Hud
Setiap makhluk di muka bumi ini fijamin rezekinya oleh Allah
Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat
Setiap makhluk di muka bumi ini fijamin rezekinya oleh Allah
Asal-usul manusia adalah satu, yaitu Adam dan dari Adam Allah menciptakan Hawa.
Qs al an'am
Apakah kalian -wahai orang-orang mukmin- mengira bahwa Allah akan membiarkan kalian tanpa ujian?Ujian merupakan serangkaian dari sunnatullah.Kalian akan diuji sampai Allah mengetahui secara nyata siapa diantara kalian yang berjihad dengan tulus kepada Allah dan tidak menjadikan orang kafir sebagai pelindung yang diloyali serta teman setia yang dicintai selain Allah, RasulNya, dan kaum mukminin. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian perbuat, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya, dan Dia akan memberi kalian balasan yang setimpal dengan amal perbuatan kalian.
Rachmatika
📍 Kota Administrasi Jakarta Barat
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, dan melakukan amal shalih bahwa Dia akan mengampuni dosa-dosa mereka dan membalas mereka dengan surga. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.
📍 Kota Surabaya
Ibrahim ‘alaihissalam heran sekaligus menegaskan sesuatu: orang yang benar-benar mengenal Allah tidak punya alasan untuk berputus asa dari rahmat-Nya. Sebab, semakin seseorang mengenal Allah, semakin dia tahu bahwa kekuasaan Allah itu sempurna dan jalan menuju rahmat-Nya itu sangat luas. Sesuatu yang menurut manusia terasa mustahil, bagi Allah tidak ada apa-apanya.Jadi, putus asa bukan sekadar karena keadaan terlalu berat, tapi karena kita kehilangan pandangan tentang siapa Allah. Ketika ilmu dan keyakinan kepada Allah kuat, kita tetap bisa berharap bahkan ketika belum melihat jalan keluarnya. Bukan karena kita tahu bagaimana masalah itu akan selesai, tapi karena kita tahu siapa yang mengatur akhirnya.Dan menariknya, setelah Ibrahim mendapat kabar gembira, beliau tidak berhenti pada kabar itu. Beliau menyadari bahwa para malaikat tersebut datang membawa suatu urusan besar. Artinya, seorang mukmin boleh berharap kepada rahmat Allah, tetapi tetap peka terhadap tanda-tanda dan perintah Allah yang sedang datang kepadanya.
Tafsir Al-MuyassarQS Al-'Araf:188Katakanlah (wahai Rasul), "Aku tidak kuasa mengambil kebaikan untuk diriku sendiri, tidak pula menolak kejahatan yang menimpaku, kecuali Allah menghendaki. Jika aku mengetahui hal yang ghaib sungguh aku akan membuat sebab-sebab yang dapat memperbanyak kebaikan dan maslahat untuk diriku, dan niscaya aku dapat menjaga diriku dari kejahatan sebelum terjadi. Aku hanyalah seorang utusan Allah yang diutus kepada kalian, aku memberi peringatan akan siksa-Nya dan menyampaikan kabar gembira dengan pahala bagi kaum yang percaya bahwa aku adalah utusan Allah dan menjalankan syariat-Nya."
Buatlah pelindung antara diri kalian dan azab di hari Kiamat dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Pada hari itu seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun; tidak ada satu pun syafaat (pertolongan) yang diterima untuk menghindari mudarat maupun mendatangkan manfaat kecuali dengan izin Allah; tidak akan diterima tebusan dari siapa pun, walaupun berupa emas sebesar bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolong mereka pada hari itu. Sebab itu, apabila syafaat, tebusan dan pertolongan tidak ada gunanya, ke manakah tempat pelarian?!
Tafsir Al Mukhtasar QS Al Baqarah ayat 238-240Segala salat salat itu dengan cara menunaikannya secara sempurna sebagaimana perintah Allah dan jagalah salat yang berada di tengah-tengah salat-salat lainnya yaitu salat ashar dan berdirilah untuk Allah di dalam salatmu dengan bentuk dan khusyuk. Apabila kalian takut kepada musuh dan sebagainya, lalu kalian tidak dapat menunaikan salat secara sempurna maka salatlah sambil berjalan kaki atau menunggang unta kuda dan sebagainya atau dengan cara apapun yang bisa kalian lakukan. Apabila ketakutan itu sudah hilang maka berpikirlah kepada Allah dengan berbagai jenis dzikir yang salah satunya ialah ibadah salat yang dikerjakan secara lengkap dengan sempurna lantaran Dia telah mengajarkan kepada kalian cahaya dan petunjuk yang kalian tidak ketahui sebelumnya. Siapa saja di antara kalian meninggal dunia dan meninggalkan istri-istri hendaknya ia membuat wasiat untuk mereka dengan mengizinkannya tinggal di rumah suaminya dan mendapatkan nafkah dari atas suaminya selama setahun penuh. Ahli waris sekalian tidak boleh mengusirnya dari rumah tersebut hal itu untuk menghibur hatinya atas musibah yang menimpa mereka dan menunjukkan kesetiaan mereka kepada suami yang meninggal dunia. Namun apabila mereka keluar dari rumah itu dengan kemauan mereka sendiri sebelum menggenap satu tahun maka tidak ada dosa bagi kalian. Juga tidak ada dosa bagi mereka untuk berhias dan memakai minyak wangi. Allah maha perkasa tidak ada yang bisa mengalahkanNya, lagi maha bijaksana dalam mengatur makhluk Nya , menetapkan syariat-syariat Nya dan menentukan takdir Nya. Mayoritas ahli tafsir menyatakan bahwa hukum yang terkandung di dalam ayat ini telah diganti (mansukh) dengan firman Allah ta'ala : "orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan istri-istri hendaklah para istri itu menahan dirinya beribadah selama 40 hari." QS Al Baqarah:234)
1 Berhukum kpd selain syariat Allah dan menweimanya dgn lapang dada bertentangan dgn keimanan kpd Allah ta,ala
1️⃣ Standar orang yang memprioritaskan akhirat beda dengan yang memprioritaskan dunia, karena itu mereka tidak "merayakan" dunia seperti orang yang mencintainya2️⃣ Nikmat terbesar adalah nikmat agama, sementara dunia tidak kekal—seorang mukmin tidak akan bertumpu padanya3️⃣ Renungilah dua sifat yang ada pada diri Allah 'azza wajalla: Ghina & Karam, Dia tidak membutuhkan siapa pun, dan Dia juga Maha Dermawan
Tilawah 1/2 juz juz 10 dan Tafsir surah Al A'raf ayat 55.
Artinya, semuanya beredar berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Mahaperkasa, tanpa membangkang dan tanpa menentang, lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. Maka tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya barang sebesar zarrah pun, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Dalam Al-Qur'an -apabila Allah menyebutkan tentang penciptaan malam, siang, matahari, dan bulan- sering kali diakhiri dengan penyebutan sifat perkasa dan sifat mengetahui, seperti yang terdapat dalam ayat ini (Al An'am:96), juga
Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 13وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَArtinya:“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.’ Mereka menjawab, ‘Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu.”(QS. Al-Baqarah: 13)Ketika kaum munafik di Madinah didakwahi untuk beriman sebagaimana kaum Muslimin yang benar-benar beriman, mereka menjawab dengan kesombongan dan penghinaan:أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ“Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?”Mereka menganggap orang-orang yang beriman sebagai orang bodoh dan rendah akalnya. Sebaliknya, mereka menganggap diri mereka lebih cerdas karena menolak keimanan.Namun Allah membalik tuduhan tersebut:أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ“Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang kurang akal.”Mengapa?Karena kebodohan yang sebenarnya bukan sekadar tidak mengetahui sesuatu, tetapi ketika seseorang tidak mengetahui apa yang mendatangkan maslahat bagi dirinya, lalu memilih jalan yang justru membawanya kepada keburukan dan kemudaratan.Mereka merasa pintar karena menggunakan akal untuk menolak kebenaran. Padahal akal yang tidak membawa seseorang kepada iman dan ketaatan justru menjadi sebab kebinasaan.Allah kemudian berfirman:وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ“Tetapi mereka tidak tahu.”Mereka tidak menyadari bahwa sikap merasa lebih pintar daripada orang-orang beriman justru merupakan bentuk kebodohan yang lebih parah.Pelajarannya:Jangan mengukur kebenaran hanya dengan merasa diri paling cerdas. Sebab seseorang bisa memiliki pengetahuan dan kecerdasan, tetapi tetap bodoh apabila kecerdasannya justru membuatnya menolak kebenaran.Intinya: merasa pintar tidak selalu berarti benar. Yang lebih penting adalah apakah ilmu dan akal membawa seseorang kepada kebenaran dan ketaatan kepada Allah.
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir — QS. Al-Furqan: 30“Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan.”Inti Tafsir:Meninggalkan Al-Qur’an bukan hanya dengan tidak membacanya, tetapi juga tidak mau mendengar dan membenarkannya.Termasuk mengacuhkan Al-Qur’an: tidak merenungkan dan memahami maknanya.Juga termasuk tidak mengamalkan perintahnya dan tidak meninggalkan larangannya.Mengabaikan Al-Qur’an dengan berpaling kepada hal lain yang melalaikan—seperti syair, nyanyian, cerita, pendapat, atau hiburan—juga termasuk bentuk hajrul Qur’an.Ayat ini menjadi peringatan keras agar seorang muslim tidak sekadar memiliki atau membaca Al-Qur’an, tetapi berusaha menghafal, memahami, mentadabburi, dan mengamalkannya.🌱 PelajaranJangan sampai Al-Qur’an hanya hadir di lisan, tetapi jauh dari hati dan kehidupan.Hak Al-Qur’an adalah dibaca, dipahami, direnungkan, lalu diamalkan.
Cahaya Allah bersinar di rumah-rumah yang Allah muliakan—masjid. Di sanalah nama-Nya disebut, Al-Qur’an dibaca, zikir dilantunkan, dan shalat ditegakkan pagi maupun petang.Yang menarik, ayat 36 menjadi pengantar menuju ayat 37–38: siapa orang-orang yang mendapatkan pancaran nur Ilahi itu? Mereka adalah orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan kesibukan dunia dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.Kalau untuk poster tadabbur, saya sarankan dibuat lebih singkat dan kontemplatif, misalnya:HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULANOrang yang mendapat pancaran Nur IlahiQS. An-Nūr: 36“Cahaya itu bersinar di masjid-masjid yang Allah perintahkan untuk dimuliakan dan ditinggikan…”Masjid bukan sekadar tempat kita bersujud.Ia adalah tempat nama Allah disebut,Al-Qur’an dibaca,zikir dilantunkan,dan hati kembali diterangi oleh nur-Nya.Sudahkah hati kita menjadi salah satu hati yang rindu kepada rumah-rumah Allah? 🤍
At-Taubah : 16
Tafsir At-TaysirAl-Ĥāqqah (69:14)Ini merupakan salah satu gambaran tentang kedahsyatan hari kiamat. Gunung-gunung akan diangkat dan dilepaskan dari pasaknya, lalu kemudian saling dibenturkan di langit, lalu ditabrakkan ke bumi hingga hancur seluruhnya. Dan di sini Allah menyebutkan dengan lafazh الدَّكُّ yang artinya: membenturkan sesuatu dengan yang lainnya dengan benturan yang sangat keras dan menyebabkan benda tersebut hancur lebur. (34)Dan Allah ﷻ juga telah berfirman,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا، فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا، لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, ‘Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu rata sama sekali, (sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi di sana’.” (QS. Thaha : 105-107)Maka Subhanallah, jika gempa bumi pada hari ini saja telah membuat manusia ketakutan, bagaimana lagi jika bumi itu diangkat, gunung-gunung diangkat lalu dibenturkan satu sama lain?Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
## 🌿 Rangkuman QS. Al-Isra: 23–24Allah memerintahkan kita untuk: 🤍 Menyembah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. 🌸 Berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama ketika mereka telah lanjut usia.🗣️ Tidak mengucapkan perkataan yang menyakiti mereka, bahkan sekadar “ah” pun dilarang. 💕 Berbicara kepada orang tua dengan perkataan yang lembut, mulia, dan penuh penghormatan 🌷 Merendahkan diri di hadapan mereka dengan penuh kasih sayang, bukan karena terpaksa.🤲 Senantiasa mendoakan mereka:> رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا> “Ya Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kecil.”*✨ Inti ayat:Setelah tauhid, salah satu amal yang paling ditekankan adalah berbakti kepada kedua orang tua. Kebaikan kepada mereka bukan hanya melalui perbuatan, tetapi juga melalui ucapan, sikap, kelembutan, dan doa
Tafsir At-TaysirAl-Falaq (113:1)Tema: ALLAH PELINDUNG DARI SEGALA KEJAHATAN (Ayat 1-5)Surat ini dan surat setelahnya yaitu surat An-Naas diturunkan secara bersamaan Oleh karena itu, kedua surat ini dinamakanالْمُعَوِّذَتَيْنِ Al-Mu’awwidzatain (dua pelindung). Surat ini merupakan surat Madaniyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam setelah berhijrah ke kota Madinah. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa sebab turunnya surat ini adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disihir oleh orang Yahudi yang bernama Lubid bin Al-A’sham di Madinah. Akhirnya Nabi pun tersihir beberapa lama, efeknya adalah seakan-akan beliau melakukan sesuatu yang ternyata tidak dilakukannya. Bahkan dibayangkan bahwasanya beliau mendatangi (menggauli) istri-istrinya padahal tidak.Allah lantas menurunkan Al-Mu’awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas). Lalu Nabipun membaca kedua surat tersebut dan dengan izin Allah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sembuh(1).Sebagian orang mengingkari hadits ini dan mengatakan bahwasanya Nabi tidak mungkin tersihir, karena seandainya beliau tersihir maka Nabi bisa keliru dalam menyampaikan wahyu. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah karena sihir yang menimpa Nabi tidak berkaitan dengan pemberian wahyu. Karena Nabi tetap menyampaikan wahyu sebagaimana biasanya. Akan tetapi efek sihir tersebut hanya membuat Nabi seperti orang sakit atau dikhayalkan ia telah melakukan sesuatu padahal ia tidak melakukannya.Bahkan sebelum beliau ada Nabi Musa juga yang pernah tersihir. Disebutkan di dalam Al-Quran, Allah berfirman:قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ (66) فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُّوسَىٰ (67)Berkata Musa, ‘Silahkan kamu sekalian melemparkan’. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya.” (QS Thaha : 66-67)Nabi Musa takut melihat ular-ular yang bergerak, padahal tidak ada ular di situ melainkan hanya tongkat-tongkat dan tali-tali saja. Itu karena Nabi Musa tersihir oleh para penyihir Fir’aun. Sehingga mungkin saja seorang Nabi itu tersihir, tetapi dibalik itu ada hikmah yang Allah kehendaki. Selain itu, sihir tersebut tidak akan mempengaruhi periwayatan ayat-ayat Allah. Adapun penolakan sebagian orang terhadap hadits ini maka tidak perlu didengarkan karena argumentasi mereka hanyalah logika mereka yang lemah.Ada beberapa pendapat tentang makna اَلْفَلَقُ. Pendapat yang pertama dan yang paling kuat adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yaitu shubuh. Sebagaimana firman Allah:فالِقُ الْإِصْباحِ“Allah yang membuka subuh.” (QS Al-An’am : 96)Sehingga makna ayat menjadi “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh’.” Pendapat yang lain mengatakan bahwasanya اَلْفَلَقُ artinya makhluk. Ada juga yang mengatakan اَلْفَلَقُ adalah salah satu nama neraka, ada yang mengatakan bahwa اَلْفَلَقُ adalah nama penjara di neraka Jahannam. Ada pula yang mengatakan اَلْفَلَقُ artinya lembah yang ada di neraka Jahannam. Ada yang mengatakan اَلْفَلَقُ artinya sumur yang ada di neraka Jahannam. Ada yang mengatakan اَلْفَلَقُ artinya rumah yang ada di neraka Jahannam. Namun pendapat terkuat adalah pendapat pertama yang artinya adalah shubuh(2)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com