📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir At Tariq

Tafsir Al-MuyassarAt-Tariq (86:4)Tema: SETIAP ORANG ADA YANG MENJAGANYA (Ayat 1-4)Allah bersumpah demi langit dan bintang yang datang pada malam hari. Tahukah kamu bagaimana besarnya bintang itu? Ia adalah bintang yang cahayanya menembus. Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada malaikat yang diberi tugas untuk mengawasi, menjaga semua perbuatannya agar kelak dihisab pada hari kiamat.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
R

Rahaf Fathullah

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Pengamalan ayat dari surat An Nisa

1️⃣ Rekonsiliasi lebih dicintai Allah daripada perceraian (( tapi cerai tetap diperbolehkan ya ))2️⃣ Hati-hatilah dari tunduknya diri kepada rasa pelit dan tamak, sebaliknya, biasakanlah kemurahan hati dan mendahulukan orang lain (( ya dengan kadar tertentu juga ya ))3️⃣ Jangan jadikan dunia ini sebagai prioritas dan pikiran terbesarmu

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Tafsi Asy- syu'aro:4

Maksudnya, sekiranya Kami kehendaki, tentulah Kami akan menurunkan suatu mukjizat yang memaksa mereka untuk beriman secara paksa. Tetapi Kami tidak akan melakukan hal itu karena Kami tidak menghendaki seseorang beriman melainkan berdasarkan kesadaran dirinya. Dalam ayat yang lain disebutkan melalui firman-Nya:Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak.) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (Yunus:99)Dan firman Allah subhanahu wata'āla yang mengatakan:Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu. (Huud:118)Takdir Allah telah berlangsung, hikmah-Nya berjalan, serta hujah-Nya (alasan-Nya) telah ditegakkan terhadap makhluk-Nya, yaitu dengan mengutus para rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab-Nya kepada mereka.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

TAFSIR QS. AL-HIJR: 94–99

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat).”QS. Al-Hijr: 98وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”QS. Al-Hijr: 99“Tetaplah teguh dalam kebenaran meskipun menghadapi ujian. Saat hati terasa sempit, dekatkan diri kepada Allah dengan zikir dan salat, serta teruslah istiqamah beribadah hingga akhir hayat.”pesan utama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:Teguh dalam kebenaran: Jangan menyerah hanya karena ejekan, penolakan, atau kesulitan.Dekatkan diri kepada Allah: Jadikan zikir, doa, dan salat sebagai penguat hati.Istiqamah hingga akhir hayat: Teruslah menjaga ibadah dan memperbanyak amal saleh sepanjang kehidupan.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Kekuasaan Allah dan Kesempurnaan Ciptaan-Nya

Subjudul: Mengenali Kebesaran Allah, Mensyukuri Nikmat-Nya, dan Menjaga Amanah KehidupanTema: Al-Qur’an Adalah Peringatan untuk Seluruh Manusia (Ayat 1–34)Subtema: Kekuasaan Allah dan Keharmonisan Ciptaan-Nya (Ayat 1–3)1. 🌿 Tafsir Al-Muyassar — QS. Al-Furqān: 2Allah Ta‘ala berfirman:ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدٗا وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٞ فِي ٱلۡمُلۡكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖ فَقَدَّرَهُۥ تَقۡدِيرٗاArtinya:“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”Penjelasan Tafsir Al-MuyassarAllah menegaskan bahwa seluruh kerajaan langit dan bumi adalah milik-Nya. Dialah satu-satunya Pemilik, Penguasa, dan Pengatur seluruh alam semesta.Allah Mahasuci dari memiliki anak dan tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Tidak ada seorang pun yang menyamai-Nya dalam kepemilikan, kekuasaan, dan hak untuk diibadahi.Allah juga menjelaskan bahwa Dia telah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukuran, sifat, serta ketentuan bagi setiap makhluk sesuai dengan hikmah-Nya. Setiap ciptaan memiliki karakteristik, kemampuan, dan fungsi yang sesuai dengan ketetapan Allah.Semuanya menunjukkan kesempurnaan penciptaan dan kebijaksanaan Allah. Tidak ada sesuatu pun yang diciptakan dengan sia-sia atau berada di luar pengetahuan dan kekuasaan-Nya.Pelajaran utama dari ayat iniPertama, mengesakan Allah dalam kekuasaan dan ibadah.Hanya Allah yang memiliki seluruh alam semesta. Karena itu, hanya kepada-Nya kita beribadah, memohon pertolongan, dan menggantungkan harapan tertinggi.Kedua, meyakini kesempurnaan ciptaan Allah.Setiap makhluk diciptakan dengan ukuran dan ketentuan yang sesuai dengan hikmah-Nya. Hal ini mengajak kita untuk merenungkan kebesaran Allah melalui alam dan kehidupan.Ketiga, menyadari keterbatasan manusia.Manusia hanya memiliki kemampuan yang Allah anugerahkan. Harta, kesehatan, kecerdasan, jabatan, dan kesempatan bukanlah milik mutlak kita, melainkan nikmat sekaligus amanah yang harus dipertanggungjawabkan.Keempat, belajar menerima ketetapan Allah dengan iman.Tidak semua hal berjalan sesuai keinginan kita. Namun, keyakinan terhadap ilmu dan hikmah Allah membantu kita untuk tetap berikhtiar, bersabar, dan tidak berputus asa ketika menghadapi kesulitan.2. 🌷 Pesan yang Dapat Diamalkan1. Memperkuat tauhid dan menjaga kemurnian ibadahYakinilah bahwa Allah adalah satu-satunya Pemilik dan Penguasa seluruh alam. Arahkan ibadah, doa, dan penghambaan hanya kepada-Nya, serta jauhi segala bentuk kesyirikan.2. Mensyukuri setiap nikmat AllahLangit, bumi, udara, air, kesehatan, keluarga, dan rezeki adalah bagian dari nikmat Allah. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki hingga melupakan nikmat yang telah Allah berikan.3. Menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang diridai AllahHarta, waktu, ilmu, kesehatan, dan kemampuan adalah amanah. Gunakan semuanya untuk beribadah, membantu sesama, mendidik keluarga, dan melakukan kebaikan, bukan untuk bermaksiat atau menyombongkan diri.4. Tidak membandingkan takdir kehidupan secara berlebihanSetiap manusia memiliki keadaan, kemampuan, dan ujian yang berbeda. Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, fokuslah memperbaiki kualitas iman, ikhtiar, dan amal sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan.5. Mengagumi ciptaan Allah sebagai jalan mengenal kebesaran-NyaLuangkan waktu untuk merenungkan alam semesta dan keteraturan kehidupan. Jadikan kekaguman terhadap ciptaan Allah sebagai sarana memperkuat iman, bukan sekadar menikmati keindahannya.6. Menjaga keseimbangan dan tidak melampaui batasAllah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan ketentuan-Nya. Belajarlah menjalani kehidupan secara bijaksana: tidak berlebihan dalam mengejar dunia, tidak mengabaikan kesehatan, dan tidak melupakan kewajiban kepada Allah maupun keluarga.7. Mengajarkan tauhid dan rasa syukur kepada anak-anakKenalkan kepada anak-anak bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemilik segala sesuatu. Ajarkan mereka untuk bersyukur, menjaga alam, menyayangi makhluk-Nya, dan menggunakan nikmat dengan penuh tanggung jawab.Renungan:Ketika menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, kita belajar untuk tidak sombong ketika memperoleh nikmat, tidak berlebihan dalam menggenggam dunia, dan tidak kehilangan harapan ketika sesuatu yang kita cintai harus pergi.3. 🌿 Muhasabah DiriMari sejenak menundukkan hati dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut.1. Tentang tauhid dan ketergantungan kepada AllahSudahkah aku benar-benar meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pemilik dan Penguasa seluruh alam?Ketika menghadapi kesulitan, kepada siapa aku paling dahulu menggantungkan harapan? Apakah aku telah menjadikan Allah sebagai tempat bergantung, sembari tetap berikhtiar melalui sebab-sebab yang dibenarkan?2. Tentang rasa syukurApakah aku lebih sering menghitung nikmat yang telah Allah berikan atau justru sibuk memikirkan hal-hal yang belum kumiliki?Sudahkah rasa syukurku terlihat melalui ketaatan, perkataan, dan perbuatanku?3. Tentang amanah kehidupanApakah aku telah menggunakan waktu, kesehatan, harta, ilmu, dan kemampuan yang Allah titipkan untuk hal-hal yang bermanfaat?Ataukah sebagian nikmat tersebut justru lebih banyak kuhabiskan untuk kesenangan sesaat dan perkara yang tidak mendekatkanku kepada-Nya?4. Tentang menerima ketetapan AllahKetika kenyataan tidak sesuai dengan harapanku, apakah aku tetap berprasangka baik kepada Allah dan terus berikhtiar?Apakah aku mampu menerima bahwa tidak semua yang kuinginkan pasti menjadi yang terbaik bagiku, tanpa berhenti berdoa dan berusaha?5. Tentang membandingkan kehidupanApakah aku sering merasa kurang ketika melihat nikmat yang dimiliki orang lain?Sudahkah aku belajar menghargai perjalanan hidupku sendiri, mensyukuri apa yang ada, dan memperbaiki apa yang masih bisa kuusahakan?6. Tentang keluarga dan pendidikan imanSudahkah aku mengajarkan kepada anak-anakku bahwa segala nikmat berasal dari Allah?Apakah mereka melihat teladan rasa syukur, kesederhanaan, kepedulian, dan ketawakalan melalui perilakuku sehari-hari?7. Tentang kesadaran akan kebesaran AllahSudahkah aku meluangkan waktu untuk merenungkan ciptaan Allah dan mengambil pelajaran darinya?Apakah semakin banyak nikmat yang kuterima membuatku semakin dekat kepada Allah, atau justru membuatku semakin sibuk dengan dunia?Muhasabah yang lebih dalamJika seluruh yang kumiliki hari ini adalah titipan Allah, sudahkah aku memperlakukannya sebagai amanah?Jika suatu saat sebagian nikmat itu diambil kembali oleh Pemiliknya, apakah imanku tetap terjaga?Dan jika kelak aku harus mempertanggungjawabkan semua yang telah Allah titipkan, bekal apa yang telah kusiapkan?Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami. Jadikanlah setiap nikmat yang Engkau berikan sebagai jalan untuk semakin mengenal, menaati, dan mendekatkan diri kepada-Mu.4. 🌸 KesimpulanQS. Al-Furqān ayat 2 menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Pemilik dan Penguasa langit dan bumi. Dia Mahasuci dari memiliki anak dan sekutu dalam kekuasaan-Nya. Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukuran serta ketentuannya dengan sempurna, sesuai dengan hikmah-Nya.Ayat ini mengajarkan kita untuk memperkuat tauhid, mengagumi kebesaran Allah, mensyukuri nikmat-Nya, serta menyadari bahwa segala yang kita miliki merupakan amanah yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya.Keyakinan terhadap kekuasaan Allah juga membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana. Kita belajar untuk tidak menyombongkan diri ketika memperoleh keberhasilan, tidak berlebihan membandingkan kehidupan dengan orang lain, serta tetap bersabar dan berikhtiar ketika menghadapi ujian.Mengenali kebesaran Allah seharusnya tidak berhenti pada kekaguman terhadap ciptaan-Nya, tetapi juga menumbuhkan ketaatan, rasa syukur, tanggung jawab, dan ketundukan kepada-Nya.🌿 Pesan utamaAllah adalah Pemilik segala sesuatu. Tidak ada yang luput dari kekuasaan dan ketetapan-Nya. Maka syukurilah nikmat-Nya, jagalah amanah-Nya, dan gunakan setiap kesempatan untuk semakin mendekat kepada-Nya.Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang teguh dalam tauhid, pandai bersyukur, amanah dalam menjalani kehidupan, serta senantiasa tunduk kepada kebesaran dan ketetapan-Nya.Aamiin, Allaahumma aamiin.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 43

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 43وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ:“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”Makna Umum Ayat Ayat ini memerintahkan tiga hal yang saling melengkapi :Mendirikan salat dengan benar, lahir dan batin.Menunaikan zakat kepada pihak yang berhak.Bergabung bersama kaum Muslimin yang beribadah, khususnya dalam salat berjamaah.Konteks ayat sedang berbicara kepada Bani Israil, khususnya ahli kitab dan para pemuka mereka. Namun, sebagaimana kaidah umum dalam Al-Qur’an, pelajaran ayat ini juga berlaku bagi seluruh manusia. Mereka tidak cukup hanya mengetahui kebenaran atau memerintahkan orang lain untuk berbuat baik; mereka harus tunduk, beribadah, dan menjadi bagian dari komunitas orang-orang beriman.Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa perintah ini berarti: masuk ke dalam Islam, mendirikan salat sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah ﷺ, menunaikan zakat yang diwajibkan, serta salat bersama umat Muhammad ﷺ.Dengan demikian, ayat ini bukan hanya ajakan kepada pengakuan intelektual, tetapi kepada ketundukan praktis kepada syariat.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
P

puti nilam suri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

juz 26 dan Tafsir surah Al Ahqaf ayat 15

Firman Allah subhanahu wata'ālaKami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. (Al-Ahqaf: 15)Yakni Kami perintahkan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya dan mengasihi keduanya.Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepadaku Sammak ibnu Harb yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mus'ab ibnu Sa'd menceritakan berita ini dari Sa’d r.a yang telah mengatakan bahwa Ummu Sa'd berkata kepada Sa’d, "Bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk menaati kedua orang tuanya? Maka sekarang aku tidak mau makan dan, minum lagi sebelum kamu kafir kepada Allah." Ternyata Ummu Sa’d tidak mau makan dan minum sehingga keluarganya terpaksa membuka mulutnya dengan memakai tongkat (lalu memasukkan makanan dan minuman ke dalamnya). Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. (Al-Ahqaf: 15), hingga akhir ayat.Imam Muslim dan para penulis kitab sunan -kecuali Ibnu Majah- telah meriwayatkan hadis ini melalui Syu'bah dengan sanad yang semisal dan lafaz yang lebih panjang.ibunya mengandungnya dengan susah payah. (Al-Ahqaf: 15)Yaitu mengalami kesengsaraan karena mengandungnya dan kesusahan serta kepayahan yang biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil.dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (Al-Ahqaf: 15)Yakni dengan penderitaan pula saat melahirkan bayinya lagi sangat susah dan masyaqqat.Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)Sahabat Ali r.a. menyimpulkan dalil dari ayat ini dan ayat yang ada di dalam surat Luqman. yaitu firman-Nya:Dan menyapihnya dalam dua tahun. (Luqman: 14)Dan Firman Allah subhanahu wata'āla:Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Al-Baqarah: 233)Bahwa masa mengandung yang paling pendek ialah enam bulan. Ini merupakan kesimpulan yang kuat lagi benar dan disetujui oleh Usman r.a. dan sejumlah sahabat lainnya.Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit dari Ma'mar ibnu Abdullah Al-Juhani yang menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan kami pernah mengawini seorang wanita dari Bani Juhainah. Dan ternyata wanita itu melahirkan bayi dalam usia kandungan genap enam bulan. Lalu suaminya menghadap kepada Usman r.a. dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Maka Usman memanggil wanita tersebut. Setelah wanita itu berdiri hendak memakai pakaiannya, saudara perempuan wanita itu menangis. Lalu wanita itu berkata, "Apakah yang menyebabkan engkau menangis? Demi Allah, tiada seorang lelaki pun yang mencampuriku dari kalangan makhluk Allah selain dia (suaminya), maka Allah-lah Yang akan memutuskan menurut apa yang dikehendaki-Nya terhadap diriku."Ketika wanita itu telah dihadapkan kepada Khalifah Usman r.a., maka Usman r.a. memerintahkan agar wanita itu dihukum rajam. Dan manakala berita tersebut sampai kepada sahabat Ali r.a., maka dengan segera Ali mendatangi Usman, lalu berkata kepadanya, "Apakah yang telah dilakukan oleh wanita ini?" Usman menjawab, "Dia melahirkan bayi dalam enam bulan penuh, dan apakah hal itu bisa terjadi?" Maka Ali r.a. bertanya kepada Usman, "Tidakkah engkau telah membaca Al-Qur'an?" Usman menjawab, "Benar." Ali r.a. mengatakan bahwa tidakkah engkau pernah membaca firman-Nya: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15) Dan firman Allah subhanahu wata'āla: selama dua tahun penuh. (Al-Baqarah: 233) Maka kami tidak menjumpai sisanya selain dari enam bulan Usman r a berkata, "Demi Allah, aku tidak mengetahui hal ini, sekarang kemarikanlah ke hadapanku wanita itu." Ketika mereka menyusulnya, ternyata jenazah wanita itu telah dimakamkan.Abdullah ibnu Qasit mengatakan bahwa Ma'mar berkata "Demi Allah, tiadalah seorang anak itu melainkan lebih mirip dengan rupa orang tuanya. Ketika ayahnya melihat bayinya, lalu si ayah berkata, ini benar anakku, demi Allah, aku tidak meragukannya lagi'."Ma'mar mengatakan bahwa lalu ayah si bayi itu terkena cobaan muka yang bernanah di wajahnya sehabis peristiwa tersebut, yang mana luka itu terus-menerus menggerogoti wajahnya hingga ia mati.Ibnu Abu Hatim meriwayatkan atsar ini yang telah kami kemukakan dari jalur lain dalam tafsir firman-Nya: maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). (Az-Zukhruf: 3); Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Farwah ibnu Abul Migra telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Misar, dari Daud ibnu Abu Hindun dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa apabila seorang wanita melahirkan bayi setelah sembilan bulan, maka cukuplah baginya menyusui bayinya selama dua puluh satu bulan. Apabila dia melahirkan bayinya setelah tujuh bulan, maka cukup baginya dua puluh tiga bulan menyusui anaknya. Dan apabila ia melahirkan bayinya setelah enam bulan maka masa menyusui bayinya adalah genap dua tahun, karena Allah subhanahu wata'āla telah berfirman: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)sehingga apabila dia telah dewasa. (Al-Ahqaf: 15)Yakni telah kuat dan menjadi dewasa.dan umurnya sampai empat puluh tahun. (Al-Ahqaf. 15)Yaitu akalnya sudah matang dan pemahaman serta pengendalian dirinya sudah sempurna.Menurut suatu pendapat, biasanya seseorang tidak berubah lagi dari kebiasaan yang dilakukannya bila mencapai usia empat puluh tahun.Abu Bakar ibnu Iyasy mengatakan dan Al-A'masy, dan Al-Qasim ibnu Abdur Rahman, bahwa ia pernah bertanya kepada Masruq, "Bilakah seseorang dihukum karena dosa-dosanya?" Masruq menjawab, "Bila usiamu mencapai empat puluh tahun, maka hati-hatilah kamu dalam berbuat."Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Urwah ibnu Qais Al-Azdi yang usianya mencapai seratus tahun, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Al-Kufi alias Umar ibnu Aus, bahwa Muhammad ibnu Amr ibnu Usman telah meriwayatkan dan Usman r.a., dari Nabi ﷺ. yang telah bersabda: Seorang hamba yang muslim apabila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah meringankan hisabnya; dan apabila usianya mencapai enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki Inabah (kembali ke jalan-Nya). Dan apabila usianya mencapai tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya. Dan apabila usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah subhanahu wata'āla menetapkan kebaikan-kebaikannya dan menghapuskan keburukan-keburukannya. Dan apabila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang akan datang, dan mengizinkannya untuk memberi syafaat buat ahli baitnya dan dicatatkan (baginya) di langit, bahwa dia adalah tawanan Allah di bumi-Nya.Hadis ini telah diriwayatkan pula melalui jalur lain, yaitu di dalam kitab Musnad Imam Ahmad.Al-Hajjaj ibnu Abdullah Al-Hakami, salah seorang amir dari kalangan Bani Umayyah di Dimasyq telah mengatakan, "Aku telah meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa selama empat puluh tahun karena malu kepada manusia, kemudian aku meninggalkannya (sesudah itu) karena malu kepada Allah." Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh seorang penyair dalam bait syairnya:Diturutinya semua yang disukainya sehingga uban telah menghiasi kepalanya.Dan manakala uban telah memenuhi kepalanya, ia berkata kepada kebatilan, "Menjauhlah dariku!"Firman Allah subhanahu wata'āla:Ya Tuhanku, tunjukilah aku. (Al-Ahqaf: 15)Maksudnya, berilah aku ilham, atau bimbinglah aku.untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai. (Al-Ahqaf: 15)Yakni di masa mendatang.berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. (Al-Ahqaf: 15)Yaitu keturunanku.Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku temasuk orang-orang yang berserah diri. (Al-Ahqaf: 15)Ini adalah panduan bagi yang sudah berusiah empat puluh tahun untuk memperbaharui tobat dan berserah diri kepada Allah.Telah diriwayatkan oleh Abu daud di dalam kitab sunan-nya, dari Ibnu Mas'ud ra. Bahwa Rasulullah ﷺ mengajari doa tasyahhud, yaitu:selamatkanlah kami dari kegelapan menuju kepada cahaya, dan jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan fahisyah, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Dan berkahilah bagi kami pendengaran kami, penglihatan kami hati kami, istri-istri kami dan keturunan kami. Dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu, selalu memuji dan menerima nikmat itu, dan sempurnakanlah bagi kami nikmat itu.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS At Taubah : 70

