📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat30 Agustus 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al-Araf:179

Dan Kami telah menciptakan untuk neraka (yang didalamnya Allah akan mengazab orang-orang yang berhak mendapat azab di akhirat) banyak dari golongan jin dan manusia yang mempunyai hati, tapi tidak pernah dipakai untuk berfikir, sehingga tidak pernah mengharap pahala dan tidak pernah takut akan siksa. Mereka mempunyai mata, tapi tidak pernah dipakai untuk melihat ayat-ayat dan dalil-dalil Allah. Mereka mempunyai telinga, tapi tidak pernah dipakai untuk mendengar ayat-ayat dan dalil-dalil Allah sehingga mereka dapat merenunginya. Mereka itu seperti binatang yang tidak paham akan kalimat yang diucapkan kepadanya dan tidak paham apa yang dilihatnya, tidak berpikir dengan hatinya tentang kebaikan dan keburukan sehingga dia bisa membedakan antara keduanya. Bahkan mereka (manusia dan jin) itu lebih sesat dari binatang-binatang itu. Karena binatang masih dapat melihat apa yang bermanfaat dan berbahaya baginya dan mau mengikuti tuannya, sedangkan mereka tidak demikian. Mereka itulah orang-orang yang lalai dari iman kepada Allah dan taat kepada-Nya.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat30 Agustus 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS Yusuf: 86 — Kesedihan Nabi Yaqub

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ucapan Nabi Ya‘qub عليه السلام, “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku,” menunjukkan bahwa beliau mengadukan seluruh kesusahan dan penderitaannya hanya kepada Allah.Sedangkan kalimat “dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tidak mengetahuinya” dipahami sebagai bentuk harapan Ya‘qub terhadap kebaikan dari Allah. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Ya‘qub mengetahui mimpi Yusuf adalah benar dan Allah pasti akan mewujudkannya. Karena itu, meskipun secara lahiriah keadaan semakin berat, Ya‘qub tetap memiliki keyakinan bahwa apa yang Allah janjikan akan terjadi.Jadi, dalam penjelasan Ibnu Katsir, kesedihan Ya‘qub tidak menghilangkan harapannya kepada Allah. Beliau bersedih, tetapi tetap yakin bahwa Allah mengetahui dan akan mewujudkan sesuatu yang belum diketahui oleh orang-orang di sekitarnya.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat29 Agustus 2026
R

Rachmatika

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Tafsir Al Muyassar Al Baqarah:44

Alangkah buruk keadaan kalian dan keadaan alim ulama kalian saat kalian memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan, sementara kalian membiarkan diri kalian sendiri. Kalian tidak mengajak diri kalian kepada kebaikan yang besar, yaitu Islam. Kalian membaca Taurat yang menjelaskan sifat-sifat Muhammad dan kewajiban beriman kepadanya. Apakah kalian tidak menggunakan akal pikiran kalian secara benar?

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
D
Daramatasia

📍 Kota Depok

Surah annisa hal 83

1 Rahmat Allah kpd hambah-hambahnya sangat luas.Dia menyukai mereka dan suja meringankan beban mereka.2 Syariat Islam melindungj hak-hak manusia3 Menjauhi dosa-dosa besar adalah penyebab masuk surga dan terampuninya dosa-dosa kecil4 Relah menerimah oemberian Allah dan tidak menginginkan apa yg ad ditangan orang lain akan menghindarkan seseorang dari perasaan iri hati maupun benci atas takdir Allah Ta’ala

