Ringkasan pertemuan ke 12
Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi dan Penyimpangan TasawufPemateri: Ustadz Firanda Andirja حفظه اللهPada pembahasan kali ini, Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah menjelaskan tentang tipuan iblis terhadap kaum sufi. Sebelum membahas berbagai penyimpangan yang terjadi, beliau terlebih dahulu menerangkan asal mula munculnya tasawuf.Asal Mula Penamaan SufiPara ulama berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Di antara pendapat yang disebutkan:Dinisbahkan kepada seseorang yang dikenal dengan nama Shufah, yaitu Al-Ghuts bin Murr yang pada masa jahiliah mengkhususkan dirinya untuk berkhidmat di Masjidil Haram.Dinisbahkan kepada Ahlus Shuffah. Namun, Ibnu al-Jauzi mengkritik pendapat ini karena secara bahasa nisbah kepada Shuffah seharusnya menjadi Shuffi, sedangkan yang masyhur adalah Sufi.Dinisbahkan kepada tumbuhan bernama Shufanah, tetapi secara bahasa nisbahnya seharusnya menjadi Shufani, bukan Sufi.Dinisbahkan kepada shaufatul qafa, yaitu rambut yang tumbuh di belakang leher.Dinisbahkan kepada shuf (bulu domba atau wol), karena pada awalnya mereka memakai pakaian yang terbuat dari wol.Hakikat Tasawuf pada Masa AwalMenurut Ibnu al-Jauzi, pada awalnya kaum sufi adalah orang-orang yang berusaha:Melatih jiwa.Menghilangkan akhlak-akhlak buruk.Menghias diri dengan akhlak mulia.Di antara sifat-sifat yang mereka usahakan adalah:Zuhud terhadap dunia.Sabar.Bijaksana (hilm).Ikhlas.Jujur.Tujuan mereka adalah memperoleh pujian yang baik di dunia dan pahala di akhirat. Inilah hakikat tasawuf pada masa awal.Namun, seiring berjalannya waktu, iblis mulai menipu mereka dengan berbagai bentuk penyimpangan hingga semakin parah pada generasi-generasi setelahnya.Bentuk-Bentuk Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi1. Menganggap Zuhud Berarti Meninggalkan Dunia Secara TotalSebagian mereka menganggap bahwa hakikat tasawuf adalah meninggalkan dunia sepenuhnya.Akibatnya, mereka:Menolak makanan yang bermanfaat.Menolak pakaian yang layak.Menganggap harta seperti kalajengking yang harus dijauhi.Padahal, harta diciptakan Allah untuk berbagai kemaslahatan, seperti:Membangun masjid.Menunaikan haji.Berdakwah.Menikah.Menafkahi keluarga.Mereka bahkan memaksakan diri melakukan hal-hal berat, sampai ada yang tidak mau tidur dengan berbaring karena dianggap bertentangan dengan zuhud.Padahal tujuan mereka baik, namun karena minim ilmu, mereka terjatuh pada pengamalan hadis-hadis palsu.2. Sibuk Membahas Lintasan-Lintasan HatiGenerasi berikutnya mulai membahas:Lapar dan kemiskinan.Bisikan-bisikan hati (wasawis).Lintasan-lintasan hati (khatharat).Bahkan mereka menulis kitab-kitab khusus tentang hal tersebut.3. Membuat Ciri dan Istilah Khusus TasawufKaum sufi berikutnya mulai merumuskan berbagai istilah dan simbol khusus.Mereka menetapkan:Pakaian tambal-tambal (muraqqa'ah).Nyanyian dan qasidah tertentu.Tarian dan gerakan tertentu.Tepuk tangan dan ritual-ritual yang tidak diajarkan Nabi ﷺ.Padahal Rasulullah ﷺ memakai pakaian bertambal karena kebutuhan, bukan sebagai ibadah.Pakaian Wol Bukanlah SunnahNabi ﷺ dan para sahabat terkadang memakai pakaian dari wol karena kondisi ekonomi yang sulit. Ketika Allah memberikan kelapangan, mereka memakai pakaian yang lebih baik.Karena itu, menjadikan pakaian wol atau pakaian bertambal sebagai syiar ibadah tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ.4. Membuat Tahapan dan Istilah-Istilah TasawufMuncullah berbagai istilah khusus, seperti:Al-halAl-waqtAl-wajdAl-jam'At-tafriqahAs-sukrAl-mahwuAl-mukasyafahMereka menganggap hanya orang yang melewati tahapan-tahapan tertentu yang layak disebut sebagai sufi.Sebagian bahkan menjauh dari para ulama dan merasa bahwa mereka memiliki "ilmu batin" yang lebih tinggi daripada ilmu syariat yang dipelajari para ulama.5. Melampaui Batas hingga Terjatuh pada Bid'ah dan KekufuranSebagian mereka sengaja melaparkan diri hingga akalnya tidak stabil.Muncullah berbagai khayalan dan pengalaman yang mereka anggap sebagai bentuk kerinduan kepada Allah.Dari sinilah kemudian muncul berbagai keyakinan yang menyimpang.Keyakinan Menyimpang yang MunculAl-IttihadYaitu keyakinan bahwa Allah dan makhluk menyatu seperti susu yang bercampur dengan kopi hingga tidak dapat dibedakan lagi.Al-HululYaitu keyakinan bahwa Allah menempati makhluk-Nya, sebagaimana air berada di dalam gelas. WujudYaitu keyakinan bahwa Allah dan makhluk hakikatnya satu wujud, sedangkan perbedaan yang terlihat hanyalah penampakan semata.Menurut Ibnu al-Jauzi, seluruh keyakinan tersebut merupakan penyimpangan yang berat.Munculnya Tarekat-TarekatDari berbagai penyimpangan tersebut lahirlah banyak tarekat yang masing-masing memiliki:Akidah tertentu.Amalan tertentu.Tahapan-tahapan khusus.Sunnah-sunnah yang mereka buat sendiri.Seperti:Khalwat berhari-hari.Mengurung diri di tempat gelap.Zikir-zikir tertentu yang tidak ada dalilnya.Padahal semua itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ maupun para sahabat.Kritik Ibnu al-Jauzi terhadap Beberapa Kitab SufiIbnu al-Jauzi menyebut beberapa kitab yang menurut beliau mengandung penyimpangan, di antaranya:1. Al-Luma' karya Abu Nashr As-SarrajBeliau menilai kitab ini memuat berbagai perkataan yang tidak benar.2. Qutul Qulub karya Abu Thalib Al-MakkiDi dalamnya terdapat:Hadis-hadis batil.Zikir-zikir yang tidak ada asalnya.Berbagai keyakinan menyimpang.3. Ar-Risalah Al-Qusyairiyah karya Al-QusyairiKitab ini memuat banyak istilah dan konsep tasawuf yang tidak dikenal pada masa Nabi ﷺ dan para sahabat.4. Hilyatul Auliya' karya Abu Nu'aim Al-AshbahaniIbnu al-Jauzi mengkritik penyebutan para sahabat sebagai kaum sufi dalam pengertian yang berkembang kemudian.5. Ihya' Ulumiddin karya Abu Hamid Al-GhazaliIbnu al-Jauzi menjelaskan bahwa kitab ini memiliki banyak manfaat, tetapi juga memuat:Hadis-hadis dhaif dan palsu.Beberapa pembahasan yang dipengaruhi tasawuf.Penafsiran yang menyimpang dari makna zahir.Karena itu, kitab ini tidak cocok dibaca oleh orang awam tanpa bimbingan ilmu.Sebab Penyimpangan MerekaMenurut Ibnu al-Jauzi, penyebab utama penyimpangan tersebut adalah:Sedikitnya ilmu tentang hadis Nabi ﷺ.Kurangnya pengetahuan tentang atsar para sahabat.Ketertarikan kepada perkataan-perkataan kaum sufi yang terlihat indah.Kecenderungan jiwa manusia kepada sesuatu yang ringan dan menyenangkan.PenutupIbnu al-Jauzi menjelaskan bahwa kaum sufi generasi awal adalah orang-orang yang zuhud dan menjauhi dunia. Namun, pada generasi berikutnya muncul berbagai penyimpangan hingga lahirlah tarekat-tarekat dengan akidah dan amalan khusus yang tidak dikenal pada masa Rasulullah ﷺ dan para sahabat.Beliau menegaskan bahwa iblis terus menipu mereka dengan berbagai bentuk bid'ah hingga mereka membuat "sunnah-sunnah" sendiri yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ.Wallahu a'lam.

