Tafsir Al-MuyassarQS At Taubah : 70Belum datangkah berita kepada orang-orang munafik itu tentang umat-umat terdahulu (yaitu) umat Nabi Nuh, kaum Ad, Tsamud, umat Nabi Ibrahim, penduduk Madyan, dan umat Nabi Luth, yaitu ketika mereka mendustakan utusan-utusan Allah yang datang membawa wahyu dan ayat-ayat-Nya? Maka Allah menurunkan azab kepada mereka semuanya, sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka. Allah tidaklah menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri sendiri karena berpaling dan mendustakan Allah dan Rasul-Nya.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
A

AYU AAN KHARY M

📍 Kota Makassar

Ash saffat 1-4

Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa"

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Ma'arij: 32

Tafsir At-TaysirAl-Ma`ārij (70:32)Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ“Dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij : 32)Inilah di antara sifat orang beriman, yaitu menjaga amanah. Kalau mereka berjanji maka pasti akan dipenuhi, kalau mereka diberi amanah maka pasti dia akan menjaga amanah tersebut. Tentunya tidak sebagaimana sifat orang munafik yang apabila diberi amanah maka dia berkhianat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda-tanda munafik ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanat dia khianat.”[1]Dan di antara bentuk menjaga amanah yang harus diperhatikan banyak orang saat ini adalah menjaga uang umat yang diamanahkan kepadanya. Jika seseorang membuat sebuah Yayasan Islam, kemudian dia mengumpulkan uang umat maka dia harus berhati-hati dalam menggunakan uang tersebut melebihi kehati-hatiannya dalam menggunakan hartanya sendiri. Karena sebagian orang ada yang berhati-hati dalam mengeluarkan hartanya agar tidak ada kesalahan, akan tetapi ketika berurusan dengan uang umat maka dia tidak peduli dan berhati-hati. Padahal sejatinya amanah yang dititipkan kepada kita itu harusnya lebih berhati-hati lagi, karena itu adalah uang orang lain, yang akan disalurkan kepada umat, dan pasti akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.---Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 33 dan HR. Muslim no. 59.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Ali imran 15 sesuatu yang lebih baik daripada kesenangan kesenangan duniawi

Katakanlah -wahai Rasul-, "Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari kesenangan-kesenangan duniawi?Orang-orang yang bertakwa kepada Allah dengan menaati-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya akan mendapatkan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawah bangunan-bangunan istana dan pepohonannya, mereka kekal di dalamnya. Tidak ada kematian dan kebinasaan yang menjemput mereka. Di dalamnya mereka memiliki istri-istri yang suci dari segala macam keburukan, baik fisik maupun mental. Di samping itu mereka akan mendapatkan rida dari Allah sehingga Allah tidak akan murka kepada mereka selama-lamanya. Allah Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya; tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengawasan-Nya, dan Dia akan memberi mereka balasan yang setimpal."Beberapa Faedah dari Halaman Ini: Kebanggaan orang-orang kafir dengan harta benda dan anak-anak mereka tidak akan bisa menyelamatkan mereka dari azab Allah Ta'ălă- pada hari Kiamat kelak apabila azab itu menimpa mereka.Kemenangan adalah kenyataan yang tidak berhubungan langsung dengan jumlah personil dan peralatan perang belaka, melainkan berkaitan dengan dukungan dan pertolongan Allah -Ta'ălã-.Allah -Ta'ălă- menghiasi hidup manusia dengan beragam kesenangan duniawi untuk menguji mereka dan mengetahui siapa yang menjaga (tidak melampaui) batas-batasnya dan siapa yang melanggarnya.Semua kenikmatan dan kelezatan dunia adalah sedikit dan sementara, tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat yang sangat besar dan kekal.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al-Mukhtashar Surah An Nahl Ayat 91

Penuhilah segala perjanjian yang kalian buat dengan Allah dan dengan manusia dan jangan melanggar sumpah yang kalian kuatkan dengan menyebut nama Allah padanya karena kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi untuk memenuhi apa yang kalian sumpahkan. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian lakukan, tidak ada sesuatu pun darinya yang samar bagi-Nya, dan Dia akan memberi kalian balasan atas amal perbuatan kalian tersebut.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Tafsir Al Mukhtasar QS Al An'am ayat 119-121

Tafsir Al Mukhtasar QS Al An'am ayat 119-121 119.Apa yang mencegah kalian wahai orang-orang mukmin untuk memakan binatang yang disembelih dengan menyebut nama Allah? Padahal Allah telah menjelaskan kepada kalian apa-apa yang diharamkan bagi kalian sehingga harus kalian tinggalkan, kecuali dalam kondisi darurat; karena kondisi darurat membuat yang terlarang menjadi boleh. Sesungguhnya banyak orang-orang musyrik yang tersesat berusaha menyesatkan para pengikut mereka dengan pendapat-pendapat mereka yang salah lantaran kebodohan mereka, yaitu mereka menghalalkan apa-apa yang telah Allah haramkan bagi mereka seperti bangkai dan lain-lain, dan mengharamkan apa-apa yang Allah halalkan bagi mereka, seperti binatang-binatang bahirah (unta yang dipotong telinganya apabila sudah melahirkan dalam jumlah tertentu), wasilah ( unta yang melahirkan unta betina kemudian melahirkan unta betina lagi), Hami (unta jantan yang ditugaskan mengawini unta betina sampai melahirkan anak-anak unta dalam jumlah tertentu) dan lain-lain. Sesungguhnya tuhanmu wahai Rasul lebih tahu tentang orang-orang yang melampaui batas-batas Allah dan Allah akan memberikan mereka balasan yang setimpal atas perbuatan mereka yang melampaui batas-batas Allah. 120. Tinggalkanlah wahai manusia perbuatan-perbuatan maksiat baik di kala ramai maupun dikala sendiri. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat maksiat di kala sendiri maupun ramai pasti akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka. 121. Janganlah kalian wahai orang-orang muslim memakan binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, baik disebut nama yang lain maupun tidak. Sesungguhnya memakan binatang semacam itu berarti keluar dari ketaatan kepada Allah menuju ke durhakaan kepada Allah. Sesungguhnya setan-setan senantiasa menggoda teman-temannya dengan memberikan subhat-syubhat untuk mendapat kalian perihal hukum memakan bangkai. Jika kalian wahai orang-orang muslim mengikuti godaan setan-setan yang berusaha menghalalkan bangkai itu niscaya kalian akan sama dengan mereka dalam hal kemusyrikan.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Ibnu Katsir | Surat Yunus : 61

Terjemahan:“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur`ān dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhan-mu biarpun sebesar żarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lawḥ Maḥfūẓ).”Ayat ini menegaskan keluasan ilmu, pengawasan, pendengaran, penglihatan, dan pencatatan Allah terhadap seluruh makhluk.Allah menyebut tiga keadaan:1. Apa pun keadaan manusia — urusan agama maupun dunia.2. Bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ — dan secara umum kegiatan manusia dalam berinteraksi dengan wahyu.3. Seluruh amal manusia — baik yang besar maupun kecil, baik maupun buruk.Semuanya berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya, bahkan sesuatu yang sangat kecil dan ringan seperti mithqāl dharrah. Semua itu tercatat dalam kitāb mubīn, kitab yang jelas dan mencakup seluruh kejadian.Tafsir Ibnu Katsir:Ibnu Katsir menekankan bahwa Allah mengetahui seluruh keadaan:• Keadaan Nabi ﷺ,• Keadaan umat beliau,• Keadaan seluruh makhluk,• Setiap gerakan, diam, dan aktivitas mereka.Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu dan penglihatan Allah, meskipun sangat kecil. Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan makna yang juga disebut dalam QS al-An‘ām 6:59 dan QS Hūd 11:6: “segala sesuatu berada dalam pengetahuan dan pencatatan Allah.”Ibnu Katsir kemudian mengingatkan bahwa jika ilmu Allah mencakup gerak-gerik benda-benda mati dan makhluk kecil, maka terlebih lagi Allah mengetahui gerak-gerik manusia yang dibebani syariat dan diperintahkan beribadah.Beliau juga mengaitkannya dengan hadis Jibril tentang ihsan, dengan matan:أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”Dalam bagian tafsir yang diambil, Ibnu Katsir menyebut matan hadis tersebut sebagai penjelas sikap muraqabah. Namun, bagian tafsir yang tersedia tidak mencantumkan sanad lengkap hadis tersebut. Karena itu, nukilan ini disampaikan sebagai matan yang dikutip Ibnu Katsir dalam tafsir, bukan sebagai reproduksi lengkap sanad riwayat.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 November 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

Al Baqarah: 216

Rangkuman Tafsir: QS. Al-Baqarah ayat 216 menjelaskan kewajiban berperang bagi kaum muslimin dalam konteks hukum perang yang ditetapkan Allah. Perang merupakan sesuatu yang secara tabiat tidak disukai karena mengandung kesulitan, penderitaan, dan risiko kehilangan nyawa. Namun, Allah menjelaskan bahwa penilaian manusia terhadap sesuatu tidak selalu sesuai dengan hakikatnya. Sesuatu yang dibenci bisa jadi mengandung kebaikan, sementara sesuatu yang disukai bisa jadi mendatangkan keburukan. Hal ini karena pengetahuan manusia terbatas, sedangkan Allah Maha Mengetahui hakikat, akibat, dan kemaslahatan segala sesuatu.Refleksi: Kita sering menilai suatu kejadian berdasarkan perasaan saat mengalaminya. Ketika kehilangan kesempatan, menghadapi penolakan, atau harus menjalani sesuatu yang tidak kita inginkan, kita mudah menganggapnya sebagai keburukan. Padahal, kita hanya mengetahui apa yang terasa hari ini, bukan seluruh akibatnya di masa depan. Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menghakimi takdir berdasarkan keinginan pribadi. Bukan berarti semua hal yang menyakitkan pasti berakhir menyenangkan, melainkan kita perlu menyadari keterbatasan pengetahuan kita dan tetap berusaha mengambil sikap yang benar. Kita tidak harus selalu memahami mengapa sesuatu terjadi untuk tetap percaya bahwa pengetahuan Allah melampaui apa yang mampu kita pahami.

💬 0 komentar📅 27 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat31 Oktober 2026
M
marni

📍 Kabupaten Bogor

AL-QUR'AN ADALAH PERINGATAN UNTUK SELURUH MANUSIA (Ayat 1-34)

Allah taala berfirman:وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ إِفۡكٌ ٱفۡتَرَىٰهُ وَأَعَانَهُۥ عَلَيۡهِ قَوۡمٌ ءَاخَرُونَ ۖ فَقَدۡ جَآءُو ظُلۡمٗا وَزُورٗاDan orang-orang kafir berkata, "Al-Qur`ān ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain 1"; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar.Subtema: Tuduhan palsu orang kafir terhadap Al-Qur'an (Ayat 4-6)Catatan kaki:210823. Maksud "oleh mereka dengan kaum yang lain itu" ialah orang-orang yang sudah masuk Islam.QS. Al-Furqān: 4Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 27 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Oktober 2026
D
Daramatasia

📍 Kota Depok

Surah Al-Maidah halaman 114

1 Hikmah diberlakukannya hukuman hudud(potong tangan)bagi pencuri ialah epek jera bagi si pencuri agar tidak lagi mengambil harta orang lain,dan menakut-nakuti orang lain agar tidak berbuat serupa2 Seorang pencuri bisa diterima tobatnya selama kasusnya bwlum sampai ke pihak berwenang,tetapi saat itu ia wajib mengembalikan harta yang dicurinya.Namun jika kasusnya sudah sampai ke pihak yg berwenang maka hukum harus ditegakan dan tidak bisa di batalkan dgn tobat3 Seorang juru dakwa hendaknya tidak gusar maupun risau dengan kekafiran,tipu daya dan persekongkolan yg dilakukan oleh sebagian orang karena Allah Ta’ala pasti akan mengagalkan tipu daya mereka4 Upaya orang-orang munafik untuk membuat orang-orang mukmin murka dgn cara menampakan perbiatan kekafiran dengan tetap mengaku sebagai orang islam

💬 0 komentar📅 27 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Oktober 2026
P

puti nilam suri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

juz 25 dan Tafsir surah Al Jatsiyah ayat 15

Barangsiapa di antara hamba Allah yang beramal taat, pahala amalnya akan kembali kepadanya. Barangsiapa yang beramal jelek di dunia dengan berlaku maksiat, dosanya akan kembali kepadanya. Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan kembali kepada Tuhan setelah kematian kalian. Dia akan memberi balasan kebaikan kepada orang yang berbuat baik dan memberi balasan kejelekan orang yang berbuat jelek.Tafsir Al Muyassar - Quran Tadabbur

💬 0 komentar📅 27 Okt 2026Baca selengkapnya →