Bahwa iblis kerap menipu orang-orang yang sedang melakukan amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran). Tipu daya ini sering kali membuat pelakunya tergelincir dari niat ibadah menjadi perbuatan maksiat.Berikut adalah poin-poin utama penjelasan terkait jebakan iblis tersebut :1). Merasa Paling Bersih dan SombongIblis sering membisikkan rasa 'ujub (kagum pada diri sendiri) dan kesombongan kepada orang yang melakukan nahi munkar. Pelaku merasa dirinya jauh lebih suci, lebih baik, dan memandang rendah orang yang berbuat maksiat. Padahal, hakikat orang yang mencegah kemungkaran adalah sedang menasihati dirinya sendiri agar terhindar dari dosa tersebut. 2. Berdakwah atau Mencegah Kemungkaran Tanpa IlmuIni adalah pintu terbesar tipu daya iblis. Seseorang yang berdakwah tanpa landasan ilmu agama yang shahih (benar) sering kali terjebak dalam melarang sesuatu yang sebenarnya bukan kemungkaran. Hal ini berbahaya karena dapat menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. 3. Emosi dan Kekerasan yang BerlebihanSaat melihat kemungkaran, setan sering membisikkan amarah yang tidak terkontrol. Akibatnya, pelaku nahi munkar melakukan cara-cara yang kasar, mencaci maki, atau bahkan menggunakan kekerasan yang melanggar syariat, sehingga kemungkaran yang dicegah justru menimbulkan kerusakan (mafsadah) yang lebih besar. 4. Lalai Terhadap Kewajiban SendiriIblis menipu sebagian orang hingga mereka sangat sibuk mengurusi kesalahan orang lain sampai melalaikan kewajiban, aib, dan ibadah mereka sendiri. 5. Lupa pada Prinsip dan Akhlakdiingatkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar memiliki tata krama. Syarat utamanya adalah: • Ilmu: Mengetahui bahwa itu benar-benar makruf atau mungkar sebelum melarangnya.• Rifq (Lemah Lembut): Menggunakan cara yang santun saat menasihati agar hati penerima dakwah lebih mudah menerima kebenaran.• Sabar: Siap menghadapi respons atau penolakan dari orang yang dinasihati. _____________________________________》 Mereka terbagi menjadi dua kelompok yaitu orang yang tahu dan orang yang tidak tahu. Adapun masuknya iblis kepada orang yang tahu melalui dua jalan:1. Jalan pertama: Menghiasi diri dengan itu, mencari nama baik dan membanggakan perbuatannya.》 Telah diriwayatkan kepada kami dari Ahmad bin Abu al-Hawari berkata, bahwa aku mendengar Abu Salman berkata: “Aku mendengar Abu Bakar Ja’far al-Manshur menangis dalam khutbah Jum’atnya, aku marah, aku berniat untuk berdiri dan menasihatinya sesuai dengan apa yang aku ketahui bila dia turun. Maka aku tidak ingin berdiri kepada seorang khalifah lalu menasihatinya sementara orang-orang duduk menyaksikan, lalu menyusup keinginan menghiasi diri dengannya, maka dia memerintahkanku agar dibunuh, sehingga aku mati bukan di atas niat yang shahih, maka aku pun duduk dan diam.2. Jalan kedua: Marah karena diri sendiri (bukan karena Allah).Bisa jadi ia sudah marah dadi awal karena dirinya, bisa jadi terjadi secara tiba-tiba saat mengajak kepada kebaikan, karena orang-orang yang mengingkari menyambutnya dengan penghinaan, hingga dia menjadi orang yang membela diri.Sebagaimana yang diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz kepada seorang laki-laki, “Kalau aku tidak dalam keadaan marah, niscaya aku menghukummu. Kamu ingin memancing amarahku, aku khawatir hukumanku bercampur antara marah karena Allah dan marah karena diri sendiri.”》 Bila pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah orang bodoh, maka setan mempermainkannya. Dia lebih banyak merusak daripada memperbaiki, karena tidak tertutup kemungkinan dia melarang sesuatu yang boleh dengan kesepakatan ijma’, bisa jadi dia mengingkari takwil rekannya dan mengikuti sebagian madzhab,’” bisa jadi dia mendobrak pintu, memanjat pagar, memukul pelaku kemungkaran dan menuduhnya, bila pelaku kemungkaran mengucapkan kata-kata yang membuatnya marah, maka dia marah karena dirinya.》 Di antara talbis Iblis atas pengingkar kemungkaran bahwa bila dia mengaingkari, dia duduk di perkumpulan, lalu menjelaskan apa yang dilakukannya dan membanggakannya, mencaci maki pelaku kemungkaran dengan cacian penuh kebencian, melaknat mereka. Padahal bisa jadi orang-orang itu sudah bertaubat, bisa jadi mereka lebih baik darinya karena penyesalan mereka dan kesombongannya, pembicaraan melebar hingga dia membuka aurat kaum muslimin, karena dia memberitahu siapa orang tidak tahu, padahal menutupi aib seorang muslim adalah wajib sebisa mungkin.Ibnul jauzi berkata : sebagian orang bodoh yang mengingkari kemungkaran, namun dia menyerang suatu kaum tanpa memastikan apa yang sedang mereka lakukan. Dia memukul mereka dengan pukulan yang menyakitkan dan memecahkan bejana-bejana, padahal semua itu hanyalah ajakan kepada kebodohan. Adapun orang yang berilmu, bila dia mengingkari suatu kemungkaran, maka kamu akan aman darinya.》 Shilah bin Usyaim melihat seorang laki-laki berbicara kepada seorang wanita. Maka dia berkata:“Sesungguhnya Allah melihat kalian berdua. Semoga Allah menutupi kalian sebagaimana Dia menutupi kami.”Beliau juga pernah melewati orang-orang yang sedang bermain-main, lalu berkata kepada mereka:“Saudara-saudaraku, bagaimana pendapat kalian tentang seseorang yang hendak melakukan perjalanan, namun dia tidur sepanjang malam dan bermain-main di siang hari? Kapan dia akan menyelesaikan safarnya?”Salah seorang dari mereka memahami maksudnya, lalu berkata kepada teman-temannya:“Orang ini sedang mengajari kita.”Maka dia dan teman-temannya pun bertaubat.》 Orang yang paling patut diingkari dengan kelembutan adalah para sultan. Kepada mereka dapat dikatakan:“Allah telah memuliakan kalian, maka kenalilah nikmat-Nya. Karena nikmat Allah dijaga dengan mensyukurinya, dan tidak pantas bagi kalian membalas nikmat dengan kemaksiatan.”Iblis telah mengacaukan sebagian ahli ibadah. Dia melihat kemungkaran, namun tidak mengingkarinya. Dia berkata:“Yang berhak memerintah dan melarang hanyalah orang yang pantas. Aku belum pantas. Bagaimana mungkin aku memerintah orang lain?”⬆️ Ini adalah kekeliruan. Karena semestinya dia tetap memerintah kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, sekalipun kemaksiatan itu masih ada pada dirinya.Hanya saja, bila dia mengingkari kemungkaran dalam keadaan dirinya bersih darinya, maka pengingkarannya akan lebih memberi pengaruh yang baik. Adapun bila dirinya belum bersih darinya, maka pengingkarannya hampir tidak berpengaruh.‼️ Karena itu, patut bagi orang yang mengingkari kemungkaran untuk terlebih dahulu membersihkan dirinya, agar nasihat dan usahanya memberi pengaruh yang baik.Ibnu Adil berkata:"Kami melihat pada zaman kami Abu Bakar al-Aafali di masa al-Qaim. Bila dia bangkit untuk mengingkari kemungkaran, maka dia diikuti oleh para syaikh yang tidak makan kecuali dari hasil usaha tangan mereka sendiri, seperti Abu Bakar al-Khabbaz dan beberapa orang lainnya.Tak seorang pun dari mereka memakan sedekah, dan mereka tidak ternoda dengan menerima pemberian. Mereka adalah ahli puasa di siang hari, ahli shalat di malam hari, serta sering menangis karena takut kepada Allah.Apabila ada seseorang yang mencampuradukkan kebaikan dengan keburukan, maka dia menolaknya. Dia berkata:'Bila kita menghadapi musuh dengan pasukan yang masih mencampuradukkan kebaikan dengan keburukan, maka kita akan kalah.’” 》 Orang awam mungkin mendengar celaan terhadap dunia di dalam al-Qur’an dan sunnah, maka dia melihat bahwa keselamatan adalah dengan meninggalkannya, dan dia tidak tahu dunia apa yang tercela, maka Iblis mengacaukannya bahwa kamu tidak akan selamat di akhiyat kecuali dengan meninggalkan dunia. Maka dia keluar menyingkir ke gunung-gunung, menjauh dari shalat Jum’at, shalat jamaah dan ilmu, dia menjadi seperti hewan liar. Iblis mengelabuhinya bahwa inilah zuhud hakiki, bagaimana tidak sementara dia telah mendengar tentang fulan bahwa dia luntang-lantung dan fulan lainnya bahwa dia beribadah di gunung, bisa jadi dia masih mempunyai keluarga, mereka terlantar, atau ibu yang menangisi kepergiannya, bisa jadi dia tidak mengetahui rukun-rukun shalat sebagaimana mestinya, dan bisa jadi dia masih memikul tanggungan yang belum ditunaikannya.》 