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar Ali Imran 48-49

48 Allah lalu mengajarkan kepada-Nya tata cara menulis, ketepatan dan kebenaran dalam berbicara dan bertindak. Dia juga mengajarkan kepada-Nya Kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa -‘alaihissalām- dan mengajarkan kepada-Nya Kitab Injil yang akan diturunkan kepadanya.49 Allah juga menjadikannya rasul bagi Bani Israil. Dia mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kalian. Aku datang kepada kalian dengan membawa tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran kenabianku, yaitu aku bisa membuat sesuatu dari tanah liat dengan bentuk seperti burung kemudian aku tiup benda itu dan langsung berubah menjadi burung hidup dengan izin Allah, aku bisa menyembuhkan orang yang lahir dalam keadaan buta hingga dia bisa melihat dengan jelas, aku bisa menyembuhkan orang yang sakit lepra sehingga kulitnya bisa sembuh seperti sedia kala, dan aku bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Semua itu terjadi dengan izin Allah. Aku juga mampu memberitahukan kepada kalian tentang apa yang kalian makan dan apa yang kalian sembunyikan di rumah kalian. Sesungguhnya hal-hal ajaib yang aku sebutkan pada kalian ini, yang tidak mampu dilakukan oleh manusia; benar-benar menunjukkan tanda-tanda yang nyata bahwa aku adalah utusan Allah untuk kalian, jika kalian ingin beriman dan percaya kepada bukti kebenaran.---

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

SABAR

pada ayat 26 : Allah Swt. memerintahkan untuk berbuat adil dalam qisas (pembalasan) dan seimbang dalam menunaikan hak, seperti yang disebutkan dalam riwayat Abdur Razzaq, dari As-Sauri, dari Khalid, dari Ibnu Sirin yang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:{فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ}maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.Rasulullah Saw. bersabda: Kami akan bersabar dan tidak akan membalas.Ayat ini mempunyai persamaan dengan ayat-ayat lain, yang intinya mengandung perintah untuk bersikap adil dan dianjurkan bersikap pemurah (memaaf), seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:{وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا}Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. (Asy-Syura: 40)Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:{فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ}maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. (Asy-Syura: 40), hingga akhir ayat.Adapun firman Allah Swt.:{وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلا بِاللَّهِ}Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah. (An-Nahl: 127)Hal ini mengukuhkan perintah bersabar, sekaligus sebagai pemberitaan bahwa kesabaran itu tidak dapat diraih melainkan berkat kehendak Allah dan pertolongan-Nya, serta berkat upaya dan kekuatan-Nya. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:{وَلا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ}dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka. (An-Nahl: 127)Yakni terhadap orang-orang yang menentangmu, karena sesungguhnya Allah telah menakdirkan hal tersebut.{وَلا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ}Adapun firman Allah Swt.:{الَّذِينَ اتَّقَوْا}orang-orang yang bertakwa. (An-Nahl: 128) Maksudnya, orang-orang yang meninggalkan hal-hal yang diharamkan.{وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ}dan orang-orang yang berbuat kebaikan.Yakni orang-orang yang mengerjakan ketaatan. Mereka adalah orang-orang yang dijaga oleh Allah, dipelihara-Nya, ditolong-Nya, didukung­Nya, dan dimenangkan-Nya atas musuh-musuh mereka dan orang-orang yang menentang mereka.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

QS. Ar-Ra’d: 18 — Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir

1. Dua golongan manusia dan tempat kembali merekaAyat ini menjelaskan bahwa manusia pada akhirnya terbagi menjadi dua golongan:Orang-orang yang memenuhi seruan AllahOrang-orang yang tidak memenuhi seruan AllahPerbedaan pilihan mereka di dunia akan menentukan balasan dan tempat kembali mereka di akhirat.2. Orang yang memenuhi seruan AllahAllah berfirman tentang orang-orang yang memenuhi seruan-Nya.Menurut Tafsir Ibnu Katsir, memenuhi seruan Allah berarti:Taat kepada Allah dan Rasul-NyaTunduk terhadap perintah AllahMembenarkan berita yang Allah sampaikanMeyakini perkara yang telah terjadi maupun yang akan datang sebagaimana diberitakan AllahMenjalankan iman dengan ketaatan dan amal salehJadi, memenuhi seruan Allah bukan hanya sekadar mengetahui atau mengakui kebenaran, tetapi menerimanya dengan ketundukan dan ketaatan.3. Balasan mereka adalah pahala yang baikBagi orang-orang yang memenuhi seruan Allah, Allah menyediakan:“Pembalasan yang baik.”Artinya, mereka akan mendapatkan pahala yang baik, yaitu kenikmatan dan keselamatan di akhirat.Ibnu Katsir mengaitkan makna ini dengan beberapa ayat lain, di antaranya kisah Zulqarnain dalam QS. Al-Kahfi ayat 87–88.Orang yang beriman dan beramal saleh akan mendapatkan pahala terbaik sebagai balasan.Hal yang sama juga terdapat dalam QS. Yunus ayat 26:Orang yang berbuat baik mendapatkan pahala terbaik dan tambahan.Dengan demikian, ketaatan kepada Allah tidak akan sia-sia. Setiap kebaikan akan mendapatkan balasan yang baik dari Allah.4. Orang yang menolak seruan AllahSebaliknya, Allah menyebutkan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan mereka.Menurut Ibnu Katsir, maksudnya adalah mereka yang:Tidak taat kepada AllahMenolak perintah-NyaTidak tunduk kepada-NyaMemilih jalan yang bertentangan dengan petunjuk AllahMereka akan menghadapi keadaan yang sangat berbeda dengan orang-orang yang taat.5. Harta tidak dapat menjadi tebusan di akhiratAllah menggambarkan keadaan mereka:Seandainya mereka memiliki seluruh kekayaan yang ada di bumi, bahkan ditambah sebanyak itu lagi, mereka akan rela memberikan semuanya untuk menebus diri dari azab Allah.Bayangkan seseorang memiliki seluruh harta dunia, tetapi pada saat itu harta tersebut tidak lagi dapat menyelamatkannya.Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pada hari kiamat, Allah tidak menerima harta sebagai tebusan bagi mereka.Artinya:Harta yang sangat banyak tidak dapat menggantikan iman dan ketaatan.Apa yang mungkin sangat bernilai di dunia menjadi tidak berarti ketika seseorang sudah berada di hadapan pengadilan Allah.6. Mereka mendapatkan “hisab yang buruk”Allah kemudian berfirman bahwa bagi mereka disediakan:“Hisab yang buruk.”Maksudnya, mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatan mereka.Tidak hanya perkara besar, tetapi juga perkara kecil maupun besar yang mereka lakukan.Ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak berlalu begitu saja.Setiap perbuatan memiliki konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.7. Hisab yang buruk berujung pada azabIbnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang benar-benar dimintai pertanggungjawaban dalam bentuk hisab yang buruk akan mendapatkan azab.Karena itu, ayat tersebut dilanjutkan dengan:“Tempat kediaman mereka ialah Jahannam.”Jahannam menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang menolak seruan Allah.Allah menutup ayat dengan penegasan:“Dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”Pesan tadabburAllah memberikan pilihan kepada manusia, tetapi setiap pilihan memiliki balasan.Kekayaan, harta, dan apa pun yang dimiliki manusia di dunia tidak dapat menjadi jaminan keselamatan di akhirat. Yang akan menentukan adalah iman, ketaatan, dan amal yang dilakukan selama hidup.Maka ayat ini mengingatkan kita agar jangan hanya mengejar sesuatu yang bernilai di dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk hari ketika semua harta tidak lagi dapat menjadi tebusan.Pertanyaan refleksi:Ketika Allah memanggil kita melalui perintah dan larangan-Nya, apakah kita termasuk orang yang memenuhi seruan-Nya atau justru berpaling darinya?Kesimpulan singkat:Penuhi seruan Allah → taat dan beriman → memperoleh pahala yang baik.Menolak seruan Allah → hisab yang buruk → azab Jahannam.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Ibnu Katsir QS. Taha : 7

Allah taala berfirman:وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ وَأَخۡفَىDan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (1) Catatan kaki:210682. Maksud ayat ini ialah tidak perlu mengeraskan suara dalam berdoa karena Allah mendengar semua doa itu, walaupun diucapkan dengan suara rendah.Tafsir Ibnu KatsirTaha (20:7)Tema: AL-QUR'AN DITURUNKAN SEBAGAI PERINGATAN BAGI MANUSIA (Ayat 1-8)Catatan kaki:210682. Maksud ayat ini ialah tidak perlu mengeraskan suara dalam berdoa karena Allah mendengar semua doa itu, walaupun diucapkan dengan suara rendah.Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.Yakni Al-Qur'an ini diturunkan oleh Tuhan yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:Katakanlah, "Al-Qur'an ini diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Furqaan:6)Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.Yang dimaksud dengan rahasia ialah apa yang disembunyikan oleh anak Adam dalam hatinya, sedangkan yang lebih tersembunyi ialah apa yang tidak diketahui oleh anak Adam, padahal ia yang mengerjakannya. Maka Allah mengetahui kesemuanya itu. Pengetahuan Allah tentang apa yang telah berlalu dari hal ini dan apa yang akan datang meliputi semuanya, dan semua makhluk bagi Allah dalam hal ini sama dengan salah satu dari mereka. Seperti yang disebutkan oleh Firman-Nya dalam ayatyang lain, yaitu:Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kalian (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. (Luqman:28)Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.Arti sirr ialah sesuatu yang dibicarakan olehmu dalam dirimu, sedangkan akhfa ialah sesuatu yang belum kamu bicarakan dalam dirimu.Sa'id ibnu Jubair mengatakan, "Anda mengetahui apa yang Anda rahasiakan hari ini, tetapi Anda tidak akan mengetahui apa yang bakal Anda rahasiakan keesokan harinya. Allah mengetahui apa yang Anda rahasiakan hari ini dan apa yang akan Anda rahasiakan keesokan harinya.Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Akhfa" bahwa yang dimaksud dengannya ialah bisikan hati. Dan ia serta Sa'id ibnu Jubair mengatakan pula bahwa akhfa artinya sesuatu yang dilakukan oleh manusia tanpa diniatkannya dahulu dalam hatinya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Al Baqarah: 26

RenungkanAllah tidak hanya memberikan petunjuk melalui perkara-perkara besar. Makhluk yang sangat kecil pun dapat menjadi tanda kebesaran dan hikmah-Nya.Perbedaannya bukan pada perumpamaannya, tetapi pada sikap hati orang yang mendengarnya.IntisariAllah ﷻ berhak membuat perumpamaan dengan apa saja yang Dia kehendaki.Orang beriman menerima firman Allah dengan yakin dan berusaha mengambil hikmah.Perumpamaan Al-Qur’an merupakan sarana petunjuk sekaligus ujian.Kesombongan dan kefasikan dapat menyebabkan seseorang berpaling dari petunjuk.Pengamalan Hari IniKetika menemukan ayat atau nasihat yang belum kita pahami, jangan langsung mempertanyakannya dengan sikap meremehkan. Tundukkan hati, cari penjelasannya, dan renungkan apa yang Allah ingin ajarkan kepada kita.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir Al Ahzab 11

Tafsir Ibnu KatsirAl-Ahzab (33:11)Tema: BANTUAN ALLAH KEPADA KAUM MUSLIMIN DALAM PERANG AHZAB (Ayat 9-25)Allah subhanahu wata'āla menceritakan keadaan tersebut, yaitu ketika golongan yang bersekutu bermarkas di sekitar Madinah, sedangkan kaum muslim terkepung oleh mereka dalam keadaan yang sangat terjepit dan sangat gawat. Dan Rasulullah ﷺ. ada di antara mereka, mereka mendapat ujian dan cobaan yang berat, dan mereka diguncangkan oleh guncangan yang sangat kuat. Maka pada saat itulah tampak kemunafikan dan berkatalah orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit nifak mengungkapkan apa yang terkandung di dalam diri mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'āla dalam firman-Nya:Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (Al Ahzab:12)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al-furqan:38

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:38)Tema: PELAJARAN DARI KISAH UMAT TERDAHULU (Ayat 35-44)Catatan kaki:210837. Ar-Ras adalah telaga yang sudah kering airnya. Kemudian, dijadikan nama suatu kaum, yaitu kaum Ar-Ras. Mereka menyembah patung, lalu Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengutus Nabi Syuʻayb ‘Alaihissalām kepada mereka.Firman Allah subhanahu wata'āla:dan (Kami binasakan) kaum 'Ad dan Samud dan penduduk Rass. (Al Furqaan:38)Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan kisah mengenai kaum Ad dan kaum Samud bukan hanya dalam satu surat, seperti dalam surat Al-A'raf, sehingga tidak perlu diulangi lagi dalam pembahasan ini.Adapun mengenai penduduk Rass, menurut Ibnu Juraij, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa mereka adalah penduduk suatu kota dari kalangan kaum Samud. Ibnu Juraij mengatakan, Ikrimah pernah mengatakan bahwa penduduk Rass bertempat tinggal di Falj, mereka adalah penduduk Yasin. Qatadah mengatakan bahwa Falj termasuk salah satu kota yang terletak di Yamamah.Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan berikut sanadnya melalui Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan penduduk Rass. (Al Furqaan:38) Rass adalah nama sebuah sumur yang terletak di Adzerbijan. As'-Sauri meriwayatkan dari Abu Bakar, dari Ikrimah, bahwa Rass adalah nama sebuah sumur, penduduk di sekitarnya mengebumikan nabi mereka di dalam sumur itu.Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda, "Sesungguhnya manusia yang mula-mula masuk surga kelak di hari kiamat adalah seorang hamba berkulit hitam. Demikian itu karena Allah subhanahu wata'āla mengutus seorang nabi kepada penduduk suatu kota, tiada yang beriman dari kalangan penduduk kota itu kecuali hamba yang berkulit hitam tersebut. Kemudian penduduk kota menangkap nabi mereka, lalu membuat sebuah sumur. Selanjutnya mereka melemparkan nabinya ke dalam sumur itu, kemudian mulut sumur itu mereka tutup dengan batu besar. Hamba itu setiap harinya berangkat mencari kayu, kemudian kayu itu ia panggul di atas pundaknya dan dijualnya kayu itu, hasilnya ia belikan makanan dan minuman. Kemudian ia membawa makanan dan minuman itu ke sumur tersebut. Lalu ia mengangkat batu besar itu dengan pertolongan dari Allah (hingga ia kuat mengangkatnya sendirian), kemudian ia mengulurkan makanan dan minuman itu ke dalam sumur. Setelah selesai, ia mengembalikan batu itu seperti sediakala. Demikianlah yang dilakukan oleh si hamba itu setiap harinya selama masa yang dikehendaki oleh Allah. Lalu pada suatu hari seperti biasanya ia mencari kayu. Setelah beroleh kayu, ia mengumpulkannya dan mengikatnya. Ketika hendak memanggulnya, tiba-tiba rasa kantuk berat menyerangnya. Ia berbaring sebentar untuk istirahat dan tertidur, maka Allah menjadikannya tertidur selama tujuh tahun. Setelah itu ia terbangun dan menjulurkan tubuhnya, lalu pindah ke sisi lambung yang lain, maka Allah menjadikannya tertidur lagi selama tujuh tahun berikutnya. Kemudian ia terbangun, lalu memanggul ikatan kayunya, sedangkan dia mengira bahwa dirinya hanya tidur selama setengah hari. Lalu ia datang ke kota dan menjual kayunya, lalu membeli makanan dan minuman seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia pergi menuju sumur tersebut yang di dalamnya terdapat seorang nabi yang disekap. Lalu ia mencarinya, tetapi ternyata ia tidak men­jumpainya. Tanpa diketahuinya kaumnya telah sadar, lalu mereka mengeluarkan nabi itu dari dalam sumur tersebut, dan mereka beriman kepadanya serta membenarkannya. Lalu Nabi itu menanyakan kepada mereka perihal si budak hitam, apa saja yang dilakukannya? Mereka menjawab, 'Kami tidak mengetahui,' hingga akhirnya nabi itu wafat. Sesudah itu si budak hitam tersebut terbangun dari tidurnya." Maka Rasulullah ﷺ. bersabda: Sesungguhnya budak hitam itu adalah orang yang mula-mula masuk surga.Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Ibnu Humaid, dari Salamah, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Ka'b secara mursal. Akan tetapi, di dalamnya terdapat garabah dan nakarah. Barangkali di dalam hadis terdapat idraj, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.Ibnu Jarir mengatakan, tidak boleh menakwilkan bahwa mereka adalah penduduk Rass yang disebut di dalam Al-Qur'an, karena Allah telah menceritakan perihal mereka, bahwa Allah telah membinasakan mereka, sedangkan yang disebut di dalam hadis ini mereka beriman dan percaya kepada nabinya. Terkecuali jika ditakwilkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah bapak-bapak mereka binasa, lalu keturunannya beriman kepada nabi mereka. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan penduduk Rass ialah orang-orang yang memiliki galian (parit), yaitu mereka yang disebut di dalam surat Al-Buruj. Hanya Allah­lah Yang Maha Mengetahui.Firman Allah subhanahu wata'āla:dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut. (Al Furqaan:38)Yakni umat-umat yang jumlahnya berkali lipat daripada mereka yang telah disebutkan, semuanya telah Kami binasakan.untuk prompt AI jika mau boleh menggunakan prompt ini:

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 25 Agustus

Tafsir Ibnu Katsir QS. Hūd: 77​Allah menceritakan kedatangan utusan malaikat kepada Nabi Luth setelah memberikan kabar kepada Nabi Ibrahim bahwa mereka akan membinasakan kaum Luth pada malam itu atas perintah Allah. Malaikat datang kepada Nabi Luth (di ladang miliknya atau di rumahnya) dalam rupa pemuda yang sangat tampan sebagai ujian dari Allah.​Penjelasan Potongan Ayatوَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا لُوطًا سِيٓءَ بِهِمۡ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعًا ​"Dan ketika utusan-utusan Kami (para malaikat) itu datang kepada Lut, dia merasa curiga dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka..."​Penjelasan: Ketampanan para tamu membuat Nabi Luth kerepotan dan merasa sesak dadanya. Ia khawatir jika tidak menerima mereka, kaumnya akan mengambil mereka dan berbuat buruk (fahsya) terhadap mereka.​ وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٌ ​"...dan Lut berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.'"​Penjelasan (Ibnu Abbas & lainnya): Makna 'asib adalah ujian yang sangat berat. Nabi Luthbmenyadari ia harus membela para tamunya dari kejahatan kaumnya, dan hal itu terasa sangat berat baginya.Riwayat & Detail Peristiwa​Kisah Riwayat Qatadah:​Malaikat menemui Nabi Luth a.s. di ladang miliknya. Karena merasa malu dan khawatir, Nabi Luth a.s. berjalan di depan mereka sambil berkata seolah memberi peringatan agar mereka pergi: "Demi Allah, hai kalian, aku belum pernah mengetahui di muka bumi ini suatu penduduk kota yang lebih kotor dan lebih jahat daripada mereka."​Nabi Luth a.s. mengulang perkataannya hingga empat kali. Para malaikat memang diperintahkan oleh Allah untuk tidak membinasakan kaum tersebut sebelum Nabi mereka memberikan kesaksian atas kejahatan kaumnya.​Kisah Riwayat As-Saddi:​Malaikat sampai di Sungai Sodom pada tengah hari dan bertemu putri Nabi Luth a.s. yang sedang memberi minum ternaknya.​Malaikat bertanya: "Hai gadis, apakah ayahmu ada di rumah?" Putri Nabi Luth a.s. menyuruh mereka menunggu agar tidak terlihat oleh kaumnya, lalu ia memberitahu ayahnya: "Hai ayah, susullah beberapa pemuda yang ada di pintu gerbang kota, aku belum pernah melihat wajah kaum yang setampan mereka, agar mereka tidak diculik oleh kaummu."​Meskipun sebelumnya dilarang oleh kaumnya untuk menerima tamu laki-laki, Nabi Luth a.s. memberanikan diri menemui dan menerima mereka.​Nabi Luth a.s. merahasiakan kedatangan mereka dari orang lain, tetapi istrinya keluar dan membocorkan keberadaan para tamu tampan tersebut kepada kaumnya. Akibatnya, kaumnya bergegas mendatangi rumah Nabi Luth a.s.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Ringkasan Al-Qalam 68:17–28

