Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 9 (Bagian 2)Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A. Tema: Hakikat Zuhud dan Samarnya Penyakit Riya (Khofiyyur Riya')1. Hakikat Zuhud Lahiriah vs Syahwat Tersembunyi (As-Syahwatul Khofiyyah)Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala membuka sub-bab ini dengan judul Faslun fi Ma'na Az-Zuhdi al-Haqiqi (Bab tentang Makna Zuhud yang Hakiki). Beliau membongkar salah satu tipu daya Iblis yang paling samar dalam urusan dunia.Iblis mengelabui sebagian ahli zuhud dengan mengesankan bahwa hakikat zuhud itu hanyalah sebatas memiliki sifat qana'ah (merasa cukup) terhadap perkara-perkara lahiriah yang rendah, seperti memakai pakaian yang compang-camping atau memakan makanan yang sangat sederhana. Para ahli ibadah tersebut merasa telah sukses membuang dunia dari kehidupan mereka. Namun, mereka tidak menyadari bahwa hati mereka justru sangat rakus terhadap dunia yang paling tinggi nilainya, yaitu: jabatan (al-jah), kekuasaan (al-riyasah), kepemimpinan, dan pengakuan sosial.Karakteristik Ahli Zuhud yang Tertipu:Pakaian dan makanan mereka sangat sederhana, namun hati mereka selalu menanti-nanti kapan rumah mereka akan dikunjungi oleh para pejabat dan penguasa (Umara). Mereka merasa bangga dan terhormat dengan kunjungan tersebut.Mereka bersikap sangat memuliakan orang-orang kaya, namun mengabaikan dan memandang sebelah mata kaum fakir miskin.Mereka sengaja mengondisikan penampilan fisik dan raut wajah mereka agar terlihat sangat khusyuk di depan masyarakat. Mereka berjalan dengan menundukkan kepala dan berbicara dengan suara yang sangat pelan, seolah-olah mereka adalah orang-orang suci yang baru saja mendapatkan penyingkapan spiritual (musyahadah).Sebagian dari mereka sengaja menolak pemberian harta secara demonstratif di depan umum agar masyarakat menilai mereka telah mencapai derajat zuhud tertinggi, namun di saat yang sama, hati mereka sangat menikmati ketika melihat manusia berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk mencium tangannya dan memperlakukannya bagai tokoh suci.Al-Imam Ibnul Jauzi menegaskan bahwa pamer ibadah secara lahiriah—seperti sengaja menguruskan badan, membuat wajah menjadi pucat kekuningan, menolak tersenyum, atau membiarkan rambut acak-acakan—bukanlah materi utama yang beliau bahas. Perbuatan seperti itu adalah riya lahiriah yang sangat mudah dideteksi oleh orang awam sekalipun. Materi inti yang beliau bedah di sini adalah Riya yang Samar (Khofiyyur Riya'), di mana dunia lahiriahnya dibuang, namun dunia batiniahnya (ambisi kehormatan) digenggam erat-erat.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebut ambisi kegilaan terhadap kehormatan, pengakuan, dan keinginan untuk selalu dinomor-satukan ini dengan istilah As-Syahwatul Khofiyyah (Syahwat yang Tersembunyi). Penyakit ini jauh lebih berbahaya daripada syahwat fisik manusia terhadap makanan atau lawan jenis.Malik bin Dinar rahimahullah pernah memberikan peringatan yang sangat tajam bagi para pelaku formalisme ibadah ini:"Katakanlah kepada orang-orang yang tidak memiliki ketulusan (keikhlasan) di dalam beramal: Janganlah engkau melelahkan dan keletihan dirimu sendiri!" (Sebab amalan yang tidak ikhlas mutlak tertolak dan tidak akan menghasilkan apa-apa di akhirat selain keletihan fisik).2. Daqaiqul Ikhlas: Kisah Ibrahim bin Adham dan Rahib Sam'anMenjaga keikhlasan agar bersih dari detail-detail riya yang samar membutuhkan perjuangan yang sangat panjang. Yusuf bin Asbath rahimahullah sampai berkata: "Aku telah menghabiskan waktu selama 22 tahun hanya untuk belajar bagaimana cara mempraktikkan amal shalat dan ibadah yang benar-benar tulus dan bersih dari penyakit hati."Dalam urusan memahami detail orientasi hati ini, Ibrahim bin Adham menceritakan sebuah pengalaman berharga yang beliau dapatkan ketika mengambil pelajaran (ibrah) dari seorang pendeta Nasrani (Rahib) bernama Sam'an di kuil ibadahnya yang terisolasi di atas gunung:Ibrahim bin Adham bertanya kepada Rahib Sam'an: "Sudah berapa lama engkau tinggal dan mengurung diri untuk beribadah di dalam kuilmu ini?" > Rahib Sam'an menjawab: "Sudah 70 tahun." > Ibrahim bertanya lagi: "Lantas, apa yang engkau makan setiap harinya?" > Rahib itu menjawab: "Wahai Hanifi (wahai seorang muslim), setiap malam aku hanya memakan satu butir kacang Arab (Habbatul Hummus)." > Ibrahim terkejut lalu bertanya: "Perasaan dan ambisi apa yang bergejolak di dalam hatimu, sehingga sebutir kacang kecil itu bisa membuat fisikmu bertahan selama puluhan tahun?" > Rahib Sam'an kemudian membongkar rahasia batinnya: "Wahai Ibrahim, tidakkah engkau melihat kerumunan manusia yang sedang berkumpul di bawah kuilku itu? Mereka adalah orang-orang yang sengaja datang dari berbagai tempat demi menemuiku. Mereka hanya datang sekali dalam setahun, namun saat mereka datang, mereka akan mengagungkan diriku dengan luar biasa, menghiasi kuilku, dan melakukan thawaf di sekeliling tempat ibadahku. Ketahuilah, aku sengaja bersabar menahan lapar dan hidup menderita sepanjang tahun hanya demi membeli kemuliaan, Sanjungan, dan penghormatan sesaat dari manusia yang aku dapatkan dalam satu hari itu. Maka, wahai Hanifi, jika aku yang tersesat ini bisa bersabar menahan penderitaan sesaat demi kemuliaan duniawi yang semu, seharusnya engkau jauh lebih mampu bersabar menahan keletihan ibadah sesaat demi meraih kemuliaan yang abadi di akhirat!" Kalimat Rahib tersebut seketika menghentak batin Ibrahim bin Adham tentang hakikat makrifat dan samarnya orientasi amal.Rahib Sam'an kemudian ingin membuktikan kepada Ibrahim betapa gila dan butanya manusia terhadap simbol kesalehan. Rahib itu menurunkan sebuah wadah timba kecil ke bawah kuilnya yang berisi 20 butir kacang hummus sisa makanannya. Ketika kerumunan jemaah di bawah melihat wadah itu turun dari sang pendeta suci, mereka berebutan dan mendatangi Ibrahim bin Adham untuk membelinya.Ibrahim bin Adham sengaja menguji mereka dengan memasang harga yang sangat mahal: 1 butir kacang seharga 1 Dinar emas (1 Dinar setara dengan 4,25 gram emas murni). Kaum penyembah simbol tersebut tanpa ragu langsung menyerahkan uang 20 Dinar emas (setara sekitar 85 gram emas) hanya untuk menebus 20 butir kacang sisa tersebut.Ketika Ibrahim kembali ke atas kuil dan menyerahkan uang emas tersebut, Rahib Sam'an berkata: "Wahai Hanifi, engkau salah. Seandainya engkau menjual 20 butir kacang itu seharga 20.000 Dinar emas sekalipun, niscaya mereka akan tetap membayarnya tanpa ragu. Inilah nilai kemuliaanku di mata manusia yang menyembahku. Maka ambillah pelajaran, bagaimana dengan nilai kemuliaan di sisi Zat yang engkau ibadahi? Menujulah hanya kepada Rabbmu yang sejati, dan jangan pernah engkau menjual amalan akhiratmu demi mencari penghormatan makhluk seperti yang aku lakukan!"3. Menjaga Keikhlasan dengan Merusak Reputasi: Kisah Orang Saleh dan RajaPara ulama salaf terdahulu sangat ketat dalam menutup rapat pintu-pintu riya, bahkan mereka rela melakukan tindakan yang "merusak reputasi kesalehan" mereka di mata publik demi menyelamatkan keikhlasan batinnya ketika popularitas mulai datang mengancam.Wahb bin Munabbih rahimahullah menceritakan kisah tentang salah seorang ulama yang paling mulia dan paling zahid di zamannya. Ulama zahid ini pernah memberikan khotbah peringatan yang sangat mendalam kepada para pencinta zuhud:"Kita semua telah sepakat membuang dunia dan meninggalkan harta karena takut terjerumus ke dalam sifat melampaui batas (israf). Namun, demi Allah, aku sangat khawatir bahwa sikap kita yang meninggalkan harta ini justru menjatuhkan kita ke dalam jenis 'melampaui batas' yang jauh lebih dahsyat dan lebih merusak daripada yang menimpa para pemilik harta kekayaan!" > Orang-orang bertanya: "Perkara apakah itu?" > Beliau menjawab: "Aku melihat ada di antara kita yang sangat menikmati dan merasa senang ketika segala keperluan hidupnya dipermudah oleh manusia disebabkan karena faktor 'kesalehannya'. Ia merasa senang jika berbelanja di pasar lalu para pedagang sengaja memberikan diskon atau harga murah karena ia seorang ahli ibadah. Ia merasa bangga jika berjalan di tengah jalan lalu semua orang berdiri memberikan salam dan mengagungkan dirinya karena faktor agamanya. Inilah bencana batin yang sangat merusak."Nasihat emas ulama zahid tersebut akhirnya tersebar luas hingga terdengar ke telinga sang Raja. Sang Raja menjadi sangat kagum, lalu memutuskan untuk membawa seluruh pasukan dan pengawal kerajaannya secara mewah mendatangi rumah sang ulama demi memberikan salam penghormatan.Ketika sang ulama zahid melihat dari kejauhan bahwa rombongan besar Raja sedang bergerak menuju rumahnya untuk mengagungkan dirinya, ia langsung menyadari bahwa ini adalah ujian keikhlasan yang sangat mematikan. Ia segera memanggil budaknya dan bertanya: "Apakah engkau memiliki persediaan makanan atau buah-buahan di dapur?" Budaknya menjawab: "Ada." Padahal, pada hari itu sang ulama sedang menjalankan ibadah puasa sunnah. Namun, demi menghancurkan kekaguman Raja dan menyelamatkan hatinya dari penyakit riya, ia sengaja membatalkan puasa sunnahnya saat itu juga. Ketika Raja melangkah masuk ke dalam rumahnya, sang Raja mendapati ulama yang tadinya dinilai suci tersebut justru sedang duduk dengan santai sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya secara lahap dan besar-besar (luqmah kabirah) seperti layaknya orang yang rakus dan tidak memiliki adab.Melihat pemandangan yang tidak estetik tersebut, seketika itu juga runtuhlah ekspektasi kekaguman di dalam hati sang Raja. Raja tersebut mengernyitkan dahi dan berkata kepada pengawalnya: "Ternyata orang ini hanyalah orang awam biasa yang rakus makanan, tidak ada kebaikan sama sekali pada dirinya." Raja pun langsung memutar balik pasukannya dan pergi meninggalkannya. Setelah rombongan penguasa itu pergi, sang ulama zahid bernapas lega dan mengucapkan:"Alhamdulillahilladzi shofaka 'anni bima dzammaka bihi" (Segala puji bagi Allah yang telah memalingkan dirimu dari sisiku melalui cara membuatmu mencela dan memandang rendah diriku). Beliau lebih memilih dicela oleh manusia namun selamat di sisi Allah, daripada dipuji sebagai wali oleh manusia namun menjadi bangkai di hadapan Allah.4. Strategi Salaf Melarikan Diri dari Popularitas dan JabatanA. Kisah Penyamaran Yazid bin MartsadKetika Raja Al-Walid bin Abdul Malik memutuskan untuk mengangkat seorang ulama saleh bernama Yazid bin Martsad rahimahullah untuk menduduki jabatan penting sebagai pejabat negara (Wali), kabar tersebut terdengar oleh Yazid. Karena beliau sangat paham bahwa jabatan adalah fitnah dunia yang dapat merusak agama, beliau menyusun strategi untuk menggagalkan pelantikan tersebut tanpa harus melanggar hukum.Beliau sengaja mengambil jubah kulit (farwah) miliknya, lalu memakainya secara terbalik (bagian bulu domba yang gatal diletakkan di dalam menyentuh kulit, sedangkan bagian kulit dalam diletakkan di luar). Beliau kemudian keluar berjalan ke tengah pasar raya dalam kondisi kepala telanjang tanpa penutup (rida/songkok), serta kaki telanjang tanpa alas kaki (na'lin/khuff), sambil berjalan memakan roti dan meminum air di tengah kerumunan pasar laksana orang yang kehilangan akal.Melihat perilaku tersebut, masyarakat segera melapor kepada Raja: "Wahai Raja, urungkan niatmu untuk mengangkat Yazid bin Martsad sebagai pejabat, karena saat ini kondisi otaknya sedang tidak beres; ia berjalan di pasar dengan baju terbalik tanpa alas kaki sambil mengunyah makanan." Raja pun akhirnya membatalkan pengangkatan tersebut, dan Yazid bin Martsad berhasil menyelamatkan agamanya.B. Kisah Dawud bin Abi Hind: Berpuasa 20 Tahun Tanpa Diketahui IstriIbnul Jauzi menjelaskan bahwa sebagian ahli ibadah ada yang mampu bersabar melakukan zuhud secara konsisten, namun ketahanan sabar mereka muncul karena didorong oleh faktor eksternal, yaitu karena tahu bahwa aktivitas zuhudnya selalu diceritakan secara bangga oleh istri atau teman-teman dekatnya kepada orang lain.Untuk memutus urat riya tersebut, Dawud bin Abi Hind rahimahullah mencontohkan tingkat keikhlasan tertinggi: beliau mampu menjalankan ibadah puasa sunnah selama 20 tahun tanpa disadari sedikit pun oleh istrinya sendiri.Strateginya sangat cerdas: Setiap pagi sebelum berangkat bekerja ke pasar, beliau selalu membawa bekal sarapan yang disiapkan oleh istrinya dari rumah. Di tengah perjalanan menuju pasar, Dawud bin Abi Hind menyedekahkan seluruh makanan tersebut kepada fakir miskin secara diam-diam. Ketika tiba di pasar, para pedagang mengiranya sudah sarapan di rumah. Dan ketika sore hari beliau pulang ke rumah, istrinya mengiranya sudah memakan bekal tersebut di pasar. Beliau berhasil menyembunyikan puasa sunnahnya selama dua dekade dari orang terdekatnya.C. Bahaya Sikap Mengisolasi Diri demi Menjaga ImageIblis juga menipu sebagian orang untuk menetap secara permanen di dalam masjid, pondok pesantren (ribat), atau gua di gunung bukan karena murni ibadah, melainkan karena memiliki dua motif tersembunyi:Menjaga Wibawa Kedudukan: Mereka tahu jika mereka terlalu sering keluar dan berinteraksi sosial dengan masyarakat, maka pesona "kesucian" dan kewibawaan mereka akan luntur di mata manusia. Mereka sengaja membatasi diri agar tetap disegani.Menutupi Kebodohan: Mereka sengaja menolak berdiskusi atau berbicara banyak dengan manusia agar tingkat kebodohan mereka terhadap ilmu agama tidak terbongkar, sehingga masyarakat tetap mengira mereka adalah ulama yang diam karena khusyuk.Mereka menikmati pelayanan dari manusia, menyukai ciuman tangan, dan senang melihat orang-orang berebutan di depan pintu rumahnya. Namun, mereka menolak mendatangi orang sakit atau menghadiri jenazah masyarakat kecil dengan dalih "menjaga rutinitas ibadah". Ibnul Jauzi menyebut perilaku ini sebagai adat kebiasaan yang rusak dan keluar dari tuntunan syariat.5. Kritik terhadap Ekstremisme Penampilan Terlantar vs Sunnah Kerapian Nabi ﷺIblis menanamkan syubhat kepada sebagian ahli zuhud bahwa memakai pakaian bagus atau menyisir rambut adalah bentuk kecintaan terhadap dunia, sehingga mereka sengaja membiarkan pakaiannya robek-robek tanpa dijahit dan membiarkan janggut serta rambutnya acak-acakan. Ketika salah seorang dari mereka ditegur, "Mengapa engkau tidak menyisir janggutmu?", ia menjawab dengan sombong: "Urusan akhiratku terlalu sibuk sehingga aku tidak memiliki waktu luang hanya untuk sekadar menyisir janggut."Al-Imam Ibnul Jauzi membantah keras pola pikir rahbanyyah (pendetaisme) ini. Beliau menegaskan bahwa penampilan yang kumal dan terlantar secara sengaja bukanlah petunjuk Rasulullah ﷺ, bukan pula manhaj para sahabat, dan bukan jalan tabi'in.Sunnah Penampilan Rasulullah ﷺ:Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sibuk urusan akhirat dan dakwahnya di atas muka bumi, namun beliau adalah manusia yang paling rapi penampilannya.Beliau selalu menyisir rambutnya, selalu berkaca di depan cermin untuk merapikan penampilannya, dan selalu menggunakan minyak wangi terbaik hingga aromanya tercium sebelum fisiknya terlihat.Bahkan ketika beliau sedang melaksanakan ibadah iktikaf di dalam masjid, beliau tetap menjaga kerapian dengan menjulurkan kepalanya ke kamar Aisyah radhiallahu 'anha agar rambut beliau disisir dengan rapi oleh istrinya.Sahabat yang paling zahid dan paling takut kepada Allah, seperti Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab, mereka berdua tetap merapikan penampilan mereka dan mewarnai jenggot mereka menggunakan pacar (hinna' dan katam) agar terlihat rapi dan berwibawa di hadapan manusia.Penolakan terhadap Kesombongan: Kisah Abdullah bin SalamSahabat Abdullah bin Salam radhiallahu 'anhu (seorang mantan pendeta Yahudi yang masuk Islam dan dijamin masuk surga) pernah berjalan di tengah pasar kota Madinah sambil memikul seikat kayu bakar yang berat di atas kepalanya. Masyarakat heran dan menegurnya: "Wahai Abdullah bin Salam, mengapa engkau masih bersusah payah memikul kayu bakar di atas kepalamu, padahal Allah telah memberikan kecukupan harta yang sangat banyak bagimu?"Abdullah bin Salam memberikan jawaban yang luar biasa:"Aradtu an adfa'a bihil-kibra 'an nafsi" (Aku sengaja melakukan tindakan memikul kayu ini semata-mata untuk menghancurkan benih kesombongan di dalam jiwaku). Karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk surga seorang hamba yang di dalam hatinya terdapat benih kesombongan walaupun hanya seberat biji sawi."