Rangkuman Kajian Talbis Iblis #4
"Talbis Iblis #4 Kepada Penganut Reinkarnasi & Khawarij" BAGIAN I: TALBIS IBLIS KEPADA PENGANUT REINKARNASI1. Perbandingan Konsep Pembalasan: Islam vs ReinkarnasiKonsep dalam Islam:Islam memiliki konsep pembalasan amal yang sangat jelas, adil, dan terperinci. Setiap perbuatan manusia di dunia akan mendapatkan balasan yang dimulai sejak di alam barzah (alam kubur) dan puncaknya di alam akhirat. Islam mengenal adanya hari kebangkitan, hari perhitungan amal di mana semua perbuatan manusia diaudit secara ketat, serta penimbangan amal sebelum akhirnya ditentukan tempat kembali di surga atau neraka.Konsep Reinkarnasi:Paham ini meyakini bahwa balasan atas perbuatan manusia di masa lalu tidak terjadi di akhirat, melainkan terjadi di dunia ini pada kehidupan berikutnya. Jika seseorang berbuat baik, maka setelah mati ia akan dilahirkan kembali ke dunia dalam tingkatan atau strata sosial yang lebih baik. Sebaliknya, jika ia berbuat buruk, ia akan dilahirkan kembali dalam kondisi yang menderita, cacat, miskin, atau bahkan menjelma menjadi hewan yang hina seperti serangga atau tikus.2. Bantahan Logis Islam terhadap Penganut ReinkarnasiInti dari sebuah konsep pembalasan yang benar adalah pelaku harus menyadari, merasakan, dan mengingat apa kesalahan atau kebaikan yang pernah ia perbuat di masa lalu.Kenyataannya, tidak ada satu pun manusia di atas muka bumi ini yang mampu mengingat kehidupan masa lalunya secara sadar.Tanpa adanya ingatan terhadap masa lalu, konsep pembalasan melalui reinkarnasi menjadi tidak ada gunanya (sia-sia) dan kehilangan fungsinya sebagai sarana pembelajaran atau hukuman yang adil.3. Syubhat (Kerancuan Berpikir) yang Memengaruhi Penganut ReinkarnasiBerdasarkan penjelasan Al-Imam Ibnu Jauzi, salah satu syubhat utama yang membuat orang memercayai reinkarnasi adalah ketika mereka melihat anak-anak kecil atau bayi yang terlahir dalam kondisi cacat, sakit, atau mengalami penderitaan yang hebat.Penganut reinkarnasi menyimpulkan bahwa tidak mungkin Tuhan memberikan penderitaan kepada anak kecil yang belum memiliki dosa, kecuali penderitaan itu adalah dampak atau hukuman dari dosa-dosa yang mereka lakukan pada kehidupan di masa lalu.4. Tahapan Reinkarnasi Menurut Paham TertentuPaham ini menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, jiwanya akan berpindah ke suatu alam transisi.Jika jiwanya baik, ia akan bercampur dengan cahaya matahari lalu menitis pada tumbuh-tumbuhan atau sayur-sayuran. Ketika sayuran itu dimakan oleh manusia, ruh tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia dan dilahirkan kembali melalui rahim seorang wanita dengan kondisi atau strata sosial yang tinggi.Jika jiwanya buruk, ruhnya akan menitis pada serangga, yang kemudian dimakan oleh hewan lain, lalu lahir kembali menjadi hewan yang hina. Konsep ini meyakini bahwa ia baru bisa kembali menjadi manusia setelah melewati waktu ribuan tahun.5. Kisah-Kisah Khurafat Terkait ReinkarnasiKisah Kucing Hitam: Abu Bakar Ibnu Falas menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang penganut paham Syiah yang terpengaruh reinkarnasi. Orang tersebut sedang mengusap-usap seekor kucing hitam hingga kucing itu meneteskan air mata, lalu orang tersebut ikut menangis histeris. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa kucing hitam itu adalah reinkarnasi mendiang ibunya yang sedang menangis karena menyesali perbuatannya di masa lalu.Kisah Kambing di India: Seorang mahasiswa di Madinah menceritakan bahwa di India, ketika ia berkunjung ke rumah temannya, ada seekor kambing yang masuk ke dalam rumah. Temannya langsung menyayangi kambing tersebut karena meyakini bahwa kambing itu adalah reinkarnasi pamannya yang baru saja meninggal dunia.Kisah Reinkarnasi Sultan: Ada orang di zaman modern yang mengubah gaya hidupnya secara ekstrem menjadi sangat mewah dan ingin memiliki banyak selir. Hal ini ia lakukan setelah diyakinkan oleh seseorang bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari seorang sultan atau raja besar yang hidup beberapa abad lalu.BAGIAN II: TALBIS IBLIS KEPADA KAUM KHAWARIJ6. Karakteristik Utama dan Pola Godaan Iblis kepada KhawarijKhawarij adalah golongan atau kelompok bidah (firqah) pertama yang muncul dalam sejarah Islam.Cara iblis menjerumuskan kaum Khawarij berbeda dengan cara iblis menggoda orang yang gemar bermaksiat. Jika kepada pelaku maksiat iblis menghiasi kemaksiatan (seperti zina, narkoba, khamar, dan musik), maka kepada kaum Khawarij iblis masuk melalui jalur kelebihan dan semangat ibadah yang ekstrem.Kaum Khawarij digoda untuk merasa memiliki tingkat ketakwaan yang lebih tinggi daripada orang lain. Akibatnya, muncul sifat ujub (bangga diri) dan su'udzon (berburuk sangka) yang parah terhadap umat Islam lainnya. Karena menganggap diri mereka paling suci, mereka menjadi sangat mudah mengkafirkan (takfir) kaum muslimin yang melakukan dosa atau tidak sejalan dengan pemikiran mereka.7. Cikal Bakal Khawarij di Zaman Nabi Muhammad SAWPelopor atau nenek moyang pemikiran Khawarij muncul pertama kali di zaman Nabi, yaitu seorang pria bernama Dzul Khuwaishirah At-Tamimi.Ciri fisiknya digambarkan memiliki mata cekung, dahi menonjol, jenggot lebat, kain sarung yang digulung tinggi, dan kepalanya botak.Saat Nabi Muhammad SAW sedang membagikan harta rampasan (ghanimah) kepada para mualaf demi melunakkan hati mereka, pria ini memprotes pembagian tersebut secara lisan dengan sombong dan berkata, "Bertakwalah kepada Allah, wahai Muhammad, berlakulah adil!"Nabi menegurnya dengan menegaskan bahwa beliaulah orang yang paling bertakwa di bumi dan pemegang amanah langit. Ketika pria itu pergi, Nabi memprediksi bahwa dari keturunan atau pengikut orang inilah akan lahir suatu kaum yang rajin membaca Al-Qur'an, namun bacaan tersebut hanya di mulut saja dan tidak pernah melewati kerongkongan mereka (tidak masuk ke hati). Mereka akan keluar dari agama Islam secepat anak panah menembus hewan buruannya.8. Munculnya Khawarij Sebagai Gerakan di Zaman Ali bin Abi ThalibGerakan Khawarij meletus menjadi aksi nyata pasca-terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, yang memicu perbedaan ijtihad politik antara kubu Khalifah Ali bin Abi Thalib dan kubu Mu'awiyah. Perbedaan ini memuncak pada pertempuran (Perang Jamal dan Perang Shiffin).Ketika kedua kubu sepakat untuk menghentikan perang dan menempuh jalan damai melalui perundingan (Tahkim), sekelompok pasukan Ali merasa tidak puas. Sebanyak dua belas ribu orang memisahkan diri dan mendirikan markas tersendiri.Mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-Asy'ari, serta seluruh kaum muslimin yang menyetujui perdamaian tersebut. Mereka menggunakan slogan politis berbasis ayat Al-Qur'an: "Tidak ada hukum kecuali milik Allah."9. Dialog Sejarah: Sahabat Ibnu Abbas Mematahkan Syubhat KhawarijSahabat Ibnu Abbas meminta izin kepada Khalifah Ali untuk mendatangi markas Khawarij guna melakukan diskusi. Ibnu Abbas mendapati penampilan fisik mereka sangat meyakinkan: dahi mereka terluka karena terlalu sering sujud, tangan mereka kapalan, pakaian mereka sangat sederhana, dan wajah mereka pucat karena sering terjaga untuk shalat malam serta berpuasa. Namun, Ibnu Abbas berhasil mematahkan tiga syubhat utama mereka:Syubhat Pertama: Mengapa Ali melibatkan manusia dalam memutuskan urusan agama Allah?Bantahan Ibnu Abbas: Allah sendiri di dalam Al-Qur'an menyerahkan urusan hukum kepada manusia untuk perkara-perkara kecil, seperti menentukan denda berburu saat ihram melalui dua orang saksi yang adil, atau mengirim utusan (hakam) dari pihak suami dan istri untuk mendamaikan keretakan rumah tangga. Jika Allah mengizinkan manusia menghukumi masalah hewan buruan dan rumah tangga, maka melibatkan manusia untuk menyelamatkan darah ribuan kaum muslimin jauh lebih utama.Syubhat Kedua: Mengapa Ali berperang tetapi tidak menawan wanita atau mengambil harta rampasan (ghanimah)?Bantahan Ibnu Abbas: Dalam Perang Jamal, pihak lawan dipimpin oleh Ummul Mukminin Aisyah (istri Nabi). Ibnu Abbas bertanya kepada mereka, "Apakah ada di antara kalian yang berani menghina kehormatan Aisyah atau menjadikannya sebagai budak tawanan wanita?" Kaum Khawarij terdiam karena Al-Qur'an menegaskan bahwa istri-istri Nabi adalah ibunda bagi kaum mukmin.Syubhat Kedua: Mengapa Ali bersedia menghapus gelar "Amirul Mukminin" saat kesepakatan damai?Bantahan Ibnu Abbas: Tindakan Ali meniru langsung tindakan Nabi Muhammad SAW dalam Perjanjian Hudaibiyah. Saat itu, kaum musyrikin Mekah menolak penulisan gelar "Rasulullah", sehingga Nabi dengan berlapang dada menghapusnya dan menggantinya dengan "Muhammad bin Abdillah" agar perdamaian bisa tercapai.Hasil dari diskusi ilmiah ini membuat dua ribu orang Khawarij sadar, bertobat, dan kembali bergabung dengan pasukan Khalifah Ali, sementara sisanya tetap memilih sesat.10. Kekejaman Kaum Khawarij dan Perang NahrawanSisa kaum Khawarij yang keras kepala mulai melakukan aksi teror. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Sahabat Abdullah bin Khabbab. Setelah mengonfirmasi sebuah hadis tentang fitnah akhir zaman, kaum Khawarij justru menyembelih Abdullah bin Khabbab di tepi sungai secara keji. Tidak hanya itu, mereka juga membelah perut budak wanitanya yang sedang hamil tua dan membunuh bayi di dalamnya.Mendengar kabar kekejaman yang ekstrem ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib meminta mereka menyerahkan pelaku pembunuhan. Kaum Khawarij menantang dengan menjawab, "Kami semua yang membunuhnya!"Karena mereka sudah mulai menumpahkan darah kaum muslimin dan mengancam stabilitas negara, Khalifah Ali mengerahkan pasukan untuk memerangi mereka secara total dalam Perang Nahrawan, hingga kekuatan mereka hancur.11. Tragedi Pembunuhan Ali bin Abi Thalib oleh Abdurrahman bin MuljamPasca-kekalahan di Nahrawan, tiga orang sisa Khawarij berkumpul di Mekah dan bersumpah untuk membunuh tiga tokoh besar Islam sekaligus: Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah, dan Amr bin Ash.Abdurrahman bin Muljam mendapat tugas untuk mengeksekusi Khalifah Ali di Kufah. Pada suatu subuh di bulan Ramadan, saat Ali berjalan menuju masjid untuk shalat subuh, Abdurrahman bin Muljam menikam kepala Ali dengan pedang yang telah direndam racun mematikan selama satu bulan penuh. Tikaman tersebut menembus otak dan menyebabkan wafatnya menantu Rasulullah tersebut.12. Ironi Kematian Abdurrahman bin Muljam (Puncak Talbis Iblis)Setelah ditangkap, Abdurrahman bin Muljam dijatuhi hukuman mati dengan cara dipotong tangan dan kakinya, serta matanya ditusuk dengan besi panas. Selama proses eksekusi fisik yang menyakitkan itu, ia sama sekali tidak berteriak atau mengeluh, melainkan terus dengan tenang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.Namun, ketika algojo hendak memotong lidahnya, ia baru menunjukkan rasa takut dan menangis. Ketika orang-orang heran mengapa ia baru takut saat lidahnya dipotong, ia menjawab bahwa ia takut mati dalam kondisi sedetik pun tidak berzikir kepada Allah.Ustaz Firanda menutup ceramah dengan menegaskan betapa mengerikannya talbis iblis ini. Orang yang melihat kematian Abdurrahman bin Muljam secara sekilas mungkin akan mengiranya sebagai seorang wali Allah karena keteguhannya dalam berzikir dan membaca Al-Qur'an di saat-saat terakhir. Padahal, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam, ia adalah manusia paling celaka di zamannya dan termasuk dalam golongan "anjing-anjing penghuni neraka jahanam" karena telah membunuh salah satu sahabat terbaik, Ali bin Abi Thalib.
















