Day 3 #jejakayat
Qs. Al Mulk : 3 Tafsir Al Mukhtasar
Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat
Qs. Al Mulk : 3 Tafsir Al Mukhtasar
Nasehat “ Apabila kita di cela, jangan perdulikan ,perbanyaklah ibadah (Sholat, berdzikir) serahkan semuanya kepada Allah SWT sama seperti nasihat Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada surat ini”
Tafsir Al-Qiyamah: 1-2
Tafsir Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:23)Tema: AL-QUR'AN ADALAH PERINGATAN UNTUK SELURUH MANUSIA (Ayat 1-34)Subtema: Keadaan manusia yang tidak membenarkan Al-Qur'an pada hari kiamat (Ayat 21-34)Catatan kaki:210831. Maksud amal mereka di sini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia. Amal-amal itu tidak dibalasi oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā karena mereka tidak beriman.Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan (Al Furqaan:23).Ini terjadi pada hari kiamat di saat Allah menghisab amal perbuatan yang telah dilakukan oleh semua hamba, amal yang baik dan amal yang buruk. Maka Allah memberitahukan bahwa orang-orang musyrik itu tidak akan memperoleh sesuatu imbalan pun dari amal-amal perbuatan yang telah mereka lakukan, padahal mereka menduga bahwa amal perbuatannya itu dapat menyelamatkan diri mereka. Demikian itu karena amal perbuatannya tidak memenuhi syarat yang diakui oleh syariat, yaitu ikhlas dalam beramal karena Allah atau mengikuti syariat Allah. Setiap amal perbuatan yang dilakukan tidak secara ikhlas dan tidak sesuai dengan tuntunan syariat yang diridai adalah batil. Amal perbuatan orang-orang kafir itu tidak memenuhi salah satu dari kedua syarat tersebut, dan adakalanya kedua syarat tersebut tidak terpenuhi sehingga lebih jauh dari diterima. Untuk itu.Allah subhanahu wata'āla berfirman: Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kamijadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23)Mujahid dan As'-Sauri mengatakan bahwa makna qadimna ialah Kami hadapi. Hal yang sama dikatakan oleh As-Saddi, sedangkan sebagian lain ada yang mengatakannya 'Kami datangi'.Firman Allah subhanahu wata'āla:lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23)Sufyan As-Sauri mengatakan dari Abu Ishaq, dari Al-Haris, dari Ali r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23) Yaitu sinar matahari apabila memasuki sebuah lubang dinding.Hal yang sama diriwayatkan dari perawi lainnya yang bukan hanya seorang, dari Ali r.a. Hal yang semisal diriwayatkan-pula dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Sa'id Ibnu Jubair, As-Saddi, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, yaitu sinar matahari yang memasuki lubang dinding rumah seseorang di antara kalian, seandainya dia meraupkan tangannya pada sinar itu, ia tidak dapat menangkapnya.Ali ibnu AbuTalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23) Yang dimaksud ialah air yang ditumpahkan.Abul Ahwas meriwayatkan dari Abu Ishaq. dari Al-Haris, dari Ali, “haba 'amansuran" bahwa makna al-haba ialah laratnya hewan. Hal yang semisal diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas dan Ad-Dahhak, juga dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23) Tidakkah engkau melihat pohon yang kering bila tertiup angin? Makna yang dimaksud adalah seperti dedaunannya yang berguguran itu.Abdullah Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Asim ibnu Hakim, dari Abu Sari' At-Ta-i,dari Ubaid ibnu Ya'la yang mengatakan bahwa sesungguhnya al-haba itu adalah debu yang diterbangkan oleh angin.Kesimpulan dari semua pendapat di atas mengisyaratkan kepada makna yang dikandung oleh ayat. Demikian itu karena mereka telah melakukan banyak amal perbuatan yang menurut dugaan mereka benar. Tetapi ketika ditampilkan di hadapan Raja, Hakim Yang Mahaadil, yang tidak pernah kelewat batas dan tidak pernah menganiaya seseorang (Dialah Allah), ternyata kosong belaka, tiada artinya sama sekali. Kemudian hal itu diumpamakan dengan sesuatu yang tiada artinya lagi berserakan, yang oleh pemiliknya tidak ada artinya sama sekali. Hal yang sama telah diungkapkan oleh Allah subhanahu wata'āla melalui firman-Nya:Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras. (Ibrahim:18), hingga akhir ayat.Dan firman Allah subhanahu wata'āla:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan. (Al Baqarah: 264)Juga firman Allah subhanahu wata'āla:Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang- orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. (An Nuur:39)
Jika mereka bertaubat dari kekafiran lalu bersyahadat, sholat, membayar zakat, mereka adalah seiman.
Surah Al Anfal ayat 24Wahai orang-orang yang percaya kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya! Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya dengan patuh pada apa yang keduanya perintahkan dan menjauhi apa yang keduanya larang, apabila kehidupan bagi kalian, serta yakinlah bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia sanggup membuat kalian terhalang dari kepatuhan pada kebenaran setelah kalian menolaknya. Oleh karena itu, bersegeralah menerima kebenaran itu dan yakinlah bahwa kalian akan dikumpulkan di hadapan Allah saja pada hari kiamat kelak, kemudian Dia akan memberikan balasan yang setimpal kepada kalian menurut amal perbuatan yang kalian kerjakan di dunia.
Al A'raf : 201
Dan ketahuilah olehmu dikalanganmu ada Rasulullah
Sebaik baik persaksian adalah persaksian Allah Subhanahu Wata'ala
Membaca Al - Quran 1/2 Juz 1 sampai selesai. Tadabur Tafsir Al - Quran Surah Al- Baqarah ayat ke 2. Berisik tentang penjelasan Alquran yg agung , Bahwa tidak ada keraguan didalamnya dari segi proses turunnya maupun lafal dan maknanya. Al Quran adalah firman Allah yang membimbing orang-orang orang bertakwa ke jalan yg menghantarkan mereka kepada Allah SWT.
Tafsir Al-Qur'an Surah Al-Fatihah Ayat 1ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ1. Alhamdu Pada kata "Alhamdu", huruf alif lam (ال) berfungsi lil istighrāq, yaitu mencakup seluruh bentuk pujian.Alhamdu adalah pujian yang disertai dengan rasa cinta. Hal ini berbeda dengan al-madh (المدح), karena al-madh bisa saja berupa pujian tanpa disertai kecintaan.Oleh karena itu, ketika kita mengucapkan "Alhamdulillāh", hendaknya kita memuji Allah sambil menumbuhkan rasa cinta kepada-Nya.Allah adalah satu-satunya yang benar-benar berhak dipuji secara hakiki, karena Dia memiliki segala kesempurnaan. Sisi Pujian kepada AllahPujian kepada Allah mencakup tiga sisi:Nama-nama-Nya (Asmāul Husnā).Sifat-sifat-Nya.Perbuatan-perbuatan-Nya.Perbuatan Allah terbagi menjadi dua:Al-Fadhl (الفضل), yaitu Allah memberikan nikmat karena karunia dan kemurahan-Nya.Al-'Adl (العدل), yaitu Allah menghukum karena keadilan-Nya.Karena itu, janganlah kita memuji Allah hanya ketika memperoleh kenikmatan. Pujian kepada Allah mencakup nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan seluruh perbuatan-Nya. Namun, sering kali manusia hanya memuji Allah karena nikmat yang diterimanya.2. Lillāh"Lillāh" menunjukkan bahwa hanya Allah semata yang berhak dipuji.3. Rabbil 'ĀlamīnPada kata "Al-'Ālamīn", yang dimaksud adalah seluruh makhluk, yaitu semua selain Allah.Makhluk tersebut mencakup manusia, malaikat, jin, hewan, serta seluruh ciptaan Allah lainnya.Adapun Rabb berarti:Pencipta.Pemilik.Pengatur.Secara umum, makna Rabb berasal dari makna tarbiyah, yaitu Dzat yang mengurus, memelihara, dan mengatur seluruh makhluk.Semua yang ada di alam semesta ini, baik makhluk hidup maupun benda mati, seluruhnya berada dalam pengaturan Allah Subḥānahu wa Ta'ālā.
Allah taala berfirman:وَمَا مِنۡ غَآئِبَةٖ فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٍTiada sesuatu pun yang gaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lawḥ Maḥfūẓ).— QS. An-Naml: 75Tafsir Tafsir Ibnu KatsirAn-Naml (27:75)Tidak ada sesuatu pun yang gaib. (An-Naml: 75) Tafsir Ibnu Katsir:Menurut Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah tiada sesuatu pun.di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (An-Naml: 75)Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (Al-Hajj: 70)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Tilawah juz 1 ½ kedua
1 Salah satu bentuk keburukan perilaku dan perangai orang oran Yahudi ialah permusuhanyg mereka lancarkan kpd para Nabi Allah dgn cara mendustakan dan membunuh mereka2 Setiap kemenangan yg ada di dunia pasti memiliki kekurangan.Kemenangan yg sempurna hanya ada diakhirat,berupa keselamatan dineraka dan masuk kedalam surga3 Salah satu bentuk cobaan ialah serangan yg diterima oleh orang-orang mukmin pd agama dan diri mereka dr Ahli kitab dan orang-orang musyrik.Yang haris dilakukan oeh orang-orang mukmin ketika itu “Bersabar dan Bertaqwa kpd Allah Ta’ala
Rachmatika
📍 Kota Administrasi Jakarta Barat
Hanya Allah semata yang menciptakan untuk kalian segala kenikmatan yang ada di muka bumi yang dapat kalian manfaatkan. Kemudian Dia menuju langit dan menciptakan nya dalam bentuk tujuh lapisan. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu dan Ilmu-Nya meliputi segala apa yang Dia ciptakan.
⑦ Dialah yang menurunkan Al-Quān kepadamu, -wahai Nabi-. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas sekali maknanya, tidak ada kesulitan sama sekali untuk memahaminya. Ini adalah bagian yang utama dan dominan di dalamnya, serta menjadi rujukan utama ketika terjadi perbedaan pendapat. Juga ada sebagian ayat-ayatnya yang mengandung lebih dari satu makna (multi tafsir) dan sulit dimengerti maknanya oleh kebanyakan orang. Adapun orang-orang yang hatinya melenceng dari kebenaran, mereka meninggalkan ayat-ayat yang jelas sekali maknanya (muhkam) dan mengambil ayat-ayat yang sulit dimengerti maknanya (mutasyābih) dan multi tafsir; dengan tujuan ingin membangkitkan keragu-raguan dan menyesatkan orang dari jalan yang benar. Mereka ingin menafsirkan ayat-ayat tersebut menurut selera mereka yang sejalan dengan mazhab mereka yang sesat. Tidak ada yang mengetahui makna yang sesungguhnya dari ayat-ayat semacam itu dan bagaimana kenyataannya yang sebenarnya kecuali Allah, sedangkan orang-orang yang berilmu tinggi dan dalam mengatakan, “Kami percaya kepada Al-Qurān secara keseluruhan karena semuanya berasal dari sisi Tuhan kami.” Mereka menafsirkan ayat-ayat mutasyābih dengan ayat-ayat muhkam dan tidak ada yang bisa mendapatkan pelajaran dan peringatan kecuali orang-orang yang berakal sehat. ⑧ Orang-orang yang berilmu tinggi itu berdoa, “Ya Tuhan kami! Janganlah Engkau palingkan hati kami dari kebenaran setelah Engkau tunjukkan kami kepada-Nya. Selamatkanlah kami dari azab yang menimpa orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dan berilah kami rahmat yang luas dari sisi-Mu untuk membimbing hati kami ke jalan yang benar dan memeliharanya dari kesesatan. Sesungguhnya Engkau -wahai Tuhan kami- adalah Tuhan Yang Maha Memberi. ⑨ Ya Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan semua manusia untuk kembali kepada-Mu untuk mempertanggungjawabkan amal mereka pada hari yang tidak ada keraguan terhadapnya karena hari itu pasti akan datang, tidak mungkin tidak. Sesungguhnya Engkau -wahai Tuhan kami- tidak mengingkari janji.”
Surah At-Taubah : 116Teks Arabإِنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۚ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍTerjemahan"Sesungguhnya milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan tidak ada bagimu selain Allah seorang pelindung pun dan tidak (pula) penolong."1. Sisi Konteks Perang Tabuk (Nukilan Ibnu Jarir at-Thabari)Ibnu Katsir mengutip Ibnu Jarir untuk menjelaskan alasan praktis mengapa Allah menegaskan kepemilikan-Nya atas langit dan bumi di ayat ini:Ayat ini berfungsi sebagai pendorong keberanian (tahridh) bagi kaum mukminin yang saat itu sedang bersiap atau menghadapi ekspedisi Perang Tabuk.Pesannya tegas: Karena Allah adalah Penguasa mutlak alam semesta yang mengatur hidup dan mati, tidak ada alasan bagi pasukan Muslim untuk takut atau gentar menghadapi kekuatan musuh.2. Sisi Keagungan dan Kerajaan Allah (Riwayat Ibnu Abi Hatim & Ka'b al-Ahbar)Ibnu Katsir membawakan riwayat tentang para malaikat untuk menggambarkan betapa dahsyatnya makna "kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi":Hadis Hakim bin Hizam: Menggambarkan langit sampai "berderit/bergemuruh" (at-thath-thur) karena padatnya jumlah malaikat yang bersujud dan berdiri beribadah kepada Allah di setiap jengkalnya.Atsar Ka'b al-Ahbar: Menjelaskan betapa luasnya penjagaan Allah di bumi melalui malaikat-malaikat-Nya dan betapa besarnya ukuran malaikat pemikul 'Arasy (Hamalat al-'Arsy).Pelajaran :Penaung Keberanian dalam Perjuangan (Nukilan Ibnu Jarir): Pemahaman bahwa Allah adalah Pemilik langit dan bumi menghilangkan rasa takut kepada kekuatan manusia. Kesadaran ini memicu keberanian dan tawakal bulat saat menghadapi musuh, karena kemenangan dan kematian berada penuh di tangan-Nya.Pengakuan atas Keagungan Allah dan Ketaatan Malaikat (Hadis Hakim bin Hizam): Gambaran langit yang berderit karena dipenuhi malaikat yang bersujud menunjukkan bahwa Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Alam semesta dipenuhi oleh makhluk-makhluk yang tunduk, sehingga hendaknya manusia merasa kerdil dan semakin khusyuk dalam beribadah.Sempurnanya Pengawasan dan Penjagaan Allah (Atsar Ka'b al-Ahbar): Riwayat bahwa tidak ada celah sekecil lubang jarum pun di bumi melainkan ada malaikat yang bertugas memantau, menegaskan bahwa ilmu dan kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Tidak ada amalan atau kejadian yang terluput dari pengawasan-Nya.Kedahsyatan Ciptaan Menunjukkan Keagungan Sang Pencipta (Deskripsi Malaikat Pemikul 'Arasy): Ukuran fisik malaikat pemikul 'Arasy yang begitu raksasa memperlihatkan betapa Mahabesar Penciptanya. Jika hamba-Nya saja sedemikian dahsyat, maka hanya Allah-lah satu-satunya Zat yang layak dijadikan tempat bergantung (Wali) dan penolong (Nasir).
Diantara nikmat yang Allah berikan dan Dia sebutkan di urutan pertama dalam surat ini adalah Allah mengajarkan Al-Qur’an. Dia mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi dan juga kepada hamba-hambaNya(13). Maka dari itu Allah berfirman:وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)Al-Qur’an mudah dipelajari. Orang yang tidak mengetahui ilmu bahasa Arab pun mampu membacanya(14). Apalagi bagi mereka yang mengetahuinya. Jadi, Al-Qur’an termasuk nikmat paling besar yang diberikan kepada makhlukNya. Al-Qur’an adalah kitab yang mendatangkan kebahagiaan. sejauh mana keterkaitan seseorang dengan Al-Qur’an, maka sejauh itu pula seseorang akan merasakan kebahagiaan. Sejauh mana seseorang semakin jauh dengan Al-Qur’an, maka sejauh itu pula kebahagiaan itu menjauhi seseorang. Kemudian kesengsaraan akan menghinggapi hatinya.Maka, hendaknya seorang mukmin berusaha memiliki perhatian dengan Al-Qur’an, baik tilawah (membaca)nya, membaca terjemahannya atau mendengarkan tafsirnya. Karena, ketika seseorang semakin memperdalam Al-Qur’an, maka dia semakin memperoleh kebahagiaan. Sebagaimana halnya, Allah menyebutkan di dalam surat ini nikmat yang paling besar, nikmat yang Allah berikan kepada hambaNya sebelum nikmat-nikmat yang lain, yaitu nikmat Al-Qur’an.Disebutkan di dalam suatu riwayat dari Abdullah bin Mas’ud yang menunjukan bahwa surah Ar-Rahman termasuk surah-surah al-MufashhoL
{إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٖ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكٗا وَهُدٗى لِّلۡعَٰلَمِينَ}Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun di muka bumi untuk seluruh umat manusia sebagai tempat beribadah kepada Allah ialah Baitullah (Ka'bah) yang ada di Makkah. Itu adalah rumah yang diberkahi, memiliki banyak manfaat dari segi agama dan duniawi, dan mengandung petunjuk bagi segenap alam semesta.[Āli 'Imrān:96]{فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ}Di Baitullah ini terdapat tanda-tanda yang jelas mengenai kemuliaan dan keutamaannya, seperti manasik dan masyā'ir. Di antaranya ialah batu yang dijadikan tempat berdiri oleh Ibrahim ketika dia hendak meninggikan dinding Ka'bah. Juga di antaranya ialah siapa yang memasukinya maka ia akan merasa aman dan tidak akan mengalami gangguan apa pun, serta seluruh manusia berkewajiban untuk berkunjung ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji karena Allah, bagi orang yang memiliki kemampuan untuk sampai ke tempat itu. Namun, siapa yang mengingkari kewajiban haji maka sungguh Allah Mahakaya, tidak butuh terhadap orang yang kafir itu dan segenap alam semesta.[Āli 'Imrān:97]https://quranenc.com/id/browse/indonesian_mokhtasar/3-14/#97
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya dan Maha Penyayang kepada mereka.