📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
D
Daramatasia

📍 Kota Depok

Tafsir Qur’an surah Ali-Imran halaman 75

1 Sifat-sifat para ulama Ahli Kitab yang jahat diantaranya ialah suka menyembunyikan ilmu,suka mengikuti hawa nafsu dan merasa gembira dgn pyjianorang meskipun hati mereka jahat dan perbuatan mereka buruk2 Memikirkan ciptaan Allah Ta’alah dilangit dan dibumi serta pergantian waltu akan melahirkan keyakinan yang kuat terhadap keAgungan Allah Azzawajallah dan menimbulkan ketundukan kepadaNya3.Memanjatkan do’a dan menundukkan hati kepada Allah Ta’ala merupakan salah satu wujud pengabdian yang paling semournah kepadaNya

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar Surat Ali Imran ayat 14-15

Allah -Ta'āla- menyampaikan bahwasanya Dia telah menghiasi hidup manusia -sebagai ujian bagi mereka- dengan kecintaan pada kesenangan-kesenangan duniawi, seperti wanita, anak laki-laki, harta yang banyak dan berlimpah berupa emas dan perak, kuda yang bertanda lagi bagus, binatang ternak berupa unta, sapi dan kambing, dan pertanian. Itu adalah kesenangan hidup di dunia yang bisa dinikmati dalam jangka waktu tertentu kemudian hilang, maka tidak sepatutnya seorang mukmin menggantungkan hidupnya pada kesenangan tersebut. Hanya Allah-lah yang memiliki tempat kembali yang baik, yaitu surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Dan tatkala kesenangan-kesenangan duniawi itu terputus (tidak kekal), Allah mengingatkan adanya sesuatu yang lebih baik dari itu. Maka Allah berfirman,Katakanlah -wahai Rasul-, "Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari kesenangan-kesenangan duniawi? Orang-orang yang bertakwa kepada Allah dengan menaati-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya akan mendapatkan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawah bangunan-bangunan istana dan pepohonannya, mereka kekal di dalamnya. Tidak ada kematian dan kebinasaan yang menjemput mereka. Di dalamnya mereka memiliki istri-istri yang suci dari segala macam keburukan, baik fisik maupun mental. Di samping itu mereka akan mendapatkan rida dari Allah sehingga Allah tidak akan murka kepada mereka selama-lamanya. Allah Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya; tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengawasan-Nya, dan Dia akan memberi mereka balasan yang setimpal."

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Tafsir Al Mukhtasar QS At-taubah ayat 55-58

Tafsir Al Mukhtasar QS At-taubah ayat 55-58Oleh karena itu jangan sekali-kali kamu wahai Rasul terkecoh dan terpesona oleh kekayaan dan keturunan orang-orang munafik karena kekayaan dan keturunan mereka itu akan berakhir dengan buruk. Pakan Allah akan menjadikannya sebagai siksaan bagi mereka yaitu dengan membuat mereka bekerja keras dan bersusah payah untuk mendapatkannya serta dengan menurunkan berbagai musibah terhadapnya hingga ajal menjemput mereka dalam keadaan kafir. Kemudian Allah akan menyiksa mereka secara kekal di dalam kerak neraka. Orang-orang munafik itu mengucapkan sumpah palsu di hadapan kalian wahai orang-orang mukmin bahwa mereka adalah bagian dari kalian. Padahal di dalam batin mereka tidaklah demikian adanya walaupun mereka menyatakan bahwa mereka adalah bagian dari kalian. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang khawatir dan takut dibunuh atau dijadikan tawanan perang seperti yang terjadi pada orang-orang musyrik. Oleh karena itulah mereka menyatakan keislaman mereka untuk menyembunyikan jati diri mereka. Sekiranya orang-orang munafik itu menemukan tempat berlindung seperti benteng yang dapat mereka jadikan sebagai tempat untuk melindungi diri mereka, atau menemukan gua di gunung yang dapat mereka jadikan sebagai tempat persembunyian atau menemukan terowongan yang dapat mereka masuki tentu mereka akan berlindung di sana dan masuk ke dalamnya secepat kilat. Bagian dari orang-orang munafik itu pencelamah wahai rasul dalam pembagian zakat tatkala mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika kamu memberi mereka apa yang mereka minta mereka suka padamu, tetapi jika kamu tidak memberi mereka apa yang mereka minta maka mereka akan menunjukkan kekecewaan mereka.

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Ibnu Katsir QS. Yunus : 4

QS. Yūnus : 4Allah taala berfirman:إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا ۖ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقًّا ۚ إِنَّهُۥ يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ بِٱلۡقِسۡطِ ۚ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُمۡ شَرَابٞ مِّنۡ حَمِيمٖ وَعَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَTerjemahan:"Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali. Allah menciptakan makhluk pada permulaannya, kemudian menghidupkannya kembali agar memberi balasan dengan adil kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Adapun orang-orang kafir, bagi mereka minuman air yang mendidih dan azab yang pedih karena kekafiran mereka."📝 Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir1️⃣ Kepastian Hari Kebangkitan Semua manusia pasti kembali kepada Allah. Dzat yang mampu menciptakan pertama kali tentu mampu menghidupkan kembali setelah kematian.2️⃣ Balasan yang Adil Hari kebangkitan adalah janji Allah yang pasti. Orang beriman dan beramal saleh memperoleh pahala dengan penuh keadilan, sedangkan orang kafir mendapat azab sebagai balasan atas kekufurannya.✨ Pelajaran• Kehidupan dunia bukan akhir perjalanan; setiap amal akan dipertanggungjawabkan.• Kekuasaan Allah menciptakan manusia menjadi bukti bahwa membangkitkan kembali adalah perkara yang mudah bagi-Nya.• Beramal saleh dengan penuh harapan kepada pahala Allah, serta menjauhi kekufuran dan maksiat karena azab-Nya adalah benar.

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
D

Diah ayu puspita

📍 Kabupaten Serang

Tafsir Annisa ayat 142

Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas., hingga akhir ayat.Demikianlah gambaran sifat orang-orang munafik dalam melakukan amal yang paling mulia lagi paling utama, yaitu salat. Jika mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan penuh kemalasan, karena tiada niat dan iman bagi mereka untuk melakukannya, tiada rasa takut, dan tidak memahami makna salat yang sesungguhnya.Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari jalur Ubaidillah ibnu Zahr, dari Khalid ibnu Abu Imran, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, makruh bagi seseorang berdiri untuk salat dengan sikap yang malas, melainkan ia harus bangkit untuk menunaikannya dengan wajah yang berseri, hasrat yang besar, dan sangat gembira.

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-fatihah ayat 2

Tafsir Al-Qur'an Surah Al-Fatihah : 2Ar-Raḥmānir-Raḥīm(Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).Ar-Raḥmān berasal dari wazan fa‘lān, yaitu ṣīghah mubālaghah yang menunjukkan besarnya dan luasnya rahmat Allah. Di antaranya Allah berfirman:"Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."Artinya, rahmat Allah meliputi segala sesuatu.Adapun Ar-Raḥīm berkaitan dengan Allah menyampaikan rahmat tersebut kepada hamba-hamba-Nya atau makhluk-Nya sesuai dengan kadar yang Allah kehendaki.Jadi, Ar-Raḥmān berkaitan dengan sifat rahmat yang ada pada Diri Allah, sedangkan Ar-Raḥīm berkaitan dengan sampainya rahmat tersebut kepada makhluk-Nya.Allah Maha Pengasih dan menyampaikan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk. Rahmat itu ada yang bersifat umum (global), dan ada pula rahmat yang bersifat khusus, yaitu bagi orang-orang yang beriman dan saleh.Oleh karena itu, jika ditinjau dari keluasan rahmat Allah, nama Ar-Raḥmān hanya khusus bagi Allah, karena maknanya menunjukkan rahmat yang sangat agung dan tidak ada satu pun makhluk yang memiliki sifat seperti itu.Karena itu, jika ada seseorang bernama Abdurrahman, jangan memanggilnya dengan sebutan Rahman, sebab Ar-Raḥmān adalah nama yang khusus bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.Adapun Ar-Raḥīm boleh digunakan sebagai nama atau sifat bagi manusia. Allah menyebutkan sifat Nabi Muhammad ﷺ, bahwa beliau sangat penyayang kepada orang-orang yang beriman.

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
R

Rachmatika

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Tafsir Al Muyassar Al Baqarah (2:41)

Wahai Bani Israil, berimanlah kalian kepada Al Qur'an yang telah Aku turunkan kepada Muhammad, Nabi Allah dan utusan-Nya, karena hal itu sesuai dengan keterangan yang shahih dalam Taurat yang kalian ketahui. Jangan menjadi orang pertama di kalangan Ahli Kitab yang pertama kali ingkar kepadanya. Jangan menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit dalam bentuk harta dunia yang fana. Beramallah kalian hanya demi Aku, taatilah Aku dan tinggalkan kemaksiatan kepada-Ku.

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
I

izabel hikmatul rasheeda

📍 Kota Tangerang Selatan

Tema: PERINGATAN ALLAH KEPADA BANI ISRAIL (Ayat 40-141)

Catatan kaki:209812. Di antara yang mereka sembunyikan itu ialah Tuhan akan mengutus seseorang nabi dari keturunan Ismā`īl yang akan membangun umat yang besar di belakang hari, yaitu Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʻAlaihi wa Sallam.Janganlah kalian mencampur adukkan kebenaran yang telah Aku jelaskan kepada kalian dengan kebatilan yang kalian buat-buat dari diri kalian sendiri. Jangan menyembunyikan kebenaran yang nyata berupa keterangan tentang sifat Nabi dan Rasul Allah, Muhammad yang tercatat dalam kitab kalian. Kalian telah mengetahui bahwa sifta-sifatnya tertulis di sisi kalian, kalian mengetahui dari kitab yang ada di tangan kalian.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comtilawah juz 2 1/2 pertama

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir Al Baqarah 164

Tafsir Tafsir Al-MuyassarAl-Baqarah (2:164)Tema: KEESAAN TUHANLAH YANG AKHIRNYA MENANG (Ayat 142-214)Subtema: Allah Yang Berkuasa dan Yang menentukan (Ayat 163-171)Sesungguhnya pada penciptaan langit dengan ketinggian dan keluasannya, bumi dengan gunung-gunung, lembah-lembah dan lautan-lautannya, perbedaan malam dan siang, panjang dan pendeknya, gelap dan terangnya, dan pergantiannya di mana yang satu hadir menggantikan yang lain, perahu-perahu yang berjalan diatas air yang membawa manfaat bagi manusia, air hujan yang Allah turunkan dari langit, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi sehingga ia menjadi hijau dan indah setelah sebelumnya kering dan gersang tanpa tanaman, hewan-hewan yang melata di muka bumi yang Allah sebarkan, bertiupnya angin yang Dia karuniakan kepada kalian, awan yang tunduk di antara langit dan bumi, sesungguhnya pada semua bukti-bukti diatas terdapat tanda-tanda bagi keesaan Allah dan keagungan nikmat-Nya bagi kaum yang memahami titik-titik dalil, mengerti bukti-bukti-Nya atas keesaan-Nya dan bahwa hanya Dia yang berhak disembah.Catatan tafsir:Diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur di dalam Sunannya, Al Faryabi di dalam Tafsirnya, dan Al Baihaqi di dalam kitab Syu'abul iimaan, yang bersumber dari Abudh Dhuha. As Suyuthi berpendapat bahwa hadits ini mu'dhal, tetapi mempunyai syaahid (penguat). Bahwa ketika turun ayat 163 surah Al Baqarah, kaum musyrikin kaget dan bertanya-tanya: "Apakah benar Tuhan itu tunggal? Jika benar demikian, berikanlah kepada kami bukti-buktinya." Maka turunlah ayat berikutnya (Al Baqarah: 164) yang menegaskan adanya bukti-bukti Kemahaesaan Tuhan.Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh di dalam kitab Al Azhamah, yang bersumber dari Atha'. Bahwa setelah turun ayat ini kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam di Madinah, orang-orang kafir Quraisy di Mekah bertanya: "Bagaimana Tuhan yang tunggal bisa mendengar manusia yang banyak?" Maka turunlah ayat berikutnya (Al Baqarah: 164) sebagai jawabannya.Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Abbas. Sanadnya baik dan mushul. Bahwa kaum Quraisy berkata kepada Nabi Muhammad: "Berdoalah kepada Allah agar Ia menjadikan bukit Shafa ini emas, sehingga kita dapat memperkuat diri melawan musuh." Maka Allah menurunkan wahyu kepada beliau (Al-Ma-idah: 115) untuk menyanggupi permintaan mereka dengan syarat apabila mereka kufur setelah dipenuhi permintaan mereka, Allah akan memberi siksaan yang belum pernah diberikan kepada yang lain di alam ini. Maka Rasullullah bersabda: "Wahai Rabb-ku, biarkanlah aku dengan kaumku. Aku akan mendakwahi mereka sehari demi sehari." Maka turunlah ayat ini. Dengan turunnya ayat tersebut, Allah menjelaskan mengapa mereka meminta Bukit Shafa dijadikan emas, padahal mereka mengetahui banyak ayat-ayat (tanda-tanda) yang luar biasa.Sumber: Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A. Dahlan dkk.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
N
Nailah

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Qs Ar-Rahman : 3

Dalam ayat ini Allah menyebutkan nikmatNya yang lain, yaitu Allah menciptakan manusia. Ada beberapa pendapat yang dimaksud dengan manusia dalam ayat ini. Sebagian ulama menyebutkan yang dimaksud adalah Nabi Adam. Dan sebagian lagi mengatakan yang dimaksud adalah seluruh manusia. (ال) di dalam ayat menunjukkan ‘istighraq’ maksudnya adalah seluruh manusia. Pendapat kedua adalah pendapat yang lebih kuat. Jadi, bukan hanya Nabi Adam saja, karena Allah sedang menyebutkan nikmatNya kepada manusia seluruhnya.

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
U

Ummu Salamah Pasaribu

📍 Kota Padangsidimpuan

Menghindari Hal Unfaedah

"... dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya," (QS. Al-Furqan 25: Ayat 72)Yakni mereka tidak mau menghadiri perbuatan yang tidak berfaedah itu, dan apabila secara kebetulan mereka bersua dengan orang-orang yang sedang melakukannya, maka mereka lewati saja dan tidak mau mengotori dirinya dengan sesuatu pun dari perbuatan yang berdosa itu.

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 5 Agustus 2026

Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-An’am: 76-79Makna Potongan Ayat (Al-An'am: 77–79)​Terbitnya Rembulan dan Matahari:​Ketika melihat bulan dan matahari terbit/muncul bersinar terang, Nabi Ibrahim berkata, "Inilah Tuhanku... ini yang lebih besar" (bentuknya lebih besar dan sinarnya lebih terang).​Namun setelah keduanya terbenam di ufuk barat, beliau menyadari jika Tuhannya tidak memberi petunjuk, pastilah beliau termasuk orang sesat.​Berlepas Diri dari Kemusyrikan:​Ketika semua benda langit itu tenggelam, beliau berseru: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan" (meninggalkan penyembahan benda-benda langit).​Memurnikan Ibadah Hanya kepada Allah:​Beliau mengikhlaskan agama dan ibadahnya hanya kepada Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya.​Beliau menghadapkan diri secara hanif (cenderung kepada agama yang benar dan berpaling dari kemusyrikan menuju ketauhidan) serta menegaskan bukan dari golongan musyrik.Perbedaan Pendapat Ulama: Renungan (Nazhar) vs Perdebatan (Munazharah)​Pendapat Pertama (Fase Renungan/Pencarian):​Ibnu Jarir (melalui jalur Ali ibnu Abu Talhah dari Ibnu Abbas) memilih pendapat bahwa saat itu Nabi Ibrahim sedang dalam fase renungan/pencarian, berdalil dengan kalimat "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk..." (Al-An'am: 77).​Muhammad ibnu Ishaq serta ulama Salaf/Khalaf menceritakan riwayat bahwa peristiwa ini terjadi setelah beliau keluar dari gua tempat persembunyiannya (ibunya melahirkannya di gua karena takut ancaman Raja Namrud yang hendak membunuh bayi laki-laki). Namun, riwayat ini berisi hal-hal aneh yang bertentangan dengan hukum alam.​Pendapat Kedua (Fase Perdebatan/Mendebat Kaumnya - Pendapat yang Benar):​Status Sebenarnya: Pendapat yang kuat dan benar adalah Nabi Ibrahim dalam kedudukan mendebat (munazharah) kaumnya untuk membongkar kebatilan penyembahan berhala dan benda langit.​Tahapan Perdebatan:​Mendebat Ayahnya: Menjelaskan kesalahan menyembah berhala bumi yang dibentuk menyerupai malaikat.Mendebat Kaumnya (Penyembah Bintang): Menjelaskan kesesatan menyembah 7 bintang beredar (Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, Saturnus).Sanggahan Bertahap:​Bintang Venus/Bintang: Tidak layak jadi Tuhan karena ditundukkan dan beredar pada garis edar tertentu lalu tenggelam.​Bulan & Matahari: Memiliki karakter yang sama, hanya sekadar cahaya yang terlihat dan ciptaan yang ditundukkan.​Kesimpulan Perdebatan: Setelah membuktikan kebatilannya, beliau berlepas diri dari penyembahan bintang dan menantang tipu daya mereka. Beliau menegaskan hanya menyembah Pencipta dan Pengatur benda langit tersebut (sebagaimana dipaparkan dalam QS. Al-A'raf: 54).Dalil Kesucian Fitrah Nabi Ibrahim a.s.​Mustahil bagi seorang Nabi dan kekasih Allah (Khalilullah) berada dalam keraguan/pencarian Tuhan, berdasarkan dalil-dalil berikut:​Pujian Allah atas Ketauhidan Ibrahim a.s.:​QS. Al-Anbiyaa: 51–52: Allah telah menganugerahkan hidayah kebenaran kepada Ibrahim sebelum Musa dan Harun.​QS. An-Nahl: 120–123: Ibrahim adalah teladan yang patuh, hanif, tidak pernah musyrik, dan Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan mengikuti agamanya.​QS. Al-An'am: 161: Agama Ibrahim adalah agama yang lurus dan bukan tergolong orang musyrik.​Dalil Fitrah Kesucian:​Hadis Sahihain: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah." (HR. Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah).​Hadis Sahih Muslim: "Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif..." (HR. Muslim dari Iyad ibnu Hammad).​QS. Ar-Ruum: 30 & QS. Al-A'raf: 172: Manusia diciptakan di atas fitrah tauhid.KesimpulanJika manusia biasa saja diciptakan di atas fitrah tauhid, maka Nabi Ibrahim a.s. adalah orang yang paling utama memiliki fitrah yang sehat dan lurus (setelah Rasulullah ﷺ). Oleh karena itu, beliau sedang mendebat kaumnya yang musyrik, bukan sedang meragukan Tuhan.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Qalam: 32

Tafsir Tafsir At-TaysirAl-Qalam (68:32)Setelah itu, mereka berharap ampunan Allah ﷻ. (60)Kisah Ashabul Jannah (pemilik kebun) ini menjadi dalil bahwa orang yang telah bertekad untuk melakukan keburukan maka Allah sudah mencatatnya sebagai dosa, tanpa dilihat apakah dia berhasil melakukannya atau tidak. Sebagaimana para pemilik kebun tersebut, mereka baru bertekad untuk menghalangi orang miskin di malam hari dan belum melakukannya. Akan tetapi Allah ﷻ telah mengirimkan azab sebelum mereka berhasil mewujudkan niatnya(61). Oleh karenanya, ini juga menunjukkan bahwa pelit adalah akhlak yang buruk. Oleh karenanya Allah ﷻ menamakan pelit dengan فَاحِشَة (perbuatan keji) (62). Sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 268)Intinya, meskipun sikap pelit mereka belum dikerjakan dan baru sekadar azam, ternyata Allah ﷻ telah turunkan azab(63). Kaidah ini juga ditunjukkan oleh dalil-dalil yang lain, di antaranya sabda Nabi ﷺ,إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا، فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ، فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ: إِنَّهُ أَرَادَ قَتْلَ صَاحِبِهِ“Jika dua orang muslim berperang dengan pedang mereka, yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka.” para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, yang membunuh tentu saja (masuk neraka), tetapi bagaimana dengan yang terbunuh?’. Beliau menjawab, ‘Yang terbunuh juga ingin membunuh kawannya’.”(64)Oleh karenanya, kita harus ketahui bahwa jika seseorang telah berniat buruk dan telah berazam, atau bahkan telah melakukan usaha, maka berhasil atau tidak dia telah mendapatkan dosa(65). Contoh zaman sekarang ini adalah seseorang yang masuk ke dunia internet dan hendak membuka situs-situs pornografi. Akan tetapi ternyata situs yang dia kunjungi tersebut terblokir. Berkali-kali dia mengulangi usaha tersebut untuk mencari situs yang lain, namun ternyata tetap terblokir. Ketahuilah bahwa usahanya tersebut telah dinilai dosa.Sebagian ulama dalam buku-buku tafsir juga menjadikan kisah ini sebagai dalil bahwasanya jika ada seseorang yang memiliki harta yang telah mencapai nishab dan sebentar lagi tiba haulnya, namun dia kemudian mengeluarkan sebagiannya agar berkurang dari nishab dan agar tidak berzakat, maka dia telah berdosa. Dan Allah ﷻ Maha Mengetahui niat seseorang sengaja atau tidak. Karena yang demikian pula dia telah melakukan keburukan berupa mencegah hak orang miskin sebagaimana kisah Ashabul Jannah. Akan tetapi jika ditemukan ada orang yang seperti ini, maka sebagian ulama berpendapat bahwa dari orang tersebut tetap ditarik sebagian dari hartanya sebagai zakat(66). Kisah ini juga merupakan dalil bahwa siapa yang tidak mensyukuri nikmat maka akan dicabut oleh Allah. Seorang ulama berkata :مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا، وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا“Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat berarti dia telah menjadikan nikmat tersebut terancam untuk hilang, dan barangsiapa mensyukurinya berarti dia mengikatnya dengan ikatannya”. (67)

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →