Ringkasan TafsirQS At Taubah : 551. Siapa yang dimaksud dengan "mereka"? Siapa yang dimaksud dengan “mereka”?Ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik yang disebut dalam rangkaian ayat sebelumnya. Mereka memiliki harta, anak-anak, dan tampilan kehidupan dunia yang secara lahiriah tampak menyenangkan. Namun, mereka tidak menjadikan semua itu sebagai sarana iman dan ketaatan.Karena itu, Allah memperingatkan Nabi ﷺ agar tidak terpesona oleh keadaan mereka. Banyaknya harta dan anak bukan bukti bahwa seseorang dicintai Allah atau berada di atas kebenaran.Menurut Tafsir al-Muyassar, mereka adalah kaum munafik. Harta dan anak-anak itu menjadi sebab azab dunia karena mereka mengalami kelelahan dalam mengumpulkan dan menjaganya, serta berbagai musibah yang menimpanya. Mereka kemudian meninggal dalam keadaan kafir.2. Makna umum ayatA. Harta dan anak bukan ukuran kemuliaanAllah berfirman:“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu.”Larangan ini ditujukan kepada Nabi ﷺ, dan secara pelajaran juga mencakup umat beliau: jangan menganggap kehidupan dunia seseorang sebagai tanda keberhasilan hakiki hanya karena ia kaya, memiliki banyak anak, atau tampak sukses.Al-Baghawi menjelaskan bahwa maksudnya adalah: jangan menganggap baik atau mengagumi berbagai kenikmatan yang diberikan kepada mereka. Sebab, apabila orang yang mendapat nikmat itu berada dalam keadaan kufur dan terus menjauh dari Allah, banyaknya harta dan keturunan dapat menjadi bentuk istidrāj—yakni seseorang terus diberi kelapangan sementara ia semakin jauh dan akhirnya semakin dekat kepada kebinasaan.Namun, ayat ini tidak berarti bahwa harta atau anak pada dirinya adalah keburukan. Harta dapat menjadi nikmat dan sarana kebaikan bagi orang beriman. Yang tercela adalah ketika harta dan anak:membuat seseorang lalai dari Allah;menjadi tujuan tertinggi hidup;menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban;membuatnya berat berzakat dan berinfak;atau memperkuat kesombongan, kemunafikan, dan kekufuran.B. Sesuatu yang tampak sebagai nikmat dapat berubah menjadi azabAllah berfirman:“Sesungguhnya Allah menghendaki dengan harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia.”Para mufasir menjelaskan beberapa bentuk azab dunia tersebut:1.Kelelahan dalam mencari dan mengumpulkan harta.Mereka terus mengejar dunia dengan ambisi yang tidak pernah selesai.2. Kecemasan dalam menjaga harta dan keluarga.Apa yang mereka anggap sebagai sumber kebahagiaan justru menjadi sumber ketakutan, kekhawatiran, dan beban.3.Kewajiban yang terasa berat bagi mereka.Al-Hasan al-Bashri—sebagaimana dinukil oleh al-Tabari, al-Qurtubi, al-Baghawi, dan Ibn Kathir—menjelaskan bahwa harta itu menjadi azab melalui kewajiban mengeluarkan zakat dan berinfak di jalan Allah, karena mereka melakukannya dengan hati yang tidak rela.4.Musibah yang menimpa harta dan anak.Ibn Zayd menjelaskan bahwa di antara bentuk azab tersebut adalah berbagai musibah yang terjadi pada harta dan keluarga mereka.5.Terikatnya hati kepada dunia.Al-Sa‘di menekankan bahwa hukuman yang berat adalah ketika hati mereka melekat kepada harta dan anak, sehingga keinginan mereka tidak melampaui dunia dan hampir tidak menyisakan perhatian untuk akhirat.rta atau anak, tetapi menjadikan keduanya sebagai pusat kehidupan sementara iman dan akhirat ditinggalkan.C. Akhir yang paling buruk: meninggal dalam kekufuranAllah menutup ayat dengan:“Dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.”Menurut para mufasir, maknanya adalah mereka meninggal sementara tetap berada dalam kekufuran dan kemunafikan. Ibn Kathir menyebutnya sebagai bentuk istidrāj: mereka terus berada dalam keadaan yang mereka sukai, tetapi pada akhirnya kematian menjemput mereka tanpa iman.Al-Sa‘di menyatakan bahwa tidak ada hukuman yang lebih besar daripada seseorang berpindah dari dunia menuju kesengsaraan yang kekal, sementara ia meninggal dalam keadaan kafir.KesimpulanQS At-Taubah [9]:55 mengajarkan agar kita tidak tertipu oleh kemewahan orang-orang yang jauh dari Allah. Harta dan anak-anak mereka bukan tanda keberhasilan hakiki. Bagi orang munafik, semua itu dapat menjadi sarana azab: mereka lelah mengumpulkannya, berat menunaikan kewajibannya, takut kehilangannya, tertimpa musibah karenanya, dan akhirnya meninggal dalam keadaan kafir.Adapun bagi orang beriman, harta dan anak adalah amanah. Keduanya menjadi nikmat apabila digunakan untuk ketaatan, dan menjadi fitnah apabila membuat hati berpaling dari Allah.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com