Iblis berhasil menguasai orang ini karena minimnya ilmu, di antara bukti kebodohannya adalah bahwa dia rela terhadap dirinya untuk tidak berilmu, padahal seandainya dia diberi taufik untuk berguru kepada fakih yang memahami hakikat perkara, niscaya si fakih tersebut akan menunjukkan kepadanya bahwa dunia tidak tercela dari sisi dirinya, bagaimana nikmat Allah dicela, padahal ia merupakan nikmat nikmat yang menjadi hajat pokok bagi kelangsungan hidup manusia, menjadi sebab yang bisa membantunya mendapatkan ilmu dan ibadah berupa makanan, minuman, pakaian dan masjid untuk shalat. Sebaliknya yang tercela darinya adalah mengambil sesuatu bukan dari sumber yang halal atau memakannya secara boros bukan sekedar hajat kebutuhan atau jiwa bertindak padanya sejalan dengan kebodohannya tidak sejalan dengan syariat. Bahwa keluar pergi ke gunung menyendiri dilarang, karena nabi melarang seseorang bermalam sendirian, resiko meninggalkan shalat Jum’at dan jamaah adalah kerugian tanpa keuntungan, menjauh dari ilmy dan ulama menguatkan kekuasaan kebodohan, berpisah dari bapak dan ibu dalam keadaan ini adalah kedurhakaan dan ia termasuk dosa besar.》 Adapun orang-orang yang dia dengar bahwa dia menyendiri ke gunung-gunung maka ada kemungkinan mereka tidak memiliki keluarga, bapak dan ibu, maka mereka keluar ke sebuah tempat untuk beribadah di sama secara bersama. Barangsiapa yang perbuatannya tidak mengandung sisi yang shahih maka dia di atas kesalahan, siapa pun dia.Sebagian salaf berkata, “Kami keluar ke gunung untuk beribadah, maka Sufyan ats-Tsauri datang kepada kami dan menyuruh kami pulang.” • Di antara talbis Iblis atas para ahli zuhud adalah bahwa mereka berpaling dari ilmu dengan alasan sibuk zuhud, mereka telah menukar apa yang lebih baik dengan apa yang lebih rendah. Penjelasannya begini, manfaat orang zuhud tidak melampaui teras rumahnya, sementara manfaat orang yang berilmu menyebar, berapa banyak ahli ibadah yang dipulangkan kepada kebenaran oleh seorang yang berilmu.• Di antara talbis Iblis atas mereka adalah dia mengelabuhi mereka bahwa zuhud adalah meninggalkan hal-hal mubah. Di antara mereka tidak makan kecuali roti gandum. Di antara mereka ada yang tidak makan buah-buahan. Di antara mereka ada yang makan sedikit hingga badannya kering dan menyiksa dirinya dengan memakai wol serta menolak minum air dingin.⚠️ Semua ini bukan jalan hidup Rasulullah, tidak pula para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka. Mereka memang lapar, namun itu karena mereka memang tidak punya makanan, bila makanan ada maka mereka makan.- Rasulullah makan daging dan menyukainya, makan ayam, menyukai manisan dan menikmati air yang dingin.- Seseorang berkata, “Aku tidak makan kue puding, aku takut tidak bisa mensyukurinya.” Maka al-Hasan al-Bashri berkata, “Dasar bodoh. Apakah dia bisa mensyukuri air yang dingin?!”- Bila Sufyan ats-Tsauri safar, dia membawa bekal dalam kantongnya berupa daging panggang dan puding. 'Seseorang sepantasnya mengetahui bahwa badannya adalah kendaraannya, dia harus memperlakukannya dengan kelembutan agar bisa menyampaikannya ke tujuan, mengambil apa yang menguatkannya dan membuang apa yang membahayakannya berupa kenyang berlebihan dalam menunaikan hajat jiwa karena hal itu bisa membahayakan badan dan agama.' (Ibnul Jauzi rahimahullah) Manusia memiliki tabiat yang berbeda-beda, bila orang-orang pedalaman memakai bahan wol dan hanya minum susu maka kita tidak mencela mereka, karena tubuh mereka sanggup memikul hal itu. Bila penduduk desa memakai bahan wol, dan makan kawamikh (makanan semacam acar), maka kita tidak mencela mereka. Kita tidak berkata, “Di antara mereka ada orang yang terlalu memaksakan diri.” Karena memang demikian adat mereka.