📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat24 Agustus 2026
S
Siti Rusmiati

📍 Kabupaten Bogor

Surat ar-ra'd

Allah lah yang meninggikan tujuh langit dengan kekuasaan-Nya tanpa tiang sebagaimana yang kalian lihat, kemudian Dia beristiwa (yakni ala wa irtafa'a (tinggi dan meninggi)) di atas Arsy, yaitu istiwa yang selaras dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dia menundukkan matahari dan bulan untuk kemanfaatan manusia. Masing-masing dari keduanya beredar di orbitnya hingga hari Kiamat. Dia mengatur urusan dunia dan akhirat, Dia menjelaskan kepada kalian tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan-Nya dan bahwa tiada Illah yang berhak disembah kecuali Dia; agar kalian yakin kepada Allah dan tempat kembali kepada-Nya. Karena itu, percayalah dengan janji dan ancaman-Nya, dan murnikan peribadatan untuk-Nya semata.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat24 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al-furqan:37

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:37)Tema: PELAJARAN DARI KISAH UMAT TERDAHULU (Ayat 35-44)Firman Allah subhanahu wata'āla:Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. (Muhammad:10)Demikian pula yang telah dilakukan oleh Allah subhanahu wata'āla terhadap kaum Nuh a.s. yang mendustakan Rasul-Nya. Barang siapa yang mendustakan salah seorang rasul Allah, berarti ia mendustakan semua rasul Allah, sebab tidak ada bedanya antara rasul yang satu dengan rasul yang lainnya. Seandainya Allah menakdirkan untuk mengutus kepada mereka semua rasul, maka pastilah mereka akan mendustakan para rasul Allah itu. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. (Al Furqaan:37)Allah subhanahu wata'āla tidak mengutus kepada mereka selain Nuh a.s. saja. Ia tinggal di kalangan mereka selama sembilan ratus lima puluh tahun, seraya menyeru mereka untuk menyembah Allah subhanahu wata'āla dan memperingatkan mereka akan azab Allah (bila mereka tidak menaati seruannya).Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit (Huud:40)Karena itulah Allah menenggelamkan mereka semuanya, sehingga tiada seorang pun dari mereka yang tersisa, dan tidak ada seorang Bani Adam pun yang ada di muka bumi tersisa kecuali orang-orang yang menaiki perahu Nuh a.s.dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. (Al Furqaan:37)Yakni pelajaran yang dijadikan sebagai peringatan bagi mereka, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kalian ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kalian dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al Haaqqah:11-12)Kami biarkan kalian menaiki bahtera menempuh ombak lautan agar kalian ingat akan nikmat Allah kepada kalian, bahwa kalian telah diselamatkan dari tenggelam, dan menjadikan kalian termasuk keturunan orang-orang yang beriman kepada-Nya dan membenarkan perintah-Nya.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat24 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah ayat 7

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 7خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌArtinya:“Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.”Makna KhatamaDi sini, khatama artinya menutup atau mengunci.Mereka ini seperti sudah distempel. Maksudnya, tidak ada lagi perubahan. Mau diberi nasihat, sudah tertutup; tidak bisa terbuka atau tidak peduli. Hati mereka tertutup.Mereka diberi tahu, tetapi tidak mendengar.Kita berdoa semoga Allah membuka hati mereka dan memberikan hidayah. Tetapi kalau sudah ditutup oleh Allah, yakni orang kafir yang hatinya telah distempel, sampai kapan pun mereka tidak mendapatkan hidayah.Jadi, ini menunjukkan bahwa orang kafir yang belum distempel atau belum dicap hatinya masih mungkin mendapatkan hidayah. Tetapi jika Allah sudah menjelaskan bahwa hati mereka telah distempel atau ditutup, mereka tidak mungkin mendapatkan hidayah.Hati, Pendengaran, dan Penglihatan yang TertutupDi sini pendengaran dan penglihatan mereka tertutup sehingga mereka tidak bisa melihat kebenaran.Kebenaran sudah ada di depan mata, tetapi mereka tidak bisa memahami.Allah berfirman:“Sungguh, Kami benar-benar telah memenuhi neraka Jahanam dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat. Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar.”Di sini Allah sudah menutup hati mereka.‘Adzabun ‘AzimKemudian Allah berfirman:وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Dan bagi mereka azab yang amat berat.”Kata ‘adzabun berbentuk nakirah atau tankir, yang salah satu tujuannya adalah untuk menunjukkan ta’zhim, yaitu pengagungan atau menunjukkan betapa besarnya sesuatu.Maksudnya, ini bukan azab sembarangan. Azabnya luar biasa, baik secara kualitas maupun kuantitas, dan hanya Allah yang mengetahuinya.Kata ‘azim artinya dahsyat atau luar biasa, yang semakin menekankan bahwa azab tersebut benar-benar sangat berat.Hati Adalah Pemimpin Anggota TubuhKata para ulama, Allah mendahulukan penyebutan qulub, yaitu hati.Penyebutan hati didahulukan karena hati sangat penting. Hati disebut sebagai malikul a‘dha’, yaitu raja atau pemimpin bagi anggota tubuh yang lainnya.Sehingga hati memiliki pengaruh yang luar biasa.Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Itulah hati.Namun, meskipun hati adalah pemimpin bagi anggota tubuh, anggota tubuh juga memiliki pengaruh terhadap hati.Dosa dan Noda Hitam pada HatiRasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika seorang hamba melakukan dosa, akan diberikan satu titik hitam pada hatinya.Jika ia bertaubat dan meninggalkan dosa tersebut, maka titik hitam itu dihapuskan.Namun, jika ia terus melakukan maksiat, maka noda hitam tersebut akan semakin bertambah hingga menutupi hatinya.Inilah yang perlu kita waspadai.Dosa yang dilakukan terus-menerus dapat membuat hati semakin tertutup dan semakin sulit menerima kebenaran.PenutupInilah sifat-sifat orang kafir yang dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 6–7.Sedangkan Allah menjelaskan sifat-sifat orang beriman dalam QS. Al-Baqarah ayat 1–5.Tinggal kita memilih, mana di antara kedua jalan tersebut yang akan kita tempuh.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat24 Agustus 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Anjuran menikah (Ayat 32-33)

Allah taala berfirman:وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ ۗ وَٱلَّذِينَ يَبۡتَغُونَ ٱلۡكِتَٰبَ مِمَّا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ فَكَاتِبُوهُمۡ إِنۡ عَلِمۡتُمۡ فِيهِمۡ خَيۡرٗا ۖ وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِيٓ ءَاتَىٰكُمۡ ۚ وَلَا تُكۡرِهُواْ فَتَيَٰتِكُمۡ عَلَى ٱلۡبِغَآءِ إِنۡ أَرَدۡنَ تَحَصُّنٗا لِّتَبۡتَغُواْ عَرَضَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ۚ وَمَن يُكۡرِههُّنَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ مِنۢ بَعۡدِ إِكۡرَٰهِهِنَّ غَفُورٞ رَّحِيمٞDan orang-orang yang tidak mampu kawin, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka 1, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu 2. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa ( itu) 3.Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Anjuran menikah (Ayat 32-33)Catatan kaki:210805. Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta kepada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi pembayaran itu dengan harta yang halal.210806. Untuk mempercepat lunasnya perjanjian itu, hendaklah budak-budak itu ditolong dengan harta­harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.210807. Maksudnya, Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi. Tafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:33)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Anjuran menikah (Ayat 32-33)Catatan kaki:210805. Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta kepada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi pembayaran itu dengan harta yang halal.210806. Untuk mempercepat lunasnya perjanjian itu, hendaklah budak-budak itu ditolong dengan harta­harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.210807. Maksudnya, Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.Dan orang-orang yang tidak mampu menikah karena miskin atau karena sebab yang lain, maka hendaknya ia tetap menjaga kesucian dirinya dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah sampai Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya dan memberikan kemudahan untuk menikah. Para budak baik wanita maupun lelaki yang ingin mengadakan perjanjian mukatabah dengan pemiliknya yakni mau membayar dengan sebagian harta yang mereka dapatkan kepada pemiliknya. Maka para pemilik budak tersebut hendaknya bersedia untuk membuat perjanjian mukatabah dengan budak yang dimilikinya jika ia melihat ada kebaikan di dalamnya. Yakni kebaikan secara akal dan ia mampu untuk bekerja serta kebaikan dalam agama. Dan hendaknya para pemilik budak tersebut memberikan sebagian hartanya kepada budaknya, atau mengurangi bayaran yang harus dibayar oleh budak yang mukatab. Kalian (para pemilik budak) tidak diperkenankan memaksa mereka untuk berbuat zina dengan kalian agar para budak wanita tersebut mendapatkan harta. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi pada kalian, padahal mereka sebenarnya sangat ingin menjaga kehormatan mereka sedangkan kalian enggan memberikannya? Di dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang buruknya perbuatan mereka tersebut. Barangsiapa yang memaksa para budak wanita untuk berbuat zina, maka sesungguhnya Allah pasti akan mengampuni dan menyayangi para budak tersebut, dan dosanya akan ditanggung oleh orang yang memaksanya.Catatan tafsir:Diriwayatkan oleh Ibnus Sakan di dalam kitab Ma'rifatush Shahaabah, dari Abdullah bin Shubaih, yang bersumber dari bapaknya, bahwa Shubaih, hamba sahaya Huwaithib bin Abdul Uzzaa, meminta dimerdekakan dengan suatu perjanjian tertentu. Akan tetapi permohonannya ditolak. Maka turunlah ayat ini yang memerintahkan untuk mengabulkan permintaan hamba sahaya yang ingin merdeka dengan perjanjian tertentu.Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sufyan yang bersumber dari Jabir bin Abdillah, bahwa Abdullah bin Ubay menyuruh jariahnya (hamba sahaya wanita) melacur dan meminta bagian dari hasilnya. Maka turunlah kelanjutan ayat ini sebagai larangan memaksa jariah melacurkan diri untuk mengambil keuntungan.Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sufyan yang bersumber juga dari Jabir bin Abdillah, bahwa jariah Abdullah bin Ubay itu Masikah dan Aminah, yang keduanya mengadu kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam karena dipaksa melacur. Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.Diriwayatkan oleh Al Hakim dari Abuz Zubair yang bersumber dari Jabir bahwa Masikah itu jariah milik seorang Anshar. Ia mengadu kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bahwa tuannya memaksanya untuk melacur. Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.Diriwayatkan oleh Al Bazzar dan Ath Thabrani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Al Bazzar dengan sanad yang dhaif, yang bersumber dari Anas, dengan tambahan bahwa nama jariah itu Mu'adzah. bahwa Abdullah bin Ubay mempunyai seorang jariah yang suka disuruh melacur sejak jaman jahiliyyah. Ketika zina diharamkan, jariah itu tidak mau lagi melakukannya. Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai larangan untuk memaksa jariah melacur.Diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur dari Sya'ban, dari Amr bin Dinar, yang bersumber dari Ikrimah bahwa Abdullah bin Ubay mempunyai dua orang jariah, Mu'adzah dan Masikah. Keduanya ia paksa untuk melacurkan diri. Berkatalah salah seorang diantara kedua jariah tadi: "Sekiranya perbuatan itu baik, engkau telah mendapatkan hasil yang banyak dari perbuatan itu. Namun sekiranya perbuatan itu tidak baik, sudah sepantasnyalah aku meninggalkannya." Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.Sumber: Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A. Dahlan dkk.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comQS. An-Nūr: 33Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat24 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al-Mukhtashar, Al-Mujadilah (58:10)

Sesungguhnya bisik-bisik itu—yang mengandung dosa, permusuhan, dan kemaksiatan terhadap Rasul—adalah bagian dari upaya setan untuk memperindah yang buruk dan gangguannya terhadap para penolong-penolongnya, untuk memasukkan kesedihan ke hati orang-orang beriman bahwa mereka tertipu oleh setan.Setan dan upayanya untuk memperindah yang buruk itu sedikit pun tidak bisa menimpakan mudarat kepada orang-orang yang beriman kecuali dengan kehendak dan keinginan Allah.Hendaknya kepada Allah saja orang-orang yang beriman bersandar dalam segala urusan mereka.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat30 Agustus 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al A'raf:172

Tafsir Ibnu KatsirQS Al-Araf:172Allah subhanahu wata'āla menceritakan bahwa Dia telah mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbi mereka untuk mengadakan persaksian atas diri mereka bahwa Allah adalah Tuhan dan Pemilik mereka, dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. Sebagaimana Allah subhanahu wata'āla menjadikan hal tersebut di dalam fitrah dan pembawaan mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'āla melalui firman-Nya:Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Ar Ruum:30)Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda:Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Riwayat lain menyebutkan: dalam keadaan memeluk agama ini (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau searang Majusi, seperti halnya dilahirkan hewan ternak yang utuh, apakah kalian merasakan (melihat) adanya cacat padanya?Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Iyad ibnu Himar bahwa Rasulullah ﷺ. telah bersabda:Allah subhanahu wata'āla berfirman, "Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yang hak), kemudian datanglah setan, lalu setan menyesatkan mereka dari agamanya dan mengharamkan kepada mereka apa-apa yang telah Aku halalkan kepada mereka.”Imam Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku As-Sirri ibnu Yahya, bahwa At-Hasan ibnu Abul Hasan pernah menceritakan hadis berikut kepada mereka, dari Al-Aswad ibnu Sari’, dari kalangan Bani Sa'd yang menceritakan bahwa ia ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ. sebanyak empat kali. Ia melanjutkan kisahnya, "Lalu kaum (pasukan kaum muslim) membunuh anak-anak sesudah mereka membunuh pasukannya. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ., maka hal itu terasa berat olehnya, kemudian beliau bersabda, 'Apakah gerangan yang telah terjadi pada kaum sehingga mereka tega membunuh anak-anak?' Maka ada seorang lelaki (dari pasukan kaum muslim) bertanya, 'Bukankah mereka adalah anak-anak orang-orang musyrik, wahai Rasulullah ﷺ.?' Rasulullah ﷺ. menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya orang-orang yang terpilih dari kalian pun adalah anak-anak orang-orang musyrik. Ingatlah, sesungguhnya tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan melainkan ia dilahirkan dalam keadaan suci. Ia masih tetap dalam keadaan suci hingga lisannya dapat berbicara, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi atau orang Nasrani'.” Al-Hasan mengatakan, "Demi Allah, sesungguhnya Allah subhanahu wata'āla telah berfirman di dalam Kitab-Nya:Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. hingga akhir ayat"Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Imran Al-Juni, dari Anas ibnu Malik r.a., dari Nabi ﷺ. yang telah bersabda: Dikatakan kepada seseorang dari kalangan ahli neraka pada hari kiamat nanti, "Bagaimanakah pendapatmu. seandainya engkau memiliki segala sesuatu yang ada di bumi, apakah engkau akan menjadikannya sebagai tebusan dirimu (dari neraka)?" Ia menjawab, "Ya." Allah subhanahu wata'āla berfirman, "Sesungguhnya Aku menghendaki dirimu hal yang lebih mudah daripada itu. Sesungguhnya Aku telah mengambil janji darimu ketika kamu masih berada di dalam sulbi Adam, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun, tetapi ternyata kamu menolak selain mempersekutukan Aku."Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahih-nya masing-masing melalui hadis Syu'bah dengan sanad yang sama.Hadis yang lain diketengahkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa:telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir (yakni Ibnu Hazim), dari Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ. yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengambil janji dari sulbi Adam a.s. di Nu'man tepat pada hari Arafah. Maka Allah mengeluarkan dari sulbinya semua keturunan yang kelak akan dilahirkannya, lalu Allah menyebarkannya di hadapan Adam, kemudian Allah berbicara kepada mereka secara berhadapan,Bukankah Aku ini Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi)." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (keesaan Tuhan), atau agar kalian tidak mengatakan..., sampai dengan firman-Nya, "...orang-orang yang sesat dahulu."Imam Hakim mengetengahkannya di dalam kitab Mustadrak melalui hadis Husain ibnu Muhammad dan lain-lainnya, dari Jarir ibnu Hazim, dari Kalsum ibnu Jubair dengan lafaz yang sama, lalu ia mengatakan bahwa hadis ini sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkan­nya.Imam Muslim berpegang kepada hadis ini karena ada Kalsum ibnu Jubair, dan ia mengatakan bahwa hadis ini telah diriwayatkan oleh Abdul Waris, dari Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, lalu ia menilainya mauquf (yakni hanya sampai kepada Ibnu Abbas).Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami ayahku (yaitu Hilal), dari Abu Hamzah Ad-Daba'i, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbinya seperti semut kecil dalam bentuk air mani.Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahi, telah menceritakan kepada kami Damrah ibnu Rabi'ah, telah menceritakan kepada kami Abu Mas'ud, dari Jarir yang menceritakan, "Anak lelaki Dahhak ibnu Muzahim meninggal dunia dalam usia enam hari. Dahhak berkata, 'Hai Jabir, apabila engkau letakkan anakku di dalam liang lahadnya, maka bukalah wajahnya dan lepaskanlah tali bundelannya, karena sesungguhnya anakku ini nanti akan diduduk­kan dan ditanyai.' Maka saya melakukan apa yang dipesankannya itu, Setelah saya selesai mengebumikannya, saya bertanya, 'Semoga Allah merahmatimu, mengapa anakmu ditanyai dan siapakah yang akan menanyainya.' Dahhak menjawab, 'Dia akan ditanyai mengenai perjanjian yang telah diikrarkannya semasa ia masih berada di dalam sulbi Adam.' Saya bertanya, 'Wahai Abul Qasim, apakah isi perjanjian yang telah diikrarkannya semasa ia masih berada di dalam sulbi Adam?' Dahhak menjawab, bahwa telah menceritakan kepadanya Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya Allah mengusap sulbi Adam, lalu mengeluarkan darinya semua manusia yang kelak akan diciptakan-Nya sampai hari kiamat. Kemudian Allah mengambil janji dari mereka, yaitu hendaknyalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Allah subhanahu wata'āla menyatakan pula bahwa Dialah yang akan menjamin rezeki mereka. Setelah itu Allah mengembalikan mereka ke dalam sulbinya. Maka hari kiamat masih belum akan terjadi sebelum dilahirkan orang (terakhir) yang telah melakukan perjanjian pada hari itu. Maka barang siapa dari mereka yang menjumpai perjanjian yang lain (yakni di dunia), lalu ia menunaikannya, niscaya perjanjian yang pertama bermanfaat baginya. Dan barang siapa yang menjumpai perjanjian yang lain, lalu ia tidak mengikrarkannya, maka perjanjiannya yang pertama tidak bermanfaat baginya. Dan barang siapa yang meninggal dunia ketika masih kanak-kanak sebelum menjumpai perjanjian yang lain, maka ia mati dalam keadaan berpegang kepada perjanjian pertama dan dalam keadaan fitrah (suci dari dosa)."Semua jalur periwayatan ini termasuk bukti yang menguatkan ke-mauquf-annya-hanya sampai kepada Ibnu Abbas.Hadis yang lain diketengahkan oleh Ibnu Jarir, disebutkan bahwa:telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Taibah, dari Sufyan ibnu Sa'id, dari Al-Ajlah, dari Ad-Dahhak, dari Mansur, dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. membacakan firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. Lalu beliau Saw. bersabda bahwa Allah mengambil mereka dari sulbinya sebagaimana ketombe diambil dari rambut kepala dengan sisir. Kemu­dian Allah berfirman kepada mereka: "Bukankah aku ini Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami)." Maka para malaikat berkata: Kami ikut bersaksi agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan.”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini."Ahmad ibnu Taibah ini nama julukannya adalah Abu Muhammad Al-Jurjani kadi Qaumis, dia adalah salah seorang ahlu zuhud, Imam Nasai mengetengahkan hadisnya di dalam kitab Sunnah-nya. Imam Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa hadisnya dapat dicatat. Ibnu Addi mengatakan Abu Muhammad Al-Jurjani banyak mengetengahkan hadis-hadis yang garib. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abdur Rahman ibnu Hamzah ibnu Mahdi, dari Sufyan As-Sauri, dari Mansur, dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Jarir, dari Mansur dengan sanad yang sama, dan riwayat ini lebih sahih kedudukannya.Hadis yang lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa:telah menceritakan kepada kami Rauh (yaitu Ibnu Ubadah), telah menceritakan kepada kami Malik, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Zaid ibnu Abu Anisah, bahwa Abdul Hamid ibnu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnul Khattab pernah menceritakan kepadanya, dari Muslim ibnu Yasar Al-Juhanni, bahwa Umar ibnul Khattab pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian ?” Mereka menjawab, 'Betul’ (Engkau Tuhan kami)., hingga akhir ayat. Maka Umar ibnul Khattab mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ. ditanya mengenai makna ayat ini, beliau Saw. menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya Allah subhanahu wata'āla menciptakan Adam a.s., kemudian mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya, dan mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya, Allah berfirman, "Aku telah menciptakan mereka untuk dimasukkan ke dalam surga. dan mereka hanya mengamalkan amalan ahli surga.” Kemudian Allah mengusap punggungnya lagi, lalu mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya, dan Allah berfirman, "Aku telah menciptakan mereka untuk neraka dan hanya amalan ahli nerakalah yang mereka kerjakan." Kemudian ada seorang lelaki yang bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang terjadi dengan amal itu? Rasulullah ﷺ, menjawab: Apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk surga, maka Allah menjadikannya beramal dengan amalan ahli surga, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan ahli surga, lalu Allah memasukkannya ke dalam surga berkat amal itu. Dan apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk neraka, maka Dia menjadikannya beramal dengan amalan ahli neraka, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan ahli neraka, lalu Allah memasukkannya ke neraka.Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dari Al-Qa'nabi, sedangkan Imam Nasai meriwayatkannya dalam kitab Tafsir­nya, dari Qutaibah, dan Imam Turmuzi di dalam kitab Tafsir-nya. meriwayatkannya dari Ishaq ibnu Musa, dari Ma'an. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Yunus ibnu Abdul A'la dari Ibnu Wahb. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Rauh ibnu Ubadah dan Sa'id ibnu Abdul Hamid ibnu Ja'far. Ibnu Hibban mengetengahkannya di dalam kitab Sahih-nya. melalui riwayat Abu Mus'ab Az-Zubairi. Semuanya dari Imam Malik ibnu Anas dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan, tetapi Muslim ibnu Yasar belum pernah mendengar dari Umar, hal yang sama telah dikatakan pula oleh Abu Hatim dan Abu Za’rah.Abu Hatim menambahkan, di antara keduanya —yakni antara Muslim ibnu Yasar dan Umar—terdapat Na'im ibnu Rabi'ah. Perkataan Abu Hatim ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab Sunnah-nya, dari Muhammad ibnu Musaffa, dari Baqiyyah dari Umar ibnu Ju'sum Al-Qurasyi, dari Zaid ibnu-Abu Anisah, dari Abdul Hamid ibnu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnul Khattab, dari Muslim ibnu Yasar Al-Juhami, dari Na'im ibnu Rabi'ah.Na'im ibnu Rabi'ah mengatakan bahwa ketika ia berada di hadapan Umar ibnul Khattab yang saat itu telah ditanya mengenai makna firman­Nya ini:Dan (ingadah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka.Lalu ia mengetengahkan asar ini.Menurut hemat kami, Imam Malik secara lahiriahnya sengaja meng­gugurkan nama Na'im ibnu Rabi'ah dari rentetan perawi hanyalah semata-mata karena keadaan Na'im tidak diketahui dan dia tidak mengenalnya, mengingat Na'im tidaklah dikenal kecuali melalui hadis ini. Karena itulah Imam Malik sering menggugurkan penyebutan sejumlah perawi yang tidak dikenalnya. Oleh sebab itu pulalah maka ia banyak me-mursal-kan hadis-hadis yang marfu dan me-maqtu-kan banyak hadis yang mausul.Hadis yang lain diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dalam tafsir ayat ini, bahwa:telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu Aslam, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. telah bersabda: Ketika Allah menciptakan Adam, maka Allah mengusap punggung Adam, lalu berguguranlah dari punggungnya semua manusia yang Dia ciptakan dari anak keturunannya sampai hari kiamat. Dan Allqh menjadikan di antara kedua mata setiap manusia dari sebagi­an mereka secercah nur (cahaya), kemudian Allah menampilkannya dihadapan Adam. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, siapakah mereka ini?" Allah berfirman, "Mereka adalah anak cucumu.” Adam melihat seorang lelaki dari mereka yang nur di antara kedua matanya mengagumkan Adam. Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, siapakah orang ini?” Allah berfirman, "Dia adalah seorang lelaki dari kalangan umat yang akhir nanti dari kalangan keturunanmu, ia dikenal dengan nama Daud.” Adam berkata, "Wahai Tuhanku, berapakah usianya yang telah Engkau tetapkan untuknya “Allah menjawab “Enam Puluh Tahun”. Adam Berkata, "Wahai Tuhanku, saya rela memberikan kepadanya sebagian dari usiaku sebanyak empat puluh tahun.” Ketika usia Adam telah habis, ia kedatangan malaikat maut, maka Adam berkata, "Bukankah usiaku masih empat puluh tahun lagi?” Malaikat maut menjawab.”Bukankah engkau telah berikan kepada anakmu Daud?” Ketika malaikat maut menjawabnya, maka Adam mengingkarinya, sehingga keturunannya pun ingkar pula. Adam lupa, maka keturunannya pun lupa pula. Adam berbuat kekeliruan, maka keturunannya pun berbuat kekeliruan pula.Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih. Imam Turmuzi telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ. Imam Hakim telah meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya. melalui hadis Abu Na'im Al-Fadl ibnu Dakin dengan sanad yang sama. Ia mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya di dalam kitab Tafsir-nya melalui hadis Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, bahwa ia menceritakan hadis ini dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Hurairah r .a., dari Rasulullah ﷺ. Lalu ia menuturkan hadis ini semisal dengan hadis di atas sampai ia menyebutkan:Kemudian Allah memperlihatkan mereka kepada Adam. dan Allah berfirman “Hai Adam Mereka adalah keturunanmu” Ternyata di antara mereka terdapat orang yang berpenyakit lepra, supak, buta, dan berpenyakit lainnya. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau lakukan ini terhadap keturunanku?” Allah berfirman, "Agar mereka mensyukuri nikmat-Ku.” Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, siapakah mereka yang saya lihat memiliki nur (cahaya) yang paling menonjol di kalangan mereka? Allah berfirman, "Mereka adalah para nabi dari keturunanmu, hai Adam."Hadis yang lain diriwayatkan oleh Abdur Rahman ibnu Qatadah An-Nadri, dari ayahnya, dari Hisyam ibnu Hakim r.a., bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ., "Wahai Rasulullah, apakah amal perbuatan itu baru muncul kemudian, ataukah telah ditetapkan oleh takdir sebelumnya?" Rasulullah ﷺ. bersabda:Sesungguhnya Allah telah mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka. Kemudian Allah meraup mereka dalam kedua telapak tangan-Nya, lalu berfirman, "Mereka ini adalah ahli surga, dan mereka ini adalah ahli neraka." Maka ahli surga dipermudahkan untuk mengamalkan amalan ahli surga, dan ahli neraka dimudahkan untuk mengamalkan amalan ahli neraka.Hadis yang lain diriwayatkan oleh Ja'far ibnuz Zubair yang orangnya daif, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:Setelah Allah menciptakan makhluk-Nya dan menetapkan takdir­Nya, maka Dia mengambil golongan kanan dengan tangan kanan-Nya dan golongan kiri dengan tangan kiri-­Nya. Allah berfirman, "Hai golongan kanan! " Mereka menjawab, "Kami penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan," Allah berfirman, "Bukankah Aku adalah Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Benar, ya Tuhan kami" Allah berfirman, "Hai golongan kiri!" Mereka menjawab, "Kami penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan.” Allah berfirman, "Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, "Benar, ya Tuhan kami.” Kemudian Allah mencampurkan mereka menjadi satu di antara sesama mereka. Maka ada yang bertanya kepada-Nya, "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau campur adukkan di antara sesama mereka?” Allah berfirman, "Amal perbuatan mereka datang sesudah itu, dan mereka masing-masing akan mengamalkan amalannya agar mereka nanti kelak di hari kiamat tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini'.” Kemudian Allah mengembalikan mereka ke dalam sulbi Adam.Hadis riwayat Ibnu Murdawaih.Asar yang lain diriwayatkan oleh Abu Ja'far Ar-Razi, dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b sehubungan dengan makna firman-Nya:Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka.Pada hari itu Allah mengumpulkan seluruh manusia yang akan ada sampai hari kiamat nanti, lalu Allah menjadikan mereka dalam rupanya masing-masing dan membuat mereka dapat berbicara hingga mereka dapat berbicara, kemudian Allah mengambil janji dan ikrar dari mereka: dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami).", hingga akhir ayat. Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku mempersaksikan terhadap kalian tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, dan Aku telah mempersaksikan Adam kakek moyang kalian terhadap kalian, agar kalian kelak di hari kiamat tidak mengatakan, 'Kami tidak mengetahui." Ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada Tuhan selain Aku dan tidak ada Rabb selain Aku, maka janganlah Engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Dan sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian rasul-rasul untuk memberikan peringatan kepada kalian akan janji dan ikrar-Ku ini, dan Aku akan menurunkan kepada kalian kitab-kitab-Ku." Mereka menjawab, "Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami dan Rabb kami, tidak ada Rabb dan tidak ada Tuhan selain Engkau." Pada hari itu mereka mengakui bersedia untuk taat, lalu Allah mengangkat kakek moyang mereka, Adam, dan Adam memandang mereka, maka ia melihat bahwa di antara mereka ada yang kaya, ada yang miskin, dan ada yang rupanya baik, ada pula yang tidak. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, mengapa tidak Engkau samakan hamba-hamba-Mu itu?" Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku suka bila dipanjatkan rasa syukur kepada Ku. Nabi Adam melihat adanya para nabi di antara mereka yang bagai­kan pelita karena memancarkan nur (cahaya), lalu mereka secara khusus diikat dengan janji lain, yaitu berupa risalah dan kenabian. Hal inilah yang diungkapkan oleh Allah subhanahu wata'āla dalam firman-firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi (Al Ahzab:7), hingga akhir ayat. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah. (Ar Ruum:30) Ini adalah seorang pemberi peringatan di antarapemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. (An Najm:56) Termasuk pula ke dalam pengertian ini firman Allah subhanahu wata'āla yang mengatakan: Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. (Al A'raf:102)Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata'āla mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbinya, lalu Dia memisahkan antara ahli surga dan ahli neraka di antara mereka. Adapun mengenai pengambilan kesaksian yang mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan mereka, maka tiada lain hanya terdapat di dalam hadis Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, juga dalam hadis Abdullah ibnu Amr. Kami telah menjelaskan bahwa keduanya mauquf, bukan marfu' seperti yang telah disebutkan di atas. Karena itulah ada sebagian ulama Salaf dan ulama Khataf yang mengatakan bahwa persaksian ini tiada lain adalah fitrah mereka yang mengakui keesaan Tuhan, seperti yang disebutkan di dalam hadis Abu Hurairah dan Iyad ibnu Himar Al-Mujasyi'i. Juga seperti yang disebutkan melalui riwayat Al-Hasan Al-Basri, dari Al-Aswad ibnu Sari', dan Al-Hasan menafsirkan ayat ini dengan pengertian tersebut. Mereka mengatakan bahwa karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam.tidak disebutkan dari Adam.Dari sulbi mereka.tidak disebutkan dari sulbinya (Adam)....anak cucu mereka.Yakni Allah menjadikan keturunan mereka generasi demi generasi, satu kurun demi satu kurun, sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat-ayat lain, yaitu:Dia-lah yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di muka bumi. (Faathir':39)dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi. (An Naml:62)sebagaimana Dia menjadikan kalian dari keturunan orang-orang lain. (Al An'am:133)Kemudian Allah subhanahu wata'āla berfirman:Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami)."Maksudnya, Allah menjadikan mereka menyaksikan hal tersebut secara keadaan dan ucapan. Kesaksian itu adakalanya dilakukan dengan ucapan, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah subhanahu wata'āla:Mereka berkata, "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.(Al An'am:130)Adakalanya pula dilakukan dengan keadaan (yakni dengan sikap dan perbuatan), seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah subhanahu wata'ālaTidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. (At Taubah:17)Artinya, sedangkan keadaan mereka atau sikap dan perbuatan mereka menunjukkan kekafiran mereka, sekalipun mereka tidak mengatakannya. Demikianlah pengertian yang terkandung di dalam firman Allah subhanahu wata'āla:dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkaran­nya. (Al-'Adiyat: 7)Demikian pula permintaan, adakalanya dengan ucapan, adakalanya dengan keadaan (sikap dan perbuatan), seperti pengertian yang ter­kandung di dalam firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya (Ibrahim:34)Mereka mengatakan bahwa di antara dalil yang menunjukkan bahwa makna yang dimaksud dengan 'persaksian ini' adalah fitrah, yakni bila hanya persaksian saja yang dijadikan hujah terhadap kemusyrikan mereka, seandainya memang keadaannya demikian, maka niscaya yang terkena hujah hanyalah orang-orang yang telah mengucapkannya saja.Dan jika dikatakan bahwa penyampaian Rasulullah ﷺ. akan ketauhidan Allah sudah cukup untuk dijadikan bukti bagi keberadaan kesaksian ini, maka sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa orang-orang yang mendustakan-Nya dari kalangan kaum musyrik, mendusta­kan pula semua apa yang telah disampaikan oleh para rasul lainnya, baik yang menyangkut hal ini (keesaan Tuhan) ataupun masalah lainnya. Maka hal ini menjadikannya sebagai hujah tersendiri terhadap diri mereka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna yang dimaksud dari 'persaksian ini' adalah fitrah yang telah ditanamkan di dalam jiwa mereka menyangkut masalah ketauhidan Allah. Karena itulah disebutkan didalam firman Nya:agar kalian tidak mengatakan.Maksudnya, agar di hari kiamat kelak, kalian tidak mengatakan:Sesungguhnya kami (bani Adam) terhadap ini.Yakni terhadap masalah tauhid atau keesaan Allah ini.adalah orang-orang yang lengah, atau agar kalian tidak mengata­kan, "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan., hingga akhir ayat.

💬 0 komentar📅 21 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat23 Agustus 2026
R

Rachmatika

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Tafsir Al Muyassar Al Baqarah:46

Tema: PERINGATAN ALLAH KEPADA BANI ISRAIL (Ayat 40-141)Subtema: Beberapa perintah dan larangan Allah kepada Bani Israil (Ayat 40-48)Minta tolonglah kalian dalam setiap urusan kalian dengan berbagai macam kesabaran dan juga dengan melaksanakan salat. Sesungguhnya, hal itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang takut kepada-Nya, mengharapkan apa yang ada di sisi-Nya dan meyakini bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhannya setelah kematian serta meyakini bahwa mereka semua akan kembali kepada-Nya pada hari kiamat untuk dihisab dan dibalas.

💬 0 komentar📅 21 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat22 Agustus 2026
M
marni

📍 Kabupaten Bogor

SIKAP KAUM MUSYRIKIN TERHADAP KERASULAN MUHAMMAD SERTA WAHYU YANG DIBAWANYA DAN PENOLAKAN AL-QUR'AN TERHADAPNYA

Tafsir Al-MuyassarAl-Anbiya (21:9)Tema: SIKAP KAUM MUSYRIKIN TERHADAP KERASULAN MUHAMMAD SERTA WAHYU YANG DIBAWANYA DAN PENOLAKAN AL-QUR'AN TERHADAPNYA (Ayat 1-20)Kemudian Kami penuhi apa yang telah Kami janjikan kepada para Nabi dan pengikut mereka berupa pertolongan dan keselamatan, dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka dengan kekafiran mereka kepada Rabb mereka.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 21 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat22 Agustus 2026
N
Nailah

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Qs : Ar-Rahman : 19

Tafsir At-TaysirTema: BEBERAPA NIKMAT ALLAH YANG DAPAT DIRASAKAN DI DUNIA (Ayat 1-30)Allah membiarkan dua laut bertemu. Di dalam ayat ini Allah menyebutkan (الْبَحْرَيْنِ) artinya adalah dua laut. Maksudnya adalah sebagaimana yang telah disebutkan di dalam ayat lain bahwa dua laut itu adalah laut asin dan sumber mata air yang tawar, seperti danau, sungai dan semisalnya

💬 0 komentar📅 21 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat22 Agustus 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

Tadabbur Qs Yunus: 10

Kadang, kedekatan kepada Allah terasa lebih kuat ketika sedang membutuhkan. Saat susah, doa terasa begitu panjang, tetapi ketika keadaan kembali baik, perhatian perlahan bisa kembali tersita oleh urusan dunia.Padahal, di saat lapang pun hati tetap membutuhkan Allah. Bukan hanya ketika sesuatu terasa berat, tetapi juga ketika semuanya berjalan baik-baik saja.Semoga hati tetap dekat dengan Allah dalam setiap keadaanc berdoa ketika sempit, bersyukur ketika ditolong, dan menjaga ketaatan ketika lapang. Karena yang dibutuhkan bukan hanya pertolongan Allah, tetapi Allah dalam setiap keadaan.

💬 0 komentar📅 21 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat21 Agustus 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Al baqarah 21-22

Perintah untuk menyembah Allah semata karena Dialah yang telah menciptakan manusia.Semoga penyembahan itu bisa menjadi penghalang antara kalian dan azabnya dg cara menjalani peritah Allah dan menjauhi larangan Allah.Allah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat kita berpijak dan langit di atasnya dengan bangunan yang kokoh.Allahlah yang memberinkenikmatan dengan menurunkan hujan sehingga dapat menumbuhkan beraneka ragam buah di bumi sebagai rezeki untuk manusia.

💬 0 komentar📅 21 Agu 2026Baca selengkapnya →