📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat20 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir al mukhtashar ali imran ayat 126-127

126. Dan tidaklah Allah menjadikan pemberian bantuan dan pengiriman Malaikat itu melainkan sebagai kabar gembira untuk menenangkan hati kalian. Jika tidak, sesungguhnya kemenangan itu sejatinya tidak bisa dicapai hanya dengan upaya-upaya lahiriah semacam itu. Tetapi, kemenangan itu sejatinya berasal dari sisi Allah Yang Maha Perkasa, yang tidak terkalahkan oleh siapapun, lagi Maha Bijaksana dalam menetapkan ketentuan dan syariat-Nya.127. Kemenangan yang kalian capai dalam perang Badar itu hendak dijadikan oleh Allah sebagai sarana untuk membinasakan sebagian orang kafir dengan cara membunuh mereka, dan menghinakan sebagian lainnya serta membuat mereka kecewa dengan kekalahan sehingga mereka kembali dengan membawa kegagalan dan kehinaan.

💬 0 komentar📅 20 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat20 Oktober 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Ibnu Katsir | Surat Yunus : 45

Terjemahan :“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.”Ibnu Katṡīr menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan betapa singkatnya kehidupan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Ketika manusia melihat hari kiamat, dunia terasa seperti hanya berlangsung sebentar—seperti satu sore, satu pagi, atau satu hari.Beliau juga menjelaskan bahwa manusia tetap saling mengenali: anak mengenali ayahnya, kerabat mengenali kerabatnya, dan seseorang mengenali orang lain sebagaimana di dunia. Akan tetapi, setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri.Pengenalan fisik dan hubungan duniawi itu tidak lagi memberikan manfaat kepada orang-orang yang mendustakan Allah. Mereka telah kehilangan diri dan keluarga mereka pada hari kiamat. Itulah kerugian yang nyata dan paling besar.

💬 0 komentar📅 20 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Oktober 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS Al Ankabut: 69

Tema: Petunjuk bagi mereka yang bersungguh-sungguhTafsir singkat: Allah menjanjikan petunjuk kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan-Nya. Kesungguhan tersebut mencakup perjuangan dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.Renungan: Tidak semua jawaban harus ditemukan sebelum melangkah. Terkadang, kita baru memahami arah setelah berusaha mendekat kepada Allah. Jangan menunggu semuanya jelas untuk mulai memperbaiki diri.

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat24 Oktober 2026
M
marni

📍 Kabupaten Bogor

PERMUSUHAN DAN GODAAN SETAN TERHADAP MANUSIA (Ayat 11-58)a

Allah taala berfirman:يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ قَدۡ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكُمۡ لِبَاسٗا يُوَٰرِي سَوۡءَٰتِكُمۡ وَرِيشٗا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ ۚ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَHai anak Adam1, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan . Dan pakaian takwa2 itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.Subtema: Peringatan Allah terhadap godaan setan (Ayat 26-30)Catatan kaki:210300. Maksudnya ialah umat manusia.210301. Maksudnya ialah selalu bertakwa kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.QS. Al-'A`rāf: 26Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat20 Oktober 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Ali imran 1 & 2

Alif Lãm Mim. Huruf-huruf yang terpisah-pisah seperti ini sudah ada sebelumnya pada surah Al-Baqarah. Di dalam huruf-huruf ini terkandung isyarat bahwa bangsa Arab tidak mampu membuat tandingan Al-Qur'än, meskipun Al-Qur'än yang tersusun dari huruf-huruf pembuka surah-surah ini ialah huruf-huruf yang mereka gunakan dalam susunan ucapan mereka.Allah adalah Zat yang tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia, tanpa selain-Nya; Yang Mahahidup dengan kehidupan yang sempurna, tidak ada kematian bagi-Nya dan tidak ada kekurangan bagi-Nya; Yang Maha Mengurus segala sesuatu sendirian, tidak membutuhkan bantuan dari satu pun makhluk-Nya, karena Dialah semua makhluk ini bisa berdiri sehingga mereka semua senantiasa membutuhkan-Nya dalam kondisi apa pun juga

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Oktober 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Tafsir Ibnu Katsir Qs. An Nisa 31

An-Nisa ayat 31 mengajarkan keseimbangan antara takut terhadap dosa dan berharap kepada rahmat Allah. Jangan meremehkan dosa besar, tetapi jangan pula berputus asa dari ampunan-Nya.Allah berfirman:“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”Ayat ini mengandung dua janji Allah bagi hamba yang menjauhi dosa-dosa besar, yaitu penghapusan dosa-dosa kecil dan masuk ke tempat yang mulia, yaitu surga

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Oktober 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

An nahl

Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan mereka menyatakan ketundakannya kepada Allah pada hari itu.Qatadah dan Ikrimah mengatakan bahwa mereka (sembahan-sembahan itu) menyatakan ketundukan dan penyerahan dirinya kepada Allah pada hari itu. Dengan kata lain, mereka semua tunduk kepada Allah, dan tiada seorang pun melainkan tunduk patuh kepada-Nya. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajam­nya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada kami. (Maryam:38)Artinya, pada hari itu pendengaran mereka sangat terang dan penglihatan mereka sangat tajam.Dan Allah subhanahu wata'āla telah berfirman:Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kalian melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar." (As Sajdah:12), hingga akhir ayat.Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). (Thaahaa:111)Yakni tunduk, merasa hina, diam serta berserah diri.Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan.Maksudnya, surut dan lenyaplah semua sembahan yang mereka ada-adakan terhadap Allah. Maka tiada yang dapat menolong mereka, tiada yang dapat membantu mereka, dan tiada yang dapat melindungi mereka. Kemudian dalam firman selanjutnya Allah subhanahu wata'āla berfirman:Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Kami tambahkan kepada mereka siksaan. (An Nahl:88), hingga akhir ayat.Yakni azab atas kekafiran mereka dan azab karena menghalangi manusia dari mengikuti perkara yang hak, sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri darinya. (Al-An'am : 26)Mereka mencegah manusia dari mengikuti perkara yang hak, dan mereka sendiri menjauh dari perkara yang hak.dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari. (Al An'am:26)Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir itu berbeda-beda dalam menerima azabnya. Sebagaimana orang-orang mukmin, berbeda-beda tingkatannya di dalam surga, begitu pula derajat (kedudukan)nya. Seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'āla dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:Allah berfirman, ''Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui." (Al A'raf:38)Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Suraij ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy. dari Abdullah ibnu Murrah, dari Masruq, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan. (An Nahl:88) Mereka diberi siksaan tambahan, yaitu dengan kalajengking yang taring-taringnya sebesar pohon kurma yang tinggi.Telah menceritakan pula kepada kami Suraij ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Al-Hasan, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan. (An Nahl:88) Bahwa siksaan tambahan itu diadakan di lima buah sungai yang terletak di bawah 'Arasy, pada sebagiannya mereka disiksa di malam hari, dan pada sebagian yang lainnya mereka disiksa di siang hari.

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Oktober 2026
R

Rahaf Fathullah

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Pengamalan ayat dari surat an nisa

1️⃣ Pembunuhan adalah dosa yang luar biasa besar, bagaimana bisa sebagian orang menganggapnya enteng?!2️⃣ Seorang muslim melihat saudaranya yang lalai dengan pandangan rahmah, mengingat bahwa dirinya pun tidak luput dari kelalaian dan kekurangan3️⃣ Renungilah keadaanmu sebelum Allah beri hidayah, betapa besar nikmat Allah dan karunia-Nya

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Oktober 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 38

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Kami berfirman, ‘Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.’”Konteks Ayat Ayat ini melanjutkan kisah Adam, istrinya, dan Iblis setelah terjadi pelanggaran terhadap larangan Allah. Allah memerintahkan mereka untuk turun dari tempat sebelumnya menuju kehidupan dunia. Menurut para mufasir, seruan “turunlah kamu semuanya” tidak hanya ditujukan kepada Adam dan Hawa, tetapi juga mencakup Iblis. Dalam cakupan maknanya, keturunan Adam juga termasuk karena merekalah yang akan menjalani kehidupan dunia dan menerima petunjuk Allah. Al-Qur’an tidak menutup kisah kejatuhan Adam dengan keputusasaan. Setelah menyebut perintah turun, Allah langsung menyebut jalan keselamatan: “Jika datang petunjuk-Ku kepadamu…” Dengan demikian, dunia bukan sekadar tempat hukuman, tetapi juga tempat ujian, penerimaan petunjuk, dan kesempatan untuk kembali kepada Allah.Tafsir al-Muyassarmenjelaskan bahwa Allah memerintahkan mereka turun dari surga bersama-sama. Kepada Adam dan keturunannya akan datang petunjuk Allah yang mengarahkan mereka kepada kebenaran. Siapa yang mengamalkan petunjuk itu, tidak akan dikuasai ketakutan terhadap masa depan akhirat dan tidak bersedih atas perkara dunia yang telah berlalu.Ini menunjukkan bahwa petunjuk Allah bukan hanya pengetahuan, melainkan sesuatu yang diamalkan. Ayat tidak mengatakan sekadar “mengetahui petunjuk-Ku”, tetapi: — barang siapa mengikuti petunjuk-Ku.

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Oktober 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Tafsir surat al-furqan:73

Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). (Al Furqaan:74)Mereka adalah orang-orang yang memohon kepada Allah agar dikeluarkan dari sulbi mereka keturunan yang taat kepada Allah dan menyembah­Nya semata, tanpa mempersekutukan-Nya.Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka ingin memperoleh keturunan yang selalu mengerjakan ketaatan kepada Allah sehingga hati mereka menjadi sejuk melihat keturunannya dalam keadaan demikian, baik di dunia maupun di akhirat.Ikrimah mengatakan, mereka tidak bermaksud agar beroleh keturunan yang tampan, tidak pula yang cantik, tetapi mereka menginginkan keturunan yang taat.Al-Hasan Al-Basri pernah ditanya tentang makna ayat ini. Ia menjawab, "Makna yang dimaksud ialah bila Allah memperlihatkan kepada seorang hamba yang muslim istri, saudara, dan kerabatnya yang taat-taat kepada Allah. Demi Allah, tiada sesuatu pun yang lebih menyejukkan hati seorang muslim daripada bila ia melihat anak, cucu, saudara, dan kerabatnya yang taat-taat kepada Allah subhanahu wata'āla"Ibnu Juraij telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). (Al Furqaan:74) Yakni orang-orang yang menyembah-Mu dengan baik dan tidak menjerumuskan kami ke dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang.Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa mereka memohon kepada Allah agar Dia memberikan petunjuk kepada istri-istri mereka dan keturunan mereka untuk memeluk agama Islam.Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar ibnu Basyir, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Amr, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Jubair ibnu Nafir, dari ayahnya yang mengatakan, "Pada suatu hari kami duduk di majelis Al-Miqdad ibnul Aswad. Kemudian lewatlah seorang lelaki yang mengatakan kepadanya, 'Beruntunglah kedua matanya yang telah melihat Rasulullah ﷺ. Seandainya saja kami dapat melihat seperti apa yang telah dilihat matanya dan menyaksikan apa yang telah disaksikannya.' Maka Al-Miqdad marah sehingga membuat diriku terheran-heran, sebab lelaki tersebut tidak mengucapkan kata-kata kecuali yang baik-baik. Kemudian Al-Miqdad berpaling ke arah lelaki itu seraya berkata, 'Apakah gerangan yang membuat lelaki itu mengharapkan hal yang digaibkan oleh Allah darinya? Dia tidak mengetahui seandainya ditakdirkan dia menyaksikan masa itu (masa Nabi ﷺ.), apa yang bakal dilakukannya. Demi Allah, sesungguhnya banyak kaum yang semasa dengan Rasulullah ﷺ., tetapi Allah menyeret mereka ke dalam neraka Jahanam karena mereka tidak menyambut seruannya dan tidak pula membenarkannya. Apakah kalian tidak memuji kepada Allah karena Dia telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apa pun kecuali hanya Tuhan kalian seraya percaya kepada apa yang disampaikan kepada kalian oleh nabi kalian, sesungguhnya kalian telah ditolong dari musibah oleh selain kalian. Allah mengutusNabi-Nya di masa yang paling buruk yang pernah dialami oleh seseorang nabi, yaitu di masa Jahiliah. Orang-orang di masa itu tidak melihat adanya suatu agama yang lebih utama daripada agama yang menganjurkan menyembah berhala. Lalu datanglah Nabi dengan membawa Al-Qur'an yang membedakan antara perkara yang hak dan perkara yang batil, dan membedakan (hak) antara orang tua dan anak. Seorang lelaki yang telah dibukakan hatinya untuk beriman pasti akan yakin terhadap anaknya, orang tuanya, dan saudaranya yang masih kafir, bahwa jika mati mereka pasti masuk neraka. Dan pasti tidak akan senang hatinya bila mengetahui bahwa orang yang dikasihinya dimasukkan ke dalam neraka." Hal inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah subhanahu wata'āla: Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). (Al Furqaan:74)Sanad asar ini sahih, tetapi para ahli sunan tidak ada yang mengetengahkannya.Firman Allah subhanahu wata'āla:dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Furqaan:74)Ibnu Abbas, Al-Hasan As-Saddi, Qatadah, dan Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan bahwa yang dimaksud ialah para pemimpin yang mengikuti kami dalam kebaikan.Selain mereka mengatakan, yang dimaksud ialah para pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk dan para penyeru kebaikan, mereka menginginkan agar ibadah mereka berhubungan dengan ibadah generasi penerus mereka, yaitu anak cucu mereka. Mereka juga menginginkan agar hidayah yang telah mereka peroleh menurun kepada selain mereka dengan membawa manfaat, yang demikian itu lebih banyak pahalanya dan lebih baik akibatnya. Karena itulah disebutkan di dalam Sahih Muslim melalui hadis Abu Hurairah r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda:Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu anak saleh yang mendoakan (orang tua)nya, atau ilmu yang bermanfaat sesudah dia tiada, atau sedekah jariyah.

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Oktober 2026
A

AYU AAN KHARY M

📍 Kota Makassar

An naml 17

Dan dihimpun-kan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia, dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib." Maksudnya, bala tentaranya yang berjum-lah sangat besar dan bermacam-macam dari bangsa manusia, jin, setan dan burung-burung dikumpulkan. ﴾ فَهُمۡ يُوزَعُونَ ﴿ "Lalu mereka itu diatur dengan tertib," mereka diatur dan dirapikan serapi-rapinya dari yang awal hingga yang terakhir, dan mereka ditertibkan de-ngan sangat rapi dalam perjalanan, dalam waktu singgah dan dalam waktu ada di tempat tinggal serta waktu bepergian. Sulaiman sudah siap untuk itu dan telah mempersiapkan segalanya. Semua tentara tersebut tunduk kepada perintahnya, tidak mampu mendurhakai atau membangkang terhadapnya, sebagaimana dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا فَٱمۡنُنۡ أَوۡ أَمۡسِكۡ بِغَيۡرِ حِسَابٖ 39 ﴿ "Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab." (Shad: 39).

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Oktober 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al-Ma'arij: 26

Tafsir At-TaysirAl-Ma`ārij (70:26)Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ، وَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ، إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya, sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya).” (QS. Al-Ma’arij : 26-28)Demikianlah ciri orang beriman. Dia yakin akan adanya hari pembalasan, dia tidak merasa aman dari azab Allah Subhanahu wa ta'ala, bahkan mereka tidak merasa percaya diri bisa masuk surga. Mereka adalah orang yang senantiasa mengedepankan raja’ dan khauf, yaitu di samping mereka mengharapkan surga mereka juga takut terhadap neraka. Maka sungguh heran jika ada orang yang menjamin dirinya masuk surga dan tidak akan masuk neraka. Padahal orang yang dijamin masuk surga, Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu sendiri masih takut dengan azab Allah Subhanahu wa ta'ala di akhirat kelak, padahal Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengatakan bahwa dirinya di surga. Akan tetapi meskipun demikian Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu tidak pernah merasa percaya diri dengan mengatakan kepada banyak orang bahwa dia akan masuk surga. Kalau Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang imannya sangat luar biasa dan Allah Subhanahu wa ta'ala telah ridha kepadanya saja masih takut, maka tentu kita yang lemah imannya justru harus lebih takut lagi akan azab Allah Subhanahu wa ta'ala.Para ulama menyebutkan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta'ala menyebutkan sifat-sifat ini sebagai bentuk pertentangan atas sifat-sifat orang kafir. Sebagaimana telah disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya bahwasanya sifat-sifat orang kafir di antaranya adalah mengumpulkan harta dan pelit, adapun orang beriman mereka dermawan kepada orang yang meminta dan yang tidak meminta. Orang-orang kafir menganggap bahwa hari kiamat adalah mustahil dan azab tidak akan mereka dapatkan di dunia dan di akhirat, adapun orang-orang beriman meyakini bahwa kari kiamat pasti terjadi dan tidak merasa aman dari azab Allah Subhanahu wa ta'ala. Oleh karenanya sifat-sifat yang Allah Subhanahu wa ta'ala ini merupakan kebalikan dari sifat orang-orang kafir.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

#JejakAyat QS. Al-Ḥujurāt: 12

QS. Al-Ḥujurāt: 12يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌArtinya:“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."Makna Umum AyatAyat ini ditujukan kepada orang-orang beriman, sehingga larangan-larangannya berkaitan erat dengan kesempurnaan persaudaraan iman. Allah melarang tiga perkara yang sering muncul secara berurutan:Prasangka buruk dalam hati.Tajassus, yaitu mencari-cari aib dan rahasia orang lain.Ghibah, yaitu menyebutkan keburukan seseorang ketika ia tidak hadir.Ketiganya dapat membentuk satu rantai:Prasangka buruk → mencari bukti atau aib → membicarakan aib tersebut.Karena itu, ayat tidak hanya melarang ucapan ghibah, tetapi juga menutup pintu-pintu yang mengantarkan kepadanya.Penjelasan Tafsir Para Mufasir“Jauhilah kebanyakan prasangka”As-Sa‘di menerangkan bahwa prasangka buruk yang menetap di dalam hati sering tidak berhenti sebagai lintasan batin. Ia dapat mendorong seseorang mengucapkan sesuatu yang tidak pantas, membenci saudaranya, bahkan memusuhinya.Dengan demikian, ayat mengajarkan:Jangan menjadikan dugaan sebagai fakta.Jangan menilai niat orang lain tanpa bukti.Jangan membangun sikap permusuhan hanya berdasarkan kemungkinan.Jika terdapat beberapa kemungkinan, jangan langsung memilih kemungkinan yang paling buruk.“Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang”Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tajassus berkaitan dengan mencari-cari aurat dan aib kaum Muslimin. Beliau juga membawakan perkataan Abdullah bin Mas‘ud:“Kami telah dilarang dari tajassus. Jika sesuatu tampak kepada kami, kami akan mengambil tindakan berdasarkan apa yang tampak itu.”Maksudnya, seseorang tidak boleh sengaja menyelidiki dosa yang tersembunyi. Tetapi apabila suatu pelanggaran tampak secara jelas, maka perkara itu dinilai berdasarkan bukti yang nyata, bukan berdasarkan pengintaian dan kecurigaan.“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain”Jadi:Jika keburukan itu benar-benar ada, tetapi orangnya tidak suka disebutkan, itu ghibah.Jika keburukan itu tidak ada, maka itu buhtan, yakni kedustaan dan tuduhan palsu.Jika disampaikan untuk mengadu domba, maka dapat menjadi namimah.Ibnu Katsir menyebut ghibah sebagai perkara yang diharamkan berdasarkan kesepakatan ulama, kecuali pada keadaan-keadaan tertentu yang dibenarkan syariat, seperti pengaduan orang yang dizalimi, meminta fatwa, memperingatkan dari bahaya yang nyata, atau memberikan informasi yang benar-benar diperlukan untuk kemaslahatan.Relevansi dalam kehidupanDalam Keluarga Jangan langsung menafsirkan diamnya pasangan, anak, atau saudara sebagai tanda kebencian, pengkhianatan, atau kemalasan. Tanyakan dengan baik sebelum menyimpulkan.Dalam Pertemanan Jangan mengubah potongan cerita menjadi tuduhan. Jika mendengar kabar buruk tentang seorang teman, jangan langsung menyelidiki atau menyebarkannya.Di Tempat KerjaEvaluasi pekerjaan seseorang berdasarkan fakta dan kebutuhan profesional, bukan berdasarkan rasa tidak suka atau prasangka terhadap niatnya.Di Media Sosial Menyebarkan tangkapan layar, dugaan, potongan video, atau cerita pribadi untuk mempermalukan seseorang dapat menjadi bentuk tajassus dan ghibah. Banyak orang membicarakan seseorang yang tidak hadir, sementara ribuan orang lain ikut menyebarkannya.Dalam MajelisJika pembicaraan berubah menjadi ghibah, seorang Muslim dapat:Menghentikan pembicaraan dengan cara yang bijak.Mengalihkan topik.Membela kehormatan orang yang dibicarakan.Meninggalkan majelis jika pembicaraan tidak berhenti.Dalam Menilai Tokoh atau Kelompok Ayat ini tidak melarang nasihat, kritik ilmiah, atau peringatan dari kesalahan yang nyata. Tetapi kritik harus dibangun di atas ilmu, keadilan, bukti, dan kebutuhan—bukan penghinaan, pengintaian, atau kenikmatan membongkar aib.Kesimpulan QS. Al-Ḥujurāt:12 membangun perlindungan berlapis terhadap kehormatan manusia:Bersihkan hati dari prasangka buruk.Jangan membongkar rahasia dan aib.Jangan menyebut keburukan orang yang tidak hadir.Ingat bahwa ghibah secara moral digambarkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati.Jika pernah terjatuh, segera bertobat, memperbaiki kerusakan, dan kembali kepada Allah.Ayat ini tidak mengajarkan sikap naif terhadap kejahatan, tetapi mengajarkan keadilan, kehati-hatian, tabayun, penjagaan kehormatan, dan pengendalian lisan.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Oktober 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS At Taubah : 36

Tafsir Al-MuyassarQS At Taubah :36Sesungguhnya bilangan bulan menurut hukum Allah dan yang telah ditetapkan di Lauhul Mahfudz ada dua belas bulan. Yaitu ketika Allah menciptakan langit dan bumi; dan di antara bulan-bulan tersebut ada empat bulan yang diharamkan (diharamkan berperang di dalamnya), yaitu bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Dan itulah agama yang lurus. Maka janganlah kalian menzalimi diri sendiri pada bulan-bulan itu, karena sangat diharamkannya itu, dan perbuatan zalim di bulan-bulan itu lebih berat dari bulan-bulan selainnya. Tapi bukan berarti perbuatan zalim pada selain bulan itu dibolehkan. Dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa menjadi pelindung dan penolong mereka.

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Oktober 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al Mukhtasar surah An Nahl ayat 37

Jika kamu -wahai Rasul- bersungguh-sungguh dengan segenap kemampuanmu mendakwahi mereka dan berusaha keras untuk memberi mereka hidayah dan melakukan sebab-sebabnya maka sesungguhnya Allah tidak membimbing orang yang Dia sesatkan kepada hidayah dan mereka tidak mempunyai satu pun yang menolong dan menepis azab dari diri mereka selain Allah.

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →