بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِTALBIS IBLIS TERHADAP FILSUF YUNANI DAN PENYEMBAH BERHALA kitab : Imam Ibnu Al-Jauzi PEMATERI : USTADZ FIRANDA ANDIRJA HAFIDZAHULLAH TA’ALA Melanjutkan pembahasan bab sebelumnya, sudah disinggung sebelumnya tentang para filsuf disini Imam Ibnu Al Jauzi kembali mengulang tentang pemikiran-pemikiran filsuf. bagaimana syaitan masuk kedalam pikiran mereka sehingga mereka melantur dalam berbicara metodologi ketuhanan. Imam Jauzi menyebutkan bahwa para filsafat yunani: Socrates, Plato, Aristoteles mereka adalah orang orang yang sangat cerdas. mereka menulis dengan hal-hal yang terkait dengan perkara-perkara Hissi (yang nampak) biologi , kimia , fisika dengan otak mereka yang luar biasa cerdas nya, kemudian pemikiran-pemikiran mereka tersebut tertuang di dalam buku yang mereka tulis bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa arab pada masa khalifah Al Makmun sehingga kaum muslimin terpesona, kagum untuk melihatnya pemikiran para Falasifa yang luar biasa, karena hal-hal ini belum pernah dibicarakan oleh orang-orang kaum muslimin. hal-hal yang begitu detail dengan perkara-perkara dunia, yang ternyata orang-orang yunani telah sampai tentang hal-hal tersebut. yang menjadi masalah adalah ketika mereka berbicara tentang teologi ketuhanan, sementara mereka berpaku dengan kecerdasan otak mereka dan mereka tidak menyambut sinar kenabian , mereka tidak berusaha melihat penjelasan para Nabi , para Anbiya, para Rasull. dan mereka ingin memikirkan tuhan secara merdeka. dan akhirnya mereka pun ngawur karena otaknya diluar kemampuan berbicara tentang Tuhan, otak kita hanya dapat menangkap tuhan itu secara global. akal kita dapat menerima secara global misal tuhan itu ada , tuhan itu maha dahsyat , tuhan itu penguasa dan lainnya namun akal kita tidak dapat mendetailkan bagaimana tentang tuhan itu , bagaimana tuhan menciptakan alam semesta ini. dan mereka menduga-duga oleh karena nya mereka terjebak dengan pemikiran mereka. Imam Ibnu Al Jauzi mengatakan, orang orang falasifa ini mereka ketika berbicara tentang teologi ini mereka tidak mempunyai landasan. jika mereka berbicara sesuatu yang hissi yang nampak mereka mampu , namun dalam berbicara sesuatu yang dzohir yang tidak nampak yang tak bisa dianalogikan dengan pikiran maka ini sulit maka mereka hanya berbicara dengan persangkaan-persangkaan. Imam Ibnu Al Jauzi juga mengatakan bahwa mereka bersendirian dalam pikiran mereka, akal mereka dan mereka berbicara hanya dengan konsekuensi dari persangkaan-persangkaan mereka tanpa menengok ajaran-ajaran para nabi. akhirnya timbullah berbagai macam pendapat di kalangan mereka. ketika mereka membicarakan hal-hal yang hissi yang nampak landasan-landasan mereka dapat diterima tidak banyak khilaf dari perkataan mereka, namun ketika mereka berbicara tentang teologi ketuhanan mereka banyak khilaf nya karena tidak ada landasan yang mendasari nya karena akal dan pikiran ada batasnya. kita jangan membicarakan tentang Allah yang maha Esa, kita berbicara saja tentang masalah Ruh yang ada di jasad kita yang hadir bersama kita setiap saat. kita tidak dapat menerangkan ruh itu dari unsur apa?, bagaimana bentuknya?, bagaimana ia beredar di dalam jasad? kita tidak mengetahuinya. jika ada seribu pakar biologi , pakar fisika dan lainnya untuk berbicara tentang ruh maka akan ada seribu pendapat tentang ruh ini. karena tidak ada landasan atau pegangan untuk berbicara tentang ruh. Allah berfirman : وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا“mereka bertanya kepada engkau tentang ruh, katakanlah:’ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan engkau tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs-Al Isra:85) kalau saja kita tidak dapat berbicara tentang ruh apalagi tentang Allah subhanahu wa ta’ala. jangan tentang tuhan , tentang jin saja kita tak dapat menjelaskan , bagaimana menjelma ? bagaimana ia bisa masuk kedalam tubuh manusia?, bagaimana ia bisa merubah wujud? dan lain sebagainya. siapa yang dapat menjelaskan secara ilmiah nya. kemampuan ilmu manusia terbatas. ketika kaum falasifah tidak mempunyai landasan maka kata Imam Ibnu Al Jauzi mereka berbicara dengan persangkaan-persangkaan akhirnya mereka ngawur dan mereka berselisih yang sangat banyak. Aqidah Falasifa tentang tuhan “pencipta” ada beberapa mazhab di antara mereka :Dahriah Pencipta tidak ada Causa Prima “Sebab pertama” Alam tercipta dari sebab pertama, seakan-akan Causa prima berfungsi sebab pencipta. mereka kemasukan logika iblis, sehingga mereka mengatakan causa prima ini sangat sempurna sehingga akibat yang muncul darinya tidak boleh terlambat harus sama dengan sebab tersebut sehingga alam ini azali bersama sebab tersebut tidak boleh terlambat harus bersamaan dengan sebab. munculnya akibat (alam) dari sebab adalah konsekuensi dari sebab. mereka mengatakan akibat terjadi alam semesta ini bukan terjadi karena keinginan dari causal prima, tetapi dari konsekuensi sempurna nya causal prima tersebut mengkonsekuensikan terjadi nya alam. konsekuensinya : alam azali alam juga abadi Pencipta ada dalil nya “Karena kami melihat alam ini muhdats”*Muhdats: dari tidak ada menjadi ada contoh: kita sebagai manusia, dari yang tidak ada menjadi ada. mereka mengatakan mereka bimbang, ketika ada seorang di lautan akan tenggelam kemudian meminta pertolongan kepada tuhannya ia tidak ditolong, ini yang menjadi masalah mereka berpikir seakan-akan tuhan tidak ada , logika kami menunjukkan bahwa tuhan itu ada , tapi kenyataannya tuhan itu tidak ada.khilaf tentang hakikat tersebut , ada 3 pendapat : tuhan tersebut ketika menciptakan ia melihat ciptaannya sempurna ia takut ada perubahan maka ia bunuh diri. tuhan lemah , tuhan menciptakan makhluk lebih sempurna dan terlalu kuat. tuhan hanya melihat saja. tuhan menyebar dirinya ke seluruh alam ini semua aqidah falasifa yunani yang disampaikan oleh ibnu jauzi, dan ini murni hanya sekadar logika iblis memainkan logika mereka, mereka tidak mempunyai cahaya kenabian untuk memikirkan tentang tuhan atau mereka memaksakan memikirkan tentang tuhan dan mereka buntu , dan mereka berselisih sebagaimana yang disebutkan pada beberapa mazhab diatas. Ibnul jauzi juga menyebutkan di dalam kitab nya talbis iblis tentang masalah: Aqidah Falasifah tentang : “ILMU PENCIPTA’ - Falasifa yunani berpendapat kalau saja , pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya. ini hanya logika, mengapa falasifa ini berpendapat seperti ini karena tuhan ini sempurna, logika nya sederhana syaitan masuk kata mereka tuhan itu sempurna tuhan tidak boleh memikirkan kecuali yang sempurna juga, maka ia tidak boleh memikirkan tentang makhluk nya yang banyak kekurangan maka yang dipikirkan dirinya sendiri. jika dilihat logis , logis untuk falasifa yunani. tapi jika kita praktekkan ini adalah kekurangan masa tuhan tidak tahu. ‘Allah maha mengetahui apa yang Allah ciptakan, tidak ada satupun daun yang jatuh kecuali Allah mengetahui.‘Allah mengetahui makhluknya, Allah mengurus makhluknya. ‘betapa banyak hewan melata yang tidak dapat mengurus rezeki nya, Allah yang mengurusnya.’‘Allah mengetahui lirikkan mata, dan apa yang disembunyikan di dalam dada-nya Allah mengetahui nya.’semuanya Allah tau , tetapi logika mereka tidak ‘Allah maha sempurna, Allah tidak boleh memikirkan selain dengan diriNya sendiri’ ini logika bahaya. makanya aneh jika begini lebih sempurna makhluk dibanding tuhannya, hewan saja tahu tentang tuhannya, manusia tahu tentang penciptanya. - Ibnu sina terpengaruh dengan logika ini. dijelaskan oleh Imam Ibnu Al Jauzi, tetapi ia lebih mending sedikit. ia mengatakan “Allah mengetahui makhluk-makhluknya secara global, bukan terperinci.” jadi Allah hanya mengetahui secara sunnatullah, contoh jika orang menikah punya anak , jika orang tidak makan maka mati. Allah hanya tahu secara global nya saja adapun secara terperinci Allah tidak mengetahui nya, syubhat nya sama. Ibnu Sina mempunyai syubhat : logika Ibnu Sina makhluk itu berubah-ubah ada yang buruk dan tidak pantas Allah memikirkan ini semua. karena ini Ibnu Sina dikafirkan oleh Al Ghazali karena mengatakan Allah hanya mengetahui makhluk nya secara global tidak secara detail. ini bertentangan dengan banyak ayat. ibnu sina terjebak oleh falasifa yunani, sehingga ia berpendapat demikian dalam buku-buku nya. - Mu'tazilah yang kemudian mengatakan ‘ilmu Allah dan qudrah Allah adalah dzat nya sendiri.ini ada penjelasan detail, dan tidak dibahas karena terpengaruh dengan pemikiran filsafat bahwa saja namanya tuhan itu simple tidak boleh terlihat kasrah tidak boleh terlihat beragam itu satu dari kesatuan. tidak boleh mengatakan dzat dan ilmu Allah tapi ilmu Allah itu dzat nya sendiri . ini adalah filsafat yang tidak perlu didalami. jelaskan gambaran sederhana bagaimana iblis masuk dalam pemikiran filsafat karena ia memikirkan tuhan tanpa adanya petunjuk dari kenabian , hingga ia melogikakan sendiri. logika itu liar masing-masing memiliki logika. “HARI KEBANGKITAN”Mereka mengingkari kebangkitan jasad dan mengingkari dikembalikan ruh ke jasad. sehingga mereka mengatakan bahwa saja surga dan neraka tidak ada, ini juga mempengaruhi pemikiran Ibnu Sina dalam kitab nya ibnu sina mengatakan tidak ada kebangkitan jasad, yang ada hanya ruh. karena ini beliau juga dikafirkan oleh Al Ghazali. Allah berfirman dalam surat yasin, orang kafir berkata : وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِىَ خَلْقَهُۥ ۖ قَالَ مَن يُحْىِ ٱلْعِظَٰمَ وَهِىَ رَمِيمٌDan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"(Qs.Yasin:78) ini logika, dan logika mereka tidak sampai. contoh yang sederhana, misalkan ada manusia dimakan ikan hiu, ikan hiu dimakan lagi dengan manusia yang lainnya , sehingga biasanya satu daging saja dimakan oleh beberapa manusia sehingga ada anggota tubuh yang tergabung dengan manusia pertama. secara logika tidak mungkin ini tidak masuk dengan logika mereka dan tidak masuk dengan logika ibnu sina sehingga mereka berkata tidak ada kebangkitan jasad. ini adalah kekufuran yang mampu Allah bangkitkan semua untuk mengulangi proses kimia, yang sudah menjadi debu dapat menjadi daging kembali. intinya logika membuat orang-orang filsafat yunani terjebak dengan logika mereka karena tidak dibimbing oleh wahyu. dan diikuti oleh pengikut mereka yang lainnya. selanjutnya, setelah Imam Ibnu Al Jauzi membahas tentang falasifa dan para pengikutnya imam jauzi membuat sub bab yang judulnya “Tentang talbis iblis orang yang menyembah haikal-haikal” Maksudnya apa ? jadi Imam Al Jauzi menyebutkan ada sekelompok manusia yang mereka meyakini bahwa saja benda-benda langit di alam sana, ada ruh ruh nya. yang ruh tersebut menempati planet tersebut dan gerakan-gerakan planet tadi mempengaruhi terjadinya peristiwa-peristiwa di alam ini. jadi mereka melihat planet-planet dan planet tersebut ada ruh nya. seperti ruh bagi jasad manusia. sehingga mereka memiliki pengagungan terhadap benda langit tersebut. mereka meyakini benda langit memiliki proyeksi bentuk di atas muka bumi, misalkan planet ini mirip dengan hewan ini , planet ini mirip dengan tumbuhan ini hingga mereka membuat haikal-haikal. haikal maksudnya bentuk. logika nya seperti ini syaitan masuk membuat mereka memahami , benda-benda yang ada di langit ini itu ada ruh-ruh nya dan gerakan gerakannya mempengaruhi gerakan di dunia. dan akhirnya mereka membuat haikal-haikal,bentuk-bentuk di muka bumi ini yang menyerupai imajinasi mereka terhadap benda di langit dan benda itu mereka ibadahi. bentuk penyambung rohani-rohani dengan benda yang ada dilangit. dan mereka pun menyembahkan kurban-kurban dan meyakini planet tersebut membawa kesengsaraan atau lainnya maka mereka membawa hewan tertentu, dengan matahari yang dirasakan sempurna tidak ada kekurangan maka mereka korbankan anak yang tidak mempunyai dosa sama sekali kemudian dibunuh untuk sembahan matahari tersebut. melalui patung-patung yang mereka buat di atas muka bumi ini. setelah itu Imam Ibnu Al Jauzi menerangkan tentang “Tentang talbis iblis terhadap para penyembah berhala” kok bisa terjadi penyembahan terhadap berhala? iblis kali ini masuk atas kecintaan terhadap bentuk, kecenderungan manusia dalam melihat bentuk-bentuk yang indah, sehingga akal di buang sama sekali agar orang-orang terpengaruh dengan bentuk-bentuk kemudian digambarkan kepada mereka bahwa saja patung-patung ini adalah sesembahan yang punya pengaruh untuk disembah. jika ada sebagian dari mereka yang menggunakan akal nya mengapa mereka menyembah patung maka iblis akan menghiasi lagi dengan berkata yang kalian sembah ini adalah untuk mendekatkan diri kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala. sebagaimana perkataan orang musyrikin yang Allah dalam Al Qur’an, mereka berkata : أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَٰذِبٌ كَفَّارٌ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.(Qs.Az.Zumar:3) Iblis membuat syubhat bahwa menyembah patung ini untuk mendekatkan diri kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala. adapun asal-muasal penyembahan terhadap berhala adalah pernah disampaikan tentang cerita Nabi Nuh Alaihissalam yang dimana disitu ada orang-orang sholeh yang disebutkan “Wadd, suwa, Yaghuts, Ya’uq, Nasr” lima orang sholeh yang mereka senantiasa beribadah di suatu tempat ketika mereka meninggal, orang-orang membangun patung untuk mengenang. awalnya bukan untuk disembah tetapi untuk mengenang orang sholeh tersebut kalau dilihat membuat orang lain akan termotivasi untuk melakukan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dibuatlah patung dengan nama orang-orang shaleh tersebut. tetapi lama kelamaan berjalan dengan waktu Ibn Abbas menceritakan kisah ini “ketika para generasi yang membangun patung-patung meninggal dunia muncul generasi berikutnya dan ilmu sudah dilupakan tidak ada yang mendakwah tentang tauhid , akhirnya datanglah syaitan mengatakan ini patung-patung disembah agar mendekatkan diri kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala, akhirnya patung-patung itu disembah” kemudian berkembanglah penyembahan terhadap berhala sampai pindah ke Jazirah arab sampai ke quraish dibawa dengan seorang bernama Amr Ibn Luhay Al Khuza’i seorang pemimpin dari Khuza’ah, yang sempat menguasai kota mekah. kita mengetahui bagaimana perjalanan Nabi Ibrahim Alaihissalam ketika meletakkan anaknya ismail di kota mekkah, kemudian Ismail menikah dengan seorang wanita dari kabilah jurhum, dan kemudian setelah Ismail meninggal dunia kota mekah dikuasai oleh kabilah jurhum, lalu kabilah jurhum melakukan kemaksiatan dan akhirnya dikuasai oleh kabilah khuza’ah. kota mekah dikuasai oleh kabilah khuza’ah diantara pemimpin kabilah khuza'ah yaitu Amr ibn luhay beliau adalah pemimpin yang ditaati. maka suatu hari ia pergi ke negri syam dan mendapati berhala , orang-orang menyembah berhala dikatakan berhala ini bermanfaat maka ia bawa ke kota mekah, kemudian ia memanggil orang-orang untuk menyembah berhala tersebut. akhirnya orang-orang menyembah berhala. saat itu booming berhala, sampai setiap kabilah mempunyai berhala yang disembah, sampai suka untuk menyembah batu. Nama-nama berhala Manat : terletak antara mekah-madinah Al-Lat : yang disembah penduduk thaif Al-Uzza : di lembah nakhla Hubal : berhala di ka’bah, yang diagungkan oleh orang-orang quraisy , yang ketika perang uhud ABu Sufyan menyebut hubal “maha tinggi hubal” Isaf dan Nailah : dua sejoli yang saling mencintai di negeri yaman yang tidak bisa bertemu dan berhubungan akhirnya mereka berhaji ketika mereka berhaji dan mereka rindu, dan mereka berzinah di dalam ka’bah dan sedang berzina dalam ka’bah Allah ubah mereka menjadi patung, setelah itu orang-orang mendapati mereka menjadi patung dan dikeluarkan. awalnya di letakkan di luar ka’bah sebagai pelajaran ini adalah contoh orang yang bermaksiat, namun berjalannya waktu iblis datang membisikkan macam-macam kepada masyarakat akhirnya disembah. mereka sedang tawaf di usap , ketika ada keinginan mengundi nasib disebut. saking mereka suka dengan patung kemana-mana membawa patung, jika tidak ia akan mencari batu empat. jika ada satu yang bagus maka dijadikan tuhan dan tiga batu lainnya menjadi tungku. ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Al Jauzi ada suatu riwayat disebutkan “suatu ketika mereka berjalan di sebuah perjalanan kemudian kehilangan tuhan mereka lalu salah satu dari mereka berkata ‘carilah tuhan kalian yang baru’ karena tuhan mereka hilang akhirnya mereka mencari cari, saat sedang mencari ada lagi yang mengatakan ‘kita sudah mendapatkan tuhan kalian’” jadi mereka hobi untuk menyembah patung. jika mereka tidak mendapatkan batu, mereka ambil pasir lalu mereka tumpuk sebagai gundukan kemudian mereka tawaf dan beribadah. sampai saat ini masih banyak yang menyembah berhala, dan rata-rata berhala tersebut adalah lambang dari orang yang shaleh atau dianggap shaleh. Allah berfirman (QS.Al-A’raf:195): أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَآ ۖ أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَآ ۖ أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَآ ۖ أَمْ لَهُمْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۗ قُلِ ٱدْعُوا۟ شُرَكَآءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنظِرُونِApakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? katakanlah : “panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-Ku. tanpa memberi tangguh” وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِى هَٰذَا ٱلْقُرْءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَلَئِن جِئْتَهُم بِـَٔايَةٍ لَّيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا مُبْطِلُونَ“Dan Sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan Sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka” (Qs.Ar-Rum:58)