📍 Kota Depok
Materi 8
Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah (Bag. 4)Talbis Iblis dalam Ibadah HajiMelakukan haji sunnah (setelah gugur kewajiban hajinya) dalam keadaan tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Misalnya seseorang ingin berhaji lagi, padahal kedua orang tuanya tidak meridhainya karena mereka membutuhkan keberadaannya. Dalam keadaan seperti ini, berbakti kepada kedua orang tua lebih utama daripada melaksanakan haji sunnah.Karena itu Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa ini termasuk talbis iblis. Seseorang ingin melaksanakan haji sunnah, tetapi justru membuat kedua orang tuanya marah dan tersakiti.Haji, bahkan untuk haji yang pertama, tetapi masih memiliki hutang atau kezaliman yang belum diselesaikan.Hal ini tidak dibenarkan.Allah Ta'ala berfirman bahwa haji diwajibkan bagi orang yang mampu:"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah."Syarat dikatakan mampu berhaji:seseorang telah melunasi hutang-hutangnyamemiliki bekal yang cukup untuk perjalananmemiliki nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkanserta terpenuhinya keamanan perjalanan dan syarat-syarat kemampuan lainnya.Adapun seseorang yang masih memiliki banyak hutang lalu memaksakan diri berhaji, maka ia telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Yang wajib baginya adalah menyelesaikan hutang-hutangnya terlebih dahulu.Haji hanya untuk jalan-jalanTujuannya bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan ampunan-Nya, tetapi sekadar ingin berwisata ke Makkah dan Madinah.Ada pula yang berhaji dengan harta syubhat.Bahkan lebih buruk lagi, ada yang berhaji dengan harta yang haram.Sebagian fuqaha menyebutkan bahwa apabila seseorang berhaji dengan harta haram, lalu ia melaksanakan seluruh manasik haji sambil mengucapkan:"Labbaikallahumma labbaik."Maka dikatakan kepadanya:"La labbaika wa la sa'daik.""Tidak ada labbaik bagimu dan tidak ada kebahagiaan bagimu."Karena hartanya berasal dari sesuatu yang haram.Allah adalah Dzat Yang Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.Haji untuk mendapat gelaryaitu agar dikenal oleh manusia. Ia ingin disebut sebagai "Pak Haji", ingin dihormati, atau ingin mendapatkan kedudukan tertentu di tengah masyarakat.Niat seperti ini jelas merupakan niat yang rusak.Berkumpul di sekitar Ka'bah, namun hati mereka penuh dengan kebencian, permusuhan, dan penyakit hati.Setan membisikkan kepada mereka bahwa yang penting adalah sampai ke Makkah dan melaksanakan manasik. Padahal tujuan haji bukan sekadar mendekatkan badan ke Ka'bah. Yang dimaksud adalah mendekatkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kedekatan tersebut hanya dapat dicapai dengan ketakwaan.Allah mensyariatkan haji agar kaum muslimin dapat menyaksikan berbagai manfaat yang besar, diantaranuya bertemunya kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia. Hal ini seharusnya menumbuhkan rasa cinta dan persaudaraan di antara kaum muslimin.Bukan justru memunculkan pertengkaran dan permusuhan.Karena itu Allah berfirman:"Tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat maksiat, dan tidak boleh berbantah-bantahan dalam haji."Karena itu seorang jamaah haji diperintahkan untuk menahan emosi dan menjaga hubungan baik dengan sesama.Bangga dengan banyaknya hajiIbnul Jauzi juga menyebutkan kesalahan sebagian orang yang tujuan utamanya adalah memperbanyak jumlah hajinya.Ia berkata:"Saya sudah dua puluh kali wukuf di Arafah."Ucapan seperti ini terkadang hanya untuk berbangga diri di hadapan manusia.Padahal betapa banyak orang yang tinggal bertahun-tahun di Makkah atau Madinah tetapi tidak pernah berusaha membersihkan hatinya.Yang terpenting bukan banyaknya jumlah haji, tetapi sejauh mana haji tersebut memperbaiki keimanan dan ketakwaan seseorang.Berhaji tapi menzalimi orang lainIbnul Jauzi menceritakan bahwa beliau sering melihat orang-orang yang sedang menuju Makkah justru memukul, memerintah, dan menyusahkan teman-teman seperjalanannya.Ada yang menyuruh orang lain mencari air untuknya dengan kasar.Ada yang memperlakukan teman-temannya dengan buruk selama perjalanan.Padahal tujuan haji adalah mendekatkan diri kepada Allah.Bagaimana mungkin seseorang melakukan ibadah yang agung sementara ia masih menzalimi sesama manusia?Beliau juga menyebutkan bahwa ada orang yang sangat semangat berhaji, tetapi salatnya sendiri tidak diperhatikan.Ada pula yang berdagang selama perjalanan haji namun melakukan kecurangan dalam timbangan dan takaran.Mereka mengurangi hak pembeli, padahal Allah telah mengancam:"Celakalah orang-orang yang curang dalam timbangan."Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Barang siapa berhaji karena Allah, tidak melakukan rafats dan tidak berbuat maksiat, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya."Hadits ini menunjukkan bahwa meninggalkan maksiat merupakan bagian penting dari haji yang mabrur.Karena itu seseorang tidak boleh berbohong, menipu, berbuat zalim, atau mengambil hak orang lain dengan alasan bahwa nanti semua dosanya akan diampuni ketika haji.Haji mabrur tidak dibangun di atas kemaksiatan.Justru untuk meraih haji mabrur seseorang harus berusaha semaksimal mungkin menjalankan syariat Allah dengan benar.Iblis menjerumuskan mereka ke dalam berbagai bentuk bid'ah ketika melaksanakan manasik.Di antaranya:orang yang terus-menerus membuka pundak kanannya selama ihram. Padahal membuka pundak kanan (idhthiba') hanya disyariatkan ketika thawaf qudum atau thawaf umrah pada sebagian keadaan tertentu. Adapun di luar itu, tidak disyariatkan untuk terus-menerus membuka pundak kanan selama hari-hari haji. Namun sebagian orang sengaja melakukannya sepanjang waktu, bahkan berhari-hari di bawah terik matahari hingga tubuh mereka kepanasan dan kulit mereka rusak. Mereka menyangka bahwa semakin berat dan menyiksa diri, maka semakin besar pula pahala yang diperoleh. Padahal hal tersebut tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seseorang sedang thawaf sambil dituntun menggunakan tali yang diikatkan. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memutus tali tersebut dengan tangan beliau. Orang itu sengaja melakukan hal tersebut sebagai bentuk ketundukan dan perendahan diri di hadapan Allah, seakan-akan dirinya seperti hewan yang dituntun. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyetujui perbuatan tersebut dan memerintahkan agar orang itu dituntun dengan tangan biasa.Hadits ini menunjukkan bahwa membuat bentuk-bentuk ibadah baru yang tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dibenarkan, meskipun niat pelakunya baik.Niat baik saja tidak cukup.Suatu ibadah harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam."Karena itu, apabila ada seseorang membuat tata cara baru dalam ibadah umrah atau haji, maka cukup ditanyakan:"Manakah yang lebih baik, tata caramu atau tata cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?"Tentu jawabannya adalah tata cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Sebagian orang menjadikan salat dua rakaat setelah sa'i sebagai rangkaian khusus dalam umrah. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya. Salat secara umum memang ibadah yang dianjurkan. Namun menjadikannya sebagai rangkaian khusus setelah sa'i tanpa dalil merupakan bentuk penambahan dalam agama.Karena itu seorang muslim hendaknya mencukupkan diri dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Beliau bersabda:"Ambillah dariku tata cara manasik kalian."Haji tanpa membawa bekal apa pun.Mereka mengaku bahwa hal tersebut adalah bentuk tawakal kepada Allah. Padahal anggapan seperti ini adalah kekeliruan.Allah Ta'ala berfirman:"Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang diperintahkan untuk mempersiapkan bekal ketika berhaji.Bukan justru meninggalkannya.Sebab jika seseorang berangkat tanpa bekal, maka biasanya ia akan merepotkan orang lain. Ia akan bergantung kepada rombongannya dan membebani mereka selama perjalanan.Diceritakan bahwa ada seseorang yang datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.Ia berkata:"Aku ingin pergi haji dengan tawakal dan tanpa membawa bekal."Imam Ahmad bertanya:"Apakah engkau akan pergi sendirian atau bersama rombongan?"Orang itu menjawab:"Bersama rombongan."Imam Ahmad pun menjawab:"Kalau begitu engkau bertawakal kepada bekal mereka."Jawaban singkat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan sebab.Tawakal adalah melakukan sebab yang diperbolehkan syariat sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Bukan nekat tanpa persiapan lalu membebani orang lain.Sebagian orang mengira bahwa tawakal berarti membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa usaha. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah, namun beliau tetap melakukan berbagai sebab yang diperbolehkan.Beliau mempersiapkan bekal ketika safar, memakai perlengkapan perang ketika berjihad, dan melakukan berbagai bentuk ikhtiar lainnya.Karena itu meninggalkan sebab bukanlah tawakal. Yang benar adalah menggabungkan antara usaha yang benar dengan ketergantungan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.Talbis Iblis dalam Jihad fi Sabilillahberjihad bukan karena ingin meninggikan kalimat Allah, tetapi karena tujuan-tujuan duniawi yang tersembunyi.Ada yang ingin dikenal sebagai pemberani, mendapatkan pujian manusia, memperoleh harta rampasan perang (ghanimah) dan berperang karena fanatisme golongan, suku, atau kelompok. Padahal jihad yang diterima di sisi Allah hanyalah jihad yang dilakukan dengan ikhlas karena-Nya.Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bertanya:"Wahai Rasulullah, ada orang yang berperang karena ingin disebut pemberani. Ada yang berperang karena fanatisme golongan. Ada pula yang berperang karena ingin mendapatkan kedudukan. Siapakah yang berada di jalan Allah?"Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Barang siapa berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah."Ibnul Jauzi mengingatkan bahwa tidak setiap orang yang terbunuh di medan perang otomatis dapat dipastikan sebagai syahid.Karena niat manusia berbeda-beda.Sebagaimana dinukil dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau mengingatkan agar tidak tergesa-gesa memastikan seseorang sebagai syahid.Karena itu kita mengatakan:"Semoga Allah menjadikannya syahid."Atau:"Semoga Allah menerima perjuangannya."Adapun memastikan seseorang sebagai syahid secara mutlak, maka perkara tersebut kembali kepada Allah yang mengetahui isi hati manusia.Ibnul Jauzi kemudian membawakan hadits yang sangat masyhur tentang tiga golongan pertama yang diadili pada Hari Kiamat.Golongan pertama adalah seorang yang mati dalam peperangan.Allah mengingatkan berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya.Allah telah memberinya kekuatan, keberanian, kemampuan bertempur, dan berbagai kelebihan lainnya.Kemudian Allah bertanya:"Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?"Ia menjawab:"Aku berperang karena-Mu hingga aku terbunuh."Namun Allah berfirman:"Engkau berdusta."Allah menjelaskan bahwa ia berperang agar disebut sebagai orang yang pemberani.Dan tujuan tersebut telah tercapai.Orang-orang memang telah memujinya sebagai pemberani.Kemudian ia diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya lalu dilemparkan ke dalam Neraka.Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan.Amal yang tampak besar di mata manusia bisa menjadi tidak bernilai apabila niatnya rusak.Kisah Abdullah bin Mubarak dan Mujahid yang IkhlasAbu Hatim Ar-Razi meriwayatkan dari Abdah bin Sulaiman bahwa mereka pernah berada dalam suatu peperangan bersama Abdullah bin Mubarak rahimahullah di wilayah Romawi.Ketika dua pasukan telah berhadapan, muncullah seorang jagoan dari pihak musuh.Ia menantang kaum muslimin untuk berduel.Seorang muslim maju dan bertarung dengannya.Namun ia terbunuh.Kemudian maju orang kedua.Ia juga terbunuh.Lalu maju orang ketiga.Ia pun terbunuh.Setelah itu muncul seorang lelaki dari kaum muslimin.Ia maju menghadapi jagoan tersebut.Pertarungan berlangsung cukup lama.Akhirnya lelaki muslim itu berhasil membunuh lawannya.Orang-orang segera berkerumun ingin melihat siapakah pahlawan tersebut.Abdah bin Sulaiman juga ikut mendekat.Namun ketika ia berhasil melihat wajah lelaki itu, ternyata orang tersebut segera menutupi wajahnya.Ia tidak ingin dikenal.Ia tidak ingin dipuji.Ia tidak ingin namanya disebut-sebut.Ternyata lelaki tersebut adalah Abdullah bin Mubarak rahimahullah.Keikhlasan Para SalafPerhatikan bagaimana para salaf menjaga keikhlasan mereka.Mereka khawatir jika manusia mengetahui amal-amal mereka.Mereka takut dipuji.Mereka takut amal mereka tercampuri riya'.Sementara sebagian manusia justru sangat bersemangat menampilkan amal-amalnya kepada orang lain.Padahal para salaf yang jauh lebih saleh daripada kita masih merasa khawatir terhadap riya'.Maka sudah sepantasnya seorang muslim selalu waspada terhadap penyakit hati tersebut.Disebutkan pula bahwa Ibrahim bin Adham rahimahullah apabila ikut berjihad dan memperoleh bagian ghanimah, terkadang beliau memilih untuk tidak mengambilnya.Beliau menginginkan pahala yang lebih sempurna di sisi Allah.Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian para ulama salaf terhadap keikhlasan dan kemurnian niat dalam beramal.Mereka tidak hanya memikirkan sah atau tidaknya suatu amal, tetapi juga memikirkan bagaimana amal tersebut menjadi yang paling dicintai dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.Terkadang seorang mujahid berhasil memperoleh kemenangan. Lalu ia melihat harta rampasan perang. Karena kurang ilmu, ia menyangka bahwa seluruh harta musuh boleh langsung diambil sesuka hati. Padahal dalam syariat, harta ghanimah harus terlebih dahulu dikumpulkan oleh pemimpin pasukan. Setelah itu baru dibagikan sesuai aturan yang telah ditetapkan.Adapun mengambilnya secara diam-diam sebelum pembagian disebut dengan gulul. Perbuatan ini termasuk dosa besar. Sebagian orang terjatuh dalam kesalahan ini karena kebodohan. Sebagian lagi karena dorongan hawa nafsu. Padahal ancamannya sangat berat.















