📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Ali imran : 19

a. الدِّين — ad-dīnMenurut penjelasan At-Tabari, ad-dīn dalam konteks ayat ini mengandung makna ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan.Jadi, Islam bukan sekadar identitas atau pengakuan lisan. Ia menuntut ketundukan hati, lisan, dan anggota badan kepada Allah.b. الإِسْلَام — al-IslāmKata Islam berasal dari akar س ل م. Analisis morfologi ayat menunjukkan bahwa الإسلام merupakan masdar dari bentuk keempat, yang mengandung makna menyerahkan diri dan masuk dalam ketundukan.Karena itu, inti Islam adalah:tunduk kepada Allah;Mmeningganlkan pembangkangan;menerima petunjuk-Nya;beribadah hanya kepada-Nya.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al Mukhtasar surah Al isra ayat 21

Perhatikanlah -wahai Rasul-, bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain di kehidupan dunia ini dari segi rezeki dan pangkat kedudukan, namun kehidupan akhirat tentu lebih tinggi derajat kenikmatan dan karunianya serta lebih besar keutamaannya dibandingkan kehidupan dunia. Sebab itu, hendaknya setiap mukmin berusaha untuk meraihnya.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Tafsir Ibnu Katsir QS. Saba: 1–2 — Allah Maha Memiliki, Maha Mengetahui, dan Maha Pengampun

QS. Saba ayat 1الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُQS. Saba ayat 2يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُArtinya:“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.”

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS At Taubah : 91

Tafsir Al-MuyassarQS At Taubah : 91Orang-orang yang uzur karena lemah, sakit dan orang-orang fakir yang tidak memiliki harta sama sekali untuk persiapan mereka berperang, mereka tidak berdosa jika mereka tidak ikut berperang selama mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan syariat-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan dan menghukum orang yang tidak bisa ikut berjihad bersama Rasulullah karena uzur padahal dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah Maha Pengampun dan Penyayang bagi orang-orang yang berbuat baik.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
A

AYU AAN KHARY M

📍 Kota Makassar

Al fath 7

Allah سبحانه وتعالى mengulang-ulang memberikan kabar bahwa milikNya-lah kerajaan langit dan bumi serta semua tentara yang ada pada keduanya agar semua hamba mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah yang memberikan pertolongan dan yang memberikan kehinaan dan supaya para hamba mengetahui bahwa tentara-tentaraNya akan mendapatkan pertolongan sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 173 ﴿ "Dan sesungguhnya tentara kami, merekalah yang akan mendapat kemenangan." (Ash-Shaffat: 173). ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا ﴿ "Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maha-kuat, Maha Mengalahkan, Maha Menundukkan segala sesuatu. Meski Mahaperkasa dan Mahakuat, Allah adalah Mahabijaksana terhadap para makhlukNya. PengaturanNya berlaku sesuai dengan kebijakan hikmah dan kesempurnaanNya.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Al kahf

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” QS. Al-Kahfi: 28Pada ayat ini para mufassir menyebutkan bahwasanya ada sekelompok orang-orang Quraisy (yaitu para pembesar-pembesar Quraisy) datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan menawarkan diri untuk beriman akan tetapi dengan persyaratan. Mereka berkata: “Wahai Muhammad, singkirkan dulu orang-orang miskin (karena pada saat itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersama orang-orang yang miskin) baru kami nanti beriman, dan jika kami (para pembesar-pembesar Quraisy) beriman maka pengikut kami banyak, namun dengan syarat hendaknya engkau menyingkirkan orang-orang yang beriman”[1]. Perkataan mereka tentu tawaran yang sangat menarik, terlebih lagi untuk kemaslahatan dakwah di kemudian hari, terlebih lagi bisa jadi semua Quraisy (yang merupakan kerabat Nabi shallallahu álaihi wasallam) akan mengikuti jika pembesar-pembesarnya beriman. Akan tetapi persyaratan mereka tentu persayaratan yang sangat buruk. Allah subhanahu wa ta'ala langsung memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersabar, Allah berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ“Dan bersabarlah kamu”Dan ini adalah perintah untuk bersabar, dan bersabar dalam bahasa Arab dari kata الحَبْسُ yaitu “menahan”, sehingga arti ayat adalah “Tahanlah dirimu!”[2], karena ini adalah godaan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Mungkin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menimbang maslahat, seandainya pembesar-pembesar ini masuk Islam dan orang-orang yang miskin disingkirkan terlebih dahulu, tentu lebih baik, karena bisa jadi dengan masuknya mereka kepada agama Islam maka dakwah ini bisa lebih cepat tersebar. Bisa jadi terbetik dalam hati Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hal-hal tersebut, namun entah apa yang dipikirkan oleh Nabi, tetapi ini adalah sesuatu yang menggoda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan ini adalah tawaran menarik.Terlebih lagi disebutkan bahwa orang-orang yang miskin yang duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hanya berjumlah 6 orang, sehingga hanya tinggal meminggirkan terlebih dahulu 6 orang tersebut, kemudian para pembesar tersebut akan masuk Islam sehingga nantinya banyak yang akan masuk Islam juga. Bisa jadi ada godaan yang seperti itu yang hinggap di benak Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sempat berpikir seperti itu untuk menimbang maslahat dan mudarat, Allah subhanahu wa ta'ala langsung memberi wahyu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam agar tetap tegar dan tidak terpengaruh oleh perkataan orang-orang yang sombong tersebut, oleh karenanya Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan وَاصْبِرْ نَفْسَكَ “sabarkanlah dirimu”.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ“bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya”Dalam masalah firman-Nya “di pagi hari dan petang hari” ada 2 pendapat:Pertama: ada yang mengatakan maksudnya selalu[3], dan ini adalah sebuah ungkapan dari orang-orang Arab. Ketika mereka ingin mengatakan “selalu” terkadang menggunakan ungkapan pagi dan petang. Jadi maksud dari ayat ini adalah: Hendaknya engkau sabarkan dirimu bersama orang yang selalu ingat kepada Allah subhanahu wa ta'ala.Kedua: maksudnya sesuai dengan zahirnya yaitu benar-benar pagi dan petang[4]. Artinya 2 waktu ini adalah waktu spesial untuk mengingat Allah subhanahu wa ta'ala. Sebagian ulama menyebutkan alasannya, yaitu di waktu pagi seseorang belum beraktivitas untuk bekerja maka waktunya penuh untuk berkonsentrasi mengingat Allah subhanahu wa ta'ala, begitu juga waktu petang ketika dia pulang dari kerja maka itu saatnya dia mengingat Allah subhanahu wa ta'ala. Bukan berarti waktu di siang hari (yaitu antara setelah terbit matahari hingga waktu petang) kita tidak mengingat Allah subhanahu wa ta'ala, kita tetap mengingat Allah subhanahu wa ta'ala pada waktu tersebut namun kondisinya berbeda dengan 2 waktu di atas. Maka ini isyarat bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala menyukai agar kita fokus dalam mengingat-Nya. Maka dua waktu ini disebutkan untuk menunjukkan keistimewaannya. Oleh karenanya disyariatkan juga untuk melakukan dzikir pagi petang. Penulis lebih condong kepada pendapat kedua bahwasanya yang dimaksud dengan pagi dan petang dalam ayat ini sesuai dengan zahirnya. Ini menunjukkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang mengkhususkan waktu di pagi hari untuk mengingat Allah subhanahu wa ta'ala dan di petang hari untuk mengingat Allah subhanahu wa ta'ala. Sejak subuh hingga terbit matahari mereka mengingat Allah subhanahu wa ta'ala dan sejak shalat asar hingga terbenam matahari mereka berkonsentrasi untuk mengingat Allah subhanahu wa ta'ala.Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala sebutkan bahwa mereka ini adalah orang-orang yang ikhlas, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “mereka mengharapkan wajah Allah”. Ini adalah dalil bahwasanya seseorang hendaknya selektif dalam berteman dan berusaha mencari teman-teman yang ikhlas. Kita bisa menentukan baik-buruknya seseorang (untuk dijadikan teman) dengan melihat zahirnya dan dengan persangkaan yang kuat. Contohnya ketika berbicara orientasinya bukan dunia yang kuat. Ketika berbicara agama orientasinya bukan dunia . Intinya ketika berbicara apa saja orientasinya bukan dunia. Karena ada orang berbicara agama namun orientasinya adalah dunia, contoh ketika ada orang yang mengajak untuk mendirikan pondok atau boarding school dikarenakan untuk meraih keuntungan yang tinggi, misalnya dengan memasang tarif uang masuk sebesar 60 juta. Maka ini jelas orientasinya adalah dunia. Berbeda jika seseorang mengatakan bahwa dengan 60 juta tersebut akan digunakan sebagai subsidi silang untuk anak yatim maka orientasinya adalah akhirat. Seseorang bagaimanapun akan tampak tujuannya, baik dunia ataupun akhirat, maka jangan terperdaya dengan baju seseorang yang lusuh, kadang pakaiannya lusuh namun otaknya dipenuhi dengan dunia, dan ada orang penampilannya mewah namun pikirannya bukan hal-hal duniawi dan semua ini berdasarkan pengalaman penulis dengan menyaksikannya sendiri. Jadi bagaimana cara kita mengetahui orientasi seseorang dunia atau akhirat? Maka dengan cara sering bergaul dengan dirinya, kita akan tahu, oleh karenanya kita diperintahkan untuk selektif dalam memilih teman karena teman sangat mempengaruhi. Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam agar bersabar dalam bergaul dengan orang-orang yang ikhlas. Nabi adalah orang yang sangat ikhlas namun juga membutuhkan dengan teman-teman yang ikhlas dalam mendukung dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Mungkin kita ikhlas akan tetapi kita juga membutuhkan teman-teman yang ikhlas, karena jika kita ikhlas namun teman-teman kita orientasinya adalah dunia maka lama kelamaan kita akan terbawa ke orientasi dunia juga. Kita katakan ada urusan dunia dan ada urusan akhirat, kita bekerja di dunia namun orientasi tetap akhirat. Dan jika kita salah dalam bergaul dan berteman dengan orang-orang yang selalu membicarakan dunia dan dunia, maka sejatinya kita sebentar lagi akan meninggalkan dunia, kematian jika datang sering tidak memberi pemberitahuan terlebih dahulu. Jika orientasi kita dunia maka kita akan merugi. Agar orientasi kita bukan dunia maka jangan salah dalam bergaul, karena teman itu sangat berpengaruh. Kita bukan dilarang untuk berbicara masalah dunia, akan tetapi jika kita berkumpul maka orientasi kita bukan dunia dan jika mencari dunia pun itu untuk akhirat. Penulis memiliki sebagian sahabat yang diberi kelebihan dunia namun pikiran mereka akhirat. Kita tidak bisa memastikan seseorang tersebut ikhlas atau tidak namun kita bisa merasakannya lewat pembicaraannya, sikapnya, tulisannya, dan statusnya. Untuk apa kita mengejar dunia namun pada akhirnya kita meninggalkan dunia tersebut, kita mengumpulkan dan mengumpulkan sesuatu yang akan kita tinggalkan.Firman Allah subhanahu wa ta'ala يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “mereka mengharapkan wajah Allah” ini adalah ungkapan dari keikhlasan yang mereka mencari wajah Allah subhanahu wa ta'ala[5], para ulama menafsirkan bahwa mereka ingin melihat wajah Allah subhanahu wa ta'ala di surga kelak. Dan ini dalil bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala memiliki wajah dan ini sifat dzatiyyah yang diyakini oleh Ahlus sunnah wal jama’ah bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala memiliki sifat wajah. Sangat banyak ayat maupun hadits yang menunjukkan Allah subhanahu wa ta'ala memiliki sifat wajah, di antaranya ayat ini dan juga firman Allah subhanahu wa ta'ala,وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” QS. Ar-Rahman: 27Dan friman-Nya,وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” QS. Al-Qoshosh: 88Intinya sifat wajah itu ada di Al-Quran dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka di antara makna يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “mereka mengharapkan untuk melihat wajah Allah” dan ini butuh dengan keikhlasan.Para ulama juga mengambil faedah dari ayat ini bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan untuk bersabar ketika bergaul dengan orang-orang yang miskin, oleh karenanya Asy-Syaikh As-Sa’dy dalam tafsirnya mengatakan bahwa faedah dari ayat ini bahwasanya siapa bersabar untuk bergaul dengan orang-orang fakir dan orang-orang miskin maka dia akan mendapatkan faedah yang sangat banyak [6]. Jadi kita dalam bergaul bukan hanya dengan orang-orang kaya saja, namun hendaknya kita juga bergaul dengan orang-orang miskin, agar kita tahu bagaimana susahnya dia sehingga kita bersyukur. Dan ada banyak hal lainnya dari manfaat kita bergaul dengan orang yang lebih miskin daripada kita; kita bisa membantunya dan ini merupakan sarana untuk bersedekah, sebagaimana telah lalu yaitu kita tahu bagaimana susahnya kehidupannya sehingga kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Kita lihat bagaimana penderitaan seseorang dan kita menjadi tempat mencurahkan hatinya sehingga banyak pahala yang mungkin bisa kita dapatkan, yaitu kita menjadi orang yang bersyukur, bersabar, dan membantunya dengan bersedekah. Begitulah Asy-Syaikh As-Sa’dy mengatakan bahwa banyak faidah dari bergaul dengan orang-orang fakir. Itulah sebabnya Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersabar dengan orang-orang walaupun fakir tetapi mereka ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta'ala.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْdan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka;تَعْدُ maksudnya jangan kau lewati pandanganmu, akan tetapi dalam bahasa arab عَدَا يَعْدُو seharusnya dia yata’addaa binafsihi (membutuhkan objek dengan sendirinya) dan tidak butuh huruf pembantu seperti عَنْ atau بِ akan tetapi dalam ayat ini disebutkanوَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ menggunakan perantara عَنْ yang seharusnya cukup وَلَا تَعْدُهُمْ عَيْنَاكَ tanpa perlu tambahan عَنْ di sini, ini secara bahasa arab. Sehingga para Ahli Tafsir (seperti Thahir Ibnu Asyur dan yang lainnya) mereka mengatakan bahwasanya tatkala Allah subhanahu wa ta'ala menambah عَنْ di sini maka di dalamnya terdapat uslub at-tadhmin yaitu ada fi’il/kata kerja yang tersembunyi dalam kalimat ini, seakan-akan Allah subhanahu wa ta'ala berkata,وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ وَلَا تُعْرِضْ عَنْهُمْ“dan jangan kau kedua matamu melewati mereka dan jangan kau berpaling dari mereka.” [7]Artinya Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersabar bersama mereka dan jangan berpaling menuju kepada orang-orang kaya, akan tetapi berpalinglah dari orang-orang kaya dengan bersabar bersama orang-orang miskin.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا“(karena) mengharapkan perhiasan dunia ini”Dunia memang indah. Bergaul dengan pembesar-pembesar Quraisy banyak menjanjikan, akan tetapi Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan bahwasanya dunia akan sirna.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا“dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.”Apa yang dimaksud dengan ذِكْرِنَا “mengingat kami”? Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud dari ذِكْرِنَا adalah Al-Quran, sebagian ulama lain ada yang mengatakan maksud dari ذِكْرِنَا adalah dzikir secara umum[8]. Yaitu mereka dibuat lalai sehingga tidak sibuk dengan Al-Quran dan tidak sibuk dengan mengingat Allah subhanahu wa ta'ala serta Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan hati mereka lalai.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,وَاتَّبَعَ هَوَاهُ“serta menuruti hawa nafsunya”Pada kalimat ini terdapat faedah yang perlu kita perhatikan, pada kalimat sebelumnya Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan,أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا“Kami lalaikan dari mengingati Kami.”Dan yang dimaksud Kami di sini adalah Allah subhanahu wa ta'ala, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala yang membuat hatinya lalai. Ini dalil bahwasanya segala yang terjadi di alam semesta (yang baik maupun yang buruk) semuanya di bawah kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Sampai-sampai lalainya hati seseorang pun atas kehendak Allah subhanahu wa ta'ala.Ini termasuk permasalahan iman terhadap takdir, bahwasanya semua yang terjadi di alam semesta tidak ada yang keluar dari kehendak Allah subhanahu wa ta'ala, apakah itu perkara yang baik maupun perkara yang buruk. Contoh sederhananya di dunia ini ada Iblis yang buruk, dan yang menciptakannya adalah Allah subhanahu wa ta'ala, Iblis meminta dipanjangkan umurnya untuk menggoda manusia juga dikabulkan dan diizinkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Jadi semua yang terjadi berupa keburukan dan kemaksiatan semuanya di bawah kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Semuanya ada hikmah yang Allah subhanahu wa ta'ala kehendaki. Pada kalimat ini yaitu أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا “Kami lalaikan dari mengingati Kami” Allah subhanahu wa ta'ala menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala yang menakdirkan semuanya. Kemudian pada kalimat setelahnya Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan,وَاتَّبَعَ هَوَاهُ“serta menuruti hawa nafsunya”Ini adalah dalil bahwasanya perbuatan hamba disandarkan kepada dirinya sendiri. Maksudnya jangan sampai seseorang bermaksiat lalu dia mengatakan bahwa hal tersebut kehendak Allah subhanahu wa ta'ala yang telah ditakdirkan, maka hal ini tidak diperbolehkan. Jika seseorang berbuat maksiat maka maksiat tersebut disandarkan kepada dirinya sendiri meskipun semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Akan tetapi semua hal tersebut hamba yang melakukannya, yang menghendakinya, dan ada pilihan di hadapannya (antara melakukan atau meninggalkannya), dan semua yang dipilih maka tidak keluar dari kehendak Allah subhanahu wa ta'ala, karena semua yang terjadi berada di bawah kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Walaupun demikian, jangan sampai seseorang berbuat maksiat, lalu dia mengatakan bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala lah yang membuat dia berbuat maksiat, maka ini tidak boleh karena dialah yang berbuat. Oleh karenanya tatkala ada seseorang yang mencuri lalu ditangkap oleh Umar bin Al-Khotthob dan diperintahkan untuk dipotong tangannya, pencuri tersebut berkata:مَهْلاً يا أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ، فَإِنَّمَا سَرِقْتُ بِقَدَرِ اللهِ.“Sebentar wahai Amirul mukminin! saya mencuri hanya dengan takdir Allah”.Maka ‘Umar pun menjawab:فَقَالَ: وَنَحْنُ إِنَّمَا نَقْطَعُ بِقَدَرِ اللهِ.“Dan kami pun memotong tangan juga dengan takdir Allah.” [9]Jangan sampai di akhirat seseorang mengatakan: Ya Allah, saya masuk neraka karena takdir-Mu, dan saya berbuat maksiat karena terpaksa”. Ini tidak benar. Karena sesungguhnya dia tidak terpaksa, dia bisa memilih antara melakukan atau meninggalkan. Dan semua yang terjadi atas kehendak kita, akan tetapi semua kehendak kita di bawah kehendak Allah subhanahu wa ta'ala.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“dan perkara orang ini kacau”Maka wahai Muhammad jangan engkau ikuti orang yang seperti ini. Yaitu orang yang hanya memikirkan dunia, hatinya lalai, tidak ingat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, mungkin lisannya menyebut Allah subhanahu wa ta'ala namun hatinya lalai, dia hanya mengikuti hawa nafsunya, dan perkaranya kacau.فُرُطًا bisa diartikan التَّفْرِيط atau الْإِفْرَاط. التَّفْرِيط maksudnya perkaranya kurang dan tidak sempurna. Adapun الْإِفْرَاط maksudnya perkaranya berlebih-lebihan, dia sombong dan dia angkuh. Dan inilah yang dimaksud dengan فُرُطًا. [10]---Catatan kaki:[1] Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 5/152[2] Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 15/304[3] Lihat: Tafsir Al-Alusy 8/249[4] Lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 475[5] Lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 475[6] Lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 475[7] Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 15/305[8] Lihat: Tafsir Al-Alusy 8/249[9] Lihat: Syarhu Tsalatsatul Ushul hal: 115[10] Lihat: Tafsir Al-Qurthuby: 10/392

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Al-Muyassar | Surat Hud : 25-47

KISAH NABI NUH 'ALAIHISSALAM1. Nabi Nuh adalah Seorang Rasul Yang Menyeru Kaumnya Kepada Tauhid“Dan Kami telah mengutus Nabi Nuh kepada kaumnya, dia berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian mengenai siksa Allah, dan pemberi penjelasan bagi kalian atas diutusnya aku untuk menjelaskan perintah Allah dan larangan-Nya’.” (25)“Aku memerintahkan kepada kalian agar tidak menyembah selain hanya kepada Allah. Sesungguhnya aku takut apabila kalian tidak mau menyembah hanya kepada-Nya dan mengesakan-Nya dalam ibadah, Allah akan menimpakan azab pada hari yang sangat menyedihkan.” (26)2. Penolakan Kaumnya“Maka berkatalah para pemimpin kafir dari kaumnya, “Engkau bukanlah malaikat, melainkan manusia biasa seperi kami. Maka bagaimana bisa engkau diberi wahyu sementara kami tidak? Kami tidak melihat pengikutmu kecuali orang-orang yang rendah dan hina, karena mereka mengikutimu begitu saja tanpa bisa berpikir dan tanpa bisa mempertanyakannya. Kami juga tidak melihat bahwa kalian memiliki lebih banyak rizki dan harta dari kami, ketika kalian telah memasuki agama kalian ini. Bahkan kami yakin bahwa kamu adalah pembohong atas apa yang kamu dakwa’.” (27)3. Penjelasan Nuh Tentang Bukti Nyata Bahwasanya dia Adalah Seorang UtusanNuh berkata, "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku memiliki bukti yang nyata dari Rabb-ku mengenai risalah yang aku bawa, yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku diatas kebenaran dari sisi-Nya, dan datang rahmat dari Rabb-ku padaku, yaitu kenabian dan kerasulan (risalah), tapi disamarkan dari kalian karena kebodohan dan kesombongan kalian. Maka apakah harus kami paksakan agar kalian menerimanya, padahal kalian menentangnya? Kami tidak akan berbuat hal tersebut. Tetapi kami menyerahkan urusan kalian kepada Allah, sehingga Dia memutuskan apa yang Dia kehendaki dalam urusan kalian." (28)4. Nuh Tidak Meminta Imbalan Sedikitpun atas Seruannya dari KaumnyaNabi Nuh berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, aku tidak meminta upah sedikit pun dari kalian (yang harus kalian bayar ketika kalian beriman) atas seruanku agar kalian mengesakan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya dengan ikhlas. Akan tetapi, imbalan atas nasihatku kepada kalian ini hanyalah dari Allah. Dan aku tidak akan sekalipun mengusir orang yang beriman, sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabb mereka pada hari Kiamat kelak. Akan tetapi, aku melihat bahwa kalian adalah kaum yang tidak mengetahui, ketika kalian menyuruhku agar aku mengusir para wali Allah dan menjauhkan mereka dariku." (29)5. Tantangan KaumnyaMereka berkata, "Hai Nuh, engkau telah berbantah-bantahan dengan kami dan engkau memperpanjang bantahan itu. Maka datangkanlah azab yang kamu janjikan itu jika dakwah dan seruanmu itu memang benar." (30)6. Membuat Bahtera, dan Ejekan Kaumnya“Dan mulailah Nuh membuat perahu. Setiap kali para pembesar kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Maka Nuh berkata kepada mereka, "Jika kalian mengejek kami saat ini karena ketidaktahuan kalian akan kebenaran janji Allah, maka kami akan mengejek kalian besok ketika kalian ditenggelamkan, sebagaimana kalian mengejek kami hari ini." (38)7. Tibanya Azab Allah dan Ajakan Nabi Nuh Kepada KaumnyaHingga ketika telah datang perintah Kami untuk membinasakan mereka sebagaimana yang telah Kami janjikan kepada Nuh, memancarlah air dengan derasnya dari dapur (yaitu tempat pembuatan roti) sebagai tanda datangnya azab. Kami berkata kepada Nuh, "Bawalah ke dalam perahu itu sepasang jantan dan betina dari setiap jenis binatang dan bawa pula keluargamu, kecuali yang telah ditetapkan termasuk orang yang tidak beriman kepada Allah, seperti anak dan istrinya. Bawa pula bersamamu orang-orang yang beriman dari kaummu." Dan yang beriman bersama Nabi Nuh hanya sedikit sekali, meskipun dia (Nuh) tinggal bersama mereka dalam kurun waktu yang lama. (40)Nuh berkata kepada orang yang beriman bersamanya, "Naiklah kalian ke dalam perahu dengan menyebut nama Allah ketika berlayar di atas air, dan menyebut nama Allah di akhir perjalanan dan ketika berlabuhnya. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun terhadap dosa dari hamba-Nya yang bertaubat dan kembali kepada-Nya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka, yaitu tidak menyiksa mereka sesudah mereka bertaubat." (41)8. Ajakan Nabi Nuh Kepada Anaknya, Penolakan Anaknya dan Datangnya Azab AllahDan perahu itu membawa mereka melewati ombak yang besar dan tinggi laksana gunung, dan Nuh memanggil anaknya (yang saat itu berada pada tempat yang terpisah dari orang-orang mukmin) dan ia berkata, "Hai anakku, naiklah bersama kami ke dalam perahu, janganlah engkau bersama orang-orang kafir, sehingga engkau akan tenggelam." (42)Anaknya menjawab, "Aku akan naik ke atas gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah ini, yang bisa mencegahku supaya tidak tenggelam." Nuh menjawab, "Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi keputusan dan ketentuan Allah pada hari ini, yaitu untuk menenggelamkan seluruh makhluk-Nya dan menghancurkan mereka kecuali orang-orang yang dirahmati Allah, maka berimanlah engkau dan naiklah ke dalam perahu bersama kami." Kemudian ombak yang tinggi memisahkan Nuh dan anaknya itu, dan ia termasuk orang yang ditenggelamkan dan dibinasakan. (43)9. Firman Allah kepada Bumi dan LangitAllah berfirman kepada bumi (setelah ditenggelamkan dan dibinasakannya kaum Nuh yang kafir): "Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit hentikanlah hujan." Maka surutlah air. Dan ketentuan Allah telah dijalankan, yaitu membinasakan kaum Nuh. Perahu itu pun berlabuh di atas gunung Judy. Dan dikatakan: "Binasalah orang-orang zalim yang melampaui batas-batas Allah dan yang tidak mau beriman kepada-Nya." (44)10. Do'anya Nabi Nuh Untuk Anaknya, Teguran Allah Kepada Nabi Nuh dan Taubatnya Nabi NuhDan Nuh berseru kepada Rabb-nya sambil berkata: "Ya Rabbi, sesungguhnya Engkau telah berjanji kepadaku akan menyelamatkanku dan keluargaku dari ditenggelamkan dan dibinasakan, anakku juga termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah benar, tidak ada pelanggaran, dan Engkaulah Hakim yang seadil-adilnya." (45)Allah berfiman: "Hai Nuh, anakmu yang binasa itu bukanlah keluargamu yang telah Aku janjikan untuk diselamatkan, itu karena kekufurannya dan perbuatannya yang tidak baik. Dan Aku melarangmu bertanya meminta sesuatu yang tidak engkau ketahui hakikat sebenarnya. Sesungguhnya Aku memperingatkanmu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang bodoh dalam permintaanmu kepada-Ku mengenai hal itu." (46)Nuh berkata: "Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku bernaung dan berlindung kepada-Mu untuk memohon sesuatu yang tidak aku ketahui ilmunya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun atas dosaku dan tidak merahmatiku dengan rahmat-Mu, niscaya aku termasuk orang-orang yang lalai terhadap diri sendiri, bernasib sial, dan binasa." (47)

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Jangan Meremehkan Wahyu Allah

Jangan Meremehkan Wahyu AllahAl-Qur’an Bukan Dongeng, Melainkan Petunjuk Kehidupan.QS. Al-Furqān: 5Tafsir Al-Muyassar – QS. Al-Furqān: 5Orang-orang kafir berkata tentang Al-Qur’an bahwa kitab tersebut hanyalah dongeng orang-orang terdahulu yang tertulis dalam kitab-kitab mereka. Mereka menuduh bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah menyalin kisah-kisah tersebut dan ada orang lain yang membacakannya kepada beliau setiap pagi dan petang.Tuduhan tersebut merupakan bentuk pengingkaran dan penolakan terhadap kebenaran wahyu Allah.Padahal, Al-Qur’an bukanlah dongeng atau karangan manusia, melainkan wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya sebagai petunjuk dan peringatan bagi seluruh manusia.Pesan yang Dapat Diamalkan1. Yakinilah bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah.Jangan biarkan keraguan dan perkataan manusia melemahkan keyakinan kita terhadap kebenaran Al-Qur’an.2. Jangan meremehkan ayat-ayat Allah.Setiap ayat memiliki petunjuk dan hikmah yang perlu dipelajari, direnungkan, serta diamalkan.3. Jangan mudah terpengaruh oleh tuduhan yang tidak berdasar.Belajarlah memeriksa kebenaran berdasarkan ilmu, bukan sekadar mengikuti perkataan orang lain.4. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.Bukan hanya dibaca atau dihafalkan, tetapi juga dipahami dan diterapkan dalam keseharian.5. Tumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dalam keluarga.Ajarkan anak-anak untuk mengenal, mencintai, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk sejak dini.Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang menghiasi lisan, tetapi petunjuk yang seharusnya menerangi kehidupan.Muhasabah Diri* Sudahkah aku benar-benar meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah dan petunjuk bagi kehidupanku?* Apakah aku lebih mudah terpengaruh oleh perkataan manusia daripada berusaha memahami kebenaran melalui Al-Qur’an?* Sudahkah aku meluangkan waktu untuk membaca, mempelajari, dan mentadabburi ayat-ayat Allah setiap hari?* Ketika menemukan ayat yang belum kupahami, apakah aku berusaha mencari penjelasan dari sumber ilmu yang terpercaya?* Sudahkah aku mengenalkan Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan, tetapi juga sebagai pedoman hidup bagi anak-anak dan keluargaku?Dan yang terpenting…Apakah Al-Qur’an sudah benar-benar menjadi pedoman dalam mengambil keputusan, bersikap, dan menjalani kehidupan sehari-hari?KesimpulanQS. Al-Furqān ayat 5 mengingatkan kita tentang tuduhan orang-orang kafir yang menganggap Al-Qur’an hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.Tuduhan tersebut tidak mengubah sedikit pun kebenaran wahyu Allah. Al-Qur’an tetap merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ sebagai petunjuk dan peringatan bagi seluruh manusia.Sebagai seorang mukmin, kita hendaknya senantiasa menjaga keyakinan terhadap Al-Qur’an, mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, serta menjadikan ajarannya sebagai pedoman dalam kehidupan.Sebab, kemuliaan seorang mukmin bukan hanya terletak pada seberapa sering ia membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada kesungguhannya memahami dan mengamalkan petunjuk di dalamnya.“Jangan biarkan perkataan manusia menjauhkan hatimu dari Al-Qur’an. Sebab, kebenaran wahyu Allah tidak akan berubah hanya karena manusia mengingkarinya.”Semoga Allah menjadikan kita dan keluarga termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mencintai Al-Qur’an, memahami petunjuknya, dan istiqamah mengamalkannya. Aamiin Allaahumma Aamiin. 🤲🏻🤎

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 jam lalu
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS. Al-Muthaffifin: 1–3 — Integritas ketika tidak ada yang mengawasi

Tafsir Ibnu Katsir:Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ancaman bagi orang-orang yang tidak adil dalam urusan takaran dan timbangan. Mereka ingin mendapatkan haknya secara sempurna, tetapi tidak memberikan hak orang lain sebagaimana mestinya.Perilaku ini menunjukkan ketidakjujuran dan kecenderungan mementingkan diri sendiri. Allah tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan-Nya, tetapi juga mengatur bagaimana manusia memperlakukan hak sesamanya.Renungan:Ayat ini sangat relevan dengan dunia bisnis modern.Jangan hanya menuntut pelanggan membayar tepat waktu jika kita sendiri tidak memenuhi janji pengiriman. Jangan menuntut supplier memberikan kualitas terbaik jika kita sengaja menyembunyikan kekurangan dalam transaksi.Integritas justru paling terlihat ketika seseorang memiliki kesempatan untuk berbuat curang, tetapi memilih tidak melakukannya karena sadar bahwa Allah selalu mengawasi.Reputasi bisnis dapat dibangun melalui promosi, tetapi kepercayaan hanya dapat dipertahankan melalui konsistensi perilaku.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat12 jam lalu
M
marni

📍 Kabupaten Bogor

BUKTI KEBESARAN ALLAH DALAM ALAM SEMESTA (Ayat 1-128)

Allah taala berfirman:وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ ۖ وَٱلنُّجُومُ مُسَخَّرَٰتُۢ بِأَمۡرِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَDan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya),Subtema: Alam merupakan suatu kesatuan yang membuktikan kekuasaan Allah (Ayat 3-21)QS. An-Naĥl: 12Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
R

Rahaf Fathullah

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Pengamalan ayat dari surat Al Anbiya

1️⃣ Ikutilah jalan para nabi, yaitu berdakwah yang dimulai dengan mengenalkan orang kepada Allah subhaanahu wata'ala dan membantu mereka mencintai-Nya2️⃣ Seorang mukmin taat pada orang lain hanya bila perintah tsb. tidak mengandung maksiat Allah3️⃣ Seorang mukmin tidak akan pernah lepas dari ujian selama hidup di dunia, antara dengan bentuk nikmat (apakah akan disyukuri) atau cobaan (apakah akan disabari)

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
P

puti nilam suri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

juz 27 dan surah Az zariyat 56

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Tujuan manusia diciptakan dan dihidupkan di alam semesta hanya satu, yaitu untuk beribadah kepada Allah dan tidak berbuat syirik kepadaNya. Ayat ini juga menunjukkan bahwasanya orang yang dibebani dengan syariat adalah dua makhluk, yaitu jin dan manusia. Mereka dibebani dengan syariat untuk diberi hukuman dan balasan berupa surga dan neraka.Jin memiliki hukum sebagaimana manusia. Para ulama menyebutkan bahwa Allah menyebutkan terlebih dahulu jin dari pada manusia, disebabkan orang-orang musyrikin pada zaman dahulu juga menyembah jin. Karenanya, pada ayat ini Allah mengingatkan bahwa jin adalah ciptaan Allah, bukan tuhan untuk disembah atau diibadahi. Bahkan, para jin juga dibebani untuk beribadah kepada Allah dan tidak berhak untuk disembah. [1]---Catatan kaki:[1] Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/28.p

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

#JejakAyat 4/11 Tafsir Ibnu Katsir  QS. Al-Ĥashr: 18

Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Ĥashr: 18يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَArtinya:“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."Makna Umum AyatAyat ini merupakan seruan Allah kepada orang-orang beriman agar:Bertakwa kepada Allah, dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.Melakukan evaluasi terhadap diri sendiri, dengan memperhatikan amal apa yang telah dipersiapkan untuk kehidupan akhirat.Menyadari kedekatan hari akhir, yang disebut dengan ungkapan “hari esok”.Mengulangi ketakwaan, karena manusia membutuhkan ketakwaan dalam seluruh keadaan dan amalnya.Meyakini bahwa Allah mengetahui seluruh amal, baik yang besar maupun kecil, yang tampak maupun tersembunyi.Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bukan sekadar anjuran untuk mengingat akhirat secara umum. Ayat ini memerintahkan seorang mukmin untuk memeriksa secara nyata: amal apakah yang telah ia lakukan, apakah amal itu menyelamatkannya atau justru membinasakannya.Penjelasan Tafsir Ibnu Katsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dasar dalam melakukan muhasabah, yaitu seseorang menghitung dan mengevaluasi dirinya sebelum datang hari perhitungan. Beliau menukil hadis tentang sedekah ketika Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam melihat sekelompok orang miskin dari Mudhar datang dalam keadaan kekurangan. Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam kemudian mendorong para sahabat untuk bersedekah. Para sahabat pun datang membawa sedekah, hingga terlihat kegembiraan pada wajah Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam.Di antara lafaz hadis yang dinukil Ibnu Katsir:“Barang siapa memulai suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa memulai suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalur Syu‘bah, dari ‘Aun bin Abi Juhaifah, dari al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya Jarir bin ‘Abdillah Radhiyallahu 'Anhu.Dalam penjelasannya terhadap ayat ini, Ibnu Katsir menegaskan:Takwa mencakup menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.Setiap orang harus melihat apa yang telah ia simpan untuk hari perjumpaan dengan Allah.Pengulangan perintah takwa merupakan penegasan.Allah mengetahui semua keadaan dan amal manusia; tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.Catatan: hadis “barang siapa memulai sunnah yang baik” dalam konteks yang dinukil Ibnu Katsir berkaitan dengan menghidupkan dan memulai praktik kebaikan yang memiliki dasar dalam syariat, yaitu sedekah. Ia tidak menjadi dalil untuk membuat-buat ibadah baru yang tidak memiliki landasan syariat.Relevansi dalam kehidupanDalam IbadahJangan hanya menghitung berapa banyak ibadah yang dilakukan, tetapi periksa pula:Apakah salat dikerjakan tepat waktu?Apakah hati hadir dalam ibadah?Apakah amal dilakukan ikhlas?Apakah ibadah melahirkan ketakwaan dan akhlak yang lebih baik?Dalam Pekerjaan Seseorang perlu bertanya:Apakah penghasilannya halal?Apakah ia menipu, mengurangi timbangan, atau mengambil hak orang?Apakah pekerjaannya membawa manfaat atau kerusakan?Apakah ia menjaga amanah ketika tidak diawasi manusia?Dalam Keluarga Ayat ini mengajarkan agar seseorang tidak hanya menuntut hak, tetapi juga memeriksa kewajibannya:Apakah ia telah berbuat baik kepada pasangan?Apakah ia mendidik anak dengan benar?Apakah ia menjaga lisan dari penghinaan dan kekerasan?Apakah ia menyambung silaturahmi?Dalam Penggunaan Teknologi dan Sosial Media Setiap unggahan, komentar, pesan, dan tontonan dapat menjadi bagian dari “apa yang dikirimkan untuk hari esok”.Sebelum berbicara atau membagikan sesuatu, hendaknya seseorang bertanya:Apakah ini benar?Apakah ini bermanfaat?Apakah ada ghibah, fitnah, penghinaan, atau provokasi?Apakah saya rela melihat catatan ini pada hari Kiamat?Dalam Menghadapi Dosa Masalalu Ayat ini tidak mengajarkan seseorang untuk tenggelam dalam penyesalan tanpa tindakan. Muhasabah harus menghasilkan perbaikan:Dosa dikenali.Pintu maksiat ditutup.Tobat dilakukan.Amal saleh ditingkatkan.Hak manusia dikembalikan.Kesimpulan QS. Al-Ĥashr ayat 18 adalah ayat tentang takwa, kesadaran akan akhirat, dan muhasabah. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak hidup tanpa arah dan tanpa pemeriksaan diri. Setiap amal sedang dikirim menuju hari perjumpaan dengan Allah.Tadabbur utama ayat ini adalah:Periksalah amal sebelum datang hari ketika amal itu diperiksa; perbaikilah bekal sebelum datang hari ketika tidak ada kesempatan untuk menambahnya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS At Taubah : 84

Tafsir Al-MuyassarQS At Taubah : 84Janganlah ernah engkau (wahai Rasul) menyalatkan jenazah seorang pun yang mati dari orang-orang munafik selamanya. Dan jangan pernah engkau berdiri di kuburannya untuk mendoakannya. Karena mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. Hukum ini umum berlaku bagi siapa saja yang diketahui kemunafikannya.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Fath: 1–3 — Di Balik Kesabaran Ada Kemenangan

Ayat:إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا ۝ لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا ۝ وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًاArtinya:“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, menunjukkanmu ke jalan yang lurus, dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat.”

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Allah menyatakan Dia satu-satunya yang berhak disembah. Allah menyandingkan kesaksian-Nya dengan kesaksian para malaikat dan orang-orang berilmu mengenai tauhid dan keadilan-Nya.

Allah adalah:Al-'Aziz, Yang Mahaperkasa, sehingga tidak ada yang dapat menghalangi kehendak-Nya;Al-Hakim, Yang Mahabijaksana dalam seluruh perkataan dan perbuatan-Nya.At-Tafsir Al-Muyassar

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
A

AYU AAN KHARY M

📍 Kota Makassar

Al jatsiyah 12-13

Allah سبحانه وتعالى mengabarkan karunia dan kebaikanNya pada para hamba melalui ditundukkannya samudera agar bisa dilalui oleh perahu dan kapal atas perintah dan izinNya. ﴾ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Supaya kamu dapat mencari sebagian karuniaNya," dengan berbagai macam perdagangan dan pekerjaan, ﴾ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ﴿ "dan mudah-mu-dahan kamu bersyukur" kepada Allah سبحانه وتعالى, karena apabila kalian mau bersyukur, niscaya akan diberi tambahan nikmat oleh Allah سبحانه وتعالى serta memberikan pahala besar atas rasa syukur kalian.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →