📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS An Nahl: 18 — Menghitung Nikmat Allah

Menurut Ibnu Katsir, nikmat Allah itu begitu banyak sampai kita tidak akan mampu menghitung maupun mensyukurinya secara sempurna. Bahkan kalau manusia dituntut membalas seluruh nikmat-Nya, kita pasti tidak mampu. Karena itu, Allah Maha Pengampun atas kelalaian kita dalam bersyukur.Dan Allah juga Maha Penyayang. Ketika kita sadar, bertaubat, dan kembali kepada-Nya dengan ketaatan, Allah tidak langsung menghukum kita atas kelalaian tersebut. Jadi ayat ini sekaligus menunjukkan betapa banyak nikmat Allah dan betapa luas ampunan serta kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al-'Araf:193

Tafsir Al-MuyassarQS Al-'Araf:193Wahai orang-orang musyrik, jika kalian menyeru berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah itu kepada petunjuk, niscaya dia tidak akan dapat mendengar seruan kalian dan tidak pula mau mengikuti kalian. Kalian seru atau tidak adalah sama karena dia tidak mendengar dan tidak pula melihat, tidak dapat memberi petunjuk dan tidak dapat diberi petunjuk.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 14

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 14وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا ۖ وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَArtinya:“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.’”Ayat ini menjelaskan sifat orang-orang munafik. Ketika bertemu dengan kaum Muslimin, mereka mengaku beriman. Namun ketika kembali kepada kelompok mereka sendiri, mereka justru menunjukkan bahwa mereka tidak beriman dan mengatakan bahwa perkataan mereka kepada kaum Muslimin hanyalah olok-olok.Siapakah yang dimaksud dengan “setan-setan mereka”?Menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud adalah para pembesar dan pemimpin mereka, yaitu dari kalangan pembesar kaum musyrikin dan pembesar dari kalangan orang-orang munafik.Maka, orang-orang munafik itu bersikap bermuka dua:Ketika bertemu orang-orang beriman, mereka berkata, “Kami beriman.”Namun ketika mereka kembali kepada para pemimpin dan pembesar mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman.”Mereka tidak benar-benar beriman. Mereka hanya menampakkan keislaman di hadapan kaum Muslimin, sementara di balik itu mereka tetap bersama orang-orang yang menentang kebenaran.Pelajaran penting:Jangan sampai lisan kita menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hati. Ayat ini mengingatkan betapa berbahayanya kemunafikan dan mempermainkan agama, karena seseorang dapat terlihat bersama orang-orang beriman, tetapi hatinya justru berpihak kepada kebatilan.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al-Muyassar Al-'Aĥzāb (33:54)

Tema: ADAB DAN SOPAN SANTUN DALAM RUMAH TANGGA NABI (Ayat 53-58)Bila kalian (wahai manusia) menampakkan melalui lisan-lisan kalian sesuatu yang menyakiti Rasulullah dari apa yang Allah larang kalian darinya, atau menyembunyikannya dalam jiwa kalian, maka sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada dalam hati kalian dan apa yang kalian perlihatkan, dan Dia akan menghisab kalian atasnya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS Ali Imran Ayat 65-66

Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu berdebat tentang agama Ibrahim -'alaihissalām-? Orang Yahudi mengklaim bahwa Ibrahim adalah seorang penganut Yahudi, dan orang Nasrani mengklaim bahwa Ibrahim adalah seorang penganut Nasrani, padahal kalian tahu bahwa agama Yahudi dan Nasrani baru muncul jauh setelah Ibrahim meninggal dunia. Tidakkah kalian berpikir tentang kelirunya ucapan kalian dan salahnya anggapan kalian?!Hai kalian -kaum Ahli Kitab-! Kalian (boleh) berdebat dengan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang sesuatu yang kamu ketahui menyangkut urusan agamamu dan apa yang diturunkan kepadamu. Lalu mengapa kamu berdebat dengannya tentang sesuatu yang tidak kamu ketahui menyangkut urusan Ibrahim dan agamanya, sedangkan masalah itu tidak tertulis di dalam kitab-kitab sucimu dan tidak pernah disampaikan oleh nabi-nabimu?! Allah mengetahui hakikat segala sesuatu dan rahasia yang ada di baliknya, sedangkan kalian tidak mengetahuinya.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir Al Baqarah 60

Tafsir Al-MuyassarAl-Baqarah (2:60)Tema: PERINGATAN ALLAH KEPADA BANI ISRAIL (Ayat 40-141)Subtema: Perincian nikmat Allah kepada Bani Israil (Ayat 49-60)Catatan kaki:209824. Ialah sebanyak suku Bani Isrā`īl sebagaimana tersebut dalam surah Al-Aʻrāf ayat 160.Ingatlah terhadap nikmat Kami yang diberikan kepada kalian ketika kalian sangat kehausan selama masa pembuangan, ketika Musa dengan sangat merendah berdoa kepada Kami agar Kami menurunkan hujan bagi kaumnya. Kami berkata, "Pukulkan tongkatmu ke batu itu." Musa pun melakukannya sehingga mengalirlah dari batu itu dua belas mata air sesuai dengan jumlah kabilah yang ada di Bani Israil. Setiap kabilah mengetahui mata air yang dikhususkan bagi mereka sehingga tidak saling berebut dan Kami ucapkan kepada mereka, "Makan dan minumlah sebagian rezeki Allah itu dan janganlah berbuat kerusakan di muka bumi."Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Haqqah: 19

Tafsir At-TaysirAl-Ĥāqqah (69:16)Kalau kita kumpulkan ayat-ayat yang menceritakan kondisi langit pada hari kiamat kelak, maka kita akan dapati langit akan mengalami beberapa kondisi. Pertama adalah langit tersebut mulai terbelah dengan tampak retakannya. Kondisi ini disebut dengan infithar yang diambil dari firman Allah ﷻ,إِذَا السَّمَاءُ انفَطَرَتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar : 1)Kedua adalah belahan langit akan semakin membesar dan sempurna. Kondisi ini disebut dengan insyiqaq yang diambil dari firman Allah ﷻ,إِذَا السَّمَاءُ انشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq : 1)Ketiga adalah langit menjadi tampak lemah dan rapuh sehingga tidak kuat lagi untuk mempertahankan benda-benda langit yang berada di dalamnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa langit sangatlah kokok sehingga bisa menjadi tempat bagi benda-benda langit yang begitu banyak dan begitu besar. Akan tetapi pada hari kiamat langit akan menjadi lemah, sehingga bintang-bintang berjatuhan, planet-planet di langit lepas dari orbitnya. Pada kondisi ini langit disebut وَاهِيَةٌ sebagaimana disebutkan dalam ayat ini,فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ“Maka pada hari itu langit menjadi lemah (rapuh).” (QS. Al-Haqqah : 16)Keempat adalah langit dalam kondisi Al-Kasyth, yaitu langit seakan-akan menjadi sesuatu yang dicabut dari bingkainya, atau seperti seorang yang melepas kulit hewan dari dagingnya. Sebagaimana firman Allah ﷻ,وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ“Dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir : 11)Kelima adalah langit dilipat oleh Allah ﷻ seperti melipat lembaran buku. Kondisi ini disebut dengan Ath-Thay, sebagaimana Allah ﷻ berfirman,يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ“(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati. Sungguh Kami akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya’ : 104)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Orang yang Mendapat Pancaran Ilahi

Allah taala berfirman:رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُlaki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Orang yang mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 36-38)QS. An-Nūr: 37Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comTafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:37)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Orang yang mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 36-38)Para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat kepada orang-orang yang berhak. Mereka takut kepada satu hari yang mana saat itu hati akan bergoncang antara harapan selamat dan takut celaka, dan penglihatan pun bergoncang karena melihat kemanakah tempat kembalinya?Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comBoleh tolong buatkan poster dengan nuansa soft pink, nude, soft purple, & soft green dengan tema seperti berikut

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al-furqan:45

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:45)Tema: TANDA-TANDA KEKUASAAN ALLAH DALAM ALAM (Ayat 45-62)Mulai dari bagian ini Allah subhanahu wata'āla menjelaskan dalil-dalil yang menunjuk­kan keberadaan dan kekuasaan-Nya yang sempurna, bahwa Dialah yang menciptakan segala sesuatu yang beraneka ragam lagi kontradiksi itu. Untuk itu Allah subhanahu wata'āla berfirman:Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang? (Al Furqaan:45)Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abul Aliyah, Abu Malik, Masruq, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, An-Nakha'i, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan Qatadah telah mengatakan bahwa hal itu terjadi di antara terbitnya fajar sampai dengan terbitnya matahari.dan kalau Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu. (Al Furqaan:45)Yaitu tetap dan tidak hilang, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'āla dalam ayat lain melalui firman-Nya:Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian malam itu terus-menerus.” (Al-Qasas: 71)Adapun firman Allah subhanahu wata'āla:kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu. (Al Furqaan:45)Artinya, seandainya matahari tidak terbit atas bayang-bayang itu, tentulah bayang-bayang tidak akan ada, karena sesungguhnya sesuatu itu tidak dikenal melainkan melalui lawannya. Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa matahari sebagai petunjuk yang mengiringi dan mengikutinya hingga sinar matahari berada di atasnya.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Surat Ar-Ra’d Ayat 28–29

1. Hati Menjadi Tenteram dengan Mengingat Allah (Ayat 28)Allah menjelaskan bahwa orang-orang beriman memiliki hati yang tenang, senang, dan tenteram karena mereka selalu mengingat Allah. Mereka merasa aman berada di bawah perlindungan-Nya, bersandar kepada-Nya sebagai Pelindung dan Penolong, serta ridha terhadap ketentuan-Nya.Firman Allah:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada ketenangan hati yang hakiki selain dengan mengenal, mengingat, dan mendekat kepada Allah. Harta, kedudukan, maupun kesenangan dunia tidak dapat memberikan ketenteraman yang sejati sebagaimana zikir kepada Allah.2. Makna “Ṭūbā” bagi Orang Beriman (Ayat 29)Allah berfirman:“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ṭūbā dan tempat kembali yang baik.”Para ulama salaf memberikan penjelasan yang beragam tentang makna ṭūbā, namun semuanya mengarah kepada kebaikan dan kebahagiaan besar bagi orang beriman.Di antara penafsirannya:Ibnu Abbas: kegembiraan dan kesejukan hati.Ikrimah: betapa nikmatnya apa yang mereka peroleh.Ad-Dahhak: ungkapan keinginan agar memperoleh kenikmatan seperti mereka.Ibrahim An-Nakha’i: kebaikan bagi mereka.Qatadah: keberuntungan dan kebaikan besar.Semua pendapat ini saling melengkapi dan tidak bertentangan.3. Ṭūbā sebagai Pohon Besar di SurgaBanyak riwayat dari para sahabat dan tabi’in menjelaskan bahwa Ṭūbā adalah sebuah pohon yang sangat besar di surga.Ciri-cirinya menurut berbagai riwayat:Semua pohon surga berasal darinya.Rantingnya menjangkau seluruh rumah penghuni surga.Pada setiap rumah di surga terdapat cabang dari pohon tersebut.Besarnya luar biasa; seorang pengendara dapat berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun tanpa mencapai ujungnya.Dari kuntum-kuntumnya keluar pakaian penghuni surga.Dari akarnya mengalir sungai-sungai surga yang berisi air, susu, madu, dan minuman surga.Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa pohon ini merupakan salah satu kenikmatan besar yang Allah sediakan bagi penghuni surga.4. Luasnya Kenikmatan SurgaIbnu Katsir menyebutkan banyak hadis sahih yang menggambarkan luasnya naungan pohon-pohon surga.Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di surga terdapat pohon yang naungannya begitu luas sehingga seorang pengendara yang berjalan selama seratus tahun masih belum mampu melewatinya.Hadis-hadis ini menunjukkan:Luasnya surga jauh melampaui gambaran manusia.Kenikmatan surga tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia.Apa yang Allah sediakan bagi orang beriman berada di luar batas khayalan manusia.5. Riwayat Wahb bin Munabbih tentang Kenikmatan SurgaIbnu Katsir menukil sebuah atsar panjang dari Wahb bin Munabbih yang menggambarkan:Pohon Ṭūbā yang sangat besar.Sungai-sungai surga yang mengalir dari akarnya.Kendaraan, istana, taman, dan pakaian penghuni surga.Kunjungan penghuni surga kepada Allah.Salam dan penghormatan dari para malaikat.Keridhaan Allah kepada penghuni surga.Permintaan apa pun yang langsung dipenuhi oleh Allah.Namun Ibnu Katsir mengingatkan bahwa riwayat ini gharib (asing dan menakjubkan). Sebagian isinya memiliki dalil penguat dari hadis-hadis sahih, sedangkan rincian lainnya tidak dapat dipastikan kebenarannya.6. Puncak Kenikmatan SurgaKenikmatan terbesar bagi penghuni surga bukanlah istana, sungai, pakaian, atau kendaraan, melainkan:Mendapat ridha Allah.Mendengar salam dari Allah.Melihat Allah pada hari akhir.Inilah karunia tertinggi yang diberikan kepada orang-orang beriman dan beramal saleh.Pelajaran UtamaKetenteraman hati yang sejati hanya diperoleh dengan mengingat Allah.Iman dan amal saleh adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.“Ṭūbā” menunjukkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kenikmatan besar bagi orang beriman.Surga memiliki kenikmatan yang tidak dapat dibayangkan oleh akal manusia.Allah menyediakan balasan yang sangat besar bagi hamba yang beriman dan taat.Kenikmatan tertinggi di surga adalah memperoleh ridha Allah dan melihat-Nya.Ayat 28–29 menghubungkan ketenangan hati di dunia dengan kebahagiaan abadi di akhirat: siapa yang mengingat Allah dan beramal saleh di dunia, akan memperoleh Ṭūbā dan tempat kembali yang terbaik di surga.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Meraih Keridhoan Allah

Jika Ali Imran 199–200 diringkas menjadi satu pesan, maka alurnya sangat indah:Ayat 199 → contoh manusia yang benar dalam menerima kebenaran⬇️Ayat 200 → cara orang beriman mempertahankan kebenaran tersebut⬇️Sabar → kuatkan kesabaran → istiqamah/berjaga → takwa⬇️Hasilnya: keberuntungan dunia dan akhirat.Jadi, Ali Imran 199 mengajarkan kejujuran terhadap kebenaran, sedangkan Ali Imran 200 mengajarkan keteguhan dalam menjalankan kebenaran tersebut.Relevansi untuk kehidupan sekarangAyat ini sangat relevan karena kita bukan hanya dituntut mengetahui kebenaran, tetapi juga konsisten menjalankannya. Misalnya:Jujur meskipun kejujuran merugikan secara materi;Sholat yang utama meskipun sibuk;Mampu menahan hawa nafsu dan godaan;Tidak menyembunyikan ilmu demi kepentingan pribadi;Tidak mudah meninggalkan prinsip agama ketika mendapat tekanan lingkungan;Menjaga keistiqomahan dengan Allah dalam kondisi senang maupun susah.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →