📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Tabayyun, Kebijaksanaan dalam Berkomunikasi, dan Mengajak kepada Tauhid

Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir yang diberikan, ayat-ayat ini mengisahkan bagaimana Nabi Sulaiman عليه السلام memeriksa berita burung Hud-hud, mengirim surat kepada Ratu Balqis, serta mengajak penduduk Saba untuk meninggalkan kesombongan dan tunduk kepada Allah.Inti tafsir per ayatAyat 27Nabi Sulaiman tidak langsung menerima berita Hud-hud, tetapi ingin memeriksa apakah berita itu benar atau dusta.Ayat 28Nabi Sulaiman mengutus Hud-hud membawa surat kepada Ratu Balqis, kemudian memerintahkannya menjauh dan memperhatikan tanggapan mereka.Ayat 29Ratu Balqis menerima surat tersebut dan menyebutnya sebagai surat yang mulia. Ia kemudian menyampaikannya kepada para pembesar kerajaannya.Ayat 30Surat Nabi Sulaiman diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim. Pesannya singkat, jelas, dan menggunakan bahasa yang baik.Ayat 31Nabi Sulaiman mengajak mereka meninggalkan kesombongan dan datang dalam keadaan berserah diri. Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai mentauhidkan Allah; penafsiran lain menyebut keikhlasan dan ketaatan.Kaidah untuk kehidupan saat ini1. Berita harus diperiksa sebelum disebarkan. Dalam kehidupan digital, jangan langsung mempercayai pesan berantai, unggahan media sosial, atau tuduhan terhadap seseorang. Gunakan komunikasi yang jelas dan santun. Surat Nabi Sulaiman menunjukkan bahwa pesan yang singkat tetap dapat menyampaikan maksud yang penting.Kepemimpinan memerlukan ketelitian. Nabi Sulaiman memeriksa laporan Hud-hud sebelum menentukan langkah selanjutnya.Jabatan bukan alasan untuk sombong. Kekuasaan semestinya digunakan untuk mengajak kepada kebenaran, bukan untuk membanggakan diri.Kebenaran perlu disambut dengan kerendahan hati. Jangan menolak nasihat hanya karena datang dari orang yang dianggap lebih rendah kedudukannya.

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Ma'arij: 23

Tafsir At-TaysirAl-Ma`ārij (70:23)Artinya mereka tidak hanya sekadar mengerjakan shalat, akan tetapi juga senantiasa menjaganya. Mereka menjaga shalat lima waktu mereka, dan mereka juga menjaga dan memperbanyak shalat-shalat sunnah. Dan kebiasaan Nabi ﷺ apabila telah melakukan suatu amalan, maka beliau akan berusaha untuk merutinkannya dan tidak meninggalkannya. Oleh karenanya Nabi ﷺ bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”(40)Oleh karenanya, kalau kita telah terbiasa shalat dhuha, maka hendaknya hal tersebut dipertahankan. Demikian pula orang yang telah senantiasa shalat witir, maka hendaknya hal tersebut dipertahankan. Karena di antara ciri-ciri orang yang selamat dari neraka adalah orang yang senantiasa menegakkan shalat dan merutinkannya.Sebagian ulama menafsirkan دَائِمُونَ dengan tenang dan khusyuk. Yaitu ketika dia shalat, maka dia menjaga ketenangannya, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri(41). Dan kata دَائِمُونَ sebagaimana digunakan Nabi ﷺ dalam sabdanya,لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي المَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لاَ يَجْرِي، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing pada air yang tidak mengalir (tenang), lalu mandi darinya.”(42)Oleh karenanya, yang dimaksud shalat secara دَائِمُونَ adalah dia shalat dengan tenang dan tidak menoleh kemana-mana kecuali ke tempat sujud.Akan tetapi pendapat yang lebih kuat adalah دَائِمُونَ maksudnya shalat tersebut dijaga waktunya. (43)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Adab adalah Cermin Keimanan

Belajar Menghormati, Meminta Izin, dan Menjaga Amanah dalam KebersamaanQS. An-Nūr: 62📖 Tafsir QS. An-Nūr: 62Allah ﷻ menjelaskan bahwa orang-orang mukmin yang benar imannya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menjaga adab ketika berada bersama Rasulullah ﷺ dalam urusan bersama yang membutuhkan pertemuan.Mereka tidak meninggalkan majelis sebelum meminta izin kepada beliau. Sikap ini menunjukkan ketaatan, penghormatan, dan kesungguhan mereka dalam menjaga adab terhadap Rasulullah ﷺ.Allah juga menjelaskan bahwa orang-orang yang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ ketika hendak meninggalkan majelis karena suatu keperluan adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk memberikan izin kepada siapa yang beliau kehendaki serta memohonkan ampunan bagi mereka kepada Allah.Ayat ini ditutup dengan mengingatkan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Pelajaran penting: Keimanan bukan hanya terlihat dari keyakinan dan ibadah, tetapi juga tercermin dalam adab, tanggung jawab, dan sikap menghormati orang lain.🤍 Pesan yang Dapat Diamalkan1. Jadikan adab sebagai bagian dari keimanan.Iman tidak hanya diucapkan, tetapi juga terlihat dari cara kita bersikap, berbicara, dan memperlakukan orang lain.2. Biasakan meminta izin ketika hendak meninggalkan suatu urusan bersama.Jangan pergi begitu saja ketika sedang mengikuti rapat, majelis ilmu, atau kegiatan yang membutuhkan kehadiran dan tanggung jawab kita.3. Hargai orang yang sedang memimpin dan orang-orang yang terlibat bersama kita.Sikap menghormati menunjukkan bahwa kita memahami hak, tanggung jawab, dan keberadaan orang lain.4. Miliki tanggung jawab terhadap amanah yang telah disepakati.Jangan mudah meninggalkan tugas atau kebersamaan tanpa alasan yang jelas dan komunikasi yang baik.5. Berikan kelapangan kepada orang lain yang memiliki keperluan.Belajarlah bersikap bijaksana dan memahami keadaan orang lain, tanpa mengabaikan tanggung jawab bersama.6. Jangan mudah menghakimi orang yang meminta izin karena suatu keperluan.Kita tidak selalu mengetahui keadaan seseorang. Kedepankan prasangka baik dan kebijaksanaan, selama tidak mengabaikan amanah.🪞 Muhasabah DiriApakah adabku sudah mencerminkan keimanan yang selama ini aku ucapkan?Ketika berada dalam suatu majelis atau kegiatan bersama, apakah aku menghargai orang lain dengan berpamitan dan meminta izin sebelum pergi?Apakah aku sudah menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh, atau justru mudah meninggalkannya ketika muncul urusan pribadi?Ketika orang lain meminta izin karena suatu keperluan, apakah aku berusaha memahami keadaannya atau langsung berprasangka buruk?Apakah aku sudah mengajarkan kepada anak-anak bahwa adab, tanggung jawab, dan menghormati orang lain merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim?Dan yang lebih dalam…Apakah aku lebih sibuk menuntut orang lain menghargai diriku daripada memastikan bahwa aku sendiri telah menghargai mereka?🌿 KesimpulanQS. An-Nūr ayat 62 mengajarkan bahwa keimanan yang benar tercermin dalam adab dan tanggung jawab, termasuk meminta izin sebelum meninggalkan suatu urusan bersama Rasulullah ﷺ.Ayat ini memberikan pelajaran bagi kita untuk menghormati pemimpin, menjaga amanah, berkomunikasi dengan baik, serta bersikap bijaksana terhadap keperluan orang lain.Adab bukan sekadar tata krama sosial, melainkan bagian dari akhlak yang menunjukkan kesungguhan seorang hamba dalam menjalankan ajaran agamanya.Iman yang benar melahirkan adab. Adab yang baik menjaga amanah. Dan amanah yang dijaga merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.🤍 Doa MuhasabahYa Allah, perbaikilah iman dan akhlak kami. Bimbinglah kami agar senantiasa menjaga adab, menghormati orang lain, dan menunaikan setiap amanah dengan penuh tanggung jawab. Jauhkan kami dari sikap meremehkan hak orang lain dan karuniakan kepada kami kebijaksanaan dalam memahami keadaan sesama.Aamiin Allaahumma Aamiin. 🤲🏻t

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Tafsir Al Mukhtasar QS Al 'Asr

Tafsir Al Mukhtasar QS Al 'AsrTujuan pokok:Sebab-sebab keselamatan dari kerugian Allah subhanahu wa ta'ala bersumpah dengan waktu ashar Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian dan kebinasaan Kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul Nya, mengerjakan amal saleh, serta saling berwasiat di antara mereka dengan kebenaran dan kesabaran dalam menjalani kebenaran. Orang-orang yang mempunyai sifat-sifat ini pasti selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS At Taubah : 30

Ringkasan Tafsir QS At Taubah : 30Gambaran Umum AyatAyat ini mencela dua bentuk penyimpangan dalam akidah:1.Sebagian Yahudi menisbatkan Uzair sebagai “putra Allah”.2.Orang-orang Nasrani menisbatkan Al-Masih, yaitu Nabi Isa bin Maryam, sebagai “putra Allah”.Kedua ucapan tersebut merupakan kesyirikan karena memberikan kepada makhluk sifat atau kedudukan yang hanya layak bagi Allah. Ayat ini juga menjelaskan bahwa ucapan tersebut bukan bersandar pada wahyu dan bukti yang benar, tetapi hanya klaim yang diucapkan “dengan mulut mereka”.Para mufasir yang dikutip menjelaskan bahwa penyebutan ini tidak mesti bermakna setiap individu dari seluruh kaum tersebut mengucapkan hal yang sama. Al-Qurtubi dan Al-Sa‘di menegaskan bahwa ungkapan yang dinisbatkan kepada suatu kelompok dapat merujuk kepada suatu kelompok atau golongan di antara mereka, terutama ketika ucapan itu telah dikenal dan menjadi bagian dari keyakinan yang dinisbatkan kepada komunitas tersebut.Ringkasan Tafsir Al-MuyassarAl-Muyassar menjelaskan bahwa:Orang-orang Yahudi telah melakukan kesyirikan dengan mengklaim Uzair sebagai anak Allah.Orang-orang Nasrani juga melakukan kesyirikan dengan mengklaim Al-Masih sebagai anak Allah.Klaim ini mereka buat-buat dari diri mereka sendiri.Mereka menyerupai kaum musyrik terdahulu yang juga menisbatkan anak-anak kepada Allah.Penutup ayat berupa pertanyaan celaan: bagaimana mereka dapat berpaling dari kebenaran menuju kebatilan?Inti pelajarannya: penyimpangan akidah sering berawal dari ucapan yang dibuat tanpa wahyu, kemudian diwariskan, dibela, dan dianggap sebagai kebenaran.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Albaqarah 282 - pencatatan hutang piutang

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskannya. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun darinya.Jika orang yang berutang itu orang yang kurang akalnya, lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, agar jika yang seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, baik kecil maupun besar, sampai batas waktu pembayarannya. Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli. Janganlah penulis dan saksi saling mempersulit. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah: 282, terjemahan makna)2. Makna AyatAyat ini merupakan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an. Isinya menjelaskan pedoman Islam dalam mengatur utang piutang, pencatatan transaksi, dan persaksian untuk menjaga hak serta mencegah perselisihan.A. Perintah mencatat utangApabila seseorang berutang dengan jangka waktu pembayaran tertentu, hendaklah utang tersebut dicatat secara jelas dan adil. Catatan itu mencakup jumlah utang dan waktu pelunasannya.Pencatatan membantu menjaga hak kedua belah pihak dan menghindarkan mereka dari perselisihan akibat lupa atau perbedaan ingatan.B. Orang yang berutang harus jujurAllah memerintahkan pihak yang berutang untuk mendiktekan isi perjanjian dengan benar dan bertakwa kepada-Nya. Ia tidak boleh mengurangi jumlah utang atau menyembunyikan sebagian kewajibannya.Jika orang yang berutang tidak mampu mengurus urusannya sendiri karena keterbatasan akal, kelemahan, atau ketidakmampuan berbicara dan mendiktekan, walinya membantu mendiktekan secara adil.C. Persaksian untuk menjaga hakAyat ini menerangkan ketentuan saksi dalam transaksi utang piutang sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut. Tujuannya adalah menjaga kejelasan transaksi dan membantu menghindari kesalahan atau perselisihan.Para saksi juga tidak boleh menolak ketika diminta menjalankan kewajiban persaksian tanpa alasan yang dibenarkan.D. Utang kecil maupun besar perlu diperhatikanAllah melarang kaum beriman merasa bosan mencatat utang, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, sampai waktu pelunasannya.Hal ini menunjukkan bahwa perkara yang tampak kecil sekalipun tidak boleh disepelekan jika berkaitan dengan hak orang lain.E. Transaksi tunai memiliki keringananUntuk perdagangan tunai yang berlangsung langsung, Allah memberikan keringanan bahwa tidak berdosa apabila transaksi tersebut tidak dicatat. Namun, ayat ini juga memerintahkan agar menghadirkan saksi ketika jual beli dilakukan.F. Tidak boleh menyulitkan penulis dan saksiPenulis harus menulis secara adil, sedangkan saksi harus memberikan kesaksian dengan benar. Keduanya tidak boleh dirugikan atau dipaksa melakukan sesuatu secara zalim.Allah menutup ayat ini dengan perintah bertakwa dan mengingatkan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk niat dan perbuatan manusia.3. RenungkanIslam tidak hanya mengatur ibadah seperti salat dan puasa, tetapi juga mengatur urusan harta, transaksi, dan hubungan antarmanusia.Keimanan harus tampak dalam kejujuran saat berutang, ketelitian dalam mencatat, dan kesediaan menjaga hak orang lain.Jangan sampai hubungan persaudaraan rusak hanya karena utang yang tidak dicatat, janji yang dilupakan, atau kewajiban yang sengaja disembunyikan.Allah mengajarkan kita untuk mengambil langkah pencegahan sebelum perselisihan terjadi. Mencatat utang bukan berarti tidak percaya kepada orang lain, melainkan bentuk tanggung jawab dan ikhtiar menjaga hak bersama.4. IntisariUtang piutang dengan jangka waktu tertentu diperintahkan untuk dicatat.Pencatatan harus dilakukan secara adil dan jelas.Pihak yang berutang wajib menyampaikan keterangan dengan jujur dan tidak mengurangi kewajibannya.Persaksian berfungsi menjaga hak dan memperkuat bukti transaksi.Utang yang kecil sekalipun tidak boleh disepelekan.Transaksi tunai mendapat keringanan untuk tidak dicatat.Penulis dan saksi harus menjalankan tugas tanpa saling merugikan.Ketakwaan kepada Allah harus menjadi landasan dalam seluruh urusan harta.

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
A

AYU AAN KHARY M

📍 Kota Makassar

Al hajj 3

Allah subhanahu wata'āla berfirman, mencela orang-orang yang mendustakan adanya hari berbangkit, ingkar terhadap kekuasaan Allah yang mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati, lagi berpaling dari apa yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya serta segala ucapannya, sikap ingkar dan kekafirannya mengikuti langkah setan-setan yang jahat, baik setan dari kalangan manusia maupun jin. Itulah ciri khas ahli bid'ah dan kesesatan yang berpaling dari kebenaran lagi mengikuti jalan kebatilan. Mereka berpaling dari perkara hak yang jelas, yang telah diturunkan oleh Allah subhanahu wata'āla kepada Rasul-Nya. Mereka juga mengikuti ucapan para pemimpin kesesatan yang menyeru kepada perbuatan bid'ah, menuruti kemauan hawa nafsu dan pendapat mereka sendiri. Karena itulah maka Allah subhanahu wata'āla berfirman sehubungan dengan mereka dan orang-orang yang semisal dengan mereka:Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan.Yakni pengetahuan yang benar.

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir Al Zalzalah 1

Tafsir Al-MuyassarAz-Zalzalah (99:1)Tema: PADA HARI KEBANGKITAN MANUSIA MELIHAT BALASAN PERBUATANNYA MESKIPUN SEBESAR ZARRAH (Ayat 1-8)Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat dan mengeluarkan apa yang ada dalam perutnya berupa orang-orang yang sudah mati dan harta terpendam. Saat itu manusia bertanya-tanya karena ketakutan, "Apakah yang telah terjadi pada bumi?"Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
N

Nur mutmainna

📍 Kabupaten Sidenreng Rappang

Tafsir Al Mukhtasar,Qs(3):30

Rangkuman QS Ali Imran: 3001. Di Hari Kiamat nanti, semua kebaikan sekecil apapun yang pernah kita lakukan akan kita temukan secara nyata, tanpa dikurangi sedikitpun.02. Sebaliknya, pelaku keburukan akan berandai-andai ingin ada jarak yang sangat jauh antara dirinya dengan dosa-dosanya, tapi itu mustahil.03. Allah memperingatkan kita agar takut kepada-Nya dan jangan menjerumuskan diri dalam murka-Nya dengan berbuat dosa.Gentle reminder nya: Allah Maha Penyantun kepada hamba-Nya, makanya Dia memperingatkan dan menakut-nakuti kita dengan ayat ini supaya kita kembali 🤍

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

An nahl

Allah subhanahu wata'āla mengingatkan mereka atas sangat berlimpahnya nikmat-nikmat serta kebaikan-Nya yang telah dilimpahkan kepada mereka. Untuk itu Allah subhanahu wata'āla berfirman:Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Yakni memaafkan kalian. Sekiranya kalian dituntut untuk mensyukuri semua nikmat-Nya, tentulah kalian tidak akan mampu melakukannya. Dan seandainya kalian diperintahkan untuk itu, pastilah kalian lemah dan meninggalkannya (tidak dapat bersyukur secara semestinya). Seandainya Dia mengazab kalian, tentulah Dia berhak mengazab kalian tanpa berbuat aniaya terhadap kalian. Akan tetapi, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Dia selalu mengampuni dosa-dosa yang banyak dan membalas pahala kebaikan sekecil apa pun.Ibnu Jarir mengatakan bahwa firman Allah subhanahu wata'āla yang mengatakan:Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun.Hal ini dinyatakan-Nya mengingat ada di antara kalian yang lupa untuk bersyukur kepada-Nya atas sebagian dari nikmat yang telah diberikan kepadanya. Allah Maha Pengampun bila kalian bertobat kepada-Nya dan kembali kepada-Nya dengan mengerjakan ketaatan kepada-Nya serta menempuh jalan yang diridai-Nya....lagi Maha Penyayang.Yakni Maha Penyayang kepada kalian, Dia tidak mengazab kalian sesudah kalian kembali dan bertobat kepada-Nya.

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al-Mukhtashar Surat Ali ‘Imran Ayat 118

118. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang yang tidak beriman sebagai kawan dekat atau teman setia yang kalian beritahu perihal rahasia-rahasia dan urusan-urusan pribadi kalian. Karena mereka tidak pernah berhenti mengupayakan kehancuran dan kerusakan perkara kalian. Mereka senantiasa mengharapkan terjadinya sesuatu yang merugikan dan menyulitkan kalian. Rasa benci dan permusuhan terlihat jelas melalui ucapan-ucapan mereka yang menjelek-jelekkan agama kalian, mengadu domba kalian, dan menyebarkan rahasia-rahasia kalian. Tetapi kebencian yang mereka sembunyikan di dalam dada mereka jauh lebih besar. Kami telah menjelaskan kepada kalian -wahai orang-orang mukmin bukti-bukti nyata yang menunjukkan kemaslahatan kalian di dunia dan di akhirat, jika kalian memahami apa yang Rabb kalian turunkan kepada kalian.

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
F

Fitriyah Sulistiyaningsih

📍 Kabupaten Brebes

Tafsir Al-Mukhtasar QS. An-nahl:15-19

Alam semesta dan segala keteraturannya menjadi tanda kekuasaan Allah.2. Memurnikan tauhidHanya Allah Sang Pencipta yang berhak mendapatkan ibadah.3. Mensyukuri nikmatBanyaknya nikmat Allah hendaknya membuat kita semakin taat, bukan lalai.4. Menjaga keikhlasanAllah mengetahui apa yang tersembunyi dan yang tampak, sehingga kita harus menjaga hati dan perbuatan.

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat13 Oktober 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Ibnu Katsir | Surat Yunus : 25

Ibnu Katsir mengaitkan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya yang menerangkan kefanaan dunia. Setelah dunia disebut sebagai sesuatu yang cepat rusak dan lenyap, manusia diarahkan untuk merindukan surga.Menurut Ibnu Katsir, surga disebut Dār as-Salām karena: • Selamat dari penyakit. • Selamat dari kekurangan.• Selamat dari kesedihan.• Selamat dari berbagai bencana.• Kenikmatannya tidak akan berakhir.Ibnu Katsir juga membawakan sebuah perumpamaan tentang seorang raja yang membangun sebuah rumah, menyediakan hidangan di dalamnya, lalu mengutus seorang penyeru untuk mengundang manusia. Orang yang memenuhi undangan itu masuk ke rumah dan menikmati hidangan, sedangkan orang yang menolak tidak masuk dan tidak menikmati hidangan tersebut.Dalam penjelasan perumpamaan itu:• Raja menggambarkan Allah.• Rumah menggambarkan Islam.• Rumah yang berada di dalamnya menggambarkan surga.• Penyeru menggambarkan Rasulullah ﷺ.• Memenuhi seruan berarti masuk Islam.• Masuk Islam menjadi sebab masuk surga.Ibnu Katsir menyebut salah satu jalur riwayat perumpamaan tersebut dari Jābir bin ‘Abdillāh radhiyallāhu ‘anhumā, dan menerangkan bahwa riwayat dari Abu Qilabah melalui jalur tertentu bersifat mursal, sedangkan terdapat jalur lain yang tersambung.Matan ringkas riwayat tersebut:“Perumpamaanmu dan umatmu seperti seorang raja yang mengambil sebuah rumah, lalu membangun di dalamnya sebuah rumah, kemudian menyediakan hidangan di dalamnya. Setelah itu ia mengutus seorang rasul untuk mengundang manusia kepada makanannya. Sebagian mereka memenuhi undangan rasul itu, dan sebagian lainnya meninggalkannya. Allah adalah Raja, rumah itu adalah Islam, rumah tersebut adalah surga, dan engkau—wahai Muhammad—adalah rasul. Barang siapa memenuhi seruanmu, ia masuk Islam; barang siapa masuk Islam, ia masuk surga; dan barang siapa masuk surga, ia menikmati apa yang ada di dalamnya.”

💬 0 komentar📅 13 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat18 Oktober 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS: Al Furqan 63 — Belajar Bersifat Tenang

Tafsir Ibnu Katsir: Ayat ini menggambarkan sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Mereka berjalan dengan tenang, rendah hati, dan tidak sombong. Ketika menghadapi perkataan orang-orang jahil, mereka tidak membalas dengan keburukan yang sama, melainkan mengatakan perkataan yang baik atau menghindari pertengkaran. Sikap ini bukan tanda kelemahan, melainkan cerminan akhlak yang mulia.Renungan ayat ini: Tidak semua perkataan perlu dijawab, tidak semua tuduhan harus dibantah, dan tidak semua orang harus diyakinkan tentang siapa diri kita. Ada saatnya menjaga ketenangan lebih berharga daripada memenangkan percakapan. Kedewasaan bukan berarti membiarkan diri dizalimi, melainkan mampu memilih respons tanpa menyerahkan kendali atas diri sendiri kepada perilaku orang lain.

💬 0 komentar📅 12 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat17 Oktober 2026
M
marni

📍 Kabupaten Bogor

HUKUM KELUARGA

Allah taala berfirman:لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنۡهُ أَوۡ كَثُرَ ۚ نَصِيبٗا مَّفۡرُوضٗاBagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu, bapak, dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu, bapak, dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.QS. An-Nisā: 7Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 12 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat12 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS Ali Imran ayat 117

117. Perumpamaan harta yang dibelanjakan oleh orang-orang kafir itu untuk kepentingan sosial dan ganjaran yang mereka harapkan adalah seperti angin sangat dingin yang menerpa lahan pertanian orang-orang yang menganiaya diri mereka dengan perbuatan-perbuatan maksiat dan lain-lain, kemudian angin tersebut merusak tanaman mereka, padahal mereka benar-benar mengharapkan hasil yang banyak sekali darinya. Maka sebagaimana angin yang merusak tanaman tersebut sehingga tidak bisa dimanfaatkan hasilnya, kekafiran juga akan membatalkan ganjaran amal yang sangat mereka harapkan. Dan Allah tidak akan menzalimi mereka -Mahasuci Allah dari tindakan itu-, tetapi mereka sendiri lah yang menganiaya diri mereka karena kafir kepada Allah dan mendustakan Rasul-Nya.

💬 0 komentar📅 12 Okt 2026Baca selengkapnya →