan @munculnya alam (akibat) dari sebab adalah konsekwensi dari sebab bukan kehendal kausa prima =) konsekwensinya alam azali,alam abadi3.pencipta itu ada karena mereka melihat alam muhdats (dari tidak ada menjadi ada) Mereka khilaf ttg hakekat pencipta yaitu_ pencipta bunuh diri ketika alam sudah sempurna_ Tuhan itu lemah jadi hanya penonton_ Tuhan menyebar keseluruh alamIbnu Al Jauzy jg menyebutkan ttg ilmu tuhan1.falasifah yunani mereka mengatakan pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya logikanya Tuhan maha sempurna dan hanya memikirkan dirinya saja yang terpengaruh*.Ibnu Sina menurutnya Allah mengetahui makhlukNya secara global,makhluk berubah2 maka Allah tidak pantas memikirkan ini.*.Muktazilah yaitu ilmu dan kudrah Allah adalah zatnya sendiri.Aqidah falasifah tentang hari kebangkitanmereka mengingkari kebangkitan jasad dan dikembalikannya ruh kejasad sehingga mereka mengatakan syurga dan neraka tidak adaMereka juga mengatakan benda benda langit menyerupai makhluk lalu mereka membuat benda2 dibumi utk mereka sembah dan menyediakan qurban kepada benda tertentu.Talbis iblis terhadap penyembah berhalaIblis membuang akal dan hanya melihat dari keindahan pantung untuk disembah dan menganggap ii yg akan mendekatkan diri kepada AllahSeperti kisah nabi NuhOrang soleh ketika meninggal dibuatkan patung utk mengenang kebaikan mereka,Berjalannya waktu ilmu sudah dilupakan syetan mengatakan bahwa patung ini disembah untuk mendekatkan diri kepada AllahDibawa ke jazirah arab pertama oleh Amr bin Luhay al khuzai seorang pemimpin bani KhusaahJadi berhala yang paling terkenal di Arab Jahiliyah adalah:
Hubal, Al-Lāt, Al-‘Uzzā, Manāt, Wadd, Suwā’, Yaghūts, Ya’ūq, dan Nasr.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
A
Alfiah fajri

📍 Kota Bogor

Talbis iblis #3

Talbis Iblis Terhadap Para Filsuf Yunani​1. Pengantar & Cara Iblis Menyesatkan​Metode Penyesatan: Iblis menyesatkan para filsuf dengan cara memasukkan keraguan ke dalam akal dan logika mereka.​Dampak: Mereka mulai berbicara dan berteori tentang Tuhan tanpa landasan wahyu, melainkan hanya berpijak pada zhun (prasangka/asumsi) dan logika yang keliru.​Hasil Akhir: Melahirkan akidah dan keyakinan yang menyimpang dari kebenaran.​2. Ringkasan Pembahasan Utama​Kecerdasan Duniawi: Para filsuf Yunani diakui sangat cerdas dalam ilmu hisiyyah (ilmu sains empiris seperti biologi, kimia, fisika, dll).​Titik Lemah: Namun, ketika mulai berbicara tentang ketuhanan (metafisika), mereka menolak wahyu dan hanya mengandalkan kemampuan akal semata.​Konsekuensi: Tanpa adanya bimbingan wahyu, argumen mereka hanya berputar pada dugaan dan prasangka, yang akhirnya memicu perselisihan besar dalam masalah akidah.​3. Dua Aliran Akidah Filsuf Yunani yang Menyimpang​Golongan Dahriyah: Kelompok yang menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada dan alam semesta ini terjadi begitu saja (secara kebetulan/proses alamiah murni).​Golongan Kausa Prima (Sebab Pertama): Kelompok yang berpendapat bahwa alam ini bersifat azali (tanpa awal) bersama dengan adanya kausa prima yang sangat sempurna dan statis.​Logika Keliru: Mereka percaya bahwa alam (akibat) muncul bersamaan dengan Tuhan (sebab) secara otomatis sebagai konsekuensi dari kesempurnaan-Nya, bukan karena kehendak atau kemauan Tuhan.​Catatan Kritis: Menganggap ciptaan sebagai "konsekuensi otomatis" dan bukan karena "kehendak Tuhan" adalah sebuah logika rusak yang menyesatkan.​4. Landasan Al-Qur'an & Pesan Penting​Dalil Pembatas Akal: QS. Al-Isra' ayat 85: ​"Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.'"​"Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.'"​Kesimpulan Utama: Ilmu manusia itu sangat terbatas, dan wahyu adalah satu-satunya kunci keselamatan akidah.​Nasihat Akhir: "Berpeganglah kepada wahyu, selamatkan akidah, selamatkan dirimu."​Sumber Materi: Kitab Talbis Iblis karya Ibnu Jauzi Al-Hambali​Pemateri: Ustadz Firanda Andirja (Kajian Islam)

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
N
Nadya Nandadita Islamina

📍 Kota Bandung

Ringkasan Kajian Talbis Iblis #3

kajian "Talbis Iblis #3 : Talbis Iblis Terhadap Filsuf Yunani & Penyembah Berhala" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Kajian ini melanjutkan pembahasan Bab ke-5 dari Kitab Talbis Iblis karya Imam Ibnul Jauzi, khususnya mengenai bagaimana iblis memperdaya para ahli filsafat serta asal-muasal penyembahan berhala.I. Talbis Iblis Terhadap Kaum Falasifah (Ahli Filsafat Yunani) dan PengikutnyaImam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa para filsuf Yunani klasik (seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan Plotinus) pada dasarnya adalah orang-orang yang dikaruniai kecerdasan otak yang sangat luar biasa.Kelebihan dalam Perkara Duniawi (Hissiyyah): Pemikiran mereka tentang hal-hal fisik yang nampak (seperti biologi, kimia, medis, dan fisika) tertuang dalam buku-buku yang sangat detail. Ketika buku-buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa Dinasti Abbasiyah (khususnya era Khalifah Al-Ma'mun), banyak kaum muslimin yang terpesona dan kagum karena hal-hal mendetail semacam itu belum pernah dibahas sebelumnya oleh kaum muslimin. Dalam urusan duniawi yang nampak ini, para filsuf umumnya cenderung sepakat dan minim perselisihan.Penyimpangan dalam Teologi (Ketuhanan): Letak kesalahan fatal mereka adalah ketika mulai masuk ke dalam ranah metafisika atau ketuhanan. Mereka hanya mengandalkan kecerdasan akal semata secara merdeka (istiqlal) dan menolak untuk dibimbing oleh cahaya kenabian (nurun nubuwwah). Akal manusia sejatinya hanya mampu menangkap eksistensi Tuhan secara global, namun tidak akan mampu meraba detailnya tanpa wahyu. Karena tidak ada objek fisik yang bisa dianalogikan, mereka akhirnya hanya berbicara berdasarkan prasangka dan asumsi (dzunnuun), yang berujung pada kekacauan pemikiran dan perselisihan yang sangat tajam di antara mereka.Analogi Keterbatasan Akal: Perkara Ruh dan JinManusia tidak perlu jauh-jauh berpikir tentang Zat Allah untuk memahami batas akalnya. Ruh yang ada di dalam jasad manusia dan selalu menemani setiap detik tidak akan pernah bisa dijelaskan esensinya secara ilmiah oleh 1.000 pakar sekalipun. Begitu pula dengan keberadaan jin (bagaimana mereka merasuki manusia, mengubah suara, atau berpindah tempat). Jika makhluk gaib yang dekat saja tidak mampu dijangkau akal, maka sungguh konyol jika manusia memaksakan akalnya untuk merumuskan hakikat Sang Pencipta (Khaliq) tanpa wahyu.II. Beberapa Mazhab Kaum Falasifah Tentang Tuhan1. Mazhab DahriyyahSebagian filsuf mengambil jalan pintas dengan menyatakan bahwa Pencipta itu sama sekali tidak ada, dan alam terjadi begitu saja.2. Teori Causa Prima (Sebab Utama) dan Qidamul Alam (Keazalian Alam)Banyak dari tokoh filsuf (seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles) menetapkan adanya sebab utama yang mereka sebut sebagai Causa Prima (Al-Ilah). Namun, logika mereka dirusak oleh iblis melalui poin-poin berikut:Sebab dan Akibat Bersamaan: Mereka berargumen bahwa Causa Prima adalah sebab yang sangat sempurna. Karena sebabnya sempurna, maka akibatnya (yaitu alam semesta) tidak boleh terlambat dan harus muncul berbarengan dengan sebab tersebut. Konsekuensinya, mereka meyakini alam semesta ini bersifat azali (sudah ada sejak dahulu tanpa ada permulaan dari ketiadaan) bersama dengan tuhan mereka.Penciptaan Tanpa Kehendak: Mereka menolak prinsip bahwa Tuhan menciptakan alam karena keinginan-Nya. Menurut mereka, alam semesta muncul sekadar sebagai konsekuensi otomatis dari sempurnanya keberadaan Causa Prima, bukan karena kehendak atau pilihan.Keabadian Alam: Karena menganggap alam ini azali, mereka juga menyimpulkan bahwa alam semesta ini bersifat abadi secara mandiri dan tidak akan hancur.Catatan Akidah Islam: Akidah ini bertolak belakang dengan Islam yang meyakini bahwa pada awalnya hanya Allah yang ada dan tidak ada sesuatu pun selain-Nya. Allah menciptakan alam dari ketiadaan menjadi ada melalui kehendak dan firman-Nya "Kun Fayakun".3. Pandangan Ekstrem Lain Mengenai Eksistensi TuhanAda pula kelompok filsuf yang meyakini Pencipta itu ada karena melihat adanya hal-hal baru yang tercipta (muhdas) di dunia, namun akal mereka menjadi buntu saat melihat realitas keburukan atau ketika doa-doa manusia tidak langsung dikabulkan. Hal ini melahirkan tiga pendapat aneh:Tuhan Bunuh Diri: Tuhan dianggap bunuh diri setelah menciptakan alam karena takut hasil ciptaan-Nya yang sudah sempurna mengalami perubahan, atau karena merasa tugas-Nya sudah selesai.Tuhan Hanya Menonton: Tuhan dianggap lemah karena sistem alam (sunnatullah) yang diciptakan terlalu hebat, sehingga Tuhan sekarang pensiun dan hanya duduk menonton tanpa bisa mengubah atau mengintervensi keburukan dan bencana yang terjadi.Manunggalnya Tuhan dengan Alam (Wihdatul Wujud): Pandangan yang meyakini bahwa zat Tuhan melebur dan menyatu ke dalam seluruh unsur di alam semesta.III. Syubhat Filsafat Mengenai Ilmu TuhanPara filsuf Yunani (terutama Aristoteles) memformulasikan bahwa Tuhan tidak mengetahui apa pun kecuali hanya mengetahui Zat diri-Nya sendiri.Syubhat Logikanya: Karena Tuhan Maha Sempurna, maka Dia tidak boleh memikirkan sesuatu yang penuh kekurangan (yaitu makhluk). Jika Tuhan memikirkan makhluk, berarti pikiran Tuhan menjadi tidak sempurna.Pengaruhnya Terhadap Tokoh Muslim (Ibnu Sina): Pemikiran busuk iblis ini memengaruhi filsuf muslim seperti Ibnu Sina. Namun, Ibnu Sina memodifikasinya sedikit dengan menyatakan bahwa Allah mengetahui makhluk-makhluk-Nya secara global (kulli), tetapi tidak mengetahui hal-hal secara mendetail (juz'i). Syubhat Ibnu Sina adalah karena makhluk selalu berubah-ubah dan ada yang buruk, maka tidak pantas bagi Allah untuk memikirkan detail perubahan tersebut. Pemikiran ini membuatnya dikafirkan oleh ulama lain (seperti Al-Ghazali) karena terang-terangan menolak banyak ayat Al-Qur'an yang menegaskan bahwa ilmu Allah meliputi segala hal, bahkan daun yang gugur sekalipun.Pengaruh Terhadap Kelompok Mu'tazilah: Filsafat Yunani juga menyusup ke sekte Mu'tazilah, membuat mereka merumuskan teori bahwa ilmu Allah dan sifat kodrat Allah adalah Zat Allah itu sendiri (menolak adanya sifat yang menempel pada zat) demi mempertahankan konsep ketauhidan versi logika mereka.IV. Syubhat Filsafat Mengenai Hari KebangkitanKaum falasifah Yunani dan para pengikutnya (termasuk Ibnu Sina dalam sebagian kitabnya) secara mutlak mengingkari adanya kebangkitan jasad di akhirat. Mereka hanya memercayai kebangkitan ruh, sehingga menganggap surga dan neraka fisik itu tidak ada.Syubhat Logikanya: Mereka berargumen menggunakan logika materi. Contohnya: Jika ada bagian tubuh manusia yang mati, lalu dimakan ikan hiu, kemudian ikan hiu tersebut dimakan oleh manusia lain, maka atom jasad tersebut telah berpindah dan menyatu dengan manusia kedua. Menurut logika mereka, mustahil mengembalikan jasad semula jika unsurnya telah saling beririsan. Pemikiran ini sama persis dengan kekufuran kaum musyrikin Arab kuno yang mengabaikan bahwa Allah yang memulai penciptaan dari ketiadaan tentu jauh lebih mampu untuk menyusun kembali bagian tubuh yang telah hancur menjadi debu.V. Talbis Iblis Terhadap Kaum Ashabul HaikalKelompok ini diperdaya iblis untuk memercayai bahwa planet-planet dan benda-benda langit (seperti matahari, bulan, Mars, Merkurius, dll.) memiliki ruh hidup layaknya jasad manusia. Mereka meyakini gerakan dan pergeseran bintang-bintang tersebut mengendalikan serta memengaruhi seluruh takdir dan peristiwa di atas bumi.Untuk menyembah ruh-ruh langit tersebut, iblis membimbing mereka membuat proyeksi atau simbolisasi fisik di bumi yang disebut dengan Haikal (bentuk patung/kuil). Mereka mengagungkan kuil-kuil ini dan memberikan kurban-kurban ekstrem demi menolak bala. Sebagai contoh, saat berkurban untuk matahari yang mereka anggap suci tanpa cela, mereka akan memilih mengorbankan anak kecil yang suci dan belum berdosa untuk disembelih di hadapan simbol matahari tersebut.VI. Talbis Iblis Terhadap Penyembah Berhala (Ashabul Ashnam)4. Modus Operandi IblisManusia memiliki kecenderungan bawaan menyukai keindahan materi visual. Iblis memanfaatkan hal ini dengan membuat patung-patung yang indah lalu mematikan fungsi akal sehat manusia. Ketika manusia mulai berpikir “Mengapa kita menyembah batu buatan sendiri?”, iblis menyuntikkan syubhat pembenaran: “Kalian tidak sedang menyembah batu ini secara langsung, melainkan batu ini hanyalah sarana/perantara untuk mendekatkan diri kalian kepada Allah yang berada jauh di sana.” (Sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an: "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya").5. Sejarah Awal Mula Munculnya Berhala (Kaum Nabi Nuh)Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, asal-muasal penyembahan berhala di dunia bermula dari wafatnya lima orang saleh di zaman kaum Nabi Nuh (Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr). Ketika mereka wafat, masyarakat merasa sangat kehilangan. Seton kemudian membisikkan ide untuk mendirikan patung-patung mereka di tempat mereka biasa majelis, dengan tujuan awal sekadar untuk mengenang kesalehan mereka agar masyarakat termotivasi rajin beribadah kepada Allah.Namun, setelah generasi pembuat patung tersebut wafat dan ilmu tauhid mulai dilupakan oleh generasi penerus, setan kembali datang dan menghasut generasi baru bahwa patung-patung nenek moyang mereka itulah yang dahulu disembah dan mendatangkan hujan, sehingga akhirnya patung-patung orang saleh tersebut resmi disembah.6. Masuknya Berhala ke Jazirah Arab (Kisah Amr bin Luhai al-Khuza'i)Penyembahan berhala di tanah Arab dipelopori oleh seorang pemimpin suku Bani Khuza'ah bernama Amr bin Luhai al-Khuza'i. Suku Khuza'ah kala itu berhasil merebut kekuasaan Makkah dari suku Jurhum (setelah keturunan Nabi Ismail). Amr bin Luhai adalah tokoh yang sangat dihormati dan dipatuhi kata-katanya.Suatu hari, ia melakukan perjalanan ke negeri Syam dan melihat penduduk di sana menyembah berhala. Saat diberitahu bahwa berhala-berhala itu bisa mendatangkan manfaat dan kemenangan, ia pun mengimpor berhala tersebut ke Makkah dan memerintahkan masyarakat Arab untuk menyembah berhala. Sejak saat itu, kesyirikan mewabah secara masif di jazirah Arab, di mana setiap kabilah memiliki berhalanya masing-masing (seperti Hubal di dalam Ka'bah, Latta di Thaif, Uzza di Nakhlah, dan Manat di pesisir laut).7. Kisah Berhala Isaf dan NailaDi antara berhala yang unik di Makkah adalah Isaf dan Naila. Sejarahnya, mereka adalah sepasang kekasih dari negeri Yaman yang memadu kasih namun sulit bertemu. Ketika mereka melakukan ibadah haji ke Makkah, mereka memanfaatkan situasi sepi di dalam Ka'bah untuk melakukan perzinaan. Seketika itu juga, Allah mengutuk dan mengubah jasad keduanya menjadi batu.Awalnya, kedua patung batu ini diletakkan di luar Ka'bah agar menjadi pelajaran bagi manusia akan dampak bermaksiat di tempat suci. Namun seiring berjalannya waktu dan masuknya pengaruh iblis, ingatan sejarah itu dikaburkan dan kedua patung tersebut justru berbalik diagungkan serta disembah oleh kaum musyrikin saat melakukan thawaf.8. Kegilaan Berhala di Zaman JahiliyahKecanduan kaum jahiliyah terhadap penyembahan batu sampai pada tahap yang sangat tidak rasional:Tuhan yang Tertinggal: Jika mereka melakukan perjalanan lalu tersadar bahwa berhala/tuhan batu mereka tertinggal di rumah, mereka akan berteriak mengajak rombongan mencari batu baru di jalanan untuk dijadikan tuhan pengganti.Batu Tungku dan Batu Tuhan: Jika mereka menemukan empat buah batu yang bagus, mereka akan memilih satu batu terbaik untuk disembah sebagai tuhan, sementara tiga batu sisanya dijadikan batu tungku untuk memasak.Tuhan dari Adonan Susu: Jika mereka tersesat di padang pasir dan tidak menemukan batu sama sekali, mereka akan menimbun pasir, menyiramnya dengan susu unta hingga menggumpal dan mengeras, lalu mengitari (thawaf) gundukan tanah bersusu tersebut sebagai tuhan mereka.KESIMPULANUstadz Firanda menutup dengan menekankan bahwa kesyirikan dan penyimpangan filsafat terjadi karena manusia mencampakkan wahyu Allah dan mematikan akal sehatnya. Allah berfirman dalam Surat Ar-Rum bahwa orang-orang kafir itu sangat pintar dan jenius dalam perkara lahiriah duniawi (mampu menciptakan teknologi dan peradaban), namun akal mereka mendadak buntu, konyol, dan tidak berjalan sama sekali ketika sudah berbicara mengenai urusan akidah dan akhirat.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
A
Alina Rostiana

📍 Kota Yogyakarta

Materi ke 3 TALBIS IBLIS TERHADAP PARA FILSUF DAN PENYEMBAH BERHALA

Materi ke 3 TALBIS IBLIS TERHADAP PARA FILSUF YUNANI DAN PENYEMBAH BERHALA BERSAMA USTADZ DR.Firanda Andirja M.Aبِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Melanjutkan bahasan dari kitab Talbis Iblis Bab 5: Tentang orang-orang yang memiliki akidah-akidah yang menyimpang.Di sini Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala membuat subjudul dengan judul “Dzikru Talbisihi 'ala Al-Falasifah wa Tabi'ihim” :yaitu penyebutan tentang talbis iblis terhadap kaum falasifah, maksudnya ahli filsafat Yunani, wa tabi'ihim dan orang-orang yang mengikuti, para pengikut ahli filsafat Yunani tersebut.Kita sudah singgung sebelumnya tentang para filsuf.Di sini Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah kembali mengulang tentang pemikiran-pemikiran falasifah, bagaimana setan masuk dalam pemikiran mereka sehingga mereka ngelantur dalam berbicara tentang teologi, tentang ketuhanan.Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan bahwasanya falasifah ini, seperti Sokrates, kemudian Plato, kemudian Aristoteles, Plotinus, dan yang lain-lainnya, mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas. Orang yang sangat cerdas dan mereka menulis tentang hal-hal yang terkait dengan perkara-perkara hisiyyah yang nampak:biologi, atau kimia, atau fisika dengan otak mereka yang luar biasa cerdasnya.Kemudian pemikiran mereka tersebut dituangkan dalam buku-buku yang mereka tulis, kemudian bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, terutama di zaman Khalifah Al-Ma'mun, sehingga kaum muslimin terpesona, kagum melihat pemikiran orang-orang falasifah yang luar biasa. Artinya, hal-hal ini belum pernah dibicarakan oleh kaum muslimin,tentang hal-hal yang begitu detail tentang perkara dunia, tentang biologi, tentang kimia, tentang fisika. Ternyata, orang-orang Yunani sudah sampai pemikiran mereka tentang hal-hal tersebut.Tapi yang jadi masalah,ketika mereka kemudian berbicara tentang teologi, tentang ketuhanan. Sementara mereka berpangku kepada kecerdasan otak mereka dan mereka tidak menyambut sinar kenabian, nurun nubuwah. Mereka tidak berusaha melihat penjelasan para nabi, para anbiya, para rasul.Dan mereka ingin memikirkan tentang Tuhan secara istiklal, secara merdeka. Akhirnya mereka pun ngawur, karena otak ini di luar kemampuan untuk berbicara tentang Tuhan.Otak kita hanya bisa menangkap tentang Tuhan secara global, Tuhan itu ada, ini jelas otak kita bisa mengantarkan kepada hal tersebut. Akal kita bisa mengantarkan Tuhan itu ada, Tuhan itu Maha Kuasa, Tuhan itu Maha Dahsyat, dan yang lainnya. Tetapi secara detail tentang Tuhan bagaimana, proses penciptaan bagaimana, ini semua tidak bisa diduga-duga. Oleh karenanya, mereka terjebak dengan zunun mereka, kata Ibnul Jauzi. Orang-orang falasifah ini, mereka ketika berbicara tentang teologi, mereka tidak punya landasan. Apa yang mau dijadikan landasan untuk dianalogikan? Kalau bicara tentang perkara yang hisiyyah, perkara yang nampak, oke. Bicara tentang biologi, tentang fisika, tentang kimia, tentang medis. Tapi ketika bicara tentang sesuatu yang gaib, yang tidak bisa dianalogikakan dengan perkara yang nampak, maka ini sulit. Sehingga mereka akhirnya hanya berbicara dengan zon, dengan persangkaan-persangkaan. Persangkaan-persangkaan,Kata Ibnul Jauzi rahimahullahu taala:"Annahum infaradu bi'araihim wa'uqulihim, watakallamu bimuqtadha zhununihim min ghairi iltifatin ila al-anbiya."Ya, mereka bersendirian dalam otak mereka dan akal mereka, pendapat mereka, dan mereka berbicara hanya sekadar konsekuensi dari persangkaan-persangkaan mereka tanpa menengok kepada ajaran-ajaran para nabi. Akhirnya, timbullah berbagai macam pendapat di kalangan mereka.Yang menakjubkan, Ibnul Jauzi mengatakan ketika menjelaskan tentang falasifah, ketika mereka berbicara tentang perkara yang hisiyyah, yang nampak, maksudnya biologi, kimia, fisika, rata-rata mereka sepakat. Khilaf mereka tidak seberapa. Tapi ketika mereka sudah bicara tentang ketuhanan, karena tidak ada landasan, akhirnya mereka, mereka pun banyak khilaf,karena memang sesuatu tidak bisa jadi landasan untuk berpikir, akal ada keterbatasan. Maka saya sering sampaikan, kita tidak usah bicara tentang masalah Allah.Kita bicara tentang ruh. Ruh saja yang ada pada jasad kita, yang selalu hadir bersama kita, kita tidak bisa menerangkan ruh itu dari unsur apa, bagaimana bentuknya, gemuk atau kuruskah, panjang atau apakah, dari unsur mana, bagaimana dia beredar di dalam jasad, bagaimana, kita tidak tahu. Sehingga kalau ada 1.000 pakar biologi atau pakar fisika atau pakar kimia, kita suruh berbicara tentang ruh, akan ada 1.000 pendapat, atau mungkin 1.001 pendapat,karena tidak ada landasan untuk dijadikan pegangan untuk bisa berbicara tentang ruh, makanya Allah berfirman:"Yas'alunaka 'anir-ruh, qulir-ruhu min amri rabbi."Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah ruh adalah urusan Tuhanku."Wama utitum minal-'ilmi illa qalila."Kalian tidak diberikan ilmu kecuali cuma sedikit. Kalau ruh saja tidak bisa kita berbicara tentang ruh,apalagi tentang Allah SWT. Bicara tentang tidak usah, jin aja. Maksudnya jin, jin bagaimana jin bisa bertasyaqul, bisa menjelma. Siapa bisa jelaskan secara ilmiah? Kemampuan ilmu manusia terbatas. Bagaimana menjelma bisa, bagaimana bisa tiba-tiba berubah menjadi hewan, jadi wanita cantik, jadi apa. Bagaimana dia bisa masuk dalam tubuh manusia, bagaimana dia bisa menguasai akal manusia. Siapa yang bisa menjelaskan? Bagaimana dia bisa berbicara dengan seorang manusia. Siapa yang bisa menjelaskan secara ilmiah?Ada teman saya punya ponakan kemasukan jin tahu-tahu bisa nyanyi lagu tembang Jawa, padahal dia tidak tahu bahasa Jawa. Tapi bisa, siapa yang bisa menjelaskan? Ini gaib. Ada jin gaib. Apalagi kita bicara tentang Khalik, Sang Pencipta.Ketika kaum falasifah tidak punya landasan, mereka takallamu bimuqtadha zhununihim, kata Ibnul Jauzi. Mereka berbicara yang sekadar persangkaan-persangkaan, akhirnya mereka ngawur dan mereka berselisih dengan perselisihan yang sangat, sangat banyak.Tayib, kita sebutkan yang saya ringkaskan dari apa namanya, falasifah, akidah falasifah tentang Tuhan, tentang Pencipta.Ada beberapa mazhab di kalangan mereka,diantaranya ada yang mengatakan bahwasanya :dahriyah, yaitu ini dahriyah disebut dengan dahriyah. Falasifah dahriyah itu Tuhan tidak ada, Pencipta tidak ada. Sudah selesai, dia bilang Pencipta tidak ada. Alam terjadi apa namanya, begitu saja tanpa ada Pencipta, mudah.Yang lain berpendapat lebih, dan ini, ini pendapatnya Sokrates, kemudian Plato, Aristoteles, sebagaimana dinukil dari buku-buku mereka,bahwasanya mereka menetapkan alam ini tercipta dari illah, apa namanya, namanya dengan illah, dari illah, al-illah. Al-illah tammah yang mereka sebab utama,sebab pertama. Kausa prima kalau mungkin bahasa, bahasa kerennya. Yang mereka katakan bahwasanya kausa prima adalah sesuatu yang sangat simpel dan dia statis,disebutkan dalam buku-buku mereka.Sehingga mereka mengatakan kausa prima inilah yang seakan-akan berfungsi sebagai Tuhan, ya, seakan-akan berfungsi sebagai sebab penciptaan. Tetapi yang jadi masalah, mereka tidak menempatkan kausa prima ini sebagai as-shani', sebagai pencipta, sebenarnya mirip. Jadi akhirnya pendapatnya mirip. Yang satu mengatakan Tuhan tidak ada, ini mengatakan ada sebab, sebab utama. Tapi sebab utama tersebut kata mereka, dia datang bersamaan dengan alam semesta. Kausa prima tersebut azali bersama alam,jadi bukan, bukan kausa prima dulu baru alam semesta belakangan.Jadi mereka mengatakan alam dan kausa prima, illah tadi, sama-sama keberadaannya sama-sama, cuma ini sebab ini akibat, tetapi sebab dan akibat itu keberadaannya sama. Dan ini yang disebut dengan pemikiran tentang qidamul alam, bahwasanya alam semesta ini azali.Mereka tentu iblis masuk dalam pemikiran mereka, mereka mengatakan bahwasanya kausa prima adalah suatu sebab yang sangat sempurna. Kalau suatu sebab yang sangat sempurna, maka sebab tersebut akibatnya tidak akan terlambat, akibatnya akan bersamaan dengan sang sebab, sehingga munculnya bersamaan. Ya kita namanya kita berpikir sederhana, akibat pasti setelah sebab, ya kan? Saya, ini sebabnya, pena jatuh, akibat pena jatuh. Kenapa pena jatuh? Karena sebabnya ada saya lepas. Ya, tidak ada namanya sebab dan akibat bersamaan. Kalau sebab dan akibat bersamaan, kita tidak tahu mana sebab mana akibat, ya. Tapi mereka kemasukan logika iblis, mereka mengatakan kausa prima ini sangat sempurna. Sehingga sangat sempurna, akibat yang muncul dari dia tidak boleh terlambat, harus sama persis dengan sebab tersebut, sehingga melazimkan kata mereka, alam ini adalah azali bersama sebab tersebut. Jadi kata mereka kausa prima tersebut azali bersama alam, karena sebab tersebut sempurna sehingga akibatnya tidak boleh, tidak boleh terlambat, harus bersamaan.Ini apa namanya, logika, ya. Ini kan main logika, gitu. Lah kalau kita dalam Islam, tidak."Innama amruhu idza arada syai'an an yaqula lahu kun fayakun.""Kana Allahu walam yakun syai'un ghairuhu."Dulu Allah sendirian tidak ada selain Allah SWT. Kalau Allah ingin mencipta, Allah, Nabi, Allah mengatakan, Allah mengatakan:"Innama amruhu idza arada syai'an an yaqula lahu kun fayakun."Sesungguhnya Allah itu urusannya kalau ingin sesuatu, Allah hanya mengatakan "jadi", maka jadilah. Ada sebab, ada akibat. Akibat muncul belakangan setelah sebab, ya, langsung tanpa ada jeda, langsung, langsung tanpa ada jeda. Tapi mereka tidak. Kalau mereka orang falasifah, sebab dan akibat persis berbarengan, ya. Akhirnya, sebab yang mereka, yang mereka sebut dengan kausa prima sebagai sebab terjadinya alam semesta ini, yang fungsinya seperti Tuhan, membuat mereka menyatakan alam semesta azali bersama dengan sebab tersebut. Ini yang pertama.Yang kedua, mereka mengatakan munculnya akibat, dalam hal ini akibat maksudnya apa, alam semesta, alam, dari sebab adalah konsekuensi dari sebab,jadi mereka mengatakan sebab ini bukan berkehendak menciptakan akibat.Perhatikan sini, ini, ini terlalu tinggi tapi ya begitulah, ya. Mereka mengatakan, antum bisa baca dalam, dalam apa namanya, Talbis Iblis. Jadi mereka mengatakan akibat alam semesta ini bukan terjadi karena keinginan dari kausa prima, tetapi dia terjadi merupakan konsekuensi dari sempurnanya, sempurnanya kausa prima tersebut mengonsekuensikan adanya alam. Jadi alam adalah hasil dari konsekuensi adanya sebab yang sangat sempurna. Beda kalau, beda kalau kita orang Islam, Tuhan menciptakan, Tuhan ingin menciptakan, selesai. Tuhan dulu Maha Sempurna dan tidak ada sesuatu pun, kemudian Tuhan menciptakan. Kalau mereka tidak, jadi alam terjadi bukan karena kehendak kausa prima,tapi adalah konsekuensi dari kausa prima, ini dibedakan. Akibat dari sebab adalah konsekuensi dari sebab,bukan kehendak kausa prima.Asal muasal penyembahan terhadap berhala (kisah Nabi Nuh),dimana disitu ada orang2 shaleh yg Allah sebutkan,yg sennatiasa beribadah di suatu tempat,ketika mereka meninggal maka orang2 membangun patung dlm rangka untuk mengenang,awalnya bukn untuk disembah tpi untuk mengenang.Dengan melihat patung2 tersebut diharapkan masyarakat akan termotivasi utk beribadah kpd Allah,patung2 tersebut dinamakan berdasarkan nama nama orang2 shaleh tersebut,lama kelamaan dengan berjalannya waktu patung2 tersebut akhirnya disembah.Kata Ibnu Abbas :ketika generasi2 pembuat patung itu meninggal dunia,maka muncullah generasi2 berikutnya,ilmu sudah dilupakan,tdk ada lagi dakwah ttg Tauhid,akhirnya datang setan mengatakan “Sembahlah patung2 itu” supaya kalian mengingat Allah.Kemudian berkembanglah penyembahan terhadap berhala sampai ke jazirah Arab,Quraisy dibawa oleh Amr bin Luhay(seorang pemimpin dari bani Khuza’ah).Kemudian pada akhirnya masing2 kabilah menyembah berhala.Berhala2 tersebut mempunyai berbagai macam2 nama.Sampai ada berhala bernama Isaf dan Nailaf(2 berhala yang ketika hidup adalah 2 orang yg saling mencintai di negeri Yaman,mereka tdk bisa bertemuu dan berhubungan,akhirnya mereka berhaji,dan ketika mereka berhaji mereka saling merindukan,dan ketika melihat orang lalai,mereka akhirnya melihat Ka’bah dan berzina di dalam Ka’bah dan Allah murka dengan mengubah mereka menjadi patung),awalnya patung2 mereka dikeluarkan dari Ka’bah sebagai pelajaran,kemudian berjalannya waktu Iblis datang dan membisikan macam2 kepada masyarakat yg akhirnya membuat patung2 tsb disembah.Saking senengnya menyembah patung,maka kemana2 org2 tsb membawa patung,jika lupa mereka mencari 4 batu (batu yang bagus mereka jadikan Tuhan,sisanya dijadikan tungku untuk tempat masak)Ketika mereka tdk dapat patung,mereka mencari pasir kemudian mereka beri susu untuk membuat semacam adonan menyerupai gundukan,setelahnya mereka thawaf.Setan2 merasuki pikiran2 org2 tersebut dengan mengatakan berhala2 ini akan mendekatkan kalian kpd Allah,dan sampai sekarang ritual menyembah2 berhala juga masih banyak,berhala2 tsb dibuat menyerupai seseorang yg dianggap sholeh.Allah berkata : “Bagaimana mereka mempunyai berhala?apakah berhala2 tersebut mempunyai kaki untuk berjalan?sedangkan kalian mempunyai kaki untuk berjalan,kalian yang menyembah berhala mempunyai mata untuk melihat,kalian yg menyembah mempunyai tangan untuk mengukur,kalian mempunyai telinga untuk mendengar,sedangkan berhala TIDAK.Bagaiman kalian yg sempurna menyembah berhala yg tidak sempurna?”(hal2 tersebut adalah hal2 yg konyol)Allah juga berkata:Bagaimana kalian menyembah apa yang kalian pahat sendiri?harusnya logika nya adalah kita itu menyembah kpd yg menciptakan kita,bukan menyembah kepada apa yg kita ciptakan,namun demikian jika akal tidak berjalan dengan baik.Firman Allah di QS Ar Rum Perkataan syeikh sya’diin :Orang2 kafir itu ahli tentang perkara dunia,mereka tau secara detail,menemukan banyak penemuan2 di dunia(pesawat,kapal,tekhnologi)tetapi kalau sudah berbicara tentang aqidah mereka tidak jalan(banyak yg menyembah berhala,atheis,dll),mereka tau tentang keindahan dunia tapi lalai dengan akhirat,dan itu merupakan salah satu tipuan dari syaithon yg menjadikan orang2 tersebut menyembah berhala,karena mereka mengira dengan menyembah berhala tersebut akan mendekatkan diri mereka dengan Allah.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
N
Nurhasanah nurhasanah

📍 Kota Depok

Talbis iblis #3 filsuf yunani&penyembah berhala

بسم الله الرمن الحيمDay3AqidahFalasifa tentang "pencipta"Ada beberapa mahzabDahriyah =pencipta tidak adaAlam tercipta dari (oleh) sebab kausa primaKausa prima=azali bersama alam》ilmu pencipta*falasifa yunani=pencipta tidak berilmukecuali hanya dirinya*ibnu sina =pencipta hanya mengetahui secara global tidak terperinci*muktazila=ilmu Allah dan qudrah Allah adalah zatnya sendiri》tentang hari kebangkitan=tidak ada hari kebangkitan=tidak ada kebangkitan jasad tetapi hanya ruhNote:-Jangan menyembah apa yang kita ciptakan-Mereka tau keindahan dunia tetapi akhirat lalai-mereka dapat membuat dunia menjadi indah dengan kepintaran mereka tapi ketika malash qidah mereka hilang akalnya.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
P
Peni Fauziah Puadah

📍 Kota Bandung

Talbis Iblis #2

Imam Ibnu Jauzi RA membuka dengan pembahasan tentang Kerancuan pemikiran yang dilancarkan iblis pada penganut sofisme yang meragukan segala sesuatu. Imam ibnu jauzi mulai dengan filsafat. Dianatara sofisme mereka adalah orang yang mengingkari hakikat. Ini sempat viral di yunani. mereka terdiri dari 3 madzhab:1. Al inadiyah (menentang adanya hakekat)2. Al indiyah (mereka bilang kebenaran itu relatif, hakekat itu tidak ada yang absolut tetapi relatif subjektif)3. La adriyah (Abstain tidak tahu, madzhab tidak tahu apakah hakekat ada atau tidak, saya tidak tahu)Kelompok pertamaAl-Inadiyah mengatakan apa yang kita hari ini bisa jadi sesuai maupun tidak sesuai dengan yang kita lihat. Mereka ragu-ragu. Sejarah masuknya sofisme ini adalah sejak adanya ulama filsafat yang mengembalikan penciptaan alam dengan natural. Bantahan ibnul jauzi 1. Keyakinan kalian ini yaitu mengingkari hakekat, apakah ada hakekatnya? Ada atau tidak? Kita terapkan pernyataan mereka ke mereka. Kalau jawabannya tidak ada, berarti mereka memang bathil. Jika mereka n bilang ada hakikatnya, berarti mereka bathil juga. Banyak ulama yang menyerah untuk berdiskusi dengan mereka, karena mereka tidak mau percaya hakekat. Bagaimana kau berdiskusi dengan mereka, kalau mereka saja ragu-ragu dia ini ada atau tidak ada. Diantara yang mau berdiskusi dengan mereka adalah Ibnu Aqil Kita ini seperti anak yang matanya juling ketika melihat bulan, bulannya ada 2Metode cerita 2. Al indiyah Merasa tidak ada yang salah, semuanya subjektif tidak bisa dipaksakanBantahannya bagaimana? * Kita bilang keyakinanmu ini apakah pasti benar? Mereka akan menjawab subjektifitas menurut kami benar, tapi bisa jadi menurut selain kami tidak benar, karena menurut kami begini, mungkin menurut yang lain salah. Ini menunjukkan keyakinan kalian tidak benar secara murni karena ada kemungkinan salah dari yang lain. kelompok kedua yang dibantah adalah atheis (kelompok yang menolak adanya tuhan) mereka punya banyak metode. 1. Kelompok addahriyah (alam terjadi sendiri tanpa ada yang menjadikan) bantahan imam jauzi : beliau menggunakan logika namanya akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab. Contohnya, ketika kita melihat adanya bangunan tinggi, pasti ada yang membangun bangunan tersebut. Makanya sebagian arab badui berkata : sesungguhnya ketika adanya kotoran unta, maka ada untanya, meskipun tidak kita lihat untanya. Adanya bekas jalan menunjukkan ada yang berjalan. Ngga usah jauh-jauh, lihat diri kita, harusnya cukup untuk menjelaskan adanya penciptanya. Imam jauzi membantah tentang pernyataan mereka yang mengatakan tuhan tidak terlihat maka tidak ada. Imam jauzi membantah denga logika adanya jiwa dan akal yang tidak terlihat, tapi kita yakin punya akal dan jiwa meskipun tidak terlihat. Maka Allah swt meskipun tidak terlihat, tapi bisa dilihat dari dampak keberadaannya. Contoh, listrik tidak terlihat tapi kita tahu ada aliran listrik karena jika kita pegang kita bisa kesetrum. Kita tidak bias deskripsikan akal itu seperti apa, jiwa itu seperti apa. 2. Thoba'iyun (Alam semesta diciptakan dengan suatu aturan bernama tobi'at)Thobaiyun berusaha ilmiyah dengan mengatakan ada tabiat yang mengatur. Bantahannya mudah, tabi'at tersebut tercipta oleh Allah swt. Sunatullah itu dibuat oleh Allah, kalau unsur-unsur itu (yang membentuk alam) tidak bisa bereaksi hanya terkumpul. Seperti api yang bisa membakar jika api tersebut terkumpul. Aturan itu ada ga mungkin kalau tidak ada yang mengatur, adanya gaya gravitasi, menunjukkan adanya pengaturan dan ada yang mengatur, dan itu menunjukkan adanya Allah swt. 3. Atstsanawiyah (tuhan itu dua) Di antara tsaniwah adalah mengatakan tuhan pencipta kebaikan, dan tuhan pencipta keburukan tanpa menunjukan bentuk tuhannya. Majusi tuhan api/cahaya (kebaikan) dan tuhan kegelapan (pencipta keburukan) Di antara bantahan terhadap mereka pertama logika dua tuhan  jika dua tuhan tersebut ingin melakukan sesuatu misalnya tuhan nomor 1 ingin si A bergerak, sementara tuhan nomor 2 ingin si A diam. apa yang terjadi? Maka ada 3 kemungkinan, yang pertama keduanya terpenuhi keinginannya kalau keduanya terpenuhi keinginannya si A bergerak sekaligus diam maka ini mustahil (gabungan dari dua hal yang saling bertentangan)kemungkinan yang kedua, keduanya tidak terpenuhi keinginannya, sehingga keduanya tidak pantas jadi tuhan karena tidak berhasil memenuhi keinginannya. ketiga salah satunya tidak terpenuhi keinginannya, maka yang terpenuhi keinginannya lah yang berhak menjadi tuhan karena dia mengalahkan tuhan lainnya, kalau gitu terbukti bahwa tuhan itu hanya 1. Bantahan kedua, imam jauzi mengatakan, taruhlah tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan, bukankah gelap itu memiliki manfaat juga? maka ini menyelisihi kebaikan.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
A
Anjarsari

📍 Kabupaten Klaten

Tablis Iblis ke-2 "Penganut Aqidah dan Agama Menyimpang"

CATATAN KAJIAN: TALBIS IBLIS #2​"Penganut Aqidah dan Agama Menyimpang"​Pemateri: Ustadz Firanda AndirjaSumber Kitab: Talbis Iblis karya Ibnu Al-Jauzi​Pendahuluan​Kitab Talbis Iblis karya Ibnu Al-Jauzi menjelaskan tentang kerancuan pemikiran (syubhat) yang disebarluaskan oleh Iblis untuk menyesatkan penganut akidah dan agama yang menyimpang dari kebenaran.​1. Kaum Sofisme (As-Sufastha'iyyah)​Kelompok yang mengingkari hakikat kebenaran. Kaum Sofisme dibagi menjadi 3 golongan utama:​A. Golongan Al-Inadiyyah / Nihilis (Penyangkal Realitas)​Pemikiran: Menentang adanya hakikat. Mereka mengklaim: "Segala sesuatu di alam semesta ini tidak ada, semua hanyalah khayalan."​Bantahan: Jika kalian mengingkari hakikat, pertanyaannya: Apakah keyakinan/klaim kalian itu ada atau tidak? (Jika ada, berarti hakikat itu ada. Jika tidak ada, berarti argumen kalian batal).​B. Golongan Al-Indiyyah (Kelompok Subjektif)​Pemikiran: Menolak adanya kebenaran mutlak. Bagi mereka, realitas bersifat subjektif dan kebenaran sepenuhnya tergantung pada persepsi individu.​Prinsip: "Jika seseorang meyakini sesuatu itu ada dan benar, maka itulah kebenaran bagi dirinya, dan sebaliknya."​C. Golongan Al-La Adriyyah (Agnotis / Meragukan Segala Sesuatu)​Pemikiran: Selalu menyatakan ketidaktahuan. Mereka ragu apakah hakikat itu ada atau tidak, dan menolak mengambil keputusan. Jika diajak berdiskusi, mereka hanya menjawab, "Saya tidak tahu." (Akar dari kaum Atheis/Penolak Tuhan).​2. Kaum Atheis (Turunan dari Al-La Adriyyah)​Kelompok ini dibagi menjadi dua sub-golongan dalam memandang asal-usul alam semesta:Sub-Golongan : Ad-DahriyyahPemikiran / Klaim : Alam semesta ini ada dengan sendirinya, tanpa ada yang menjadikannya (tanpa Pencipta).Bantahan Ibnu Al-JauziTidak mungkin sesuatu muncul tanpa sebab. Logikanya, jika kita melihat sebuah bangunan, pasti ada yang membangunnya.Ath-ThabaiyyunAlam semesta bukan diciptakan Tuhan, melainkan ada dan diatur oleh hukum alam (tabiat).1. Tabiat itu sendiri diciptakan oleh Allah, makanya ia patuh pada aturan.2. Sesuatu yang tidak berakal tidak mungkin bisa mengatur alam semesta yang sangat rapi dan teratur.3. Keteraturan, keserasian, dan hikmah pada makhluk menunjukkan kepastian adanya Pengatur (Tuhan).3. Kaum Ats-Tsanawiyyah (Dualisme/Meyakini Dua Tuhan)​Kelompok yang meyakini adanya dua kekuatan/Tuhan yang mengatur alam:​Tuhan Dua: Tuhan Pencipta Kebaikan dan Tuhan Pencipta Keburukan.​Al-Majusiyyah (Majusi): Menyembah Api/Cahaya (Pencipta Kebaikan) dan Kegelapan (Pencipta Keburukan).​Bantahan Logis Ibnu Al-Jauzi terhadap Ats-Tsanawiyyah:​Logika 1: Benturan Kehendak Dua Tuhan​Jika ada 2 Tuhan, lalu mereka ingin melakukan sesuatu yang berlawanan (Contoh: Tuhan 1 ingin Si A bergerak, Tuhan 2 ingin Si A diam), maka kemungkinannya adalah:​Kemungkinan A (Keinginan keduanya terpenuhi): Si A bergerak sekaligus diam. Ini kontradiktif dan mustahil.​Kemungkinan B (Keinginan keduanya gagal): Si A tidak bergerak dan tidak diam. Ini mustahil, dan jika keduanya gagal, maka keduanya tidak pantas menjadi Tuhan.​Kemungkinan C (Hanya satu keinginan yang terpenuhi): Siapa yang keinginannya terpenuhi, dialah Tuhan yang sesungguhnya. Maka, Tuhan hanya Esa (Satu).​Logika 2: Kerancuan Sifat Kebaikan & Keburukan​Mereka mengklaim "Tuhan Kegelapan" hanya menciptakan keburukan. Bantahan: Bukankah kegelapan juga memiliki banyak manfaat (misal: untuk istirahat/tidur)?​Mereka mengklaim "Tuhan Api/Cahaya" adalah kebaikan. Bantahan: Bukankah banyak api yang merusak dan membawa bencana (seperti kebakaran)? Maka logika dualisme mereka cacat.​Pintu Masuk Iblis (Talbis): > Iblis membisikkan ke benak mereka saat melihat besarnya manfaat api. Mereka kagum, hingga akhirnya Iblis menjerumuskan mereka untuk menganggap api sebagai Tuhan dan beribadah kepadanya.​Kesimpulan / Hikmah​"Ilmu dan Akal adalah cahaya yang Allah berikan untuk menyingkap kebenaran dan menolak kebatilan. Maka jangan biarkan hati tertipu oleh bisikan Iblis."

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Talbis Iblis #2 - Penganut Aqidah & Agama yang Menyimpang

Talbis Iblis #2 : Penganut Akidah & Agama yang Menyimpang1. Penganut Sufsuthoiyyah (Shofisme) Berasal dari fisafat Yunani, yaitu mengingkari hakekat. Terdiri dari 3 Mahdzab : 1). Al-'Inadiyyah Menentang adanya hakekat 2). Al-'Indiyyah Kebenaran/Hakikat tidak ada yang absolute, tetapi relatif subjektif, tidak ada kebenaran yang objektif 3). Al-La Adriyyah Abstain "Tidak Tahu", Apakah hakikatnya ada atau tidak adaBantahan Ibnul Jauzi​Keyakinan kalian (menginkari hakikat), apakah ada hakikatnya? Ada 2 kemungkinan : 1. Jika mereka bilang ada hakikatnya. Berarti bathilah Mahzab mereka 2. Jika mereka berkata: Tidak ada hakikatnya, maka bathil juga mahdzab merekaBanyak para ulama yang menyerah berdiskusi pada mereka, karena mereka tidak memiliki pijakan. Mereka perlu di perbaiki, karena terjebak dalam khayalan.​Keyakinanmu ini apakah pasti benar? Mereka akan menjawab, menurut kami benar tapi menurut selain kami tidak benar. Ibnul Jauzi mengatakan: Kalau kalian menjawab demikian, masih ada kemungkinan salah dari sisi lain, maka jangan di yakini kebenarannya. Berarti pendapat kalian tertolak, karena masih ada sisi salah menurut orang lain, kalau masih ada sisi salah jangan di yakini.2. Kaum Atheis (yang menolak adanya Tuhan) Ada 2 kelompok : (1). Ad-Dahriyah "Alam itu ada tanpa ada yang menjadikan" Bantahan Ibnul Jauzi :​Ilmu dasar : namanya akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab.​Secara logika : Jika kita melihat suatu bangunan pasti ada yang membangunnya.​Beliau membantah syubhat "Tuhan tidak terlihat jadi tidak ada" dengan logika adanya jiwa dan akal yang tidak terlihat, tapi kita yakin ada yang mengaturnya. (2). Thoba'iyyun "Alam semesta diatur bukan oleh Tuhan, tapi tabi'i (natural)". Berusaha ilmiah, dengan mengatakan ada tabiat yang mengatur. Bantahan Ibnul Jauzi :​Tabi'at tersebut tercipta oleh Allah, karena dia ikut aturan.3. Ats-Tsanawiyyah (Tuhan itu ada 2)​Tuhan 2 : * Tuhan Pencipta Kebaikan * Tuhan Pencipta Keburukan​Majusi Tuhan 2 * Tuhan api/cahaya: Pencipta kebaikan * Tuhan kegelapan: Pencipta keburukanBantahan Ibnul Jauzi​Logika Pertama yaitu 2 Tuhan : Jika 2 Tuhan tersebut ingin melakukan sesuatu : Tuhan 1 ingin si A bergerak, Tuhan 2 ingin si A diam, maka ada beberapa kemungkinan: 1). Keduanya terpenuhi keinginannya ➡️ Si A bergerak sekaligus diam. Mustahil 2). Keduanya tidak terpenuhi keinginannya ➡️ Si A tidak bergerak ternyata si A bergerak. Mustahil & keduanya tidak pantas jadi Tuhan. 3). Salah satunya terpenuhi keinginannya dan yang lainnya tidak, maka yang terpenuhi keinginanya yang berhak jadi Tuhan.​Logika ke 2 :Taruhlah Tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan (menurut keyakinan majusi). Kata Ibnul Jauzi : "Bukankah kegelapan bermanfaat, ketika ada seorang ingin di bunuh dia bersembunyi dalam kegelapan tidak ketahuan".Logika mereka bahwa yang namanya cahaya api yang slalu bermanfaat juga tidak benar, bukankah banyak api yang tidak bermanfaat dapat membakar, menghancurkn dan merusak. Menyelisih kenyataan yang ada. Mereka mengatakan api adalah Tuhan karena iblis masuk dalam benak mereka memperlihatkan api memberi manfaat luar biasa, sehingga mereka beribadah kepada api tersebut.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Talbis Iblis 2

Talbis Iblis 2Shofisme (Sutho'iyah) adalah pengingkar hakekat, yang mengingkari hakekat. Sutho'iyah terdiri dari 3 mahdzab:Al-Innadiyah. Inad artinya menentang, yaitu menentang adanya hakekat.Al-Indiyah. Mereka bilang kebenaran itu relatif. Kebenaran itu tidak ada yang absolut, tetapi relatif/subjektif. Tidak ada hakekat yang objektif.Al-La driya. Tidak tahu/up stain. Apakah hakekat ada atau tidak, mereka tidak tahu.Al-InnadiyahApa yang kita lihat sekarang ini bisa jadi sesuai dengan apa yang kita lihat, bisa jadi berbeda dengan apa yang kita lihat. Mereka termasuk kaum yang terjebak alam keraguan, mereka meragukan segala hal. Iblis telah masuk ke dalam pikiran mereka, sehingga mereka menolak adanya hakekat. Sejarah munculnya kaum ini, karena munculnya tobai'iyyin yaitu ulama falasifa, yang berusaha mengembalikan asal muasal alam kepada natural atau kepada tabi'at. Cara membatah mereka: Ibnu Jauzi mengakatan, para ulama menentang mereka dengan berkata: Apakah keyakinan kalian (dalam mengingkari hakekat) ada hakekatnya (?) Jika tidak ada hakekatnya berarti pendapat kalian bhatil. Al-IndiyahKaum relatifisme, tidak ada satu keyakinan yang objektif yang semua menilai sama. Masing-masing dari kita memandang berbeda. Al-Indiyah, kembali kepada indiy (menurutku). BantahFan Ibnu Jauzi: keyakinan ini apakah pasti benar (?) mereka akan menjawab (subjektif) menurut kami benar, tapi bisa jadi  menurut selain kami tidak benar. Ibnu Jauzi menjawab: kalau kalian menjawab demikian dan masih ada kemungkinan salah dari sisi yang lain, maka jangan diyakini kebenarannya, berarti pendapat kalian tertolak.Kaum Atheis adalah menolak adanya Tuhan pencipta, atau dibilang dalam kelompok/kaum ateis (yang menolak adanya Tuhan).DahriyahMereka mengatakan, alam terjadi sendiri tanpa ada yang menjadikan atau tanpa ada yang menciptakan. Menurut mereka, apam kebetulan ada.Bantahan Ibnu Jauzi: ilmu dasar -> Namanya akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab. Logika: jika kita melihat suatu bangunan pasti ada yang membangunnya.Sebagian orang arab badui mengatakan, "Sesungguhnya kalau ada kotoran unta menunjukkan bahwa tadi ada unta di sini. Kalau ada bekas tapak kaki, berarti menunjukkan ada yang berjalan. Meskipun kita tidak melihatnya. Langit-langit dengan bintang-bintangnya, bumi dengan jalan-jalannya, lautan dengan ombak-ombaknya. Tidakkah menunjukkan ada penciptanya".Tidak semua yang sebab bisa terlihat, tapi kalau ada akibatnya menunjukkan bahwa ada sebabnya.Bantahan lain Ibnu Jauzi, membantah syubhat Tuhan tidak terlihat jadi tidak ada. Dibantau dengan logika adanya jiwa dan akal yang tidak terlihat.ThobaiyyunMereka mengatakan, alam semesta diatur bukan oleh Tuhan tetapi oleh tobi'i (secara natural). Mereka menganggap berusaha ilmiah dengan mengatakan ada tabi'at yang mengatur. Bantahan Ibnu Jauzi: tabi'at tersebut atau aturan sunatullah tentang alam tersebut, tercipta oleh Allah ﷻ.  Diantara yang biasanya tabi'at tidak bisa mengatur, dia tidak bisa bereaksi kecuali berkumpul. Tabi'at-tabi'at ini tidak bisa bereaksi kecuali kalau dikumpulkan, bercampur kemudian timbullah reaksi. Reaksi yang muncul tadi menyelisihi sifat awal tabi'at tersebut, menunjukkan bahwa dia diatur bukan mengatur.At-tsanawiyah Tuhan itu ada 2, diantaranya terbagi menjadi 2:Majusiah (Tuhan 2)Tuhan pencipta kebaikanTuhan pencipta keburukan Majusi Tuhan 2Tuhan api/cahaya, pencipta kebaikanTuhan kegelapan (dzulmah) pencipta keburukan Manusia yang tertipu dengan iblis, akhirnya mereka meyakini Tuhan itu ada dua.Bantahan Ibnu Jauzi: ada terdapat 2 bantahan yang disebutkan,Logika dia TuhanJika dua Tuhan tersebut ingin melakukan sesuatu: "Tuhan ke-1 menginginkan si A bergerak, Tuhan ke-2 menginginkan si A diam". Maka akan da beberapa kemungkinan:Keduanya terpenuhi keinginannya, karena sama-sama Tuhan, yang terjadi si A bergerak sekaligus diam. Maka ini mustahil, karena ini saling bertentangan.Keduanya tidak terpenuhi keinginannya. Ini juga mustahil, karena kontradiktif. Keduanya tidak pantas jadi Tuhan, karena keduanya gagal, dalam mengatur yang demikian.Salah satunya terpenuhi keinginannya dan yang lainnya tidak. Maka yang terpenuhi keinginannya, itulah yang berhak menjadi Tuhan. Logika keduaTaruhlah Tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan, menurut keyakinan majusi.Bantahan Ibnu Jauzi  bukankah gelap selalu bermanfaat. Ketika ada seseorang hendak dibunuh dan dia bersembunyi dalam kegelapan dan tidak ketahuan, bukankah gelap itu ada manfaatnya. Berarti logika mereka tentang Tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan tidak benar, karena ada legelapan yang bermanfaat. Serta logika mereka bahwa cahaya/api selalu bermanfaat itu juga tidak benar. Bukankah banyak api yang tidak bermanfaat, membakar menghancurkan merusak.Mereka percaya dengan Tuhan api karena mereka melihat iblis masuk dalam benak mereka, melihat bagaimana api memberikan manfaat luar biasa, sehingga mereka merasa bahwasanya api ini Tuhan.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
S
Syfa Adinna Shabra

📍 Kabupaten Karanganyar

Pertemuan ke-2 : Penganut Aqidah & Agama yang Menyimpang.

•┈┈┈┈••❁🌸﷽🌸❁••┈┈┈┈• الباب الخامس : في ذكر تلبيسه في العقائد والديانات ١. ذكر تلبيسه على السوفسطائية - Kerancuan pemikiran yang dilancarkan kepada penganut Sufsuthoiyah-السوفسطائية : Berasal dari filsafat Yunani, shofisme yang meragukan segala sesuatu》Filsafat Yunani secara zaman itu muncul sebelum yahudi & nashoro, pengaruh mereka melebar sampai masuk kedalam agama-agama samawiyah (nashoro & yahudi), dan juga masuk ke firqoh-firqoh yang ada di agama islam. 》Shofisme : yang mengingkari hakekat. Mereka terbagi menjadi 3 madzhab :1. (Al-'Inadiyah) العناديةMereka menentang adanya hakikat, golongan ini menganut bahwa hakekat sama sekali tidak ada.》Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan banyak ulama putus asa berdiskusi dengan mereka (العنادية), karena mereka menolak hakekat. Yang mana ketika berdiskusi kita harus ada patokan yang sama-sama disepakati sehingga menjadi pijakan kita untuk berdiskusi, tapi kalau segala perkara tidak ada yang diyakini (oleh penganut 'inadiyah) maka bagaimana kita bisa berdialog dengan mereka. Jadi percuma berdiskusi, karena mazhab 'inadiyah berkeyakinan semua tidak ada hakikatnya. Betapa merepotkannya berdiskusi dengan mereka : 'Bagaimana engkau bisa berdiskusi dengan orang yg tidak meyakini apa yang dilihat, bahkan orang tersebut berkata 'saya tidak tahu apakah engkau sedang berbicara denganku/tidak, diapun ragu' . Bagaimana bisa berdiskusi dengan orang yang ragu dirinya ada atau tidak, jadi dipikiran mereka isinya keraguan. Bagaimana bisa berdiskusi dengan orang yg memandang bahwa berbicara sama dengan diam.'》Sebagian ulama berkata 'kita harus berdiskusi dengan mereka, orang-orang itu sakit'. Tapi zaman sekarang sudah tidak ada mazhab tersebut (tapi ada pengikutnya, yakni kaum liberal). Diantara yang berusaha berdiskusi dengan penganut 'inadiyah : [ ] Abul Wafa ibn Aqil (mazhab hanbali)" Kita ini seperti punya anak yang satu matanya bener & satunya juling, dia melihat rembulan ada dua. Kita mengatakan bahwa rembulan hanya satu, ia membantah 'tidak, rembulan ada 2'. Kemudian kita perintahkan 'coba tutup mata yang juling, berapa rembulan yang kamu lihat' anaknya bilang 'sekarang aku melihat rembulan hanya 1, saya lihat rembulan hanya 1 karena mata satunya ditutup, karena masing-masing mata melihat 1 rembulan. Sehingga ketika salah satu mata ditutup yang terlihat hanya 1 rembulan saja'. Ketika suruh tutup mata yg normal, mata juling dibuka terlihatlah 2 rembulan (ya, karena mata sebelahnya itu sedang sakit). "~ Perumpaan diatas adalah cara menjelaskan kepada mereka untuk menyadari bahwa mereka sedang sakit, meskipun sulit akan tetapi jangan putus asa. Karena dengan pendekatan seperti itu, bisa jadi ia mendapat hidayah. 2. (Al-'Indiyah) العندية Mereka bilang kebenaran / hakikat itu tidak absolut, tetapi bersifat relatif subjektif. Tidak ada kebenaran yang objektif. 》 Tidak ada satu keyakinan yang objektif (yg semua menilai sama), masing-masing kita memandang berbeda. Jadi Al-'indiyah itu menilai suatu hakikat dengan 'menurut ku, menurutku'. Sehingga semuanya itu relatif Contoh, mereka mengatakan : madu bagimu manis, tapi bagi orang sakit itu pahit. (Keduanya benar)Kita tidak bisa bilang bohong, karena yang dia rasakan madu itu pahit. Maka ini yang disebut mazhab relatifism, jadi masing-masing subjektif tidak bisa dipaksakan. ⚠️ Bantahan Ibnul Jauzi ⚠️● mengajak diskusi "apakah keyakinanmu pasti benar", dan jawaban mereka "subjektifitas, menurut kami benar tapi bisa jadi menurut selain kami itu tidak benar". Ibnul Jauzi, berkata : kalau masih ada kemungkinan salah dari sisi lain, maka jangan diyakini kebenarannya. Berarti pendapat kalian tertolak, karena menurut pihak lain menunjukan keyakinan kalian tidak pernah murni tapi masih ada sisi salah menurut orang lain. Maka jangan diyakini. ● Mazhab lain ada yg mengatakan (termasuk sufsuthoiyah, tapi bukan 'indiyah) : tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Maksudnya, alam ini selalu mengalami perubahan sehingga tidak da hakekat yg absolut (menetap). Sebagaimana air di sungai, kita baru melihat air sedetik kemudian sudah melihat air selanjutnya 3. Laa Adriyyah : Golongan yang abstain "tidak tahu". Apakah Hakikat itu ada / tidak, maka mereka akan jawab 'saya tidak tahu'. 2. Kaum Atheis : menolak adanya tuhan》Ada 2 kelompok : • Ad-dahriyah (الدهرية)Berkeyakinan bahwa alam itu ada tanpa ada yang menjadikan. ⚠️ BANTAHAN IBNUL JAUZI ⚠️ Menggunakan ilmu dasar ➡️ namanya akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab. Logika sederhananya, suatu bangunan itu berdiri kokoh karena ada yang membangun tidak mungkin muncul dengan sendirinya. "Seseorang kalau merenungkan dirinya, maka cukup dirinya itu menjadi dalil bahwasanya 'tuhan itu ada'. Bukan makhluk terwujud dengan sendirinya"Beliau membantah syubhat Tuhan tidak ada = tidak ada, dengan logika adanya jiwa dan akal yg tidak terlihat tapi kita yakin dalam tubuh ada jiwa yang mengaturnya & akal yang berpikir untuk bertindak.• Ath Thoba'iyun Berkeyakinan yang mengatur alam semesta bukan tuhan, tapi natural (tabiat). Mereka ini berusaha ilmiah dengan menyatakan ada tabiat yang mengatur.➡️ Ada yg mengatakan : alam semesta kembali kepada air, udara , dan tanah ➡️ Unsur utama adalah udara, unsur utama adalah api / tanah. Tetapi mereka mengatakan inilah sifat tabiat daripada api, inilah yang menjadikan terjadinya berbagai macam alam semesta. Atau terkumpulnya 4 perkara tadi, sehingga muncul suatu reaksi dan muncullah 1 benda. Sehingga mereka mengatakan semua ini berjalan sesuai tabi'at.⚠️ BANTAHAN IBNUL JAUZI ⚠️Tabi'at tersebut tercipta oleh Allah ta'ala karena dia ikut aturan. "Tabiat tidak bisa bereaksi kecuali kalau dikumpulkan (bercampur) kemudian timbul reaksi muncullah suatu yg lain. Reaksi yang muncul itu menyelisihi sifat awal tabiat tersebut, dan ini menunjukan bahwa dia diatur bukan mengatur." ٢. الثنوية (Berkeyakinan tuhan itu ada 2)● Tuhan 2 : Tuhan pencipta kebaikan & Tuhan pencipta keburukan ● Majusi (tuhan 2) : Tuhan cahaya pencipta kebaikan & Tuhan kegelapan pencipta keburukan.⚠️ BANTAHAN IBNUL JAUZI ⚠️1. Logika 2 tuhan Jika 2 tuhan tersebut ingin melakukan sesuatu :- tuhan 1 ingin A bergerak - Tuhan 2 ingin A diam Apa yang terjadi? Ada 3 kemungkinan : □ Keduanya terpenuhi keinginannya, maka yg terjadi si A bergerak sekaligus diam. Maka kni mustahil karena tidak ada gabungan 2 hal yang saling bertentangan □ Keduanya tidak terpenuhi keinginannya ; si A tidak bergerak, si A bergerak. Ini hal yang mustahil & Keduanya tidak pantas menjadi tuhan karena Keduanya gagal.□ Salah satu keinginan lnya terpenuhi, dan yang lain tidak. Maka yang terpenuhi keinginannya dialah yg berhak menjadi tuhan. 2. Taruhlah tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan (menurut keyakinan majusi), tuhan cahaya menciptakan kebaikan. Ibnul Jauzi berkata "bukankah kegelapan sering bermanfaat, bukankah banyak api yang menghancurkan"

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
H
Haniva Eka Kusuma

📍 Kabupaten Bogor

Ringkasan bagian Kedua

Talbis Iblis bagian 2 Kepada penganut2 aqidah dan agama yg menyimpang. Bab yg ke 5Imam al jauzi membuka dengan pembahasan: syubhat (kerancuan pemikiran) yg dilancarkan iblis kepada penganut sufsutho'iyyah (Kelompok pertama) Sufsutho'iyyah adalah berasal dari filsafat yunani, sofisme, yang melakukan segala sesuatu.Mereka ada lebih dulu dibanding majusi dan nashrani.. mereka memiliki beberapa mahdzab.. dan filsafat ini masuk kedalam agama2 yahudi, nashoroh, dan firqoh2 yg ada di agama islam. Di antara ahli filsafat yunani adalah sofisme, mereka adalah orang2 yg mengingkari hakikat.Ini sempat viral di yunan, lalu banyak yg membantah. tapi banyak dari mahdzab thoba'i'i yg mereka berusaha menjelashkan bahwa alamsemesta itu muncul karena tobi'at,  namun dari mereka pun banyak yg berselisih diantara mereka (soal asal muasalnya) ada yg mengatakan api, ada yg mengatakan air. Dan tidak ada dalil, karna semua dari akal saja.Lalu datang mahdzab shofisme. Mereka ada 3 mahdzab:1. Al inadiyah (benar2 mengingkari)2. Al indiyah (kebenaran relatif/hakekat tidak ada yg absolut, tetapi relatif dan subjektif. Tidak ada hakikat yg objektif)3. La adriya (tidak tahu sama sekali. Apalah hakekat ada atau tidak) Yg dibahas oleh ibnu jauzi adalah kelompok yang pertama dan kedua.Kelompok yg pertama: mereka bilang apa yg kita lihat selama ini bisa jadi apa yg sesuai kita liat, atau bisa jadi tidak. Mereka meragukan segala hal.Kelompok ini berusaha mengembalikan alam ini senatural mungkin. Bagaimna cara membantah mereka?Ibnu jauzi mengatakan: para ulama membantah mereka dengan berkata: perkataan kalian ini bahwasannya tidak ada hakekat, apakah perkataan kaliannada hakekatnya (juga) atau tidak?Ada 2 kemungkinan jawabannya• Kalau mereka mengatakan "tidak" berarti perkataan mereka juga bathil• Jika mereka berkata 'ada hakekatnya' berarti bathil juga mahdzab mereka Ibnu Jauzi menyebutkan: banyak ulama yang menyerah berdiskusi dengan mahdzab ini. Karena mereka menolak hakekat. Jika kita mau diskusi, kita harus ada 1 poin yg kita sepakati.Tetapi, ada juga ulama yang semangat untuk berdiskusi dengan orang2 ini karna dianggap sebagai orang yg "sakit" (pemikirannya) Diantara yg berusaha berdiskusi dengan mereka adalah: abul lufa' ibnu akil dari mahdzab hambali. Rata rata orang seperti mereka terlalu banyak berkhayal.Bisa dibantah dengan metode cerita juga. Kelompok yg kedua:Mereka bilang suatu hakekat yg subjektif dan relatif. Mengandalkan pemikiran "menurut saya"22nya benar tetapi punya nilai sendiri. Seperti, madu bagi orang yang itu manis, tapi bagi orang yg sakit itu pahit. Bantahannya bagaimna?Yg pertama, ibnu jauzi bilang "keyakinanmu ini apakah pasti benar?"Mereka akan menjawab (subjektif) "menurut kami benar, tapi bisa jadi menurut selain kami itu tidak benar"Ibnu jauzi mengatakan, "kalau kalian menjawab demikian salah dari sisi lain, maka jangan di yakini kebenarannya"Kelompok ke 2 (yg dibantah ibnu jauzi)Kaum Atheis (yg menolak adanya Tuhan). Disininada 2 kelompokPertama: Addahriyah. Mereka berpendapat: alam itu ada tanpa ada yang menjadikan.Bantahan ibnu jauzi sangat mudah: ilmu dssar (namanya akibat, tidak mungkin muncul tanpa sebab).Logika: jika kita melihat suatu bangunan, pasti kita bilang "ada yg membangun".  Tidak mungkin berdiri dengan sendirinya. Beliau membantah syubhat, Tuham tidak terlihat jadi tidak ada. Dengan logika adanya jiwa dan akal yg tidak terlihat. Kedua: ath thobaaiyyun. Mereka mengatakan, alam semesya diatur bukan oleh Tuhan, tapi dari tabi'i (natural)Berusaha ilmiyah dengan mengatakan ada tabiat yg mengatur.Bantahan ibu Jauzi: pertama, tabiat tersebut tercipta oleh Allaah subhanahu wa ta'ala, karena dia ikut aturan. Kelompok ke 3: Ats tsanawiyyah (tuhan itu ada 2)Diantaranya mengatakan, tuhan kebaikan (menciptakan kebiakan) dan tuhan keburukan (menciptakan keburukan) Ada juga Majusi: tuhan 2 (tuhan api/cahaya untuk menciptakan kebaikan) dan tuhan gelapan (pencipta keburukan). Diantara bantahan terhadap mereka: 1. Logika 2 tuhan. Jika 2 tuhan tersebut ingin melakukan sesuatu, misalnya: tuhan nomor 1 ingin si A bergerak. Sementara tuhan nomor 2 ingin si A diam. Apa yg terjadi? Maka ada 3 kemungkinanPertama: keduanya terpenuhi keinginannya (karna sama2 tuhan). Kalau keduanya terpenuhi, maka si A bergerak sekaligus diam. Maka ini mustahil.Kedua: keduanya tidak terpenuhi keinginannya. Si a tidak bergerak, dan si a juga tidak diam. Dan ini mustahil. Keduanya tidak pantas jadi tuhanKetiga: salah satunya terpenuhi keinginannya dan yg lainnya tidak. Yg terpenuhi yg berhak menjadi tuhan.Bantahan kedua: Taruhlah tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan. Tapi ibnu jauzi bilang: bukan kah gelap itu sering bermanfaat?Dan bukannya api bisa jdi bencana? Kenapa mereka percaya tuhan api dan tuhan kegelapan? Karna iblis suka menipu daya mereka dari api yg dilihat bermanfaatm

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
D
Dina Permata Sari

📍 Kota Tangerang Selatan

Talbis Iblis #2 - Penganut Aqidah & Agama Yang Menyimpang

1. Golongan Sofisme (Sufastaiyah) Kelompok filsafat Yunani yang mengingkari atau meragukan hakikat segala sesuatu. Terbagi menjadi 3 kelompok:Al-Inadiyah: Menolak hakikat secara total (menganggap semua yang dilihat bisa jadi tidak nyata).Al-Indiyah (Relativisme): Menganggap kebenaran bersifat subjektif dan relatif, tidak ada kebenaran absolut (contoh: madu manis bagi orang sehat, tapi pahit bagi orang sakit).Al-La'adriyah: Golongan yang selalu menjawab "tidak tahu" apakah hakikat kebenaran itu ada atau tidak.2. Golongan Atheis Kelompok yang menolak keberadaan Tuhan:Dahriyah: Meyakini alam semesta sudah ada dari sananya atau terjadi dengan sendirinya tanpa pencipta. Bantahan logikanya menggunakan ilmu sebab-akibat (bangunan ada karena ada yang membangun, maka alam semesta yang kompleks pasti ada Penciptanya).Thobiiyyun: Meyakini alam diatur oleh tabiat (hukum alam) bukan Tuhan. Bantahan logikanya adalah tabiat/hukum alam yang sangat teratur dan baku justru membuktikan adanya Dzat Yang Maha Mengatur aturan tersebut.3. Golongan Tsanawiyah (Majusi / Zoroaster) Kelompok yang meyakini adanya dua Tuhan, yaitu Tuhan Cahaya/Api (pencipta kebaikan) dan Tuhan Kegelapan (pencipta keburukan).Bantahan Logika: Jika ada 2 Tuhan yang saling bertentangan kehendaknya (satu ingin benda bergerak, yang lain ingin diam), maka mustahil keduanya terwujud bersamaan. Jika hanya satu kehendak yang terwujud, maka dialah yang sesungguhnya pantas menjadi Tuhan (Tuhan hanya ada satu). Bukti lain, api tidak selalu bermakna kebaikan (bisa membakar) dan kegelapan tidak selalu keburukan (bisa melindungi orang yang bersembunyi dari kejahatan).

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
N
Nailah Nurul Hanifah

📍 Jakarta Selatan

Talbis Iblis #2 - Penganut Aqidah & Agama yang Menyimpang

Talbis Iblis #2 (Penganut Aqidah & Agama yang Menyimpang)Pembahasan ini merujuk pada Bab Kelima dari kitab Talbis Iblis karya Ibnu al-Jauzi rahimahullah. Dijelaskan bagaimana iblis melancarkan syubhat dan kerancuan berpikir kepada penganut pemikiran dan agama yang keliru. Bab ini dimulai dengan membahas pengaruh filsafat Yunani, yang secara historis muncul sebelum Yahudi dan Nasrani, namun pemikirannya merasuk ke dalam agama-agama Samawi, termasuk memicu munculnya kelompok-kelompok bid'ah dalam Islam.1. Talbis Iblis terhadap Kaum Sofisme (Sufastha'iyyah / Sutho'iyyah)Kelompok pertama yang dibahas adalah Sutho'iyyah, sebuah aliran yang berasal dari sofisme Yunani kuno. Ciri utama mereka adalah mengingkari hakikat segala sesuatu dan terjebak dalam keraguan ekstrem. Aliran ini terbagi menjadi 3 mazhab utama:Al-Inadiyyah: Kelompok yang benar-benar menentang dan menolak adanya hakikat apa pun.Al-Indiyyah: Kelompok yang berpandangan bahwa tidak ada kebenaran objektif/absolut, melainkan semuanya bersifat relatif-subjektif tergantung siapa yang memandangnya (mirip dengan paham liberalisme/relativisme modern).Al-La Adriyyah (Agnostisisme): Kelompok "tidak tahu". Mereka ragu terhadap segala hal dan selalu menjawab "Saya tidak tahu apakah hakikat itu ada atau tidak”.Firqoh Al-Inadiyyah. Bantahan Ibnu al-Jauzi terhadap Sofisme:Ibnu al-Jauzi memfokuskan bantahan pada mazhab Al-Inadiyyah karena saking sesatnya aliran ini, banyak ulama yang sempat putus asa berdiskusi dengan mereka disebabkan tidak adanya patokan dasar yang disepakati. Bantahannya yaitu melalui diskusi dan metode cerita.Penerapan Logika Internal: Tanyakan kepada mereka, "Apakah keyakinan kalian yang mengingkari hakikat itu sendiri memiliki hakikat (benar-benar ada)?"Jika mereka menjawab ada, berarti mereka mengakui adanya suatu hakikat, maka batallah mazhab mereka.Jika mereka menjawab tidak ada, maka ucapan dan mazhab mereka juga batil serta tidak perlu dianggap karena tidak memiliki hakikat kebenaran.Hilangnya Pijakan Diskusi: Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa banyak ulama yang akhirnya "putus asa" atau enggan meladeni diskusi dengan kaum Sofisme. Alasan: Sebuah diskusi atau debat ilmiah hanya bisa berjalan jika kedua belah pihak memiliki satu patokan dasar yang sama-sama disepakati (pijakan awal). Karena kaum Sofisme menolak segala bentuk hakikat dan kebenaran objektif, maka tidak ada dasar yang bisa dijadikan pijakan untuk berdialog. Betapa repotnya berbicara dengan mereka, "Bagaimana engkau bisa berdiskusi dengan seseorang yang bahkan ragu apakah dia sedang berbicara denganmu atau tidak? Seseorang yang menganggap berbicara itu sama saja dengan diam, dan menganggap hal yang benar itu sama saja dengan hal yang salah."Analogi Orang Sakit: Meskipun banyak ulama yang enggan, seorang ulama bernama Abul Wafa Ibnu Aqil berpendapat bahwa kita tidak boleh membiarkan atau menyerah begitu saja pada mereka. Beliau memandang orang-orang Sofisme ini sebagai orang yang sedang sakit (terganggu logikanya), sehingga metode penyembuhannya adalah dengan dipaksa melihat realitas. Beliau memberikan sebuah perumpamaan (analogi) yang sangat masyhur: Kisah Anak Bermata Juling: Ada seorang ayah yang memiliki anak dengan kondisi mata juling. Ketika malam bulan purnama, si anak melihat ke langit dan berkata, "Ayah, lihat, rembulannya ada dua!"Bantahan Pertama: Sang ayah menjawab, "Anakku, rembulan itu cuma satu." Namun si anak tetap bersikeras bahwa rembulan itu ada dua berdasarkan apa yang dia lihat.Tindakan Sang Ayah: Sang ayah kemudian berkata, "Kalau begitu, coba tutup sebelah matamu." Ketika si anak menutup sebelah matanya, dia akhirnya melihat rembulan itu hanya ada satu.Argumen keras kepala si anak: Alih-alih sadar, si anak yang keras kepala (seperti kaum Sofis) malah membantah, "Rembulan jadi satu itu bukan karena aslinya satu, tapi karena mata saya yang satunya lagi sedang ditutup!"Bantahan Telak: Sang ayah membalas, "Kalau begitu, sekarang buka mata yang tadi ditutup, dan gantian tutup matamu yang sehat (biarkan mata julingmu yang melihat)." Ketika dilakukan, si anak tetap melihat rembulan itu ada dua. Sang ayah berkata, "Nah, itu membuktikan bahwa yang rusak dan salah itu bukan jumlah rembulannya, melainkan matamu yang sedang sakit!"Pendekatan Realitas (Kisah Onta yang Dicuri): Diriwayatkan dari Abul Qasim al-Balkhi, seorang sofis berdebat dengan ahli kalam lalu onta tunggangannya dicuri orang. Saat menyadari ontanya hilang, ia panik. Sang ulama membantahnya, "Mungkin kamu hanya menghayal naik onta?" Orang sofis itu menjawab, "Tidak, saya yakin dan tidak ragu tadi saya datang naik onta!" Di sini ia terpaksa mengakui adanya suatu hakikat yang absolut saat tertimpa realitas kehilangan.Terjebak dalam Khayalan/Horfat: Ustaz Firanda menjelaskan bahwa orang-orang yang mengklaim tidak ada hakikat absolut sebenarnya terjebak dalam delusi mereka sendiri. Mereka sering berkhayal dengan pertanyaan-pertanyaan di luar nalar, seperti: "Jangan-jangan kita sekarang ini sebenarnya sedang tidur dan bermimpi, lalu nanti suatu hari kita baru terbangun di alam nyata?"Realitas yang Mengalahkan Teori: Melalui kisah onta yang dicuri sebelumnya, terbukti bahwa ketika kaum Sofis dihadapkan pada realitas kehidupan sehari-hari (seperti kehilangan harta), teori mereka runtuh seketika karena mereka terpaksa mengakui sebuah hakikat objektif.Firqoh Al-Indiyyah / Mazhab Relativisme ModernKebenaran Subjektif (Al-Indiyyah): Mazhab kedua dari Sofisme, yaitu Al-Indiyyah (berasal dari kata "’Indi" yang berarti "menurut saya"). Mereka berpendapat bahwa kebenaran itu tidak ada yang objektif, semuanya tergantung dari sudut pandang individu.Contoh Madu: Kaum ini memberi contoh madu itu terasa manis bagi orang sehat, tetapi terasa pahit bagi orang yang sedang sakit/demam. Menurut mereka, kedua penilaian itu sama-sama benar secara subjektif.Kaitannya dengan Pemikiran Modern (Liberalisme): Akar pemikiran Al-Indiyyah inilah yang menjadi cikal bakal paham liberalisme/relativisme modern zaman sekarang, yang mengklaim bahwa semua agama atau semua pendapat itu sama-sama benar dan tidak ada kebenaran mutlak.Bantahan Telak: Jika mereka konsisten dengan ucapan "Semua pendapat itu benar secara subjektif", maka ketika pihak lain (umat Islam) mengatakan "Pendapat kalian itu salah secara mutlak", mereka harus menerima pernyataan itu sebagai sebuah kebenaran juga. Jika mereka menolaknya, maka runtuhlah teori relativisme mereka.Kaum Ateis / Penolak TuhanMazhab Segala Sesuatu Berubah: Mazhab yang menolak hakikat dengan dalih "alam ini selalu berubah tiap detiknya", seperti air sungai yang mengalir deras (air yang kita sentuh sedetik lalu sudah berbeda dengan air di detik ini). Namun, argumen ini tetap tidak bisa menafikan adanya hakikat objek tersebut.Pembagian Kaum Ateis: Dijelaskan bahwa iblis menipu kelompok ini dengan dua cara/pemikiran utama:Dahriyyah: Meyakini bahwa alam semesta ini terjadi dan ada dengan sendirinya tanpa ada permulaan maupun pencipta,.Thabi'iyyun: Meyakini alam diatur oleh hukum alam/tabiat, bukan oleh entitas Tuhan.2. Talbis Iblis terhadap Kaum Ateis (Penolak Adanya Tuhan)A. Kelompok DahriyyahMeyakini bahwa alam semesta ini ada begitu saja secara alami sejak sedia kala tanpa ada pencipta (Tuhan) yang menjadikannya.Bantahan dengan Hukum Dasar Sebab-Akibat: Secara ilmu dasar, sebuah akibat tidak mungkin muncul tanpa adanya sebab. Jika kita melihat sebuah bangunan yang kokoh, akal sehat pasti menyimpulkan ada yang membangunnya. Begitu pula langit yang kokoh, bumi, matahari, dan keteraturan jagat raya, mutahil ada dengan sendirinya.Logika Orang Arab Badui: "Kotoran onta menunjukkan adanya onta yang lewat, dan bekas telapak kaki menunjukkan ada orang yang berjalan. Maka langit yang memiliki rasi bintang dan bumi yang memiliki jalan-jalan, bukankah menunjukkan adanya Pencipta yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui?".Perenungan terhadap Diri Sendiri: Struktur tubuh manusia (seperti susunan gigi geraham untuk menggerus, gigi depan untuk memotong, fungsi lidah, saraf, lambung, hingga anatomi jari tangan yang jika ditekuk menjadi rata) dirancang secara presisi dan profesional (sun'allah), mustahil terjadi karena kebetulan.B. Kelompok Thabi'iyyun (Naturalis)Mereka menolak peran Tuhan secara langsung dan mengklaim bahwa alam semesta diatur sepenuhnya oleh aturan alam atau reaksi materi (tabiat/natural).Bantahan terhadap Teori Tabiat/Hukum Alam: Sifat dasar materi (seperti air, api, udara, tanah) tidak bisa bereaksi dan mengatur dirinya sendiri kecuali jika dikumpulkan atau digabungkan oleh pihak eksternal. Ketika unsur-unsur tersebut bereaksi dan menghasilkan materi baru yang sifatnya bertolak belakang dengan sifat aslinya, itu membuktikan materi tersebut diatur (objek), bukan mengatur (subjek).Kritik terhadap Fisikawan Modern (seperti Stephen Hawking): Justru adanya hukum fisika yang sangat rapi, baku, dan konstan (seperti gaya gravitasi) merupakan bukti mutlak adanya Pencipta yang membuat aturan (sunnatullah) tersebut. Aturan yang rapi tidak mungkin lahir dari sebuah kebetulan yang amburadul.3. Bantahan terhadap Argumen "Tuhan Tidak Terlihat"Kaum ateis sering meragukan keberadaan Tuhan karena Dia tidak kasat mata. Jika diberikan analogi logika yang gamblang:Dalam tubuh setiap manusia, kita semua sepakat dan yakin bahwa kita memiliki jiwa (ruh) dan akal.Meskipun jiwa dan akal tersebut tidak pernah terlihat secara fisik, bentuk, maupun warnanya, dampaknya nyata (manusia bisa berpikir dan bergerak).Jika keberadaan akal dan jiwa yang makhluk saja bisa diyakini secara global tanpa harus melihat fisiknya, maka keberadaan Allah sebagai Pencipta jauh lebih nyata melalui tanda-tanda keteraturan alam semesta ini. (Dicontohkan pula dengan keberadaan arus listrik tegangan tinggi yang tidak terlihat namun dampaknya nyata dan mematikan).4. Talbis Iblis terhadap Kaum Tsanawiyyah (Dualisme / Majusi)Kelompok ini meyakini bahwa Tuhan itu ada dua: Tuhan pencipta kebaikan dan Tuhan pencipta keburukan. Di antaranya adalah agama Majusi (Zoroaster) yang menyembah tuhan cahaya/api (sebagai pencipta kebaikan) dan tuhan kegelapan (sebagai pencipta keburukan). Iblis menipu mereka karena menganggap api memberikan manfaat yang luar biasa, sehingga mereka terjerumus menyembahnya.Bantahan Logika terhadap Dualisme Tuhan:Analogi Kontradiksi Kehendak (Tamanu'): Andaikan ada 2 Tuhan yang setara, lalu Tuhan (1)  ingin si A bergerak, sedangkan Tuhan (2)  ingin si A diam pada waktu yang bersamaan. Maka muncul beberapa kemungkinan:Kemungkinan 1: Kehendak kedua Tuhan terkabul. Hasilnya si A bergerak sekaligus diam. Ini mustahil karena menggabungkan dua hal yang kontradiktif.Kemungkinan 2: Kehendak kedua Tuhan sama-sama gagal (si A tidak jadi bergerak dan tidak jadi diam). Ini juga mustahil dan membuktikan keduanya lemah, sehingga tidak pantas menjadi Tuhan.Kemungkinan 3: Hanya salah satu kehendak Tuhan yang terlaksana (misal si A akhirnya diam). Maka, Tuhan yang kehendaknya terlaksana itulah Tuhan yang asli dan perkasa, sedangkan yang gagal bukanlah Tuhan. Maka logika mengembalikan bahwa Tuhan tetaplah Esa (Satu).Kerancuan Definisi Cahaya dan Gelap: Doktrin mereka menyatakan kegelapan selalu menciptakan keburukan dan cahaya/api selalu menciptakan kebaikan. Kenyataannya, kegelapan sering kali bermanfaat (misal untuk beristirahat, atau tempat bersembunyi dari musuh). Sebaliknya, api sering kali membawa kehancuran dan musibah (seperti kebakaran besar). Maka, logika pembagian dua tuhan berdasarkan sifat materi ini patah secara realitas.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
D
Dinda Anisya Rahma

📍 Kota Tegal

Ringkasan Kajian Materi ke 2

Selasa, 02 Juni 2026 / 17 Dzulhijjah 1447HBab 5 - Penganut Aqidah & Agama Yang MenyimpangKitab Talbis Iblis, karya Imam Ibnu JauziUstadz Dr. Firanda Andirja, Lc., M.A.Dalam materi ini akan membahas talbis iblis atau syubhat iblis (terhadap penganut) aqidah/agama-agama yang menyimpang.Imam Ibnu Jauzi rahimahullahuta’ala membuka dengan pembahasan tentang syubhat/kerancuan pemikiran yang dilancarkan oleh iblis kepada penganut pemikiran shufsuthoiyyah.1) ShufsuthoiyyahShofsuthoiyyah adalah berasal dari filsafat yunani, yaitu shofisme yang meragukan segala sesuatu. Mereka ada beberapa madzhab. Ibn Al Jauzi memulai dengan ahli filsafat, ditinjau dengan bahwasanya jayanya orang-orang yunani (filsafat yunani) muncul sebelum zaman yahudi dan nashoro secara zaman, dan pengaruh yunani melebar sampai masuk kedalam agama samawiyyah (yahudi, nashoro, dan firqoh-firqah yang ada di dalam agama islam).Ahli filsataf yunan adalah shofisme atau shufsuthoiyyah, mereka adalah yang mengingkari hakikat. Mereka terdiri dari 3 madzhab, yaitu:Al ‘Inadiyah : mereka yang menentang adanya hakikat.Al ‘Indiyah : mereka yang mengatakan kebenaran/hakikat itu relatif subjektif. Tidak ada kebenaran yang objektifAl Adriyah : mereka yang mengatakan “Tidak Tahu” atau abstain. Apakah hakikat ada atau tidak saya Tidak Tahu.Ini adalah madzhab yang dibahas oleh Ibn Al Jauzi dalam kitab talbis iblis.Ibnu Jauzi membahas 2 madzhab, yaitu:1. Ibnu Jauzi membahas yang pertama adalah Al ‘Inadiyah. Orang-orang mengatakan bahwasanya apa yang kita lihat sekarang bisa jadi sesuai dengan apa yang kita lihat bisa jadi berbeda dengan apa yang kita lihat (tidak ada hakikat/tidak jelas. Mereka ini adalah syukka, yaitu kaum yang terjebak dalam keraguan dalam segala hal. Ini adalah ulah iblis yang sudah masuk kedalam pemikiran mereka, sehingga mereka menolak adanya hakikat. Hal ini kenapa? Seperti yang sudah dijelaskan oleh ustadz,  sejarah munculnya madzhab shofisme ini, karena munculnya thobai’iyyin yaitu ulama falasifah yang berusaha mengembalikan asal muasal alam terhadap natural/tabiat.Bantahan Ibnu Jauzi terhadap Al ‘Inadiyah- Metode diskusi, kalian (mengingkari hakikat) apakah ada hakikatnya?Ada Keyakinan 2 kemungkinan :Jika mereka berkata ada hakikatnya, maka bathil keyakinan mereka.Jika mereka berkata tidak ada hakikatnya, maka bathil juga madzhab mereka.Para ulama banyak yang menyerah untuk berdiskusi dengan mereka, karena mereka tidak memiliki pijakan atau tidak punya keyakinan.- Metode cerita2. Al IndiyahBantahan Ibnu Jauzi terhadap Al IndiyahKeyakinan ini apakah pasti benar? Mereka akan menjawab menurut kami benar, tapi bisa jadi menurut selain kami tidak benar. Ibnu Jauzi mengatakan bahwa pendapat mereka tertolak, karena masih ada sisi salah dari pandangan orang lain.2) Kaum Ateis (yang menolak adanya tuhan)Ibnu Jauzi mengatakan terdapat 2 kelompok, yaitu :1. Dahriyah, kelompok yang mengatakan alam itu ada, tanpa ada yang menjadikan.Bantahan Ibnu Jauzi :Ilmu dasar (namanya akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab). Kata Ibnu Jauzi, logikanya jika kita melihat suatu bangunan pasti ada yang membangunnya. Makanya sebagian orang arab badui berkata “sesungguhkan kalau ada kotoran unta, menunjukkan kalau tadi ada unta disini. Kalau ada bekas tapak kaki, berarti tadi ada yang berjalan walaupu kita tidak melihatnya”. Kalau kita tadi melihat akibat pasti ada sebabnya, walaupun kita tidak melihat sebabnya. Lalu Ibnu Jauzi mengakatakan “bahka kalau seseorang merenungkan tentang dirinya, maka cukup dirinya memjadi dalil bahwa Tuhan itu ada”.Ibnu Jauzi membantah syubhat Tuhan tidak terlihat jadi tidak ada. Dengan logika adanya jiwa dan akal yang tidak terlihat.2. Thobi’iyyun, kelompok yang mengatakan alam semesta diatur bukan oleh Tuhan tapi tabi’i (batural). Mereka berusaha dengan mengatakan ada tabi’at yang mengatur.Bantahan Ibnu Jauzi :Tabi’at tsb tercipta oleh Allah subhanahu wata’ala karena mereka ikut aturan. Ibnu Jauzi mengatakan bahwasanya namanya tabi’at-tabi’at ini tidak bisa berekasi kecuali kalau dikumpulkan kemudian timbul reaksi, muncul suatu yang lain. Reaksi yang muncul tadi menyelisihi sifat awal tabi’at tersebut, ketika menyelisihi tabi’at awal tersebut menunjukkan bahwasanya dia diatur, bukan dia mengatur.3) Atsnawiyah (Tuhan itu ada dua)Diantara tsanawiyah adalah majusiyah. Yaitu mereka (tsanawiyah) bilang tuhan itu ada 2, diantaranya mengatakan:1. Tuhan 2 : Tuhan pencipta kebaikan & Tuhan pencipta keburukan.2. Majusi mengatakan Tuhan ada 2, yaitu : Tuhan api/cahaya : Pencipta kebaikan & Tuhan kegelapan : Pencipta keburukan.Bantahan Ibnu Jauz :- Logika 2 tuhan : Jika 2 tuhan tsb ingin melakukan sesuatu :Tuhan (1) ingin si A bergerak sedangkan Tuhan (2) ingin si A diam, maka ada 3 kemungkinan, yaitu :a. Keduanya terpenuhi keinginannya.b. Keduanya tidak terpenuhi keinginannya.c. Salah satunya terpenuhi keinginannya, dan yang lainnya tidak. Maka yang terpenuhi keinginannya yang berhak jadi Tuhan.- Taruhlah tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan, bukankan gelap sering bermanfaat. Karena tidak setiap kegelapan itu keburukan namun bisa jadi bermanfaat.

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 Juni 2026
P
Puji

📍 Kota Bekasi

Penganut Aqidah dan Agama Yang Menyimpang

talbis iblis #2bab5ustadz Dr Firanda Adirja M Apenulis imam Ibnu Jauzi.subhat iblis dalam aqiqah dan agama. subhat kerancuan pemikiran kepada penganutsuthaiyah /shofisme filsafat Yunani.shofisme adalah orang yang mengingkari hakikat. 1. Al innadiyah>> menentang adanya hakitat.kaun yg terjebak dalam keraguan. bantahan Ibnu Jauzi:-keyakinan kalian ini yaitu mengingkari hakikat, apakah ada hakikatnya ? apakah ada tau tidak? jika mereka bilang ada hakikatnya berarti batil Mazhab mereka , jika mereka bilang TDK ada hakikatnya maka batil juga mazhab mereka. banyak ulama yang putus asa untuk berdiskusi dengan mereka ini.2. Al indiyah >> kebenaran/ hakikat itu tidak ada yg absolut , tetapi relatif subjektif ,tidak kebenaran yg objektif.bantahan Ibnu Jauzi : - keyakinan mu ini apakah pasti benar . Meraka menjawab subjektif (menurut kamu benar tp bisa JD menurut mereka TDK benar). maka imam Ibnu Jauzi berkata ya sudah berati tidak benar Krn pendapat kalian tolak. 3. Ad Dahriyah >>penolak adanya tuhan pencipta. a. Dahriyah berkeyakinan bahwa alam itu terjadi begitu saja tanpa ada yang menjadikan.penolak ibnu Jauzi :- ilmu dasar bahwa akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab. cnth jika kita keluhan suatu bangunan pasti ada yg membangun nya. -lihat gigi dan jari dgn segala fungsinya dan bentuk2nya sedemikian detainya Krn Allah yg menciptakan.- logika adanya jiwa dan akal yg tidak terlihat , maka demikian pula Allah ada walaupun tidak terlihat. b. Tobaiyun berkeyakinan bahwa alam semesta bukan oleh tuhan tetapi tobi'i( natural/ hukum alam). >> berusaha ilmiah bahwa ada tabi'at yg mengatur.bantahan imam Jauzi: -tabi'at itu d atur olah Allah , tercipta oleh Allah.As Sanawiyah meyakini tuhan ada 2 1. - tuhan pencipta kebaikan -tuhan pencipta keburukan2. - tuhan api/cahaya pencipta kebaikan - tuhan kegelapan pencipta keburukan bantahan dari Ibnu Jauzi 1.logika 2tuhan jika 2 tuhan tersebut ingin melakukan sesuatu, misalnya tuhan no1 ingin si A bergerak, sementara tuhan no2 ingin si A diam, maka ada bbrp kemungkinan, yg pertama keduanya terpenuhi keinginan nya yaitu si A bergerak sekaligus dia (maka mustahil)ke 2 dua2nya TDK terpenuhi mustahil ke 3 salah satu terpenuhi maka TDK berhak menjd tuhan 2. bukankah gelap itu bermanfaat ketika seseorang ingin d bunuh maka bersembunyi dalam kegelapan. maka kegelapan bukan k burukan @pujia_ummumuhammad#jejakcahaya#talbis.iblis2@komunitas.beekind

💬 0 komentar📅 2 Jun 2026Baca selengkapnya →