📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat12 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 12 Agustus

Tafsir As-Sa'di QS. Al-An’am: 102​Hakikat "Dzalikumullāhu Rabbukum" (Dialah Allah, Tuhanmu)​Zat yang Berhak Disembah:Allah adalah Zat yang dipertuhankan, berhak mendapatkan ketundukan dan kecintaan sempurna.​Pengurus Seluruh Makhluk:Allah mengurusi seluruh makhluk dengan melimpahkan nikmat-nikmat-Nya dan menolak seluruh kesulitan dari mereka.Pencipta Segala Sesuatu:Dia adalah Pencipta segala sesuatu yang tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia.Perintah Murni untuk Beribadah ("Fa'budūh")​Kewajiban Mengikhlaskan Ibadah: Jika terbukti secara meyakinkan bahwa tiada tuhan selain Allah, maka serahkanlah seluruh bentuk ibadah hanya untuk-Nya dan ikhlaskanlah semata-mata mengharap wajah-Nya.​Tujuan Utama Penciptaan: Beribadah kepada Allah merupakan maksud utama diciptakannya makhluk.​Dalil (QS. Adz-Dzariyat: 56):“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."Makna Pemeliharaan Allah ("Wa Huwa 'Alā Kulli Syai'in Wakīl")​Cakupan Pemeliharaan: Segala sesuatu berada di bawah pemeliharaan dan pengawasan Allah dari segi penciptaan, penataan, dan pengaturan.​Perbedaan Pemeliharaan Allah dengan Makhluk:​Pemeliharaan Makhluk:Bersifat penggantian dan pelaksanaanya hanya menginduk kepada pemberi hak pemeliharaan.​Pemeliharaan Allah:Berasal dari diri-Nya sendiri untuk diri-Nya, mencakup kesempurnaan ilmu, kebaikan pengurusan, dan keadilan.​Kesempurnaan Pengaturan Allah: Tidak seorang pun mampu mengkritik Allah, serta tidak ada kekurangan, kelemahan, ketimpangan, atau cacat pada ciptaan dan pengaturan-Nya.​Bentuk Pemeliharaan Khusus:​Menjelaskan agama-Nya dan menjaganya dari hal-hal yang menghapus atau mengubahnya.​Menjaga orang-orang mukmin dan memelihara mereka dari perkara-perkara yang dapat merusak iman dan akidahnya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 12 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat12 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Qalam: 42

Tafsir At-TaysirAl-Qalam (68:42)Pada ayat ini Allah ﷻ berbicara tentang hari kiamat. Tentang kata سَاقٍ, terdapat dua pendapat di kalangan Ahli Tafsir tentang maknanya. Pendapat pertama mengatakan bahwa disingkapnya betis merupakan uslub/ungkapan orang Arab untuk mengungkapkan kondisi yang berat dan sulit, yaitu hari tersebut (hari kiamat) merupakan hari yang penuh dengan kesulitan. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah(84). Pendapat kedua mengatakan bahwa سَاقٍ dalam ayat ini adalah sifat kaki Allah ﷻ, sebagaimana hal ini telah dimaklumi dalam hadits-hadits Nabi ﷺ yang shahih bahwa Allah memiliki kaki secara hakiki walaupun tidak akan sama dengan apa yang dimiliki oleh makhluk-Nya. (85)Pada hari itu mereka tidak sanggup untuk bersujud, punggung mereka seperti besi yang tidak mampu untuk dibengkokkan (86). Sebagaimana dalam hadits disebutkan,فَيَكْشِفُ عَنْ سَاقِهِ، فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ، وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ لِلَّهِ رِيَاءً وَسُمْعَةً، فَيَذْهَبُ كَيْمَا يَسْجُدَ، فَيَعُودُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا“Maka Allah menyingkap betis-Nya sehingga setiap mukmin bersujud kepada-Nya. Lalu tersisalah orang-orang yang sujud kepada Allah karena riya’ dan sum’ah sehingga tatkala mereka hendak sujud, maka punggungnya kembali menjadi satu bagian (lurus dan tidak bisa sujud).”(87)As-Sa’di berkata dalam tafsirnya,وَهَذَا الْجَزَاءُ ما جنس عملهم، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا يَدْعُوْنَ فِيْ الدُّنْيَا إِلَى السُّجُوْدِ لِلَّهِ وَتَوْحِيْدِهِ وَعِبَادَتِهِ وَهُمْ سَالِمُوْنَ، لَا عِلَّةَ فِيْهِمْ، فَيَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ ذَلِكَ وَيَأْبَوْنَ، فَلَا تَسْأَل يَوْمَئِذٍ عَنْ حَالِهِمْ وَسُوْءِ مَآلِهِمْ، فَإِنَّ اللهَ قَدْ سَخِطَ عَلَيْهِمْ، وَحُقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ، وَتَقَطَّعَتْ أَسْبَابُهُمْ، وَلَمْ تَنْفَعْهُمُ النَّدَامَةُ وَلَا الْاِعْتِذَارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Balasan seperti ini sesuai dengan amal mereka ketika di dunia, karena ketika mereka dipanggil di dunia untuk sujud kepada Allah, mengesakan-Nya dan beribadah kepada-Nya dalam keadaan sehat, namun mereka enggan dan sombong melakukannya. Maka Anda tidak perlu bertanya tentang keadaan mereka dan buruknya tempat kembali mereka, karena Allah telah murka kepada mereka dan mereka telah tetap mendapatkan ketetapan azab, dan terputuslah segala hubungan serta tidak bermanfaat penyesalan mereka, dan tidak pula uzur mereka pada hari Kiamat.”(88)Oleh karena itu, ketika umur masih muda, badan masih sehat, hendaknya kita berusaha banyak sujud (shalat) kepada Allah. Kita melihat orang yang sudah tua, mereka shalat dengan duduk, pakai kursi dan yang lainnya. Shalat yang demikian juga ada kenikmatan, akan tetapi tentu berbeda ketika seseorang masih bisa meletakkan dahinya di lantai untuk sujud dengan sempurna. Ketahuilah bahwa sungguh ada orang yang tidak mampu lagi melakukan sujud, namun mereka masih berangan-angan untuk bisa tetap sujud. Oleh karenanya, orang yang tidak mau sujud (shalat), tentunya mereka akan binasa pada hari kiamat kelak.

💬 0 komentar📅 12 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat12 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al-Furqon:29

Tafsir Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:29)Tema: AL-QUR'AN ADALAH PERINGATAN UNTUK SELURUH MANUSIA (Ayat 1-34)Subtema: Keadaan manusia yang tidak membenarkan Al-Qur'an pada hari kiamat (Ayat 21-34)Firman Allah subhanahu wata'āla:Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. (Al Furqaan:29)Yakni sesudah Al-Qur'an sampai kepadanya.Dalam firman selanjutnya disebutkan:Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (Al Furqaan:29)Yaitu menyesatkannya dan memalingkannya dari jalan yang hak, lalu membawa dan merayunya ke jalan kebatilan.Disalin dari Quran Tadabbur

💬 0 komentar📅 12 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat12 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Tafsir Tafsir At-Taysir Ar-Rahman (55:1)

Tafsir Tafsir At-TaysirAr-Rahman (55:1)Surat Ar-Rahman adalah surat Makkiyyah, menurut jumhur ahli tafsir(1). Sebagian ulama berpendapat bahwa ada sebagian ayatnya yang merupakan ayat-ayat Madaniyyah. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa seluruh ayat-ayat pada surat Ar-Rahman adalah Makkiyyah, yaitu surat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah(2). Sebagian ulama mengatakan bahwa surat ini turun setelah surat Al-Furqan(3), karena di dalam surat Al-Furqan terdapat firman Allah:وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اسْجُدُوْا لِلرَّحْمٰنِ قَالُوْا وَمَا الرَّحْمٰنُ اَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُوْرًا“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Sujudlah kepada Yang Maha Pengasih”, mereka menjawab, “Siapakah yang Maha Pengasih itu? Apakah kami harus sujud kepada Allah yang engkau (Muhammad) perintahkan kepada kami (bersujud kepada-Nya)?” Dan mereka makin jauh lari (dari kebenaran).” (QS. Al-Furqan: 60)Ini adalah bentuk pengingkaran orang-orang musyrikin terhadap Ar-Rahman. Bukan berarti mereka mengingkari Allah. Mereka tahu adanya Allah, Yang telah menciptakan mereka, alam semesta. Akan tetapi, mereka tidak suka dengan nama Ar-Rahman. Adapun peristiwa ini terjadi di Makkah.(4)Begitu juga disebutkan kisah Ibnu Mas’ud radhiallahau ‘anhu di awal-awal Islam di Mekah beliau ingin memperdengarkan Al-Qur’an kepada orang-orang Quraisy, lalu dia menuju area sekitar Ka’bah, kemudian dia membacakan Al-Qur’an secara terang-terangan. Maka dari itu, dia disebut sebagai sahabat yang pertama kali membaca Al-Qur’an dengan terang-terangan. Ketika beliau membacanya, maka orang-orang kafir Quraisy yang sedang beraktivitas di dekatnya kaget mendengar bacaan Ibnu Mas’ud. Akhirnya merekapun ramai-ramai mendatangi Ibnu Mas’ud dan memukulnya hingga jatuh terkapar, sedangkan dia tetap membaca surat Ar-Rahman.Ibnu Ishaaq berkata : Telah menyampaikan kepadaku Yahya bin Urwah bin Az-Zubair, dari ayahnya berkata :كَانَ أَوَّلُ مَنْ جَهَرَ بِالْقُرْآنِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: اجْتَمَعَ يَوْمًا أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: وَاَللَّهِ مَا سَمِعَتْ قُرَيْشٌ هَذَا الْقُرْآنَ يُجْهَرُ لَهَا بِهِ قَطُّ، فَمَنْ رَجُلٌ يُسْمِعُهُمُوهُ؟فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ : أَنَا، قَالُوا: إنَّا نَخْشَاهُمْ عَلَيْكَ، إنَّمَا نُرِيدُ رَجُلًا لَهُ عَشِيرَةٌ يَمْنَعُونَهُ مِنْ الْقَوْمِ إنْ أَرَادُوهُ، قَالَ: دَعُونِي فَإِنَّ اللَّهَ سَيَمْنَعُنِي. قَالَ: فَغَدَا ابْنُ مَسْعُودٍ حَتَّى أَتَى الْمَقَامَ فِي الضُّحَى، وَقُرَيْشٌ فِي أَنْدِيَتِهَا، حَتَّى قَامَ عِنْدَ الْمَقَامِ ثُمَّ قَرَأَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ -رَافِعًا بِهَا صَوْتَهُ- الرَّحْمنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ قَالَ: ثُمَّ اسْتَقْبَلَهَا يَقْرَؤُهَا. قَالَ: فَتَأَمَّلُوهُ فَجَعَلُوا يَقُولُونَ: مَاذَا قَالَ ابْنُ أُمِّ عبْدٍ؟ قَالَ: ثُمَّ قَالُوا: إنَّهُ لَيَتْلُو بَعْضَ مَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ، فَقَامُوا إلَيْهِ، فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ فِي وَجْهِهِ، وَجَعَلَ يَقْرَأُ حَتَّى بَلَغَ مِنْهَا مَا شَاءَ اللَّهُ أَنَّ يَبْلُغَ. ثُمَّ انْصَرَفَ إلَى أَصْحَابِهِ وَقَدْ أَثَّرُوا فِي وَجْهِهِ ، فَقَالُوا لَهُ: هَذَا الَّذِي خَشِينَا عَلَيْكَ، فَقَالَ: مَا كَانَ أَعْدَاءُ اللَّهِ أَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْهُمْ الْآنَ، وَلَئِنْ شِئْتُمْ لَأُغَادِيَنَّهُمْ بِمِثْلِهَا غَدًا، قَالُوا: لَا، حَسْبُكَ، قَدْ أَسْمَعْتَهُمْ مَا يَكْرَهُونَ.“Yang pertama kali terang-terangan baca al-Qur’an -setelah Rasulullah ﷺ - di Mekah adalah Abdullah bin Mas’ud. Pada suatu hari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalla sedang berkumpul, lalu mereka berkata, “Demi Allah, kaum Quraisy sama sekali belum pernah mendengar al-Qur’an dibacakan terang-terangan, maka siapakah yang bisa membuat mereka mendengarnya?”Maka Abdullah bin Mas’uud berkata, “Saya”. Mereka berkata, “Kami mengkhawatirkan mereka memberi kemudorotan kepadamu, maksud kami adalah seorang yang memeliki kabilah yang kuat sehingga bisa menghalangi keburukan kaum Quraisy jika mereka hendak berbuat keburukan”. Ibnu Mas’ud berkata, “Biarkanlah aku, sesungguhnya Allah akan melindungiku”. Maka Ibnu Mas’uud pun pergi hingga tiba di Maqoom Ibrahim di waktu duha, sementara kaum Quraisy sedang di tempat perkumpulan mereka, lalu Ibnu Mas’uud pun berdiri di sisi Maqom Ibrahmi lalu membaca firman Allah -sambil mengeraskan suaranya- : “Bismillahirrahmaanirrahiim, Arrahmaan, ‘Allamal Qur’aan…”. Lalu Ibnu Mas’uud menghadap lokasi tempat mereka berkumpul dan membaca ayat-ayat tersebut. Maka merekapun memperhatikan Ibnu Mas’ud, lalu mereka berkata, “Apa yang sedang diucapkan oleh Ibnu Ummi ‘Abd (yaitu Ibnu Mas’uud)?”. Lalu mereka berkata, “Sesungguhnya dia sedang membaca sebagian yang dibawa oleh Muhammad”. Maka merekapun berdiri dan menuju kepada beliau lalu mereka memukuli wajahnya, namun Ibnu Mas’uud tetap membaca hingga sampai yang ia baca. Lalu beliaupun kembali kepada para sahabat, sementara nampak bekas pukulan di wajah beliau. Maka para shabat berkata kepada beliau, “Inilah yang kami kawatirkan menimpamu”. Beliau berkata, “Tidaklah musuh-musuh Allah menjadi lebih ringan dari pada mereka sekarang, jika kalian mau besok aku akan melakukan hal yang sama di hadapan mereka”. Para sahabat berkata, “Sudah cukup, engkau telah memperdengarkan kepada mereka apa yang mereka benci” (5)Peristiwa ini terjadi di Makkah, lebih tepatnya saat awal munculnya Islam. Ini menunjukkan bahwa surat Ar-Rahman adalah Makkiyah. (6)Ar-Rahman adalah salah satu nama dari nama-nama Allah. Biasanya bergandengan dengan Ar-Rahiim, seperti dalam lafadz dari surat Al-Fatihah (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ). Kedua nama ini kembali kepada sifat (الرَّحْمَة) yaitu kasih sayang Allah.Adapun perbedaannya terdapat dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama mengatakan Ar-Rahman menunjukkan sifat rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk, baik orang-orang beriman maupun orang-orang kafir. Mereka semua mendapatkan rahmat Allah. Mereka diberikan rizki, kesehatan, kemudahan-kemudahan kepada seluruh hambaNya, meskipun kafir. Adapun Ar-Rahim menunjukan sifat rahmat Allah, khusus untuk orang-orang yang beriman(7). Sebagaimana dalam firman Allah:وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh banyak ulama(8). Artinya, Ar-Rahman dan Ar-Rahiim memiliki persamaan menunjukkan sifat rahmat. Ar-Rahman, rahmatNya mencakup seluruh manusia, baik yang beriman maupun kafir. Adapun Ar-Rahiim khusus untuk orang-orang beriman.Pendapat kedua, pendapat yang dipilih oleh Ibnu Al-Qayyim di dalam kitabnya Badai’ul Fawaid, berkata bahwa perbedaan Ar-Rahman dan Ar-Rahiim bukan pada sisi siapa yang mendapatkan rahmat tersebut. Akan tetapi, berkaitan dengan sifat dzatiyyah Allah, bahwasanya Allah memiliki sifat rahmat yang agung. Adapun Ar-Rahiim adalah sifat yang berkaitan dengan rahmat Allah yang diberikan kepada makhlukNya. (9)Pendapat Ibnu Al-Qayyim lebih kuat, karena dalam ayat lain Allah berfirman: اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ“Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143)Manusia yang dimaksud di dalam ayat ini mencakup orang yang beriman dan orang kafir (10). Artinya, Allah juga Rahiim kepada orang-orang kafir. Oleh karena itu, Ar-Rahman berkaitan dengan dzat Allah. Sedangkan Ar-Rahiim berkaitan dengan rahmat yang diberikan kepada makhlukNya. Meskipun rahmatNya mencakup terhadap orang-orang beriman dan orang-orang kafir, namun tentunya rahmat Allah terhadap orang-orang yang beriman adalah rahmat khusus yang diberikan kepada mereka terutama di akhirat kelak, dimana rahmat tersebut tidak akan mengenai orang-orang kafir. Adapun di dunia semua makhluknya mendapatkan rahmat Allah.Surat ini dibuka dengan Ar-Rahman yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada makhluknya. Maka dari itu, ayat setelahnya Allah menyebutkan tentang nikmat-nikmatNya yang diberikan kepada hamba-hambaNya dengan berbagai macam kenikmatan, baik itu berupa agama, dunia, kemaslahatan manusia dan lain sebagainya(11). Dan setiap kali Allah menyebutkan berbagai macam kenikmatan-kenikmatan, maka Allah tutup dengan berfirman:فَبِأَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)Karena itulah, surat ini banyak menjelaskan tentang nikmat-nikmat Allah, sebagai bentuk dari rahmatNya kepada hamba-hambaNya.(12)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 12 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat12 Agustus 2026
S
Siti Rusmiati

📍 Kabupaten Bogor

Trust in Allah

Jadi perempuan itu melelahkan ya, Allah memberi peringatan kepada kaumnya (wanita) jika kelak ia lah yang paling banyak di neraka.Namun jangan lelah ya dengan proses yang tidak mudah ini, cara berbicara kita diatur, gerak gerik kita begitu dijaga, pakaian yang tertutup tidak menjadikan kita selamat, karna setelah demikian pun kita tetap harus benar-benar memperhatikan sedemikian detail warnanya, bahan yang tidak melekuk tubuh-tubuh kita, sesuatu yang kita pakai tidak diperkenankan jika masih begitu menarik perhatian ajnabi diluar sana.Kita tidak diharuskan menjadi percaya diri dengan riasan-riasan yang kita pakai selain kepada suami, bahkan sendal kita pun di atur, tidak boleh menggunakan heels sehingga menimbulkan bunyi. Wewangian yang tidak boleh menyengat sehingga menjadi haram saat kita memakainya.Kuharap kita tidak muak ya.. ketidak mudahan dalam menjaga semoga Allah balas dengan sesuatu yang tidak kita sangka-sangka.Kita usahakan ya menjadi perempuan yang sami'na wa atho'na kami mendengar dan kami patuh, kepada-Nya kepada aturan yang menjaga.

💬 0 komentar📅 12 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat12 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al-Muyassar, Q. S. Al-A'raf (7:146)

Tema: KISAH BEBERAPA ORANG RASUL (Ayat 59-171)Subtema: Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (Ayat 132-152)Aku akan memalingkan hati orang-orang yang congkak dari menaatiku dan berlaku sombong kepada manusia dari memahami keterangan-keterangan dan bukti-bukti yang menunjukkan keagungan, syariat dan hukum-hukum-Ku. Mereka tidak mengikuti seorang nabi dan tidak pula mendengarkannya karena kecongkakan mereka. Apabila orang-orang yang menyombongkan diri dari keimanan itu melihat semua ayat-ayat (Allah) mereka tidak beriman karena berpaling dan sikap penentangan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya. Apabila melihat jalan kebaikan, mereka tidak mau mengambilnya. Apabila melihat jalan kesesatan atau kekufuran, mereka malah mengambilnya dan menjadikannya sebagai agama. Demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan lalai, tidak memperhatikan dan berpikir untuk mengambil bukti-bukti kebenaran (dari ayat-ayat Allah).Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 12 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat12 Agustus 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN

Allah taala berfirman:يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ ۚ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ ۚ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang dusta (Ayat 14-26)QS. An-Nūr: 21Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comTafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:21)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang dusta (Ayat 14-26)Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan menjalankan syariat-Nya. Janganlah kalian berjalan di atas jalan para setan. Barangsiapa yang berjalan di atas jalan para setan niscaya setan itu akan memerintahkannya untuk melakukan perbuatan yang paling buruk dan yang paling mungkar. Jika sekiranya tidak karena karunia Allah atas orang-orang beriman dan rahmat-Nya kepada mereka, niscaya tidak seorang pun yang mampu membersihkan dirinya dari kotoran dosa. Namun Allah dengan karunia-Nya membersihkan dosa seseorang sesuai dengan kehendak-Nya. Allah adalah Dzat yang Maha Mendengar ucapan kalian dan Dia adalah Dzat yang Maha Mengetahui niat dan perbuatan kalian.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 12 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat15 Agustus 2026
M
marni

📍 Kabupaten Bogor

JANJI PRASETIA KEPADA ALLAH DAN PENYEMPURNAAN AGAMA ISLAM (Ayat 1-5)

Allah taala berfirman:يَسۡـَٔلُونَكَ مَاذَآ أُحِلَّ لَهُمۡ ۖ قُلۡ أُحِلَّ لَكُمُ ٱلطَّيِّبَٰتُ وَمَا عَلَّمۡتُم مِّنَ ٱلۡجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ ٱللَّهُ ۖ فَكُلُواْ مِمَّآ أَمۡسَكۡنَ عَلَيۡكُمۡ وَٱذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِMereka menanyakan kepadamu, "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?" Katakanlah, "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu1. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu2, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)3. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya".Tema: JANJI PRASETIA KEPADA ALLAH DAN PENYEMPURNAAN AGAMA ISLAM (Ayat 1-5)Catatan kaki:210168. Maksudnya binatang buas itu dilatih menurut kepandaian yang diperoleh dari pengalaman, pikiran manusia, dan ilham dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tentang melatih binatang buas dan cara berburu.210169. Yaitu buruan yang ditangkap binatang buas semata-mata untukmu dan tidak dimakan sedikit pun oleh binatang itu.210170. Maksudnya, di waktu melepaskan binatang buas itu disebut nama Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā sebagai ganti binatang buruan itu sendiri menyebutkan di waktu menerkam buruan.QS. Al-Mā'idah: 4Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 11 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS Al Araf 85

Yang menarik dari kisah Nabi Syu’aib adalah bahwa seruan untuk menyembah Allah berjalan bersama dengan tuntutan untuk jujur dalam urusan manusia. Ini membuatku sadar bahwa kedekatan kepada Allah seharusnya juga terlihat dari hal-hal yang sering dianggap kecil dalam keseharian: bagaimana aku menjaga amanah, menghargai hak orang lain, dan tidak mengambil keuntungan dengan cara yang tidak semestinya. Ternyata kualitas iman tidak hanya terlihat dari hubungan kita dengan Allah, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan manusia ketika tidak ada yang mengawasi.

💬 0 komentar📅 11 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat12 Agustus 2026
S
Siti Rusmiati

📍 Kabupaten Bogor

"Ya Allah, jadikan kami lentera-lentera kecil di bumi-Mu. Menerangi tanpa diminta, padam hanya jika Engkau kehendaki."

Aku memang masih belum menikah, apalagi punya anak. Namun melihat banyak sekali anak yang terjerumus ke lembah-lembah dosa dan maksiat, sadar diri untuk semakin khusyuk dalam bermunajat, semakin rajin mengoreksi diri atas dosa-dosa yang dilakukan meski sesaat, sungguh aku tidak akan pernah tega jika suatu saat aku justru mewariskan sebuah dosa, meninggalkan asbab buruk karna kesalahan-kesalahan di masa muda.Do'aku untuk anak-anakku sudah aku panjatkan jauh hari sebelum ia tiba dan melihat dunia ini dengan matanya sendiriBetapa khawatirkan seorang ibu melihat anak perempuannya pulang larut malam dengan lelaki ajnabi, betapa hancurnya perasaan seorang ibu itu melihat anaknya yang ia cintai justru semakin lihai memaki dan membohongi demi sebuah kebahagiaan yang sedang gencar melahap diri.Dan kepada Allah lah aku berserah diri kepada masa lalu yang sedang aku perbaiki, kepada masa sekarang yang sedang aku coba jalani, dan masa depan yang tidak pasti aku ketahui🩷

💬 0 komentar📅 11 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat11 Agustus 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Hukum Perzinaan & Pergaulan

Allah taala berfirman:سُورَةٌ أَنزَلۡنَٰهَا وَفَرَضۡنَٰهَا وَأَنزَلۡنَا فِيهَآ ءَايَٰتِۭ بَيِّنَٰتٖ لَّعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ(Ini adalah) satu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas agar kamu selalu mengingatinya.Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Hukum perzinaan (Ayat 1-3)QS. An-Nūr: 1Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comTafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:1)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Hukum perzinaan (Ayat 1-3)Ini adalah satu surat Al Qur’an yang sangat agung dari yang Kami turunkan. Kami wajibkan untuk menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya. Dan Kami turunkan di dalamnya dalil-dalil yang jelas agar kalian wahai orang-orang mukmin selalu mengingat ayat-ayat yang jelas ini dan mengamalkannya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 11 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat11 Agustus 2026
H
Haniva Eka Kusuma

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir al ankabut ayat 5

Allah taala berfirman:مَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ ٱللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ ٱللَّهِ لَأٓتٖ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُBarang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.— QS. Al-`Ankabūt: 5Tafsir Tafsir Al-MuyassarAl-'Ankabut (29:5)Barangsiapa berharap bertemu Allah dan menginginkan pahala-Nya, maka ajal yang telah Allah tetapkan untuk membangkitkan makhluk-Nya untuk menerima balasan dan hukuman pasti datang dalam waktu dekat. Dan Allah Maha Mendengar kata-kata dan Maha Mengetahui perbuatan-perbuatan.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 11 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat11 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Tafsir Al Mukhtasar QS Al mu'minun ayat 18-21

Tafsir Al Mukhtasar QS Al mu'minun ayat 18-21 Kami juga menurunkan air hujan dari langsing sehingga pada kebutuhan makhluk, tidak terlalu banyak hingga merusak dan tidak pula sedikit hingga tidak mencukupi. Lalu Kami jadikan air hujan itu menetap di bumi agar manusia dan seluruh hewan bisa memanfaatkannya. Sungguh Kami pasti mampu untuk melenyapkannya hingga kalian tidak mengambil manfaat darinya.Lalu dengan air itu Kami jadikan bagi kalian kebun-kebun kurma dan anggur. Di sana kalian memperoleh buah-buahan yang beragam bentuk dan warnanya seperti buah tinggi 5 dan apel yang sebagian darinya kalian makan. Kami juga menumbuhkan bagi kalian pohon zaitun yang tumbuh dari wilayah gunung Sinai, buahnya menghasilkan minyak dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan. Sungguh ,bagi kalian wahai manusia pada binatang ternak (unta sapi dan kambing) terdapat pelajaran dan petunjuk yang menunjukkan bagi kalian kekuasaan dan kelembutan Allah. Kami juga memberikan minuman susu murni yang berasal dari perut binatang ternak itu. Adanya juga terdapat banyak manfaat bagi kalian seperti untuk kendaraan atau menggunakan kulit dan bulunya, serta kalian makan dagingnya.

💬 0 komentar📅 11 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat11 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-fatihah ayat 5

Tafsir QS. Al-fatihah Ayat 5اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus).Ihdina artinya, “Ya Allah, berikanlah kami petunjuk.” Ini adalah doa yang terbaik, yaitu meminta hidayah. Kalau kita mendapatkan hidayah dari Allah, semuanya dimudahkan.Shirathal mustaqim, jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu apa?Yaitu ada yang mengatakan Al-Qur’an, Sunnah, dan ada yang menunjukkan Islam.Apa makna ayat ini?Ihdinas shirathal mustaqim, yaitu:Jika kami belum berada di atas jalan yang lurus, maka tunjukkanlah kepada kami. Jika kami sudah berada di jalan yang lurus, maka kokohkanlah, teguhkanlah, atau istiqamahkanlah kami.Jika kami sudah istiqamah, bukakanlah pintu-pintu kebaikan atau jalan-jalan kebaikan yang lainnya, di mana jalan kebaikan sangatlah banyak.Ini kita hadirkan dalam doa kita ketika kita mengucapkan “Ihdinas shirathal mustaqim.”Sayangnya, ketika kita mengucapkan ini, pikiran kita melayang-layang, tidak konsentrasi.Padahal, ayat satu sampai empat pada Surah Al-Fatihah adalah muqaddimah atau pengakuan ikrar. Sedangkan ayat kelima, “Ihdinas shirathal mustaqim,” adalah doa.

💬 0 komentar📅 11 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat11 Agustus 2026
D
Daramatasia

📍 Kota Depok

Surah Annisah halaman 79

1 Harta warisan tidak boleh dibagikan kpd ahli waris sebelum hutang simayat dibayarkan dan wasiatnya -yang tidak boleh lebih dari sepertiga-dilaksanakan2 Larangan melakukan kecerobahan dalam membagi warisan karna pembagian warisan adalah ketentuan dan perintah dari Allah kpd hambah-hambahnya yg beriman3 Salah satu tanda-tanda iman ialah menjalankan perintah-perintah Allah,menjauhi laranganNYA dan mematuhi batas-batasnYA4 Salah satu bukti keadilan dan kebijaksanan Allah Ta’alah ialah barang siapa taat kepadaNYA,Dia maenjanjikan Pahala yg sangat besar baginya dan siap durhaka kepadaNya dia akan membalas dgn berat

💬 0 komentar📅 11 Agu 2026Baca selengkapnya →