📝 Talbis Iblis #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Talbis Iblis #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

Materi 8

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah (Bag. 4)Talbis Iblis dalam Ibadah HajiMelakukan haji sunnah (setelah gugur kewajiban hajinya) dalam keadaan tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Misalnya seseorang ingin berhaji lagi, padahal kedua orang tuanya tidak meridhainya karena mereka membutuhkan keberadaannya. Dalam keadaan seperti ini, berbakti kepada kedua orang tua lebih utama daripada melaksanakan haji sunnah.Karena itu Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa ini termasuk talbis iblis. Seseorang ingin melaksanakan haji sunnah, tetapi justru membuat kedua orang tuanya marah dan tersakiti.Haji, bahkan untuk haji yang pertama, tetapi masih memiliki hutang atau kezaliman yang belum diselesaikan.Hal ini tidak dibenarkan.Allah Ta'ala berfirman bahwa haji diwajibkan bagi orang yang mampu:"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah."Syarat dikatakan mampu berhaji:seseorang telah melunasi hutang-hutangnyamemiliki bekal yang cukup untuk perjalananmemiliki nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkanserta terpenuhinya keamanan perjalanan dan syarat-syarat kemampuan lainnya.Adapun seseorang yang masih memiliki banyak hutang lalu memaksakan diri berhaji, maka ia telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Yang wajib baginya adalah menyelesaikan hutang-hutangnya terlebih dahulu.Haji hanya untuk jalan-jalanTujuannya bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan ampunan-Nya, tetapi sekadar ingin berwisata ke Makkah dan Madinah.Ada pula yang berhaji dengan harta syubhat.Bahkan lebih buruk lagi, ada yang berhaji dengan harta yang haram.Sebagian fuqaha menyebutkan bahwa apabila seseorang berhaji dengan harta haram, lalu ia melaksanakan seluruh manasik haji sambil mengucapkan:"Labbaikallahumma labbaik."Maka dikatakan kepadanya:"La labbaika wa la sa'daik.""Tidak ada labbaik bagimu dan tidak ada kebahagiaan bagimu."Karena hartanya berasal dari sesuatu yang haram.Allah adalah Dzat Yang Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.Haji untuk mendapat gelaryaitu agar dikenal oleh manusia. Ia ingin disebut sebagai "Pak Haji", ingin dihormati, atau ingin mendapatkan kedudukan tertentu di tengah masyarakat.Niat seperti ini jelas merupakan niat yang rusak.Berkumpul di sekitar Ka'bah, namun hati mereka penuh dengan kebencian, permusuhan, dan penyakit hati.Setan membisikkan kepada mereka bahwa yang penting adalah sampai ke Makkah dan melaksanakan manasik. Padahal tujuan haji bukan sekadar mendekatkan badan ke Ka'bah. Yang dimaksud adalah mendekatkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kedekatan tersebut hanya dapat dicapai dengan ketakwaan.Allah mensyariatkan haji agar kaum muslimin dapat menyaksikan berbagai manfaat yang besar, diantaranuya bertemunya kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia. Hal ini seharusnya menumbuhkan rasa cinta dan persaudaraan di antara kaum muslimin.Bukan justru memunculkan pertengkaran dan permusuhan.Karena itu Allah berfirman:"Tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat maksiat, dan tidak boleh berbantah-bantahan dalam haji."Karena itu seorang jamaah haji diperintahkan untuk menahan emosi dan menjaga hubungan baik dengan sesama.Bangga dengan banyaknya hajiIbnul Jauzi juga menyebutkan kesalahan sebagian orang yang tujuan utamanya adalah memperbanyak jumlah hajinya.Ia berkata:"Saya sudah dua puluh kali wukuf di Arafah."Ucapan seperti ini terkadang hanya untuk berbangga diri di hadapan manusia.Padahal betapa banyak orang yang tinggal bertahun-tahun di Makkah atau Madinah tetapi tidak pernah berusaha membersihkan hatinya.Yang terpenting bukan banyaknya jumlah haji, tetapi sejauh mana haji tersebut memperbaiki keimanan dan ketakwaan seseorang.Berhaji tapi menzalimi orang lainIbnul Jauzi menceritakan bahwa beliau sering melihat orang-orang yang sedang menuju Makkah justru memukul, memerintah, dan menyusahkan teman-teman seperjalanannya.Ada yang menyuruh orang lain mencari air untuknya dengan kasar.Ada yang memperlakukan teman-temannya dengan buruk selama perjalanan.Padahal tujuan haji adalah mendekatkan diri kepada Allah.Bagaimana mungkin seseorang melakukan ibadah yang agung sementara ia masih menzalimi sesama manusia?Beliau juga menyebutkan bahwa ada orang yang sangat semangat berhaji, tetapi salatnya sendiri tidak diperhatikan.Ada pula yang berdagang selama perjalanan haji namun melakukan kecurangan dalam timbangan dan takaran.Mereka mengurangi hak pembeli, padahal Allah telah mengancam:"Celakalah orang-orang yang curang dalam timbangan."Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Barang siapa berhaji karena Allah, tidak melakukan rafats dan tidak berbuat maksiat, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya."Hadits ini menunjukkan bahwa meninggalkan maksiat merupakan bagian penting dari haji yang mabrur.Karena itu seseorang tidak boleh berbohong, menipu, berbuat zalim, atau mengambil hak orang lain dengan alasan bahwa nanti semua dosanya akan diampuni ketika haji.Haji mabrur tidak dibangun di atas kemaksiatan.Justru untuk meraih haji mabrur seseorang harus berusaha semaksimal mungkin menjalankan syariat Allah dengan benar.Iblis menjerumuskan mereka ke dalam berbagai bentuk bid'ah ketika melaksanakan manasik.Di antaranya:orang yang terus-menerus membuka pundak kanannya selama ihram. Padahal membuka pundak kanan (idhthiba') hanya disyariatkan ketika thawaf qudum atau thawaf umrah pada sebagian keadaan tertentu. Adapun di luar itu, tidak disyariatkan untuk terus-menerus membuka pundak kanan selama hari-hari haji. Namun sebagian orang sengaja melakukannya sepanjang waktu, bahkan berhari-hari di bawah terik matahari hingga tubuh mereka kepanasan dan kulit mereka rusak. Mereka menyangka bahwa semakin berat dan menyiksa diri, maka semakin besar pula pahala yang diperoleh. Padahal hal tersebut tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seseorang sedang thawaf sambil dituntun menggunakan tali yang diikatkan. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memutus tali tersebut dengan tangan beliau. Orang itu sengaja melakukan hal tersebut sebagai bentuk ketundukan dan perendahan diri di hadapan Allah, seakan-akan dirinya seperti hewan yang dituntun. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyetujui perbuatan tersebut dan memerintahkan agar orang itu dituntun dengan tangan biasa.Hadits ini menunjukkan bahwa membuat bentuk-bentuk ibadah baru yang tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dibenarkan, meskipun niat pelakunya baik.Niat baik saja tidak cukup.Suatu ibadah harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam."Karena itu, apabila ada seseorang membuat tata cara baru dalam ibadah umrah atau haji, maka cukup ditanyakan:"Manakah yang lebih baik, tata caramu atau tata cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?"Tentu jawabannya adalah tata cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Sebagian orang menjadikan salat dua rakaat setelah sa'i sebagai rangkaian khusus dalam umrah. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya. Salat secara umum memang ibadah yang dianjurkan. Namun menjadikannya sebagai rangkaian khusus setelah sa'i tanpa dalil merupakan bentuk penambahan dalam agama.Karena itu seorang muslim hendaknya mencukupkan diri dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Beliau bersabda:"Ambillah dariku tata cara manasik kalian."Haji tanpa membawa bekal apa pun.Mereka mengaku bahwa hal tersebut adalah bentuk tawakal kepada Allah. Padahal anggapan seperti ini adalah kekeliruan.Allah Ta'ala berfirman:"Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang diperintahkan untuk mempersiapkan bekal ketika berhaji.Bukan justru meninggalkannya.Sebab jika seseorang berangkat tanpa bekal, maka biasanya ia akan merepotkan orang lain. Ia akan bergantung kepada rombongannya dan membebani mereka selama perjalanan.Diceritakan bahwa ada seseorang yang datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.Ia berkata:"Aku ingin pergi haji dengan tawakal dan tanpa membawa bekal."Imam Ahmad bertanya:"Apakah engkau akan pergi sendirian atau bersama rombongan?"Orang itu menjawab:"Bersama rombongan."Imam Ahmad pun menjawab:"Kalau begitu engkau bertawakal kepada bekal mereka."Jawaban singkat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan sebab.Tawakal adalah melakukan sebab yang diperbolehkan syariat sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Bukan nekat tanpa persiapan lalu membebani orang lain.Sebagian orang mengira bahwa tawakal berarti membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa usaha. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah, namun beliau tetap melakukan berbagai sebab yang diperbolehkan.Beliau mempersiapkan bekal ketika safar, memakai perlengkapan perang ketika berjihad, dan melakukan berbagai bentuk ikhtiar lainnya.Karena itu meninggalkan sebab bukanlah tawakal. Yang benar adalah menggabungkan antara usaha yang benar dengan ketergantungan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.Talbis Iblis dalam Jihad fi Sabilillahberjihad bukan karena ingin meninggikan kalimat Allah, tetapi karena tujuan-tujuan duniawi yang tersembunyi.Ada yang ingin dikenal sebagai pemberani, mendapatkan pujian manusia, memperoleh harta rampasan perang (ghanimah) dan berperang karena fanatisme golongan, suku, atau kelompok. Padahal jihad yang diterima di sisi Allah hanyalah jihad yang dilakukan dengan ikhlas karena-Nya.Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bertanya:"Wahai Rasulullah, ada orang yang berperang karena ingin disebut pemberani. Ada yang berperang karena fanatisme golongan. Ada pula yang berperang karena ingin mendapatkan kedudukan. Siapakah yang berada di jalan Allah?"Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Barang siapa berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah."Ibnul Jauzi mengingatkan bahwa tidak setiap orang yang terbunuh di medan perang otomatis dapat dipastikan sebagai syahid.Karena niat manusia berbeda-beda.Sebagaimana dinukil dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau mengingatkan agar tidak tergesa-gesa memastikan seseorang sebagai syahid.Karena itu kita mengatakan:"Semoga Allah menjadikannya syahid."Atau:"Semoga Allah menerima perjuangannya."Adapun memastikan seseorang sebagai syahid secara mutlak, maka perkara tersebut kembali kepada Allah yang mengetahui isi hati manusia.Ibnul Jauzi kemudian membawakan hadits yang sangat masyhur tentang tiga golongan pertama yang diadili pada Hari Kiamat.Golongan pertama adalah seorang yang mati dalam peperangan.Allah mengingatkan berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya.Allah telah memberinya kekuatan, keberanian, kemampuan bertempur, dan berbagai kelebihan lainnya.Kemudian Allah bertanya:"Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?"Ia menjawab:"Aku berperang karena-Mu hingga aku terbunuh."Namun Allah berfirman:"Engkau berdusta."Allah menjelaskan bahwa ia berperang agar disebut sebagai orang yang pemberani.Dan tujuan tersebut telah tercapai.Orang-orang memang telah memujinya sebagai pemberani.Kemudian ia diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya lalu dilemparkan ke dalam Neraka.Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan.Amal yang tampak besar di mata manusia bisa menjadi tidak bernilai apabila niatnya rusak.Kisah Abdullah bin Mubarak dan Mujahid yang IkhlasAbu Hatim Ar-Razi meriwayatkan dari Abdah bin Sulaiman bahwa mereka pernah berada dalam suatu peperangan bersama Abdullah bin Mubarak rahimahullah di wilayah Romawi.Ketika dua pasukan telah berhadapan, muncullah seorang jagoan dari pihak musuh.Ia menantang kaum muslimin untuk berduel.Seorang muslim maju dan bertarung dengannya.Namun ia terbunuh.Kemudian maju orang kedua.Ia juga terbunuh.Lalu maju orang ketiga.Ia pun terbunuh.Setelah itu muncul seorang lelaki dari kaum muslimin.Ia maju menghadapi jagoan tersebut.Pertarungan berlangsung cukup lama.Akhirnya lelaki muslim itu berhasil membunuh lawannya.Orang-orang segera berkerumun ingin melihat siapakah pahlawan tersebut.Abdah bin Sulaiman juga ikut mendekat.Namun ketika ia berhasil melihat wajah lelaki itu, ternyata orang tersebut segera menutupi wajahnya.Ia tidak ingin dikenal.Ia tidak ingin dipuji.Ia tidak ingin namanya disebut-sebut.Ternyata lelaki tersebut adalah Abdullah bin Mubarak rahimahullah.Keikhlasan Para SalafPerhatikan bagaimana para salaf menjaga keikhlasan mereka.Mereka khawatir jika manusia mengetahui amal-amal mereka.Mereka takut dipuji.Mereka takut amal mereka tercampuri riya'.Sementara sebagian manusia justru sangat bersemangat menampilkan amal-amalnya kepada orang lain.Padahal para salaf yang jauh lebih saleh daripada kita masih merasa khawatir terhadap riya'.Maka sudah sepantasnya seorang muslim selalu waspada terhadap penyakit hati tersebut.Disebutkan pula bahwa Ibrahim bin Adham rahimahullah apabila ikut berjihad dan memperoleh bagian ghanimah, terkadang beliau memilih untuk tidak mengambilnya.Beliau menginginkan pahala yang lebih sempurna di sisi Allah.Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian para ulama salaf terhadap keikhlasan dan kemurnian niat dalam beramal.Mereka tidak hanya memikirkan sah atau tidaknya suatu amal, tetapi juga memikirkan bagaimana amal tersebut menjadi yang paling dicintai dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.Terkadang seorang mujahid berhasil memperoleh kemenangan. Lalu ia melihat harta rampasan perang. Karena kurang ilmu, ia menyangka bahwa seluruh harta musuh boleh langsung diambil sesuka hati. Padahal dalam syariat, harta ghanimah harus terlebih dahulu dikumpulkan oleh pemimpin pasukan. Setelah itu baru dibagikan sesuai aturan yang telah ditetapkan.Adapun mengambilnya secara diam-diam sebelum pembagian disebut dengan gulul. Perbuatan ini termasuk dosa besar. Sebagian orang terjatuh dalam kesalahan ini karena kebodohan. Sebagian lagi karena dorongan hawa nafsu. Padahal ancamannya sangat berat.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
E
Ela septiana yusira

📍 Kota Tangerang

Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bagian 4)

Seseorang yang sudah menunaikan haji wajib (sekali seumur hidup) terkadang ingin melaksanakan haji sunah, namun terperosok dalam aturan yang salah.Haji Tanpa Ridha Orang Tua: Contoh kesalahan jika haji sunah tersebut tidak diridhai oleh orang tuanya. Padahal berbakti kepada orang tua kedudukannya lebih utama daripada haji sunah. Lain halnya jika itu adalah haji wajib yang hukumnya tetap harus dilaksanakan.Berhaji dalam Kondisi Memiliki Hutang: Kesalahan lain adalah seseorang yang memaksakan berhaji padahal ia masih memiliki hutang atau kezaliman yang belum diselesaikan. Padahal syarat haji adalah istitha'ah (mampu), termasuk melunasi hutang dan memiliki bekal yang cukup untuk perjalanan serta keluarga yang ditinggalkanNiat Haji untuk Jalan-Jalan: Sebagian orang berhaji hanya sekadar untuk pesiar atau jalan-jalan ke Makkah dan Madinah, bukan berniat agar dosa-dosanya diampuni.Haji dengan Harta Syubhat/Haram: Larangan keras berhaji menggunakan harta haram. Karena Allah itu Maha Baik (Thayyib) dan tidak menerima kecuali yang baik-baik pula. Disebutkan dalam sebuah atsar bahwa orang yang berhaji dengan harta haram, talbiahnya tidak akan diterimaRiya dalam Haji: Ada juga orang yang berhaji karena ingin ditemui orang lain dan dipanggil dengan sebutan "Pak Haji"Hati yang Kotor Saat Haji: Penjelasan bahwa hakikat haji adalah mendekatkan hati kepada Allah (alqurbu bil qulub), bukan sekadar kedekatan fisik (jasad), sementara sesama jemaah saling bermusuhan atau bertengkar.Bangga dengan Jumlah Haji: Kritikan terhadap orang yang berhaji berkali-kali hanya untuk membanggakan jumlahnya (misalnya bangga sudah 20 kali wukuf di Arafah), tetapi tidak berniat membersihkan hatinya.Iblis menipu jemaah dengan membisikkan bahwa yang penting haji selesai dan wukuf di Arafah terlaksana, maka Allah akan mengampuni. Padahal, haji yang diampuni adalah haji mabrur yang harus mengikuti aturan: tidak berbuat rafats (kata-kata syahwat), tidak berbuat maksiat (fusuq), dan tidak jidal (bertengkar).Talbis dalam Manasik (Bid'ah): Tipu daya iblis yang membuat manusia berbuat bid'ah (hal baru) dalam manasik yang tidak dicontohkan oleh Nabi.Contoh salah kaprah jemaah yang membuka bahu kanan pakaian ihramnya (idhthiba') terus-menerus selama berhari-hari di bawah terik matahari, padahal aturan aslinya hal itu hanya disunahkan saat melakukan tawaf qudum saja.Penegasan bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ. Ustadz memberikan contoh kekeliruan jemaah zaman sekarang yang sengaja membuat ritual sendiri seperti salat dua rakaat setelah melaksanakan sai, padahal hal tersebut tidak dicontohkan.Tawakal Tanpa Bekal: Tipu daya iblis kepada sebagian orang yang nekat pergi haji tanpa membawa perbekalan dengan dalih "bertawakal". Ini adalah kesalahan besar.Kisah seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal mengenai keinginannya pergi ke Makkah untuk haji tanpa bekal atas nama tawakal. Imam Ahmad melarangnya jika dia pergi bersama rombongan, karena tindakan tersebut sejatinya bukan bertawakal kepada Allah, melainkan "bertawakal" (merepotkan dan mengandalkan) perbekalan orang lain dalam rombongannya.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Rangkuman Materi Talbis Iblis 8

Talbis Iblis 8 "Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu Bagian 4"🎙️ Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., M.A.◾Talbis Iblis Terkait Ibadah HajiOrang yang sudah melaksanakan ibadah haji dan kewajiban haji sudah selesai. Karena kewajiban haji itu hanya sekali seumur hidup. Ibadah haji adalah ibadah yang dilakukan bagi orang yang mampu. Dan saat mau melakukan ibadah ini butuh persiapan dan perbekalan yang matang. Dan sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Allah mengampuni haji yang mabrur, untuk menuju haji yang mabrur tentu ada aturannya dimana berhaji dengan cara yang baik sesuai sunnah, tidak melakukan maksiat. Ingin haji, hajilah seperti Rasullullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Dan seluruh ibadah kita berusaha seperti nabi shalallahu 'alaihi wassallam. Karena sebaik-baiknya ibadah adalah ibadah nabi dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Termasuk Talbis Iblis dalam berhaji diantara :✓ Melaksanakan haji sunnah namun tidak sesuai aturannya membuat orang tidak ridho dan marah kepadanya. ✓ Berhaji hanya ingin jalan-jalan buka agar diampuni dosanya. ✓ Berhaji dengan harta yang syuhbat bahkan ada yang berhaji dengan harta yang haram. ✓ Berhaji karena ingin diketahui orang.✓ Berhaji dengan hati yang kotor dan batin yang tidak bersih. ✓ Berhaji hanya untuk memperbanyak jumlah hajinya.✓ Berhaji namun merepotkan orang-orang atau rombongan dalam perjalanannya.✓ Semangat berhaji namun shalat tidak diperhatikan.✓ Berjualan ketika menuju haji dan jualannya melakukan tatfif. ✓ Berbuat bid'ah ketika sedang melakukan ibadah haji✓ Berhaji tanpa bekal dan persiapan hanya akan merepotkan orang. ◾Talbis Iblis Tentang Masalah Jihad Fisabilillah Iblis telah menipu banyak orang dalam masalah jihad. Maka merekapun keluar untuk berjihad sementara diantara mereka ada yang niatnya untuk bangga-banggaan dan riya. Terkadang dia ingin dikatakan jagoan dan terkadang dia ingin berjihad mencari harta ghanimah. Bahwasanya dalam jihadpun niatnya macam-macam. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam bersabda "Siapa yang berjihad untuk menegakkan kalimat Allah maka fisabilillah" (HR. Bukhari dan Muslim). Para salaf berusaha menyembunyikan amal shaleh mereka karena takut riya. Sementara sebagian kita percaya diri memamerkan amal shaleh. Diantar talbis Iblis dalam jihad :✓ Mujahid mengambil bagian ghanimah padahal itu bukan hak dia. Mungkin dia belum punya ilmu sehingga dia menyangka bahwasanya harta orang kafir semuanya halal.Yang halal dari orang kafir yaitu darah dan hartanya yang berperang melawan kita. Karena kalau bukan dia yang mati maka kita yang mati. Itupun kalau berjihad tidak boleh langsung mengambil hartanya. ✓ Mujahid itu tau bahwasannya mengambil harta sebelum pembagian hukumnya haram. Tetapi karena dia tidak sabar untuk tidak mengambilnya sebab hati bisa berubah ketika itu. Mungkin dia menyangka yang penting sudah berjihad maka akan termaafkan. Dari sini maka nampaklah dampak iman dan ilmu. Maka perlu berkumpul antara iman dan ilmu, sehingga seseorang tidak berani mengambil yang haram.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
R
Regita Dwi Ananda

📍 Kota Bandung

Talbis iblis -7

Talbis iblis-7 • Talbis iblis pada bacaan Qur’an.Yaitu godaan untuk baca Al Qur’an dengan cepat namun tidak tartil.Sahabat ada yang khatam Al Qur’an dalam satu rakaat (HR Ahmad dan Nasai) namun sangat jarang.Orang yang baca Al Qur’an kurang dari tiga maka dia bukan orang yang fakih (mendakwakan dan bukan di bulan Ramadhan).Imam Syafi’i walaupun baca cepat namun beliau baca dengan faham dan tahu tafsir nya. Ada Tadabur dalam bacaan nya. Harus perhatikan kualitas dalam bacaannya. Niat baca Al Qur’an
1. Tilawah, setiap huruf ada pahalanya.
2. Tadabur Al Qur’an.
3. Mendapat berkah, untuk kesembuhan.Dulu orang-orang baca Al Qur’an baca Al Qur’an pada malam hari di menara-menara masjid. (keras).Kata Imam Jauzi ada dua kesalahan.
- Mengganggu orang istirahat
- Jatuh pada riya.Diantara kesalahan adalah baca Al Qur’an saat Adzan.
Kita sering menyaksikan orang-orang yang setelah adzan bersenandung yang bisa orang-orang yang melakukan sholat sunnah, berdoa, baca Al Qur’an dst.Ibnu Mas’ud – cukupkan dengan sunnah, jangan buat hal-hal yang baruSyaikh – melihat seseorang jadi imam sholat subuh – baca surat 3 Qul dan baca doa khatam sholat.
Ini bisa jatuh pada riya dan tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan para shahabat radhiyallahu anhum.
Para sahabat sering sembunyikan bacaan Al Qur’an mereka.Riya adalah senjata syetan untuk merusak amalan. • Talbis iblis pada ahli ibadah puasa.Syetan menggoda manusia untuk puasa terus.Puasa ada tingkat.1. Puasa dhahr – puasa terus Setiap hari selain hari yang terlarang. Ada dua pendapat.
A. Tidak dianjurkan (makruh dan atau haram)
B. Boleh (mustahak dan jaiz)Kekurangan puasa dhahr. (meskipun ambil pendapat boleh). ⁃ Bisa jadi menjadikan lemah dan ganggu mencari rezeki bagi keluarga. ⁃ Terhalang mencukupi kebutuhan batin istrinya. ⁃ Terluput dari keutamaan, karena Rasul ﷺ bersabda – sebaik-baik puasa adalah puasa Daud.2. Puasa Daud3. Puasa 1 hari buka 2 hari.Tidak sedikit ulama yang dahulu puasa terus menerus. Namun mereka bisa gabungkan dengan kemampuan mencari nafkah.Pasal tentang samarnya riya.Dulu ada orang yang terkenal karena puasa tiap hari, namun karena ingin menjaga kepopuleran, dia sembunyi-sembunyi saat tidak puasa.Syaikh mengatakan harusnya dia buka puasa dihadapan orang banyak, dan selanjutnya puasa beberapa hari (untuk melawan riya)Syetan membisikkan seseorang untuk menjadi contoh orang-orang dalam ibadah dengan menyebarkan ibadahnya, ini riya.Kalau Ikhlas, tetap ada kekurangan karena pahala berkurang. Pahala tersembunyi lebih utama.Zubair bin Awwam Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Siapa diantara kalian yang bisa memiliki amal shaleh yang dikerjakan secara sembunyi-sembunyi, maka hendaklah dia lakukan.”Ketika hari kamis puasa dan diajak makan, lebih baik menjawab dengan mengatakan saya puasa daripada mengatakan ini hari kamis (ada riya).Ada yang puasa senin kamis tapi meremehkan orang yang tidak puasa.Ada puasa namun ghibah jalan terus, maksiat jalan terus.Jadi waspada atas riya dalam ibadah kita. Pentingkan ibadah kita supaya diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
S
Salma laela fitri

📍 Kabupaten Karawang

Ringkasan pertemuan ke 8

Ringkasan Talbis Iblis dalam HajiBeberapa bentuk talbis (tipuan) yang disebutkan:Mendahulukan haji sunnah daripada kewajiban yang lebih utamaSudah berhaji wajib, lalu ingin haji lagi.Padahal orang tua membutuhkan pelayanan dan tidak meridhainya.Dalam kondisi seperti ini, berbakti kepada orang tua bisa lebih utama daripada haji sunnah.Berhaji sementara masih memiliki utang atau tanggunganHaji hanya wajib bagi yang mampu.Orang yang masih memiliki utang yang harus dilunasi atau hak-hak manusia yang belum ditunaikan tidak seharusnya memaksakan diri berhaji.Tujuan haji hanya wisata atau kebanggaanIngin jalan-jalan ke Makkah dan Madinah.Ingin disebut "Pak Haji".Bangga karena sudah berkali-kali berhaji.Semua ini merusak keikhlasan.Berhaji dengan harta syubhat atau haramIbadah yang agung tidak layak dibangun di atas harta yang haram.Disebutkan atsar bahwa orang yang bertalbiyah dengan harta haram tidak mendapatkan penerimaan dari Allah.Mengabaikan tujuan utama hajiHaji bukan sekadar mendekatkan badan ke Ka'bah.Tujuan utamanya adalah mendekatkan hati kepada Allah.Karena itu Allah melarang rafats, maksiat, dan perdebatan saat haji.Melakukan bid'ah dalam manasikMenambah-nambah tata cara yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ.Menganggap tambahan tersebut sebagai bagian dari ibadah haji atau umrah.Mengaku bertawakal tetapi meninggalkan sebab yang disyariatkanBerangkat tanpa bekal lalu merepotkan orang lain.Padahal Allah memerintahkan:"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."Tawakal bukan meninggalkan sebab, tetapi melakukan sebab yang benar sambil menggantungkan hati kepada Allah.Ringkasan Talbis Iblis dalam JihadKemudian Ibnu al-Jauzi berpindah kepada pembahasan jihad.Beliau menjelaskan bahwa iblis sering merusak jihad melalui:Niat yang rusakIngin disebut pemberani.Membela fanatisme golongan atau suku.Mengincar harta rampasan perang.Padahal Nabi ﷺ menjelaskan bahwa yang benar-benar fi sabilillah adalah orang yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi.Tidak menjaga keikhlasanDibawakan kisah para salaf yang sangat takut terhadap riya.Contohnya Abdullah bin al-Mubarak yang menyembunyikan amalnya agar tidak dipuji manusia.Mengambil harta ghanimah secara tidak sah (ghulul)Mengambil barang sebelum pembagian resmi.Walaupun nilainya kecil.Nabi ﷺ memperingatkan keras pelaku ghulul.Menyangka amal besar menghapus kezaliman yang dilakukanSudah berjihad lalu merasa boleh mengambil yang bukan haknya.Ini termasuk tipuan iblis.Pelajaran Besar dari Pembahasan IniAda satu benang merah yang sangat kuat dalam seluruh pembahasan:Iblis sering tidak menyuruh seseorang meninggalkan ibadah, tetapi menyuruhnya beribadah dengan cara yang salah.Karena itu ukuran keberhasilan bukan:sudah haji atau belum,sudah berjihad atau belum,sudah banyak amal atau belum,melainkan:apakah ikhlas,apakah sesuai sunnah,apakah hak manusia sudah ditunaikan,apakah terhindar dari maksiat dan kezaliman.Sebagaimana kaidah yang sering diulang para ulama:Diterimanya amal membutuhkan dua syarat: ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.Inilah inti yang terus ditekankan oleh Ibnu al-Jauzi dalam pembahasan talbis iblis pada berbagai jenis ibadah. Ibadah yang besar sekalipun dapat kehilangan nilainya jika dicampuri riya, kezaliman, harta haram, bid'ah, atau pelanggaran hak sesama manusia.Wallahu a'lam.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Talbis Iblis Kepada Ahli Agama (Bag-4)

#8 Talbis Iblis Kepada Ahli Agama (Bag-4)🥞TALBIS IBLIS DALAM IBADAH HAJIIblis tidak hanya menggoda manusia untuk berbuat maksiat, tetapi juga menyusup ke dalam amalan ketaatan seperti haji agar pahalanya rusak atau berubah menjadi dosa.1️⃣Haji Sunah yang Merusak Hubungan dengan Orang TuaPenjelasan: Kewajiban ibadah haji hanya berlaku sekali seumur hidup bagi yang mampu. Ketika seseorang yang sudah berhaji ingin melaksanakannya kembali (haji sunah), iblis menipunya hingga dia mengabaikan keperluan orang tuanya atau bahkan membuat mereka marah/tidak reda.Hukum Syariat: Berbakti kepada orang tua (birrul walidain) hukumnya fardu ain, sedangkan mengulang haji adalah sunnah. Perkara wajib harus didahulukan daripada perkara sunah.Pengecualian: Jika haji tersebut adalah Haji Wajib (yang pertama kali), maka perintah Allah harus tetap dilaksanakan meskipun orang tua melarang atau marah.2️⃣Berhaji Namun Masih Memiliki Hutang dan KezalimanPenjelasan: Sebagian orang memaksakan diri pergi haji padahal masih menanggung hutang yang belum dilunasi atau belum menyelesaikan urusan kezaliman dengan sesama manusia. Urusan yang wajib bagi dirinya saat itu adalah melunasi hutangnya terlebih dahulu.Syarat Kemampuan (Istitha'ah): Seseorang dianggap mampu berhaji jika memiliki harta lebih setelah hutangnya lunas, memiliki bekal yang cukup untuk perjalanan, serta meninggalkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan selama masa haji.Dalil Al-Qur'an:{وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا}"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah." (QS. Ali 'Imran: 97)3️⃣ Niat Berhaji Hanya untuk Melancong (Jalan-Jalan)Penjelasan: Iblis membelokkan niat sebagian orang sehingga mereka pergi ke Makkah dan Madinah bukan untuk mencari pengampunan dosa, melainkan murni untuk tujuan pesiar, rekreasi, atau sekadar jalan-jalan.4️⃣Berhaji dengan Harta yang Syubhat atau HaramPenjelasan: Para fuqaha (ahli fikih) memberikan perumpamaan: Jika seseorang pergi haji dengan harta haram, membawa untanya mabit di Mina (8 Dzulhijjah), wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah), mabit di Muzdalifah, lalu berteriak "Labaik allahumma labaik", maka hajinya tidak diterima oleh Allah; yang berhaji hanyalah untanya.Dalil Hadis Shahih:"Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik pula." (HR. Muslim)Keterangan Atsar: Disebutkan dalam astar bahwa orang yang berhaji dengan harta haram ketika mengucap talbiyah, maka akan dikatakan kepadanya: "La labbaika wala sa'daika" (Tidak ada sambutan dan kebahagiaan untukmu), karena bekalmu haram dan hartamu haram.5️⃣Riya, Mengejar Gelar, dan SombongPenjelasan: Banyak orang yang hatinya kotor berhaji agar dipuji dan dipanggil "Pak Haji" oleh masyarakat. Ada pula yang mengoleksi jumlah haji demi kesombongan dan pamer dengan berkata, "Alhamdulillah, saya sudah 20 kali wukuf di Arafah.".Hakikat Haji: Inti haji adalah kedekatan hati kepada Allah (alqurbu bil qulub), bukan sekadar kedekatan fisik semata-mata.Tujuan Berkumpul: Allah mensyariatkan haji salah satunya agar kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia (Afrika, Cina, Eropa, hingga Bekasi) dapat saling bertemu dan menumbuhkan rasa kasih sayang (liyasyhadu manafi'ahum). Namun iblis menipu mereka sehingga jemaah justru saling bermusuhan, bersenggolan, dan bertengkar di lapangan.Larangan Jidal (Bertengkar): Di tanah suci dilarang keras berdebat kusir, apalagi bertengkar dengan pasangan/istri sendiri selama safar haji.Dalil Al-Qur'an:{فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ}"...maka tidak boleh rafats (mendekati zina/kata-kata syahwat), berbuat maksiat dan bertengkar dalam masa mengerjakan haji." (QS. Al-Baqarah: 197)Dalil Hadis Shahih:"Siapa yang berhaji karena Allah, lalu dia tidak berbuat rafats dan tidak berbuat fasik (maksiat), maka dia kembali dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya seperti hari dilahirkan oleh ibunya."(HR. Bukhari & Muslim)6️⃣Menyalahgunakan Aturan: Berhaji Tanpa Izin (Ilegal)Penjelasan (Kontemporer dari Ustadz Firanda): Banyak orang memulai ibadah haji dengan kebohongan demi kebohongan demi mengakali sistem. Mereka masuk ke tenda jemaah lain secara ilegal, menyerobot hak fasilitas orang lain, dan menyusahkan jemaah resmi. Mereka merasa yang penting sudah sampai di Arafah, padahal cara yang ditempuh penuh dengan kezaliman. Jika tidak mampu secara prosedural, Allah tidak mewajibkan kita untuk berhaji.7️⃣Berhaji Sambil Berbuat Curang dalam DaganganPenjelasan: Ibnu Jauzi menceritakan bahwa di zamannya, ada orang yang berjalan menuju Makkah untuk haji sambil berdagang, namun mereka mengurangi timbangan (tatfif). Mereka mengira dosa kecurangan itu otomatis terhapus hanya dengan ikut wukuf.Dalil Al-Qur'an:{وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ}"Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menimbang dan menakar)." (QS. Al-Muthaffifin: 1)8️⃣Membawa Kekerasan ke Dalam Safar HajiPenjelasan: Perjalanan haji zaman dahulu (khususnya zaman Ibnu Jauzi) sangat berat, harus melewati gurun terik berbulan-bulan. Ibnu Jauzi menyaksikan ada orang berhaji yang memukuli dan membentak anak buah atau teman serombongannya hanya untuk menyuruh mereka mencarikan air. Mereka mengabaikan akhlak demi ego pribadi.9️⃣Bidah dalam Manasik Haji & UmrahIblis membisikkan bahwa semakin berat rekayasa ibadah yang dibuat sendiri, semakin besar pahalanya. Contohnya:Membuka Pundak Terus-menerus: Menampakkan pundak kanan (idhthiba') berhari-hari di bawah sengatan matahari sampai kulit rusak. Padahal, sunahnya idhthiba' hanya dilakukan saat Tawaf Kudum atau Tawaf Umrah saja. Tawaf lainnya (Tawaf Ifadah, Tawaf Wada, Tawaf Sunah) tidak ada syariat membuka pundak.Tawaf Menggunakan Tali Hidung: Ibnu Jauzi membawakan hadis dari Ibnu Abbas (HR. Bukhari)bahwa Nabi ﷺ melihat seseorang tawaf di Ka'bah dengan menuntun temannya menggunakan tali yang diikat di hidung (seolah-olah menyamakan diri seperti hewan yang pasrah dan tawaduk di hadapan Allah). Nabi ﷺ langsung memutuskan tali tersebut dengan tangan beliau dan memerintahkan agar menuntunnya menggunakan tangan manusia biasa.Solat Dua Rakaat Setelah Sai: Sebagian jemaah membuat kreasi ibadah baru dengan melakukan solat dua rakaat secara khusus setelah rangkaian Sai selesai dilakukan. Ini tidak ada contohnya dari Nabi ﷺ dan dihukum sebagai bidah.Prinsip Utama Mengikuti Sunnah:"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ (Wa khairul huda huda Muhammadin ﷺ)."(HR. Muslim)"Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian." (HR. Muslim)Analogi Pengkhususan Amalan Umum: Membaca Al-Fatihah atau berselawat adalah ibadah yang agung. Namun, jika seseorang mengkhususkannya menjadi rangkaian zikir setelah bersin (misal membaca Al-Fatihah penuh setelah bersin, atau berselawat sesaat setelah mengucapkan alhamdulillah pasca-bersin), maka hal itu dilarang oleh para sahabat (seperti ketegasan Ibnu Umar) karena mengkhususkan amalan yang umum tanpa dalil. Begitu pula dengan solat di Masjidil Haram; solat itu boleh kapan saja, tetapi jangan menjadikannya ritual khusus pasca-Sai.1️⃣0️⃣Salah Kaprah dalam Konsep Tawakal (Berhaji Tanpa Bekal)Penjelasan: Sebagian kaum (seperti orang-orang dari Yaman pada masa silam) nekat pergi haji tanpa membawa perbekalan makanan dan uang sama sekali, lalu mengklaim bahwa itulah "tawakal yang sejati". Akibatnya, di sepanjang jalan mereka mengemis dan merepotkan perbekalan rombongan lain.Kisah Imam Ahmad bin Hambal: Seseorang mendatangi Imam Ahmad dan berkata, "Aku ingin pergi ke Makkah dengan modal tawakal tanpa membawa bekal." Imam Ahmad membalas, "Kalau begitu, keluarlah sendirian (jangan gabung rombongan)!" Lelaki itu menjawab, "Tidak bisa, saya harus ikut rombongan." Imam Ahmad menegaskan, "Kalau begitu, namanya kamu bukan bertawakal kepada Allah, melainkan bertawakal kepada perbekalan jemaah lain!".Dalil Al-QUR'AN:{وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ}"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)Analogi Kontemporer Jemaah "Pede": Ustadz menceritakan pengalamannya bertemu jemaah haji modern yang terlalu percaya diri mengatasnamakan kemudahan dari Allah, padahal kelakuannya menyusahkan orang lain.Kasus 1: Seorang suami kehilangan koper di bandara, lalu kopernya ditemukan dan diantarkan oleh teman-temannya. Sang suami dengan bangga bercerita, "Lihat, tas saya kembali sendiri di kamar karena ditolong Allah." Padahal yang sibuk mencari dan keringatan adalah teman-temannya.Kasus 2: Sepasang suami-istri sedang iktikaf sampai syuruk. Selesai solat, ada jadwal city tour menggunakan bus rombongan. Sang istri mengajak suaminya segera ke bus, namun suaminya menolak dan berkata, "Kamu duluan saja, saya masih mau zikir." Akhirnya sang istri terpaksa pergi sendirian tanpa mahram (dan terpaksa ditemani rombongan lain). Sang suami tertinggal bus, lalu menumpang bus travel orang lain yang kebetulan lewat karena kasihan. Sang suami berkata, "Lihat, Allah mudahkan saya dapat bus lain." Cara pandang ini salah total karena dia menelantarkan kewajiban menjaga istrinya demi mengejar amalan sunah egoisnya sendiri.🥞TALBIS IBLIS DALAM JIHAD FI SABILILLAHJihad adalah puncak amalan Islam (dzirwatu sanamil islam), tetapi iblis mengintai niat pelakunya agar amalan besar ini berubah menjadi bahan bakar neraka.1️⃣Berperang Demi Kebanggaan, Suku, dan GhanimahPenjelasan: Iblis merusak niat para pejuang agar mereka keluar ke medan perang demi popularitas (riya), pamer keberanian agar dicap sebagai pahlawan, atau murni demi fanatisme golongan/suku (hamiyah), serta semata-mata mengincar harta rampasan (ghanimah).Dalil Hadis Shahih:Dari Abu Musa Al-Asy'ari, ada seorang lelaki mendatangi Nabi ﷺ dan bertanya tentang status orang yang berperang karena ingin menunjukkan keberaniannya, karena fanatik suku, atau karena riya. Nabi ﷺ bersabda:"Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah (fi sabilillah)." (HR. Bukhari & Muslim)Peringatan Ibnu Mas'ud: Beliau memperingatkan agar kaum muslimin tidak bermudah-mudah memastikan atau memberi label si Fulan mati syahid. Sebab, bisa jadi di dalam hatinya dia berperang demi harta rampasan, agar namanya disebut-sebut, atau demi kedudukan. Kalimat yang tepat adalah mendoakan: "Semoga Allah mencatat si Fulan sebagai syahid," seperti doa kita untuk saudara-saudara di Palestina.2️⃣Hadis Golongan Pertama yang Membakar Neraka JahanamPenjelasan: Di antara tiga orang pertama yang disidang pada hari kiamat dan dilemparkan ke neraka adalah seorang yang mati di medan perang. Allah memperlihatkan segala nikmat kekuatan dan keberanian yang pernah diberikan kepadanya di dunia, lalu bertanya, "Apa yang kau lakukan dengan nikmat-nikmat ini?" * Lelaki itu menjawab, "Aku berperang di jalan-Mu ya Allah, sampai aku mati syahid." Allah berfirman, "Kau dusta! Kau berperang hanya supaya dinamakan sebagai sang pemberani, dan gelar itu telah kau dapatkan di dunia." Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya di atas wajahnya dan melemparkannya ke dalam neraka jahanam.(Catatan tambahan: Dua golongan lainnya adalah seorang alim/qari yang menuntut ilmu agar disebut ulama/hebat, serta seorang dermawan yang berinfak ke masjid, pondok, dan anak yatim hanya demi gelar dermawan).🥞BAHAYA AL-GHULUL DALAM JIHAD1️⃣Mengambil Harta Sebelum Pembahagian ResmiPenjelasan: Iblis memanfaatkan kebodohan (kurangnya ilmu) sebagian mujahid sehingga mereka langsung mengambil harta musuh yang mereka temukan di lapangan. Mereka menyangka karena itu harta orang kafir, maka halal diambil kapan saja secara sepihak. Padahal, syariat mengatur bahwa semua ghanimah wajib dikumpulkan terlebih dahulu kepada pimpinan (Amir), baru kemudian dibagikan secara resmi. Mengambilnya secara sembunyi-sembunyi sebelum dibagikan disebut Ghulul.Analogi Kelompok Ekstremis Kontemporer: Ustadz Firanda menceritakan kisah nyata seorang temannya yang dulu bergabung dengan kelompok takfiri (suka mengkafirkan orang di luar kelompoknya). Teman tersebut bercerita bahwa dulu dia menghalalkan semua harta masyarakat luar karena dianggap kafir sebab tidak berbaiat pada imam mereka. Ketika membeli kue onde-onde, dia memakan 5 biji tetapi hanya mengaku dan membayar 2 biji saja, karena merasa sisanya adalah harta rampasan yang halal. Ustadz Firanda menyebut tindakan ini sebagai perpaduan antara kesesatan dan kebodohan (ngawur plus goblok plus bahlul). Harta orang kafir yang halal diambil hanyalah kafir Harbi (yang sedang berperang dengan muslim), itu pun harus melalui prosedur pembagian ghanimah resmi, bukan dicuri perorangan. Bahkan Nabi ﷺ pun dulu bermuamalah secara jujur, berdagang, bahkan menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi hingga beliau wafat.2️⃣Dalil Hadis Shahih Perang Khaibar (Tragedi Sehelai Kain)Penjelasan: Abu Hurairah menceritakan bahwa pasca-kemenangan di perang Khaibar, kaum muslimin pulang membawa ghanimah berupa pakaian dan makanan menuju sebuah lembah. Bersama Nabi ﷺ, ada seorang budak miliknya yang bertugas membantu melepaskan pelana unta Nabi ﷺ. Tiba-tiba, sebuah anak panah nyasar dari musuh mengenai budak tersebut hingga tewas di tempat.Para sahabat memberi selamat dengan berkata, "Selamat untuknya, dia mati syahid, ya Rasulullah." Namun Nabi ﷺ mengejutkan mereka dengan bersabda:"Sama sekali tidak! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya sehelai kain (selendang) yang dia ambil secara sembunyi-sembunyi (ghulul) pada hari Khaibar sebelum pembahagian resmi ghanimah, kini sedang menyalakan api neraka untuk membakarnya!" (HR. Bukhari & Muslim)Mendengar ancaman yang mengerikan itu, para sahabat gemetar ketakutan. Sesaat kemudian, ada seorang sahabat datang membawa satu atau dua utas tali kasut yang sempat dia ambil diam-diam, lalu mengembalikannya kepada Nabi ﷺ sambil berkata, "Saya mengambil ini saat di Khaibar, ya Rasulullah." Nabi ﷺ bersabda, "Itu adalah seutas/dua utas tali kasut dari api neraka."3️⃣Hadis Potongan Kayu SiwakNabi ﷺ juga menegaskan bahwa seseorang yang bersumpah palsu demi mengambil hak atau harta saudaranya (meskipun nilainya remeh), maka dia telah mengambil potongan api neraka. Sahabat bertanya, "Meskipun hanya sebatang kayu siwak, ya Rasulullah?" Nabi ﷺ menjawab, "Meskipun hanya sebatang kayu siwak.".🥞BENTENG IMAN DAN ILMU TERHADAP FITNAH HARTAIbnu Jauzi menutup bab ini dengan menjelaskan betapa pentingnya menyatukan ilmu dan iman agar selamat dari fitnah duniawi.Dilema Ilmu tanpa Iman & Iman tanpa Ilmu: Boleh jadi seorang mujahid tahu secara hukum (ilmu) bahwa mencuri ghanimah itu haram, tetapi karena imannya lemah dan tidak sabar melihat kilauan emas di depannya, dia tetap mengambilnya sambil menghibur diri, "Ah, dosa ini pasti terhapus oleh pahala jihad saya.". Sebaliknya, jika ada orang punya iman/semangat ibadah tetapi tidak punya ilmu, dia akan mengambil harta haram karena mengira hal itu diperbolehkan. Maka, iman dan ilmu wajib berjalan beriringan.1️⃣Kisah Nyata Kontemporer: Sengketa Tanah NamirPenjelasan (Kisah dari Ustadz): Seorang kawan dari Arab Saudi menelepon Ustadz untuk berkonsultasi mengenai mimpi buruknya yang diserang macan (namir) selama dua hari berturut-turut; hari pertama menyerang dirinya, hari kedua menyerang anak-anaknya.Setelah ditelusuri latar belakangnya, kawan tersebut sedang menggugat tanah peninggalan ayahnya yang telah dikuasai dan dibangun apartemen oleh seseorang secara tidak syari. Pengacara hukum publik di sana menjamin dia pasti menang mutlak secara undang-undang negara. Namun, yang mengejutkan adalah orang yang digugat oleh kawan tersebut bernama Namir (artinya macan dalam bahasa Arab).Ustadz Firanda menasihatinya agar tidak sekadar bersandar pada keputusan pengacara atau hukum undang-undang formal, melainkan wajib datang menemui Syekh (ulama alim) untuk membedah kasus tersebut secara fikih syariat. Jangan sampai dia mengambil hak orang lain meskipun hanya sedikit, karena urusan harta di akhirat sangatlah panjang dan berat. (Orang Arab sering menamai anak dengan nama hewan, seperti Himar/Keledai untuk filosofi sabar, Kilab/Anjing untuk filosofi amanah/setia, serta Fahad/Asad/Namir/Macan untuk filosofi pemberani).2️⃣Teladan Keikhlasan Tingkat Tinggi Generasi SalafSebagai penutup, video ini menyajikan dua potret manusia yang bersih dari talbis iblis karena memiliki kematangan ilmu dan kekuatan iman:Kisah Abdullah bin Mubarak di Medan Perang Romawi:Saat berkecamuk perang melawan Romawi, seorang kesatria musuh menantang duel satu lawan satu (mubarazah). Tiga pejuang muslim maju secara bergantian dan ketiganya gugur di tangan musuh tersebut. Kemudian maju pejuang keempat dengan wajah tertutup rapat oleh kain, bertempur sengit, dan akhirnya berhasil menewaskan kesatria Romawi tersebut. Ketika jemaah berkumpul untuk melihat pahlawan misteri ini, dia sengaja menutupi mukanya dan bergegas pergi. Seorang perawi bernama Abdah bin Sulaiman mengejarnya lalu membuka paksa kain penutup wajahnya; ternyata dia adalah ulama besar ahli hadis, Abdullah bin Mubarak. Abdullah bin Mubarak langsung menegur Abdah dengan kalimat bergetar, "Wahai Abdah, apakah kau sengaja ingin mendedahkan dan mempamerkan amalku kepada manusia?" Beliau begitu ketakutan apabila pujian manusia merusak nilai keikhlasannya.Kisah Amir bin Abdi Qais Pasca-Penaklukan Kota Madain:Setelah pasukan muslim berhasil menaklukkan kota Madain, seluruh harta rampasan dikumpulkan. Tiba-tiba seorang lelaki biasa datang membawa sebuah barang berharga yang sangat mahal nilainya untuk diserahkan kepada bendahara ghanimah. Petugas terkesima karena barang sekaya itu tidak ada tandingannya di dalam pos ghanimah saat itu. Petugas bertanya, "Apakah kau tidak mengambil sedikit pun dari barang ini?" Lelaki itu menjawab, "Demi Allah, kalau bukan karena takut kepada Allah, tentu sudah aku bawa pulang barang ini.". Ketika petugas mendesak, "Siapa namamu?", dia menjawab, "Aku tidak akan memberi tahu namaku agar kalian tidak memujiku dan memuliakanku. Aku hanya memuji Allah dan merasa cukup dengan pahala dari-Nya.". Setelah dia berjalan pergi, seseorang mengintip dan mengikutinya dari belakang hingga dia kembali ke rombongannya, dan barulah diketahui bahwa lelaki ikhlas tersebut adalah Amir bin Abdi Qais, seorang ulama tabiin dan ahli ibadah yang sangat zuhud.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
N
Nurhasanah nurhasanah

📍 Kota Depok

Talbis iblis bagian4 terhadap ahli ilmu

📚 Ringkasan Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bagian 4)Karya Al-Imam Ibnul JauziDisampaikan oleh: Firanda AndirjaTema: Talbis Iblis dalam Haji, Ghanimah, dan Jihad FisabilillahIblis tidak selalu mengajak manusia kepada kemaksiatan secara terang-terangan. Terkadang ia menghiasi amal saleh dengan niat yang rusak, sehingga seseorang merasa berada di atas kebaikan padahal sedang tertipu.🕋 Talbis Iblis dalam HajiIblis mendorong seseorang berhaji bukan karena ikhlas kepada Allah, tetapi untuk mendapatkan gelar "haji", pujian, atau kedudukan di tengah masyarakat.Ada yang lebih sibuk memikirkan penampilan, oleh-oleh, dan cerita perjalanan daripada memperbaiki ibadah dan ketakwaannya.Sebagian orang berulang kali melaksanakan haji sunnah, sementara di sekitarnya masih banyak kewajiban yang lebih mendesak seperti membantu keluarga, fakir miskin, atau menuntut ilmu yang wajib.💰 Talbis Iblis dalam Ghanimah (Harta Rampasan Perang)Iblis menanamkan kecintaan kepada dunia sehingga seseorang ikut berjihad bukan demi meninggikan kalimat Allah, tetapi demi mendapatkan harta dan keuntungan.Ia menghiasi sifat tamak sehingga manusia melupakan tujuan utama jihad.Amal yang tampak mulia menjadi berkurang nilainya bahkan bisa batal apabila niatnya tercampur dengan kepentingan dunia.⚔️ Talbis Iblis dalam Jihad FisabilillahIblis membisikkan riya' dan ujub kepada para mujahid agar mereka mencari popularitas, keberanian yang dipuji, atau kedudukan di mata manusia.Ada yang berjuang karena fanatisme golongan, suku, atau kepentingan duniawi, bukan karena Allah.Sebagian orang bertindak tanpa ilmu dan bimbingan syariat, lalu mengira dirinya sedang berjihad padahal justru menimbulkan kerusakan.🌿 Pelajaran PentingAmal sebesar apa pun harus dibangun di atas keikhlasan dan ittiba' (mengikuti sunnah).Seorang muslim hendaknya selalu memeriksa niatnya sebelum, ketika, dan setelah beramal.Jangan tertipu dengan banyaknya amal jika hati tidak ikhlas kepada Allah.Keselamatan dari talbis iblis adalah dengan ilmu yang benar, keikhlasan, dan senantiasa bermuhasabah."Betapa banyak amal besar yang menjadi kecil karena niat yang rusak, dan betapa banyak amal kecil yang menjadi besar karena keikhlasan."

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
M
Marni

📍 Kota Bogor

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu bag. 4

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu bag. 4Ustadz firanda Andirja * Terhadap ibadah HajiSeseorang ingin haji sunah tetapi orang tua tidak ridho, patuh kepada orang tua lebih utamaTerkadang orang berhaji meskipun haji pertama tetapi mereka punya hutang Berhaji dengan harta shubhatIngin berhaji karna ingin dipandangBerdebat saat haji Banyak orang yang tinggal di Makkah Madina tidak membersihkan hatinyaSemangat berhaji tetapi shalat tidak diperhatikanBerhaji tetapi berdagang tidak jujurIblis membuat mereka membuat bid'ah pada manasik hajiWahai imam Ahmad sayang ingin berhaji dengan iman yang sempurna tetapi tidak berbekal, imam Ahmad berkata engkau ingin numpang makan dan berhaji? Haji itu mampu untuk dirimu dan untuk keluarga yang engkau tinggal kan (kebutuhan makan dan lain lain selama di tinggal kan) * Ibnu Jauzi menyebutkan talbis Iblis dalam jihat fisabilillah : - untuk berbangga bangga dan riya, terkadang untuk mencari ghonimah, terkadang untuk dikatakan kuat. Rasulullah bersabda"Siapa yang berjihad untuk menegakkan kalimat Allah maka itu fisabilillah"Lihat lah kalian para pembaca, para salaf sebagian menyembunyikan amal mereka tetapi kita malah menampakan. Iblis terkadang menipu mujahid dalam ghonimah, menggambil ghonimah sebelum dikumpulkan oleh Amir. Pengaruh iman dan ilmu untuk menjaga diri dari harta, kalau tidak ada iman dan ilmu mereka akan dengan mudahnya mengambil ghonimah, kalau ada mereka akan taat kepada aturan. Hati hati jangan sedikit pun kita memakan hak orang lain.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
N
Nurmaida

📍 Kota Palu

‎Materi#8  Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah part 4

‎Materi#8  Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah part 4‎(Ringkasan kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.)‎‎Talbis Iblis dalam Ibadah Haji‎1. Niat yang Keliru ‎Iblis menipu sebagian orang untuk melakukan haji sunnah padahal belum mendapatkan ridha orang tua, atau memaksakan diri berhaji sementara masih memiliki hutang maupun kezaliman yang belum diselesaikan.‎2. Haji dengan Harta Haram ‎Al-Imam Ibnu Al-Jauzi menjelaskan bahwa berhaji dengan harta haram menyebabkan ibadah tersebut tidak diterima oleh Allah SWT.‎Allah berfirman melalui hadits:‎"Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik."‎(Innallaha thayyibun la yaqbalu illa thayyiban)‎Beliau juga mengutip atsar bahwa ketika seseorang mengucapkan:‎"Labaik Allahumma Labaik"‎dengan biaya dari harta haram, maka akan dijawab:‎"Tidak ada labaik bagimu dan tidak ada keberuntungan bagimu, karena hartamu adalah harta yang haram."‎3. Riya' dan Mencari Pujian dalam Haji ‎Ibadah haji harus dilakukan semata-mata karena Allah.‎Berhaji agar dikenal manusia, dipuji, atau mendapatkan pengakuan termasuk niat yang rusak dan merupakan salah satu bentuk tipu daya iblis.‎4. Pelanggaran Etika dan Kedzaliman ‎Iblis menipu sebagian jemaah agar melupakan kebersihan hati sehingga mudah terjadi:‎Perselisihan‎Pertengkaran dengan pasangan‎Perilaku kasar kepada teman seperjalanan‎Kedzaliman terhadap sesama‎5. Motivasi Duniawi dalam Haji ‎Sebagian orang berhaji karena tujuan duniawi, seperti:‎Jalan-jalan‎Ingin dipanggil "Pak Haji"‎Membanggakan jumlah haji yang pernah dilakukan‎Mencari kedudukan dan penghormatan manusia‎6. Bekal Terbaik adalah Takwa ‎Penceramah mengingatkan firman Allah bahwa:‎"Sebaik-baik bekal adalah takwa."‎Ibadah tidak boleh sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi harus dibangun di atas ketakwaan.‎7. Tujuan Haji adalah Meraih Haji Mabrur ‎Tujuan utama haji bukan sekadar menunaikan kewajiban, melainkan meraih haji yang mabrur.‎Haji mabrur menuntut:‎Keikhlasan‎Ketaatan‎Ketakwaan‎Mengikuti tuntunan syariat‎8. Mengikuti Tuntunan Nabi ﷺ‎Penceramah menegaskan bahwa:‎"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ."‎(Khairul huda huda Muhammadin)‎Karena itu ibadah harus sesuai tuntunan Nabi ﷺ dan tidak boleh membuat tata cara ibadah baru (bid'ah).‎Beliau juga mengingatkan sabda Nabi ﷺ:‎"Ambillah manasik kalian dariku."‎(Khudzu 'anni manasikakum)‎9. Bahaya Haji Tanpa Bekal ‎a. Merepotkan Orang Lain ‎Pergi haji tanpa bekal dengan alasan tawakal adalah kesalahan karena dapat menyusahkan orang lain.‎b. Menjadi Beban bagi Rombongan ‎Orang yang tidak memiliki bekal akan bergantung kepada orang lain sehingga menjadi beban bagi rombongan.‎c. Menelantarkan Nafkah Keluarga ‎Keberangkatan haji tidak boleh menyebabkan keluarga yang ditinggalkan kehilangan nafkah yang menjadi hak mereka.‎10. Menyembunyikan Amal Saleh ‎Para Salaf sangat menjaga keikhlasan dengan menyembunyikan amal saleh mereka.‎Abdullah bin Mubarak disebut sebagai contoh orang yang berusaha menutupi amalnya agar tidak diketahui manusia.‎11. Bahaya Memamerkan Amal ‎Penceramah mengkritik sebagian orang yang dengan mudah membagikan dan memamerkan amal ibadahnya kepada publik.‎Orang yang berilmu dan bertakwa justru lebih takut terjatuh ke dalam riya'.‎12. Pentingnya Ilmu Sebelum Beramal ‎Iman harus disertai ilmu.‎Tanpa ilmu, seseorang dapat terjebak dalam tipu daya iblis, seperti:‎Menganggap ibadah yang salah sebagai benar‎Melakukan amalan yang tidak memiliki landasan syariat‎Terjatuh ke dalam bid'ah dan kesesatan tanpa disadari.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Talbis Iblis #8 : Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag-4)

Talbis Iblis #8 :Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag-4)Oleh Ustadz Firanda Andirja Hafidzahullah Ta’alaTalbis Iblis dalam Ibadah HajiIblis melancarkan tipu daya agar ibadah haji seseorang rusak nilainya atau justru membuahkan dosa, di antaranya:Mengejar Haji Sunah dengan Mengorbankan Ridha Orang Tua: Haji wajib hanya sekali seumur hidup. Seseorang yang ingin melakukan haji sunah (berulang kali) namun mengabaikan kebutuhan atau larangan orang tuanya adalah kekeliruan, karena berbakti (birrul walidain) hukumnya jauh lebih utama.Berhaji dalam Kondisi Memiliki Tanggungan Hutang: Orang yang memaksakan diri pergi haji padahal masih memiliki hutang menumpuk atau kezaliman yang belum diselesaikan dianggap melanggar syarat kemampuan (istitha'ah). Kewajiban utama yang harus didahulukan adalah melunasi hutang.Niat Haji Melenceng : Pergi haji bukan untuk beribadah atau memohon ampunan dosa. Hanya sekadar untuk jalan-jalan, wisata, atau pasiar di Makkah dan Madinah.Menggunakan Harta Syubhat atau Haram: Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali dari yang baik-baik. Orang yang berhaji dengan harta haram tidak akan diterima amalan hajinya.Niat yang Rusak (Riya dan Sombong): Banyak yang berhaji hanya agar dipanggil "Pak Haji" atau sekadar pamer dan membanggakan diri karena sudah puluhan kali Wukuf di Arafah. Padahal esensi haji adalah mendekatkan hati kepada Allah, bukan kedekatan jasad semata.Bertengkar dan Melanggar Aturan dalam Haji: Iblis membisiki jemaah bahwa yang penting sudah sampai Arafah, lalu mereka meremehkan maksiat seperti berdebat kusir (jidal), berbohong demi lolos prosedur, hingga menyerobot tenda atau fasilitas orang lain.Berbuat Bidah dalam Manasik: Menambah-nambah tata cara ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, seperti sengaja membuka satu pundak (idhthiba') terus-menerus di bawah terik matahari secara berlebihan atau mengkhususkan salat dua rakaat setelah melakukan Sai.Salah Kaprah dalam Bertawakal (Berhaji Tanpa Bekal): Sebagian orang yang nekat pergi haji tanpa membawa bekal dengan dalih "tawakal". Imam Ahmad bin Hambal mengkritik keras hal ini, karena tindakan tersebut pada hakikatnya bukan tawakal kepada Allah, melainkan "bersandar dan merepotkan perbekalan orang lain dalam rombongan".Talbis Iblis dalam Jihad FisabilillahNiat yang Melenceng (Mencari Pujian atau Ganimah): Iblis menipu sebagian orang agar berjihad demi kesukuan (hamiyah), mencari harta rampasan perang (ganimah) semata, atau sekadar ingin dianggap sebagai pemberani dan pahlawan. Padahal yang diakui di jalan Allah hanyalah yang bertempur demi menegakkan kalimat Allah.Hadist 3 Orang yang Pertama Kali di Azab di Neraka Jahanam:Mati Syahid yang Dusta: Orang yang berperang bukan karena Allah, melainkan demi mendapatkan gelar sebagai pahlawan atau pemberani.Ulama/Ahli Al-Qur'an yang Riya: Orang yang menuntut dan mengajarkan ilmu agama serta membaca Al-Qur'an hanya demi dipuji sebagai orang alim atau qari.Dermawan yang Sombong: Orang yang menyumbangkan hartanya di berbagaiKisah Teladan Keikhlasan Salaf (Abdullah bin Mubarak): Ditampilkan kisah dalam perang melawan Romawi, di mana ada seorang penunggang kuda muslim yang berhasil mengalahkan jagoan musuh secara sembunyi-sembunyi. Ketika identitasnya berusaha disingkap, ternyata ia sengaja menutupi wajahnya agar tidak dikenali orang. Orang tersebut adalah Abdullah bin Mubarak, yang sangat takut amalnya dirusak oleh pujian manusia.jalan kebaikan hanya agar disanjung sebagai orang yang dermawan.Talbis Iblis dalam JihadBahaya Gulul (Mengambil Ganimah Sebelum Dibagi): Iblis menipu para pejuang agar meremehkan pengambilan harta rampasan perang secara diam-diam sebelum dikumpulkan dan dibagi oleh pemimpin (Amir). Kisah asar dari masa Nabi ﷺ tentang seorang budak yang teranah musuh dan dianggap mati syahid oleh para sahabat, namun Nabi ﷺ menegaskan bahwa ia justru dibakar api neraka di kuburnya karena telah mengambil sehelai kain ganimah secara diam-diam (gulul) sebelum pembagian resmi.Pentingnya Memadukan Ilmu dan ImanKeselamatan seorang hamba dari jerat fitnah harta dan tipu daya iblis hanya bisa dicapai dengan perpaduan antara Iman dan Ilmu. Jika seseorang hanya memiliki ilmu tanpa iman, ia akan mudah melanggar hukum demi harta; sebaliknya, jika ia hanya memiliki iman tanpa ilmu, ia akan berbuat salah dalam ibadah karena mengira tindakannya diperbolehkan.Kisah Keteladanan Ulama Tabiin : Amir bin Abdi Qais, yang menyerahkan harta berharga yang ia temukan saat penaklukan kota Madain. Ketika ditanya siapa namanya karena kekaguman orang-orang akan keikhlasannya, ia menolak menyebutkan identitasnya demi menjaga hatinya dari penyakit riya dan pujian manusia.@dnfnunu| @komunitas.beekind| #JejakCahaya

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Talbis Iblis #8

Tipu Daya Iblis dalam Persoalan Ibadah HajiIblis menipu sebagian orang yang berhaji sehingga mengabaikan esensi ibadah dan kewajiban lainnya:Mengabaikan Ridha Orang Tua: Mengulang ibadah haji (haji sunnah) namun tanpa restu atau keridhaan dari kedua orang tua.Melalaikan Hak Manusia & Finansial: Pergi haji padahal masih memiliki tanggungan utang, melakukan kezaliman, menggunakan harta syubhat, atau sekadar untuk bersenang-senang (pelesir).Mengejar Pujian (Riya): Berhaji demi mendapatkan sambutan terbuka dan ingin dipanggil dengan gelar "Haji".Melalaikan Kewajiban Utama: Mengabaikan shalat dan syariat bersuci (thaharah) selama perjalanan haji.Fokus pada Angka, Bukan Hati: Membanggakan kuantitas (seperti merasa bangga sudah puluhan kali wukuf atau puluhan tahun tinggal dekat Ka'bah), tetapi batinnya kotor dan tidak membersihkan diri. Beberapa bahkan menggantungkan nasib pada peramal.Membuat Bid'ah dalam Manasik: Membuat-buat tata cara ibadah baru yang tidak ada tuntunannya (seperti sengaja menjemur diri atau bertawaf dengan mengikatkan tali/zimam).2. Tipu Daya Iblis dalam Persoalan TawakalTawakal yang Keliru: Iblis menipu sekelompok orang yang mengaku bertawakal dengan cara bepergian (misalnya ke Makkah) tanpa membawa bekal sama sekali.Teguran Imam Ahmad: Ketika seseorang berkata ingin pergi tanpa bekal demi tawakal, Imam Ahmad bin Hanbal mengujinya dengan melarangnya ikut rombongan. Ketika orang itu menolak (tetap ingin ikut rombongan), Imam Ahmad menegaskan bahwa dia sebenarnya tidak bertawakal kepada Allah, melainkan mengandalkan kantong makanan orang lain di dalam rombongan tersebut.3. Tipu Daya Iblis terhadap Para MujahidIblis merusak pahala jihad dengan memalingkan niat asli pelakunya:Niat untuk Riya dan Gengsi: Berperang bukan karena Allah, melainkan agar dipanggil sebagai orang yang berani, pahlawan (si fulan ahli perang), demi fanatisme kesukuan, atau semata-mata mencari harta rampasan perang (ghanimah).Peringatan Hadits : > "Barangsiapa berperang untuk menegakkan kalimat Allah, maka dia berperang di jalan Allah." (HR. Bukhari & Muslim).Tiga Golongan Pertama yang Diadili pada Hari Kiamat: Berdasarkan hadits Abu Hurairah, tiga orang yang pertama dilemparkan ke neraka karena berbohong dalam niatnya adalah:Orang yang mati berperang agar disebut pemberani.Orang yang menuntut/mengajarkan ilmu dan membaca Al-Qur'an agar disebut orang pandai/alim/qari.Orang kaya yang bersedekah agar disebut dermawan.4. Tipu Daya Iblis dalam Persoalan Harta Rampasan Perang (Ghulul)Mengambil yang Bukan Haknya: Iblis menipu sebagian tentara karena minimnya ilmu fiqih, sehingga mereka berani mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan secara resmi (ghulul), dengan asumsi harta musuh halal diambil begitu saja.Kisah Syamlah (Ikat Kepala) & Tali Sepatu: Rasulullah menegaskan bahwa seorang budak yang terbunuh dan dianggap syahid oleh orang-orang, sebenarnya masuk neraka karena menyembunyikan sebuah ikat kepala (syamlah) yang diambilnya di perang Khaibar sebelum pembagian. Mendengar hal itu, sahabat lain yang mengambil tali sepatu langsung mengembalikannya karena takut akan ancaman api neraka.Penyebab Kekeliruan: Prajurit sering kali tergiur melihat harta yang banyak dan keliru mengira bahwa pahala jihadnya yang besar dapat menghapus dosa pencurian (ghulul) yang mereka lakukan.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Materi 8

TALBIS IBLISMateri 8Talbis Iblis dalam Ibadah Haji dan JihadBerdasarkan Kitab Talbis Iblis karya Ibnu Al-Jauzi رحمه اللهOleh Ust. Dr. Firanda Andirja, MAPendahuluanSalah satu metode Iblis dalam menyesatkan manusia adalah tidak selalu mengajak kepada kemaksiatan secara terang-terangan. Terkadang ia menghiasi amal saleh sehingga seseorang merasa sedang beribadah, padahal ibadah tersebut rusak karena niat yang salah, pelanggaran syariat, atau karena meninggalkan kewajiban yang lebih utama.Dalam kitab Talbis Iblis, Imam Ibnu Al-Jauzi رحمه الله menjelaskan berbagai bentuk tipu daya Iblis dalam ibadah, termasuk dalam ibadah haji dan jihad.BAGIAN PERTAMATalbis Iblis dalam Ibadah Haji1. Mendahulukan Haji Sunnah daripada Berbakti kepada Orang TuaSebagian orang telah menunaikan haji wajib, kemudian ingin melaksanakan haji sunnah. Namun, keberangkatannya menyebabkan kedua orang tuanya tersakiti atau membutuhkan kehadirannya.Padahal, jika haji tersebut hanya sunnah, maka berbakti kepada orang tua lebih utama.Kaidah PentingKewajiban didahulukan daripada amalan sunnah.Jika orang tua membutuhkan pelayanan atau bantuan anaknya, maka memenuhi kebutuhan mereka lebih utama daripada melaksanakan haji sunnah.PelajaranJangan sampai ibadah sunnah menyebabkan kita meninggalkan kewajiban.Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua selama bukan dalam kemaksiatan.2. Berhaji Padahal Masih Memiliki UtangSebagian orang memaksakan diri berhaji sementara masih memiliki tanggungan utang yang belum dilunasi.Padahal Allah mewajibkan haji hanya bagi orang yang mampu.Dalil Al-Qur'anAllah Ta'ala berfirman:﴿ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ﴾"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah." (QS. Ali Imran: 97)Bentuk Kemampuan (Istitha'ah)Para ulama menjelaskan bahwa kemampuan meliputi:Memiliki biaya perjalanan.Memiliki bekal selama perjalanan.Meninggalkan nafkah yang cukup bagi keluarga.Aman dalam perjalanan.Tidak memiliki kewajiban yang lebih mendesak seperti utang.PelajaranMelunasi utang lebih wajib daripada berhaji apabila dana yang ada tidak mencukupi keduanya.3. Haji Hanya untuk Wisata atau Jalan-JalanSebagian orang berhaji bukan untuk mencari ridha Allah, tetapi sekadar ingin melihat Makkah dan Madinah atau menikmati perjalanan.Padahal tujuan utama haji adalah:Mendekatkan diri kepada Allah.Menghapus dosa.Meningkatkan ketakwaan.PelajaranAmal yang besar akan menjadi sia-sia apabila niatnya rusak.4. Berhaji dengan Harta HaramIni termasuk kesalahan yang sangat berbahaya.Seseorang mungkin melakukan seluruh rangkaian manasik dengan sempurna, tetapi biaya hajinya berasal dari:Riba.Korupsi.Penipuan.Suap.Hasil kezaliman terhadap orang lain.HaditsRasulullah ﷺ bersabda:"Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik."(HR. Muslim)Dalam sebagian atsar disebutkan:Ketika seseorang bertalbiyah:"Labbaikallahumma Labbaik"maka dikatakan kepadanya:"Tidak ada Labbaik bagimu dan tidak ada kebahagiaan bagimu, karena bekalmu haram dan hartamu haram."PelajaranKehalalan harta merupakan syarat penting diterimanya amal.5. Haji untuk Mencari PopularitasSebagian orang ingin disebut:Pak HajiTokoh masyarakatOrang salehOrang kaya yang mampu berhaji berkali-kaliSemua ini termasuk riya'.HaditsRasulullah ﷺ bersabda:"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil."Para sahabat bertanya:"Apa syirik kecil itu?"Beliau menjawab:"Riya'."(HR. Ahmad)PelajaranTujuan ibadah harus semata-mata mencari ridha Allah.6. Haji dengan Hati yang KotorIbnu Al-Jauzi رحمه الله menjelaskan bahwa sebagian jamaah berada di sekitar Ka'bah, tetapi hati mereka:Dengki.Sombong.Membenci sesama muslim.Mudah marah.Padahal tujuan haji bukan hanya mendekatkan badan ke Ka'bah, tetapi mendekatkan hati kepada Allah.Dalil Al-Qur'anAllah berfirman:﴿ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ ﴾"Sesungguhnya yang buta bukanlah mata, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada." (QS. Al-Hajj: 46)7. Bertengkar Saat HajiAllah melarang pertengkaran selama ibadah haji.Dalil Al-Qur'an﴿ الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾"Barang siapa menetapkan niat dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa haji." (QS. Al-Baqarah: 197)Hikmah LaranganHaji adalah ibadah penyucian jiwa.Orang yang sibuk bertengkar akan kehilangan kekhusyukan dan ketenangan hati.8. Bangga dengan Banyaknya HajiSebagian orang berkata:Saya sudah 10 kali haji.Saya sudah 20 kali wukuf di Arafah.Tujuannya untuk berbangga diri.PelajaranYang dinilai Allah bukan banyaknya amal, tetapi keikhlasan dan ketakwaan.9. Mengabaikan Salat dan Kewajiban LainAda orang yang sangat semangat berhaji tetapi:Meremehkan salat.Menipu dalam perdagangan.Mengurangi timbangan.Dalil Al-Qur'an﴿ وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ ﴾"Celakalah bagi orang-orang yang curang." (QS. Al-Muthaffifin: 1)PelajaranHaji tidak menghapus dosa yang terus dilakukan tanpa taubat.10. Haji Mabrur Memiliki SyaratAllah berfirman:﴿ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ﴾"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)HaditsRasulullah ﷺ bersabda:"Barang siapa berhaji karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya."(HR. Bukhari dan Muslim)Ciri Haji MabrurIkhlas.Mengikuti sunnah.Menjauhi maksiat.Menjaga akhlak.Tidak menyakiti orang lain.11. Bid'ah dalam Haji dan UmrahSebagian jamaah melakukan amalan yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ.Contohnya:Membuka pundak kanan sepanjang waktu ihram.Menambah ritual tertentu.Mengkhususkan ibadah yang tidak ada dalilnya.HaditsRasulullah ﷺ bersabda:"Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian."(HR. Muslim)KaidahIbadah yang paling baik adalah ibadah yang paling sesuai dengan sunnah.12. Salah Memahami TawakalSebagian orang berangkat haji tanpa bekal dengan alasan bertawakal kepada Allah.Ini bukan tawakal, tetapi kelalaian.Dalil Al-Qur'an﴿ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ﴾"Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)Perkataan Imam Ahmad رحمه اللهKetika ada orang ingin berhaji tanpa bekal karena tawakal, Imam Ahmad bertanya:"Apakah engkau pergi sendirian?"Karena jika bersama rombongan, berarti ia bertawakal kepada bekal rombongannya, bukan kepada Allah.PelajaranTawakal yang benar adalah:Mengambil sebab.Menyiapkan bekal.Menyerahkan hasil kepada Allah.BAGIAN KEDUATalbis Iblis dalam Jihad1. Rusaknya Niat dalam JihadSebagian orang berjihad karena:Ingin disebut pemberani.Fanatik golongan.Mencari harta rampasan perang.Padahal jihad harus dilakukan untuk meninggikan agama Allah.HaditsDari Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه:Rasulullah ﷺ ditanya tentang orang yang berperang karena keberanian, fanatisme, dan riya'.Beliau menjawab:"Barang siapa berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka itulah fi sabilillah."(HR. Bukhari dan Muslim)2. Bahaya Riya'Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa tiga golongan pertama yang diadili pada Hari Kiamat adalah:Orang yang dianggap syahid.Orang alim.Orang dermawan.Mereka masuk neraka karena amal mereka dilakukan untuk dipuji manusia.PelajaranIkhlas adalah ruh seluruh amal.Tanpa ikhlas, amal sebesar apa pun tidak bernilai di sisi Allah.3. Keikhlasan Para SalafIbnu Al-Jauzi menyebut kisah Abdullah bin al-Mubarak yang menyembunyikan amal jihadnya agar tidak dipuji manusia.Beliau sangat takut terhadap riya' meskipun memiliki kedudukan yang tinggi.PelajaranSemakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar rasa takutnya terhadap riya'.4. Bahaya Ghulul (Korupsi Harta Rampasan)Sebagian orang mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan oleh pemimpin.Perbuatan ini disebut ghulul dan termasuk dosa besar.HaditsRasulullah ﷺ bersabda tentang seorang yang wafat dalam Perang Khaibar:"Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya kain yang dia ambil sebelum pembagian ghanimah sedang membakarnya dengan api neraka."(HR. Bukhari dan Muslim)PelajaranSekecil apa pun harta haram tetap akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.Kesimpulan KajianMenurut Ibnu Al-Jauzi رحمه الله, inti seluruh talbis iblis dalam ibadah adalah:Merusak niat.Membuat manusia merasa amalnya sudah cukup.Menghias maksiat dengan nama ibadah.Menjadikan seseorang sibuk dengan amalan sunnah tetapi melalaikan kewajiban.Mengajak kepada bid'ah dengan dalih mendekatkan diri kepada Allah.Obat dari Talbis Iblis1. Ilmu yang benarMengetahui tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah.2. KeikhlasanMeluruskan niat hanya untuk Allah.3. TakwaMenjauhi maksiat dalam setiap ibadah.4. Mengikuti SunnahSebagaimana sabda Nabi ﷺ:"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ."Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang beribadah dengan ilmu, ikhlas, dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.آمين.Materi di atas sudah disusun ulang menjadi format kajian yang lebih sistematis: poin utama → dalil Al-Qur'an (Arab dan terjemah) → hadits → pelajaran/faedah, sehingga lebih mudah digunakan untuk mengisi kajian, membuat handout, atau dicetak sebagai modul belajar.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
N
Nursafitri

📍 Kabupaten Berau

Talbis iblis -8 Talbis iblis terhadap ahli ilmu Bag 4

Talbis iblis #8 Talbis iblis terhadap ahli ilmu (Bag 4)Ustadz Firanda andirja حفظه Imam Ibnul jauzi rahimahullah ta'ala menyebutkan 1. talbis iblis terkait ibadah haji "Terkadang seorang sudah melaksanakan ibadah haji , dan kewajiban haji sudah selesai karena kewajiban haji itu hanya sekali seumur, hidup kemudian beliau (orang yang berhaji) ingin haji lagi( haji Sunnah) tetapi terkadang haji Sunnah tersebut tidak sesuai dengan aturan , contoh ; ternyata dia berhaji lagi ternyata tidak diridhai oleh orangtuanya , maka seharusnya kalau bukan lagi haji Sunnah , kalau orangtua ada keperluan dia tidak perlu haji lagi karena berbakti kepada kedua orang tua itu lebih utama .Ada seorang bertanya kepada imam Ahmad bin Hambal kata Ibnu Jauzi " Wahai imam Ahmad saya ingin pergi haji dengan tawakal yang sempurna dan saya tidak bawa bekal , dia bertanya boleh ngk imam Ahmad? Imam Ahmad berkata ' kalau kau memang benar kau pergi sendirian jangan bawa ikut rombongan , orang itu berkata 'saya Ingin berhaji tapi dengan rombongan , imam Ahmad berkata ' kau hanya ingin numpang makan , kemudian kau bilang tawakal.Tawakal itu ikhtiar sambil menyerahkan hati kepada Allah , bukan nekad tanpa ikhtiar . (QS Al Baqarah yang artinya 'berbekallah ketika berhaji)2. Talbis iblis terkait jihad fisabilillah Iblis telah menipu banyak orang dalam masalah jihad , maka mereka pun keluar untuk berjihad sementara diantara mereka ada yang niatnya untuk bangga- banggan dan Riya , sehingga dan terkadang dia ingin dikatakan sang jagoan sang pemberani dan terkadang dia berjihad hanya untuk mencari ghonimah. 3 orang pertama kali yang diadzab dineraka jahanam,  1. Seorang mati syahid kemudian dihadirkan Allah ingatkan orang tersebut dengan nikmat² yang Allah berikan kepadanya keberanian jago main , jago main panah , macam². Allah bertanya apa yang kau lakukan dengan nikmat² itu , kata dia ' aku berperang karena engkau ya Allah sampai aku mati syahid, Kata Allah ' kau dusta tetapi kau berperang supaya kau dikatakan sang pemberani dan telah dikatakan, niatmu berperang supaya dikatakan pemberani 'Terkabulkan' tapi kau tidak dapat apa apa . Kemudian diperintahkan malaikat menggeret dia di atas wajahnya kemudian dilemparkan dineraka jahanam.2. Ustadz yang belajar ilmu agama , sama ternyata supaya dibilang alim, ahli Qur'an , ahli hadist , niatnya demikian, dan terkenal.3. Orang yang dermawan , Allah kasih harta seluruhnya Allah tanya 'apa yang kau lakukan ? Kata dia ' semua jalan yang Engkau suka untuk aku infaq aku infaq ya Allah . Kata Allah 'kau dusta kau menyumbang supaya dikatakan dermawan . Kata Ibnul Jauzi ' iblis kadang menipu seorang mujahid ketika dia menang dan dia mendapat ghonimah , kemudian dia mengambil bagian ghonimah padahal itu bukan hak dia . Mungkin dia tidak punya ilmu sehingga dia menyangka bahwasanya harta orang kafir semuanya halal , kapan dia dapat dia boleh ambil , padahal dalam aturan jihad tidak boleh mengambil harta sebelum dikumpulkan oleh Amir setelah Amir kumpulan harta ghonimah baru dia yang bagi . Tidak boleh ambil sendiri.#jejakcahaya -Nursafitri

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
D
Deni trisiananingrum

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis iblis bagian 8

Kitab TALBIS IBLIS - “Tipuan Iblis”karangan Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnul JauziBagian 8Oleh Ustadz Firanda AndirjaSumber: Youtube Firanda Andirja Talbis Iblis-8BAB KEDELAPAN: PENYEBUTAN TIPU DAYAIBLIS KEPADA PARA HAMBA DALAM IBADAHBagian 4Penyebutan Tipuan Iblis dalam Haji ◦ "Seseorang terkadang telah menggugurkan fardhu dengan haji sekali, kemudian kembali bukan atas ridha kedua orang tua. Ini adalah kesalahan. Barangkali keluar padahal masih memiliki utang atau kezaliman. Barangkali keluar untuk bersenang-senang. Barangkali haji dengan harta yang mengandung keraguan. ◦ Di antara mereka ada yang suka disambut dengan sebutan 'al-hajj'. Kebanyakan mereka menyia-nyiakan di perjalanan fardhu-fardhu bersuci dan salat. ◦ Mereka berkumpul di sekitar Ka'bah dengan hati yang kotor dan batin yang tidak bersih. Bisa dengan jidal, bermaksiat, rafats dll. Iblis memperlihatkan kepada mereka bentuk haji sehingga menipu mereka ◦ Berapa banyak orang yang menuju Makkah, perhatiannya pada jumlah hajinya. Dia berkata: "Aku memiliki dua puluh wuquf." Berapa banyak mujawir yang lama tinggalnya namun belum memulai membersihkan batinnya. Barangkali perhatiannya tergantung pada pemberian yang sampai kepadanya dari seseorang. Barangkali dia berkata: "Aku hari ini sudah dua puluh tahun menjadi mujawir." ◦ Berapa banyak yang telah aku lihat di jalan Makkah dari orang yang menuju haji, dia memukul teman-temannya karena air dan menyulitkan mereka di jalan. ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang yang menuju Makkah sehingga mereka menyia-nyiakan salat-salat dan curang jika berjual beli. Mereka mengira haji akan menghapus dosa mereka. ◦ Iblis telah menipu sekelompok dari mereka sehingga mereka berbuat bid'ah dalam manasik yang bukan bagiannya. Aku melihat sekelompok orang yang berlagak dalam ihramnya, membuka satu bahu, tinggal di bawah matahari berhari-hari sehingga kulit mereka mengelupas dan kepala mereka bengkak. Mereka berhias dengan hal itu di antara manusia.Dalam riwayat khusus Bukhari dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma,bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki thawaf di Ka'bah dengan tali kendali, maka beliau memotongnya. Dalam lafazh lain: Beliau melihat seorang laki-laki memimpin seseorang dengan kaitan di hidungnya, maka beliau memotongnya dengan tangannya, kemudian memerintahkannya agar memimpinnya dengan tangannya." Berkata penulis: "Hadis ini mengandung larangan berbuat bid'ah dalam agama meskipun dimaksudkan untuk ketaatan." Penyebutan tipuan Iblis terhadap Para Pejuang ◦ Iblis telah menipu banyak makhluk sehingga mereka keluar untuk berjihad dengan niat pamer dan riya agar dikatakan "si fulan adalah pejuang", atau mungkin agar dikatakan "pemberani", atau karena menginginkan harta rampasan perang. Padahal sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya. ◦ Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Hati-hatilah kalian untuk mengatakan 'si fulan mati syahid' atau 'si fulan terbunuh syahid', karena sesungguhnya seseorang berperang untuk memperoleh harta rampasan, berperang agar disebut-sebut, dan berperang agar dilihat kedudukannya." ◦ Iblis telah menipu pejuang ketika memperoleh harta rampasan, kadang- kadang dia mengambil dari harta rampasan yang tidak boleh diambilnya. Bisa jadi karena ilmunya sedikit sehingga dia melihat bahwa harta orang kafir halal bagi siapa saja yang mengambilnya, dan tidak tahu bahwa ghulul (mengambil harta rampasan sebelum dibagi) dari harta rampasan adalah kemaksiatan. ◦ Bisa jadi pejuang itu mengetahui keharamannya, tetapi dia melihat barang yang banyak sehingga tidak sabar untuk tidak mengambilnya. Mungkin dia mengira bahwa jihadnya akan menghapus apa yang telah dilakukannya. Disinilah tampak pengaruh iman dan ilmu.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Talbis Iblis #8: Talbis Iblis Kepada Ahli Ilmu (Bag-4)

Talbis Iblis #8: Talbis Iblis Kepada Ahli Ilmu (Bag-4) Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A. Tema: Talbis Iblis dalam Haji, Umrah, Tawakal, dan Ibadah Jihad1. Talbis Iblis dalam Ibadah Haji dan UmrahAl-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala menjelaskan bahwa Iblis memiliki banyak celah untuk merusak pahala ibadah haji dan umrah seorang hamba, di antaranya:A. Mendahulukah Haji Sunnah daripada Ridha Orang TuaSeseorang yang telah menunaikan Haji Wajib (karena kewajiban haji hanya sekali seumur hidup) kemudian ingin melaksanakan Haji Sunnah untuk kedua kalinya atau lebih, namun keberangkatannya tidak diridai oleh orang tuanya karena mereka membutuhkan bantuannya di rumah. Di sinilah Iblis memutarbalikkan skala prioritas: membuat orang tersebut mengabaikan kewajiban birrul walidain (berbakti kepada orang tua) demi mengejar amalan yang berstatus sunnah.B. Berhaji dalam Kondisi Memiliki Hutang dan KezalimanAda orang yang memaksakan diri berangkat haji padahal ia masih terlilit hutang atau memiliki urusan kezaliman kemanusiaan yang belum diselesaikan. Syariat menetapkan bahwa kewajiban haji mutlak bersyarat pada konsep istitha'ah (kemampuan), sebagaimana firman Allah:"Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana." (QS. Ali 'Imran: 97)Kemampuan yang dimaksud tidak hanya modal perjalanan, tetapi juga pelunasan hutang, kecukupan nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan selama berbulan-bulan, serta jaminan keamanan jalan. Menyelesaikan hak hutang manusia hukumnya adalah wajib, sedangkan berhaji bagi yang tidak mampu tidaklah disyariatkan.C. Haji dengan Niat Rekreasi dan Menggunakan Harta HaramIblis menipu sebagian orang sehingga esensi hajinya bergeser menjadi sekadar pesiar atau pelesiran (city tour) ke Makkah dan Madinah, bukan untuk mencari ampunan Allah.Lebih fatal lagi adalah orang yang berangkat haji menggunakan harta yang haram atau syubhat. Para fuqaha mengilustrasikan: Jika ada seseorang yang menunggangi untanya, ikut mabit di Mina, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, lalu ia mengumandangkan, "Labbaik Allahumma Labbaik", maka Allah yang Maha Baik tidak akan menerima hajinya karena Allah hanya menerima yang thayyib (baik). Dalam sebuah atsar disebutkan, ketika ia membaca talbiyah, akan terdengar jawaban:"La Labbaika Laka wa La Sa'daika" (Tidak ada sambutan hangat dan tidak ada kebahagiaan bagimu, karena makananmu haram dan hartamu haram). Maka sejatinya, yang berhaji dan mendapatkan kelelahan secara fisik hanyalah untanya, sedangkan pelakunya pulang dengan tangan hampa.D. Penyakit Riya Kuantitas HajjIblis mengelabui jemaah untuk mengejar status sosial dan gelar "Pak Haji" di masyarakat. Ada orang yang dengan bangga memamerkan kuantitas ibadahnya dengan berkata, "Alhamdulillah, saya sudah 20 kali wukuf di Padang Arafah." Banyak orang menghabiskan waktu lama tinggal di Makkah atau Madinah, namun batin mereka tetap kotor. Mereka berada di dekat Ka'bah secara fisik (abdan), namun hati (qulub) mereka jauh dari Allah. Indikatornya tampak pada rusaknya akhlak saat manasik: mereka saling menyenggol, memaki, bertengkar dengan sesama jemaah, bahkan bertengkar hebat dengan istrinya sendiri selama prosesi haji. Padahal, Allah melarang keras perdebatan selama haji:"...dan tidak boleh berbuat maksiat, dan tidak boleh bertengkar (jidal) dalam masa melakukan haji..." (QS. Al-Baqarah: 197)Salah satu tujuan utama haji disyariatkan adalah liyasyhadu manafi'a lahum (agar mereka menyaksikan berbagai manfaat), di antaranya adalah persatuan emosional kaum muslimin sedunia dari berbagai ras (Afrika, Eropa, Cina, Asia) untuk saling menyayangi, bukan untuk saling menjatuhkan.Ibnul Jauzi juga menceritakan fenomena pada zamannya, di mana medan haji darat sangatlah berat dan terik. Ada tokoh atau majikan ahli ibadah yang sepanjang jalan bertindak kasar, memukuli anak buah atau pembantunya hanya demi menyuruh mereka mencari air minum di tengah padang pasir. Mereka juga berhaji sambil berdagang namun melakukan kecurangan dalam menakar (tatfif), padahal Allah berfirman: Wailul lil-Muthaffifiin (Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang). Mereka tertipu syubhat bahwa pahala wukuf di Arafah otomatis menghapus kezaliman mereka kepada manusia tanpa perlu bertobat.2. Bid'ah Formalisme & Salah Paham Konsep Tawakal dalam HajjA. Bid'ah Idh-thiba' Sepanjang HariIblis menyeret jemaah ke dalam praktik bid'ah (perkara baru yang dibuat-buat) dalam manasik karena dorongan ingin terlihat gagah beribadah. Ibnul Jauzi melihat ada jemaah yang melakukan idh-thiba' (membuka bahu kanan dan menutup bahu kiri menggunakan kain ihram) selama berhari-hari di bawah sengatan matahari yang terik hingga kulit mereka rusak dan kepala mereka sakit. Padahal, sunnah idh-thiba' hanya berlaku khusus saat melakukan Thawaf Qudum (thawaf pertama kali saat tiba di Makkah). Adapun saat mabit, wukuf, atau thawaf-thawaf lainnya (Thawaf Ifadhah, Thawaf Sunnah, Thawaf Wada'), bahu kanan wajib ditutup rapat.B. Inovasi Ritual yang Menyelisihi SunnahKisah Tali Hidung (Zimam): Dalam hadis riwayat Bukhari, Ibnu Abbas menceritakan bahwa Nabi ﷺ melihat ada seseorang yang melakukan thawaf di Ka'bah dengan menuntun temannya menggunakan tali kekang (zimam) yang diikat di hidung (sebagai simbol kepasrahan diri seperti hewan di hadapan Allah). Nabi ﷺ langsung berjalan mendekat dan memotong tali tersebut menggunakan tangan beliau, lalu menyuruh orang itu menuntun temannya dengan memegang tangannya secara manusiawi. Setiap penyimpangan metode ibadah—sekalipun tujuannya baik—tetap tertolak jika menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ.Bid'ah Dua Rakaat Pasca-Sa'i: Sebagian jemaah membuat kreasi baru dengan menetapkan ibadah shalat dua rakaat khusus setelah selesai melaksanakan Sa'i antara Shafa dan Marwah sebagai satu paket umrah. Tindakan mengkhususkan ibadah umum tanpa dalil ini adalah bid'ah. Nabi ﷺ yang ibadah umrahnya paling sempurna sama sekali tidak pernah mendirikan shalat dua rakaat setelah Sa'i.C. Kerancuan Konsep Tawakal (Haji Tanpa Bekal)Iblis menipu sebagian jemaah haji (seperti fenomena sebagian penduduk Yaman zaman dahulu) yang berangkat haji secara nekat tanpa membawa perbekalan (zad) sepeser pun dengan dalih "tawakal yang murni". Tindakan ini dikritik keras oleh syariat melalui turunnya ayat: Wa tazawwadu fa inna khaira zadit-taqwa (Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa).Seseorang bertanya kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal: "Wahai Imam, aku ingin berangkat ke Makkah untuk haji tanpa membawa bekal demi mempraktikkan tawakal." Imam Ahmad bertanya balik: "Apakah engkau pergi sendirian atau bersama rombongan?" Orang itu menjawab: "Aku bergabung bersama rombongan kafilah jemaah." Imam Ahmad langsung menyindir: "Kalau begitu, engkau sebenarnya tidak bertawakal kepada Allah, melainkan engkau bertawakal kepada isi tas perbekalan orang-orang di rombonganmu (karena engkau pasti akan merepotkan dan meminta makanan dari mereka)!"D. Analogi Kontemporer Tawakal yang KeliruFenomena ini mirip dengan kisah kontemporer seorang suami yang egois saat melaksanakan ibadah di Makkah. Ketika rombongan jamaah sedang mengadakan agenda city tour (ziarah tempat bersejarah), sang istri meminta suaminya untuk menemani. Namun, sang suami menolak dengan alasan: "Kamu pergi sendirian saja, aku ingin beriktikaf dan berdzikir di Masjidil Haram." Akibatnya, sang istri terpaksa pergi sendiri tanpa mahram, dan secara tidak langsung kewajiban menjaga istri tersebut didelegasikan kepada laki-laki lain di dalam bus rombongan. Sang suami merasa tawakalnya hebat karena setelah selesai zikir, ia sempat tertinggal bus namun mendapatkan tumpangan gratis dari orang lain secara ajaib. Ini adalah pola pikir yang salah; ia merasa ditolong Allah, padahal ia telah berdosa karena mengabaikan kewajiban menjaga istrinya dan merepotkan orang lain demi mengejar amalan sunnah pribadi.3. Talbis Iblis dalam Ibadah JihadIblis juga memiliki taktik yang sangat masif untuk merusak pahala ibadah jihad fisabilillah melalui manipulasi niat dan pelanggaran hukum ghanimah:A. Pergeseran Niat JihadBanyak orang keluar ke medan perang bukan murni karena Allah, melainkan didorong oleh motivasi riya dan kesombongan: ingin disebut sebagai pahlawan yang gagah berani, ingin membela fanatisme kesukuan (hamiyyah), atau murni berburu harta rampasan perang (ghanimah).Sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiallahu 'anhu mengisahkan bahwa seorang pria bertanya kepada Nabi ﷺ tentang mana di antara motivasi tersebut yang berada di jalan Allah. Nabi ﷺ memberikan parameter tunggal yang sangat agung:"Man qatala li-takuna kalimatullahi hiyal-'ulya fahua fi sabilillah" (Barangsiapa yang berperang dengan tujuan murni demi menjadikan kalimat Allah [tauhid] menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah). (HR. Bukhari & Muslim)B. Hadis Golongan Pertama yang Dilemparkan ke NerakaIblis berhasil menyeret seorang mujahid ke dasar neraka jahanam melalui penyakit riya. Di hari kiamat, golongan pertama yang disidang adalah seorang pria yang mati di medan perang dan dianggap syahid oleh manusia. Allah mengingatkan segala nikmat kekuatan fisik dan keberanian yang telah Dia berikan, lalu bertanya apa yang ia lakukan dengan nikmat itu. Pria itu menjawab: "Aku berperang demi Engkau ya Allah, sampai aku mati syahid." Allah berfirman:**"Kadzabta! (Engkau berdusta!) Akhirnya engkau berperang hanya agar manusia menjulukimu sebagai 'Sang Pemberani', dan julukan itu telah engkau dapatkan di dunia." Allah kemudian memerintahkan malaikat untuk menyeret wajahnya di atas tanah dan melemparkannya ke dalam neraka jahanam bersama ahli Al-Qur'an dan orang dermawan yang berniat riya. Oleh karena itu, Abdullah bin Mas'ud memperingatkan umat agar tidak bermudah-mudahan melabeli seseorang mutlak mati syahid, karena motif asli di dalam hati seseorang tidak ada yang tahu kecuali Allah.C. Dosa Ghulul (Mengambil Ghanimah Sebelum Dibagikan)Talbis Iblis yang paling sering menimpa para pejuang adalah syubhat yang mengesankan bahwa seluruh harta milik orang kafir otomatis berstatus halal untuk diambil secara pribadi kapan saja di medan perang. Ini adalah pemahaman yang sangat keliru. Di dalam syariat jihad, seluruh harta rampasan perang wajib dikumpulkan terlebih dahulu secara terpusat kepada pimpinan tertinggi (Amir/Imam), baru kemudian dibagikan secara adil berdasarkan syariat. Mengambil harta rampasan sekecil apa pun sebelum pembagian resmi dinamakan dosa Ghulul.Kisah Budak Nabi ﷺ di Perang Khaibar: Dalam hadis sahih riwayat Abu Hurairah, saat Perang Khaibar selesai, budak milik Rasulullah ﷺ sedang membantu menurunkan pelana unta Nabi. Tiba-tiba, sebuah anak panah misterius melesat dan mengenai tubuh budak tersebut hingga ia tewas seketika. Para sahabat mendekat dan memberikan ucapan selamat: "Selamat baginya, ia mati syahid!" Namun, Nabi ﷺ langsung membantahnya dengan keras:"Sekali-kali tidak! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya selembar kain selimut (aba'ah) yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi dari harta ghanimah Khaibar sebelum pembagian resmi, saat ini sedang menyalakan api neraka untuk membakar tubuhnya!"Mendengar hal itu, para sahabat ketakutan. Seseorang yang merasa pernah mengambil perkara sepele langsung berlari mengembalikan seutas tali sandal kulit kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ bersabda: "Itu adalah seutas tali sandal dari api neraka (syirakun minan-naar)."Kisah Penyimpangan Akidah Khawarij Modern: Kekeliruan fikih ghanimah ini menjangkiti sekte ekstrem radikal (seperti kelompok Khawarij kuno atau Islam Jama'ah / LDII modern) yang memiliki ideologi mengkafirkan kaum muslimin di luar kelompok mereka. Karena menganggap orang luar sebagai kafir yang tidak berbaiat kepada amir mereka, mereka menghalalkan segala cara untuk mencuri, menipu, atau memakan harta sesama muslim. Ada mantan anggota mereka yang mengisahkan bahwa dulu ia terbiasa memakan 5 buah kue onde-onde di warung milik orang muslim biasa, namun hanya membayar 2 buah saja dengan keyakinan bahwa harta "orang kafir luar jemaah" hukumnya halal. Ini adalah kerancuan berpikir yang sangat konyol, fatal, dan merusak moralitas Islam.4. Sinergi Ilmu & Iman terhadap Fitnah HartaAl-Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa untuk selamat dari fitnah harta di dunia, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan ilmu (teori hukum), tetapi wajib menyinergikannya dengan kekuatan iman (kontrol hati). Jika seseorang hanya punya ilmu tanpa iman, ia tahu bahwa suatu transaksi itu haram namun ia tetap nekat mengambilnya karena tidak sabar melihat kilauan emas di depan mata. Sebaliknya, jika ia punya iman tanpa ilmu, ia berniat jujur namun bisa terjerumus memakan harta haram karena kebodohannya terhadap hukum syariat.A. Kisah Kontemporer: Sengketa Tanah dan Mimpi Macan Tutul (Namir)Pemateri menceritakan kisah nyata seorang temannya dari Arab Saudi yang menelepon untuk berkonsultasi mengenai mimpi buruk yang dialaminya selama dua hari berturut-turut. Temannya bermimpi diserang oleh seekor macan tutul (Namir), dan keesokan harinya ia bermimpi anak-anaknya ikut diserang oleh macan tersebut.Setelah ditelusuri urusan dunianya, ternyata temannya sedang melakukan gugatan hukum di pengadilan untuk menyita sebidang tanah warisan milik ayahnya yang di atasnya telah dibangun apartemen sewaan oleh orang lain. Secara undang-undang resmi negara, temannya dipastikan menang mutlak oleh pengacara karena adanya cacat administrasi pada pihak lawan. Namun, secara hukum syariat dan etika asal, hak kepemilikan tanah tersebut sebenarnya masih remang-remang (syubhat/ada unsur kezaliman).Uniknya, nama orang yang sedang digugat apartemennya di pengadilan itu bernama "Namir" (yang artinya Macan Tutul). Pemateri memberikan nasihat tegas:"Jangan engkau bertanya kepada pengacara yang hanya mengerti pasal undang-undang duniawi demi memenangkan ambisimu. Datanglah kepada ulama yang alim dan bertakwa, ceritakan kasusnya dengan jujur tanpa ada yang ditutupi. Jika ulama mengatakan engkau tidak berhak secara syariat, batalkan gugatanmu dan kembalikan tanah itu. Jangan sampai engkau memakan harta haram yang kelak akan menerkam dirimu dan anak-anakmu di akhirat seperti macan tutul di dalam mimpimu."B. Keteladanan Keikhlasan Tingkat Tinggi: Kisah Amir bin 'Abdi QaisSebagai penutup, Ibnul Jauzi menukil sebuah kisah luar biasa tentang keikhlasan dari seorang ulama tabi'in yang zuhud bernama Amir bin 'Abdi Qais rahimahullah (diriwayatkan melalui jalur Hubairah bin Asyaf dari Abu Ubaidah Al-Anbari):Saat pasukan muslimin berhasil menaklukkan kota Madain (ibu kota kekaisaran Persia) yang penuh dengan harta karun kemewahan, seluruh prajurit mengumpulkan harta rampasan perang kepada Amir/Pimpinan secara terbuka. Tiba-tiba, datanglah sesosok pria asing yang membawa sebuah wadah besar berisi harta ghanimah yang nilainya sangat fantastis dan sangat berharga, yang tidak pernah dilihat tandingannya oleh pasukan muslim lainnya. Pria itu menyerahkannya begitu saja untuk digabungkan ke kas baitul mal.Para petugas penjaga ghanimah terkesima dan bertanya: "Dari mana engkau mendapatkan harta se-luar biasa ini?" Pria itu menjawab dengan tenang: "Demi Allah, seandainya bukan karena rasa takutku kepada Allah, aku tidak akan pernah sudi menyerahkan harta berharga ini kepada kalian (pasti sudah aku sembunyikan untuk diriku sendiri)." Para petugas penasaran dan bertanya: "Siapakah namamu, wahai pria mulia?" Pria itu menjawab tegas: "Demi Allah, aku tidak akan pernah memberi tahu nama saya kepada kalian agar kalian tidak memuji-muji diriku. Aku hanya memuji Allah dan aku sudah sangat rida dengan pahala yang ada di sisi-Nya."Pria asing itu kemudian berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa membawa keuntungan duniawi sedikit pun. Karena penasaran, salah seorang petugas sengaja membuntutinya dari belakang secara sembunyi-sembunyi hingga pria itu tiba di tenda pasukannya. Setelah diselidiki kepada jemaah di tenda tersebut, barulah diketahui bahwa pria misterius yang sangat menjaga keikhlasan hatinya dari penyakit riya itu adalah sang ulama besar, Amir bin 'Abdi Qais.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya4 hari lalu
E
Elsa Ulfah Hakim

📍 Luar Indonesia

Talbis Iblis 8: Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu bagian 4

Talbis Iblis 8: Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu bagian 4Ustadz Dr. Firanda AndirjaTalbis Iblis terkait ibadah haji:terkadang seseorang sudah melaksanakan ibadah haji dan kewajiban hajinya sudah selesai. Namun, ia ingin berangkat haji lagi (haji sunnah) tetapi terkadang haji sunnah tersebut tidak sesuai aturan, contohnya tidak diridhoi oleh orang tuanya. Ini adalah suatu kesalahan karena berbakti kepada orang tua adalah suatu kewajiban.Terkadang ada seseorang yang berangkat haji (haji pertamanya) namun ternyata ia masih memiliki hutang atau kezaliman-kezaliman yang belum diselesaikan. Hal ini tidak diperbolehkan karena haji itu hanya untuk yang mampu. Diantaranya orang yang berhaji itu memiliki uang yang lebih, hutang dan tanggungannya sudah selesai, ia memiliki bekal yang cukup selama perjalanan hajinya dan ia memiliki bekal untuk keluarga yang ia tinggalkan.Terkadang ada orang haji hanya untuk jalan-jalan.Terkadang ada orang yang berhaji dengan harta yang haram dan syubhat. Haji seperti ini tidak akan diterima. “Sesungguhnya Allah itu maha baik dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-baik pula”. Maka orang yang berhaji dengan harta yang haram, disebutkan di dalam atsar dia mengatakan “labbaik Allahumma labbaik”, maka dikatakan kepadanya “laa.. labbaik kalak, tidak ada labbaik bagimu, hartamu adalah harta yang haram”.Ada orang yang berangkat haji hanya untuk ditemui orang dan dikatakan “haji”.Sebagian haji ada yang berkumpul di sekeliling ka’bah namun dengan hati yang kotor dan batin yang tidak bersih.Iblis menampakkan kepada mereka bahwa terpenting sudah haji. Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan haji adalah agar hati para haji dekat dan itu hanya bisa dibangun diatas ketakwaan.Saat berhaji pun kita dilarang berdebat karena itu bisa mengganggu kenyamanan hati.Ada yang berhaji hanya untuk memperbanyak jumlah hajinya, hanya untuk berbangga-bangga.Ada orang yang berhaji memukul teman hajinya karena untuk minta dicarikan air. Ini terjadi saat zaman dulu karena dulu berhaji tidak semudah sekarang.Di antara mereka ada yang tertipu iblis, mereka semangat haji tetapi sholat tidak diperhatikan.Di antara mereka ada yang berhaji sambil berdagang namun melakukan kecurangan.Ibnu Jauzi ingin menyampaikan bahwa “berbekalah ketika haji dan sebaik-baik bekal adalah takwa”. Iblis menipu orang-orang itu dengan mengatakan yang penting haji dan Allah maha pengampun, padahal yang Allah ampuni yaitu yang hajinya mabrur. Untuk menjadi haji mabrur tentu ada aturannya, yaitu berhaji dengan cara yang baik sesuai sunnah, tidak melakukan maksiat, dan tidak boleh berdebat ketika berhaji.Di antara mereka ada yang berbuat bid’ah ketika sedang melakukan haji.Hadits riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas “Rasulullah melihat ada seseorang yang tawaf di ka’bah sambil membawa zimam (tali) maka Rasulullah memutuskan tali tersebut”. Maksudnya adalah ada orang yang ketika tawaf sambil menarik temannya dan kemudian dikasih tali di hidungnya seperti hewan yang tunduk dihadapan Allah seakan-akan bertawadhu. Maka Rasulullah memerintahkan untuk memotong tali tersebut.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”.Ada sebagian dari kita saat umroh mereka tawaf, setelah itu mereka sholat 2 rakaat lalu mereka melakukan sa’i dan setelah itu mereka sholat lagi 2 rakaat. Hal ini tidak dicontohkan oleh Nabi dan ini adalah bid’ah.sebagian kaum ditipu oleh iblis ketika berhaji mengaku bertawakal maka mereka pergi haji tanpa bekal. Mereka menyangka bahwa berhaji tanpa bekal adalah bertawakal sesungguhnya. Mereka berada di puncak kesalahan.Iman Ibnu Jauzi berkata ada seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal “Wahai Imam Ahmad saya ingin pergi berhaji dengan tawakal yang sempurna dan saya tidak membawa bekal, apakah boleh?”. Imam Ahmad berkata “jika benar begitu, kau pergi sendirian jangan mengikuti rombongan”. Orang itu menjawab: “saya berhaji dengan rombongan”. Kata Imam Ahmad “kau hanya ingin menumpang makan dan kau bilang itu tawakal?”.Hadits ini menegaskan bahwa jika kita tidak membawa bekal itu akan menyusahkan rombongan yang lain dan ini bukan bagian dari tawakal. Karena tawakal itu adalah ikhtiar dengan menyerahkan hati kepada Allah bukan nekat tanpa ikhtiar. Allah mengatakan bahwa berhaji itu wajib bagi yang mampu agar kita memiliki bekal untuk diri sendiri ketika berhaji dan bekal untuk keluarga yang sedang ditinggalkan.Talbis Iblis terkait jihad fii sabilillah. Ibnu Jauzi berkata bahwa iblis telah menipu banyak orang dalam masalah jihad, mereka pergi keluar dengan berniat jihad namun sebagian orang ada yang niatnya untuk membangga-banggakan/riya, dibilang pemberani, dan berniat hanya ingin untuk mendapatkan ghonimah.Dari Abu Musa Al-Asy’ari -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata, “Rasulullah -șallāhu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanya mengenai seseorang yang berperang karena keberaniannya, ada lagi karena fanatik (golongan), ada juga karena riya, mana diantara mereka yang termasuk berjihad di jalan Allah ? maka beliau menjawab : “Barangsiapa yang berperang di jalan Allah agar kalimat Allah tinggi maka dia di jalan Allah” (Hadits Riwayat Bukhari 7458 dan Muslim 1904).Tiga orang yang pertama kali di azab di neraka jahanam:Seorang yang mati syahid namun niatnya bukan karena Allah. Lalu malaikat diperintahkan untuk menggeret ia di atas wajahnya kemudian ia dilemparkan ke neraka jahanam.Seorang guru yang mengajar agama agar disebut orang ‘alim.Orang yang dermawan namun niatnya tidak tulus ia hanya ingin disebut orang yang dermawan.iblis terkadang menipu mujahid, ketika ia menang dan mendapatkan ghonimah kemudian ia mengambil ghonimah yang bukan haknya. Hal ini disebabkan karena minimnya ilmu, ia mengira mungkin harta orang kafir itu semuanya halal untuk diambil. Padahal dalam peraturan jihad tidak boleh diambil sebelum dikumpulkan oleh Amir, setelah dikumpulkan baru dibagi olehnya. Jika mengambil ghonimah sebelum dikumpulkan itu dinamakan ghulul. Hal ini dikarenakan adanya aturan dalam membagikan ghonimah.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia bercerita: “Kami pergi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menuju Khaibar. Lalu Allah memberikan kemenangan untuk kami. Kami tidak mendapatkan harta rampasan perang berupa emas maupun perak saat itu, akan tetapi berupa peralatan makanan dan pakaian. Kemudian kami pergi ke sebuah lembah.Saat itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama seorang budak laki-lakinya. Pada waktu kami tiba di persinggahan, budak tersebut berdiri hendak melepaskan pelana Nabi. Namun sebilah anak panah lewat mengenainya dan membunuhnya.Spontan kami berseru: ‘Selamat baginya, dia telah mati syahid wahai Rasulullah.’ Namun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:“Tidak demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, dia tidak seperti yang kalian kira. Sesungguhnya jubah yang digelapkannya pada Perang Khaibar pada waktu harta belum dibagikan akan membakar dirinya di neraka pada hari kiamat nanti”. (HR. Bukhari dan Muslim).Hati-hatilah jangan sampai kita memakan harta orang lain walaupun itu sedikit.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya5 hari lalu
F
Fitri Febriyanti

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis iblis terhadap ahli ilmu bag 4

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu bag 4Terkait ibadah hajiIbnu jauzi berkata haji wajib sudah dikerjakan, dia ingin haji sunnah namun org tua tidak meridhoi misal karena ada keperluan. Jika demikian harus dahulukan bakti kepada org tua karena wajib adapun haji sunnah bersifat sunnah disini terletak talbis iblis memaksakan kehendak haji padahal orang tua tidak meridhoi. Ini adalah kesalahan. Dia berhaji meskipun haji pertama padahal dia ada hutang ini tidak boleh, karena haji berlaku bagi yang mampu.Syarat berhaji diantaranya : • Mampu • Tidak memliki hutang • Memiliki perbekalan yg cukup • Dan yg ditjnggalkan pun memiliki cukup perbekalan selama ditinggalkanIbnu jauzi berkata terkadang ada yang berhaji dengan harta yg haram ada yang berhaji dengan harta yang syubhat. Seperti contoh saat ada yg berhaji dengan ontanya dia ke mina lalu ke musdalifah hajinya tidak lah diterima, karena Allah hanya menerima yang baik. Jika menggunakan harta yg haram tidak diterima.Ada yg berhaji dia agar disebut pak hajiAda yang berhaji hanya untuk jalan jalan Ada hang berhaji dengan hati yang kotorYang dimaksud dengan haji adalah mereka yang hatinya dekat. Faedah haji diantaranya bertemu dengan kaum muslimin dari seluruh dunia.Saat haji dilarang berjidal atau debat kusir saat hajiHaji diharuskan bersih, supaya kita bisa dekatKesalahan berhaji : • Untuk bangga banggaan, betapa banyak org tidak dimekkah tapi tak membersihkan hatinya • Memukul org saat haji untuk mencari airAda yg semangat haji, namun ditipu iblis dengan sholat yg tidak diperhatikan. Ada yg berhaji sambil berdagang namun dagangannya curang. Ada aturan agar haji mambrur. Kerjakan sesuai sunnahKetika haji tidak boleh : 1. Berkata yg menimbulkan syahwat 2. Berbuat maksiat 3. Tidak boleh bertengkar 4. Tidak berjima saat ihram 5. Berbuat zolimMaka dia akan bersih seperti baru keluar dari ibunya.Sabda rosulullah.Yang benar harus sesuai hajiannya.Mereka menyangka yang penting sudah haji, selesai perkara padahal tidak demikian.Ibnu jauzi berkata iblis juha menipu mereka, mereka berbuat bid'ah saat mereka manasik haji. Padahal tidak dicontohkan. Contohnya bagian bahu kanan selalu dibuka, padahal dibuka hanya saat thawaf wutum. Mereka juga terus terusan dibawah terik matahari, padahal ini tidak ada diajarkan.Hadist nabiRosul melihat seseorang saat haji membawa tali, dan rosul memutuskan kali tersebut dan rosulullah memutuskan tali tersebut. Kalau menghiring gunakan tangan.Hadist ini menjelaskan larangan membuat bidah dalam agama.Sebaik baik ibadah adalah ibadah nabiNabi berkata "sebaik baik petunjuk adalah petunjuk nabi muhammad"Rosul tidak sholat dua rakaat setelah sai, jangan jadikan rangkaian ibadah.Sholawat kapan saja boleh, tapi jangan dikhususkansetelah bersinSholat boleh tapi jangan dikhususkan diwaktu yg tidak dikhususkanMereka menyangka berhaji tanpa bekal adalah ketakwaan, padahal mereka salah. Karena Allah menyuruh berbekallah agar tidak merepotkan orang.Ada yang bertanya pada imam ahmad "saya ingin berhaji dengan takwa yang sempurna dengan tidak membawa bekal sama sekali." Imam ahmad berkata kalau begiyu kau hajian jangan dengn kelompok karena kau hanya akan merepotkan orang saja, kalau hajian ikut rombongan kau tawakal dengan perbekalan romobongan".Tawakal itu ikhtiar sambil menyerahkan hati kepada Allah.Talbis Iblis terhadap orang berjihad • Ingin dibilang jagoan • Ingin mencari gonimah • Ingin mencari kedudukanHadist nabiYa rosulullah bagaimana jika seseorang yg berperang karena gonimah, hanya membela suku dan berperang untuk menegakkan agama allah mana yang baik? Yang berperang untuk mengakkan agama AllAH INILAH YG fisabilillah.Jangan katakan si fulan mati sahid, karena tidak semua mati sahid. Tapi katakan semoga mereka mati syahid. Hadist ttg azab dineraka jahannam Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya manusia yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia dihadapkan kepada Allah lalu dikenalkan kepadanya nikmat-Nya, maka ia pun mengenalnya. Allah berfirman, "Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat ini?" Ia menjawab, "Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid." Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau berperang agar disebut pemberani, maka sungguh hal itu telah dikatakan." Selanjutnya ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya, orang yang mempelajari satu ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur`ān. Ia pun dihadapkan kepada Allah, lalu dikenalkan kepadanya nikmat-Nya, maka ia pun mengenalinya. Allah berfirman, "Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat tersebut?" Ia menjawab, "Aku mempelajari satu ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca Al-Qur`ān karena-Mu." Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau belajar agar disebut seorang yang berilmu dan engkau membaca Al-Qur`ān agar disebut pembaca, maka sungguh semua itu telah dikatakan." Lalu ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya, orang yang diluaskan rezekinya dan diberi berbagai macam harta oleh Allah. Lalu ia dihadapkan kepada Allah kemudian dikenalkan nikmat-Nya, maka ia pun mengenalinya. Allah berfirman, "Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat ini?" Ia menjawab, "Aku berinfak karena-Mu di semua jalan yang Engkau sukai." Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau melakukan itu agar disebut dermawan, maka sungguh hal itu telah dikatakan." Kemudian ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka." [Hadis sahih] - [Diriwayatkan oleh Muslim]Ini menunjukkan bahwa jihad tidak semua niatnya lurus, niatnya macam macam. Suatu hari kami dalam pasukan kecil dinegeri negeri romawi, tiba tiba kami berhadapan dengan musuh. Maka seorang jagoan dari musuh mengatakan ayo duel dengan saya. Maka keluar dari shaf kami kemudian kalah, dia berkata lagi kemudian muncul org ke 2, 3, mereka mati dan ke empat pun berduel hingga berapa lama hingga dia menikam si orang romawi, ada yg bertanya siapa dia. Org ke 4 ini langsung menutup wajahnya kemudian aku menariknya hingga terlihat lah wajah nya ternyata dia adalah ibnu mubarak.Ibnu jauzi berkata lihatlah betapa seorang terdahulu takut terganggu niatnya jika diketahui banyak org. Terbalik dengan zaman ini yg semua serba dishare dan berkata saya tidak riya, takutlah pada Allah karena yg tau niat mu hanyalah Allah.Mengambil harta ghonimah sebelum dikumpulkan dan dibagikan oleh amir itu namanya harta gulul.Harta orang kafir yang halal itu yang berperang, kalau tidak berperang tidak halal untuk diambil. Begitupun darahnya yg halal itu yg berperang jika tidak berperang tidak halal untuk dibunuh.Perlunya berkumpul antara iman dan ilmu

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya5 hari lalu
D
Dinda fitrinita Runi setiawan

📍 Kabupaten Bondowoso

Talbis iblis #8 talbis iblis terhadap ahli ilmu (bagian 4)

Talbis iblis#8‎Talbis iblis terhadap ahli ilmu ( bagian 4)‎Bersama ustadz DR Firanda Andirja, MA hafidzhahullah ‎‎1.talbis iblis terkait ibadah haji‎Ibnu Jauzi berkata : terkadang seseorang sudah melaksanakan ibadah haji kemudian ingin melaksanakan ibadah haji Sunnah tetapi tidak sesuai aturan.‎Contohnya: ternyata dia ingin berhaji Sunnah tetapi tidak di ridhoi oleh orang tuanya.‎Dalam kasus seperti ini,maka seseorang harus lebih mementingkan kedua orangtuanya.‎• terkadang seorang berhaji meskipun haji pertama namun ternyata dia memiliki hutang.‎✓haji itu bagi yang mampu,jika memiliki hutang berarti tidak mampu.‎Bahwasannya haji itu wajib bagi yang mampu.‎•terkadang haji hanya ingin berjalan2 atau pesiar‎•berhaji dg harta yg syubhat dan harta haram‎✓sesungguhnya Allah itu maha baik dan hanya menerima yang baik baik pula‎•berhaji karena ingin di puji orang dan di sebut pak haji.‎•sebagian jamaah haji berkumpul di sekeliling Ka'bah tetapi dg hati yg kotor‎Syubhat iblis: menampakkan kepada mereka yang terpenting sudah berhaji.‎✓ketahuilah bahwa yang di maksud dg haji adalah agar para hati jamaah haji dekat bukan hanya dekat secara jasad tetapi itu hanya bisa di bangun di atas ketakwaan.‎=≥dalam berhaji dilarang untuk berjidal(debat kusir) Krn itu bisa mengganggu kenyamanan hati‎•berhaji hanya untuk memperbanyak jumlah hajinya (untuk berbangga-banggaan)‎•berhaji dengan sikap yg buruk(sering menyuruh2 jamaah lain)‎• mereka semngat haji tapi sholat tidak di perhatikan.‎•ada yang sambil berjualan dengan thaffif ketika menuju haji.‎✓berbekalah ketika haji dan sebaik baik bekal adalah takwa‎✓ingatlah untuk menjadi haji mabrur ada aturannya harus sesuai Sunnah,tidak melakukan maksiat.‎•berbuat bid'ah ketika sedang manasik haji.‎(Sebagian orang melakukan hal2 pada ihram mereka yg tidak di contohkan)‎Contoh: selalu membuka bahu kanannya,sedangkan ihram itu harus tertutup,hanya di buka saat tawaf umroh aja.sedangkan untuk tawaf Ifadah dan tawaf Sunnah tidak ada buka bahu kanan.dan berhari2 di bawah matahari.‎Hadits riwayat imam Bukhori: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: ada seseorang tawaf di Ka'bah sambil membawa tali,dan Rasulullah suruh potong talinya.‎Tali itu biasanya di gunakan untuk menarik temannya.‎✓ingatlah seluruh ibadah harus sesuai dg Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.karena sebaik-baik ibadah adalah ibadahnya nabi.‎#salah satu bid'ah saat umroh adalah melakukan sholat 2 rakaat setelah sa'i#‎•ketika haji tanpa bekal,Krn mereka menyangka haji tanpa bekal adalah tawakkal yg sesungguhnya.‎‎2.talbis iblis terkait jihad fi Sabilillah ‎•mereka keluar untuk berjihad dg niat banga²an dan  riya'.•jihad untuk mencari ghonimah‎✓Sabda Rasulullah:siapa saja yg berjihad untuk menegakkan kalimat Allah,maka fi Sabilillah.‎Ibnu mas'ud berkata: janganlah kalian berkata si Fulan mati syahid,karena ada orang berperang murni untuk mencari ghonimah.dan benar ada org yang berjihad untuk di sebut2(riya'),ada orang yang berperang supaya diketahui kedudukannya.‎#hadits tentang 3 orang yg  pertama kali di adzan di neraka jahanam #‎1.seorang mati syahid tetapi melakukan jihad bukan karena Allah tetapi karena ingin berbangga diri‎2.tentang ustadz yg belajar agama tetapi dg niat supaya di bilang ahli ilmu.‎3. Orang yg suka berinfaq tetapi Krn ingin di sebut dermawan‎=»para salaf terdahulu menyembunyikan amalan mereka karena takut riya',ada kita di zaman sekarang dengan percaya dirinya cerita sana sini,share sana sini.‎•iblis menipu para mujahid ,ketika dia menang dan mendapat ghonimah padahal itu bukan hak dia.merasa bahwa semua harta orang kafir halal,kapan dia dapat boleh ambil.‎Padahal dalam aturan jihad,tidak boleh ambil harta sebelum di kumpulkan oleh Amir kemudian di bagikan oleh amir‎Mengambil harta sebelum di kumpulkan namanya ghulul.‎•bersumpah palsu demi mengambil harta saudaranya,maka dia masuk neraka.‎Pengaruh iman dan ilmu untuk menjaga diri dari fitnah harta ‎✓jangan sampai kita remehkan urusan hak orang lain sekalipun hanya 10 ribu‎

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya5 hari lalu
S
Sortha Nauli

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Ringkasan Talbis Iblis #8, Talbis Iblis kepada ahli ilmu bag.4

TAlBIS IBLIS #8 : Talbis Iblis kepada Ahli Ilmu bag.4Ustadz DR. Firanda Andirja MATalbis Iblis terkait ibadah HajiAl Imam Ibnu Jauzi berkata, terkadang seseorang sudah menyelesaikan kewajiban ibadah haji, kemudian orang ini ingin berhajji kembali (sunnah)tetapi biasanya tidak sesuai dg aturan. Contoh, ia berhaji tetapi tdk di ridhoi org tua nya, karena org tua nya ada keperluan, seharus nya ia lebih memilih untuk berbakti kpd orang tua nya ketimbang berhaji sunnah, krn itu lbh utama. Dan ini adl talbis iblis.Lalu terkadang ia berhaji (pertama) namun ia punya hutang atau kedzaliman2 yg belum ia selesaikan. Ini tdk boleh. Haji itu wajib bagi yg mampu. Seharus nya ketika ia berhaji,ia melunasi hutang2nya dan tanggungan2 kemudian ia mempunyai bekal yg cukup selama berhaji, mempunyai bekal untuk keluarga yg ditinggalkan selama berhaji,baru ia bs berhaji. Terkadang Haji niatnya untuk jalan2. Terkadang berhaji dari harta yg syubhat. Oleh karena nya sebagian fuqoha mengatakan, kalau ada seseorg berhaji dg harta yg haram, ia naik onta nya, kemudian pergi manit di mina, kemudian wukuf di arafah, kemudian mabit di muzdalifa, setelahnya ke mina, kemudian melafadzkan labbaik allahumma labbaik, maka org ini haji nya tdk di terima. Adapula org yg berhaji krn ingin dilihat oleh orang. Kemudian beliau menambahkan,, ada sekelompok jamaah haji yg berkumpul di sekeliling ka'bah namun dg niat yg kotor dan bathin yg tidak bersih. Iblis menampakkan mereka bahwa yg terpenting kamu berhaji.Diantara nya ada yg berhaji untuk memperbanyak jumlah haji nya, kemudian ia berkata saya Alhamdulilah sudah 20x wukuf di padang arafah. Dan tentu nya ini tdk boleh. Kemudian ada lagi, ada org2 yg berhaji ia memukul teman2 nya menyuruh nya untuk mencarikan air (dulu mencari air tdk mudah spt zaman skrg),kemudian merepotkan mereka selama dalam perjalanan. Diantara mereka ada yg ditipu iblis, mereka semangat berhaji tetapi sholat tdk diperhatikan. Kemudian ada yg berjualan ketika berhaji, kemudian jualanan nya ada yg dikurangi,melakukan tathfif. Bagaimana ia melakukan haji sementara ia melakukan maksiat. Godaan syaithan mengatakan, yg penting engkau berhaji dan Allah maha pengampun. Sementara yg mendapat pengampunan Allah adalah haji mabrur. Dan untuk menuju haji mabrur ada aturan nya. Sesuai sunnah dan tdk boleh melakukan maksiat. Kemudian beliau berkata, iblis juga menipu mereka berbuat bid'ah ketika melakukan manasik haji yg bukan bagian manasik haji. Ada yg selalu menambahkan sesuatu, sengaja membuka pundaknya terus, dan berhari2 di bawah matahari sehingga kulit mereka rusak, bergaya di hadapan org2. Kemudian Ibnu Jauzi berkata, sebagian kaum ditipu oleh iblis ketika dia berhaji mengaku bertawakal, maka mereka pun pergi haji tanpa bekal, mereka menyangka itulah tawakal sesungguhnya, padahal mereka berada di puncak kesalahan. Tawakal itu ikhtiar sambil menyerahkan hati kepada Allah. Allah memerintahkan untuk berbekal ketika berhaji. Baik bekal untuk diri sendiri ketika melakukan haji dan bekal untuk keluarga di rumah.Ibnul Jauzi menyebutkan lagi talbis iblis tentang masalah jihad Fisabilillah.Iblis menipu sebagian org dalam masalah jihad. Mereka keluar untuk berjihad, sebagian dg niat untuk membanggakan diri, terkadang ingin dicap sebagai jagoan pemberani dan terkadang ingin mencari ghanimah. Iblis terkadang menipu para mujahid ketika dia menang dan mendapat ghonimah, kemudian dia mengambil bagian ghonimah pdahal itu bukan hak dia. Mungkin dia tdk punya ilmu sehingga dia menyangka bahwasanya harta org kafir semua nya halal, kapan dia dapat dia boleh mengambil nya. Padahal dlm aturan jihad, tdk boleh mengambil harta sebelum dikumpulkan oleh amir setelah dikumpulkan baru di bagi oleh amir (tdk boleh diambil sendiri2).Pasal ; pengaruh iman dan ilmu untuk menjaga diri dari fitnah harta. Bisa jdi seorg mujahid tau gulul bahwasa nya itu haram. Tetapi krn dia tdk sabar liat ada emas, hati nya bisaaaa berubah. Mungkin dia menyangka bahwa ia telah berjihad dan akan termaafkan karena amal jihad saya. Dari sini akan terlihat dampak dari iman dan ilmu.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →