Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 25وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga itu, mereka berkata, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa. Dan bagi mereka di dalamnya ada pasangan-pasangan yang disucikan, dan mereka kekal di dalamnya.”وَبَشِّرِ — Wa basysyirAl-bisyarah artinya kabar gembira.Kata Imam Al-Qurthubi, kata al-bisyarah secara bahasa berkaitan dengan kulit, karena kabar gembira tersebut terasa pengaruhnya sampai pada kulit seseorang, saking gembiranya.Terkadang bisyarah juga digunakan untuk memberi kabar tentang keburukan, seperti firman Allah:«“Maka berilah mereka kabar gembira dengan azab yang pedih.”»Disebut bisyarah, padahal yang diberitakan adalah sesuatu yang menakutkan. Namun jika kata bisyarah disebutkan tanpa embel-embel yang menunjukkan keburukan, maka maknanya adalah kabar gembira.Maka dalam ayat ini, Nabi ﷺ diperintahkan untuk memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh.آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ — Amanu wa ‘amilush-shalihat“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.”Ini merupakan dalil bahwa iman yang benar melazimkan amal-amal saleh.Akidah Ahlus Sunnah menyatakan bahwa amal termasuk bagian dari iman. Hal ini berbeda dengan pemahaman Murji'ah.Iman terdiri dari:1. I'tiqad atau keyakinan hati.2. Ucapan dengan lisan.3. Amal anggota tubuh.Lalu mengapa amal saleh disebutkan setelah iman, padahal amal merupakan bagian dari iman?Ini termasuk ذِكْرُ الْخَاصِّ بَعْدَ الْعَامِّ — dzikrul khash ba‘dal ‘amm, yaitu menyebutkan sesuatu yang khusus setelah sesuatu yang umum.Tujuannya adalah menunjukkan pentingnya perkara yang khusus tersebut.Sebagai contoh, seseorang mengatakan, “Telah datang para ulama dan Syekh Bin Baz.”Syekh Bin Baz termasuk ulama. Namun beliau disebutkan secara khusus bukan berarti beliau bukan ulama, tetapi karena ada perhatian khusus terhadap beliau.Demikian pula dalam ayat ini. Iman dan amal saleh bukanlah dua perkara yang saling terpisah. Amal saleh merupakan bagian dari iman. Namun amal saleh disebutkan secara khusus karena pentingnya amal tersebut dan karena amal saleh merupakan konsekuensi dari keimanan yang benar.Percuma seseorang mengaku beriman tetapi tidak beramal saleh. Iman seharusnya membuahkan amal saleh, seperti pohon yang menghasilkan buah.Allah juga berfirman:«“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail...”»Jibril dan Mikail termasuk malaikat. Namun Allah menyebutkan malaikat secara umum kemudian menyebutkan Jibril dan Mikail secara khusus karena pentingnya kedua malaikat tersebut.Maka ayat ini menunjukkan bahwa amal saleh sangat penting dan merupakan kelaziman dari iman yang benar.الصَّالِحَاتِ — Amal-amal salehKenapa amal kebajikan disebut dengan ash-shalihat?Amal kebajikan dinamakan demikian karena merupakan amal yang baik.Kata Imam As-Sa'di rahimahullah, dengan amal saleh maka baiklah segala urusan dan hilanglah berbagai keburukan.أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ — Bahwa bagi mereka surga-surgaApa kabar gembira yang Allah berikan?Yang pertama:أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ“Bahwa bagi mereka disediakan surga-surga.”Kata jannah secara bahasa berasal dari akar kata ج ن ن (jim-nun-nun) yang menunjukkan sesuatu yang tertutup atau tersembunyi.Para ulama menjelaskan bahwa kata-kata dalam bahasa Arab yang memiliki akar ج ن ن memiliki makna yang berkaitan dengan sesuatu yang tertutup atau tersembunyi.تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ — Mengalir sungai-sungai di bawahnyaDi dalam surga terdapat sungai-sungai yang mengalir di bawahnya.Sungai-sungai tersebut beragam, di antaranya:- sungai air tawar yang segar,- sungai susu,- sungai khamar,- dan sungai madu.مِنْ قَبْلُ — SebelumnyaApa maksudnya ketika mereka mengatakan:هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ“Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.”Ada dua pendapat:Pertama, yang dimaksud adalah ketika di dunia.Buah-buahan di surga memiliki nama yang mirip dengan buah-buahan yang dikenal di dunia, tetapi hakikat dan kenikmatannya berbeda.Ibnu Abbas berkata bahwa tidak ada sesuatu di surga yang menyerupai apa yang ada di dunia kecuali sekadar namanya.Kedua, maksudnya adalah buah yang sebelumnya telah mereka makan di surga.Buah yang mereka makan sekarang mirip dengan buah yang sebelumnya mereka makan. Sama-sama lezat, nikmat, dan segar.وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا — Mereka diberi buah-buahan yang serupaApa yang dimaksud dengan “serupa”?Syekh As-Sa'di rahimahullah menyebutkan beberapa pendapat:1. Serupa dari sisi nama, tetapi rasanya berbeda.2. Serupa dari sisi warna, tetapi buahnya berbeda-beda.3. Serupa dari sisi kelezatan dan keindahan buah tersebut.Jika dimaknai dengan pendapat yang kedua dari pembahasan sebelumnya, yaitu buah yang mereka makan sekarang serupa dengan buah yang telah mereka makan sebelumnya di surga, maka semuanya sama-sama lezat, nikmat, segar, dan menyenangkan.Ini menunjukkan kesempurnaan kenikmatan dari dua sisi.Buah-buahan tersebut memiliki kemiripan, tetapi tetap memberikan variasi kenikmatan.Kalau di dunia kita memilih buah berdasarkan rasa—mana yang manis, mana yang asam, mana yang kita sukai—maka di surga bukan karena ada buah yang tidak enak kemudian kita tinggalkan.Kita memilih karena variasi, karena ingin menikmati berbagai macam buah tersebut satu per satu.أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ — Pasangan-pasangan yang disucikanKemudian Allah berfirman:وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ“Dan bagi mereka di dalamnya ada pasangan-pasangan yang disucikan.”Mutahharah artinya disucikan.Disucikan dari apa?Allah tidak menyebutkan secara khusus dari apa mereka disucikan. Kaidah dalam tafsir menyebutkan bahwa ketika sesuatu tidak disebutkan secara khusus, maka hal tersebut dapat memberikan faedah keumuman.Maka mereka disucikan dari berbagai macam kotoran, baik kotoran fisik maupun kotoran akhlak.Kotoran fisik, seorang wanita di dunia mengalami haid dan berbagai proses alami tubuh serta hasil metabolisme tubuh. Namun di surga, semua kotoran tersebut dihilangkan.Adapun kotoran akhlak, maka mereka disucikan dari keburukan dalam pandangan, pendengaran, ucapan, sikap, perbuatan, dan hati.Semua kotoran dan keburukan tersebut dihilangkan di surga.Dan kesucian ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan.وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ — Mereka kekal di dalamnyaKenikmatan tersebut bukan kenikmatan yang sementara.Mereka kekal di dalam surga dan tidak akan keluar darinya.Inilah kabar gembira yang Allah sampaikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh.