📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
P

puti nilam suri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Juz 22 dan Tafsir surah Al Ankabut ayat 45

juz 22 dan Tafsir surah Al Ankabut ayat 45Kemudian Allah subhanahu wata'āla memerintahkan kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin untuk membaca Al-Qur'an dan menyampaikannya kepada manusia.dan dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). (Al-'Ankabut: 45)Salat itu mengandung dua hikmah, yaitu dapat menjadi pencegah diri dari perbuatan keji dan perbuatan munkar. Maksudnya dapat menjadi pengekang diri dari kebiasaan melakukan kedua perbuatan tersebut dan mendorong pelakunya dapat menghindarinya. Di dalam sebuah hadis melalui riwayat Imran dan Ibnu Abbas secara marfu' telah disebutkan:Barang siapa yang salatnya masih belum dapat mencegah dirinya dari mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tiada lain ia makin bertambah jauh dari Allah.Banyak asar yang menerangkan masalah ini, antara lain dikatakan oleh Ibnu Abu Hatim:telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Harun Al-Makhrami Al-Fallas, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Nafi' Abu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Abu Usman, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Imran ibnu Husain yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ. pernah ditanya (seseorang) tentang makna firman-Nya: Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. (Al-'Ankabut: 45) Maka beliau Saw. menjawab melalui sabdanya: Barang siapa yang tidak dapat dicegah oleh salatnya dari mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tiada (pahala) salat baginya.Telah menceritakan pula kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu AbuTalhah Al-Yarbu'i, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Lais, dari Tawus, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda: Barang siapa yang salatnya tidak dapat mencegah dirinya dari melakukan perbuatan keji dan munkar, maka salatnya itu tidak lain makin menambah jauh dirinya dari Allah.Imam Tabrani meriwayatkannya melalui hadis Abu Mu'awiyah.Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Abdullah, dari Al-Ala ibnul Musayyab dari orang yang menceritakan hadis ini dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. (Al-'Ankabut: 45) Ibnu Abbas mengatakan, barang siapa yang salatnya tidak mendorongnya mengerjakan amar makruf dan nahi munkar, maka tiada lain salatnya itu makin menambahnya jauh dari Allah. Hadis ini berpredikat mauquf (hanya sampai pada Ibnu Abbas).Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hasyim ibnul Barid, dari Juwaibir, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi ﷺ. yang telah bersabda: Tiada salat bagi orang yang tidak menaati salatnya. Pengertian menaati salat ialah hendaknya salatnya itu dapat mencegahnya dari melakukan perbuatan keji dan munkar.Ibnu Jarir mengatakan bahwa Sufyan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka berkata, "Hai Syu'aib, apakah salatmu yang menyuruhmu. (Huud:87) Sufyan mengatakan, "Memang benar demi Allah, salatnyalah yang mendorongnya berbuat amar makruf dan nahi munkar."Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, dari Juwaibir, dari Ad-Dahhak, dari Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda —Abu Khalid di lain waktu meriwayatkannya dari Abdullah—: Tiada salat bagi orang yang tidak menaati salatnya, dan taat kepada salat artinya salat mencegahnya dari melakukan perbuatan keji dan munkar.Predikat hadis ini menurut pendapat yang paling sahih adalah mauquf sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-A'masy, dari Malik ibnul Haris, dari Abdur Rahman ibnu Yazid yang mengatakan bahwa pernah dikatakan kepada Abdullah, "Sesungguhnya si Fulan mengerjakan salatnya dalam waktu yang cukup lama." Maka Abdullah menjawab, "Sesungguhnya salat itu tidak memberi manfaat kecuali kepada orang yang menaatinya."Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Muslim, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda: Barang siapa yang mengerjakan suatu salat, sedangkan salat itu tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka tiadalah salat itu baginya melainkan makin menambah jauh dia dari Allah.Menurut pendapat yang paling sahih, semua hadis di atas berpredikat mauquf dari Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Al-Hasan, Qatadah, Al-A'masy, dan lain-lainnya, hanya Allah-lah yang lebih mengetahui.Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu Abdul Hamid, dari Al-A'masy, dari Abu Saleh, menurut Al-A'masy disebutkan dengan nada yang ragu, bahwa Abu Saleh meriwayatkannya dari Jabir yang mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ., lalu berkata, "Sesungguhnya si Fulan selalu mengerjakan salat di malam hari, tetapi bila siang hari ia suka mencuri." Maka Nabi ﷺ. bersabda: Kelak dia akan dicegah oleh (salatnya) yang kamu katakan itu.Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musa Al-Jarasyi, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Abdullah, dari Al-Amasy, dari Abu Saleh, dari Jabir, dari Nabi ﷺ. dengan lafaz yang semisal tanpa ada keraguan.Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan pula oleh perawi lainnya yang bukan hanya seorang melalui Al-A'masy, tetapi mereka masih memperselisihkan perihal sanadnya.Disebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh bukan hanya seorang, dari Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah atau yang lainnya. Qais meriwayatkan pula dari Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, dan Jarir telah meriwayatkan dari Abdullah, dari Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Jabir.Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Al-A'masy yang mengatakan bahwa menurut keyakinannya Abu Saleh menerima hadis ini dari Abu Hurairah yang pernah mengatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ., lalu berkata, "Sesungguhnya si Fulan selalu mengerjakan salat di malam harinya, tetapi bila pagi hari ia mencuri." Maka Nabi ﷺ. menjawab: Sesungguhnya dia kelak akan dicegah oleh (salatnya) yang kamu katakan itu.Pekerjaan salat itu mengandung zikrullah yang merupakan rukun yang terbesar, karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar, (Al-'Ankabut: 45)Yakni lebih besar pahalanya daripada yang pertama (yakni ibadah-ibadah yang lainnya).Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-'Ankabut: 45)Allah mengetahui semua perbuatan dan apa yang diucapkan kalian.Abul Aliyah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. (Al-'Ankabut: 45) Sesungguhnya di dalam salat itu terkandung tiga pekerti, setiap salat yang tidak mengandung salah satu dari ketiga pekerti tersebut bukan salat namanya, yaitu ikhlas, khusyuk, dan zikrullah (mengingat Allah). Ikhlas akan mendorongnya untuk mengerjakan perkara yang baik, khusyuk akan mencegahnya dari mengerjakan perbuatan munkar, dan zikrullah yakni membaca Al-Qur'an menggerakkannya untuk amar makruf dan nahi munkar.Ibnu Aun Al-Ansari mengatakan, "Jika engkau sedang salat, berarti engkau sedang mengerjakan hal yang baik, dan salat mencegahmu dari perbuatan keji dan munkar. Sedangkan zikrullah yang sedang kamu kerjakan dalam salatmu pahalanya lebih besar."Hammad ibnu Sulaiman mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. (Al-'Ankabut: 45) selagi engkau masih berada di dalam salat.Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar. (Al-'Ankabut: 45) Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna ayat ialah sesungguhnya ingatan Allah kepada hamba-hamba-Nya lebih besar apabila mereka mengingat­Nya daripada ingatan mereka kepada-Nya. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh perawi lainnya yang bukan hanya seorang dari Ibnu Abbas, dan hal yang sama dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya.Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Hatim, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari seorang lelaki, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar. (Al-'Ankabut: 45) Zikrullah di saat kamu hendak makan dan hendak tidur. Lelaki itu berkata, "Sesungguhnya seorang temanku di rumah mengatakan hal yang lain dengan apa yang kamu katakan itu." Ibnu Abbas bertanya, "Apakah yang telah dikatakannya?" Aku menceritakan, "Temanku telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. (Al Baqarah:152) bahwa ingatan Allah kepada kita jauh lebih besar daripada ingatan kita kepada-Nya. Ibnu Abbas menjawab, "Temanmu itu benar."Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami An-Nufaili, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Khalid, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar. (Al-'Ankabut: 45) Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna ayat mengandung dua takwil, yaitu ingat kepada Allah di saat menghadapi apa-apa yang diharamkan-Nya. Ibnu Abbas mengatakan lagi bahwa ingatan Allah kepada kalian jauh lebih besar dari ingatan kalian kepada-Nya.Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ata ibnus Sa'ib, dari Abdullah ibnu Rabi'ah yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah berkata kepadanya, "Tahukah kamu makna firman-Nya: 'Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar' (Al-'Ankabut: 45)? Abdullah ibnu Rabi'ah menjawab, "Ya, saya tahu." Ibnu Abbas berkata, "Sebutkanlah." Maka Abdullah ibnu Rabi'ah menjawab, "Tasbih, tahmid, dan takbir dalam salat, serta membaca Al-Qur'an dan lain sebagainya." Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya menurut hemat saya ada suatu pendapat yang lebih menakjubkan daripada pendapatmu itu. Sesungguhnya makna yang dimaksud ialah ingatan Allah kepada kalian di saat kalian mengingatnya adalah lebih besar daripada ingatan kalian kepada-Nya.Hal yang sama telah diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ibnu Abbas. Telah diriwayatkan pula hal yang semisal bersumber dari Ibnu Mas'ud, Abu Darda, Salman Al-Farisi, dan lain-lainnya, dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

#JejakAyat 8 Oktober - QS. Gafir:19

QS. Gāfir 40:19يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُArtinya:“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”Makna Umum AyatAyat ini menjelaskan kesempurnaan ilmu Allah. Allah mengetahui:Pandangan mata yang khianat, yaitu pandangan tersembunyi yang dilakukan seseorang ketika orang lain tidak memperhatikannya, khususnya pandangan kepada sesuatu yang tidak halal atau tidak patut.Apa yang disembunyikan dada, yaitu niat, keinginan, dorongan, bisikan, dan rahasia hati yang belum diucapkan atau dilakukan.Dengan demikian, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah: bukan hanya perbuatan lahiriah, tetapi juga gerakan mata dan maksud batin yang melatarbelakanginya.Penjelasan Tafsir Ibnu Katsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu:Yang besar dan kecil.Yang tampak dan tersembunyi.Yang jelas dan sangat halus.Beliau menukil beberapa penjelasan dari Ibn ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, al-Ḍaḥḥak, dan al-Suddi. Di antaranya, khā’inat al-a‘yūn adalah seseorang yang memandang sesuatu yang terlarang secara sembunyi-sembunyi; ketika diketahui orang lain ia menundukkan pandangan, tetapi ketika mereka lengah ia kembali melihat.Ibnu Katsir juga menyebut bahwa “apa yang disembunyikan oleh dada” mencakup keinginan dan bisikan hati, termasuk keinginan melakukan keburukan meskipun belum terwujud dalam perbuatan.Pelajaran yang ditekankan Ibnu Katsir adalah agar manusia merasa diawasi Allah, memiliki rasa malu kepada-Nya, bertakwa dengan sebenar-benarnya, dan senantiasa menjaga muraqabah—kesadaran bahwa Allah melihatnya.Relevansi dalam kehidupanMenjaga pandangan ketika tidak ada manusia yang melihat.Waspada terhadap dosa yang dianggap kecil.Membersihkan niat.Membangun muraqabah.Kesimpulan QS Gāfir 40:19 menanamkan kesadaran bahwa pengawasan Allah meliputi tingkat paling tersembunyi dari kehidupan manusia: pandangan yang dicuri dan niat yang disimpan di dalam dada. Ayat ini mendidik seorang mukmin untuk memiliki kejujuran batin, menjaga pandangan, membersihkan niat, dan hidup dalam muraqabah—karena tidak ada ruang tersembunyi yang berada di luar pengetahuan Allah.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Tafsir Al Mukhtasar QS Al Furqon ayat 56-59

Tafsir Al Mukhtasar QS Al Furqon ayat 56-59Tidaklah kami mengutus engkau wahai Rasul melainkan sebagai pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang taat kepada Allah dengan beriman dan beramal saleh dan memberi peringatan pada orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dengan melakukan kekafiran dan maksiat Katakanlah wahai Rasul "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kalian dalam menyampaikan risalah agama ini, kecuali bila diantara kalian ada orang-orang yang mampu menempuh jalan menuju ridho Allah dengan cara berinfak maka hendaklah ia melakukannya."Bertakwalah wahai rasul dalam segala urusanmu kepada Allah yang maha hidup lagi maha kekal yang tidak mati selamanya dan bertasbihlah dengan memuji Allah. Cukuplah Allah maha mengetahui dosa-dosa para hamba Nya dan Dia pasti akan memberikan mereka balasan atasnya Dialah yang menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dalam 6 hari kemudian dia bersemayam dan meninggi di atas Arsy dengan kaifiat semayam yang sesuai keagungan dan kemuliaan Nya. Dialah yang maha pemurah, sebab itu tanyakanlah wahai rasul tentang hal tersebut (penciptaan Nya) kepada yang lebih mengetahuinya (Allah) sebab Dia sendiri yang mengetahui segala sesuatu tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi bagiNya

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Tafsir surah al-furqan:67

Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir. (Al Furqaan:67)kni mereka tidak menghambur-hamburkan hartanya dalam berinfak lebih dari apa yang diperlukan, tidak pula kikir terhadap keluarganya yang berakibat mengurangi hak keluarga dan kebutuhan keluarga tidak tercukupi. Tetapi mereka membelanjakan hartanya dengan pembelanjaan yang seimbang dan selektif serta pertengahan. Sebaik-baik perkara ialah yang dilakukan secara pertengahan, yakni tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir.dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Al Furqaan:67)Seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya. (Al Israa':29), hingga akhir ayat.LImam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Isham ibnu Khalid, telah menceritakan kepadaku Abu Bakar ibnu Abdullah ibnu Abu Tamim Al-Gassani, dari Damrah, dari Abu Darda, dari Nabi ﷺ. yang telah mengatakan: Seorang lelaki yang bijak ialah yang berlaku ekonomis dalam penghidupannya.Akan tetapi, mereka (Ahlus Sunan) tidak ada yang mengetengahkannya.Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah Al-Haddad, telah menceritakan kepada kami Miskin ibnu Abdul Aziz Al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Hijri, dari Abul Ahwas, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda: Seseorang yang berlaku ekonomis tidak akan miskin.Mereka (Ahlus Sunan) tidak ada yang mengetengahkan hadis ini.Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Maimun, telah menceritakan kepada kami Sa'd ibnu Hakim, dari Muslim ibnu Habib, dari Bilal Al-Absi, dari Huzaifah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda: Betapa baiknya sikap ekonomis dalam keadaan berkecukupan, dan betapa baiknya sikap ekonomis dalam keadaan fakir, dan betapa baiknya sikap ekonomis (pertengahan) dalam (hal) ibadah.Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa ia tidak mengetahui hadis ini melainkan hanya melalui hadis Huzaifah r.a.Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa membelanjakan harta dijalan Allah tidak ada batas berlebih-lebihan. Iyas ibnu Mu'awiyah mengatakan bahwa hal yang melampaui perintah Allah adalah perbuatan berlebih-lebihan. Selain dia mengatakan bahwa berlebih-lebihan dalam membelanja­kan harta itu bila digunakan untuk berbuat durhaka kepada Allah subhanahu wata'āla:

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS At Taubah : 14

Tafsir Al-MuyassarQS At Taubah : 1414-15. Wahai sekalian umat mukmin, perangilah musuh-musuh Allah, karena Allah yang Mahatinggi lagi Mahaagung akan menyiksa mereka melalui perantaraan tangan-tangan kalian, dan menghinakan mereka dengan kekalahan dan kebinasaan, dan Allah akan menolong kalian atas mereka hingga tegaklah Kalimatullah. Maka hati kalian yang merasa sedih dan bingung karena tipu daya orang-orang musyrik itu menjadi tenang dengan kekalahan mereka.Dan hilanglah kesusahan dari hati orang-orang mukmin. Apabila orang-orang durhaka itu ingin bertaubat, sesungguhnya Allah akan menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui kejujuran taubat mereka dan Maha Bijaksana dalam pengaturan maupun penciptaan-Nya, serta dalam meletakkan syariat bagi hamba-hamba-Nya.

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS Ali Imran ayat 113-115

113 Kondisi semua Ahli Kitab itu tidaklah sama. Ada sekelompok orang mereka yang mengikuti agama Allah secara konsisten (istikamah); mereka mematuhi perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya dan membaca ayat-ayat Allah di waktu-waktu malam ketika mereka sedang melaksanakan salat malam karena Allah. Golongan ini ada sebelum kenabian Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan sisa-sisa mereka yang menjumpai masa kenabian Muhammad menyatakan masuk Islam.114 Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir dengan keimanan yang mantap. Mereka menyuruh berbuat yang makruf dan baik, melarang berbuat yang mungkar dan buruk, giat dalam melakukan kebajikan, dan selalu memanfaatkan waktu-waktu ibadah (untuk menabung kebajikan). Mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang memiliki niat dan amal perbuatan yang baik.115 Apa pun kebajikan yang mereka lakukan, sedikit maupun banyak, tidak akan disia-siakan pahalanya dan tidak akan dikurangi sedikit pun. Allah Maha Mengetahui orang-orang bertakwa yang senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tidak ada sedikit pun amalan mereka yang luput dari pengetahuan-Nya, dan Dia akan memberi mereka balasan atas amal perbuatan tersebut

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 33

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 33قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنبَأَهُم بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ. “Allah berfirman, ‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.’ Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, ‘Bukankah sudah Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?’” Konteks AyatAyat ini melanjutkan kisah pada ayat sebelumnya. Allah telah mengajarkan kepada Adam nama-nama berbagai hal, lalu menampakkannya kepada para malaikat. Para malaikat tidak mengetahui nama-nama tersebut, sehingga mereka mengakui keterbatasan ilmu mereka. Dalam QS 2:33, Allah memerintahkan Adam untuk menyebutkan nama-nama itu. Setelah Adam memberitahukannya, tampaklah keutamaan ilmu yang Allah berikan kepada Adam. Dengan demikian, Allah menunjukkan bahwa keputusan-Nya menjadikan manusia sebagai khalifah memiliki hikmah yang tidak diketahui oleh para malaikat sebelumnya.Menurut Al-Muyassar, ayat ini menegaskan bahwa Adam mampu memberitahukan nama-nama benda yang para malaikat tidak mampu menjelaskannya. Menurut As-Sa‘di, hal itu memperlihatkan keutamaan Adam, hikmah Allah dalam memilih khalifah, dan keluasan ilmu Allah tentang perkara gaib maupun yang tampak.Tafsir Al-MuyassarAl-Muyassar memberikan penjelasan ringkas bahwa Allah memerintahkan Adam untuk memberitahukan nama-nama berbagai benda yang tidak mampu diketahui oleh para malaikat. Setelah Adam menjelaskannya, Allah menegaskan bahwa Dia mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan bumi, serta apa yang ditampakkan dan disembunyikan oleh para malaikat.

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir Al Isra 67

Tafsir Al-MuyassarAl-Isra (17:67)Tema: ISYARAT BAHWA UMAT ISLAM AKAN MENJADI UMAT YANG BESAR (Ayat 1-111)Subtema: Peringatan tentang nikmat Allah dengan beberapa kejadian pada hari kiamat (Ayat 66-72)Apabila kalian ditimpa kesusahan di lautan hingga kalian hampir tenggelam dan binasa, maka hilanglah dari kalian sembahan-sembahan yang dulu kalian sembah, dan kalian hanya mengingat Allah Yang Mahakuasa semata, agar Dia menolong dan menyelamatkan kalian. Kalian pun tulus kepada-Nya dalam memohon pertolongan dan bantuan, lalu Dia membantu dan menyelamatkan kalian. Tatkala Dia telah menyelamatkan kalian ke daratan, maka kalian berpaling dari keimanan, keikhlasan, dan amal shalih. Ini akibat kejahilan dan kekafiran manusia. Dan manusia itu sangat ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
A

AYU AAN KHARY M

📍 Kota Makassar

Al Kahfi 83

Orang-orang ahli Kitab atau kaum musyrikin bertanya kepada Rasulullah tentang kisah Dzulqarnain. Maka Allah meme-rintahkan beliau untuk berkata, ﴾ سَأَتۡلُواْ عَلَيۡكُم مِّنۡهُ ذِكۡرًا 83 ﴿ "Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya." Di dalam kisah ini, terdapat berita yang bermanfaat dan arah pembicaraan yang menakjubkan. Maksudnya, aku akan menceritakan kepada kalian tentang sifat-sifatnya yang bisa menjadi bahan perenungan dan pelajaran. Ada-pun keadaan-keadaan selain itu, maka beliau tidak membacakan (ceritanya) kepada mereka.

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Tafsir Ibnu Katsir: Q.S Ibrahim (14:21)

Tema: Sikap Umat Manusia Menghadapi Ajaran Rasul (Ayat 8–21)Subtema: Akibat yang Diderita oleh Kaum yang Menolak Kebenaran (Ayat 13–21)1. Semua manusia akan dikumpulkan di hadapan AllahPada hari kiamat, seluruh makhluk—baik yang taat maupun yang durhaka—akan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Menang. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menyembunyikan mereka.2. Orang-orang lemah menyalahkan para pemimpin merekaDi Padang Mahsyar, orang-orang yang dahulu mengikuti para pemimpin, pembesar, dan orang-orang yang sombong akan berkata kepada mereka:“Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikut kalian.”Mereka mengakui bahwa dahulu mereka mengikuti perintah para pemimpin tersebut dan melakukan apa yang diperintahkan.Karena itu mereka meminta:“Maka dapatkah kalian menghindarkan dari kami azab Allah walaupun sedikit saja?”Dahulu mereka mengikuti para pemimpin dengan harapan akan memperoleh keselamatan atau manfaat. Namun di akhirat, mereka menyadari bahwa para pemimpin tersebut tidak mampu menyelamatkan mereka sedikit pun dari azab Allah.3. Para pemimpin juga tidak mampu menyelamatkan pengikutnyaOrang-orang yang dahulu menjadi pemimpin menjawab:“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepada kalian.”Mereka sama-sama telah berada dalam kesesatan dan sama-sama telah mendapatkan ketetapan azab.Mereka akhirnya mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya maupun orang lain dari keputusan Allah.4. Penyesalan tidak lagi bergunaMereka berkata:“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”Baik mereka menangis, mengeluh, maupun mencoba bersabar menghadapi azab, semuanya tidak memberikan manfaat. Tidak ada lagi jalan keluar dari azab tersebut.Ibnu Katsir kemudian menyebut perkataan Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam tentang keadaan ahli neraka. Mereka pernah mencoba:menangis dan memohon kepada Allah dengan penuh kerendahan diri;kemudian mencoba bersabar.Namun kedua-duanya tidak bermanfaat, karena kesempatan untuk beramal dan memperbaiki diri telah berakhir.5. Orang-orang yang dahulu mengikuti tidak bisa melepaskan tanggung jawabnyaTafsir ini diperkuat dengan ayat-ayat lain yang menggambarkan perdebatan antara pengikut dan pemimpin mereka di neraka.Dalam QS. Al-Mu’min: 47–48, orang-orang lemah meminta kepada orang-orang sombong agar mereka membantu meringankan azab. Namun para pemimpin menjawab bahwa mereka semua sama-sama berada di dalam neraka.Dalam QS. Al-A’raf: 38–39, orang-orang yang datang kemudian meminta agar orang-orang yang telah menyesatkan mereka mendapatkan azab yang berlipat ganda. Tetapi Allah menetapkan bahwa masing-masing mendapatkan azab yang berlipat ganda, sesuai dengan keadaan mereka.Dalam QS. Al-Ahzab: 67–68, orang-orang yang mengikuti para pemimpin mengakui:“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.”Mereka meminta agar para pemimpin tersebut mendapatkan azab dan laknat yang besar.6. Pengikut dan pemimpin sama-sama menyesalNamun perdebatan itu tidak berarti bahwa pengikut terbebas dari tanggung jawab.Dalam QS. Saba’: 31–33, orang-orang lemah berkata:“Kalau tidaklah karena kalian, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.”Para pemimpin membantah bahwa merekalah yang menghalangi petunjuk. Mereka mengatakan bahwa orang-orang lemah itu sebenarnya berdosa karena memilih mengikuti kesesatan.Sebaliknya, orang-orang lemah mengatakan bahwa para pemimpinlah yang terus-menerus melakukan tipu daya dan mengajak mereka kepada kekufuran.Pada akhirnya, kedua kelompok sama-sama menyesal ketika melihat azab.Inti tafsirQS. Ibrāhīm: 21 menggambarkan penyesalan manusia di akhirat ketika orang yang dahulu mengikuti dan orang yang dahulu diikuti saling menyalahkan.Pelajaran pentingnya:Tidak boleh mengikuti pemimpin secara buta dalam perkara yang menyelisihi kebenaran.Pemimpin yang menyesatkan akan mempertanggungjawabkan kesesatannya.Pengikut juga tetap bertanggung jawab atas pilihan mengikuti kesesatan.Di akhirat, seseorang tidak dapat meminta orang lain untuk menanggung azabnya.Ketika azab telah datang, tangisan, keluhan, dan kesabaran tidak lagi memberikan manfaat.Kesempatan untuk memilih kebenaran, bertaubat, dan beramal adalah ketika masih hidup di dunia.Karena itu, keselamatan bukan dengan bergantung kepada manusia, tetapi dengan mengikuti petunjuk Allah dan menaati para rasul-Nya.Benang merah ayat ini:Jangan serahkan tanggung jawab atas iman dan pilihan hidup kepada orang lain. Di akhirat, pemimpin tidak bisa menyelamatkan pengikutnya, dan pengikut tidak bisa menghapus tanggung jawabnya dengan alasan “saya hanya mengikuti.”

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
F

Fitriyah Sulistiyaningsih

📍 Kabupaten Brebes

Tafsir Al-Mukhtasar QS. Ar-Ra'd : 30

Ringkasan Tafsir Al-Mukhtasar:Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada umatnya, sebagaimana Allah telah mengutus para rasul kepada umat-umat sebelum beliau.Tugas Rasulullah ﷺ adalah menyampaikan dan membacakan wahyu Allah kepada manusia. Namun, sebagian kaum musyrikin justru mengingkari Allah Ar-Rahman, padahal nikmat dan rahmat-Nya meliputi mereka.Allah kemudian mengajarkan kepada Nabi ﷺ untuk menegaskan:🌿 Allah adalah Rabb dan satu-satunya Tuhan.🌿 Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.🌿 Hanya kepada Allah tempat bersandar dan bertawakal.🌿 Hanya kepada Allah kembali dengan taubat.🌸 Pelajaran pentingDakwah kepada Allah membutuhkan keteguhan hati. Ketika manusia menolak atau mengingkari kebenaran, seorang mukmin tetap berpegang kepada tauhid, bertawakal kepada Allah, dan terus kembali kepada-Nya.

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Al hijr 20

Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Kami telah menjadikan untuk kalian di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al-Hijr. 20)Allah subhanahu wata'āla menyebutkan bahwa Dia telah menciptakan berbagai macam sarana dan penghidupan di muka bumi. Ma'ayisy adalah bentuk jamak dari ma'isyah.Firman Allah subhanahu wata'āla:dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kalian sekali-kali bukanlah pemberi rezeki kepadanya. (Al Hijr:20)Menurut Mujahid, makhluk yang dimaksud ialah hewan-hewan liar dan hewan-hewan ternak. Sedangkan Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah budak-budak belian, hewan liar, dan hewan ternak.Makna yang dimaksud ialah Allah telah menganugerahkan kepada mereka segala macam sarana dan mata pencaharian serta penghidupan untuk fasilitas mereka. Allah juga telah menundukkan buat mereka hewan-hewan untuk kendaraan mereka, serta hewan ternak yang mereka makan dagingnya, dan budak-budak lelaki dan wanita yang melayani mereka, sedangkan rezeki mereka dari Penciptanya, bukan dari orang-orang yang memiliki mereka, karena mereka hanya memanfaatkannya saja.

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Kunci Ketakwaan, Tawakal dan Ikhtiar karna Allah Maha Melihat

Allah Swt. mengingatkan (manusia) bahwa Dia Maha Melihat semua isi hati dan rahasia:{وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ}Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (Al-Mulk: 13)Yakni segala sesuatu yang terdetik dan disimpan dalam hati.{أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ}Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui? (Al-Mulk: 14)Yaitu apakah Tuhan Yang Maha Pencipta itu tidak mengetahui? Menurut pendapat lain, apakah Allah tidak mengetahui makhluk-Nya? Makna pertamalah yang lebih utama, karena dalam firman berikutnya disebutkan:{وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui. (Al-Mulk: 14)Kemudian Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada makhluk-Nya, melalui bumi yang telah Dia tundukkan dan dimudalikan untuk mereka, dengan menjadikannya tenang dan stabil, tidak berguncang dan tidak miring, berkat gunung-gunung yang telah Dia pancangkan padanya. Allah telah mengalirkan dari dalamnya mata air-mata air, dan menyediakan padanya jalan-jalan untuk ditempuh, serta menyediakan padanya berbagai manfaat dan tempat-tempat untuk ditanami guna keperluan pertanian.Untuk itu Allah Swt. berfirman:{هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا}Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya. (Al-Mulk: 15)Maksudnya, berjalanlah kalian ke mana pun yang kamu kehendaki di berbagai kawasannya, serta lakukanlah perjalanan mengelilingi semua daerah dan kawasannya untuk keperluan mata pencaharian dan perniagaan. Dan ketahuilah bahwa upaya kalian tidak dapat memberi manfaat sesuatu pun bagi kalian kecuali bila Allah memudahkannya bagi kalian.Allah Swt. berfirman:{وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ}dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. (Al-Mulk: 15)Maka berupaya dengan menempuh sarananya tidaklah bertentangan dengan citra tawakal kepada Allah.

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Ketika Anak Beranjak Dewasa, Adab Harus Semakin Dijaga

Dari Anak-Anak Menjadi Mukallaf: Belajar Menghormati Privasi📖 Tafsir Al-Muyassar — QS. An-Nūr: 59Apabila anak-anak telah mencapai usia baligh, mereka telah menjadi mukallaf, yaitu orang yang sudah terbebani kewajiban syariat.Karena itu, ketika hendak masuk menemui orang lain, mereka diperintahkan untuk meminta izin pada setiap waktu, sebagaimana adab yang berlaku bagi orang-orang dewasa.Jika pada ayat sebelumnya anak-anak yang belum baligh diberi keringanan untuk tidak selalu meminta izin di luar tiga waktu aurat, maka setelah baligh, aturan tersebut berubah menjadi lebih ketat.Ini menunjukkan bahwa semakin bertambah usia seorang anak, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap adab, aurat, privasi, dan batas-batas pergaulan.Allah ﷻ Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya dan Maha Bijaksana dalam menetapkan syariat.🤍 Pesan yang Dapat Diamalkan1. Baligh adalah awal tanggung jawab, bukan sekadar perubahan usia.Anak perlu dipersiapkan sejak sebelum baligh agar memahami kewajiban dan adab syariat.2. Ajarkan adab meminta izin sebelum anak baligh.Agar ketika sampai waktunya, ia tidak merasa aturan itu tiba-tiba.3. Privasi harus semakin dihormati ketika anak semakin dewasa.Termasuk privasi Ayah, Ibu, saudara, dan dirinya sendiri.4. Pendidikan agama perlu bertumbuh bersama usia anak.Apa yang cukup untuk anak kecil belum tentu cukup untuk seorang remaja yang sudah mukallaf.5. Jadikan rumah sebagai tempat pertama belajar tentang tanggung jawab.Bukan hanya mengajarkan “apa yang boleh dan tidak boleh”, tetapi juga memahami mengapa Allah menetapkan adab tersebut.🌷 Anak yang kita besarkan bukan untuk selamanya menjadi anak kecil. Kita sedang mempersiapkan seorang hamba Allah yang kelak bertanggung jawab atas dirinya sendiri.🪞 Muhasabah DiriApakah aku sudah mempersiapkan anak-anak menghadapi masa baligh dengan ilmu dan adab?Apakah aku mengajarkan mereka tentang aurat, privasi, meminta izin, dan batas pergaulan sebelum mereka membutuhkannya?Ketika anak mulai besar, apakah aku masih memperlakukannya seperti anak kecil, atau sudah mulai membimbingnya menjadi pribadi yang bertanggung jawab?Apakah di rumah kami sudah terbentuk kebiasaan menghormati privasi satu sama lain?Dan untuk diriku sebagai orang tua:Apakah aku sudah menjadi teladan dalam menjaga adab yang ingin aku tanamkan kepada anak-anak?🌸 KesimpulanQS. An-Nūr: 59 mengajarkan bahwa bertambahnya usia harus diiringi bertambahnya tanggung jawab dan adab.Sebelum baligh, anak dibimbing untuk meminta izin pada waktu-waktu tertentu. Setelah baligh, ia menjadi mukallaf dan harus meminta izin sebagaimana orang dewasa pada setiap waktu.Ini adalah bentuk kasih sayang Allah ﷻ: anak dipersiapkan sedikit demi sedikit hingga siap memikul tanggung jawab syariat.“Ya Allah, jadikan anak-anak kami tumbuh dalam iman, ilmu, rasa malu, dan adab. Persiapkan mereka menjadi hamba-Mu yang memahami tanggung jawabnya ketika baligh. Bimbing kami sebagai orang tua agar mampu mendidik mereka dengan ilmu, kasih sayang, dan keteladanan. Aamiin Allaahumma Aamiin.” 🤍

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 Oktober 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Al-Mukhtasar | Surat Yunus : 18

Orang-orang musyrik itu menyembah tuhan-tuhan palsu selain Allah yang tidak dapat mendatangkan manfaat maupun mudarat. Adapun Tuhan yang berhak disembah dapat mendatangkan manfaat dan mudarat kapan saja menurut kehendakNya. Mereka berkata tentang tuhan-tuhan yang mereka sembah, “Mereka itu adalah perantara yang membantu kepentingan kami disisi Allah, sehingga kami tidak disiksa karena dosa-dosa kami.”Katakanlah -wahai Rasul- kepada mereka, “apakah kalian hendak memberitahu Allah Yang Maha Mengetahui itu bahwa Dia memiliki sekutu, dan Dia tidak tahu bahwa Dia memiliki sekutu di langit dan di bumi?!” Maha Suci Allah dari semua kebatilan dan kebohongan yang dikatakan oleh orang-orang musyrik itu.

💬 0 komentar📅 8 Okt 2026Baca selengkapnya →