Tafsir Tafsir At-TaysirAr-Rahman (55:1)Surat Ar-Rahman adalah surat Makkiyyah, menurut jumhur ahli tafsir(1). Sebagian ulama berpendapat bahwa ada sebagian ayatnya yang merupakan ayat-ayat Madaniyyah. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa seluruh ayat-ayat pada surat Ar-Rahman adalah Makkiyyah, yaitu surat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah(2). Sebagian ulama mengatakan bahwa surat ini turun setelah surat Al-Furqan(3), karena di dalam surat Al-Furqan terdapat firman Allah:وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اسْجُدُوْا لِلرَّحْمٰنِ قَالُوْا وَمَا الرَّحْمٰنُ اَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُوْرًا“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Sujudlah kepada Yang Maha Pengasih”, mereka menjawab, “Siapakah yang Maha Pengasih itu? Apakah kami harus sujud kepada Allah yang engkau (Muhammad) perintahkan kepada kami (bersujud kepada-Nya)?” Dan mereka makin jauh lari (dari kebenaran).” (QS. Al-Furqan: 60)Ini adalah bentuk pengingkaran orang-orang musyrikin terhadap Ar-Rahman. Bukan berarti mereka mengingkari Allah. Mereka tahu adanya Allah, Yang telah menciptakan mereka, alam semesta. Akan tetapi, mereka tidak suka dengan nama Ar-Rahman. Adapun peristiwa ini terjadi di Makkah.(4)Begitu juga disebutkan kisah Ibnu Mas’ud radhiallahau ‘anhu di awal-awal Islam di Mekah beliau ingin memperdengarkan Al-Qur’an kepada orang-orang Quraisy, lalu dia menuju area sekitar Ka’bah, kemudian dia membacakan Al-Qur’an secara terang-terangan. Maka dari itu, dia disebut sebagai sahabat yang pertama kali membaca Al-Qur’an dengan terang-terangan. Ketika beliau membacanya, maka orang-orang kafir Quraisy yang sedang beraktivitas di dekatnya kaget mendengar bacaan Ibnu Mas’ud. Akhirnya merekapun ramai-ramai mendatangi Ibnu Mas’ud dan memukulnya hingga jatuh terkapar, sedangkan dia tetap membaca surat Ar-Rahman.Ibnu Ishaaq berkata : Telah menyampaikan kepadaku Yahya bin Urwah bin Az-Zubair, dari ayahnya berkata :كَانَ أَوَّلُ مَنْ جَهَرَ بِالْقُرْآنِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: اجْتَمَعَ يَوْمًا أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: وَاَللَّهِ مَا سَمِعَتْ قُرَيْشٌ هَذَا الْقُرْآنَ يُجْهَرُ لَهَا بِهِ قَطُّ، فَمَنْ رَجُلٌ يُسْمِعُهُمُوهُ؟فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ : أَنَا، قَالُوا: إنَّا نَخْشَاهُمْ عَلَيْكَ، إنَّمَا نُرِيدُ رَجُلًا لَهُ عَشِيرَةٌ يَمْنَعُونَهُ مِنْ الْقَوْمِ إنْ أَرَادُوهُ، قَالَ: دَعُونِي فَإِنَّ اللَّهَ سَيَمْنَعُنِي. قَالَ: فَغَدَا ابْنُ مَسْعُودٍ حَتَّى أَتَى الْمَقَامَ فِي الضُّحَى، وَقُرَيْشٌ فِي أَنْدِيَتِهَا، حَتَّى قَامَ عِنْدَ الْمَقَامِ ثُمَّ قَرَأَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ -رَافِعًا بِهَا صَوْتَهُ- الرَّحْمنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ قَالَ: ثُمَّ اسْتَقْبَلَهَا يَقْرَؤُهَا. قَالَ: فَتَأَمَّلُوهُ فَجَعَلُوا يَقُولُونَ: مَاذَا قَالَ ابْنُ أُمِّ عبْدٍ؟ قَالَ: ثُمَّ قَالُوا: إنَّهُ لَيَتْلُو بَعْضَ مَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ، فَقَامُوا إلَيْهِ، فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ فِي وَجْهِهِ، وَجَعَلَ يَقْرَأُ حَتَّى بَلَغَ مِنْهَا مَا شَاءَ اللَّهُ أَنَّ يَبْلُغَ. ثُمَّ انْصَرَفَ إلَى أَصْحَابِهِ وَقَدْ أَثَّرُوا فِي وَجْهِهِ ، فَقَالُوا لَهُ: هَذَا الَّذِي خَشِينَا عَلَيْكَ، فَقَالَ: مَا كَانَ أَعْدَاءُ اللَّهِ أَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْهُمْ الْآنَ، وَلَئِنْ شِئْتُمْ لَأُغَادِيَنَّهُمْ بِمِثْلِهَا غَدًا، قَالُوا: لَا، حَسْبُكَ، قَدْ أَسْمَعْتَهُمْ مَا يَكْرَهُونَ.“Yang pertama kali terang-terangan baca al-Qur’an -setelah Rasulullah ﷺ - di Mekah adalah Abdullah bin Mas’ud. Pada suatu hari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalla sedang berkumpul, lalu mereka berkata, “Demi Allah, kaum Quraisy sama sekali belum pernah mendengar al-Qur’an dibacakan terang-terangan, maka siapakah yang bisa membuat mereka mendengarnya?”Maka Abdullah bin Mas’uud berkata, “Saya”. Mereka berkata, “Kami mengkhawatirkan mereka memberi kemudorotan kepadamu, maksud kami adalah seorang yang memeliki kabilah yang kuat sehingga bisa menghalangi keburukan kaum Quraisy jika mereka hendak berbuat keburukan”. Ibnu Mas’ud berkata, “Biarkanlah aku, sesungguhnya Allah akan melindungiku”. Maka Ibnu Mas’uud pun pergi hingga tiba di Maqoom Ibrahim di waktu duha, sementara kaum Quraisy sedang di tempat perkumpulan mereka, lalu Ibnu Mas’uud pun berdiri di sisi Maqom Ibrahmi lalu membaca firman Allah -sambil mengeraskan suaranya- : “Bismillahirrahmaanirrahiim, Arrahmaan, ‘Allamal Qur’aan…”. Lalu Ibnu Mas’uud menghadap lokasi tempat mereka berkumpul dan membaca ayat-ayat tersebut. Maka merekapun memperhatikan Ibnu Mas’ud, lalu mereka berkata, “Apa yang sedang diucapkan oleh Ibnu Ummi ‘Abd (yaitu Ibnu Mas’uud)?”. Lalu mereka berkata, “Sesungguhnya dia sedang membaca sebagian yang dibawa oleh Muhammad”. Maka merekapun berdiri dan menuju kepada beliau lalu mereka memukuli wajahnya, namun Ibnu Mas’uud tetap membaca hingga sampai yang ia baca. Lalu beliaupun kembali kepada para sahabat, sementara nampak bekas pukulan di wajah beliau. Maka para shabat berkata kepada beliau, “Inilah yang kami kawatirkan menimpamu”. Beliau berkata, “Tidaklah musuh-musuh Allah menjadi lebih ringan dari pada mereka sekarang, jika kalian mau besok aku akan melakukan hal yang sama di hadapan mereka”. Para sahabat berkata, “Sudah cukup, engkau telah memperdengarkan kepada mereka apa yang mereka benci” (5)Peristiwa ini terjadi di Makkah, lebih tepatnya saat awal munculnya Islam. Ini menunjukkan bahwa surat Ar-Rahman adalah Makkiyah. (6)Ar-Rahman adalah salah satu nama dari nama-nama Allah. Biasanya bergandengan dengan Ar-Rahiim, seperti dalam lafadz dari surat Al-Fatihah (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ). Kedua nama ini kembali kepada sifat (الرَّحْمَة) yaitu kasih sayang Allah.Adapun perbedaannya terdapat dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama mengatakan Ar-Rahman menunjukkan sifat rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk, baik orang-orang beriman maupun orang-orang kafir. Mereka semua mendapatkan rahmat Allah. Mereka diberikan rizki, kesehatan, kemudahan-kemudahan kepada seluruh hambaNya, meskipun kafir. Adapun Ar-Rahim menunjukan sifat rahmat Allah, khusus untuk orang-orang yang beriman(7). Sebagaimana dalam firman Allah:وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh banyak ulama(8). Artinya, Ar-Rahman dan Ar-Rahiim memiliki persamaan menunjukkan sifat rahmat. Ar-Rahman, rahmatNya mencakup seluruh manusia, baik yang beriman maupun kafir. Adapun Ar-Rahiim khusus untuk orang-orang beriman.Pendapat kedua, pendapat yang dipilih oleh Ibnu Al-Qayyim di dalam kitabnya Badai’ul Fawaid, berkata bahwa perbedaan Ar-Rahman dan Ar-Rahiim bukan pada sisi siapa yang mendapatkan rahmat tersebut. Akan tetapi, berkaitan dengan sifat dzatiyyah Allah, bahwasanya Allah memiliki sifat rahmat yang agung. Adapun Ar-Rahiim adalah sifat yang berkaitan dengan rahmat Allah yang diberikan kepada makhlukNya. (9)Pendapat Ibnu Al-Qayyim lebih kuat, karena dalam ayat lain Allah berfirman: اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ“Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143)Manusia yang dimaksud di dalam ayat ini mencakup orang yang beriman dan orang kafir (10). Artinya, Allah juga Rahiim kepada orang-orang kafir. Oleh karena itu, Ar-Rahman berkaitan dengan dzat Allah. Sedangkan Ar-Rahiim berkaitan dengan rahmat yang diberikan kepada makhlukNya. Meskipun rahmatNya mencakup terhadap orang-orang beriman dan orang-orang kafir, namun tentunya rahmat Allah terhadap orang-orang yang beriman adalah rahmat khusus yang diberikan kepada mereka terutama di akhirat kelak, dimana rahmat tersebut tidak akan mengenai orang-orang kafir. Adapun di dunia semua makhluknya mendapatkan rahmat Allah.Surat ini dibuka dengan Ar-Rahman yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada makhluknya. Maka dari itu, ayat setelahnya Allah menyebutkan tentang nikmat-nikmatNya yang diberikan kepada hamba-hambaNya dengan berbagai macam kenikmatan, baik itu berupa agama, dunia, kemaslahatan manusia dan lain sebagainya(11). Dan setiap kali Allah menyebutkan berbagai macam kenikmatan-kenikmatan, maka Allah tutup dengan berfirman:فَبِأَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)Karena itulah, surat ini banyak menjelaskan tentang nikmat-nikmat Allah, sebagai bentuk dari rahmatNya kepada hamba-hambaNya.(12)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com