📝 Talbis Iblis #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Talbis Iblis #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 Juni 2026
N
Nadya Nandadita Islamina

📍 Kota Bandung

Rangkuman Kajian Talbis Iblis #4

"Talbis Iblis #4 Kepada Penganut Reinkarnasi & Khawarij" BAGIAN I: TALBIS IBLIS KEPADA PENGANUT REINKARNASI1. Perbandingan Konsep Pembalasan: Islam vs ReinkarnasiKonsep dalam Islam:Islam memiliki konsep pembalasan amal yang sangat jelas, adil, dan terperinci. Setiap perbuatan manusia di dunia akan mendapatkan balasan yang dimulai sejak di alam barzah (alam kubur) dan puncaknya di alam akhirat. Islam mengenal adanya hari kebangkitan, hari perhitungan amal di mana semua perbuatan manusia diaudit secara ketat, serta penimbangan amal sebelum akhirnya ditentukan tempat kembali di surga atau neraka.Konsep Reinkarnasi:Paham ini meyakini bahwa balasan atas perbuatan manusia di masa lalu tidak terjadi di akhirat, melainkan terjadi di dunia ini pada kehidupan berikutnya. Jika seseorang berbuat baik, maka setelah mati ia akan dilahirkan kembali ke dunia dalam tingkatan atau strata sosial yang lebih baik. Sebaliknya, jika ia berbuat buruk, ia akan dilahirkan kembali dalam kondisi yang menderita, cacat, miskin, atau bahkan menjelma menjadi hewan yang hina seperti serangga atau tikus.2. Bantahan Logis Islam terhadap Penganut ReinkarnasiInti dari sebuah konsep pembalasan yang benar adalah pelaku harus menyadari, merasakan, dan mengingat apa kesalahan atau kebaikan yang pernah ia perbuat di masa lalu.Kenyataannya, tidak ada satu pun manusia di atas muka bumi ini yang mampu mengingat kehidupan masa lalunya secara sadar.Tanpa adanya ingatan terhadap masa lalu, konsep pembalasan melalui reinkarnasi menjadi tidak ada gunanya (sia-sia) dan kehilangan fungsinya sebagai sarana pembelajaran atau hukuman yang adil.3. Syubhat (Kerancuan Berpikir) yang Memengaruhi Penganut ReinkarnasiBerdasarkan penjelasan Al-Imam Ibnu Jauzi, salah satu syubhat utama yang membuat orang memercayai reinkarnasi adalah ketika mereka melihat anak-anak kecil atau bayi yang terlahir dalam kondisi cacat, sakit, atau mengalami penderitaan yang hebat.Penganut reinkarnasi menyimpulkan bahwa tidak mungkin Tuhan memberikan penderitaan kepada anak kecil yang belum memiliki dosa, kecuali penderitaan itu adalah dampak atau hukuman dari dosa-dosa yang mereka lakukan pada kehidupan di masa lalu.4. Tahapan Reinkarnasi Menurut Paham TertentuPaham ini menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, jiwanya akan berpindah ke suatu alam transisi.Jika jiwanya baik, ia akan bercampur dengan cahaya matahari lalu menitis pada tumbuh-tumbuhan atau sayur-sayuran. Ketika sayuran itu dimakan oleh manusia, ruh tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia dan dilahirkan kembali melalui rahim seorang wanita dengan kondisi atau strata sosial yang tinggi.Jika jiwanya buruk, ruhnya akan menitis pada serangga, yang kemudian dimakan oleh hewan lain, lalu lahir kembali menjadi hewan yang hina. Konsep ini meyakini bahwa ia baru bisa kembali menjadi manusia setelah melewati waktu ribuan tahun.5. Kisah-Kisah Khurafat Terkait ReinkarnasiKisah Kucing Hitam: Abu Bakar Ibnu Falas menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang penganut paham Syiah yang terpengaruh reinkarnasi. Orang tersebut sedang mengusap-usap seekor kucing hitam hingga kucing itu meneteskan air mata, lalu orang tersebut ikut menangis histeris. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa kucing hitam itu adalah reinkarnasi mendiang ibunya yang sedang menangis karena menyesali perbuatannya di masa lalu.Kisah Kambing di India: Seorang mahasiswa di Madinah menceritakan bahwa di India, ketika ia berkunjung ke rumah temannya, ada seekor kambing yang masuk ke dalam rumah. Temannya langsung menyayangi kambing tersebut karena meyakini bahwa kambing itu adalah reinkarnasi pamannya yang baru saja meninggal dunia.Kisah Reinkarnasi Sultan: Ada orang di zaman modern yang mengubah gaya hidupnya secara ekstrem menjadi sangat mewah dan ingin memiliki banyak selir. Hal ini ia lakukan setelah diyakinkan oleh seseorang bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari seorang sultan atau raja besar yang hidup beberapa abad lalu.BAGIAN II: TALBIS IBLIS KEPADA KAUM KHAWARIJ6. Karakteristik Utama dan Pola Godaan Iblis kepada KhawarijKhawarij adalah golongan atau kelompok bidah (firqah) pertama yang muncul dalam sejarah Islam.Cara iblis menjerumuskan kaum Khawarij berbeda dengan cara iblis menggoda orang yang gemar bermaksiat. Jika kepada pelaku maksiat iblis menghiasi kemaksiatan (seperti zina, narkoba, khamar, dan musik), maka kepada kaum Khawarij iblis masuk melalui jalur kelebihan dan semangat ibadah yang ekstrem.Kaum Khawarij digoda untuk merasa memiliki tingkat ketakwaan yang lebih tinggi daripada orang lain. Akibatnya, muncul sifat ujub (bangga diri) dan su'udzon (berburuk sangka) yang parah terhadap umat Islam lainnya. Karena menganggap diri mereka paling suci, mereka menjadi sangat mudah mengkafirkan (takfir) kaum muslimin yang melakukan dosa atau tidak sejalan dengan pemikiran mereka.7. Cikal Bakal Khawarij di Zaman Nabi Muhammad SAWPelopor atau nenek moyang pemikiran Khawarij muncul pertama kali di zaman Nabi, yaitu seorang pria bernama Dzul Khuwaishirah At-Tamimi.Ciri fisiknya digambarkan memiliki mata cekung, dahi menonjol, jenggot lebat, kain sarung yang digulung tinggi, dan kepalanya botak.Saat Nabi Muhammad SAW sedang membagikan harta rampasan (ghanimah) kepada para mualaf demi melunakkan hati mereka, pria ini memprotes pembagian tersebut secara lisan dengan sombong dan berkata, "Bertakwalah kepada Allah, wahai Muhammad, berlakulah adil!"Nabi menegurnya dengan menegaskan bahwa beliaulah orang yang paling bertakwa di bumi dan pemegang amanah langit. Ketika pria itu pergi, Nabi memprediksi bahwa dari keturunan atau pengikut orang inilah akan lahir suatu kaum yang rajin membaca Al-Qur'an, namun bacaan tersebut hanya di mulut saja dan tidak pernah melewati kerongkongan mereka (tidak masuk ke hati). Mereka akan keluar dari agama Islam secepat anak panah menembus hewan buruannya.8. Munculnya Khawarij Sebagai Gerakan di Zaman Ali bin Abi ThalibGerakan Khawarij meletus menjadi aksi nyata pasca-terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, yang memicu perbedaan ijtihad politik antara kubu Khalifah Ali bin Abi Thalib dan kubu Mu'awiyah. Perbedaan ini memuncak pada pertempuran (Perang Jamal dan Perang Shiffin).Ketika kedua kubu sepakat untuk menghentikan perang dan menempuh jalan damai melalui perundingan (Tahkim), sekelompok pasukan Ali merasa tidak puas. Sebanyak dua belas ribu orang memisahkan diri dan mendirikan markas tersendiri.Mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-Asy'ari, serta seluruh kaum muslimin yang menyetujui perdamaian tersebut. Mereka menggunakan slogan politis berbasis ayat Al-Qur'an: "Tidak ada hukum kecuali milik Allah."9. Dialog Sejarah: Sahabat Ibnu Abbas Mematahkan Syubhat KhawarijSahabat Ibnu Abbas meminta izin kepada Khalifah Ali untuk mendatangi markas Khawarij guna melakukan diskusi. Ibnu Abbas mendapati penampilan fisik mereka sangat meyakinkan: dahi mereka terluka karena terlalu sering sujud, tangan mereka kapalan, pakaian mereka sangat sederhana, dan wajah mereka pucat karena sering terjaga untuk shalat malam serta berpuasa. Namun, Ibnu Abbas berhasil mematahkan tiga syubhat utama mereka:Syubhat Pertama: Mengapa Ali melibatkan manusia dalam memutuskan urusan agama Allah?Bantahan Ibnu Abbas: Allah sendiri di dalam Al-Qur'an menyerahkan urusan hukum kepada manusia untuk perkara-perkara kecil, seperti menentukan denda berburu saat ihram melalui dua orang saksi yang adil, atau mengirim utusan (hakam) dari pihak suami dan istri untuk mendamaikan keretakan rumah tangga. Jika Allah mengizinkan manusia menghukumi masalah hewan buruan dan rumah tangga, maka melibatkan manusia untuk menyelamatkan darah ribuan kaum muslimin jauh lebih utama.Syubhat Kedua: Mengapa Ali berperang tetapi tidak menawan wanita atau mengambil harta rampasan (ghanimah)?Bantahan Ibnu Abbas: Dalam Perang Jamal, pihak lawan dipimpin oleh Ummul Mukminin Aisyah (istri Nabi). Ibnu Abbas bertanya kepada mereka, "Apakah ada di antara kalian yang berani menghina kehormatan Aisyah atau menjadikannya sebagai budak tawanan wanita?" Kaum Khawarij terdiam karena Al-Qur'an menegaskan bahwa istri-istri Nabi adalah ibunda bagi kaum mukmin.Syubhat Kedua: Mengapa Ali bersedia menghapus gelar "Amirul Mukminin" saat kesepakatan damai?Bantahan Ibnu Abbas: Tindakan Ali meniru langsung tindakan Nabi Muhammad SAW dalam Perjanjian Hudaibiyah. Saat itu, kaum musyrikin Mekah menolak penulisan gelar "Rasulullah", sehingga Nabi dengan berlapang dada menghapusnya dan menggantinya dengan "Muhammad bin Abdillah" agar perdamaian bisa tercapai.Hasil dari diskusi ilmiah ini membuat dua ribu orang Khawarij sadar, bertobat, dan kembali bergabung dengan pasukan Khalifah Ali, sementara sisanya tetap memilih sesat.10. Kekejaman Kaum Khawarij dan Perang NahrawanSisa kaum Khawarij yang keras kepala mulai melakukan aksi teror. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Sahabat Abdullah bin Khabbab. Setelah mengonfirmasi sebuah hadis tentang fitnah akhir zaman, kaum Khawarij justru menyembelih Abdullah bin Khabbab di tepi sungai secara keji. Tidak hanya itu, mereka juga membelah perut budak wanitanya yang sedang hamil tua dan membunuh bayi di dalamnya.Mendengar kabar kekejaman yang ekstrem ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib meminta mereka menyerahkan pelaku pembunuhan. Kaum Khawarij menantang dengan menjawab, "Kami semua yang membunuhnya!"Karena mereka sudah mulai menumpahkan darah kaum muslimin dan mengancam stabilitas negara, Khalifah Ali mengerahkan pasukan untuk memerangi mereka secara total dalam Perang Nahrawan, hingga kekuatan mereka hancur.11. Tragedi Pembunuhan Ali bin Abi Thalib oleh Abdurrahman bin MuljamPasca-kekalahan di Nahrawan, tiga orang sisa Khawarij berkumpul di Mekah dan bersumpah untuk membunuh tiga tokoh besar Islam sekaligus: Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah, dan Amr bin Ash.Abdurrahman bin Muljam mendapat tugas untuk mengeksekusi Khalifah Ali di Kufah. Pada suatu subuh di bulan Ramadan, saat Ali berjalan menuju masjid untuk shalat subuh, Abdurrahman bin Muljam menikam kepala Ali dengan pedang yang telah direndam racun mematikan selama satu bulan penuh. Tikaman tersebut menembus otak dan menyebabkan wafatnya menantu Rasulullah tersebut.12. Ironi Kematian Abdurrahman bin Muljam (Puncak Talbis Iblis)Setelah ditangkap, Abdurrahman bin Muljam dijatuhi hukuman mati dengan cara dipotong tangan dan kakinya, serta matanya ditusuk dengan besi panas. Selama proses eksekusi fisik yang menyakitkan itu, ia sama sekali tidak berteriak atau mengeluh, melainkan terus dengan tenang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.Namun, ketika algojo hendak memotong lidahnya, ia baru menunjukkan rasa takut dan menangis. Ketika orang-orang heran mengapa ia baru takut saat lidahnya dipotong, ia menjawab bahwa ia takut mati dalam kondisi sedetik pun tidak berzikir kepada Allah.Ustaz Firanda menutup ceramah dengan menegaskan betapa mengerikannya talbis iblis ini. Orang yang melihat kematian Abdurrahman bin Muljam secara sekilas mungkin akan mengiranya sebagai seorang wali Allah karena keteguhannya dalam berzikir dan membaca Al-Qur'an di saat-saat terakhir. Padahal, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam, ia adalah manusia paling celaka di zamannya dan termasuk dalam golongan "anjing-anjing penghuni neraka jahanam" karena telah membunuh salah satu sahabat terbaik, Ali bin Abi Thalib.

💬 0 komentar📅 4 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 Juni 2026
L
Lisna Febriani

📍 Kota Tasikmalaya

Talbis Iblis 4

Talbis Iblis 4: Talbis Iblis Kepada Penganut Reinkarnasi & KhawarijReinkarnasi awal mulanya berasal dari India kemudian menjalar sampai ke sebagian kaum muslimin yang terpengaruh.Syubhatnya: Kondisi seseorang saat ini adalah bentuk dari akibat perbuatannya di masa lalu (kehidupannya di zaman sebelumnya)Khawarij: Kelompok yang pertamakali muncul di zaman para sahabat & asal muasalnya muncul di zaman nabi shalallahu alaihi wassalam Talbisnya:• Mereka (kelompok khawarij) merasa lebih hebat dari pada nabi shalallahu alaihi wassalam dan sahabat• Mereka merasa syariat ini kurang. Jadi mereka ujub terhadap diri mereka, ujub terhadap ketakwaan, sehingga suudzon terhadap orang lain. Husnudzon kepada diri sendiri, merasa hebat.Iblis menjerumuskan mereka kepada sikap guluw (berlebih-lebihan) ekstrim dalam beragama. Rajin ibadah solat malam, puasa. Sehingga mereka mudah mengkafirkan orang lain ketika orang lain tidak melakukan apa yang ia lakukan. Mereka menjadikan orang lain sebagai barometer seperti mereka.

💬 0 komentar📅 4 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 Juni 2026
A
Alfiah fajri

📍 Kota Bogor

Talbis iblis 4

TALBIS IBLIS 4​Talbis Iblis Kepada Penganut Reinkarnasi & Khawarij​## REINKARNASI​Asal-usul: Awal mulanya berasal dari India kemudian menjalar sampai ke sebagian kaum muslimin yang terpengaruh.​SYUBHATNYA: Kondisi seseorang saat ini adalah bentuk dari akibat perbuatannya di masa lalu (kehidupannya di zaman sebelumnya).​## KHAWARIJ​Kelompok yang pertamakali muncul di zaman para sahabat & asal muasalnya muncul di zaman nabi shalallahu alaihi wassalam.​TALBISNYA:​Poin 1: Mereka (kelompok khawarij) merasa lebih hebat dari pada nabi shalallahu alaihi wassalam dan sahabat.​Poin 2: Mereka merasa syariat ini kurang. Jadi mereka ujub terhadap diri mereka, ujub terhadap ketakwaan, sehingga suudzon terhadap orang lain. Husnudzon kepada diri sendiri, merasa hebat.​Poin Tambahan (Tanda Seru): Iblis menjerumuskan mereka kepada sikap guluw (berlebih-lebihan) ekstrim dalam beragama.​Rajin ibadah solat malam, puasa. Sehingga mereka mudah mengkafirkan orang lain ketika orang lain tidak melakukan apa yang ia lakukan.​Mereka menjadikan orang lain sebagai barometer seperti mereka.​Waspadalah dari segala tipu daya Iblis.Teguhkan aqidah, ikuti syariat, dan jaga lisan serta hati.

💬 0 komentar📅 4 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 Juni 2026
L
Lathifah Aulia Dewi

📍 Kabupaten Boyolali

003 Talbis Iblis Terhadap Filsuf Yunani & Penyembah Berhala (Bab V)

Talbis Iblis terhadap Falasifah (Ahli Filsafat Yunani) dan Orang-Orang yang MengikutinyaFalasifah seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Plotunis, dll, adalah orang-orang yang sangat cerdas. Mereka menulis tentang hal-hal hissiyah (nampak) seperti biologi, kimia, fisika, kemudian pemikiran mereka tertuang dalam buku, diterjemahkan dalam bahasa Arab terutama di zaman Khalifah Al-Makmun, sehingga kaum muslimin kagum terhadap pemikiran mereka. Hal-hal detail perkara dunia ini belum pernah dibicarakan oleh kaum muslimin.Masalah: mereka berbicara tentang teologi (ketuhanan) berpangku dengan kecerdasan otak, tidak menyambut sinar kenabian, tidak berusaha melihat penjelasan para rasul. Mereka memikirkan Tuhan secara istiqlal (merdeka). Otak kita hanya bisa menangkap Tuhan secara global. Tuhan itu ada, Tuhan Maha Kuasa, Tuhan Maha Dahsyat. Namun, secara detail, Tuhan itu bagaimana, proses penciptaan, tidak bisa diduga-duga. Mereka terjebak dengan dzhon (persangkaan) mereka. Mereka tidak punya landasan. Perkara hissiyah OK, tapi tentang perkara gaib maka sulit.Timbullah berbagai macam pendapat di kalangan mereka. Dalam perkara hissiyah rata-rata mereka sepakat, tetapi ketika bicara perkara ketuhanan mereka banyak khilaf (berbeda pendapat), karena mereka tidak punya landasan. Ruh yang ada di jasad kita, kita tidak bisa menerangkan ruh itu dari unsur apa, bagaimana bentuknya, gemuk atau kurus, bagaimana beredar dalam tubuh, dll. Jin, bagaimana bisa menjelma, bagaimana masuk ke tubuh manusia? Kita tidak bisa menjelaskan secara ilmiah. Kalau tentang itu saja kita tidak bisa menjelaskan secara pasti maka bagaimana tentang Allah?A. Aqidah Falasifah tentang PenciptaBeberapa madzhab kalangan mereka:Pendapat ke-1. Ad-DahriyyahPencipta tidak ada. Alam terjadi begitu saja.Pendapat ke-2. Socrates, Plato, AristotelesAlam tercipta dari “al-’illah” “sebab pertama” (kausa prima). Kausa prima adalah suatu yang sangat simpel, statis. Kausa prima inilah yang seakan-akan berfungsi sebagai sebab penciptaan. Masalah: mereka tidak menempatkan kausa prima sebagai Pencipta. Akhirnya pendapat 1 dan 2 mirip.Kausa prima tersebut azali bersama alam → karena sebab tersebut sempurna sehingga akibatnya tidak boleh terlambat, harus bersamaan.Sebab dan akibat persis bersamaan.Munculnya akibat (alam) dari sebab adalah konsekuensi dari sebab, bukan kehendak kausa prima. →Akibat alam semesta ini bukan terjadi dari keinginan dari kausa prima, tetapi dia terjadi karena konsekuensi dari sempurnanya kausa prima tersebut. Kausa prima mengkonsekuensikan adanya alam.Islam: Tuhan menciptakan karena Tuhan ingin menciptakan.Konsekuensinya, alam azali. Alam juga abadi.Semua pendapat mereka berlandaskan logika mereka sendiri, tanpa dalil, yang bertentangan dengan agama Islam.Pendapat ke-3:“Pencipta itu ada, dalilnya karena kami melihat alam ini muhdats (dari tidak ada menjadi ada). Namun, kami bimbang, ketika ada seseorang hampir tenggelam di laut, dia minta tolong kepada Tuhannya, tetapi dia tidak ditolong. Seakan-akan Tuhan itu tidak ada. Logika kami Tuhan itu ada, tapi kenyataannya Tuhan tidak ada.”Mereka pun khilaf tentang hakikat pencipta tersebut. Ada beberapa pendapat:Alam sudah sempurna, Tuhan bunuh diri.Makhluk terlalu hebat, Tuhan lemah hanya nonton. Tuhan sudah membuat sistem, aturan berlaku, tuhan hanya menonton. Buktinya ada kejahatan, bencana alam, tuhan sudah tidak bisa mengatur lagi ini. Kalau tuhan ada seharusnya tidak ada lagi keburukan.Tuhan menyebar dirinya ke seluruh alam.B. Aqidah Falasifah tentang Ilmu PenciptaFALASIFAH YUNANIFalasifah Yunani mengatakan bahwa Pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya.Tuhan itu sempurna, tuhan tidak boleh memikirkan kecuali yang sempurna pula, yaitu dirinya semata. maka Dia tidak boleh memikirkan makhluknya yang penuh kekurangan.Islam:Allah mengetahui semua yang Allah ciptakan.أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ Referensi: https://tafsirweb.com/11042-surat-al-mulk-ayat-14.htmlTidak ada satu daun pun jatuh kecuali Allah mengetahui.وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا Referensi: https://tafsirweb.com/2183-surat-al-anam-ayat-59.htmlAllah mengtahui makhluk-Nya, Allah mengurus makhluk-Nya.وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا ٱللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُArtinya: Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Referensi: https://tafsirweb.com/7286-surat-al-ankabut-ayat-60.htmlAllah tahu lirikan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.يَعْلَمُ خَآئِنَةَ ٱلْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى ٱلصُّدُورُArtinya: Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.Pendapat mereka aneh, masa makhluk lebih sempurna dari tuhan? Manusia saja memikirkan banyak hal, apa mungkin Tuhan hanya bisa memikirkan diri-Nya sendiri?IBNU SINALogika falasifah Yunani ini memengaruhi pemikiran Ibnu Sina. Namun lebih mending pemikiran Ibnu Sina. Kata Ibnu Sina, Allah mengetahui makhluk-makhluk-Nya secara global (kulliy), bukan terperinci. Allah hanya mengetahui secara sunnatullah: orang menikah punya anak, orang gak makan bisa mati, dll. Adapun secara terperinci si A sedang apa, Allah tidak tahu.Logika Ibnu Sina: makhluk itu berubah-ubah dan ada yang buruk, tidak pantas Allah memikirkan ini semua. Gara-gara ini, Ibnu Sina dikafirkan oleh Al-Ghazali. Logika Ibnu Sina terjebak pada pendapat filsuf Yunani dan bertentangan dengan berbagai ayat.MU’TAZILAHIlmu Allah dan qudroh Allah adalah dzat-Nya sendiri.C. Aqidah Falasifah tentang Hari KebangkitanMereka mengingkati kebangkitan jasad dan mengingkari dikembalikan ruh ke jasad.Surga dan neraka tidak ada.Dua poin ini memengaruhi pemikiran Ibnu Sina.Ibnu Sina dalam kitab … “Tidak ada kebangkitan jasad, yang ada hanya kebangkitan ruh.” Gara-gara ini juga beliau dikafirkan oleh Al-Ghazali.Mengingkari kebangkitan jasad sama dengan pemikiran kaum musyrikin Arab zaman dahulu.Logika mereka tidak sampai.Talbis Iblis terhadap Penyembah BerhalaIblis masuk pada kecenderungan manusia untuk melihat bentuk-bentuk yang indah, akal dibuang.Kenapa bisa menyembah patung? Iblis membuat syubhat bahwa penyembahan tersebut dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.Asal usul penyembahan berhala: kisah kaum Nabi Nuh. Ada lima orang shalih. Mereka meninggal. Orang-orang membuat patung untuk mengenang mereka, sehingga kalau dilihat masyarakat termotivasi untuk beribadah. Patung-patung tersebut diberi nama sesuai nama orang-orang shalih tersebut. Seiring berjalannya waktu, generasi yang membuat patung tersebut meninggal dunia → generasi baru lahir → ilmu dilupakan → kurangnya dakwah tauhid → syaithan mengatakan ini patung untuk disembah agar mendekatkan kalian kepada Allah!Berkembang penyembahan berhala sampai ke jazirah Arab, akhirnya sampai ke kaum Quraisy dibawa oleh Amr bin Luhay Al-Khuza’i—seorang pemimpin dari Bani Khuza’ah. Dulu Khuza’ah sempat menguasai Kota Mekah. Kita tahu perjalanan Nabi Ibrahim meletakkan Ismail di Kota Mekah → Ismail menikah dengan wanita dari kabilah Jurhum → Ismail meninggal, Kota Mekah dikuasai oleh kabilah Jurhum → Kabilah Jurhum melakukan berbagai kemaksiatan → Kota Mekah dikuasai oleh kabilah Khuza’ah. Di antara pemimpin Khuza’ah adalah Amr bin Luhay Al-Khuza’i—pemimpin yang ditaati. Dia pergi ke Syam, orang-orang menyembah berhala, dia bawa berhala ke Kota Mekah, dia panggil orang-orang untuk menyembahnya. Sampai masing-masing kabilah punya berhala untuk disembah.Maka ada berhala bernama Manat di Sahil Bahr. Latta di Tha’if. Berhala Uzza di Nakhla. Hubal di Kakbah (yang diagungkan orang Quraisy. Ketika Perang Uhud, Abu Sofyan menyebut Hubal “Maha Tinggi Hubal”). Ada berhala bernama Isaf dan Na-ilah, laki-laki dan perempuan yang saling mencintai di negeri Yaman. Mereka tidak bisa bertemu dan tidak bisa berhubungan. Akhirnya mereka berhaji. Ketika sedang berhaji, mereka rindu. Mereka melihat orang sedang lalai maka mereka masuk dan berzina di dalam Kakbah. Allah pun mengubah mereka menjadi patung. Orang-orang mendapati kondisi mereka telah menjadi patung, dikeluarkan dan diletakkan di luar sebagai pelajaran. Iblis membisikkan sehingga orang-orang menyembahnya. Kalau lagi thawaf diusap, kalau ingin melakukan sesuatu mereka mengundi nasib di depan patung tersebut, dll. Saking sukanya mereka menyembah patung, mereka selalu membawa patung kemanapun. Kalau lupa membawa “tuhan”, mereka mencari empat batu, yang paling bagus dijadikan tuhan, yang tiga dijadikan tungku untuk masak (?)Bahkan dalam suatu riwayat ketika orang kehilangan tuhan mereka dalam perjalanan maka ada yang berkata carilah tuhan yang baru karena tuhan kalian hilang.Jika mereka tidak mendapatkan batu, mereka mengumpulkan pasir lalu dikasih semacam susu dan dibentuk lalu mereka thawaf.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

Materi 3 - Talbis Iblis Terhadap FIlsuf Yunani & Penyembah Berhala

Lanjutan Bab 5Talbis Iblis terhadap Filsuf Yunani (Falasifah)Para filsuf (seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Plutinus) sangat jenius dalam ilmu eksak (biologi, fisika, kimia). Namun, mereka tersesat saat membahas teologi (ketuhanan) karena bersandar murni pada kecerdasan otak tanpa bimbingan wahyu.Memikirkan Tuhan secara mandiri (istiqlal) tanpa wahyu membuat mereka hanya meraba-raba (zhun/persangkaan). Ibnu Jauzi menyoroti: memikirkan "ruh" yang ada di jasad manusia saja akal tidak mampu dan memunculkan ribuan pendapat, apalagi memikirkan Dzat sang Pencipta.Jika dalam urusan sains mereka sering sepakat, dalam urusan ketuhanan mereka justru sangat banyak berselisih karena ketiadaan landasan ilmu yang pasti.Aqidah Falasifah tentang "Pencipta"Dahriyyah: Menolak keberadaan Tuhan secara mutlak. Alam ini terjadi begitu saja tanpa ada pencipta.Kausa Prima / Sebab Utama: Mereka menolak menyebut Tuhan sebagai "pencipta yang berkehendak". Mereka menggantinya dengan istilah Kausa Prima (Sebab Utama) yang statis.Karena Kausa Prima itu sangat sempurna, maka "akibat" (alam semesta) tidak boleh muncul terlambat. Sebab dan akibat harus muncul bersamaan.Mereka menganggap alam semesta ini Azali (sudah ada sejak dahulu kala tanpa awal) dan Abadi bersama Tuhan. Alam terjadi sebagai "konsekuensi" logis dari Tuhan, bukan karena "kehendak" Tuhan untuk menciptakannya.Mengakui Pencipta tapi Menafikan Fungsinya: Mereka melihat alam ini muhdats (berubah/baru), jadi pasti ada penciptanya. Tapi saat manusia butuh bantuan (misal: saat tenggelam), Tuhan seolah tidak ada. Akhirnya mereka khilaf tentang hakekat penciptaan: (1) Tuhan bunuh diri setelah melihat alam ciptaannya sudah sempurna agar alam tidak berubah lagi. (2) Tuhan itu lemah dan hanya bisa menonton karena alam sudah punya sistem yang berjalan sendiri. (3) Tuhan menyebar dirinya ke seluruh alam semesta.Kesesatan tentang "Ilmu Pencipta"Ilmu Tuhan Terbatas: Filsuf Yunani (Aristoteles & Plato) meyakini bahwa karena Tuhan itu sempurna, Tuhan tidak boleh memikirkan hal-hal yang penuh kekurangan (makhluk). Tuhan hanya memikirkan Diri-Nya sendiri dan tidak tahu-menahu urusan makhluk-Nya.Pengaruh ke Ibnu Sina & Mu'tazilah: Logika ini mempengaruhi Ibnu Sina, yang akhirnya berpendapat bahwa Allah hanya mengetahui hal-hal besar secara global (kulliy), tapi tidak tahu rincian detail makhluk-NyaIni juga mempengaruhi kaum Mu'tazilah yang menganggap Ilmu dan Qudrah Allah itu bukanlah sifat yang berdiri sendiri, melainkan Dzat-Nya itu sendiri (karena menolak adanya "keragaman" pada diri Tuhan).Aqidah Falasifah tentang Hari Kebangkitan Berlandaskan logika (seperti: bagaimana nasib jasad yang dimakan hiu, lalu hiu dimakan manusia lain), mereka mengingkari kebangkitan fisik. Mereka menolak adanya wujud Surga dan Neraka secara fisik, dan meyakini bahwa yang dibangkitkan kelak hanyalah ruh (pendapat yang juga diikuti oleh Ibnu Sina dan dikafirkan oleh Al-Ghazali).Talbis Iblis terhadap Ashabul Hayakil (Penyembah Benda Langit)Kehidupan di Benda Langit: Mereka meyakini planet, matahari, dan bulan memiliki ruh yang mempengaruhi kejadian (nasib/bencana) di bumi.Pembuatan Haikal: Mereka membuat haikal (patung/proyeksi) di bumi yang dianggap mewakili planet-planet tersebut untuk diibadahi.Ritual Pengorbanan: Mereka melakukan kurban yang keji. Contohnya: karena matahari dianggap suci/tanpa cacat, mereka mengorbankan anak kecil yang bersih dari dosa dan membunuhnya di depan patung perwakilan matahari.Talbis Iblis terhadap Penyembah BerhalaAsal Usul (Kaum Nabi Nuh): Berawal dari patung 5 orang saleh (Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya'uq, Nasr). Awalnya hanya dibuat untuk mengenang dan memotivasi ibadah. Namun setelah generasi berganti dan ilmu agama hilang, Iblis membisikkan generasi baru untuk menyembah patung-patung tersebut.Masuk ke Jazirah Arab: Berhala diimpor ke Mekah oleh pemimpin Bani Khuza'ah, Amr bin Luhay al-Khuza'i, dari negeri Syam. Sejak itu kesyirikan merajalela.Berhala-berhala Terkenal: Muncul berhala seperti Latta, Uzza, Manat, hingga Hubal di Ka'bah. Bahkan ada Isaf dan Na'ilah (dua orang yang berzina di dalam Ka'bah lalu dikutuk menjadi batu, namun akhirnya malah diusap dan disembah oleh kaum musyrikin).Tingkat Kebodohan Akal: Mereka sangat fanatik menyembah batu. Jika bepergian tidak bawa patung, mereka mencari 4 batu (3 untuk tungku masak, 1 untuk dijadikan Tuhan). Jika tidak ada batu, mereka menumpuk pasir, memerah susu di atasnya hingga mengeras, lalu di-thawaf-i.Kritik Al-Quran: Hal ini menunjukkan manusia yang pintar urusan dunia (teknologi/kapal), bisa sangat buta akalnya dalam aqidah. Mereka menyembah batu yang tidak bisa melihat dan mendengar, padahal batu itu mereka pahat dengan tangan mereka sendiri. Iblis berhasil menipu mereka dengan syubhat: "Kami menyembah berhala ini hanya agar mereka mendekatkan kami kepada Allah" (QS. Az-Zumar: 3).

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
U
Ulfa Puspitasari

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Ringkasan bab 3 Talbis iblis terhadap filsuf yunani dan penyembah berhala

Talbis iblis #3 : Tablis Iblis terhadap Filsuf Yunani & Penyembah Berhala -Ustadz dr.Firanda-Konteks Kajian dan Bab 5 Talbis Iblis• Kajian ini melanjutkan topik tentang penyimpangan aqidah oleh kelompok-kelompok tertentu.• Bab kelima membahas tipuan iblis terhadap kaum falasifah (ahli filsafat), khususnya yang berasal dari pengaruh Yunani dan Tabi’in.• Ibnul Jauzi mengurai bagaimana iblis masuk ke pemikiran mereka hingga menyebabkan kesesatan dalam memahami Tuhan dan realitas ghaib.Profil Umum Kaum Falasifah• Tokoh utama: Socrates, Plato, Aristoteles, dan lainnya, adalah orang sangat pintar, menulis tentang biologi, kimia, dan fisika dengan pemikiran tinggi.• Karya-karya mereka diterjemahkan ke bahasa Arab pada masa Khalifah al-Ma’mun, sehingga kaum muslimin terpesona akan capaian ilmiah mereka.• Namun, permasalahan muncul saat mereka membicarakan teologi dan Ketuhanan, mengandalkan akal dan logika saja tanpa memperhatikan wahyu dan nabi.Keterbatasan Akal dalam Teologi• Falasifah cenderung berpikir secara independen tentang Tuhan, tanpa petunjuk kenabian.• Akibatnya, mereka ngawur saat berbicara tentang sifat-sifat Tuhan dan proses penciptaan karena akal manusia hanya mampu memahami hal-hal yang bersifat hina (hissiyah) yang nampak, bukan hal ghaib.• Mereka hanya menggunakan dugaan (dzunnun) tanpa dasar yang kuat.Persangkaan Tanpa Landasan yang Jelas• Ibnul Jauzi menyebut kaum falasifah berbicara tentang teologi semata-mata dari persangkaan dan tanpa landasan yang valid.• Mereka tidak merujuk kepada wahyu, hanya berdialog dan berdebat berdasarkan akal saja.• Ketidaktahuan ini menyebabkan mereka bertentangan dan menghasilkan berbagai pendapat yang saling berselisih.Pendapat Falasifah dalam Ilmu Hissiyah dan Ketuhanan• Dalam ilmu-ilmu dunia (biologi, kimia, fisika) mereka relatif sepakat dan cerdas.• Namun saat masuk ke pembahasan tentang Ketuhanan, mereka kehilangan pijakan ilmiah dan logika yang benar.• Contohnya dalam pembahasan "ruh" yang tidak dapat dijelaskan berdasarkan unsur materi yang dikenal, sehingga pendapat mereka beragam dan tidak pasti.Keterbatasan Ilmu Manusia dan Keghaiban Jin• Falasifah tidak bisa menjelaskan fenomena gaib seperti jin, roh, dan sebagainya secara ilmiah.• Fenomena jin yang dapat menjelma, berbicara, atau masuk ke tubuh manusia tidak dapat dijelaskan oleh logika dan ilmu mereka.• Ini adalah contoh batas kemampuan akal dan ilmu manusia yang menyebabkan kekeliruan mereka dalam memahami realitas gaib dan Tuhan.Tiga Pendapat Besar dalam Filsafat Yunani tentang Tuhan dan Alam Semesta1. Tidak Ada Tuhan :  Alam ini ada tanpa pencipta,  Menolak keberadaan Tuhan2. Causa Prima (Sebap Utama) : Ada sebab utama yang disebut causa prima yang menyebabkan alam ada, tapi bukan Tuhan sejati. Causa prima dianggap eksis sejak azali bersamaan dengan alam semesta, bukan pencipta mutlak3. Tuhan Ada Tapi Tak Aktif : Tuhan ada sebagai pencipta, tapi tidak berkehendak dan tidak mengatur alam. Tuhan pasif, tunduk pada logika sebab akibat• Mereka menolak konsep penciptaan dunia dari ketiadaan (creatio ex nihilo).• Causa prima dianggap sebagai sebab pertama yang ada secara azali bersamaan dengan alam.Konsep Causa Prima dan Kekeliruan Logika Sebab-Akibat• Falasifah mengatakan sebab dan akibat bersamaan karena sebab sempurna (causa prima) tidak mungkin terlambat menyebabkan akibat.• Ibnul Jauzi menolak ini dengan membandingkan dengan ajaran Islam:Artinya, Tuhan menciptakan dengan kehendak langsung, bukan konsekuensi logis semata.Alam Semesta sebagai Konsekuensi, Bukan Kehendak• Falasifah menganggap alam muncul sebagai efek logis dari kesempurnaan causa prima bukan kehendak.• Mereka menegaskan bahwa Tuhan (atau causa prima) tidak punya kehendak aktif dalam menciptakan.• Ibnul Jauzi menyatakan ini bertentangan dengan aqidah Islam yang percaya bahwa pencipta adalah Maha Berkehendak dan Maha Kuasa.Dampak Filsafat Yunani pada Pemikiran Islam dan Kelompak Firqoh• Pemikiran falasifah memengaruhi berbagai kelompok seperti Jahmiyah, Mu'tazilah, dan lain-lain dalam mengembangkan spekulasi tentang Tuhan, ilmu, dan sifat-sifat ketuhanan.• Ini mengakibatkan adanya perdebatan dan kesesatan aqidah terkait ilmu dan sifat Tuhan.Tiga Pendapat Falasifah tentang Tuhan Menurut Ibnul Jauzi1. Tuhan bunuh diri : Tuhan menciptakan alam lalu menghilang karena takut kepada perubahan2 Tuhan lemah : Tuhan mencipta tapi tidak mampu mengatur karena kesempurnaan ciptaan muncul masalah3 Tuhan menyebar ke seluruh alam (pantheisme) : Tuhan menyatu dengan ciptaan, tidak terpisah• Semua pendapat adalah kesesatan dan tipuan iblis dalam logika falasifah.Falasifah dan Ketidaktahuan Tuhan terhadap Ciptaannya• Aristoteles dan sejumlah falasifah berpendapat Tuhan tidak berilmu tentang ciptaan, hanya berilmu akan dirinya sendiri.• Ibnul Jauzi mengkritik ini sebagai logika yang ngawur karena bertentangan dengan keyakinan Islam:Allah mengetahui segala makhluk-Nya bahkan rincian terkecil.• Keyakinan mereka menyiratkan Tuhan sempurna tapi tidak tahu urusan ciptaan—ini sesat.Pengaruh Filosofi Yunani terhadap Ibnu Sina dan Mu'tazilah• Ibnu Sina menerima sebagian logic Yunani, seperti Tuhan hanya mengetahui makhluk secara global, bukan rinci.• Ini bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan Allah Maha Mengetahui segala hal secara rinci.• Mu'tazilah juga terpengaruh ide filsafat, seperti ilmu dan zat Allah dianggap satu hakikat yang membingungkan.Penolakan Kebangkitan Jasmani oleh Falasifah dan Ibnu Sina• Falasifah menolak kebangkitan jasad dan mengenalkan doktrin ruh saja yang hidup setelah mati.• Mereka beralasan secara logika sulit menerima kebangkitan jasad setelah anggota tubuh terurai disalurkan ke makhluk lain.• Ibnu Sina juga mengadopsi pandangan ini, yang bertentangan dengan Islam yang meyakini kebangkitan jasmani pada Hari Kiamat.Pembahasan Talbis Iblis terhadap Penyembah Haikal (Benda Langit)• Ibnul Jauzi menyebut kelompok yang meyakini bahwa planet-planet dan benda langit memiliki ruh dan hidup.• Mereka percaya benda langit mempengaruhi kejadian di bumi dan mempersembahkan penghormatan dalam bentuk patung atau bangunan sebagai 'perwakilan'.• Praktik ini disertai upacara kurban untuk menghilangkan malapetaka yang mereka yakini berasal dari planet-planet tertentu.Tipuan Iblis terhadap Penyembah Berhala• Iblis memanfaatkan kecintaan manusia terhadap bentuk dan rupa untuk memalingkan akal mereka.• Orang-orang dibujuk untuk menyembah patung dengan dalih agar lebih dekat kepada Allah, padahal itu bentuk syirik.• Sejarah penyembahan berhala bermula dari penghormatan kepada orang shaleh dengan membuat patung sebagai peringatan.• Lama-kelamaan, muncul penyembahan terhadap berhala itu sendiri disebabkan lupa tauhid dan bisikan setan.Penyebaran Penyembahan Berhala di Jazirah Arab• Penyembahan berhala menyebar hingga ke Mekah, diperkenalkan oleh tokoh seperti Amr bin Nufail al-Khuza’i dari bani Khuza’ah.• Setiap kabilah punya berhala mereka sendiri yang disembah.• Contoh berhala terkenal adalah Hubal di Ka'bah, dan berhala lainnya seperti Isaf dan Naila dari Yaman yang memiliki kisah mitos.• Berhala-berhala ini digunakan untuk ritual pengundian nasib dan berbagai praktik syirik.Kritik terhadap Penyembahan Berhala• Ibnul Jauzi menegaskan betapa tidak masuk akalnya menyembah berhala yang tidak punya kemampuan apapun seperti berjalan, melihat, atau mendengar, sementara manusia sendiri yang membuatnya.• Ia menyamakan orang yang menyembah berhala seperti orang yang menyembah ciptaan, bukan pencipta.• Teguran ini merujuk pada firman Allah dalam Surat Ar-Rum yang mengingatkan tentang kealpaan orang kafir dalam soal keyakinan akhirat dan taubat.Kesimpulan dan Penutup• Filsafat Yunani tanpa wahyu membawa manusia pada kesalahan pemikiran tentang Tuhan dan dunia gaib.• Penyembahan berhala dan benda langit adalah bentuk lain dari tipuan iblis yang memalingkan manusia dari tauhid sejati.• Orang-orang lebih memahami dunia material tapi lalai akan akhirat dan penyembahan yang benar.• Pengajian ini mengajak kepada pemahaman aqidah yang benar, berlandaskan wahyu dan bukan hanya logika semata.Kesimpulan Utama:• Akidah dan teologi tidak bisa hanya disandarkan pada logika dan akal manusia semata tanpa wahyu.• Falansifah Yunani terjebak dalam tipu daya iblis sehingga menghasilkan konsep Tuhan dan penciptaan yang bertentangan dengan Islam.• Penyembahan berhala merupakan hasil dari kesesatan dan tipuan iblis yang merusak tauhid.• Ilmu dan filsafat harus tetap diikuti oleh petunjuk kenabian agar tidak jatuh ke jurang kesesatan.Istilah Penting:• Talbis Iblis : Tipuan/setan yang menyesatkan manusia, terutama dalam memahami aqidah dan Tuhan• Falasifah : Ahli filsafat Yunani yang menggunakan akal dan logika untuk menjelaskan segala sesuatu• Causa Prima : Sebab pertama yang dianggap sebagai penyebab utama munculnya alam semesta dalam filsafat• Haikal : Perwujudan atau bentuk benda langit (seperti planet, bintang) yang dianggap berjiwa• Berhala Patung atau simbol yang disembah sebagai perantara atau pengganti Tuhan dalam penyembahanRingkasan ini disusun secara rinci berdasarkan isi yang diberikan oleh transkrip pengajian, menjaga akurasi tanpa memasukkan informasi yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam sumber.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
S
Syfa Adinna Shabra

📍 Kabupaten Karanganyar

#3 - TALBIS IBLIS TERHADAP FILSUF YUNANI & PENYEMBAH BERHALA

TALBIS IBLIS TERHADAP FILSUF YUNANI & PENYEMBAH BERHALA(melanjutkan pembahasan bab - 5)•┈┈┈┈••❁🌸﷽🌸❁••┈┈┈┈•Ibnu jauzi rahimahullah menyebutkan :"Falasifah seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Plotunis, dan lainnya adalah orang-orang yang sangat cerdas. Mereka menulis tentang hal-hal yang terkait dengan perkara hissiyah (nampak), biologi, kimia, atau fisika dengan otak mereka yg luar biasa cerdasnya. Pemikiran mereka tertuang dalam buku yg ditulis bahkan diterjemahkan kedalam bahasa arab terutama di zaman khalifah al-ma'mun, sehingga kaum muslimin kagum melihat pemikiran falasifah." Artinya, hal-hal ini belum pernah dibicarakan oleh kaum muslimin yakni hal detail tentang perkara dunia. Ternyata orang-orang Yunani sudah sampai pemikiran mereka tentang hal-hal tersebut.⚠️ Akan tetapi, yang menjadi masalah ketika berbicara teologi tentang ketuhanan sementara mereka berpangku kepada kecerdasan otak & tidak menyambut nuurun nubuwah (sinar kenabian), kecerdasan para nabi/anbiya/rasul. Mereka ingin memikirkan tuhan secara istiqlal (merdeka), akhirnya mereka ngawur karena otaknya diluar kemampuan untuk berbicara tentang tuhan. 》Otak manusia hanya bisa menangkap tentang tuhan secara global "tuhan itu ada", akal kita bisa mengantarkan bahwa tuhan itu Maha Kuasa. Tapi secara detail 'Tuhan bagaimana, proses penciptaan bagaimana?' tidak bisa diduga-duga.Ibnul Jauzi rahimahullah : mereka kalau berbicara tentang teologi tidak punya landasan 'apa yang mau dijadikan landasan untuk dianalogikan?'. Sehingga mereka jika berbicara tentang hal ghoin itu dengan dzon (persangkaan). Mereka bersendirian dalam pendapatnya, berbicara hanya sekedar konsekuensi dari persangkaan-persangkaan mereka tanpa menengok ajaran para nabi. 》Jika membahas hal duniawi mereka sepakat dalam artian khilafnya tidak seberapa, tapi kalau berbicara tentang ketuhanan maka berbagai macam pendapat dikalangan mereka muncul. 》Ustadz Firanda mengatakan, 'kita tidak usah membahas masalah Allah subhanahu wata'ala, ruh-ruh yang ada pada jasad kita. Karena tidak ada landasan untuk dijadikan pegangan kita bisa berbicara tentang ruh'. Telah dijelaskan pada firman Allah Ta'ala : وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا Artinya:"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, 'Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit'." (Al Isra' : 85) Menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki akses untuk mengetahui hal tersebut secara sempurna & keluasan ilmu yg dimiliki manusia itu sangatlah terbatas. Aqidah Falasifah tentang "Pencipta" ada beberapa madzab: ● Dahriah [ pencipta tidak ada ]● Teori Causa Prima (Sebab Utama) & Qidamul Alam ( keazalian alam). Para tokoh filsuf (Socratees, Plato, Aristoteles) menetapkan alam tercipta dari العلة 'sebab pertama', yakni konsep Causa Prima yang seakan-akan berfungsi sebagai sebab penciptaan. Yang jadi masalah, mereka tidak menempatkan Causa prima sebagai pencipta. Makanya Dahriah & golongan kedua ini mirip Mereka menganggap alam semesta ini kekal (azali) bersama penciptanya.Pemikiran mereka dirusak oleh logika iblis, diantaranya :1. Sebab-sebab yang sangat sempurna menjadikan akibatnya tidak akan terlambat sehingga munculnya bersamaan. Padahal, akibat itu datang dengan diawali sebab.2. Munculnya akibat (alam) dari sebab adalah konsekuensi dari sebab. Mereka mengatakan, akibat alam semesta ini bukan terjadi karena keinginan dari causa prima tetapi terjadi karena sempurnanya causa Prima mengkonsekuensikan adanya alam 》jadi alam adalah hasil dari konsekuensi adanya sebab yang sangat sempurna.- konsekuensi : alam azali, alam juga abadi - ● Madzab yg berkeyakinan "Pencipta itu ada", dalilnya kami melihat alam ini muhdats (dari tidak menjadi ada). Mereka khilaf tentang hakekat pencipta, ada 3 pendapat : 1. Tuhan ketika menciptakan melihat ciptaan nya sudah sempurna, karena takut ada perubahan maka tuhan tsb bunuh diri. 2. Tuhan menciptakan makhluk terlalu hebat, ia lemah dan hanya menonton. 3. Tuhan menyebar dirinya keseluruh alam Falasifah berpendapat tentang Ilmu Pencipta :🍂 Falasifah Yunani "pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya". Logikanya : Tuhan Maha Sempurna dan tidak boleh mikir kecuali yang sempurna juga, yaitu dirinya sendiri. Allah Ta'ala telah menjelaskan pada firman-Nya :اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۖ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ"Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus lagi Mahateliti." (Surah Al Mulk : 14) Beberapa yang terpengaruh dengan pemikiran ini : 1- Ibnu Sina dia katakan "Allah mengetahui makhluk-makhluk Nya secara global (bukan terperinci). Logika Ibnu Sina : makhluk itu berubah-ubah dana da yg buruk, maka tidak pantas Allah memikirkan ini semua. 2- MuktazilahMengatakan 'ilmu Allah dan qudroh Allah adalah dzatnya sendiri. Akidah Falasifah tentang hari kiamat ⬇️Mereka mengingkari kebangkitan jasad dan dikembalikan ruh ke jasad. Surga dan neraka menurut mereka tidak ada.Ibnu Sina terpengaruh dengan logika ini, menurutnya tidak ada kebangkitan jasad tapi hanya ada ruh. Sebab inilah Imam Al Ghazali mengkafirkan Ibnu Sina Talbis Iblis 'Ala Ashhabil Hayakil : Tindakan Iblis dalam memperdaya manusia terhadap penyembah haikal ( bentuk lahiriah) 》Ada sekelompok manusia yang meyakini bahwa benda-benda langit (bulan, planet, dsb) ada ruh yg menempati planet tsb. Gerakan planet mempengaruhi terjadinya peristiwa-peristiwa di alam ini.• Menurut mereka, semua planet memiliki proyeksi bentuk di atas muka bumi. Planet A seperti hewan A, planet B seperti hewan B, dan seterusnya. Kemudian mereka menyembah planet-planet itu lewat hewan yang mereka anggap sebagai perwakilan dari planet tertentu, yang dapat menghubungkan mereka dengan planet di langit.• Merekapun melakukan kurban yang diperuntukkan untuk planet itu. Misalnya matahari murni, maka mereka mengorbankan anak yang baru lahir. Mereka menganggap itu serupa dan bisa dijadikan korban dan dipersembahkan kepada matahari agar mendatangkan kebaikan dan dijauhkan dari keburukan.Talbis Iblis 'ala 'Ubbadil Asnam (Talbis Iblis terhadap Para Penyembah Berhala)Tipu daya iblis terhadap para penyembah berhala meliputi metode-metode utama berikut: 1. Pengagungan Berlebihan terhadap Orang Saleh• Sejarah berhala pertama: Iblis membisikkan kepada kaum Nabi Nuh bahwa kesedihan atas kematian orang-orang saleh (seperti Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr) akan terobati jika mereka membuat patung orang-orang tersebut sebagai pengingat.• Tahapan tipu daya: Awalnya patung tersebut hanya digunakan untuk mengingat ibadah. Namun, seiring berjalannya waktu dan pergantian generasi, iblis membisikkan agar manusia menyembah patung-patung tersebut secara langsung.》 Penyembahan berhala ini sampai ke jazirah arab, ke suku quraisy. Seorang pemimpin dari kaum Khuza'ah yang bernama Ammar bin Luhay Al Khuza'i membawa berhala ke kota Makkah, kemudian orang-orang menyembahnya. Diantara nama berhala tersebut :- Latta : di Thoif - Manaf : di sahil bakhr - Uzza : di Wadi Nakhla - Hubal : di Ka'bah 》Saking sukanya mereka menyembah berhala, kemana kemana selalu membawa patung-patung. Apabila ketika pergi tidak membawa patung / lupa membawa tuhannya, mereka mencari 4 batu. Dipilihlah 1 yang paling bagus dan dijadikan sebagai tuhan, 3 sisanya mereka gunakan untuk tungku memasak.Kalau tidak menemukan batu, mereka mengumpulkan pasir yang dituangi semacam susu supaya membentuk gundukan dan mereka thawaf. • Tujuan berhala: Iblis menanamkan keyakinan bahwa berhala (baik berupa patung, benda langit seperti matahari/bulan, maupun entitas tertentu) adalah perantara atau wakil yang dapat menyampaikan doa mereka kepada Tuhan yang lebih besar.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
D
Dinda fitrinita Runi setiawan

📍 Kabupaten Bondowoso

Talbis iblis #3 talbis iblis terhadap para filsuf Yunani dan penyembah berhala

Talbis iblis #3Talbis iblis terhadap filsuf Yunani dan penyembah berhalaKajian ustadz DR firanda Andirja MA Imam Ibnu Jauzi menyebutkan bahwasanya falasifa ini adalah orang yang sangat cerdas dan mereka menulis hal-hal yg terkait dg perkara2 hissiyah yg nampak(keduniawian) tetapi mereka bermasalah ketika berbicara ttg ketuhanan Krn mereka hanya berpangku pada kecerdasan otak mereka.#aqidah falasifah ttg pencipta 1. Dahriyah (pencipta tidak ada)2. Alam tercipta dari Al ilah (kausa pertama)Dimana kausa pertama tersebut azali bersama alam Krn sebab tersebut sempurna sehingga akibatnya harus bersamaan.3. Pencipta itu adaDalilnya: karena kami melihat alam ini muhdats( dari tidak ada menjadi ada) tetapi mereka memiliki khilaf tentang hakikat penciptaan tersebut.Kesimpulan : semua filsafat Yunani hanya berdasarkan logika mereka Krn mereka tidak mampu memikirkan ttg tuhan ,akal mereka tidak mampu ( terbatas) akhirnya mereka berselisih #talbis iblis tentang ilmu pencipta dalam filsafat YunaniBahwasannya pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya.Syubhat : tuhan maha sempurna dan tidak boleh memikirkan sesuatu yg sempurna pula untuk dirinya.Bantahan dalilnya: Allah mengetahui tentang semua yg Allah ciptakan ,tidak ada satu daun yg jatuhpun kecuali Allah mengetahui.Yang terpengaruh dalam filsafat tersebut adalah• Ibnu Sina ( makhluk itu berubah rubah dan ada yg buruk tidak pantas Allah memikirkan ini semua)• muktazilah (ilmu Allah dan qudroh Allah dalah dzatnya)Kesimpulan: iblis masuk dalam pemikiran filsafat Yunani Krn Dy memikirkan tuhan tanpa ada petunjuk kenabian sehingga secara logika sendiri.#talbis iblis aqidah falasifa tentang hari kebangkitanMengingkari kebangkitan jasad dan mengingkari di kembalikan ruh ke jasadDan mengatakan surga dan neraka tidak ada#talbis iblis terhadap orang orang yang menyembah haikal- Haikal ( benda langit)Meyakini bahwasanya benda langit memiliki ruh sehingga mereka memiliki pengagungan terhadap benda-benda langit#talbis iblis terhadap penyembah berhalaSyubhat: menyembah patung untuk mendekatkan kalian kepada Allah.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
N
Nailah Nurul Hanifah

📍 Jakarta Selatan

Talbis Iblis #3 - Talbis Iblis Terhadap Para Filsuf Yunani Dan Penyembah Berhala

1. Talbis Iblis Terhadap Kaum Falasifah (Filsuf Yunani) & PengikutnyaLatar Belakang: Tokoh-tokoh filsuf Yunani seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan Plotinus adalah orang-orang yang sangat cerdas. Mereka menulis banyak hal mendetail tentang perkara duniawi yang sifatnya nampak (hissiyah) seperti biologi, kimia, dan fisika.Awal Mula Penyimpangan: Pada zaman Khalifah Al-Ma'mun, buku-buku filsafat ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kaum muslimin saat itu terpesona karena hal-hal mendetail tersebut belum pernah dibahas secara ilmiah di kalangan mereka.Kesalahan Fatal: Masalah besar muncul ketika para filsuf ini mulai berbicara tentang Teologi (Ketuhanan). Mereka hanya bersandar pada kecerdasan otak tanpa mau menerima tuntunan wahyu atau sinar kenabian (Nurun Nubuwwah). Akal manusia memiliki keterbatasan; akal hanya bisa mengetahui keberadaan Tuhan secara global, tetapi tidak akan mampu menebak rincian zat atau cara kerja Tuhan tanpa wahyu. Ketika memaksakan diri, mereka akhirnya hanya berbicara berdasarkan persangkaan (zhunnuun).Analogi dan Keterbatasan Akal Manusia dalam Hal GhaibKetiadaan Landasan Analogi: Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan bahwa ketika kaum falasifah (filsuf) berbicara tentang perkara hissiyah (hal yang nampak/inderawi) seperti biologi, kimia, fisika, atau medis, mereka bisa sepakat karena memiliki landasan objek yang jelas untuk dianalogikan dan diteliti. Namun, ketika mereka mulai berbicara tentang perkara ghaib (Ketuhanan), mereka tidak memiliki landasan empiris sama sekali. Akhirnya, mereka hanya bersandar pada konsekuensi persangkaan semata (zhunnuun) tanpa mau menengok ajaran para nabi, sehingga menimbulkan perselisihan pendapat yang sangat banyak di antara mereka.Tiga Contoh Keterbatasan Akal ManusiaUntuk membuktikan bahwa akal manusia tidak akan mampu mengulik zat Pencipta secara mandiri, terdapat tiga analogi batasan ilmu makhluk:1. Hakikat Ruh ManusiaRuh adalah sesuatu yang selalu ada dan hadir di dalam jasad kita sendiri, namun tidak ada satu pun manusia yang bisa menerangkan unsur pembentuknya, bentuk fisiknya (apakah gemuk/kurus, panjang/pendek), maupun bagaimana cara ia bersemayam di dalam jasad.Jika ada 1.000 pakar biologi, fisika, atau kimia berkumpul untuk memperdebatkan hakikat ruh tanpa dalil, maka akan muncul 1.000 atau bahkan 1.001 pendapat yang berbeda karena tidak adanya landasan ilmiah.Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'." (QS. Al-Isra: 85).2. Hakikat Alam JinJin adalah makhluk ghaib yang tingkatannya masih di bawah Khaliq (pencipta), namun akal manusia tetap tidak mampu menjelaskan eksistensinya secara ilmiah.Manusia tidak bisa menjelaskan secara ilmiah bagaimana jin bisa menjelma/mengubah wujud (tasyakkur) menjadi hewan atau wanita cantik, bagaimana jin masuk ke tubuh manusia, menguasai otaknya, hingga berbicara menggunakan pita suara manusia dengan bahasa atau keahlian yang sebelumnya tidak dikuasai oleh orang yang kesurupan tersebut.3. Hakikat Allah Sang KhaliqJika terhadap makhluk yang dekat dengan manusia saja (seperti ruh dan jin) akal sudah angkat tangan dan buntu, maka terlebih lagi ketika akal tersebut dipaksa memikirkan hakikat zat Allah Sang Pencipta (Al-Khaliq).Karena kaum falasifah memaksakan logika mereka tanpa petunjuk wahyu, ucapan mereka menjadi ngawur, menebak-nebak, dan terpecah ke dalam mazhab-mazhab teologi yang saling berselisih.(Catatan pada menit 07:36 selanjutnya berpindah pada papan tulis untuk merinci bagan 3 Mazhab besar Falasifah).A. Aqidah Falasifah tentang “Pencipta”Tiga klasifikasi besar pandangan teologi kaum falasifah:Golongan Dahriyah: Kelompok yang meyakini bahwa Tuhan/Pencipta itu sama sekali tidak ada, dan alam semesta terjadi begitu saja secara alami tanpa ada pencipta.Golongan Teori Causa Prima: Kelompok yang meyakini bahwa alam tercipta dari sebab pertama/al-’illah), diadopsi oleh Socrates, Plato, dan Aristoteles.Definisi Kausa Prima yang Statis: Dalam buku-buku mereka, para filsuf menetapkan adanya satu Sebab Pertama (Causa Prima) yang mereka sebut seakan-akan berfungsi sebagai Tuhan. Mereka mendeskripsikannya sebagai sesuatu yang sangat simpel, statis, dan tidak berubah.Kesalahan Fatal (Bukan sebagai Pencipta/Khaliq): Letak kekeliruan terbesar para filsuf adalah mereka tidak menempatkan Causa Prima ini sebagai Shani' (Dzat Maha Pencipta yang memiliki kehendak/pilihan untuk menciptakan sesuatu). Akhirnya, pandangan kelompok ini sebenarnya mirip dengan golongan Dahriyah (atheis) yang menganggap Tuhan itu tidak ada.Teori Keberadaan yang Berbarengan (Azali): Para filsuf berpendapat bahwa Causa Prima ini ada bersamaan dengan alam semesta. Artinya, Causa Prima tidak ada lebih dulu baru kemudian menciptakan alam belakangan, melainkan keduanya ada sejak Azali (sejak dahulu kala tanpa awal mula). Hubungan keduanya murni hubungan sebab-akibat yang melekat secara instan.Syubhat Kesempurnaan: Di sinilah iblis masuk ke dalam pemikiran mereka. Iblis membisikkan logika: "Karena Kausa Prima adalah suatu sebab yang sangat sempurna, maka akibat yang muncul dari dirinya tidak boleh terlambat (tidak boleh ada jeda waktu). Akibatnya harus muncul bersamaan dengan sang sebab."Mereka juga menolak bahwa Tuhan menciptakan alam karena kehendak atau keinginan Kausa Prima, melainkan menganggap alam tercipta murni sebagai konsekuensi otomatis dari kesempurnaan Kausa Prima.Maka konsekuensinya yaitu alam semesta ini bersifat Azali (Qadim/sudah ada sejak dulu bersama Tuhan) dan juga abadi.Golongan yang Mengakui Pencipta tapi Bingung: Mereka mengakui adanya pencipta karena melihat alam ini mengalami perubahan (muhdats) dari tiada menjadi ada. Namun, mereka bingung ketika melihat kenyataan ada orang berdoa meminta tolong saat kesusahan (seperti tenggelam) tetapi tidak langsung dibantu, sehingga mereka menyimpulkan logika yang aneh:Pendapat pertama: Tuhan bunuh diri setelah menciptakan alam karena menganggap ciptaan-Nya sudah sangat sempurna dan tidak perlu diubah lagi.Pendapat kedua: Tuhan itu lemah dan sekarang tugas-Nya hanya menonton saja karena alam sudah berjalan otomatis dengan hukum alam (sunnatullah).Pendapat ketiga: Tuhan menyatukan atau menyebarkan diri-Nya ke seluruh alam semesta.B. Pandangan tentang Ilmu PenciptaFalasifah Yunani: Mengatakan bahwa Pencipta tidak berilmu kecuali hanya diri-Nya. Syubhatnya: Karena Tuhan Maha Sempurna, tidak pantas bagi-Nya memikirkan makhluk yang penuh dengan kekurangan. Jika pemikiran ini (Tuhan hanya memikirkan diri-Nya sendiri) diikuti, maka hal tersebut justru merupakan sebuah kekurangan yang nyata bagi Tuhan. Konsekuensi dari pemikiran mereka adalah Tuhan menjadi tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di alam semesta, tidak tahu apa yang terjadi pada hewan, maupun pada makhluk ciptaan-Nya, karena fokus-Nya terkunci hanya pada diri-Nya sendiri.Pertentangan dengan Aqidah Islam. Pandangan filsuf tersebut dibenturkan dengan aqidah Islam yang menyatakan bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Mengurus, dan meliputi segala sesuatu:QS. Al-An'am: 59 – Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Allah mengetahuinya.QS. Hud: 6 – Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya dan Allah tahu tempat kediamannya.QS. Ghafir: 19 – Allah mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.Kekonyolan Logika Filsuf: Jika Tuhan hanya tahu tentang diri-Nya sendiri, maka makhluk justru menjadi lebih sempurna daripada Tuhan. Perbandingan: Hewan saja tahu tentang Tuhannya, manusia tahu tentang Penciptanya. Kita bisa memikirkan diri kita sendiri, memikirkan anak-pasangan, sekaligus memikirkan Allah dan alam semesta. Sementara menurut para filsuf, daya pikir Tuhan sangat terbatas karena hanya bisa memikirkan diri-Nya saja.Pengaruh terhadap Ibnu Sina: Logika ini mempengaruhi tokoh filsuf muslim Ibnu Sina. Namun, Ibnu Sina memodifikasinya sedikit dengan mengatakan bahwa Allah mengetahui makhluk-makhluk-Nya secara global (kulli), tetapi tidak mengetahui hal-hal yang terperinci (juz'i). Syubhatnya: Makhluk itu berubah-ubah dan ada yang buruk, maka tidak pantas Allah memikirkan semuanya. Pengaruh terhadap Mu'tazilah: Mereka menolak sifat-sifat Allah yang terpisah dari Zat-Nya dan mengatakan bahwa ilmu Allah serta kekuasaan (qudroh) Allah adalah Zat-Nya itu sendiri, demi menjaga konsep keesaan Tuhan menurut logika filsafat mereka.C. Aqidah Falasifah tentang Hari KebangkitanKaum falasifah Yunani mengingkari adanya kebangkitan jasad dan mengingkari dikembalikan kembali ruh ke jasad; mereka meyakini surga dan neraka itu tidak ada. Ibnu Sina terpengaruh: Menurutnya tidak ada kebangkitan jasad, yang ada hanya kebangkitan ruh saja. Gara-gara keyakinan ini, Ibnu Sina sampai dikafirkan oleh Al-Ghazali dan ulama lainnya karena bertentangan dengan banyak ayat Al-Qur'an. Pemikiran ini murni bersandar pada logika yang menganggap mustahil jasad manusia yang sudah hancur, membusuk, menjadi tanah, atau bahkan dimakan hewan laut bisa disatukan kembali secara utuh. Pandangan ini sama persis dengan kekufuran kaum musyrikin Arab jahiliyah yang ditolak di dalam Al-Qur'an (seperti dalam Surat Yasin).2. Talbis Iblis Terhadap Orang-Orang yang Menyembah Haikal-Haikal (Benda Langit)Ibnul Jauzi menyebutkan adanya sekelompok manusia yang meyakini bahwa planet-planet dan benda-benda langit (seperti matahari, bulan, Mars, Merkurius, dll.) memiliki ruh seperti layaknya jasad manusia.Mereka memiliki pengagungan terhadap benda-benda langit tersebut dan meyakini bahwa pergerakan planet-planet tersebut mengontrol dan mempengaruhi nasib serta peristiwa yang terjadi di bumi.Iblis membisikkan mereka untuk membuat proyeksi atau replika bentuk (Haikal) dari rupa planet-planet tersebut di bumi (misalnya patung yang menyerupai simbol planet tertentu). Replika atau patung di bumi inilah yang akhirnya mereka sembah dan beri sesajen/kurban demi mendapatkan keselamatan atau menghindari kesengsaraan. Bahkan, ada yang tega mengorbankan anak kecil yang suci tanpa dosa demi memuja matahari.3. Talbis Iblis Terhadap Para Penyembah Berhala (‘Abadatil Ashnam)Cara Iblis Merusak Akal: Iblis memanfaatkan kecenderungan dasar manusia yang menyukai visual atau bentuk-bentuk fisik yang indah. Ketika akal manusia mulai mempertanyakan mengapa mereka menyembah patung yang mati, Iblis memasukkan syubhat: "Kalian tidak menyembah patung ini secara langsung, melainkan patung ini adalah sarana/perantara untuk mendekatkan diri kalian kepada Allah". Hal ini terekam dalam Al-Qur'an surah Az-Zumar ayat 3.Asal Muasal Penyembahan Berhala:Zaman Nabi Nuh AS: Bermula dari wafatnya 5 orang saleh (Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr). Masyarakat yang kehilangan mereka membuat patung-patung mereka di tempat ibadah murni hanya untuk mengenang kesalehan mereka dan memotivasi diri agar rajin beribadah. Ketika generasi pertama wafat dan ilmu tauhid mulai dilupakan, Iblis datang menghasut generasi berikutnya bahwa patung-patung orang saleh tersebut dulunya disembah dan dimintai syafaat, sehingga akhirnya patung-patung itu pun mulai disembah.Masuknya Berhala ke Jazirah Arab: Dibawa oleh seorang pemimpin ditaati dari Bani Khuza'ah bernama Amr bin Luhay al-Khuza'ji. Saat berkunjung ke negeri Syam, ia melihat penduduk di sana menyembah berhala dan menganggapnya membawa manfaat. Ia kemudian mengimpor berhala tersebut ke Mekah dan memerintahkan orang-orang untuk menyembahnya, hingga akhirnya setiap kabilah memiliki berhala masing-masing (seperti Lata di Thaif, Uzza di Nakhlah, Manat, Hubal di Ka'bah).Kisah berhala Isaf dan Naila: Awalnya mereka adalah sepasang kekasih dari Yaman yang berzina di dalam Ka'bah saat berhaji. Allah kemudian mengutuk mereka seketika menjadi patung. Awalnya patung mereka dikeluarkan dari Ka'bah untuk dijadikan pelajaran/efek jera bagi orang lain. Namun seiring waktu, iblis memutarbalikkan fakta hingga akhirnya kedua patung penzina ini malah disembah oleh orang-orang Arab jahiliyah.Kekonyolan Penyembahan Berhala: Orang jahiliyah sangat candu menyembah patung, sampai-sampai jika mereka bepergian dan lupa membawa berhalanya, mereka akan mencari batu di jalanan. Jika menemukan 4 batu, 1 batu yang paling bagus dijadikan tuhan untuk disembah, sedangkan 3 lainnya dijadikan tungku batu untuk memasak. Jika tidak menemukan batu, mereka akan mengumpulkan gundukan pasir, menyiramnya dengan semacam susu, lalu melakukan tawaf di sekelilingnya sebagai bentuk penyembahan.Firman Allah dalam Quran Surah Al-A'raf: 195, ‘menyindir’ para penyembah berhala; apakah patung-patung tersebut memiliki kaki untuk berjalan? Punya mata untuk melihat? Punya tangan untuk memukul/memegang? Atau punya telinga untuk mendengar? Kenyataannya, berhala-berhala itu tidak punya semua itu, sedangkan manusia yang menyembahnya justru memiliki fisik yang sempurna. Bagaimana mungkin makhluk yang lebih sempurna secara fisik justru menyembah benda mati yang tidak sempurna? Allah juga berfirman dalam Surah As-Saffat: 95, "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat sendiri?" Logika sehat seharusnya menuntut manusia untuk menyembah Dzat yang menciptakan mereka, bukan menyembah benda yang mereka ciptakan sendiri. KesimpulanFenomena ini membuktikan firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 7: "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." Banyak manusia (termasuk para filsuf dan orang kafir) yang sangat cerdas secara intelektual, ahli dalam perkara dunia, mampu menciptakan penemuan ilmiah, sains, kapal, hingga teknologi yang canggih. Namun, ketika berbicara tentang akidah dan ketuhanan, otak mereka mendadak tidak jalan. Ada yang menyembah nabi, menyembah berhala, menyembah sapi, atau bahkan menjadi atheis. Keindahan dunia luar biasa mereka kuasai, tetapi mereka lalai dan buta terhadap hakikat akhirat.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Talbis Iblis terhadap filsuf Yunani & Penyembah Berhala

Penyebutan tentang talbis iblis terhadap kaum falasifah (kaum ahli filsafat yunani) dan orang-orang yang mengikuti para pengikut kaum filsafat yunani tersebut.kita sudah singgung sebelumnya tentang para filsuf, di sini imam ibnul jauzi kembali mengulang tentang pemikiran-pemikiran falasifah (bagaimana syaitan masuk dalam pemikiran mereka sehingga mereka ngelantur dalam berbicara teologi tentang ketuhanan)imam ibnul jauzi mengatakan bahwasannya falasifah ini seperti socrates, plato, aristoteles, platunis. mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas dan mereka menulis tentang hal-hal yang terkait dengan perkara-perkara yang nampak (biologi, kimia, fisika) dengan otak mereka yang luar biasa cerdasnya, kemudian pemikiran-pemikiran tersebut tertuangkan dalam buku-buku yang mereka tulis bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa arab terutama di zaman khalifah Al Ma'mun sehingga kaum muslimin terpesona, kagum melihat pemikiran orang-orang falasifah yang luar biasa. artinya hal-hal ini belum pernah dibicarakan oleh kaum muslimin.hal-hal yang begitu detail tentang perkara dunia, tentang biologi, kimia, fisika ternyata orang-orang yunani telah sampai pemikiran mereka tentang hal-hal tsb.tapi yang jadi masalah, ketika mereka kemudian berbicara tentang teologi (ketuhanan) sementara mereka berpangku pada kecerdasan otak mereka dan mereka tidak menyambut sinar kenabian (mereka tidak berusaha melihat penjelasan para nabi, para anbiya, para rasul) dan mereka ingin memikirkan tentang Tuhan secara istiqlal/استقلال (secara merdeka). akhirnya mereka pun ngawur karena otaknya di luar kemampuan untuk berbicara tentang Tuhan. otak kita hanya bisa menangkap tentang Tuhan secara global bahwa Tuhan itu ada (akal kita bisa mengantarkan pada pemahaman bawa Tuhan itu maha kuasa, Tuhan itu maha dahsyat dll) tapi secara detail tentang Tuhan bagaimana, proses penciptaan bagaimana, ini semua tidak bisa diduga-duga.oleh karenanya mereka terjebak dengan dzunnun (ظَنّ)/asumsi mereka, kata ibnul jauzi mereka ketika berbicara tentang teologi, tidak punya landasan. apa yang mau dijadikan landasan untuk dianalogikan. jika berbicara tentang perkara hissiyyah (حِسِّيَّة)/perkara yang bisa diindrawi atau nampak misal biologi, fisika, kimia, medis bisa dianalogi, tapi ketika berbicara tentang sesuatu yang ghaib yang tidak bisa dianalogikakan dengan perkara yang nampak maka ini sulit, sehingga mereka akhirnya hanya berbicara dengan ظَنّ/persangkaan-persangkaan.kata ibnul jauzi: mereka bersendirian dalam otak mereka, akal mereka, pendapat mereka dan mereka berbicara hanya sekedar konsekuensi dari persangkaan-persangkaan mereka tanpa menengok kepada ajaran-ajaran para nabi. akhirnya timbullah berbagai macam pendapat di kalangan mereka.yang menakjubkan ibnul jauzi mengatakan ketika menjelaskan tentang falasi, ketika mereka berbicara tentang perkara yang حِسِّيَّة / yang nampak seperti biologi, kimia, fisika rata-rata mereka sepakat, khilaf mereka tidak seberapa. tetapi ketika mereka sudah berbicara tentang ketuhanan (karena tidak ada landasan) mereka pun banyak khilaf. karena memang akal tidak bisa dijadikan landasan dalam hal ini, misal ruh.. kita tidak bisa jelaskan bentuknya. jika ada 1000 pakar biologi kimia maka akan ada 1000 pendapat karena sesuatu yang tidak nampak.makanya Allah berfirman:وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا(QS Al Isra' :85)artinya :"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.'"kalau ruh saja kita tidak bisa berbicara tentang ruh, apalagi tentang Allah.misal tentang jin, siapa yang bisa menjelaskan secara ilmiah, jin bisa berubah bentuk dll.maka apalagi tentang sang Khaliq. sang pencipta.ketika kaum falasifah tidak punya landasan, mereka berbicara hanya sekedar persangkaan-persangkaan akhirnya mereka ngawur dan mereka berselisih dengan perselisihan yang sangat banyak.AQIDAH FALASIFAH tentang "Pencipta"Ada beberapa mahzab:🍒Dahriah : pencipta tidak ada  ➡️ alam terjadi begitu saja🍒Pendapat socrates, aristoteles, plato ➡️ Alam tercipta dari العِلَّة "sebab pertama" (kausa prima) 👉🏻 kausa prima ini seakan-akan berfungsi sebagai sebab penciptaan.pendapat ini ada sebab utama tapi sebab utama tersebut datang bersamaan (azali) dengan alam semesta.iblis masuk ke dalam pemikiran mereka, mereka mengatakan bahwa kausa prima adalah suatu sebab yang sangat sempurna. kalau suatu sebab sangat sempurna maka sebab tersebut akibatnya tidak akan terlambat, akibatnya akan bersamaan dengan sang sebab sehingga munculnya bersamaan.▶️secara sederhana : akibat pasti setelah sebab, contoh pena jatuh. kenapa pena jatuh karena dilepas pegangannya. = tidak ada namanya sebab akibat bersamaan. karena kalau bersamaan kita tidak akan bisa bedakan mana akibat mana sebab.⏩️karena mereka kemasukan logika iblis, mereka mengatakan kausa prima ini sangat sempurna. akibat yang muncul dari dia tidak boleh terlambat, harus sama persis dengan sebab tersebut. sehingga melazimkan kata mereka alam ini adala azali bersama alam. (ini permainan logika)kalau dalam islam, Allah berfirman:إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ(QS. Yasin:82)"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!'Maka jadilah ia."👉🏻ada sebab ada akibat, akibat muncul belakangan setelah sebab. langsung tidak ada jeda.❎kalau orang falasifah sebab dan akibat persis berbarengan, akhirnya sebab yang mereka sebut kausa prima sebagai sebab terjadinya alam semesta ini yang fungsinya seperti Tuhan membuat mereka mengatakan alam semesta azali bersama sebab tersebut.❎yang kedua mereka mengatakan munculnya akibat (alam semesta) dari sebab adalah konsekuensi dari sebab.jadi mereka mengatakan akibat alam semesta ini bukan terjadi karena keinginan kausa prima tetapi dia terjadi merupakan konsekuensi sempurnanya kausa prima tersebut. mengkonsekuensikan adanya alam, jadi alam adalah hasil konsekuensi adanya sebab yang sangat sempurna. (jadi sebab itu konsekuensi dari alam bukan kehendak kausa prima)‼️konsekuensi dari pemahaman mereka:     ❌alam ini azali (kekal)     ❌alam juga abadi➡️ini semua murni logika✅beda kalau kita ummat islam, Tuhan menciptakan Maha Sempurna tidak sesuatupun dan Tuhan ciptakan.🍒Pencipta itu ada, dalilnya karena kami melihat alam ini muhdats (dari tidak ada menjadi ada) ➡️mereka khilaf tentang hakekat pencipta tersebut :1️⃣alam suda sempurna, Tuhan bunuh diri2️⃣makhluq terlalu hebat, Tuhan lemah hanya nonton3️⃣Tuhan menyebar dirinya ke seluruh alam👆🏻akidah falasifah yang disampaikan ibnul jauzi, mereka murni logika iblis main pada mereka, mereka tidak memiliki cahaya kenabian. akal mereka tidak mampu tapi mereka memaksakan memikirkan tentang Tuhan. akhirnya buntu. dan mereka pun berselisih.Ibnul jauzi juga menyampaikan dalam bukunya terkait "ILMU PENCIPTA".🍒Falasifah Yunani : pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya. (logika semata)👆🏻kenapa mereka berpendapat seperti itu, karena logika syaitan sudah masuk. karena Tuhan sempurna maka Tuhan tidak boleh memikirkan kecuali yang sempurna pula. maka tidak boleh Tuhan memikirkan makhhluknya yang penuh dengan kekurangan, maka yang dia pikirkan dirinya sendiri.‼️logika ini mempengaruhhi ibnu sina, namun lebih mending sedikit karena ibnu sina mengatakan Allahh mengetaui makhluk-makhlukNya secara global (bukan terperinci). ➡️karena ini maka ibnu sina dikafirkan oleh imam al-ghazali.🍒Muktazilah: Ilmu Allah dan Qudroh Allah adalah dzatnya sendiri. karena terpengaruh pemikiran filsafat bahwasannya Tuhan itu simple tidak boleh beragam hanya satu kesatuan, tidak boleh mengatakan dzat dan ilmu tapi ilmu Allahh itu dzatnya Allah itu sendiri.⏩️ini semua gambaran sederhana bahwa iblis masuk dalam pemikiran filsafat karena memikirkan tentang Tuhan tanpa ada petunjuk dari kenabian. karena logika liar. maka salah.AQIDAH FALASIFAH TENTANG HARI KEBANGKITAN.🍒mereka mengingkari kebangkitan jasad, dan mengingkari dikembalikan ruh ke jasad. ➡️surga dan neraka tidak ada.👇🏻Ibnu Sina terpengaruh: tidak ada kebangkitan jasad, yang ada hanya kebangkitan ruh (karena ini juga ibnu sina dikafirkan oleh Imam Al Ghazali)❌ini semua murni logika, logika tidak akan sampai.TALBIS IBLIS TERHADAP PENYEMBAH Ashabul haikal (Benda Langit)bahwa benda-benda langit di luar sana ada ruh-nya dan ruh tersebut menempati planet-planet tersebut dan mempengaruhi terjadinya peristiwa di alam ini. seperti ruh bagi jasad manusia (tapi di alam langit) sehingga mereka memiliki pengagungan terhadap benda-benda langit tersebut.menurut mereka planet memiliki kehidupan lalu diproyeksikan di bumi misal planet mirip hewan tertentu, sehingga mereka akhirnya membentuk هَيْكَل (bentuk).jadi syaitan masuk mempengaruhi pemikiran mereka.TALBIS IBLIS TERHADAP PARA PENYEMBAH BERHALAIblis kali ini masuk terhadap kecintaan manusia terhadap bentuk, suatu bentuk yang indah. akal dibuang agar orang-orang terpengaruh pada bentuk-bentuk kemudian digambarkan kepada mereka bahwasannya patung-patung ini adalah sesembahan yang punya pengaruh kalau disembah.kalau ada sebagian mereka yang menggunakan akalnya kok kita nyembah patung, maka iblis menghiasi lagi dengan berkata "yang kalian sembah ini adalah untuk mendekatkan kalian kepada Allah"▶️asal muasal penyembahan berhala : kisah di zaman nabi nuh ada 5 orang yang sholeh yang senantiasa beribadah di suatu tempat, ketika mereka meninggal maka orang-orang membangun patung dalam rangka untuk mengenal. awalnya bukan untuk disembah, tapi untuk mengenang patung-patung sholeh tersebut kalau dilihat membuat masyarakat termotivasi untuk beribadahh kepada Allah. dan diberi nama sesuai nama orang sholeh tersebut. lama kelamaan berjalannya waktu, ketika generasi yang membangun patung tersebut sudah meninggal dan ilmu sudah dilupakan, tidak ada lagi yang mendakwahkan tauhid. akhirnya datang syaitan mengatakan ini patung-patung disembah agar mendekatkan kalian kepada Allah, dan akhirnya patung disembah. kemudian berkembanglah penyembahan terhadap berhalah sampai pindah ke jazirah arab sampai ke quraisy dibawa oleh seorang yang bernama Amr bin Luhay Al-Khuza'i (pemimpin dari kabilahh bani khuza'ah)Kekonyolan Logika Penyembah Berhala: Orang Quraisy menjadi sangat gemar menyembah batu. Jika mereka sedang bepergian dan kehilangan batu sembahannya, mereka akan mencari batu lain. Bahkan jika tidak ada batu, mereka menumpuk pasir, menyiramnya dengan susu, lalu melakukan tawaf di sekelilingnya.dan sekarang masih banyak penyembah berhala, dan kebanyakan berhala itu adalah orang-orang shalih.harusnya logikanya kita menyembah yang menciptakan kita bukan yang kita ciptakan misal patung.orang kafir:Sangat Ahli dalam Perkara Dunia: Orang-orang kafir digambarkan memiliki kecerdasan luar biasa dalam urusan duniawi Mereka tahu secara detail ilmu sains, mampu menciptakan berbagai penemuan teknologi, membuat kapal, dan menguasai berbagai macam teknologi canggihBodoh dan Tidak Berakal dalam Urusan Akhirat/Akidah: Begitu pembicaraan beralih ke urusan akidah, ketuhanan, dan akhirat, logika serta otak mereka tiba-masing menjadi tidak berjalan. Manusia yang cerdas di bidang dunia ini bisa berakhir dengan menyembah patung yang mereka pahat sendiri, menyembah nabi, menyembah sapi, atau bahkan menjadi ateisAhadidalam firman Allah:“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)👉🏻orang kafir itu sangat ahli dalam perkara dunia. tapi ketika bahas aqidah otak mereka tidak jalan.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
D
Dina Permata Sari

📍 Kota Tangerang Selatan

Talbis Iblis #3 - Talbis Iblis Terhadap Filsuf Yunani & Penyembah Berhala

Talbis Iblis Terhadap Filsuf YunaniTokoh seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles sangat cerdas dalam ilmu keduniawian. Namun, mereka keliru dan sesat saat membahas Ketuhanan karena hanya mengandalkan logika tanpa bimbingan wahyu kenabian. Pemikiran Sesat tentang Penciptaan: Dahriyyah: Ateis, menolak eksistensi Tuhan dan meyakini alam semesta ada dengan sendirinyaKausa Prima: Meyakini alam semesta bersifat kekal bersamaan dengan penciptanya. Mereka menganggap alam muncul sebagai konsekuensi kesempurnaan Tuhan, bukan karena kehendak TuhanKehilangan Akal: Saat melihat keburukan di dunia, ada filsuf yang beranggapan bahwa Tuhan bunuh diri setelah menciptakan alam yang sempurna, Tuhan itu lemah dan sekadar menonton, atau Tuhan menyatu dengan seluruh alam semestaIlmu Tuhan: Mereka beranggapan Tuhan hanya memikirkan hal yang sempurna dan tidak mengetahui detail makhluk-Nya. Pemikiran ini mempengaruhi Ibnu Sina yang berpendapat Tuhan mengetahui makhluk hanya secara global, bukan terperinciMengingkari Kebangkitan Jasad: Para filsuf mengingkari adanya kebangkitan fisik jasad manusia dan hanya mempercayai kebangkitan roh. Talbis Iblis Terhadap Penyembah Haikal (Benda Langit)Meyakini bahwa benda-benda langit seperti matahari, planet, bintang memiliki roh yang mengatur dan memengaruhi kejadian di bumiMembuat patung atau simbol perwujudan di bumi sebagai bentuk proyeksi benda langit tersebut untuk disembahMelakukan pengorbanan ekstrem, termasuk mengorbankan anak-anak yang tidak berdosa, untuk mencari kebaikan dan menolak keburukan dari benda-benda langit tersebutTalbis Iblis Terhadap Penyembah BerhalaIblis menipu akal manusia dan menggunakan alasan kesyirikan: "Kami menyembah berhala hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah."Sejarah Kesyirikan Pertama: Terjadi pada umat Nabi Nuh (Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya'uq, Nasr). Awalnya patung dibuat sekadar untuk mengenang orang-orang saleh agar termotivasi beribadah. Setelah ilmu agama hilang, generasi berikutnya disesatkan setan untuk menyembahnyaDi Jazirah Arab: Dibawa oleh tokoh bernama 'Amr bin Luhay Al-Khuza'i yang membawa masuk berhala dari Syam ke MekahBerhala Arab: Bertebaran berhala seperti Hubal, Latta, Uzza, Manat, hingga Isaf dan Na'ila (pasangan yang dikutuk menjadi batu karena berzina di Ka'bah, namun oleh generasi setelahnya malah disembah)Kebodohan Akal: Manusia sangat cerdas dalam teknologi dan dunia, namun hilang akal sehatnya dalam urusan akhirat. Mereka memahat patung dengan tangan sendiri untuk dijadikan tuhan yang mereka sembah.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
N
Nurmaida

📍 Kota Palu

‎Materi 3 # Talbis Iblis ‎Talbis Iblis Terhadap Filsuf Yunani & Para Penyembah Berhala

‎Materi 3 # Talbis Iblis‎Talbis Iblis Terhadap Filsuf Yunani & Para Penyembah Berhala ‎Ustadz DR. Firanda Andirja, M.A.‎‎1. Tipu Daya Iblis terhadap Kaum Filsuf (Falasifah) ‎Kecerdasan tanpa Wahyu: Para filsuf Yunani (seperti Socrates, Plato, Aristoteles) sangat cerdas dalam urusan duniawi (fisika, biologi, kimia), namun mereka terjebak ketika mencoba memahami ketuhanan hanya menggunakan akal tanpa cahaya kenabian (Nurun Nubuwwah).‎‎Logika yang Salah: Karena tidak memiliki landasan wahyu, mereka hanya berbicara berdasarkan persangkaan (zhon). Akibatnya, muncul pemikiran menyimpang seperti:‎Alam semesta dianggap Azali (selalu ada) bersama dengan Tuhan sebagai sebab utama (Causa Prima).‎Tuhan dianggap tidak memiliki kehendak, dan alam terjadi hanya sebagai konsekuensi dari kesempurnaan Tuhan.‎Mengingkari kebangkitan jasad di hari kiamat.‎Pengaruh pada Tokoh Lain: Pemikiran ini juga mempengaruhi tokoh seperti Ibnu Sina (terkait ilmu Tuhan dan hari kebangkitan) serta kelompok seperti Mu'tazilah.‎‎2. Tipu Daya Iblis terhadap Pemuja Benda Langit (Ashabul Haikal) ‎Kelompok ini meyakini bahwa benda-benda langit (matahari, planet, dll.) memiliki ruh dan kehidupan.‎Mereka membuat bentuk-bentuk (Haikal) di bumi sebagai perwakilan benda langit tersebut dan melakukan ritual kurban untuk mendapatkan kebaikan atau menghindari keburukan.‎‎3. Tipu Daya Iblis terhadap Penyembah Berhala ‎Awal Mula: Iblis memanfaatkan kecenderungan manusia menyukai bentuk yang indah. Berhala awalnya dibuat untuk mengenang orang-orang saleh, namun lambat laun disembah karena tipu daya setan yang membisikkan bahwa itu adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.‎Logika Terbalik:  konyolnya menyembah berhala yang dibuat oleh tangan manusia sendiri, sementara manusia memiliki fungsi pendengaran, penglihatan, dan akal yang lebih sempurna daripada batu yang disembah tersebut.‎‎Mengapa filsuf Yunani gagal memahami Tuhan?‎Karena mereka hanya mengandalkan logika akal semata tanpa bimbingan wahyu atau petunjuk kenabian, sehingga terjebak dalam persangkaan yang keliru saat membahas perkara gaib.‎‎Bagaimana asal mula penyembahan berhala terjadi?‎Berawal dari niat mengenang orang saleh yang telah wafat dengan membangun patung, namun seiring waktu setan membujuk generasi berikutnya untuk menyembah patung tersebut sebagai perantara kepada Tuhan.‎‎Mengapa filsuf menolak kebangkitan jasad?‎Mereka menggunakan logika manusia yang terbatas. Mereka berpikir secara kimiawi bahwa tubuh yang telah hancur dan menyatu dengan unsur lain tidak mungkin bisa kembali utuh. Padahal, Allah Maha Kuasa untuk menghidupkan kembali bagian-bagian tubuh tersebut sesuai kehendak-Nya.‎‎Mengapa filsuf Yunani ahli perkara duniawi?‎Filsuf Yunani memiliki kecerdasan luar biasa dalam bidang empiris seperti biologi, kimia, dan fisika yang bisa diamati panca indera, sehingga mereka mampu menghasilkan karya ilmiah mendetail terkait fenomena alam yang tampak nyata di dunia.‎‎Apa kelemahan argumen sebab-akibat filsuf?‎Mereka keliru meyakini bahwa akibat harus muncul bersamaan dengan sebab, sehingga mereka menyimpulkan alam semesta bersifat kekal atau azali, yang menolak konsep penciptaan Tuhan secara kehendak langsung dari ketiadaan.‎‎Apa kaitan ilmu Allah dan Zat-Nya?‎Kelompok Mu'tazilah, karena terpengaruh filsafat yang menganggap Tuhan harus bersifat simpel dan tidak boleh beragam, berpendapat bahwa ilmu dan qudrah Allah bukanlah sifat tambahan, melainkan adalah Zat Allah itu sendiri. Ini merupakan upaya memaksakan logika filsafat ke dalam pembahasan teologi yang justru menjauhkan pemahaman dari konsep ketuhanan yang benar.‎‎Apa dampak pengagungan bentuk terhadap akal manusia?‎Kecintaan berlebihan terhadap bentuk-bentuk indah membuat akal sehat manusia tertutup dan tidak berfungsi, sehingga setan dengan mudah menyesatkan mereka untuk menyembah objek fisik atau patung dengan alasan sebagai perantara kedekatan kepada Sang Pencipta.‎

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026

Talbis Iblis Terhadap Filsuf Yunani & Penyembahan Berhala.

Talbis Iblis Terhadap Filsuf Yunani & Penyembahan Berhala. Iblis dapat menyesatkan para filsuf karena mereka menyendiri dengan pendapat dan akal mereka sendiri, berbicara berdasarkan prasangka tanpa memperhatikan para nabi. Sebagian dari mereka mengatakan seperti kaum Dahriyah bahwa tidak ada pencipta alam semesta, sebagaimana yang diriwayatkan oleh An-Naubakhti dan lainnya dari mereka. An-Nahawandi meriwayatkan bahwa Aristoteles dan para pengikutnya mengklaim bahwa bumi adalah bintang di dalam falak ini, dan bahwa di setiap bintang terdapat alam-alam seperti di bumi ini dengan sungai-sungai dan pepohonan, serta mereka mengingkari adanya Sang Pencipta. Kebanyakan dari mereka menetapkan sebab yang qadim (kekal) bagi alam semesta, kemudian mengatakan bahwa alam semesta itu qadim dan selalu ada bersama Allah Ta'ala sebagai akibat dari-Nya dan setara dengan-Nya, tidak terlambat dari-Nya dalam waktu - kesetaraan akibat dengan sebab dan cahaya dengan matahari secara dzat dan tingkatan, bukan secara waktu. Mereka menyembunyikan madzhab mereka dengan mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah pencipta alam semesta. Ini hanya majaz menurut mereka, bukan hakikat, karena pelaku menghendaki apa yang ia lakukan, sedangkan menurut mereka alam semesta muncul secara darurat, bukan Allah yang melakukannya.Dari madzhab mereka adalah bahwa alam semesta kekal selamanya sebagaimana tidak ada permulaan bagi keberadaannya, maka tidak ada akhirnya. Mereka berkata: "Karena ia adalah akibat dari sebab yang qadim dan akibat ada bersama sebab." Jika alam semesta mungkin ada, maka ia tidak qadim dan bukan akibat. Yahya bin Basyir bin Umair An-Nahawandi meriwayatkan bahwa sekelompok filsuf berkata: "Ketika kami menyaksikan alam semesta berkumpul dan berpisah, bergerak dan diam, kami tahu bahwa ia baru dan pasti memiliki yang membuat baru. Kemudian kami melihat bahwa manusia jatuh ke dalam air dan tidak pandai berenang sehingga meminta tolong kepada Sang Pencipta Pengatur itu namun tidak ditolong, atau dalam api, maka kami tahu bahwa Sang Pencipta itu tidak ada."Ia berkata: "Mereka berbeda pendapat tentang tidak adanya Sang Pencipta Pengatur menjadi tiga kelompok: Kelompok pertama berkeyakinan bahwa ketika Dia menyempurnakan alam semesta, Dia menganggapnya baik namun khawatir jika menambah atau menguranginya akan merusaknya, maka Dia menghancurkan diri-Nya sendiri dan alam semesta menjadi kosong dari-Nya, sedangkan hukum-hukum tetap berjalan di antara makhluk hidup dan ciptaan-Nya sesuai kesepakatan. Kelompok kedua berkata: "Justru muncul dalam dzat Allah keragu-raguan sehingga kekuatan dan cahaya-Nya terus tertarik hingga kekuatan dan cahaya itu menjadi dalam keragu-raguan itu, yaitu alam semesta, dan cahaya Allah menjadi buruk sedangkan yang tersisa dari-Nya adalah cahaya buruk." Mereka mengklaim bahwa Dia akan menarik cahaya dari alam semesta kepada-Nya hingga kembali seperti semula, dan karena kelemahan-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya, Dia mengabaikan urusan mereka sehingga kezaliman tersebar. Kelompok ketiga berkata: "Justru Allah ketika menyempurnakan alam semesta, bagian-bagian-Nya tersebar di dalamnya, maka seluruh kekuatan-Nya dalam alam semesta adalah dari substansi ketuhanan." Kebanyakan filsuf berpendapat bahwa Allah Ta'ala tidak mengetahui sesuatu apapun dan hanya mengetahui diri-Nya sendiri. Padahal telah terbukti bahwa makhluk mengetahui dirinya dan mengetahui penciptanya, maka derajat makhluk melebihi derajat Sang Pencipta. Penulis berkata: "Ini adalah kehinaan yang paling jelas sehingga tidak perlu dibicarakan. Lihatlah apa yang dihiasi Iblis untuk orang-orang bodoh ini dengan mengklaim kesempurnaan akal, padahal Abu Ali Ibnu Sina menentang mereka dalam hal ini. Ia berkata: 'Justru Dia mengetahui diri-Nya dan mengetahui hal-hal universal, namun tidak mengetahui hal-hal partikular.' Madzhab ini diambil dari mereka oleh kaum Mu'tazilah seolah-olah mereka menganggap banyak hal yang diketahui. Maka segala puji bagi Allah yang menjadikan kami dari orang-orang yang meniadakan kebodohan dan kekurangan dari Allah serta beriman kepada firman-Nya: "Tidakkah Dia mengetahui apa yang Dia ciptakan?" (Al-Mulk: 14) dan firman-Nya: "Dan Dia mengetahui apa yang di darat dan di laut, dan tidak gugur sehelai daun pun melainkan Dia mengetahuinya" (Al-An'am: 59). Penulis berkata: "Filsuf-filsuf mengingkari kebangkitan jasad dan pengembalian ruh-ruh ke badan-badan serta keberadaan surga dan neraka yang jasmaniah. Mereka mengklaim bahwa itu adalah perumpamaan yang dibuat untuk orang awam agar mereka memahami pahala dan siksa rohaniah. Mereka mengklaim bahwa jiwa tetap ada setelah kematian secara kekal selamanya, baik dalam kenikmatan yang tak tergambarkan untuk jiwa-jiwa yang sempurna, atau dalam kesakitan yang tak tergambarkan untuk jiwa-jiwa yang kotor. Tingkatan kesakitan bisa berbeda-beda sesuai kadar manusia, dan kesakitan bisa hilang dari sebagian jiwa dan lenyap." Talbis Iblis terhadap Penyembah Berhala-berhala. Mereka adalah kaum yang mengatakan bahwa setiap roh dari roh-roh atas memiliki haikal, yaitu jasad dari jasad-jasad langit yang merupakan haikalnya. Hubungannya dengan roh yang khusus dengannya seperti hubungan badan-badan kami dengan ruh-ruh kami, sehingga ia menjadi pengaturnya dan yang mengendalikannya. Di antara haikal-haikal atas adalah planet-planet yang bergerak dan yang tetap. Mereka berkata: "Tidak ada jalan kepada roh itu sendiri, maka mendekatkan diri kepada haikalnya dengan segala ibadah dan kurban." Yang lain dari mereka berkata: "Setiap haikal langit memiliki sosok dari sosok-sosok bawah sesuai bentuk dan substansinya." Maka mereka membuat patung-patung ini dan memahat berhala-berhala serta membangun rumah-rumah untuk mereka. Talbis Iblis terhadap Penyembah Berhala. Penulis berkata: "Setiap cobaan yang digunakan Iblis untuk menyesatkan manusia, sebabnya adalah kecenderungan kepada yang indah dan berpaling dari tuntutan akal. Karena indera merasa nyaman dengan yang serupa, Iblis la'natullahu 'alaih mengajak banyak makhluk untuk menyembah patung-patung dan sama sekali meniadakan kerja akal pada orang-orang ini. Sebagian dari mereka diperlihatkan bahwa patung-patung itu adalah tuhan-tuhan saja. Sebagian yang memiliki sedikit kecerdasan dan ia tahu bahwa tidak akan setuju dengan ini, maka dihiasi untuknya bahwa menyembah ini mendekatkan kepada Sang Pencipta: "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya" (Az-Zumar: 3). Syaikh Abu Al-Faraj rahimahullah berkata: "Lihatlah bagaimana setan mempermainkan mereka dan menghilangkan akal mereka, sehingga mereka memahat dengan tangan mereka apa yang mereka sembah. Alangkah baiknya celaan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap patung-patung mereka ketika Dia berfirman: 'Apakah bagi mereka kaki untuk berjalan, atau tangan untuk memukul, atau mata untuk melihat, atau telinga untuk mendengar?' (Al-A'raf: 195)" Isyarat itu ditujukan kepada para penyembah, yaitu: kalian berjalan, memukul, melihat, dan mendengar, sedangkan patung-patung itu lemah dari hal tersebut, dan patung-patung itu benda mati sedangkan mereka makhluk hidup. Bagaimana mungkin yang sempurna menyembah yang kurang? Seandainya mereka berpikir, niscaya mereka tahu bahwa Tuhan itu membuat segala sesuatu dan tidak dibuat, mengumpulkan dan tidak dikumpulkan, segala sesuatu berdiri dengan-Nya dan Dia tidak berdiri dengan sesuatu. Sesungguhnya manusia seharusnya menyembah siapa yang menciptakannya, bukan apa yang diciptakannya. Adapun apa yang mereka kira bahwa patung-patung itu memberi syafa'at, maka itu khayalan yang tidak ada kesamaran di dalamnya untuk dipegang.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
M
Mahargyani Yogyantari

📍 Kota Depok

Tablis Iblis #3

Talbis Iblis #3Talbis Iblis pada Filsuf Yunani & Penyembah Berhala Para filsuf adalah orang-orang yang sangat cerdas dan mereka menulis mengenai perkara-perkara yang nampak. Sehingga kaum Muslimin terpesona pada kecerdasan mereka. Namun ketika mereka bicara soal ketuhanan, padahal mereka tidak berlandaskan pada keyakinan pada Tuhan,sehingga mereka jadi ngawur karena bagaimanapun kemampuan otaknya terbatas dan hanya melandaskan pada apa yang nampak.Aqidah Falasifa tentang Tuhan ada beberapa mahzab Dahriyah – Pencipta itu tidak ada Pendapat Filsuf Yunani – Alam tercipta dari sebab pertama/kausa prima. Kausa prima ini seakan-akan berfungsi sebagai sebab penciptaan. Kausa prima tersebut datang bersamaan dengan adanya alam semesta. Karena sebab tersebut sempurna, sehingga akibatnya tidak boleh terlambatMunculnya akibat (alam) dari sebab adalah konsekuensi dari sebab,bukan kehendak kausa prima. Konsekuensinya alam azali & alam itu abadiPencipta itu ada– karena kami melihat alam itu muqdas (dari tidak ada menjadi ada). Khilaf tentang hakekat pencipta tersebut. Ilmu Pencipta Falsafah Yunani pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya. Ibnu Sina terpengaruh dengan logika ini. 5. Aqidah Falsafiah tentang Hari Kebangkitan. MerekaIbnu Sina terpengaruh menganggap tidak ada kebanghatbruhAnggapan semacam itu murni dari pemikiran mereka.Para filsuf ini menganggap ada kehidupan di luar angka.sehingga mereka menganggungkan benda-benda langit dan mereka membuat bentuk-bentuk khayalan mereka,bahkan sampai membuat ritual-ritual penyembahan. Penyembahan pada Berhala awalnya untuk mengenang dengan membuat patung dengan nama orang Soleh. Ketika para generasi pembuat patung meninggal, generasi berikutnya dibisiki iblis untuk menyembah berhala. Setan masuk dalam pemikiran mereka dengan dalih menyembah orang Soleh.Bantahan Ibnu Jauzi, manusia lebih sempurna kenapa menyembah yang tidak punya apa-apa? 

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

Talbis Iblis #3

Kajian Kitab Talbis Iblis #3Talbis Iblis Terhadap Filsuf Yunani dan Penyembah Berhala-Ustadz DR Firanda Andirja MA-Aqidah Falasifah tentang PenciptaAda beberapa mazhab :1. DahriyahTidak ada pencipta2. Pendapat Socrates, Plato, Aristoteles (dinukil dari buku-buku mereka) bahwasanya mereka menetapkan :Alam tercipta dari "ilah" Sebab pertama (Kausa Prima) Kausa Prima "seakan-akan" berfungsi sebagai sebab penciptaan Kausa Prima tersebut azali bersama alam. Karena sebab tersebut sempurna sehingga akibatnya tidak boleh terlambat harus bersamaan dengan sebab. - Munculnya akibat (alam) dari sebab adalah konsekuensi dari sebab, bukan kehendak kausa prima => konsekuensinya alam azali dan alam juga abadi3. Pencipta itu ada Dalilnya karena kami melihat alam ini muhdats (dari tidak ada menjadi ada). Ada khilaf tentang hakikat pencipta tersebut :- Alam sudah sempurna lalu Tuhan bunuh diri- Makhluk terlalu hebat, Tuhan lemah hanya nonton- Tuhan menyebar dirinya ke seluruh alamKesimpulan :Demikian akidah falasifa Yunani yang disampaikan oleh Ibnu Jauzi, dan ini murni hanya logika, iblis main di logika mereka, mereka tidak punya cahaya kenabian untuk memikirkan tentang Tuhan, akal mereka tidak mampu lalu mereka memaksakan memikirkan tentang Tuhan akhirnya mereka buntu. Dan mereka pun berselisih.Ilmu Pencipta Falasifa Yunani mengatakan bahwasanya pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya.  Logikanya Tuhan maha sempurna dan tidak boleh mikir kecuali yang sempurna yaitu dirinya semata.Ibnu Sina terpengaruh logika ini tapi lebih mending sedikit, beliau mengatakan Allah mengetahui makhluk-makhluk Nya secara kully (global) tidak terperinci. Logika Ibnu Sina makhluk itu berubah dan ada yang buruk tidak pantas Allah memikirkan ini semua. Logika ini juga mempengaruhi Muktazilah. Ilmu Allah dan qudrah Allah adalah dzatnya sendiriAqidah Falasifa tentang hari kebangkitan - mereka mengingkari kebangkitan jasad dan mengingkari dikembalikan ruh ke jasad. Sehingga mereka mengatakan surga dan neraka tidak ada- Ibnu Sina terpengaruh ini, beliau mengatakan tidak ada kebangkitan jasad yang ada hanya kebangkitan ruh.Talbis Iblis kepada orang-orang yang menyembah haikal-haikal (bentuk-bentuk) - mereka menganggap benda-benda langit ada ruh-ruhnya dan gerakan benda-benda langit tersebut memiliki pengaruh di alam semesta. Benda langit tersebut punya bentuk proyeksi di bumi. Akhirnya mereka membuat haikal-haikal (bentuk-bentuk) untuk mereka ibadahi. Kemudian mereka pun mempersembahkan kurban untuk benda-benda langit tersebut melalui patung-patung yang mereka buat.Talbis Iblis terhadap Penyembahan BerhalaAsal muasal penyembahan terhadap berhala adalah tentang kisah kaum nabi Nuh yang dimana disitu ada orang-orang sholeh yang Allah sebutkan, ketika mereka meninggal maka orang-orang membangun patung dalam rangka untuk mengenang (awalnya bukan untuk disembah) sehingga jika mereka melihat mereka termotivasi untuk beribadah kepada Allah. Lama kelamaan setelah generasi pertama meninggal generasi berikutnya menyembah patung-patung tersebut (karena bisikan syaitan). Kemudian berkembang penyembahan berhala sampai ke jazirah Arab.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
S
SULUNG SURYO DARMAWATI

📍 Kota Bekasi

Talbis Iblis -3

Talbis Iblis -3 Talbis Iblis Terhadap Para Filsuf Yunani & Penyembah BerhalaUstadz Firanda Andirja Hafizhahullahu Ta'ala Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa para filsuf Yunani seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan lainnya adalah orang-orang yang sangat cerdas. Mereka berhasil membahas banyak perkara dunia seperti biologi, fisika, kimia, dan berbagai ilmu yang bersifat hissi (terindra). Karena kecerdasan mereka, banyak kaum muslimin yang kemudian kagum terhadap pemikiran mereka. Namun masalah muncul ketika mereka berbicara tentang ketuhanan dan perkara gaib hanya dengan akal semata tanpa bimbingan wahyu dan ajaran para nabi.Akal memang dapat mengantarkan manusia kepada keyakinan bahwa Tuhan itu ada, Maha Kuasa, dan Maha Agung. Akan tetapi akal tidak mampu menjelaskan secara rinci hakikat Allah, proses penciptaan, maupun perkara-perkara gaib lainnya. Bahkan tentang ruh yang selalu bersama manusia saja kita tidak mengetahui hakikatnya, bentuknya, unsur penyusunnya, dan bagaimana keberadaannya di dalam tubuh. Jika ruh saja tidak mampu dijelaskan oleh akal, apalagi hakikat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena itulah para filsuf akhirnya hanya berbicara berdasarkan dugaan dan persangkaan sehingga melahirkan banyak perselisihan.Di antara pemikiran mereka tentang Tuhan, ada yang mengatakan bahwa tidak ada pencipta sama sekali dan alam terjadi dengan sendirinya. Ada pula yang berpendapat bahwa alam berasal dari suatu sebab utama (causa prima). Namun mereka meyakini bahwa sebab utama tersebut dan alam sama-sama azali, tidak ada yang lebih dahulu. Menurut mereka, sebab yang sempurna menuntut akibat yang sempurna pula sehingga alam harus muncul bersamaan dengan sebab tersebut. Dari sini mereka menyimpulkan bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, tetapi telah ada sejak dahulu kala. Mereka juga mengatakan bahwa alam tidak tercipta karena kehendak Tuhan, melainkan sebagai konsekuensi dari kesempurnaan sebab utama tersebut. Akibatnya mereka meyakini alam bersifat azali dan abadi. Semua ini hanyalah permainan logika yang bertentangan dengan aqidah Islam, karena Allah menciptakan segala sesuatu dengan kehendak-Nya: “Kun fayakun.”Sebagian filsuf lainnya mengakui adanya pencipta, namun mereka bingung ketika melihat doa-doa manusia yang tidak selalu dikabulkan menurut dugaan mereka. Dari sinilah muncul berbagai pendapat aneh, seperti Tuhan telah mati setelah menciptakan alam, Tuhan lemah dan hanya menjadi penonton terhadap alam semesta, atau Tuhan menyatu dengan seluruh alam. Semua pendapat ini lahir karena mereka memaksakan akal untuk membahas perkara yang tidak mungkin diketahui kecuali melalui wahyu.Talbis iblis juga tampak dalam pembahasan mereka tentang ilmu Allah. Sebagian filsuf berpendapat bahwa Tuhan hanya mengetahui diri-Nya sendiri dan tidak mengetahui makhluk-Nya. Alasannya karena Tuhan itu sempurna sehingga hanya boleh memikirkan sesuatu yang sempurna pula. Padahal konsekuensi pemikiran ini sangat rusak, karena berarti makhluk lebih sempurna daripada Tuhan. Dalam Islam, Allah mengetahui segala sesuatu, bahkan daun yang jatuh pun berada dalam ilmu-Nya. Pemikiran ini kemudian mempengaruhi tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina yang berpendapat bahwa Allah hanya mengetahui makhluk secara global, bukan secara rinci. Pendapat ini bertentangan dengan banyak ayat Al-Qur'an yang menegaskan keluasan ilmu Allah.Dalam masalah hari kebangkitan, para filsuf juga mengingkari kebangkitan jasad. Mereka hanya menerima kebangkitan ruh dan menolak adanya surga serta neraka sebagaimana yang dijelaskan dalam syariat. Penolakan ini muncul karena logika mereka tidak mampu memahami bagaimana jasad yang telah hancur bisa dibangkitkan kembali. Padahal Allah yang menciptakan manusia dari ketiadaan tentu mampu menghidupkan kembali jasad yang telah menjadi tanah. Oleh karena itu, pengingkaran terhadap kebangkitan jasad merupakan kekufuran yang bertentangan dengan nash-nash Al-Qur'an.Setelah itu Ibnul Jauzi membahas talbis iblis terhadap para penyembah Haikal. Mereka meyakini bahwa benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan planet memiliki ruh yang mengatur berbagai peristiwa di bumi. Karena keyakinan tersebut, mereka membuat simbol-simbol dan bangunan tertentu sebagai representasi benda-benda langit tersebut lalu mempersembahkan berbagai bentuk ibadah dan kurban kepadanya. Mereka berharap memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan melalui perantara benda-benda langit itu.Kemudian dibahas pula talbis iblis terhadap para penyembah berhala. Iblis memanfaatkan kecenderungan manusia kepada bentuk-bentuk yang indah lalu menghiasi penyembahan berhala dengan berbagai syubhat. Awalnya berhala dibuat hanya untuk mengenang orang-orang saleh agar masyarakat terdorong beribadah kepada Allah. Sebagaimana kisah kaum Nabi Nuh yang membuat patung Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr. Ketika generasi yang memahami tujuan awal pembuatan patung tersebut telah meninggal dan ilmu agama mulai hilang, setan datang membisikkan bahwa patung-patung itu layak disembah dan dapat mendekatkan mereka kepada Allah.Penyembahan berhala kemudian menyebar hingga ke Jazirah Arab melalui Amr bin Luhayy Al-Khuza'i yang membawa berhala dari Syam ke Mekah. Sejak saat itu berbagai berhala seperti Hubal, Latta, Uzza, dan Manat mulai disembah. Bahkan masyarakat Arab sampai begitu fanatik terhadap berhala sehingga ketika kehilangan berhala mereka mencari batu lain untuk dijadikan sesembahan. Jika tidak menemukan batu, mereka membuat gundukan pasir lalu mengelilinginya seperti thawaf.Semua bentuk penyembahan berhala ini menunjukkan bagaimana setan berhasil menipu manusia. Padahal berhala tidak memiliki kemampuan apa pun. Tidak dapat berjalan, melihat, mendengar, maupun memberi manfaat dan mudarat. Logika yang benar seharusnya mengantarkan manusia untuk menyembah Sang Pencipta, bukan menyembah benda yang dibuat oleh tangannya sendiri. Karena itu Allah mencela orang-orang musyrik yang meninggalkan tauhid dan menyembah sesuatu yang tidak mampu memberi manfaat maupun menolak bahaya. Inilah salah satu bentuk besar talbis iblis yang terus berulang dalam sejarah manusia.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Materi 3

Dr. Firanda Andirja, Lc, MATALBIS IBLIS #MATERI 3Talbis Iblis terhadap Filsuf Yunani dan Penyembah BerhalaI. TALBIS IBLIS TERHADAP FILSUF YUNANI Falasifah adalah orang-orang yang sangat cerdas. Mereka menulis tentang hal-hal yang tampak seperti biologi, kimia, fisika dengan otak mereka yang luar biasa cerdasnya. Lalu tulisan mereka diterjemahkan dalam Bahasa Arab sehingga kaum muslim kagum kepada mereka karena belum pernah dibicarakan oleh kaum muslimin. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika para filsuf ini mulai berbicara tentang Teologi dan hanya mengandalkan kecerdasan otak mereka, sedangkan mereka tidak pernah mendengar penjelasan Nabi, sehingga pendapat mereka pun keliru dan hanya penuh dengan sangkaan. Ibnu jauzi berkata "Mereka bersendirian dalam akal mereka, dan mereka berbicara dalam persangkaan mereka, tanpa menengok ajaran para Nabi, akhirnya timbullah berbagai macam pendapat di kalangan mereka"Ketika berbicara ilmu ilmiah: para filsuf semua sependapatKetika berbicara tentang teologi: para filsuf banyak yang berbeda pendapat karena tidak punya landasan. A. AQIDAH FALASIFAH TENTANG PENCIPTAAda beberapa mazhab di kalangan mereka:1) DahriahBerpendapat pencipta tidak ada2) Pendapat Sokrates, Plato dan Aristoteles Mereka mengatakan "Alam tercipta dari sebab utama (Kausa Prima) dan Kausa prima tersebut azali bersama alam"Logika Iblis kepada mereka: bahwa kausa prima tersebut sangat sempurna sehingga akibatnya tidak boleh terlambat dan harus bersamaan.Bantahan:QS. Al Baqarah 117 قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ..."...Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah sesuatu itu."Ketika Allah mengatakan "Terjadi" langsung terjadi, tidak memerlukan sebab. Munculnya akibat (alam) dari sebab adalah konsekuensi dari sebab, bukan kehendak kausa prima. Sehingga mereka menolak bahwa kausa prima ini mempunyai keinginan. Konsekuensi pemikiran ini: bahwa alam ini azali dan abadi. 3) Pencipta itu adaDalil mereka karena melihat alam ini muhdats (dari tidak ada menjadi ada). Khilaf tentang hakekat penciptaan tersebut:Alam sudah sempurna, sehingga Tuhan bunuh diriMakhluk terlalu hebat, sehingga Tuhan lemah hanya sekedar nontonTuhan menyebarkan dirinya ke seluruh alamB. ILMU PENCIPTA1) Falasifah Yunani Mengatakan bahwasanya pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya. Logika mereka: Tuhan Maha Sempurna dan tidak boleh berpikir kecuali yang sempurna yaitu dirinya semataBantahan:Logikanya aneh berarti makhluk lebih pintar dari aneh, karena makhluk memikirkan tuhannya dan hal lainnyaYANG TERPENGARUH OLEH LOGIKA INI:1) Ibnu Sina dia berpendapat:Allah mengetahui makhluk-makhlukNya secara "Kulli" (global) bukan terperinci. Syubhat logika Ibnu Sina-Makhluk berubah-ubah, ada yang buruk, sehingga tidak pantas Allah mengetahui makhlukNya2) Mu'tazilahMereka mengatakan bahwa Ilmu Allah dan qudrah Allah adalah dzatNya sendiriC. AQIDAH FALASIFAH TENTANG HARI KEBANGKITANMereka mengingkari kebangkitan jasad, mengingkari dikembalikan ruh ke jasad, dan mengingkari surga dan neraka. Ibnu Sina juga terpengaruh dengan pemikiran ini. II. TALBIS IBLIS TERHADAP PENYEMBAH BERHALAIblis mempengaruhi sekelompok manusia untuk meyakini bahwa benda-benda langit ada ruhnya dan gerakan-gerakan planet mempengaruhi pergerakan di muka bumi, sehingga mereka memiliki pengagungan terhadap benda-benda tersebut. Akhirnya mereka pun menyembah planet, matahari dan mengorbankan hewan, anak-anak untuk planet tersebut melalui patung-patung yang mereka buat. Jika ada orang yang meragukan untuk menyembah patung, Iblis memasuki pikiran mereka bahwa patung itu disembah untuk mendekatkan diri kepada Allah.Asal muasal penyembahan berhala:5 orang sholeh yang ketika meninggal, orang-orang membuat patung mereka agar ketika melihat patung tersebut, masyarakat semangat untuk beribadah. Lalu ketika waktu berlalu, muncul generasi berikutnya dan ilmu sudah dilupakan, muncullah syubhat syaithon yang mengatakan bahwa patung-patung tersebut disembah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
D
Dinda Anisya Rahma

📍 Kota Tegal

Ringkasan mater 3

Talbis Iblis #3 - Talbis Iblis Terhadap Filsuf Yunani & Penyembah BerhalaUstadz Dr. Firanda Andirja, M.AIbnu Jauzi telah menyinggung tentang pemikiran-pemikiran falasifah — bagaimana syaithon masuk kedalam pemikiran-pemikiran mereka, sehingga dalam berbicara melantur tentang ketuhanan.Ibnu Jauzi mengatakan, mereka falasifah ketika berbicara tentang teologi, mereka tidak memiliki landasan, kalau berbicara tentang perkara yang nampak oke, namun ketika berbicara tentang yang ghoib mereka melantur. Mereka bersendirian dalam otak mereka, akal dan pendapat mereka sesuai prsangka mereka tanpa melihat pendapat para nabi, yang akhirnya timbul berbagai macam pendapat di kalangan mereka.Para falasifah ketika berbicara tentang sesuatu (ilmu) yang nampak, mereke sepakat atau sependapat, namun ketika berbicara tentang ketuhanan karena tidak ada landasan mereka banyak khilaf.Contohnya selain membicarakan tentang ketuhanan adalah tentang ruh, ruh saja yang ada pada jasad kita, kitdak dapat menjelaskan bagaimana bentuknya, dan akan ada beribu-ribu pendapat mengenai ruh. Seperti firman Allah subhanahuwata’ala,َيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. Al Isra’: 85)Aqidah Falasifah tentang “Pencipta”Ada beberapa madzab dikalangan mereka :Dahriyah (Pencipta tidak ada), artinya mereka berpendapat alam ada tanpa ada pencipta.Pendapat Sakratos, platon, Arisokteles dari buku-buku mereka. Mereka mengatakan “Alam ini tercipta dari " العلة " atau “sebab pertama” (Kausa Prima). Kausa prima ini lah yang seakan berfungsi sebagai sebab penciptaan.- Kausa prima tsb azali bersama alam (sama-sama keberadaannya) karena sebab tsb sempurna sehingga akibatnya tidak boleh terlambat, harus bersamaan dengan sebab. Kalau dalam Islam:  “Dulu Allah sendirian tidak ada selain Allah subhanahuwata’ala. Dalilnya,ِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia”. (QS. Yasin: 82)Ayat ini menunjukkan, ada sebab ada akibat. Akibat muncul belakangan setelah ada sebab. Langsung tanpa ada jeda. Namu kaum falasifah, mereka berpendapat sebab dan akibat ada bersamaan atau berdampingan atau persis berbarengan.Munculnya akibat (alam) dari sebab adalah konsukuensi dari sebab, bukan kehendak kausa prima. Mereka mengatakan sebab bukan berkehendak dalam menciptakan akibat. Artinya akibat alam semesta ini bukan terjadi karena keinginan kausa prima tetapi dia terjadi karena merupakan konsukuensi sempurnanya kausa prima tsb. Bukan karena Kausa Prima menghendaki alam tercipta, tetapi karena keberadaan Kausa Prima secara otomatis menghasilkan alam.c. Pencipta itu ada, namun tidak ada fungsinyaDalilnya karena kami melihat alam ini muhdats (dari tidak ada menjadi ada)Khilaf tentang pencipta tsb :Alam sudah sempurna, tuhan bunuh diri.Makhluk terlalu hebat. Tuhan lemah hanya nonton. Logika mereka kalau tuhan ada seharusnya tidak ada keburukan.Tuhan menyebar dirinya keseluruh alam (tuhan menyatu dengan alam).Ini semua merupakan akidah falasifah yang disampikan Ibnu Jauzi rahimahullahuta’ala, yang ini semua murni logika yang disusupkan oleh syaithon kedalam pemikiran kaum falasifah.Ibnu Jauzi juga menyebutkan dalam kitab talbis iblis mengenai Ilmullah, ilmu khaliqIlmu PenciptaFalasifah (Yunani) mengatakan, pencipta tidak berilmu kecuali hanya diri-Nya.Logikanya adalah Tuhan Maha Sempurna dan tidak boleh berfikir kecuali yang sempurna juga, yaitu diri-Nya sendiri.> Logika falasifah ini mempengaruhi Ibnu Sina. Ibnu Sina mengatakan bahwa Allah mengetahui makhluk-makhluk-Nya secara kulli (global), bukan terperinci. Logikanya Ibnu Sina : Makhluk itu berubah-ubah dan ada yang buruk tidak pantas, Allah memikirkan ini semuanya.> Logika falasifah ini juga mempengaruhi Muktazilah. Ilmu Allah dan qudrah Allah adalah dzat-Nya sendiri.Aqidah Falasifah, tentang hari kebangkitanMereka mengingkari kebangkitan jasad, dan mengingkari dikembalikan ruh ke jasad (Surga & Neraka Tidak Ada). Ibnu SIna terpengaruh : Tidak ada kebangkitan jasad, yang ada hanya kebangkitan ruh. Ini semua murni logika, karena logika mereka tidak sampai.Imam Ibnul Jauzi membahas talbis iblis terhadap orang-orang yang menyembah haikal-haikal (الهياكل), dalam filsafat dan sebagian agama kuno, haikal berarti: benda-benda di langit yang dianggap memiliki ruh disetiap bendanya. Misalnya matahari, memiliki pengaruh terhadap makhluk dimuka bumi ini, sehingga mereka membuat haikal-haikal yaitu bentuk sebagai penyambungan mereka dengan rohani- rohani yang ada di langit . Haikal adalah benda yang memiliki proyeksi terhadap benda-benda dilangit itu, yang mana iblis menanamkan pemikiran bahwa benda-benda di langit ada ruhnya. Ini disebut Ash Habul Hayā.Imam Ibnu Jauzi juga menyebutkan talbis iblis orang-orang penyembah terhadap berhala. Iblis kali ini masuk kepada kecenderungan manusia untuk melihat bentuk-bentuk yang indah sehingga akal dibuang, agar orang-orang terpengaruh terhadap bentuk-bentuk. Digambarkan kepada mereka, bahwasanya patung-patung ini adalah sesembahan yang punya pengaruh jika disembah. Dalilnya,ما نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى“Kami tidak meyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS Az Zumar : 3)Asal muasal penyembahan terhadap berhala. Pada zaman kaum nabi Nuh, yang mana ada 5 orang sholih, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, yang mana ketika mereka meninggal orang-orang membuat patung yang menyerupai mereka untuk mengenai, namun lama-lama menjadi berhala untuk di sembah.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya3 Juni 2026
S
Syifa’ Fauziah

📍 Kabupaten Lima Puluh Kota

Catatan Kajian Talbis Iblis #3

Catatan Kajian Talbis Iblis #3Talbis Iblis terhadap Filsuf Yunani dan Penyembah BerhalaRingkasan Bab 5 Kitab Talbis Iblis karya Ibnul JauziPendahuluanIbnul Jauzi menjelaskan bahwa salah satu tipu daya terbesar Iblis adalah menghiasi kesesatan dengan kemasan ilmu, logika, dan pemikiran yang tampak masuk akal. Akibatnya, sebagian manusia lebih mengutamakan akal daripada wahyu sehingga terjatuh dalam penyimpangan akidah.Talbis Iblis terhadap Kaum Filsafat YunaniSiapakah Kaum Filsafat?Tokoh-tokoh seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles dikenal sebagai pemikir besar dalam berbagai bidang ilmu. Namun ketika membahas perkara ketuhanan dan alam gaib, mereka menjadikan akal sebagai sumber utama tanpa bimbingan wahyu.Keterbatasan Akal dalam Masalah AkidahMenurut Ibnul Jauzi:Akal manusia memiliki batas.Perkara gaib tidak dapat diketahui hanya dengan logika.Ketika akal diposisikan di atas wahyu, akan muncul banyak perselisihan dan kesimpulan yang saling bertentangan.Allah menciptakan akal untuk memahami petunjuk-Nya, bukan untuk menggantikan wahyu.Tiga Pendapat Filsafat Yunani tentang Tuhan dan Alam Semesta1. Tidak Ada TuhanSebagian filosof berpendapat bahwa alam semesta ada dengan sendirinya tanpa pencipta. Mereka menolak keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam.2. Teori Causa Prima (Sebab Pertama)Mereka mengakui adanya sebab pertama yang menjadi asal mula segala sesuatu, tetapi beranggapan bahwa alam semesta telah ada sejak dahulu bersama sebab pertama tersebut.Akibatnya mereka menolak penciptaan alam dari ketiadaan (creatio ex nihilo).3. Tuhan Ada tetapi Tidak AktifSebagian lainnya menganggap Tuhan hanya menjadi penyebab awal, kemudian tidak lagi mengatur alam semesta.Pandangan ini bertentangan dengan keyakinan Islam bahwa Allah senantiasa mengatur seluruh makhluk-Nya.Penyimpangan Filosof tentang AllahIbnul Jauzi menyebut beberapa kesalahan mendasar:1. Tuhan Bunuh DiriSebagian filosof menggambarkan Tuhan seolah menciptakan alam karena kekurangan atau kebutuhan tertentu.2. Tuhan LemahMereka menganggap Tuhan tidak mampu mengatur rincian urusan makhluk setelah menciptakan alam.3. PantheismeAda yang berkeyakinan bahwa Tuhan menyatu dengan alam semesta sehingga tidak ada pemisahan antara Pencipta dan ciptaan.Semua keyakinan tersebut bertentangan dengan tauhid yang diajarkan para nabi.Kesalahan tentang Ilmu AllahSebagian filosof berpendapat bahwa Allah hanya mengetahui perkara-perkara umum dan tidak mengetahui rincian kejadian pada makhluk.Padahal Allah berfirman bahwa Dia mengetahui segala sesuatu hingga perkara yang paling kecil sekalipun.Pengaruh kepada Sebagian Kelompok IslamPemikiran filsafat Yunani kemudian memengaruhi sebagian kelompok seperti:Mu’tazilahSebagian pengikut Ibnu SinaMereka menggunakan pendekatan filsafat dalam pembahasan sifat-sifat Allah sehingga menimbulkan berbagai penyimpangan akidah.Penolakan Kebangkitan JasmaniPara filosof menolak kebangkitan jasad pada Hari Kiamat dan hanya menerima kebangkitan ruh.Mereka menganggap jasad yang telah hancur tidak mungkin dikembalikan lagi.Ibnul Jauzi menegaskan bahwa keyakinan ini bertentangan dengan nash Al-Qur’an dan Sunnah yang menetapkan adanya kebangkitan jasmani dan ruhani.Talbis Iblis terhadap Penyembah Benda LangitSebelum muncul penyembahan berhala, sebagian manusia menyembah:MatahariBulanBintang-bintangPlanet-planetMereka meyakini benda-benda langit memiliki pengaruh terhadap nasib, rezeki, dan kehidupan manusia.Iblis menghiasi keyakinan ini hingga manusia melakukan ritual dan pengagungan kepada benda-benda langit tersebut.Talbis Iblis terhadap Penyembah BerhalaAwal Mula Penyembahan BerhalaIblis memanfaatkan kecenderungan manusia untuk mengagungkan orang-orang saleh.Awalnya patung dibuat hanya sebagai pengingat terhadap orang-orang saleh yang telah wafat. Namun seiring berjalannya waktu:Patung dihormati.Patung diagungkan.Patung dijadikan perantara ibadah.Patung akhirnya disembah.Inilah tahapan kesesatan yang dihiasi oleh Iblis.Penyebaran Berhala di Jazirah ArabMenurut riwayat yang disebut para ulama, penyembahan berhala di Jazirah Arab berkembang melalui pengaruh Amr bin Luhay yang membawa berhala dari Syam ke Makkah.Kemudian setiap kabilah memiliki berhala masing-masing yang mereka sembah dan mintai pertolongan.Kritik Ibnul Jauzi terhadap Penyembahan BerhalaIbnul Jauzi menegaskan bahwa berhala:Tidak dapat mendengar.Tidak dapat melihat.Tidak dapat memberi manfaat.Tidak dapat menolak mudarat.Menyembah sesuatu yang diciptakan merupakan bentuk kebodohan terbesar karena meninggalkan Sang Pencipta demi makhluk yang lemah.Pelajaran dan Hikmah1. Akal Memiliki BatasAkal adalah nikmat Allah yang besar, tetapi tidak mampu menjangkau seluruh perkara gaib.2. Wahyu adalah Sumber KebenaranDalam urusan akidah, wahyu harus menjadi rujukan utama.3. Penyimpangan Berawal dari Pengagungan BerlebihanBanyak kesyirikan bermula dari penghormatan yang melampaui batas kepada orang saleh.4. Iblis Menyesatkan Secara BertahapKesesatan jarang datang sekaligus, tetapi melalui langkah-langkah kecil yang tampak baik.5. Tauhid Harus Dijaga dengan IlmuSeorang muslim perlu mempelajari akidah yang benar agar tidak terpengaruh oleh syubhat pemikiran maupun tradisi yang menyimpang.KesimpulanBab ini menunjukkan bahwa tipu daya Iblis tidak hanya melalui hawa nafsu, tetapi juga melalui pemikiran dan keyakinan yang tampak ilmiah. Ketika manusia mendahulukan akal di atas wahyu, mereka mudah terjatuh dalam kesesatan sebagaimana yang terjadi pada sebagian filosof dan penyembah berhala. Keselamatan hanya dapat diraih dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para salaf umat ini.

💬 0 komentar📅 3 Jun 2026Baca selengkapnya →