Ringkasan Al-Qalam 68:17–28Tema: Allah menimpakan cobaan kepada orang kafir seperti yang ditimpakan kepada pemilik kebunAyat 17–18: Allah memberi nikmat kepada para pemilik kebun, tetapi mereka tidak bersyukur. Dahulu ayah mereka yang saleh selalu menyisihkan hasil kebun untuk orang miskin. Setelah ayahnya meninggal, mereka berniat mengambil seluruh hasil panen dan tidak memberikan sedikit pun kepada fakir miskin.“وَلَا يَسْتَثْنُونَ” (68:18): Ditafsirkan sebagai tidak mengucapkan “insya Allah” karena terlalu yakin rencana mereka pasti terlaksana. Ada pula tafsiran: tidak menyisihkan bagian untuk orang miskin.Ayat 19–20: Saat mereka tidur, Allah mengirimkan azab kepada kebun tersebut. Kebun yang sebelumnya hijau dan penuh buah terbakar habis, hingga menjadi hitam seperti malam.Ayat 24: Pagi harinya mereka berangkat dengan penuh semangat sambil berbisik agar jangan sampai ada orang miskin yang mendapat hasil panen.Ironisnya, mereka sibuk merencanakan bagaimana menghalangi orang miskin, sementara kebun mereka sendiri telah hancur.Ayat 26–27: Ketika melihat kebun yang telah hitam, awalnya mereka mengira telah salah jalan. Setelah yakin bahwa itu kebun mereka, mereka sadar bahwa merekalah yang terhalangi dari hasil panen, bukan orang miskin.Ayat 28: Salah seorang dari mereka mengingatkan bahwa seharusnya mereka bertasbih kepada Allah, yaitu bersyukur, menaati perintah-Nya, dan tidak berniat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah, seperti menolak memberikan hak orang miskin.💡 Pelajaran utamaNikmat yang tidak disyukuri dan digunakan untuk berbuat zalim dapat menjadi sebab hilangnya nikmat tersebut.Allah mengajarkan bahwa:Jangan merasa pasti terhadap rencana masa depan tanpa mengaitkannya dengan kehendak Allah.Dan jangan sampai keserakahan membuat kita menghalangi hak orang lain, karena bisa jadi sesuatu yang kita pertahankan dengan pelit justru menjadi sebab Allah mencabut seluruh nikmat yang kita miliki.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Al Haqqah: 9

Tafsir At-TaysirAl-Qalam (68:9)Mereka orang-orang kafir Quraisy menginginkan agar Nabi ber-mudahanah, yaitu jika Nabi berhenti mencela sesembahan dan nenek moyang mereka, serta menghentikan dakwahnya, maka mereka juga akan berhenti dan tidak akan mencela Nabi ﷺ lagi sebagai orang gila. Artinya mereka memberi tawaran karena merasa terganggu ketika mereka disebut sebagai orang musyrik. Bahkan mereka mengatakan,إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ“(Orang-orang musyrikin berkata) Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf : 22)Akan tetapi Nabi ﷺ membantah mereka dengan mengatakan bahwa mereka itu sesat, dan nenek moyang mereka pun dahulu dalam kesesatan. Tentu hal ini hanya menambah kemarahan orang-orang musyrikin.Di hadapan kita ada istilah الْمُدَاهَنَةُ mudahanah dan الْمُدَارَاةُ mudarah. Mudahanah adalah mencari kemaslahatan duniawi dengan mengorbankan agama. Contohnya adalah seseorang yang ingin berteman dengan seorang kawannya yang bermain musik, maka dia ikut bermain musik agar bisa berteman dengan orang tersebut meskipun dia tahu akan haramnya musik. Misalnya pula warga di lingkungan tempat tinggal kita sering bermain judi, maka agar bisa enak bergaul dan mengobrol dengan mereka maka kita pun ikut bermain judi meskipun kita sadar bahwa judi itu haram. Misalnya lagi seseorang yang bertanya tentang bolehnya suatu perkara, maka kita pun memperbolehkan agar orang tersebut tidak marah, meskipun kita tahu hal tersebut tidak boleh dalam syariat. Inilah yang disebut dengan mudahanah, dan hal seperti ini tidak boleh dilakukan. Oleh karena itu, kita hendaknya menyampaikan syariat dengan sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, akan tetapi yang syirik tetap kita katakan sebagai syirik, yang bid’ah tetap kita katakan sebagai bid’ah, yang maksiat tetap kita katakan sebagai maksiat. Jangan kemudian kita ber-mudahanah sehingga yang maksiat kita katakan sebagai halal, yang bid’ah menjadi sunnah, dan yang syirik menjadi tauhid. Kita harus menyampaikan syariat Islam sesuai dengan apa yang Allah ﷻ kehendaki dan telah dijelaskan oleh Rasul-Nya, bukan syariat yang kita modifikasi dengan dalih agar diterima masyarakat. Tentunya hal syariat tersebut harus kita sampaikan seadanya, namun dengan kata-kata yang baik, serta dalil yang jelas.Mudaraah adalah mengorbankan sedikit dari kemaslahatan dunia demi untuk agama. Contoh mudarah adalah apabila ada orang yang memaki-maki kita maka kita tetap sikapi dengan sabar dan tetap berusaha mendekati hatinya agar dakwah tetap berlangsung. Hal seperti ini (mudarah) adalah hal yang dianjurkan. Contohnya seorang da’i yang sedang berbicara masalah tauhid, lalu para jemaahnya merokok di depannya sehingga sang da’i merasa terganggu dengan hal tersebut. Tetapi dia tetap bersabar menyampaikan dakwahnya, bahkan dia tetap bersabar meskipun kesehatannya tersebut terganggu, demi agar dakwah bisa sampai kepada orang tersebut. Ini adalah salah satu contoh sikap mudarah, mengorbankan sebagian maslahat duniawi demi kemaslahatan agama. Sikap mudarah adalah hal yang dibolehkan, adapun mudahanah adalah sikap yang tidak diperbolehkan. (30)Dalam kehidupan bermasyarakat, terkadang ada yang berbeda dengan kita. Maka kita boleh bersikap lembut kepada mereka tanpa harus mengatakan bahwa kesalahan mereka sebagai kebenaran. Bukan bersikap lembut kepada mereka dengan mengikuti kesalahan yang mereka lakukan. Kalau ada seseorang yang bermaksiat maka kita harus katakan itu sebagai maksiat, yang syirik tetap syirik, dan yang haram tetap haram. Jangan sampai karena slogan “toleransi” sehingga kita ikut-ikut dalam kemaksiatan mereka. Karena yang demikianlah yang disebut sebagai sikap ber-mudahanah, yaitu sikap yang diinginkan oleh orang-orang musyrikin terhadap Nabi ﷺ.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →